PDA

View Full Version : [cerbung] “…An, may I ? ”



fixshine
13th February 2009, 08:30 PM
(View of An) :

“.. An kamu manis”
Aku tersipu, sungguhkah dia mengatakan itu. Aku coba menutupi.
“.. sudah pintar merayu ya ? ga mempan !! ” tapi aku berharap dia tak menyerah.
“.. An bagiku kamu termanis, cukup bagiku saja An ” dia memang tak mundur.
Bagaimana lagi ini. ” Ga ah, nanti cuma buat pemanis teh pahitmu ” aku membelakangi dia. Jangan pergi, jangan pergi, aku ingin terus nikmati sensasi ini.
“Sungguh An, semut-semut itu lapor padaku, kamu memang yang termanis untuk teh hidupku yang selalu pahit ..”
Aku tak tahan lagi. Aku menolehnya, dan semburan cinta itu deras menghambur dari matanya. Oh Tuhan, aku ingin basah, aku ingin tenggelam dalam banjir romansa ini, hentikan saja detik ini.
“An, .. May I ?”
aku tak bisa menolak lagi.
“You may, dear …” dan hanya kecerahan malam yang menjadi saksi

Ah tidak, dia mulai lagi…Kalimat ini barusan aku baca di ketika aku berada di internet kampusku sore tadi.
“An,,aku yakin suatu saat kamu mau menari bersamaku??” aku sendiri berada dalam kebimbangan antara ingin mempercayai kata-katanya atau tidak.
Batinku selalu berkata,” Ingat!!! Seniman itu selalu pintar!hanya ada perbedaan tipis antara kebenaran riil dan keindahan tambahan yang dihadirkannya..Dan sadarlah, aku masih belum bisa membedakan antara inti kebenaran itu dan hiasan yang ditambahkannya ” Kata- kata itu terus terngiang-ngiang..aku sendiri tidak tahu apa yang ia maksudkan…Dan harapku, malam tak menipu .. cahayanya menusuk hatiku..bila sang cinta tumbuh di hati kita..mengapa…

Mimpi selalu menjadi ungkap inginku yang tak mungkin menjadi nyata. Aku selalu memimpikan pangeranku. Aku selalu memimpikan tempat sandar keletihanku. Aku mimpikan hangat fajar pagiku. Aku mimpikan ceria kenari yang manjakan dengarku. Aku mimpikan .. dan terus saja mimpikan. Karena nyataku jauh dari itu. Aku terbiasa jauh dari nyataku. Aku terbiasa mengenali yang jauh dari mimpiku adalah nyataku. Tetapi hadirmu tidak. Kalimatmu tadi nyata. Hangat pelukanmu tadi benar-benar menyelimutiku. Dan ciumanmu sungguh membuatku tak merasakan tanah tempat kuberpijak. Tuhan kenapa kamu menghukumku … membawa nyata yang tak siap kuterima ?

Senja masih merah saat ini, menanti malam cerah yang lain. Dan rasa yang kau anugrahkan dari ciuman itu, tetap tinggal tidak hanya di bibir dan lidah ini, namun juga dalam di sudut hatiku. Dan aku yakin, akan tetap tertinggal lama di tempat itu. Akankah kau datang malam ini sayang? Menyempurnakan malam indah yang kita ciptakan bersama di saat lalu? “An, May I?” Masih jernih terngiang di telingaku. Dan jawabku akan selalu, “You may, dear …”

Pagi ini kuterbangun lagi.Kumenatap handphoneku. Sesungguhnya aku hanya ingin mengetahui waktu pagi ini, tetapi ternyata kumelihat ada amplop kecil di sudut. Berdesir kumenatapnya, pikirannya melayang mengingat kejadian di saat senja merah itu. “Good morning baby,,” demikian sms itu. Hanya satu kalimat, tidak panjang, tapi bagiku kalimat itulah yang menggugahku kembali.Tiba-tiba aku merasa pening, ketakutanku akan pemisahan antara kenyataan dan hiasan berkecamuk kembali. Haruskah aku mempercayai orang ini?Namun tadi malam, aku sadari, tidak hanya ragaku ini, tetapi jauh dari hati ini,aku mengizinkannya bersemayam di jiwaku. Apakah aku masih harus berpikir lagi?Apakah aku masih sempat berpikir lagi??karena kini semua melampaui apa yang ada di logika awalku..

…dan harapku, malam tak menipu..Cahayanya,,menusuk hatiku. Bila sang cinta, tumbuh di hati kita..mengapa tak kau ucap, sekarang….

--------------------------

Pagi ini aku sudah menuju kampus lagi, seperti biasa sambil mengirim sms dulu kepada dia. Setelah menemui dosen pembimbingku, aku menuju lab internet, tempat favoritku dari hari pertama kuliah,,dan tempat dimana aku menemukan..ah,,aku sendiri tidak tahu istilahnya apa.Aku pikir aku tidak akan terpengaruh dengan kata-kata itu, tapi sejujurnya, aku tidak mampu memungkiri kalau aku mulai tersanjung dibawanya. Logikaku mulai melemah. Ada satu hal yang selalu mengusikku selain logikaku sendiri, yaitu bayang-bayang masa laluku..Aku rindu cinta,,aku menginginkan cinta,,tetapi aku takut terjatuh dalam cinta..karena aku pernah terluka karena cinta. Aku tidak tahu bagaimana harus menyembuhkan traumatis ini. Dan apa yang kulakukan tadi malam??aku sudah mulai terbentur..bahkan getaran itu masih kurasakan sekarang.

