PDA

View Full Version : Cinta Lengkapi Kita



fixshine
5th March 2009, 10:54 PM
“Mimpi adalah kunci, untuk kita menakluk kan dunia. Berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya..”

Lagu laskar pelangi dari Nidji itu sayup-sayup sampai ke otak ku. Bunyi alarm HP ku tiap pagi. Berarti sekarang jam 5 pagi. Argh.. malas sekali... Tangan ku telah terjulur untuk mematikan alarm, ketika menyadari bahwa sekarang hari Sabtu dan alarm ku di setting hanya untuk weekday. Aku beralih melihat layar, alih-alih langsung memencet tombol untuk mematikan alarm seperti kebiasaan tiap pagi tanpa harus terjaga penuh. Tertera nama Sogi disana. Adik ku.. Pasti dia pulang padi lagi, dan minta dibukakan kunci pintu..

“ Ya..? “

Pasti kita semua telah mempunyai gambaran hari yang akan dilalui dalan hidup ini. Merencanakan hari ini, besok, dan lusa. Sehari kedepan, seminggu, sebulan, setahun atau puluhan tahun lagi. Rencana hidup, harapan dan impian. Pernahkah kamu mengalami suatu kejadian dalam hidup yang tiba-tiba mengubah seluruh hari? Hingga pada satu titik tanpa peringatan, tiba-tiba BANG!! Memusnahkan dalam sekejap gambaran mulus rencana hari ini, minggu ini dan bulan ini menjadi serpihan yang berhamburan. Hingga membuat tercenung sesaat melihatnya jadi berkeping-keping. Pertama kali masih berusaha mengumpulkannya agar tidak mengubah gambaran hidup yang telah direncanakan, hingga akhirnya menyerah dan memilih untuk mengubahnya menjadi mozaik baru.

Itulah yang terjadi pada hari ku, yang diawali dengan telepon di pagi buta.

“ Sheera..! Aku tabrakan...! “

Hilang sudah kantuk ku. Gerakan reflek berdiri dengan niat membukakan pintu dalam keadaan setengah sadar terhenti. Dunia langsung benderang. Jantungku telah melipat gandakan kecepatannya untuk memompa darah ke kepala. Pikiran pertamaku, situasinya pasti gawat, karena Sogi biasanya memanggil aku Ciya, tanpa embel-embel Uni, walau dia 6 tahun lebih muda. Panggilan Sheera hanya akan keluar dalam situasi gawat. Dan pastilah ini situasi itu, karena dia juga mengabarkan kalau dia tabrakan dengan nada putus asa, jengkel dan tak sabar seperti biasa jika dia dalam masalah tanpa jalan keluar. Aku berusaha tenang, walau kepala ku terasa pening. Jantung telah terlalu banyak memompakan darah ke kepala.

“ Dimana sekarang? “

“ M. Djamil “

Bukan teman, M. Djamil bukan nama orang. Itu nama Rumah Sakit Umum Pemerintah di Padang. Rumah Sakit Provinsi. Satu-satunya tempat di Padang yang ramai 24 jam penuh. Terutama di malam minggu. Benarkah adik ku disana saat itu? Tidak sama sekali. Dia menelpon dari pinggir jalan. Tergeletak dan masih berguling menahan sakit seorang diri di pagi buta. Tangan kirinya patah terbuka dengan tulang menyembul keluar, bahu kirinya patah, pergelangan tangan kanan nya pun retak. Tapi saat itu dia bisa menelepon dengan menggunakan tangan kanan yang masih belum terasa sakit dibanding tangan kirinya, dan masih tak ingin menambah kepanikan aku dengan menceritakan dia tergeletak di pinggir jalan. Sampai sekarang aku masih mengagumi kecepatan otak kita untuk berpikir dan mengambil keputusan dengan berbagai pertimbangan dalam waktu sekejap.

Dan kebiasaan orang Padang untuk selalu bersyukur memang patut dikagumi. Atau ini kebiasaan umum orang Indonesia? Ah... aku tidak mengerti kebiasaan semua suku bangsa di Indonesia yang katanya beribu ini teman, jadi biarlah aku simpulkan untuk sementara bahwa ini adalah kebiasaan orang Padang. Ketika bercerita bagaimana kejadian Sogi tabrakan kepada saudara-saudara dan teman-teman yang menjenguk, semuanya lansung mensyukuri keadaan bahwa kepala Sogi tidak terbentur, atau kakinya tidak patah, atau masih sempat menelepon aku, atau tidak tertabrak oleh mobil lain yang tidak melihatnya tergeletak, atau kebaikan orang yang membawanya ke RS, menyimpan motor nya yang hanya pecah lampu depan, menyimpan kuncinya, dan menunggu sampai aku datang di Instalasi Gawat Darurat itu. Yah.. semua hal yang disyukuri itu untuk sesaat dapat melupakan fakta bahwa Sogi harus menjalani 2 kali operasi dan tidak bisa menggunakan kedua tangannya nyaris sebulan. Walau begitu, semua setuju untuk mengumpati pemilik mobil ngebut yang menyenggol hingga jatuh dan langsung kabur meninggalkannya seorang diri di pinggir jalan.

“Menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga. Bersyukurlah pada yang kuasa cinta kita didunia.. Selamanya.. “

Aku sedang mendengarkan lagu ini dan tak bisa menahan tawa saat melihat tulisan “Ketika kentut adalah sebuah anugerah dan cebok merupakan suatu prestasi” terpampang di shoutout friendster Sogi –tentunya dia tulis setelah dia bisa kembali menggunakan tangan kanannya- dengan foto dirinya yang tergeletak di ruang gawat darurat. Foto yang sempat aku ambil dengan tidak mengindahkan protesnya waktu itu. Walau pun kondisinya saat itu mengerikan, tapi dia masih bisa juga bercanda.

Pagi itu, ketika dia tergeletak tak berdaya di ruang gawat darurat menunggu operasi pertama, saudara dan kerabat ku mulai berdatangan melihat konsidinya. Saat Om Zal bertanya, dia masih bisa dengan tenang bercerita.

“ Pingsan ndak tadi..? “

“ Indak om, lai sadar se sampai kini“

“ Tangan kiri ko yang patah yo? “

“ Iyo Om, tulangnya sampe nyembul keluar tadi, jadi bolong ngerobek dagingnya, tuh dagingnya masih nempel dicelana aku, mau Om? Bisa dibikin rendang tuh.. “

“ Campak a la...!* “ dan Om Zal langsung ngeloyor keluar meninggalkan Sogi yang nyengir. Tante Ros, istri Om Zal, yang memang penakut dengan darah, makin pucat mendengar percakapan itu dan ikut kabur secepatnya mencari udara segar. Aku yang saat itu sedang di luar langsung menjadi tempat bercerita suami istri itu tentang keadaan Sogi yang masih bisa becanda walau kesakitan. Masih dapat membuat ku tersenyum dalam kepanikan.

Tapi kemudian cerita jadi sangat berbeda setelah Sogi selesai menjalani operasi pertamanya dan pengaruh bius mulai menghilang. Dalam keadaan setengah sadar dia berteriak-teriak kesakitan dan memaki siapapun yang berusaha menenangkannya.

“ Iya... tapi ini sakit, monyeet..!” teriaknya pada perawat yang berusaha membuatnya tenang. Sepupu-sepupu kami yang juga ada disana terbahak tertawa mendengarnya, untunglah si perawat ikut tertawa. Kejadian tak begitu berbeda setelah operasi kedua. Di pagi yang sepi, saat orang berduyun-duyun melaksanakan sholat idul adha, aku mendengarkan konser teriakan kesakitan Sogi selama nyaris satu jam sebelum bersitegang penuh ancaman dengan perawat untuk menambah dosis obat penghilang rasa sakitnya. Berurusan dengan rumah sakit pemerintah selalu membuat frustasi. Tapi tidak ada pilihan lain. Hanya disini biaya perawatan yang bisa kami tanggung.

Kedua orang tua ku telah tiada. Dirumah sakit ini juga, karena kecelakaan pula. Tiba-tiba -dalam sekejap tanpa tanda- kehilangan kedua orang tua disaat yang bersamaan bisa membuat trauma. Aku tak mau membahasnya lagi. Kembali ke rumah sakit ini dengan peristiwa kecelakaan sudah cukup memberatkan hati. Aku hanya berusaha menjalani sebaik mungkin setiap hari dengan meyakinkan diri bahwa ada sesuatu yang indah menandi dibalik semua peristiwa ini.

Dengan sistem matrilinial di Padang, otomatis aku dan Sogi menjadi tanggungan keluarga Ibu. Walaupun kami masih bisa menjalani hidup tanpa harus bergantung sepenuhnya pada orang lain, tapi ketika keadaan darurat seperti ini, keluarga besar menjadi sangat berarti. Hal yang berat bisa menjadi ringan saat kita berbagi.

Ditiap akhir minggu rumah aku selalu ramai semenjak Sogi kecelakaan, bahkan sekarang, -2 bulan setelah peristiwa di pagi buta itu- saat tangan kanan Sogi yang retak telah kembali normal dan tangan kirinya tidak harus digendong lagi. Sepupu ku dan dua putri kecil nya yang menghabiskan akhir minggu ini bersama kami. Seharian kemaren si kecil Nayla yang belum genap berumur 2 tahun telah dilatih Sogi untuk mengucapkan “Om Sogi wangi”.

