nad3418
8th February 2009, 07:17 PM
Minggu malam
Mentari sudah tidak lagi bertengger di ujung senja dan sudah selesai mengucapkan selamat tinggal pada hari ini. Enade berpamitan pulang pada Lany, Priscilia, Iqbal dan juga Joko yang ditutup pamitan pada Myra, si tuan rumah. Khusus untuk Myra lengkap dengan kecup pipi tiga kali, khas Belanda. Novi mengantar Enade sampai ke luar rumah.
"Nov, malam ini kau ke rumahku?" Enade bertanya setelah ritual kecup pipi tiga kali dan kecup tipis di bibir mungil Novi.
"Nee, aku ..." jawab Novi yang tidak lengkap seperti memikirkan kata yang tepat.
"Oke, sampai ketemu hari Jum'at, then." sambar Enade sambil beranjak pergi.
Novi menyambar pergelangan Enade, menariknya dan memeluk erat pinggang seraya menatap kedua mata Enade yang menampakkan wajah bingung. Novi menatap tajam mata Enade seperti ingin menemukan jawaban dari kedua mata itu. Mata tidak pernah berbohong. Pandangan itu melunak seiring bulir air mata yang mengalir pelan ke pipinya yang kuning langsat itu. Novi lalu menempelkan kedua tangannya, yang sudah mulai membeku akibat dari cuaca musim dingin ini, ke pipi Enade dan menempelkan bibir mungilnya ke mulut Enade yang sedikit terbuka karena ingin bertanya. Enade pun memeluk pinggang Novi dan mereka berciuman mesra di tengah tatapan pejalan kaki yang lalu lalang di jalan itu.
"Kenapa Nov?" tanya Enade yang masih kebingungan karena tingkah Novi yang agak aneh ini.
"Aku mencintaimu En."
"Ah ..." Enade sudah mulai menebak arah pembicaraan.
"Tapi seperti katamu dulu. There is no "us" in the future. Semua yang kita lakukan selama ini hanya sekedar menuruti nafsu dan kebutuhan semata. Kamu happy, aku suka, semua senang."
Hening sejenak, tangan Novi yang kedinginan semakin erat terjalin di jemari Enade.
"Tapi, aku mulai mencintaimu En. Dan aku tahu, sejak rasa itu muncul aku harus mengambil pilihan pahit ini. Aku harus stay away from you."
Enade hanya terdiam dan tersenyum getir. Dalam benaknya berkecamuk banyak hal. Memang tidak ada masa depan di antara mereka. Novi memilih tinggal dan hidup di Belanda, sedangkan Enade bertekad untuk pulang dan berkarya di Indonesia. More over, ada anak dan istrinya yang menunggu di Yogyakarta.
"Terima kasih, En."
"Untuk apa?"
"Untuk segalanya yang telah kita lalui selama ini. Aku suka dan menikmatinya juga. Aku pasti merindukan saat-saat itu lagi. Maafkan aku ..."
Novi belum menyelesaikan kalimat yang dilatihnya semalaman saat Enade mengambil inisiatif untuk menutup bibirnya dengan jari telujuk dan beranjak pergi setelah mengecup lembut tipis bibir dan dahi Novi. Tanpa mengucap sepatah kata pun. Air mata Novi semakin deras mengalir.
Setelah langkah kelima baru Enade membalikkan badan sambil berkata dengan sedikit berteriak, "Nov, dalam cinta tidak ada kata 'terima kasih' dan 'maaf' karena semuanya terangkum dalam kata cinta dan pasti mewujud lebur dalam tindakan cinta."
"Kata 'terima kasih' dan 'maaf' yang terucap tadi sudah merupakan bukti yang cukup bagiku bahwa kau belum mencintai aku sepenuhnya. Nikmati sajalah perasaan cinta yang sedang tumbuh itu.
"Dan ketika kau membutuhkan untuk bercinta dengan aku, kau tahu bagaimana dan di mana untuk menemukan aku."