HP bergetar menyengat saku bajuku. Ah, dia yang tercintaku kini. Entah kenapa membaca namanya saja kini hatiku bergetar. Aku tekan tombol option open. “An, aku tunggu di depan..”
Aku tak percaya ini terjadi lagi. Ada yang rela menungguku lagi. Aku ini gadis apa. Berlagak jutek di depan, tapi hatiku rapuh di sudut terdalam.
” Gak sabar amat sih .. tunggu 1000 tahun lagi ” balas smsku. Sayangku, andai benar kamu mau menungguku seribu tahun lagi. Tentu indah menikmati masa-masa penuh rindu itu. Menunggu itu selalu dengan rindu. Dan aku tak pernah tahan tersanjung dengan itu.

fixshine
13th February 2009, 08:31 PM
(View of Dika, pacar barunya An) :

Aku tak percaya kemarin aku berani meminta dia menjadi kekasihku. Aku tahu dia beberapa bulan lalu putus. An memang dekat denganku sejak lama. An yang jutek, dan selalu tanpa basa-basi. Aku pun tak pernah bisa bohong padanya. Aku terbiasa menjadi teman berdebatnya. Sebenarnya sih tidak, cuma senang saja menjadi sudut lawan pendapatnya. Aku sedih jika dia diam, aku juga merasakan tidak setiap senyumnya adalah ungkapan gembira. Yang asli dari dia adalah jika sudah membentak-bentak tidak keruan, mengomel sana-sini. Dan aku tersanjung hanya padaku dia begitu. An, jika memang kamu kekasihku sekarang jangan kamu hadirkan manismu, hanya sebagai topeng menyenangkanku. Aku ingin selalu tersanjung dengan semurninya dirimu, selayaknya kamu menarik hatiku ketika aku menemukanmu dulu.

(View of An)

“Ann..kamu klo ngambek makin manis deh..”
“Ann,,pose kamu itu loh..seneng banget foto dari atas??Tapi gpp sih,kamu tetep imut kok disitu”
“Ann,,,seniman itu selalu jujur.Kalau dia jujur, karyanya dia ngga akan norak. Pasti ada bedanya. Karena mereka membuat itu dari hati”
Kalimat-kalimat itu. Terutama kalimat yang terakhir. Aku jadi ingat.Waktu itu aku selalu mengejek Dika,”dasar seniman expert!!pasti suka ngerayu cewek2 pake puisi ya??Ayo Dika,,daripada ngerayu terus,,kayaknya kamu harus cepet-cepet menemukan tujuan puisi kamu…”Ternyata tanpa aku sadari, aku salah satu korban puisinya. Aku hanya mampu berharap, ketika aku merasa terhanyut di dalamnya puisi itu, itu karena dalamnya cinta Dika, ketika aku merasa mata hatiku yang membaca puisi itu, demikian pula mata hati Dika lah yang memilih kata-kata untuk puisi itu.

Di kampusnya Ann..

Astaga?!sudah pukul setengah dua kurang lima. Aku harus segera bergegas, atau aku akan ketinggalan kelas siang ini. Ini masih awal semester lima,tidak mungkin dong aku berani untuk datang terlambat. Setidaknya cari muka dulu lah..Aku buka kertas daftar ulangku, untuk memastikan kelas mana yang akan dipakai. Setengah berlari aku berusaha untuk meraih kampusku. Padahal siang ini panas sangat menyengat, maklum saja namanya juga daerah Jakarta. Tetapi tenang saja, sebentar lagi aku akan merasakan sejuknya AC kampusku..Tiba di kampus, aku langsung menuju kelas. Dan aku melihat rombongan anak-anak kelas Marketing 2003, lebih tepatnya kelas mantanku, dan tentu saja aku sempat agak gugup. Tapi rasa gugupku itu agak tertutupi karena rasa penasaranku melihat mereka keluar dari kelas. Ada apa ya?Karena ragu, aku memastikan jadwal daftar ulangku lagi.Iya, kelasku akan digabung dengan kelas Marketing ini.

Kalau memang digabung, kenapa mereka harus keluar dari kelas? Akhirnya aku bertanya pada Andrew, salah seorang mahasiswa yang kukenal di jurusan itu(tentu saja kenal, dia dulu teman mantan aku!)
”Andrew, kok kluar kelas semua??”tanyaku pada Andrew.
“Oh An, dosennya lagi ke Singapore!!jadi sekarang ngga ada pelajaran Entrepreneurship dulu..”jawab Andrew.Wajahnya terlihat gembira..yah,ini kegembiraan alamiah mahasiswa jika mendengar tidak ada kelas!
“Serius Andrew??knapa ngga bilang dari tadi???tau gini aku ngga usah ke kampus dee…Yaudah tenkyu ya Ndrew..”jawabku pada Andrew. Sembari berbicara dengan Andrew, aku tak kuasa untuk menahan pandangan mataku untuk tidak mencari-cari sesosok orang itu. Aduh, apakah aku masih memiliki rasa padanya?

Di antara mahasiswa-mahasiswa yang baru saja keluar dari kelas setelah mengetahui kalau dosen kami sedang ke Singapore, akhirnya akupun menemukan dirinya. Aku berusaha mencuri-curi pandang ke arahnya. Hingga akhirnya kami berpapasan. Dia berjalan bersama..itu siapa?? Ternyata dia berjalan bersama perempuan itu..Memang dari dulu perasaanku tidak pernah salah, dan kini jawaban itu sudah menunjukkan episodenya di hadapanku. Kami nyaris speechless, tapi entah mendapat kekuatan dari mana, aku memberanikan diri untuk bertanya. “Dion, Mr. Felix katanya ke Singapore ya? Terus kira-kira kelas penggantinya kapan ya?Dia bakal ngasih kelas susulan ngga ya??”Aku sendiri kaget kenapa aku bisa bertanya selancar itu di hadapan dia.Dia sempat terdiam sesaat, dan masih sempat pula melirik Rissa yang terlihat agak canggung. Kemudian dia menjawab,”Oh, elu ambil kelas jam segini juga ya??Iya, Mr. Felix lagi di Singapore.Kelas tambahan,mm..ngga tau deh.Mending elu tanya bagian akademik aja. Gue cabut dulu ya.Duluan An..”
Tanpa elu ajarin gue juga udah tau kali, batin aku berteriak keras.
Udah sana, pacaran aja deh situ!!
Setidaknya aku bersyukur, karena aku sudah mulai bisa merespon senetral mungkin. Memang lebih indah ketika kita berhasil mengikhlaskan sesuatu yang telah ditakdirkan hilang dari kita, karena mungkin masih ada cerita yang lebih indah dibalik itu semua. Hapeku bergetar lagi, ada pesan masuk rupanya, tentu saja dari Dika. “Lagi ngapain, my dear???pelajaran apa sekarang?pasti lagi ngantuk di kelas ya??”Dia memang selalu tahu saat yang tepat untuk membangkitkan perasaanku. Thanks God I found you, batinku berkata lagi dengan lembut, setelah sebelumnya sempat agak berdegup lebih kencang. Dan spontan aku membalas,”G ada kelas, dosen ke S’pore..Now I do nothing ..only thinking of you That’s my lesson for now and forever..”Aku tersenyum sendiri, kemudian aku melenggang meninggalkan koridor itu, dan berjalan menuju boulevard kampusku menghampiri teman-temanku.

