PDA

View Full Version : Berjalan di tepian Amsteldijk



nad3418
8th February 2009, 07:17 PM
Minggu malam

Mentari sudah tidak lagi bertengger di ujung senja dan sudah selesai mengucapkan selamat tinggal pada hari ini. Enade berpamitan pulang pada Lany, Priscilia, Iqbal dan juga Joko yang ditutup pamitan pada Myra, si tuan rumah. Khusus untuk Myra lengkap dengan kecup pipi tiga kali, khas Belanda. Novi mengantar Enade sampai ke luar rumah.

"Nov, malam ini kau ke rumahku?" Enade bertanya setelah ritual kecup pipi tiga kali dan kecup tipis di bibir mungil Novi.

"Nee, aku ..." jawab Novi yang tidak lengkap seperti memikirkan kata yang tepat.

"Oke, sampai ketemu hari Jum'at, then." sambar Enade sambil beranjak pergi.

Novi menyambar pergelangan Enade, menariknya dan memeluk erat pinggang seraya menatap kedua mata Enade yang menampakkan wajah bingung. Novi menatap tajam mata Enade seperti ingin menemukan jawaban dari kedua mata itu. Mata tidak pernah berbohong. Pandangan itu melunak seiring bulir air mata yang mengalir pelan ke pipinya yang kuning langsat itu. Novi lalu menempelkan kedua tangannya, yang sudah mulai membeku akibat dari cuaca musim dingin ini, ke pipi Enade dan menempelkan bibir mungilnya ke mulut Enade yang sedikit terbuka karena ingin bertanya. Enade pun memeluk pinggang Novi dan mereka berciuman mesra di tengah tatapan pejalan kaki yang lalu lalang di jalan itu.

"Kenapa Nov?" tanya Enade yang masih kebingungan karena tingkah Novi yang agak aneh ini.

"Aku mencintaimu En."

"Ah ..." Enade sudah mulai menebak arah pembicaraan.

"Tapi seperti katamu dulu. There is no "us" in the future. Semua yang kita lakukan selama ini hanya sekedar menuruti nafsu dan kebutuhan semata. Kamu happy, aku suka, semua senang."

Hening sejenak, tangan Novi yang kedinginan semakin erat terjalin di jemari Enade.

"Tapi, aku mulai mencintaimu En. Dan aku tahu, sejak rasa itu muncul aku harus mengambil pilihan pahit ini. Aku harus stay away from you."

Enade hanya terdiam dan tersenyum getir. Dalam benaknya berkecamuk banyak hal. Memang tidak ada masa depan di antara mereka. Novi memilih tinggal dan hidup di Belanda, sedangkan Enade bertekad untuk pulang dan berkarya di Indonesia. More over, ada anak dan istrinya yang menunggu di Yogyakarta.

"Terima kasih, En."

"Untuk apa?"

"Untuk segalanya yang telah kita lalui selama ini. Aku suka dan menikmatinya juga. Aku pasti merindukan saat-saat itu lagi. Maafkan aku ..."

Novi belum menyelesaikan kalimat yang dilatihnya semalaman saat Enade mengambil inisiatif untuk menutup bibirnya dengan jari telujuk dan beranjak pergi setelah mengecup lembut tipis bibir dan dahi Novi. Tanpa mengucap sepatah kata pun. Air mata Novi semakin deras mengalir.

Setelah langkah kelima baru Enade membalikkan badan sambil berkata dengan sedikit berteriak, "Nov, dalam cinta tidak ada kata 'terima kasih' dan 'maaf' karena semuanya terangkum dalam kata cinta dan pasti mewujud lebur dalam tindakan cinta."

"Kata 'terima kasih' dan 'maaf' yang terucap tadi sudah merupakan bukti yang cukup bagiku bahwa kau belum mencintai aku sepenuhnya. Nikmati sajalah perasaan cinta yang sedang tumbuh itu.

"Dan ketika kau membutuhkan untuk bercinta dengan aku, kau tahu bagaimana dan di mana untuk menemukan aku."