Enade melangkah menjauh sambil melambaikan tangan dan air mata Novi yang mengalir deras, beberapa sudah membeku sebelum bersatu dengan tanah.
http://farm1.static.flickr.com/185/430890104_60b60c9b6c.jpg?v=0
Hari Minggu, sore hari setelah sepekan berlalu
Enade melangkah keluar dari De Krijtberg, Gereja Katholik yang dikelola oleh romo-romo Jesuit setelah ekaristi terakhir pekan itu. Perlahan dia berjalan melewati bloemenmarkt (= pasar bunga) sambil menikmati hari yang tidak hujan ini setelah seminggu yang lalu hujan rintik-tintik dengan kadang salju turun membasahi tanah pasir ini. Dengan ringan dia melangkah ke Kafe De Jaren di belakang Hotel de L'Europe. Saat itu dia menuju ke meja tempat sesosok wanita dengan pakaian musim dingin yang anggun sedang duduk serius membaca sebuah novel.
http://www.ship-of-fools.com/mystery/2005/pics/amsterdam_krijtberg.jpg
De Krijtberg
http://www.eurolodgings.com/holland/images/hotel%20d%20l%20europe.jpg
Hotel de L'Europe
http://amsterdamz.com/wp-content/uploads/cafedejaren.jpg
Kafe de Jaren
"Hai, sudah lama menunggu?"
"Eh, Kak En. Lumayan lama sih. Tapi ndak papa koq, kan ditemani si Andrea Hirata yang kupinjam dari seorang teman minggu lalu," jawab wanita itu sambil tersenyum, menunjukkan novel berjudul Maryamah Karpov karya Andrea Hirata, dan kemudian mereka berbagi salam khas Belanda, kecupan pipi tiga kali.
"Bagus ceritanya? Aku sih cukup kecewa dengan 'Maryamah Karpov' yang kaubaca itu karena pada awalnya sudah berharap terlalu banyak dari novel itu mengingat tiga novel pendahulunya."
"Ah aku belum selesai membacanya. Sejauh ini sih, aku menyukainya. Mungkin karena aku tidak berharap apa-apa dari novel ini. Bukankah harapan adalah sumber dari kekecewaan?" jawab wanita itu sambil mencubit kecil pipi Enade yang tembem itu.
"He..he..he.." jawab Enade sambil garuk-garuk kepala.
"Kak En sudah pesan minuman?" tanya wanita itu.
"Belum? Kau sudah pesan."
"Yupsss, aku sudah pesan cappuccino dan untuk Kak En sudah aku pesankan french coffee. Aku sudah bilang ke pelayan untuk mengantar pesanan kalau sudah ada lelaki dengan ciri-ciri Kak En menghampiri meja ini. Oh itu mereka sudah bergerak kemari."
Sementara wanita itu menyelesaikan urusan administrasi, pikiran Enade berkecamuk. Cantik dan pintar adalah kombinasi yang berbahaya. Nama panggilan perempuan ini adalah Olive. Minggu lalu Olive kemalaman dan mampir menginap di apartemen Enade. Entah dapat inspirasi dari mana, saat bangun tidur di Minggu pagi itu, Olive mencium Enade dan"mengundang" Enade untuk bemesraan. Padahal saat itu dia sedang kedatangan "tamu bulanan". Satu tindakan kecil darinya berhasil menyadarkan Enade yang sudah terbakar nafsu itu namun sekaligus membuka identitasnya, pekerja seks komersial di kawasan paling populer di dunia, red light district Amsterdam. Kejadian Minggu lalu berlangsung cukup cepat. Setelah menampar Enade, menarik tali dan teriak acht zes, Olive segera bangkit merapikan bajunya, merapikan bawaannya, cuci muka di kamar mandi dan segera bersiap meninggalkan apartemen Enade.
Sebelum keluar kamar, saat itu Enade sudah tidak terbengong-bengong dan memegang erat pergelangan tangan Olive dengan tatapan mata tajam menuntut penjelasan. Olive dibiarkan pergi setelah dengan singkat berkata, "Lepaskan aku. Aku akan jelaskan segalanya tapi tidak sekarang."
Dua hari yang lalu, Enade menerima sms dari Olive untuk bertemu hari Minggu ini di Kafe De Jaren pukul 18.30 CET.
"So, apa kabar?" tanya Enade basa-basi setelah menyeruput french coffee barang seteguk.