fixshine
13th February 2009, 08:33 PM
(View of Dika, pacar barunya An) :

Aku tak percaya kemarin aku berani meminta dia menjadi kekasihku. Aku tahu dia beberapa bulan lalu putus. An memang dekat denganku sejak lama. An yang jutek, dan selalu tanpa basa-basi. Aku pun tak pernah bisa bohong padanya. Aku terbiasa menjadi teman berdebatnya. Sebenarnya sih tidak, cuma senang saja menjadi sudut lawan pendapatnya. Aku sedih jika dia diam, aku juga merasakan tidak setiap senyumnya adalah ungkapan gembira. Yang asli dari dia adalah jika sudah membentak-bentak tidak keruan, mengomel sana-sini. Dan aku tersanjung hanya padaku dia begitu. An, jika memang kamu kekasihku sekarang jangan kamu hadirkan manismu, hanya sebagai topeng menyenangkanku. Aku ingin selalu tersanjung dengan semurninya dirimu, selayaknya kamu menarik hatiku ketika aku menemukanmu dulu.

(View of An)

“Ann..kamu klo ngambek makin manis deh..”
“Ann,,pose kamu itu loh..seneng banget foto dari atas??Tapi gpp sih,kamu tetep imut kok disitu”
“Ann,,,seniman itu selalu jujur.Kalau dia jujur, karyanya dia ngga akan norak. Pasti ada bedanya. Karena mereka membuat itu dari hati”
Kalimat-kalimat itu. Terutama kalimat yang terakhir. Aku jadi ingat.Waktu itu aku selalu mengejek Dika,”dasar seniman expert!!pasti suka ngerayu cewek2 pake puisi ya??Ayo Dika,,daripada ngerayu terus,,kayaknya kamu harus cepet-cepet menemukan tujuan puisi kamu…”Ternyata tanpa aku sadari, aku salah satu korban puisinya. Aku hanya mampu berharap, ketika aku merasa terhanyut di dalamnya puisi itu, itu karena dalamnya cinta Dika, ketika aku merasa mata hatiku yang membaca puisi itu, demikian pula mata hati Dika lah yang memilih kata-kata untuk puisi itu.

Di kampusnya Ann..

Astaga?!sudah pukul setengah dua kurang lima. Aku harus segera bergegas, atau aku akan ketinggalan kelas siang ini. Ini masih awal semester lima,tidak mungkin dong aku berani untuk datang terlambat. Setidaknya cari muka dulu lah..Aku buka kertas daftar ulangku, untuk memastikan kelas mana yang akan dipakai. Setengah berlari aku berusaha untuk meraih kampusku. Padahal siang ini panas sangat menyengat, maklum saja namanya juga daerah Jakarta. Tetapi tenang saja, sebentar lagi aku akan merasakan sejuknya AC kampusku..Tiba di kampus, aku langsung menuju kelas. Dan aku melihat rombongan anak-anak kelas Marketing 2003, lebih tepatnya kelas mantanku, dan tentu saja aku sempat agak gugup. Tapi rasa gugupku itu agak tertutupi karena rasa penasaranku melihat mereka keluar dari kelas. Ada apa ya?Karena ragu, aku memastikan jadwal daftar ulangku lagi.Iya, kelasku akan digabung dengan kelas Marketing ini.

Kalau memang digabung, kenapa mereka harus keluar dari kelas? Akhirnya aku bertanya pada Andrew, salah seorang mahasiswa yang kukenal di jurusan itu(tentu saja kenal, dia dulu teman mantan aku!)
”Andrew, kok kluar kelas semua??”tanyaku pada Andrew.
“Oh An, dosennya lagi ke Singapore!!jadi sekarang ngga ada pelajaran Entrepreneurship dulu..”jawab Andrew.Wajahnya terlihat gembira..yah,ini kegembiraan alamiah mahasiswa jika mendengar tidak ada kelas!
“Serius Andrew??knapa ngga bilang dari tadi???tau gini aku ngga usah ke kampus dee…Yaudah tenkyu ya Ndrew..”jawabku pada Andrew. Sembari berbicara dengan Andrew, aku tak kuasa untuk menahan pandangan mataku untuk tidak mencari-cari sesosok orang itu. Aduh, apakah aku masih memiliki rasa padanya?

Di antara mahasiswa-mahasiswa yang baru saja keluar dari kelas setelah mengetahui kalau dosen kami sedang ke Singapore, akhirnya akupun menemukan dirinya. Aku berusaha mencuri-curi pandang ke arahnya. Hingga akhirnya kami berpapasan. Dia berjalan bersama..itu siapa?? Ternyata dia berjalan bersama perempuan itu..Memang dari dulu perasaanku tidak pernah salah, dan kini jawaban itu sudah menunjukkan episodenya di hadapanku. Kami nyaris speechless, tapi entah mendapat kekuatan dari mana, aku memberanikan diri untuk bertanya. “Dion, Mr. Felix katanya ke Singapore ya? Terus kira-kira kelas penggantinya kapan ya?Dia bakal ngasih kelas susulan ngga ya??”Aku sendiri kaget kenapa aku bisa bertanya selancar itu di hadapan dia.Dia sempat terdiam sesaat, dan masih sempat pula melirik Rissa yang terlihat agak canggung. Kemudian dia menjawab,”Oh, elu ambil kelas jam segini juga ya??Iya, Mr. Felix lagi di Singapore.Kelas tambahan,mm..ngga tau deh.Mending elu tanya bagian akademik aja. Gue cabut dulu ya.Duluan An..”
Tanpa elu ajarin gue juga udah tau kali, batin aku berteriak keras.
Udah sana, pacaran aja deh situ!!
Setidaknya aku bersyukur, karena aku sudah mulai bisa merespon senetral mungkin. Memang lebih indah ketika kita berhasil mengikhlaskan sesuatu yang telah ditakdirkan hilang dari kita, karena mungkin masih ada cerita yang lebih indah dibalik itu semua. Hapeku bergetar lagi, ada pesan masuk rupanya, tentu saja dari Dika. “Lagi ngapain, my dear???pelajaran apa sekarang?pasti lagi ngantuk di kelas ya??”Dia memang selalu tahu saat yang tepat untuk membangkitkan perasaanku. Thanks God I found you, batinku berkata lagi dengan lembut, setelah sebelumnya sempat agak berdegup lebih kencang. Dan spontan aku membalas,”G ada kelas, dosen ke S’pore..Now I do nothing ..only thinking of you : ) That’s my lesson for now and forever..”Aku tersenyum sendiri, kemudian aku melenggang meninggalkan koridor itu, dan berjalan menuju boulevard kampusku menghampiri teman-temanku.

