Setiap orang punya mimpi. Mimpi yang indah. Mimpi yang selalu ingin diwujudkan. Mimpi yang awalnya semu tetapi karena kesungguhan nyata juga pada akhirnya. Mimpi kadang datang beberapa, sehingga harus memilih. Sebaliknya mimpi juga memilih para pemimpi terbaiknya. Sebagian akan gagal, namun apakah pencarian mimpi berakhir ? Sebagian akan berhasil, puaskah ketika hanya mencapai satu mimpi? Atau bagaimana jika yang datang bahkan pada kesempatan yang tak pernah termimpikan sekali pun ?

Ketika menjadi seorang anak SMP mendengar nama “Taruna Nusantara” berikut berita-beritanya di media, sudah cukup untuk membuat diriku untuk fokus belajar, berlatih, dan menjaga kesehatan. Sangat sederhana ketika ditanya cita-cita, aku akan mantap menjawab,” ..Aku ingin masuk SMA Taruna Nusatara..” Dan memang benar, tercapai juga. Lalu apa setelah itu ? sekedar masuk ? sekedar berbaris ? sekedar seragam pesiar biru ? ternyata mimpi tak kenal kata henti. Tiga bulan pertama yang menjadi euforia, lihatlah aku, jika dulu aku hanya bisa mengenal nama SMA ini ...sekarang aku menjadi bagian darinya. Lihatlah aku, kepala plontos ini, tegapnya barisan apelku, dan betapa semua guruku adalah yang terbaik di jamannya. Ini awal atau akhir perjuangan ? Aku memetik atau memulai langkah pendakian bukit lainnya ?

Belajar adalah kata yang pasti di setiap sekolah. Mengejar nilai adalah indikasi sebuah prestasi. Tetapi SMA Taruna Nusantara bukan soal prestasi. Karena prestasi sudah pasti, hanya masalah siapa yang berhak mencatatkan namanya. Ada mimpi lain di sana senyata kehidupan. Ada ruang-ruang lain di sana selain kelas. Dan setiap ruang-ruang itu mempunyai bintangnya. Kudengar ada lekuk indah nada di panggung pementasan gedung serba guna, kulihat betapa gagah tim Tonpara menjadi petugas-petugas utama upacara kebesaran, kukagumi kerapian dan ketelitian PKS untuk dalam menertibkan atribut kami, terlebih jika mereka sedang bertugas mengawal tamu, wahh sungguh keterkaguman-keterkaguman yang mencuatkan mimpi-mimpi baru. Tentang sosok yang berpose gagah di foto, tentang tanda tangan pujian di buku saku, dan memang rasanya sayang sekali melewatkan 3 tahun di TN hanya untuk menjadi sekedar menjalani hari berjalan menyusuri jalan antara graha asrama dan kelas.

Selepas 3 bulan pertamaku, berkali-kali ujian penyaringan tim-tim elit tadi diumumkan di ruang makan bersama. Siapa yang tidak bersemangat mengikutinya. Namun mimpipun memilih yang terbaik diantara para pemimpi. Sebagian cerita indah yang terungkap adalah tentang keberhasilan, sejujurnya lebih banyak cerita sedih tentang kegagalan yang tak terungkap, tentang pilih kasih, tentang sakit ketika ujian berlangsung, tentang kurangnya persyaratan postur, dan seterusnya. Mimpi mengajarkan bahwa hanya semu jika mengejar yang memang tak berhak dimiliki. Mimpi itu hanya maya maka indahnya memberi inspirasi, tapi buruknya hendaklah memacumu untuk bangun dan melihat nyata. Meratapi mimpi tidaklah akan punya arti. Carilah mimpi-mimpi lain, karena Tuhan menyiapkan segalanya cukup.