Dan sekarang saat semua sedang berkumpul dan membahas perkembangan tangan kiri Sogi yang masih juga mengeluarkan cairan dengan bau tak sedap di bagian yang bolong bekas patahan tulang yang menyembul kemaren, semua mengajukan pertanyaan pada Nayla

“ Nay... Om Sogi bau ya...? “ sikecil itu menghentikan kesibukannya sesaat dan memandang dengan mata kecilnya..

“ Ha..? “

“ Om Sogi bau ya dek..? “

“ Gak... Om Ogi angi... “ jawabnya pasti sambil melanjutkan kesibukannya bermain.

“ Haha... Pinter...!! “

Sogilah yang tertawa paling keras..... Aku tersenyum lebar melihat kebersamaan kami, nyanyian Laskar Pelangi terdengar dari televisi yang tetap hidup walau kami acuhkan...

“Cinta kepada hidup memberikan senyuman abadi, walau hidup kadang tak adil tapi cinta lengkapi kita...”

violace
6th March 2009, 03:07 PM
Beuh.. Ini sie langsung ktahuan sapa yg nulis..
Ga seru bgt... :mlewat: :mlewat:

Egtheasilva Artella
6th March 2009, 09:01 PM
kok aku blank ya?
ga bsa nebak malahan,,,><

dina kharisma
6th March 2009, 09:19 PM
Beuh.. Ini sie langsung ktahuan sapa yg nulis..
Ga seru bgt... :mlewat: :mlewat:

hint 1: padang (yang tau m djamil)
hint 2: jargon kedokteran

nad3418
6th March 2009, 09:28 PM
Aku suka cerita ini:

Ini gabungan gaya yang sering dipakai Violace (Start the conflict as early as possible) dan aku (detail dan mengalir serta main-mian alur)

Dengan membaca cerita ini, pembaca diajak mengenal setting dan peristiwa.

Good job.

Egtheasilva Artella
6th March 2009, 09:48 PM
hint 1: padang (yang tau m djamil)
hint 2: jargon kedokteran
sip, got it....

gw malah langsung inget gara2 lo nyebut m djamil din,,,haha

fixshine
7th March 2009, 04:21 AM
emang jurinya pinter2 ga salah menominasikan nieh

Ayu Anindita
11th March 2009, 12:42 PM
emang jurinya pinter2 ga salah menominasikan nieh

aku tetep gatau siapa yang nulis:(

violace
19th March 2009, 06:47 PM
sip, got it....

gw malah langsung inget gara2 lo nyebut m djamil din,,,haha

Jadi pengen tau... Siapa penulis yang ditebak Dina n Tessa... :mgeer::mgeer::mgeer:

sumwan
19th March 2009, 07:12 PM
wakakaka dari awal baca juga udah ketauan siapa yang nulis...

:mlewat:

manesha
19th March 2009, 11:41 PM
Jadi pengen tau... Siapa penulis yang ditebak Dina n Tessa... :mgeer::mgeer::mgeer:
ketebak dr awal kok kak :p
n hint nya emang Padang n Jargon Kedokteran :D

violace
20th March 2009, 12:58 PM
emang gitu yaa..?
Ada apa dengan jargon kedokteran? :mmikir::mcengo:

manesha
20th March 2009, 01:00 PM
kan kk pernah bilang kk sering berhubungan dg orang kesehatan :D

violace
20th March 2009, 01:10 PM
oh.. iya ya..?? :msokimut::msokimut:
:mpanas::mpanas:

nad3418
20th March 2009, 01:12 PM
HUaaaa.... "tebakanku" tepat: Ini gayanya Violace, menggebrak dengan membuka konflik langsung di awal-awal.
:p

violace
20th March 2009, 01:28 PM
lha kan emang udah ktahuan sapa yang nulisa dari awal bang... :p

fixshine
20th March 2009, 01:58 PM
oh.. iya ya..?? :msokimut::msokimut:
:mpanas::mpanas:

kamu ketauannnnnn ... berhubungan apa berhubungan ini :mketawa:

fixshine
26th April 2009, 02:18 AM
Aku suka cerita ini:

Ini gabungan gaya yang sering dipakai Violace (Start the conflict as early as possible) dan aku (detail dan mengalir serta main-mian alur)

Dengan membaca cerita ini, pembaca diajak mengenal setting dan peristiwa.

Good job.

seperti biasa ce selalu kesulitan ngambil ending yang tuntas, maunya diakhiri cepat, sarannya ya semoga mentalnya kuat manjangin cerita

violace
26th April 2009, 08:54 AM
Oo..
Penganut prinsip, potong 1/3 awal crita coz bkn boring (yg akhirnya spt b nade blg langsung dmulai konflik jdnya)

Dan kasi ksempatan pembaca bkn ending sendiri yg d suka (n akhirnya spt ga tuntas ya..?)

Ok d.. Coba d ubah.. Panjangin awal n ending nya brarti? Semoga ga bkn boring (terutama) ak yg nulisnya.. He2.. :-)

Tq bang..