fixshine
13th February 2009, 08:34 PM
(View of Dika)

Dia baru saja mengirim sms padaku. Dia bilang “.. only thinking of you” ahh aku sudah menduga itu bohong. An, bukan orang seperti itu. Tapi sisi lain hatiku juga mengatakan dia menaruh perhatian padaku. Mungkin An, hanya ingin menyenangkanku. Ya mungkin saja aku pelarian putus cinta dari pacarnya dulu. Menggangukukah ? sedikit. Jealous kan tanda sayang. Dan cukup untuk melihat bahwa senyumnya kali ini untukku. Ah, malu sendiri jadinya bertahun-tahun aku dekat dengannya. Kenapa baru kemarin berani … eh tak sengaja kelepasan “nembak” dia. Mungkin memang sudah waktu. Sesuatu memang indah pada waktunya.



“An ..”
“Ya dear …” bisiknya manis.
“Kamu aneh hari ini ..”
“Kenapa sayang, aku baik-baik saja, sangat baik … apalagi kamu temani begini ” entah kenapa aku semakin merasa dia menutup-nutupi sesuatu.
“An … kamu bohong padaku hari ini kan ?”
Diam terkejut. Muka semburat memadam merah segera. Dan aku segera merasakan aroma pertahanan dirinya yang khas menyeruak.
“Kamu kenapa …. ga suka ?! ya udah aku pergi , aku emang selalu ga bisa nyenengin orang ko !! ” dan sembilu yang pedihnya sangat dideritanya sekilas kurasakan juga.
“An .. kalimat terakhirmu tidak bohong ” jawabku lembut.
“Maksudmu ? ngomong ga jelass !!” entah kenapa kenapa kalau lagi dia jutek begini perasaanku padanya justru lebih sayang, adrenalinku terpompa, sensasinya menyebar.
“An .. maaf kamu ga perlu bermanis-manis padaku, I loose u, An. Aku serasa tidak sedang bersama An-ku..”
Dia memandangku. Beberapa saat, tatapan marah itu menegang rasa. Lalu, seketika pecah dengan tangis, ketika kedua telapak tangannya menutupi muka.
“Huu huu, kenapa kamu bisa tahu … maafkan aku. Aku tadi bertemu dia lagi .. dan aku ternyata masih punya perasaan padanya .. “
Harusnya aku marah. Tapi mengapa tidak ? mungkinkah dia terlalu menjadi berkah buatku ?
“An, aku kan tahu kamu sudah lama .. percaya aku dong” aku menenangkan sambil merengkuh, membelai bahunya.
“Aku jahat banget ya .. aku bisa-bisanya bohong, bisa-bisa masih punya perasaan terhadapnya … tapi sungguh kamu bukan pelarian..” An berbalik memelukku. Dia menangis di bahuku. Terasa basah airmatanya di bajuku. Lembut aku lalu mencium rambutnya yang lebat itu.
“An, … aku hanya mau kamu mau berbagi denganku, kamu mau kan ? “
Aku merasakan anggukan pelan. An, aku semakin merasakan kamu memang bagian dari diriku yang hilang dan sudah kutemukan kembali.

Siapa bilang wanita lemah ? An, salah satunya yang bukan. Mengerikan tepatnya kalau ngotot. Dia sangat bisa diandalkan dalam tiap tugas entah kulaih, entah kepantiaan. Gadis manis kebanggaan papanya sudah terbiasa disiplin sejak awal. An, sendiri dulu sering mengejek yang pemalas, hanyalah tukang cari-cari akal. Hum hum ada betulnya sih, kan work smart, bukan work hard. Tuh, kan langsung kebukti ada aja alasannya. An emang paling ga bisa basa basi, cenderung frontal kalau ada yang dia ga suka, atau ya sudah pergi menyendiri sampai ia bisa melupakan. Walau aku ga yakin kalau bisa lupa. Aku tahu banget beberapa kebiasaan phobianya, yang kebanyakan diperoleh dari pengalaman traumatis. Dari soal pilihan minum, jenis film, merek buku tulis, sampai operator kartu pra bayar. Aku beruntung dari dulu walau lebih sering jadi bahan celaanya tapi juga padaku dia bebas bercerita. Mungkin maksudnya karena aku juga ga akan bisa balik mengkritiknya.
“Kamu itu pasti tukang boong !”
“Kenapa emang, emang pernah kamu aku bohongi ?”
“Enggak sih, tapi kalau berani .. aku sudah waspada, huh ! “
“Kok bisa sih menyimpulkan gitu sih ?” tanyaku dulu penasaran.
“Kamu kan suka nulis, suka ngarang cerita, pasti kamu bisa banget tuh ngarang alasan buat boong … pasti kamu tuh berbahaya banget jika cuma kenal lewat tulisan ..”
Provokatif, logis, dan mematikan, plus emosi lengkap sudah membuat lawan bicara tidak akan bisa membantah lagi. Itulah gaya khas An. Jadi kalau dia bermanis-manis pasti ada maunya.