"Ah gak usah basa-basi. Kau ingin penjelasan kan?"
"Ya. Sebelum kau jelaskan kejadian minggu lalu. Jelaskan dulu kenapa kau bisa tahu kalau french coffee adalah minuman kesukaanku?"
"Aku melihat beberapa botol Amaretto Disaronno kosong di dapurmu. Biasanya pecinta Amaretto Disaronno suka dengan french coffee. Dan aku membuktikan hipotesis itu kali ini, bukan?" jawab Olive singkat sambil tersenyum penuh kemenangan.
Enade hanya tersenyum mendengar jawaban itu dan sekali lagi mengkonfirmasi dalam hati, sungguh cantik dan sungguh pintar. Kombinasi yang sungguh berbahaya.
Sambil menyeruput dengan gaya konservatif eropa kuno, Enade melempar pandangan minta penjelasan dan bertanya langsung, "Dan apa hubungannmu dengan Red Light District alias RLD. Dari tarikan tali dan teriakan 'acht zes'-mu aku berpikir kalau kau ada hubungan dengan dengan RLD?"
"Sebelum aku jawab, aku bertanya dulu. Kau tahu darimana tentang tali dan teriakan 'acht zes'? Vaste klanten (=pelanggan tetap) di RLD ya?" tanya Olive sambil melirik nakal.
"Yee .., sore sebelum kau nginap di tempatku itu, kebetulan aku ikut tour RLD yang dipimpin Marijke. Dari situ aku tahu tentang tali dan teriakan 'acht zes' itu."
"Iya ... iya ... Baiklah aku jujur padamu. Aku memang penghuni RLD sejak aku hadir di Belanda. Sekarang aku masih kerja di sana. Jam kerja tetapku adalah saat akhir pekan pukul 20.00 sampai sekitar pukul 01.00 CET, kecuali sedang kedatangan bulan seperti minggu lalu. Aku haus akan ilmu karena saat aku tidak sempat mengenyam bangku kuliah. Jadi semenjak dapat status legal kemarin aku mulai ambil kuliah lagi di bidang sastra Belanda. Aku suka sastra. Meski aku kuliah, aku tetap butuh penghasilan untuk hidup, makanya aku tetap berkerja di RLD saat akhir pekan."
Olive berhenti sejenak untuk menghabiskan cappuccino-nya, "Iya, dari pandangan matamu aku tahu kau pasti mau menawarkan informasi pekerjaan lain. Namun aku tidak tertarik. Pertama memang alasan uang. Penghasilan di RLD cukup jauh di atas rata-rata perkerjaan sampingan lainnya dan tidak menyita banyak energi secara aku sudah terbiasa di sini. Sehingga aku bisa membagi waktu kuliahku dengan kerja. Kalau kuliah ndak sibuk dan aku sedang mood baik, pada hari kerja aku juga ngantor di RLD. Dan RLD sudah jadi komunitasku, Kak En. RLD dan aku saling membutuhkan."
Enade menikmati tegukan terakhir dari french coffee seraya melempar pandangan kagum. Kagum akan perjuangan dan semangat perempuan di depannya.
"Kak En, kopinya dah habis? Aku mau berangkat kerja nih. Kak En mau jalan sama aku ke tempat kerjaku?" tanya Olive sambil mengerling manja.
"Boleh."
Olive dan Enade lalu beranjak keluar dari De Jaren dan sambil bergandengan berpelukan, mereka melangkah ke utara ke arah Niuwemarkt lalu belok kiri menuju kawasan gemerlap RLD. Enade mengikuti langkah Olive menuju Oude Kerk. Dua gang sebelum Oude Kerk, Olive belok kiri dan masuk ke kamar ke tiga di sebelah kiri. Enade diajaknya masuk dan sementara Olive bersiap-siap, Enade bengong mengamati kondisi kamar yang diterangi cahaya remang-remang dari lampu pendar. Olive berganti dari baju anggun untuk kencan dengan Enade, menjadi lingerie warna hijau pupus yang bisa berpendar dan menonjolkan bagian tubuh yang memang layak ditonjolkan. Enade mulai bergairah melihat pemandangan itu.
http://www.perfectvisit.nl/filerep/Image/Oude_Kerk.jpgOude Kerk
"Oke, aku sudah siap. Maaf, bukan mengusir, tapi ini jam kerjaku. Kasihan pelanggan yang mungkin sudah menunggu."
