
-
Surat Untuk Anakku
Buku perdana dari Bro Mahendra, sangat menyentuh dan inspiring.
Berikut pengantar dan ringkasan isi buku surat untuk
http://www.facebook.com/home.php#!/n...50206471793141
Surat Untuk Anakku
Singapura, 30 November 2010,
Mendapati Feroze, anakku yang tengah beranjak Dewasa,
Di saat Papa menulis surat ini, Feroze belum lagi berusia 6 tahun. Usia yang masih sangat muda. Usia di mana kasih sayang dan kehadiran Papa dan mama sangat feroze perlukan.
Sayangnya, Papa selama ini tidak bisa selalu hadir mendampingi Feroze.
Sudah hampir 4 tahun ini Papa hidup terpisah dari Feroze dan Mama. Papa hanya berkesempatan mengunjungi Mama dan Feroze sekali atau paling banyak 2 kali sebulan.
Feroze terkadang menangis, marah, atau acuh seolah tak peduli di kala Papa harus meninggalkan Feroze dan mama pergi. Papa tahu, Feroze tidak suka dengan keaadaan ini. Papa pun demikian. Papa juga sedih . Papa juga marah pada diri Papa sendiri atas ketidakmampuan Papa untuk bisa selalu hadir bersama mama dan Feroze .
Sebelum hidup terpisah, Feroze dan Mama pernah tinggal bersama Papa di Singapura sampai Feroze berusia 2 tahun.
Di usia belum lagi mencapai 3 tahun, Feroze di diagnosa sebagai anak istimewa.
Dikatakan istimewa karena Feroze jauh lebih aktif dibandingkan dari anak-anak pada umumnya.
Sulit bagi Feroze untuk duduk diam dengan manis, mendengarkan cerita atau belajar berbicara atau berinteraksi dengan orang-orang di sekitar Feroze.
Kata dokter, Feroze harus banyak menjalani terapi agar kemampuan Feroze dalam hal berkomunikasi dan berinteraksi semakin meningkat.
Sayangnya, Papa tidak mampu untuk membiayai berbagai terapi yang perlu Feroze jalani di Singapura. Biaya terapi di Singapura cukup mahal.
Dengan demikian, di usia Feroze yang baru saja menginjak 2 tahun, Papa dan Mama memutuskan untuk membawa Feroze pulang ke Jakarta kareana di sana biaya terapi yang diperlukan tidak semahal di Singapura dan masih dalam jangkauan kemampuan keuangan Papa.
Papa telah beberapa kali mencoba untuk mencari pekerjaan di Jakarta, agar bisa selalu mendampingi Feroze dan Mama. Namun, Papa tidak berhasil . Ketidak berhasilan Papa ini akhirnya membuat kita hidup terpisah untuk jangka waktu yang culup lama..
Hidup sejatinya adalah tentang bagaimana kita membuat pilihan. Manis dan pahitnya kehidupan kita tak terlepas dari pilihan hidup yang telah kita ambil sebelumnya.
Papa harap Feroze mau memaafkan Papa atas pilihan Papa membawa Feroze dan Mama pulang ke Jakarta, sementara Papa tetap bekerja di Singapura. Pilihan berat ini Papa ambil dengan harapan Feroze mendapatkan semua terapi dan pendidikan yang Feroze perlukan.
Di saat hidup terpisah dari Mama dan Feroze, dalam kesendirian Papa, Papa banyak merenung mengamati kejadian yang tengah berlangsung di sekitar Papa.
Renungan itu Papa rangkum dalam berbagai tulisan yang akan Feroze dapati di lembar-lembar berikutnya.
Surat dan buku ini Papa tulis disaat Feroze masih kecil, yang Papa niatkan untuk diserahkan pada Feroze di kemudian hari, di saat Feroze menginjak dewasa. Ketika Feroze menerima dan membaca surat dan buku ini, Papa menganggap Feroze sudah dewasa. Sudah bisa memilah-milah mana yang baik dan mana yang buruk. Sudah bisa mengambil hikmah, dan juga sudah bisa mengabaikan hal-hal yang tidak baik yang mungkin Feroze temulan dalam tulisan-tulisan Papa ini.
Semoga tulisan Papa bermanfaat bagi Feroze dalam menjalani hidup Feroze di dunia ini.
Yang selalu menyayangimu
Papa
***
Surat untuk Anakku” adalah sebuah buku yang disiapkan oleh seorang Ayah (si penulis) untuk dipersembahkan kepada anaknya kelak dikemudian hari disaat sang anak menginjak usia yang ke 17, usia seorang remaja beranjak dewasa. Buku ini disiapkan jauh hari sebelumnya, lebih dari sepuluh tahun sebelum diberikan kepada sang anak.
Buku ini , bukan hanya sekedar sebuah hadiah ulang tahun istimewa yang disiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Lebih jauh dari itu buku ini adalah , sebuah harapan , sebuah target yang ingin dicapai seorang ayah dari seorang anak berkebutuhan khusus.
Di saat tulisan ini disusun, Feroze, sang Anak baru saja menginjak usia 6 tahun. Tidak seperti anak-anak lain pada umunya, di usia yang ke 6 ini , dengan keunikan yang disandangnya, Feroze masih banyak mengalami hambatan dalam hal berkomunikasi dan bersosialisasi. Kata –kata yang dikuasainya masih sangat terbatas.
Dalam berkomunikasi Feroze masih menggunakan satu atau dua kata saja. Bertutur kata menyusun satu kalimat lebih dari 3 kata adalah tantangan yang sangat berat baginya.
Dengan memantapkan niat untuk memberikan buku yang berisikan cerita-certia dengan untaian hikmah yang tersirat kepada sang anak 10 tahun lagi; sang ayah akan berpacu dengan waktu , berusaha dengan segala daya upaya memberikan pendidikan terbaik bagi sang anak yang berkebutuhan khusus itu agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi seorang remaja cerdas seperti atau bahkan lebih baik dari remaja-remaja lain pada umumnya.
Remaja yang dengan kecerdasannya sudah bisa memilah-milah mana yang baik dan mana yang buruk. Sudah bisa mengambil hikmah tersembunyi , dan juga sudah bisa mengabaikan hal-hal yang tidak baik yang mungking ditemukan dalam tulisan sang ayah dalam buku ini.
Cover Surat Untuk Anakku (http://halamanmoeka.com/product.php?id_product=3752)
Edisi pertama buku ini dicetak terbatas.
Satu buku akan disimpan baik-baik oleh penulis untuk diberikan kepada sang Anak 10 tahun lagi, sementara sisanya bisa dinikmati pembaca lainnya.
Bagi Anda yang ingin ikut menyimak isi buku “Surat untuk Anakku” ini, Anda bisa mendapatkannya di toko buku online “halaman muka” di tautan berikut ini:
http://halamanmoeka.com/product.php?id_product=3752
Surat Untuk Anakku
Penulis : Mahendra Hariyanto
Penerbit : Halaman Moeka Publishing
Isi : x + 214 hal
Tahun terbit: 2011
http://www.facebook.com/pages/Surat-...15764055178089
Salam
Mahendra
90.0161
Posting Permissions
- You may not post new threads
- You may not post replies
- You may not post attachments
- You may not edit your posts
-
Forum Rules