An, aku memang penulis. Walau jarang mau kukirimkan ke majalah. Walau kamu sering mendorongku agar komersil dikit. Tapi menulis itu adalah caraku untuk menumpahkan kejujuran. Kamu harusnya juga tahu, susah menemukan teman yang baik, yang setia. Kalaupun ada di saat kita membutuhkan temen itu belum tentu selalu ada. An, kan kamu juga yang pernah memberikan kado ulang tahun sebuah diary. Diary itu awal aku mengasah keahlianku. Dari menyusun kata menjadi kalimat. Merangkai kalimat menjadi paragraph. Hanya agar apa yang ada di hatiku bisa kutumpahkan. Terlalu banyak cerita dalam melewati kehidupan ini. Terlalu banyak kenangan entah suka, entah duka, bersimpul harapan, bahkan tersandung pengkhiatan. Namun semuanya indah, setiap cerita adalah indah, karena di ciptakan Sang Maha Pemberi Keindahan. Kalaupun kamu melihat tulisanku bagus, mungkin hanya karena aku terlalu jujur mengungkapkan keindahan-Nya itu. Sebaliknya An, ada sisi lain yang mungkin kamu belum tahu. Kejujuran hati, berarti tidak pernah menipu diri. Aku terbiasa mendengar suara hatiku, mengikutinya sebagai intuisi. Suara hati itu jauh melintas batas panca indera. Tak pernah bisa dijelaskan, dengan alur logika. Sangat peka, bahkan bisa bicara antar hati walau tak terucap barang satu kata. Benarkah itu ? Hanya jika kita saling percaya.

(View of An)

“Aku ngga ngerti sama Dika!”
Malam itu aku menangis sendirian, ingin rasanya berteriak, tapi segera kuurngkan niatku itu. Percuma, ngga akan ada seorangpun yang ngerti aku, bahkan dengan teriakankupun itu percuma. Ngga akan ada yang mendengarkanku!
Tangisanku semakin kencang,,aku sendiri tidak mengerti mengapa aku tiba-tiba ingin melampiaskannya malam itu juga.
Aku paling ngga suka kalau Dika mengungkit-ungkit tentang mantanku!
Wajar kan kalau aku masih ingat mantanku?Dika, aku punya hati, aku punya perasaan..Iya, dia memang pernah mencintaiku dan akupun pernah mencintainya, tapi ingat!itu dulu Dika..dan sekarang hanya ada kamu!Dan haruskah aku tetap bertahan dengan sifat kasarku?Hanya demi memenuhi agar kamu tetap merasakan karakterku?Sadarlah Dika, sikapku yang sekarang ini, karena kamu juga!Karena kamu telah sanggup meluluhkan aku!Haruskah aku tetap bertahan dengan batu karangku, ketika gelombang bayang-bayangmu sudah berhasil merapuhkan pertahananku?Dika,,aku cuma berharap kamu bisa mngerti aku..Tolong jangan membuatku ragu lagi…

Dika..dika..sepertinya aku butuh waktu lagi untuk mengerti dirimu sepenuhnya. Dika, kalau kamu penulis, aku pelukis Dika..Aku tahu kapan aku harus melukiskan persaan bahagiaku, kapan aku harus melukiskan kesedihanku..Dika, kita tidak berbeda, kita sama-sama menggunakan hati,kalau kamu dalam goresan pena, kalau aku dalam guratan kuasku. Apakah aku salah jika aku spontan menggerakkan kuasku berdasarkan kata hatiku?Dika, aku ingin kamu selalu menjadi inspirasi lukisanku, terutama lukisan hatiku. Itu saja. Kanvas-kanvasku tidak akan hidup tanpa sentuhan jiwa. Warna-warna itu tidak akan selaras jika tidak terjadi keharmonisan dari pandangan sang pelukisnya. Tuhan menciptakan keindahan untuk kita mendeskripsikannnya dan melukiskannya..Dan kita mampu melakukannya Dika.Kita berdua.

fixshine
13th February 2009, 08:35 PM
(View of dika)

“An besok Valentine … kamu mau merayakan buat kita ?”
begitu isi sms yang baru kukirimkan.
“Kamu ingin ? aku sih ga pernah ngerayain ?” begitu jawabannya beberapa detik kemudian. Duh tololnya aku, dia kan memang ga pernah merayakan itu. Apalagi dengan rutinitas kebiasaannya. Hari besarnya ya hari bersama keluarga saat pulang mudik, saat liburan kuliah, atau saat papanya tercinta datang menjenguknya. Valentine sendiri menurutku lebih ngetrend karena bisnis entertainment membutuhkan moment menjual hiburan. Berpadu dengan bisnis coklat,dan segala boneka, plus pernik-pernik berwarna pink. Walau bisnis tapi juga tidak akan laku jika pasar tidak merespon. Manusia senang dicintai. Sayangnya untuk mencintai tanpa pamrih sungguh susah. Apakah harus belajar ? menurutku hanya masalah kepedulian. Tak mungkin cinta datang tanpa kepedulian, walau itu subyektif dalam ukuran. Sayangnya kepedulian kini semakin terkikis. Beratnya beban hidup, belum lagi kesakithatian kalah dalam persaingan, membuat kepedulian menjadi barang langka. Langka itu mahal, dan ketika 14 Pebruary di tahbiskan secara umum menjadi hari kasih sayang, merebaklah kekuatan non formal itu.

Tiba-tiba aku ingin mendengar suara dewiku ini.
“Hai..”
“Eh nelpon juga, kenapa Dik, kangen akuw ?” kudengar cekikikan manja itu.
“An, sudah bisa nakal ya .. “
“Biar kamu lebih kenal sisi lain diriku …humm”
“Jadi ? mau jalan-jalan besok …?” tanyaku cepat mengingat tak bijak ngobrol hanya menghabiskan pulsa handphone.
“Aku ingin tenang bersamamu saja .. boleh ?” kali ini aku yang diserang permintaan manja ini. An .. ini benar An ? Oh Tuhan tak kusangka ada sisi dirinya yang semempesona ini.
“Hei tok tok … anybody there ? boleh tidak ? “
“Eh ehm .. di rumahku ya ?” jawabku asal, dan langsung kesesali, duh ga ada tempat lain yang romantis lain apa selain rumah sederhana itu.
“Mau mengajakku ke rumahmu ? hum hum .. boleh boleh .. sang puri cantik ini mau dihidangkan apa buat candle light dinner ?”
Nah betul kan, pilihan yang salah mengajaknya hanya ke rumahku.
“Aku beliin nasi goreng … eh em mie pangsit ada klo jam 7 malam .. ehm ga enak yak …” wah ko jadi gugup begini.
“Sudah ga usah mengingat ketidakprofesionalanmu mengajak, aku saja yang bawa ..” dia menukas cepat.
“Kamu bawa apa ? “
“Agar-agar ..” jawabnya mantap.
“Yakin ? “
“Tentu .. awas kalau ga suka ” ancamnya. Hum dan dimataku hanya bayangan matanya yang melotot dengan manis.