"Kalau aku mau tinggal bagaimana?" tanya Enade sambil memeluk Olive.
"Fifty euro. You can stay 20 minutes more." jawab Olive sambil mengecup tipis bibir Enade.
"What can I get for 50 euro?"
"I will get naked. You can touch my body, my boobs and butt. But not my pussy. And, of course, suck and fuck." kata Olive datar.
"Itu pertanyaan dan jawaban by default, ya?"
"Iyahhh"
"Ya sudah, aku pergi. Aku gak mau mengurangi pendapatanmu karena mengajak ngobrol pada jam kerja." Sambil bersiap-siap meninggalkan "kantor" Olive.
Ketika Enade sudah hampir sampai pintu keluar, Olive memegang pergelangan tangan Enade. Sama seperti saat Olive mau meninggalkan kamar Enade minggu lalu.
Olive menarik Enade melumat lembut bibir Enade. Enade yang sudah bergairah menanggapi dengan memeluk Olive. Kamar temaram menjadi saksi pergulatan cinta malam itu, antara Olive dan Enade.
***
"Aku pamit dulu. Terima kasih."
"Aku yang terima kasih" tukas Olive.
Enade mengeluarkan dompet.
"Apa maksudnya itu, Kak En? Aku suka Kakak dan anggaplah itu tadi sebagai penglaris. Kakak pelanggan pertamaku hari ini." Tolak Olive saat Enade mengeluarkan dua lembar 50-an euro dari dompetnya secara mereka memadu cinta lebih dari setengah jam.
"Terimalah. Ini jam kerja. Kau harus tetap profesional toch?"
"Baiklah, aku terima 50 euro saja. Aku kan ndak profesional kali ini, secara kita berciuman." Jawab Olive sambil kembali mengecup bibir Enade.
Enade lalu meninggalkan "kantor" Olive dan berdiri di luar mengamati "jendela" tempat Olive memamerkan "dagangannya". Enade meninggalkan tempat itu sekitar 7 menit kemudian setelah ada pelanggan baru yang masuk ke kamar Olive dan gordyn "kantor" Olive ditutup.
Jendela di RLD:
http://michaelscomments.files.wordpress.com/2006/12/amsterdam-red-light-district.jpg
Enade memilih jalan kaki untuk pulang ke apartemennya malam itu. Langit cerah, bintang bertaburan serta bulan yang hampir sempurna setelah 3 hari yang lalu purnama menemani langkah-langkah ringan dari kawasan RLD menuju Amstel station. Berjalan kaki merupakan cara yang ampuh, menurut Enade, untuk mengendapkan dan meresapi segala kejadian sepekan ini.
Sungai Amstel di jembatan Amsteldijk yang sebagian permukaannya masih berupa es, memantulkan pemandangan langit lengkap dengan gemerlap lampu dari belantara Amsterdam. Sungai ini sebenarnya kotor sekali. Namun karena ditata elok dan rapi, serta tidak ada sampah yang mengapung di pemukaan, terlihat seperti cantik dan indah.
Berjalan di tepian Amsteldijk, melihat berpasangan kekasih berjalan berpelukan, membawa angan Enade melayang sebentar ke saat berpisah dengan belahan jiwanya di bandara Soekarno Hatta beberapa tahun silam.
"Aku mencintaimu En."
"Aku tahu. Aku juga mencintaimu."
"Kembalilah dengan utuh, Say."
"Aku tidak bisa berjanji untuk kembali utuh. Aku mencintaimu, itu pasti. Dan aku berjanji akan kembali sebagai suamimu.
http://farm1.static.flickr.com/123/361406222_83d98849b1.jpg?v=0
****
http://www.youtube.com/watch?v=RYzZPsK78Gg
---selesai---
~Disclaimer: Cerita ini fiktif belaka. Nama-nama yang dikenal dimunculkan untuk membuat efek nyata. Namun sekali lagi, kisah ini fiktif belaka.
