Mall-mall tiap tahun sepertinya bangunannya hadir satu per satu. Menggusur lahan-lahan kumuh entah dulunya pasar tradisional, entah itu dulunya ya memang terdiri dari pemukiman penduduk asli ya akrab dengan lekukan gang-gang sempit. Perlu ga sih sebenarnya mall itu ? Yang digusur harga tanah semurah-murahnya ya pasti protes berdarah-darah. Namun yang hanya tinggal tau jadi seperti aku misalnya ya tinggal berdecak kagum saja.

“Mon, nonton film ga malam ini ?” Rika menyentilku mengganggu keasyikanku menganggumi barisan counter Mall “Walking City” terbaru di kotaku.

“Ganggu aja lu ah !”
“Jiahh, sewot diaaa....!!!”

Aku memang sebal saat heningku diganggu orang. Beberapa jenis manusia seperti aku memang sering dibilang aneh, bahkan sombong. Kalau jalan ga mau nengok-nengok, kadang-kadang berhenti memperhatikan yang menarik, lalu pergi begitu saja. “mau pilih mana mbak ? Asesorisnya baru datang, ada yang baru, yang murah bagian sini, yang ekslusif agak atas ...” pelayan-pelayan kios asesoris itu biasanya sudah ribut dari A sampai Z, apalagi jika ada barang yang ku pegang, lalu kulirik dikit. Hasilnya jangan harap ku beli, wong cuma ingin lihat yang unik saja, barang kutaruh ya sudah aku melenggang.

“Mooon, gila lu yak ngapain lu lama2 di situ kalau ga beli ?! “
“Liat-liat doang ..” santai jawabku tanpa tendensi.
“huhh .. kasihan tau yang jual sudah berbusa nawar-nawarin ini itu”
“Tetanggamu yak, pantas gelang antingmu ganti2 terus ..?”

Skak mat yang telak, dan temanku yang bawel itu harus terdiam manyun.

Baiklah, mall memang secara konsep paling dasar adalah tempat jual beli. Tidak berbeda dengan pasar tradisional. Lama aku harus mengerti, mengapa pasar tradisional harus di gusur, dan mall harus dibangun. Sedangkan, barang yang dijual relatif sama. Sampai ku kenal Rika miss asal Paris yang bangkrut lalu ngekos sebelah kamarku. Baginya style adalah penting, sampai tiap tahun dia harus membuat resolusi khusus untuk mode-mode baju yang akan dikenakan tiap tahunnya. Kenyamanan adalah prinsipnya, mode adalah nyawa hidupnya, dengan indikatornya harus ada yang melirik jika dia melenggak lenggok jalan.

Busyet, kupikir orang barusan melirik koin jatuh, kenapa Miss Mode ini tiba-tiba ceramah soal fashion. “ Dia barusan ngelirik aku, Monn. Pastiii ....” . “ Ihh situ oke ? ...” . “ Kamu ga sadar bajuku ini model terusan berbahan halus keluaran terbaru, motif garis-garisnya oke, tentu saja kupilih yang mini he he sexy kan ? Dan ban pinggang ini ... sangat chick ! “

Otakku sudah tak sanggup lagi melahap celotehnya, karena orang yang disangkanya melirik tadi pun tampaknya sudah sirna tak permisi. Mall menawarkan cara orang jual beli, dengan ide mahal lainnya kenyamanan. Bayangkan Miss mode ini, nyaman bergaya dengan berlenggak lenggok, nyaman bahkan niat untuk di lirik-lirik orang, mana mungkin dia ke pasar tradisional begitu, kalau enggak kepleset kena becek duluan berani taruhan. Karena nyaman juga feel free lah buat jalan-jalan nah ini tipeku. Aku suka suara keramaian, aku suka melarutkan perasaan-perasaan negatif di dalam diriku dalam keramaian mall. Melarut, sejuknya AC, tentu saja musik-musik yang nge-hits di putar. Sesekali juga melihat bocah-bocah kecil yang berlarian lalu kepleset, jatuh, menangis ga keruan keras, lalu ibunya datang dan dipeluk. Sebuah drama romantis yang selalu menghiburku.
“Baiklah kita nonton, tapi aku ga mau yang midnight ..”

Rika kegirangan, lalu bak intel sigap masuk bioskop mewah bertuliskan XXI emas di atasnya. Ketika aku masuk dia sudah siap denga laporan 4 judul film lengkap resensi dan aktor aktris utamanya.
“No romantic ..!!”
“yahh ...” lemas dia
“emang kita pacaran ? Ogahh”
“So , jangan gebuk-gebukkan or horror yah, please ... please ? “
“nonton Sherlock Holmes saja ...”

Karena ku langsung nggeloyor saja ke kasir, dia pun ikut.

90 menit berlalu aku nonton dan puas, Rika ? Hanya mengomel karena kebingungan sendiri mengenai alurnya, kecuali berkali-kali bilang Hugh Jackman ganteng. Awas aja protes keluar studio, kan gue yang bayar kali ini he he ..., tak kusangka dia malah bertanya

“Mon, kamu ko ga pernah cerita punya cowok sih, ga pernah ngedate ya ?”

Rika benar satu ini, aku memang tidak pernah jalan-jalan bareng. Tidak pernah minta, tidak pernah punya masalah, dan kau selalu mendasarkan diri pada kepercayaan, aku cinta kamu, kamu demikian, dimana pun kita berada, hati kita selalu bicara.

“Punya dunk .. nih “

Kutunjukkan ke Rika sederetan chattingan format BBM kepadanya.
“....
.....
.....
bla bla bla

bye honey, take care ya “

“Woow, temanku laku juga, namanya ? “ dia merebut Blackberry-ku
“Rico ..”

Tiba-tiba aku tersadar dia mengetikku sebarisan kalimat mereply chattinganku
“Hai, nulis apa kamu, mo ngerjain ya ?!!”
“lihat aja sendiri ... he he”

dia kabur secepat kilat.

“...
Honey, ke sini dunk, jalan-jalan kita ke mall ... nonton film romantis juga ya
....


Sial bukan gayaku menulis begini, tapi boleh juga sih.