(View of An..)

Minggu yang cerah. Aku sangat bersyukur hari ini hujan tidak turun, sebab sebelumnya aku hampir sulit keluar dari rumah karena hujan itu tak henti-hentinya turun dengan deras..Setelah semalaman aku berpikir panjang, akhirnya aku menemukan juga ide untuk memberikan kejutan Valentine kepada Dika..Valentine???ugh,,seumur-umur pacaran aku belum pernah merasakannya. Jika tidak aku jadian setelah hari Valentine, atau bahkan aku putus sebelum hari Valentine itu tiba. Sebetulnya sih aku tidak pernah berpikir sama sekali akan merayakan Valentine bersama Dika. Tapi entah kenapa aku ingin sekali memberikan surprise kecil untuknya

Aku sedang berdiri di depan kaca. Terkadang aku tersenyum-senyum sendiri, sambil merapikan rambut panjangku. Jadi inget masa awal-awal berkenalan dengan Dika. Dengan teramat tidak sopannya dia meledekku dengan sebutan Lion Hair, karena kuantitas rambutku yang memang agak sedikit berlebih dari kuantitas rambut normal. Waktu itu aku marah-marah terhadap Dika.,”Maksudnya apaan?emang udah dari sananya gini..suka-suka aku dong, rambut-rambutku sendiri..Sirik ya??”Seperti biasa, sikap jutekku keluar. Dan sialnya Dika hanya tersenyum kalem,”Siapa yang sirik?Bagus kali klo cewek rambutnya tebal,,kelihatan lebih feminin aja. Jadi kesimpulannya, tadi tuh sebetulnya aku mau memuji kamu, tetapi kamunya keburu jutek sih..Jujur loh aku niatnya memuji..”Aku hanya bisa terdiam. Mangkel banget! Pandanganku kembali lagi ke cermin dihadapanku, masih menata rambut. Dasar Dika! Batinku memekik ringan dan kembali melayangkan pandangan ke arah cermin. Setelah menggunakan pelembab, kemudian aku menaburkan bedak sedikit di mukaku, sedikit lipbalm juga di bibir, Siap berangkat! Sebetulnya aku agak takut juga pergi sendirian seperti hari ini. Namun, mengingat aku akan mencari sesuatu untuk memberi surprise pada Dika, jadi kuberanikan saja diriku untuk pergi sendirian.

Sesampainya di mall, aku semakin bingung. Akan kubelikan apa ya untuk Dika. Pikiranku semakin kacau melihat hiruk pikuknya orang di mall. Tiba-tiba aku merasa pandanganku agak kabur. Dan seseorang seperti menyentuhku dari belakang.
Aku berusaha menyadarkan diri.
Jangan-jangan aku terhipnotis.
Aku berusaha berjalan cepat.
Semakin cepat.
Tapi aku merasa ada yang terus menarik tasku.
Aku sama sekali tidak berani menoleh ke belakang.
Lalu, kuputuskan untuk lari sekencang-kencangnya, sambil menoleh ke arah kiri dan kanan,. Jika aku menemukan satpam atau siapalah,,aku akan berusaha untuk berteriak sekeras mungkin.
Tapi konyolnya tidak ada seorangpun terlihat memperhatikan aku. Aku tetap yakin kalau tasku ini ditarik, dan perasaanku semakin tidak enak. Aku terus berlari, sambil terus berdoa dalam hati. Doakupun semakin tak teratur…Ya Tuhan,,tolong aku,,pekik aku berkali-kali..Hingga akhirnya aku melihat ada toko stationary besar di hadapan aku dan aku spontan langsung masuk, berusaha berjalan cepat mengitari beberapa rak terlebih dahulu, sampai akhirnya aku merasa yakin kalau orang tersebut tidak mengejarku lagi. Aku berusaha mencari rak tumpukan buku mewarnai dan menggambar untuk anak-anak, karena aku yakin disitu tidak terlalu banyak pengunjungnya. Pelan-pelan aku berusaha mengatur nafas, kemudian mengecek barang-barangku di tas kecilku itu. Hmpfhh,,aku menarik nafas panjang. Untungnya tidak ada yang hilang satupun. Tapi, tunggu dulu, sepertinya ada yang kurang!!Gantungan kunci dari Tessa, oleh-oleh dia dari Singapore! Sepertinya itu yang sempat ditarik oleh tukang hipnotis itu! Tessa maafkan aku….Habis mau bagaimana lagi. Aku sadar kalau aku terhipnotis saja sudah bagus. Aku benar-benar bersyukur, aku masih selamat..Kalau tidak entahlah…

Handphoneku bergetar lagi. Alunan lagu Ruang Rindu milik Letto, sepertinya mengurangi sedikit keteganganku akibat kejadian tadi. “Halo Dika?” kataku agak tersendat.
“Kamu kenapa An?Sesak nafasmu lagi kambuh ya?ada siapa aja disitu?”ekspresi Dika terdengar khawatir sekali.
“Ngga pa-pa Dika,,aku lagi di,,di mana ya,,Di mall Dika..”
Aduh!!Jangan sampai ketahuan!!!Surprisenya batal dong..Harus bilang apa ya?
“Serius An?Suara kamu tuh ketauan banget loh?Kamu sesak nafas di mall?Kamu sama siapa kesana??”
“Aku ngga kenapa-kenapa Dika,,Aku lagi cari buku Statistik buat bahan project aku. Tadi ada buku ensiklopedia jatuh. Karena bukunya tebal, jadi suaranya keras banget. Aku kaget.Ya kamu tau sendiri kan kalau aku kaget kayak apa??? Jantungku kan agak sensitive untuk urusan itu..”
Maaf ya Dika, aku terpaksa berbohong..
“Kamu sama siapa An disitu??Tapi nada suara kamu bikin aku khawatir..An, kamu..”
Belum sempat Dika meneruskan kalimatnya, hapeku telanjur mati. Baterainya lemah. Sisi positifnya, Dika akan berhenti menanyai aku. Sisi negatifnya,kalau terjadi apa-apa lagi, aku tidak tahu harus berkomunikasi dengan apa.