Mentari sudah tidak lagi bertengger di ujung senja dan sudah selesai mengucapkan selamat tinggal pada hari ini. Enade berpamitan pulang pada Lany, Priscilia, Iqbal dan juga Joko yang ditutup pamitan pada Myra, si tuan rumah. Khusus untuk Myra lengkap dengan kecup pipi tiga kali, khas Belanda. Novi mengantar Enade sampai ke luar rumah.
"Nov, malam ini kau ke rumahku?" Enade bertanya setelah ritual kecup pipi tiga kali dan kecup tipis di bibir mungil Novi.
"Nee, aku ..." jawab Novi yang tidak lengkap seperti memikirkan kata yang tepat.
"Oke, sampai ketemu hari Jum'at, then." sambar Enade sambil beranjak pergi.
Novi menyambar pergelangan Enade, menariknya dan memeluk erat pinggang seraya menatap kedua mata Enade yang menampakkan wajah bingung. Novi menatap tajam mata Enade seperti ingin menemukan jawaban dari kedua mata itu. Mata tidak pernah berbohong. Pandangan itu melunak seiring bulir air mata yang mengalir pelan ke pipinya yang kuning langsat itu. Novi lalu menempelkan kedua tangannya, yang sudah mulai membeku akibat dari cuaca musim dingin ini, ke pipi Enade dan menempelkan bibir mungilnya ke mulut Enade yang sedikit terbuka karena ingin bertanya. Enade pun memeluk pinggang Novi dan mereka berciuman mesra di tengah tatapan pejalan kaki yang lalu lalang di jalan itu.
"Kenapa Nov?" tanya Enade yang masih kebingungan karena tingkah Novi yang agak aneh ini.
"Aku mencintaimu En."
"Ah ..." Enade sudah mulai menebak arah pembicaraan.
"Tapi seperti katamu dulu. There is no "us" in the future. Semua yang kita lakukan selama ini hanya sekedar menuruti nafsu dan kebutuhan semata. Kamu happy, aku suka, semua senang."
Hening sejenak, tangan Novi yang kedinginan semakin erat terjalin di jemari Enade.
"Tapi, aku mulai mencintaimu En. Dan aku tahu, sejak rasa itu muncul aku harus mengambil pilihan pahit ini. Aku harus stay away from you."
Enade hanya terdiam dan tersenyum getir. Dalam benaknya berkecamuk banyak hal. Memang tidak ada masa depan di antara mereka. Novi memilih tinggal dan hidup di Belanda, sedangkan Enade bertekad untuk pulang dan berkarya di Indonesia. More over, ada anak dan istrinya yang menunggu di Yogyakarta.
"Terima kasih, En."
"Untuk apa?"
"Untuk segalanya yang telah kita lalui selama ini. Aku suka dan menikmatinya juga. Aku pasti merindukan saat-saat itu lagi. Maafkan aku ..."
Novi belum menyelesaikan kalimat yang dilatihnya semalaman saat Enade mengambil inisiatif untuk menutup bibirnya dengan jari telujuk dan beranjak pergi setelah mengecup lembut tipis bibir dan dahi Novi. Tanpa mengucap sepatah kata pun. Air mata Novi semakin deras mengalir.
Setelah langkah kelima baru Enade membalikkan badan sambil berkata dengan sedikit berteriak, "Nov, dalam cinta tidak ada kata 'terima kasih' dan 'maaf' karena semuanya terangkum dalam kata cinta dan pasti mewujud lebur dalam tindakan cinta."
"Kata 'terima kasih' dan 'maaf' yang terucap tadi sudah merupakan bukti yang cukup bagiku bahwa kau belum mencintai aku sepenuhnya. Nikmati sajalah perasaan cinta yang sedang tumbuh itu.
"Dan ketika kau membutuhkan untuk bercinta dengan aku, kau tahu bagaimana dan di mana untuk menemukan aku."
