Untukmu cuma ada satu cinta, itu yang kau ucapkan padaku berulang kali.

Pagi ini gerimis. Mungkin itulah sebabnya jarimu tak henti bergetar walau pendingin di ruang dua puluh meter persegi ini mati, seperti tujuh tahun silam saat kita bergulat disini melawan monster bernama HER. Bertahun lalu saat kita masih berseragam putih abu, aku selalu duduk satu bangku di sebelahmu, mengagumi bibirmu yang mengatup pelan dalam doa panjang sebelum soal dibagikan, getar bulu matamu yang mengejap kaget menekuri soal kalkulus, anak-anak rambut jatuh di tengkukmu, atau sekedar senyum simpulmu saat menangkap basah aku dari ekor matamu. Hari ini kita ada di tempat yang sama, namun jari itu bergetar untuk alasan yang berbeda. Kamu berdoa pelan, mungkin agar bibirmu tak keburu kaku saat dia tiba, atau mungkin agar jantungmu kuat memompa darah ke nadi telunjukmu yang mulai beku.

Tepuk tangan itu mulai berganti. Acara bergulir, satu per satu alumni bernostalgia di depan sana, mengenang puluhan tahun yang telah bergulir. Matamu mulai terlihat gelisah, tak hentinya kamu melirik, mencari dia. Lalu kamu menoleh ke arahku, tersenyum kecil. Aku tahu matamu mencari sedikit kekuatan disana untuk sekedar membuatmu tenang, membayangkan semua kemungkinan. Apakah dia berubah dalam tujuh tahun terakhir ini, masihkah senyumnya semanis dulu, akankah dia mengiyakan cerita lama untuk diulang kembali… dan benarkah dia datang ke reuni ini?

Alumni-alumni berkeliling, bernostalgia. Matanya masih berkeliling, dan dia mulai melangkah. Satu putaran, dua putaran.. aku menjaga jarak mengikuti langkahnya sambil bertanya-tanya sejak kapan kah berjalan keliling balairung seberat samapta dua ronde. Lima putaran.. dia berhenti. Diseberanginya lapangan apel kelas tiga dan duduklah dia di bangku ruang baca. Ditekurinya segelas aqua, menggigit-gigit sedotannya dengan gelisah. Air menggantung di ujung sedotan, menetesi celana jeans biru gelapnya. Bersama dengan keringnya sedotan tak berupa, bulir-bulir hangat sekarang turun satu per satu. Dia menangis, ditemani aku yang duduk tak bersuara dan sepasang adik lulusan baru yang sedang nostalgia dan memilih menyingkir jauh-jauh karena takut mengganggu syuting telenovela.

Gerimis yang mengguyur Magelang sejak pagi mulai menipis. Bahkan matamu sudah kering, berganti senyum simpul yang tak bisa kutebak apa maknanya. Mungkin kini kamu mulai mengerti bahwa kamu tak perlu lagi mengirim sms ke nomor yang sudah kadaluwarsa, email yang tak pernah ada jawabannya, atau kartu pos yang seperti merpati, selalu kembali menyesaki laci mejamu. Mungkin, kini kamu mengerti bahwa selama tujuh tahun ini tak mungkin dia masih sendiri. Mungkin kini kamu mulai mengerti mengapa tujuh tahun ini aku sanggup hidup memandangi punggungmu. Mungkin.. aku tidak pernah tahu apa yang kaupikirkan saat kau larut dalam pelukanku.

Ada hiruk pikuk di balairung Pancasila.
Ruang baca kelas tiga, deretan koran, dan bangku panjang.
Ada dua anak manusia berpelukan.
Ada dua jagra berlari mencoba menyelamatkan jemuran.
Ada sunyi senyap dan keheningan.
Ada seorang lelaki yang terdiam di balik pilar. Memandang cinta pertamanya bersama sahabat baiknya waktu SMA.
Ada seorang sahabat, memeluk erat gadis berambut panjang saat ekor matanya menangkap sosok yang familiar.
Ada seorang gadis, menyerah pada ambiguitas penantian.

Sayangku, akhirnya aku mengerti. Jika cinta itu bahagia melihatmu dengan lelaki lain, aku tidak akan pernah memilih cinta.



Untukmu cuma ada satu cinta, itu kau ulang padaku di setiap percakapan kita.

( anonym , tetap menghormati req yg menulis; tp dah pada taulah siapa yg nulis dari stylenya nulis hehehe )