Aku berjalan perlahan, mengitari rak-rak toko buku tersebut. Masih bersisa rasa takut akibat kejadian tadi. Aku mencoba mengalihkan perhatian dengan melihat buku-buku terbitan baru yang dipajang di rak khusus.
Apa Dika kubelikan buku saja ya?
Tetapi koleksi buku dia kan sudah banyak, jangan-jangan dia sudah punya lagi.
Atau dompet??
Nanti dia bilang lebih butuh isi dompetnya daripada dompetnya..
Hihii..seolah-olah aku bisa menebak komentar Dika begini.
Aku berjalan lagi. Rasa takut itu sudah mulai mereda. Aduh..rasanya satu toko ini sudah aku kelilingi. Tetapi belum ada ide satupun mengenai surprise untuk Dika.

Pandanganku menebar ke sekeliling toko. Sampai akhirnya aku merasa bahwa ternyata masih ada bagian yang belum sempat aku lihat. Aku menghampirinya. Disitu tergeletak kanvas-kanvas dalam berbagai ukuran.
Kenapa aku tidak memberinya lukisan saja?
Lukisan buatanku sendiri?
Aku jongkok, memandangi kanvas-kanvas itu. Pramuniaga toko itu menghampiri aku dan bertanya,”Ada yang bisa dibantu mbak?”
“Oh..belum..Aku boleh liat-liat dulu kan??”jawabku ramah.
“Oh silakan mbak..ngga apa-apa..”Pramuniaga itu meninggalkan aku, dan menjaga rak buku-buku pelajaran sekolah.
Aduh,,tapi aku harus melukis apa ya?
Lukisan fotoku??
Aduh jangan,,iya sih..aku sering narsis di depan dia,,tapi aku tidak cukup percaya diri untuk melukis diri sendiri.
Lukisan Dika??
Hyaaa…maafkan aku Dika..bukan berarti aku tidak sanggup membayangkan dirimu. Tetapi aku terlalu nervous untuk melukis dirimu
Aku terus berpikir. Sambil terus membolak balik kanvas itu. Aku benci seperti ini, ketika aku benar-benar butuh ide tapi aku kehilangan inspirasi. Biasanya aku selalu berdiskusi dengan Dika. Namun itu sangat tidak berlaku untuk saat ini.Tidak mungkin dong aku bertanya pada Dika?

Oh, aku tahu.
Senja merah itu.
Iya,,bagaimana mungkin aku bisa melupakan itu?
Kenapa aku tidak mengabadikannya saja di kanvasku. Tentu saja aku tidak akan melukiskannya dengan detail, tapi aku akhirnya menemukan inspirasi untuk kutuangkan dalam lukisanku. Aku akan menaruh bulan di sudut, ia tampak besar, cerah, bersinar, dan ialah satu-satunya saksi yang jelas terlihat. Saat itu bintang tidak terlalu jelas..tetapi terang purnama itu sudah cukup menjadi pusat keindahan malam itu. Aku duduk di teras kost-kostan aku, di antara rimbunnya pohon bunga sepatu, dan beberapa tanaman anggrek tergantung di dekat atap terasnya. Semua itu berawal dari kecintaanku pada bunga anggrek, dan aku sendiri tidak tahu bagaimana, akhirnya pembicaraan kami menjadi semakin jauh dari topik awal. Dan berakhir pada satu pertanyaan yang membuatku tak sanggup mengelak..

“An, may I??”

Aku hanya terdiam, dan dengan lirih aku menjawabnya,”You may, dear..”

fixshine
13th February 2009, 08:36 PM
(View of Dika)

Hari ini aku menunggunya di rumahku. Rumahku hum ya rumahku, home sweet home. Selalu ternyaman untuk tinggal. Tempat segalanya berawal, dari bangun pagi, makan, dan berangkat ke tempat tujuan masing-masing. Dan tentu saja ketika petang berlalu rumah juga tempat aroma keluarga semakin merebak. Bergantian ritual pembersihan diri di kamar mandi. Kemudian bersyukur atas berkah hari dengan sholat bersama. Dan yang menjadi acara puncak adalah makan bersama.

Minggu-minggu ini orang tuaku sedang menengok nenek nun jauh di desa. Ah mereka kangen juga menikmati rumah awal mereka berasal. Tapi bagiku rumahku di kota adalah kampung halamanku, bagaimanapun juga walau jarang ada konser kicau burung di pagi hari setiap rumah seharusnya adalah tempat terindah. Suatu hari nanti jika saatnya tiba aku juga ingin meneladani papa-mama menata rumah dalam harmoni.

An akan datang malam ini, ehm sesuatu yang spesialkah ? rasanya tidak juga. Dari kecil dia sudah suka mengacak-acak kamarku. Dia hafal dimana aku sering lupa meletakkan kaca mata, hanya dia yang berani mengambil koleksi cd musikku, dan tentu saja mama sering terbantu dengan kelincahannya membantu masak. Hum karena tak berani memprotes mama kalau ada makanan keasinan ya sudahlah An saja yang sering kujadikan sasaran. An, yang sudah lama tak terasa juga mengisi hari-hariku. Tetapi tetap saja cinta membuatnya berbeda, aku senang dengan An yang natural karena memang hanya denganku dia mau nyerocos, berdebat, bahkan kadang-kadang perang bantal. Namun jauh dalam hatiku mau tak mau, ketika merasakan niat dihatinya untuk membuatkan sesuatu yang istimewa aku tersanjung. Ah mungkin saja ada sisi hatinya yang belum aku tahu. Dan aku akan semakin tersanjung … ehm grogi ..ehmm sudahlah lihat saja kejutannya nanti.

Kudengar ketokan pintu di sana. Sejak kapan dia mengetok pintu …, oh An kamu memang ingin tampil “beda” hari ini. Aku bersembunyi. Ketokan pintu berhenti, berganti suara derit pintu.
“..Dika, sayangg… aku datang “
dari ceruk dinding tempatku bersembunyi kulihat dia meletak bungkusan besar di sofa.
“..Dika kamu dimana ? ada di rumah kan ? “
ada sebersit nada cemas di suara merdu miliknya.