Enade melangkah menjauh sambil melambaikan tangan dan air mata Novi yang mengalir deras, beberapa sudah membeku sebelum bersatu dengan tanah.
http://farm1.static.flickr.com/185/430890104_60b60c9b6c.jpg?v=0
Hari Minggu, sore hari setelah sepekan berlalu
Enade melangkah keluar dari De Krijtberg, Gereja Katholik yang dikelola oleh romo-romo Jesuit setelah ekaristi terakhir pekan itu. Perlahan dia berjalan melewati bloemenmarkt (= pasar bunga) sambil menikmati hari yang tidak hujan ini setelah seminggu yang lalu hujan rintik-tintik dengan kadang salju turun membasahi tanah pasir ini. Dengan ringan dia melangkah ke Kafe De Jaren di belakang Hotel de L'Europe. Saat itu dia menuju ke meja tempat sesosok wanita dengan pakaian musim dingin yang anggun sedang duduk serius membaca sebuah novel.
http://www.ship-of-fools.com/mystery/2005/pics/amsterdam_krijtberg.jpg
De Krijtberg
http://www.eurolodgings.com/holland/images/hotel%20d%20l%20europe.jpg
Hotel de L'Europe
http://amsterdamz.com/wp-content/uploads/cafedejaren.jpg
Kafe de Jaren
"Hai, sudah lama menunggu?"
"Eh, Kak En. Lumayan lama sih. Tapi ndak papa koq, kan ditemani si Andrea Hirata yang kupinjam dari seorang teman minggu lalu," jawab wanita itu sambil tersenyum, menunjukkan novel berjudul Maryamah Karpov karya Andrea Hirata, dan kemudian mereka berbagi salam khas Belanda, kecupan pipi tiga kali.
"Bagus ceritanya? Aku sih cukup kecewa dengan 'Maryamah Karpov' yang kaubaca itu karena pada awalnya sudah berharap terlalu banyak dari novel itu mengingat tiga novel pendahulunya."
"Ah aku belum selesai membacanya. Sejauh ini sih, aku menyukainya. Mungkin karena aku tidak berharap apa-apa dari novel ini. Bukankah harapan adalah sumber dari kekecewaan?" jawab wanita itu sambil mencubit kecil pipi Enade yang tembem itu.
"He..he..he.." jawab Enade sambil garuk-garuk kepala.
"Kak En sudah pesan minuman?" tanya wanita itu.
"Belum? Kau sudah pesan."
"Yupsss, aku sudah pesan cappuccino dan untuk Kak En sudah aku pesankan french coffee. Aku sudah bilang ke pelayan untuk mengantar pesanan kalau sudah ada lelaki dengan ciri-ciri Kak En menghampiri meja ini. Oh itu mereka sudah bergerak kemari."
Sementara wanita itu menyelesaikan urusan administrasi, pikiran Enade berkecamuk. Cantik dan pintar adalah kombinasi yang berbahaya. Nama panggilan perempuan ini adalah Olive. Minggu lalu Olive kemalaman dan mampir menginap di apartemen Enade. Entah dapat inspirasi dari mana, saat bangun tidur di Minggu pagi itu, Olive mencium Enade dan"mengundang" Enade untuk bemesraan. Padahal saat itu dia sedang kedatangan "tamu bulanan". Satu tindakan kecil darinya berhasil menyadarkan Enade yang sudah terbakar nafsu itu namun sekaligus membuka identitasnya, pekerja seks komersial di kawasan paling populer di dunia, red light district Amsterdam. Kejadian Minggu lalu berlangsung cukup cepat. Setelah menampar Enade, menarik tali dan teriak acht zes, Olive segera bangkit merapikan bajunya, merapikan bawaannya, cuci muka di kamar mandi dan segera bersiap meninggalkan apartemen Enade.
Sebelum keluar kamar, saat itu Enade sudah tidak terbengong-bengong dan memegang erat pergelangan tangan Olive dengan tatapan mata tajam menuntut penjelasan. Olive dibiarkan pergi setelah dengan singkat berkata, "Lepaskan aku. Aku akan jelaskan segalanya tapi tidak sekarang."
Dua hari yang lalu, Enade menerima sms dari Olive untuk bertemu hari Minggu ini di Kafe De Jaren pukul 18.30 CET.
"So, apa kabar?" tanya Enade basa-basi setelah menyeruput french coffee barang seteguk.
