PDA

View Full Version : Chibiko (2) : Catatan Saat Salju Melambai Pergi



fixshine
7th March 2009, 05:29 PM
Salju sudah berhenti, musim semi mengintip di balik gordin. Selembar kalender lagi lenyap dibalik tong sampah dan aku teringat lagi padanya.

Dear Chibi-ko,

musim dingin masih menyisakan taring dalam detak 7 derajat. Apa kabarmu disana?

Jurnal dihadapanku rasanya memang menantang maut. Ingin kututup saja semua tapi tanganku beku di udara. Setelah sekian tahun, semuanya masih terasa begitu nyata. Tawamu, senyummu, jalan bunga mentega, dan lambaianmu di hari kelulusan kita. Senyum terakhir, tanpa penjelasan mengapa engkau berubah di hari-hari terakhir kita berbagi langit yang sama. Ada gelisah yang mungkin tak tahu harus aku bagi kemana. Dan surat ini mungkin akan menyusul rekan-rekan seperjuangannya berjamur di sudut harddisk berharap gelombangnya mencapai khayalmu tanpa antenna..

Chibi-ko,

Melihat semua jurnal ini aku ingat kau pernah bertanya, bisakah aku membaca pikiranmu? Kaupikir aku ini kuliah untuk jadi dukun? Dan tawamu menggema. Menyebalkan. Bagaimana semesta gelombang suara bisa membuat dunia jungkir balik? Betapa tidak adil. Sementara kau pulas di seberang sana, tawa itu masih menyublim di dalam kepala, membuat pikiranku berkabut dan mengada-ada, berharap mampu membaca pikiranmu. Tahukah kau, Tyas? Mungkin kita memang sama-sama buta huruf tentang bahasa pikiran. Di hari terakhir baju badut kita melambai kau berkata aku adalah makhluk paling naïf sepanjang masa, manusia tanpa parabola yang tidak mampu menangkap sinyal tvri sekalipun (dan aku balas kau malah menangkap perang semut di permukaan dan bukan film vampir hari sabtu di baliknya). Salah siapa kau pakai bahasa mirip komidi putar hingga baru dua tahun kemudian aku sadar?

Dear Tyas,

Pagi ini masih gelap. Kumpulan foto kita terserak di picassaku. Cengiran lebarku dan wajah sinismu, kamu yang berlumur telur dan tepung, kamu yang tertidur dengan mulut terbuka.. semuanya selalu berakhir dengan tag mukabuku yang membuatmu berjanji akan mengutukku tidak akan putih dengan lotion apapun seumur hidup. Kamu selalu menghujaniku dengan segudang kata sepedas kari india mulai dari tidak feminin, nenek-nenek cerewet, sampai dengan kemampuanku menghancurkan dapur dan aku selalu mengungkit kapal pecah yang dengan satu ranjang tempat kau bersarang. Dear Tyas, pernahkah kau hitung berapa kali kita tidak bertengkar? Aku jadi bertanya-tanya, darimana asal gelitik yang mengakari hati tak mau pergi.

Tyas, My Chibi-ko,

Mungkin kau sama terhenyaknya dengan aku saat seseorang meminta aku menjadi pendamping hidup. Seseorang yang kau sebut tidak feminin, cerewet, dan wanita jadi-jadian dipertimbangkan menjadi seseorang tempat berbagi sepanjang hayat? Jangankan kau, tidak seupilpun skenario ini terbayangkan olehku. Dan aku bertanya-tanya, harapan apakah yang mendekam di pojokan hatiku saat aku menceritakan semuanya kepadamu? Kau tersenyum secerah bunga matahari. Memintaku bersyukur karena setidaknya ada yang cukup bebal untuk menjadi sarung tinjuku. Ternyata, melihatmu begitu antusias agar aku memberi sedikit kesempatan lebih menyakitkan daripada menabrak tiang asrama saat mati lampu. Sebenarnya apa yang aku harapkan? Mengapa mengingatmu menjadi begitu menyakitkan?

Ah, Tyas. Aku ingat sekarang kapan kita mulai bersilang jalan. Hari berikutnya, tak ada kebersamaan di jalan bunga mentega. Dan sepanjang tahun terakhir kita, sekedar sapa mengganti pertengkaran-pertengkaran kita yang terasa begitu menggiurkan ketimbang salju yang selalu turun lewat senyum basa-basimu saat kita beradu pandang di himpunan. Gtalkmu selalu offline dan aku tidak punya kesempatan untuk menjelaskan.

Aku menolak lamaran itu.

My dear chibi-ko,

Dua tahun berlalu dan sosokmu masih selalu menjadi buku misteri yang lembar terakhirnya lenyap dari persewaan pinggir jalan. Ada sebuah harapan kau akan muncul di balik jendelaku, mengintip bersama musim semi yang hadir sekejap lagi. Dan mungkin kali ini aku mampu membuka mulut untuk berkata jujur, bukan sekedar lawakan masa muda yang selalu mengawang seolah tak akan tiba di garis finish. Dan jika kali ini memang aku salah mengerti, mari kita tertawa bersama karena dunia bodoh itu masih milik kita berdua..

Tyas,

Tidak ada malaikat pemutar waktu, karena kita bukan tokoh dorama dalam proposal daisakusen. Namun jika benang merah itu ada, aku ingin mencoba memintalnya sekali lagi. Selamat pagi, Tyas, kuharap kau merasakan rindu yang sama..

Pagi ini musim semi menyapa..

Always yours,

Cempaka

violace
7th March 2009, 11:17 PM
suka...
walo ga bs bahas ky b enade..
ayo b enade ulas yg 1 nie jg..
bagus dimananya..? :D

fixshine
7th March 2009, 11:20 PM
intinya disini kan

".. Aku menolak lamaran itu. "

tapi kalimat2nya membuncah kesana kemari , metaforanya kemana2 , gue ga bisa mbayangin imaginasinya keseret apa nie bocah :mmikir:

nad3418
8th March 2009, 03:46 AM
I like it. Sama seperti Cece, aku aku gak bisa membahas.

teringat jawaban seseorang atas lamaranku

fixshine
9th March 2009, 10:17 AM
gue pribadi dilematis sie ngenilainya pada hal2 berikut :
- ini cerpen ga ada kalimat2 langsungnya, biasanya kurang populer yg kayax gini
- ini cerpen kalimat2 metafora naudzubillah bny-nya terakhir baca cmn kahlil gibran yg kyx begini ( kejauhan yak .. bodo ) takutnya yg baca baru paragraph kedua dah mumet
- ini ga jelas mana co nya mana ce nya, tp ya suka2lah yg nulis

= tapi sebagai pembaca dan penikmat, cara menuliskannya sie indah, penuh lekuk betul2 mirip ungkapan hati penuh kejujuran
= entah nie knp Ayu ngotot ini yg dinominasikan dan ga mau yg lain :mmikir:
= tapi mungkin kalimat

".. Aku menolak lamaran itu. "

adalah kuncinya karena kalimat ini adalah puncak dari belantara kata2 indah yang disebar sepanjang penulisan, tanpa kalimat itu pasti membosankan

dah monggo yg lain yg mau komentar