Ia berjalan melewati tanpa sadar. Perlahan aku berjingkat di belakangnya. dan tepat di tengah ruangan telapak tanganku sigap menutup matanya dari belakang.
” Auwww .. siapa ini,… Dika ini kamu ?!” aku diam
” Siapa kamu .. siapa kamu …lepaskaaaaaaaaaaaaaan !!!” tak kusangka tenaganya muncul mendadak begitu besar. Ia memberontak tak terduga. Berhasil membalikkan badan dan … cakar-cakar jemari lentiknya menyerang dengan sengit.

“Cukup Ann… ini aku, ini Dika …. sadar Ann !!” rupanya ketakutannya membuatnya histeris. Kukorbankan pipiku tergores sedikit akibat cakarannya. Aku mengguncang-guncang bahunya agar dia sadar. Untunglah setelah matanya melotot sejenak, lalu nafas panjang diambilnya, kesadarannya kembali.

“Dika … kamu menakutiku !! “
Ia sekarang menghambur memelukku. Maafkan sayang, aku lupa kamu penyakit latah yang lumayan parah.
“Jangan lakukan lagi ya … aku takuut. Dan oh … pipimu terluka ? Aduh maafkan akuu “
Ia panik. Tak pernah aku melihatnya seperti ini. Karena cinta ? aku berharap, cinta padaku ? oh tersanjungnya aku melupakan perih luka cakarannya ini.

“Jadi mana agar-agarku ko belum dibuatin ? “
Kulihat dia mengeryit dan ingat sesuatu.
“Ah, iya .. kamu sih bikin suprise ga lucu …”
dia berbalik dan menuju dapur. Sejujurnya aku jarang tau isi dapur. Species cowok di keluargaku, maksudku aku dan papa adalah manusia yang jarang berinteraksi dengan ruangan satu itu. Hanya An dan mama yang sering menyiapkan makanan dan bumbu ajaib di sana.

Aku ke balkon atas sambil menunggu hidangan special janjinya. Aku melihat kegagahan Sang Surya mulai redup ke peraduannya. Lambaian cahayanya merah merona indah menjanjikan esok dia kan datang dengan harapan-harapan baru. Selalu ada waktu untuk yang pergi, namun selalu ada janji bergantinya hari dengan datangnya sesuati yang lebih berarti. Selalu mengenang dan berharap, dan aku berdiri di sini menatap dan menjalani.

“Sayang kamu sedang apa ? ” suara manis itu semilir di belakangku.
“Menikmati yang terindah … lihat itu ” Aku menunjuk rona merah senja di ujung cakrawala.

An mendekat. Ia menutup mata merasakan semilir angin yang mengelus lembut wajahnya.
“Dika .. aku ingin hanyut bersamamu senja ini “
Aku tahu .. kata-kata sudah berarti lagi. Hati kami terlalu ingin saling bernyanyi untuk senja ini. Aku memeluknya dari belakang, mencium semerbak rambutnya. Aku kenal suasana ini, ketika alam serasa berhenti beberapa saat untuk kami berdua. Ya, saat aku menciumnya pertama kali untuk menyatakan cinta.

“Jangan kau lepaskan pelukanmu sayang, … hangat, aku selalu ingin merasa terlindung terus seperti ini ..” bisiknya.
Senja merah itu menjadi saksi kembali kebersamaanku dan An.

Cinta memang tak bisa di logika, terlebih bahagia. Sebagian orang mungkin berpendapat dengan hadiah mahal bisa membeli perhatian cinta. Namun aku bersyukur, aku dan An selalu punya senja merah yang bisa kita nikmati indahnya selalu.

Makan malam kulewati dengan menyantap agar-agar buatannya. Memang spesial, hum .. sudah seperti mama saja dia pandai menata meja makan, memasang taplak putih, menyusun mangkuk dan gelas dan tentu saja lilin beraroma harum. Hari yang sempurna, hari yang tak pernah terpikirkan olehku akan datang padaku.

“Aku tak menyangka kamu bisa menyiapkan ini semua An … terima kasih ya “
ucapku sambil mengantarnya pulang ke depan.
“Kamu berhak untuk itu, sayangku … oya masih ada satu lagi surprise di kamarmu ” dia mengecupku sebentar lalu kunikmati lambaian tangannya.

Aku lalu berlari menuju kamarku, penasaran tak terkira memikirkan surprise darinya yang lain. Ketika kubuka pintu kamarku, woww … aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Diterangi lampu kamar ini, sebuah lukisan senja merah kami terpampang dengan anggunnya. Oh An, senja merahku, senja merahmu jua, semoga selalu menjadi bagian terindah dari milik kita.

—–end —–

collaborated writing by,
fixshine, Ayu, and Enade

Egtheasilva Artella
13th February 2009, 08:42 PM
klik new post,,,eh ada thread ini di paling atas,,,
langsung senyum,,,=)

kayaknya udh lamaaaaa banget ni crta,,,
jadi mengenang masa lalu,,,hheh

nad3418
13th February 2009, 08:55 PM
klik new post,,,eh ada thread ini di paling atas,,,
langsung senyum,,,=)

kayaknya udh lamaaaaa banget ni crta,,,
jadi mengenang masa lalu,,,hheh

Tess, May I?

:p

Egtheasilva Artella
13th February 2009, 08:58 PM
Tess, May I?

:p
Yes, you can

*berasa kayak slogannya Obama :p*

violace
13th February 2009, 09:06 PM
udah lama ya? Aku ga pernah baca :D
Mau baca sekarang tapi panjang bgt.... :mzoom::mzoom:

fixshine
13th February 2009, 09:32 PM
Tess, May I?

:p

dipost kembali krn ayu ngamuk2 ga dimasukin nade dalam cerpennya
( nyogok juri ko nanggung to De ) buat lagi sana :mtimpuk:

violace
31st March 2010, 06:50 PM
udah lama ya? Aku ga pernah baca :D
Mau baca sekarang tapi panjang bgt.... :mzoom::mzoom:

*WOW*
akhirnya...
baru baca, bukan karna lagi gada kerjaan..
tapi justru karna banyak yg mo dikerjain, ujung2 nya malah baca cerpen :(