"Ah gak usah basa-basi. Kau ingin penjelasan kan?"
"Ya. Sebelum kau jelaskan kejadian minggu lalu. Jelaskan dulu kenapa kau bisa tahu kalau french coffee adalah minuman kesukaanku?"
"Aku melihat beberapa botol Amaretto Disaronno kosong di dapurmu. Biasanya pecinta Amaretto Disaronno suka dengan french coffee. Dan aku membuktikan hipotesis itu kali ini, bukan?" jawab Olive singkat sambil tersenyum penuh kemenangan.
Enade hanya tersenyum mendengar jawaban itu dan sekali lagi mengkonfirmasi dalam hati, sungguh cantik dan sungguh pintar. Kombinasi yang sungguh berbahaya.
Sambil menyeruput dengan gaya konservatif eropa kuno, Enade melempar pandangan minta penjelasan dan bertanya langsung, "Dan apa hubungannmu dengan Red Light District alias RLD. Dari tarikan tali dan teriakan 'acht zes'-mu aku berpikir kalau kau ada hubungan dengan dengan RLD?"
"Sebelum aku jawab, aku bertanya dulu. Kau tahu darimana tentang tali dan teriakan 'acht zes'? Vaste klanten (=pelanggan tetap) di RLD ya?" tanya Olive sambil melirik nakal.
"Yee .., sore sebelum kau nginap di tempatku itu, kebetulan aku ikut tour RLD yang dipimpin Marijke. Dari situ aku tahu tentang tali dan teriakan 'acht zes' itu."
"Iya ... iya ... Baiklah aku jujur padamu. Aku memang penghuni RLD sejak aku hadir di Belanda. Sekarang aku masih kerja di sana. Jam kerja tetapku adalah saat akhir pekan pukul 20.00 sampai sekitar pukul 01.00 CET, kecuali sedang kedatangan bulan seperti minggu lalu. Aku haus akan ilmu karena saat aku tidak sempat mengenyam bangku kuliah. Jadi semenjak dapat status legal kemarin aku mulai ambil kuliah lagi di bidang sastra Belanda. Aku suka sastra. Meski aku kuliah, aku tetap butuh penghasilan untuk hidup, makanya aku tetap berkerja di RLD saat akhir pekan."
Olive berhenti sejenak untuk menghabiskan cappuccino-nya, "Iya, dari pandangan matamu aku tahu kau pasti mau menawarkan informasi pekerjaan lain. Namun aku tidak tertarik. Pertama memang alasan uang. Penghasilan di RLD cukup jauh di atas rata-rata perkerjaan sampingan lainnya dan tidak menyita banyak energi secara aku sudah terbiasa di sini. Sehingga aku bisa membagi waktu kuliahku dengan kerja. Kalau kuliah ndak sibuk dan aku sedang mood baik, pada hari kerja aku juga ngantor di RLD. Dan RLD sudah jadi komunitasku, Kak En. RLD dan aku saling membutuhkan."
Enade menikmati tegukan terakhir dari french coffee seraya melempar pandangan kagum. Kagum akan perjuangan dan semangat perempuan di depannya.
"Kak En, kopinya dah habis? Aku mau berangkat kerja nih. Kak En mau jalan sama aku ke tempat kerjaku?" tanya Olive sambil mengerling manja.
"Boleh."
Olive dan Enade lalu beranjak keluar dari De Jaren dan sambil bergandengan berpelukan, mereka melangkah ke utara ke arah Niuwemarkt lalu belok kiri menuju kawasan gemerlap RLD. Enade mengikuti langkah Olive menuju Oude Kerk. Dua gang sebelum Oude Kerk, Olive belok kiri dan masuk ke kamar ke tiga di sebelah kiri. Enade diajaknya masuk dan sementara Olive bersiap-siap, Enade bengong mengamati kondisi kamar yang diterangi cahaya remang-remang dari lampu pendar. Olive berganti dari baju anggun untuk kencan dengan Enade, menjadi lingerie warna hijau pupus yang bisa berpendar dan menonjolkan bagian tubuh yang memang layak ditonjolkan. Enade mulai bergairah melihat pemandangan itu.
http://www.perfectvisit.nl/filerep/Image/Oude_Kerk.jpgOude Kerk
"Oke, aku sudah siap. Maaf, bukan mengusir, tapi ini jam kerjaku. Kasihan pelanggan yang mungkin sudah menunggu."
"Kalau aku mau tinggal bagaimana?" tanya Enade sambil memeluk Olive.
"Fifty euro. You can stay 20 minutes more." jawab Olive sambil mengecup tipis bibir Enade.
"What can I get for 50 euro?"
"I will get naked. You can touch my body, my boobs and butt. But not my pussy. And, of course, suck and fuck." kata Olive datar.
"Itu pertanyaan dan jawaban by default, ya?"
"Iyahhh"
"Ya sudah, aku pergi. Aku gak mau mengurangi pendapatanmu karena mengajak ngobrol pada jam kerja." Sambil bersiap-siap meninggalkan "kantor" Olive.
Ketika Enade sudah hampir sampai pintu keluar, Olive memegang pergelangan tangan Enade. Sama seperti saat Olive mau meninggalkan kamar Enade minggu lalu.
Olive menarik Enade melumat lembut bibir Enade. Enade yang sudah bergairah menanggapi dengan memeluk Olive. Kamar temaram menjadi saksi pergulatan cinta malam itu, antara Olive dan Enade.
***
"Aku pamit dulu. Terima kasih."
"Aku yang terima kasih" tukas Olive.
Enade mengeluarkan dompet.
"Apa maksudnya itu, Kak En? Aku suka Kakak dan anggaplah itu tadi sebagai penglaris. Kakak pelanggan pertamaku hari ini." Tolak Olive saat Enade mengeluarkan dua lembar 50-an euro dari dompetnya secara mereka memadu cinta lebih dari setengah jam.
"Terimalah. Ini jam kerja. Kau harus tetap profesional toch?"
"Baiklah, aku terima 50 euro saja. Aku kan ndak profesional kali ini, secara kita berciuman." Jawab Olive sambil kembali mengecup bibir Enade.
Enade lalu meninggalkan "kantor" Olive dan berdiri di luar mengamati "jendela" tempat Olive memamerkan "dagangannya". Enade meninggalkan tempat itu sekitar 7 menit kemudian setelah ada pelanggan baru yang masuk ke kamar Olive dan gordyn "kantor" Olive ditutup.
Jendela di RLD:
http://michaelscomments.files.wordpress.com/2006/12/amsterdam-red-light-district.jpg
Enade memilih jalan kaki untuk pulang ke apartemennya malam itu. Langit cerah, bintang bertaburan serta bulan yang hampir sempurna setelah 3 hari yang lalu purnama menemani langkah-langkah ringan dari kawasan RLD menuju Amstel station. Berjalan kaki merupakan cara yang ampuh, menurut Enade, untuk mengendapkan dan meresapi segala kejadian sepekan ini.
Sungai Amstel di jembatan Amsteldijk yang sebagian permukaannya masih berupa es, memantulkan pemandangan langit lengkap dengan gemerlap lampu dari belantara Amsterdam. Sungai ini sebenarnya kotor sekali. Namun karena ditata elok dan rapi, serta tidak ada sampah yang mengapung di pemukaan, terlihat seperti cantik dan indah.
Berjalan di tepian Amsteldijk, melihat berpasangan kekasih berjalan berpelukan, membawa angan Enade melayang sebentar ke saat berpisah dengan belahan jiwanya di bandara Soekarno Hatta beberapa tahun silam.
"Aku mencintaimu En."
"Aku tahu. Aku juga mencintaimu."
"Kembalilah dengan utuh, Say."
"Aku tidak bisa berjanji untuk kembali utuh. Aku mencintaimu, itu pasti. Dan aku berjanji akan kembali sebagai suamimu.
http://farm1.static.flickr.com/123/361406222_83d98849b1.jpg?v=0
****
http://www.youtube.com/watch?v=RYzZPsK78Gg
---selesai---
~Disclaimer: Cerita ini fiktif belaka. Nama-nama yang dikenal dimunculkan untuk membuat efek nyata. Namun sekali lagi, kisah ini fiktif belaka.