Enade melangkah menjauh sambil melambaikan tangan dan air mata Novi yang mengalir deras, beberapa sudah membeku sebelum bersatu dengan tanah.

http://farm1.static.flickr.com/185/430890104_60b60c9b6c.jpg?v=0



Hari Minggu, sore hari setelah sepekan berlalu

Enade melangkah keluar dari De Krijtberg, Gereja Katholik yang dikelola oleh romo-romo Jesuit setelah ekaristi terakhir pekan itu. Perlahan dia berjalan melewati bloemenmarkt (= pasar bunga) sambil menikmati hari yang tidak hujan ini setelah seminggu yang lalu hujan rintik-tintik dengan kadang salju turun membasahi tanah pasir ini. Dengan ringan dia melangkah ke Kafe De Jaren di belakang Hotel de L'Europe. Saat itu dia menuju ke meja tempat sesosok wanita dengan pakaian musim dingin yang anggun sedang duduk serius membaca sebuah novel.

http://www.ship-of-fools.com/mystery/2005/pics/amsterdam_krijtberg.jpg
De Krijtberg

http://www.eurolodgings.com/holland/images/hotel%20d%20l%20europe.jpg
Hotel de L'Europe

http://amsterdamz.com/wp-content/uploads/cafedejaren.jpg
Kafe de Jaren

"Hai, sudah lama menunggu?"

"Eh, Kak En. Lumayan lama sih. Tapi ndak papa koq, kan ditemani si Andrea Hirata yang kupinjam dari seorang teman minggu lalu," jawab wanita itu sambil tersenyum, menunjukkan novel berjudul Maryamah Karpov karya Andrea Hirata, dan kemudian mereka berbagi salam khas Belanda, kecupan pipi tiga kali.

"Bagus ceritanya? Aku sih cukup kecewa dengan 'Maryamah Karpov' yang kaubaca itu karena pada awalnya sudah berharap terlalu banyak dari novel itu mengingat tiga novel pendahulunya."

"Ah aku belum selesai membacanya. Sejauh ini sih, aku menyukainya. Mungkin karena aku tidak berharap apa-apa dari novel ini. Bukankah harapan adalah sumber dari kekecewaan?" jawab wanita itu sambil mencubit kecil pipi Enade yang tembem itu.

"He..he..he.." jawab Enade sambil garuk-garuk kepala.

"Kak En sudah pesan minuman?" tanya wanita itu.

"Belum? Kau sudah pesan."

"Yupsss, aku sudah pesan cappuccino dan untuk Kak En sudah aku pesankan french coffee. Aku sudah bilang ke pelayan untuk mengantar pesanan kalau sudah ada lelaki dengan ciri-ciri Kak En menghampiri meja ini. Oh itu mereka sudah bergerak kemari."

Sementara wanita itu menyelesaikan urusan administrasi, pikiran Enade berkecamuk. Cantik dan pintar adalah kombinasi yang berbahaya. Nama panggilan perempuan ini adalah Olive. Minggu lalu Olive kemalaman dan mampir menginap di apartemen Enade. Entah dapat inspirasi dari mana, saat bangun tidur di Minggu pagi itu, Olive mencium Enade dan"mengundang" Enade untuk bemesraan. Padahal saat itu dia sedang kedatangan "tamu bulanan". Satu tindakan kecil darinya berhasil menyadarkan Enade yang sudah terbakar nafsu itu namun sekaligus membuka identitasnya, pekerja seks komersial di kawasan paling populer di dunia, red light district Amsterdam. Kejadian Minggu lalu berlangsung cukup cepat. Setelah menampar Enade, menarik tali dan teriak acht zes, Olive segera bangkit merapikan bajunya, merapikan bawaannya, cuci muka di kamar mandi dan segera bersiap meninggalkan apartemen Enade.

Sebelum keluar kamar, saat itu Enade sudah tidak terbengong-bengong dan memegang erat pergelangan tangan Olive dengan tatapan mata tajam menuntut penjelasan. Olive dibiarkan pergi setelah dengan singkat berkata, "Lepaskan aku. Aku akan jelaskan segalanya tapi tidak sekarang."

Dua hari yang lalu, Enade menerima sms dari Olive untuk bertemu hari Minggu ini di Kafe De Jaren pukul 18.30 CET.

"So, apa kabar?" tanya Enade basa-basi setelah menyeruput french coffee barang seteguk.

"Ah gak usah basa-basi. Kau ingin penjelasan kan?"

"Ya. Sebelum kau jelaskan kejadian minggu lalu. Jelaskan dulu kenapa kau bisa tahu kalau french coffee adalah minuman kesukaanku?"

"Aku melihat beberapa botol Amaretto Disaronno kosong di dapurmu. Biasanya pecinta Amaretto Disaronno suka dengan french coffee. Dan aku membuktikan hipotesis itu kali ini, bukan?" jawab Olive singkat sambil tersenyum penuh kemenangan.

Enade hanya tersenyum mendengar jawaban itu dan sekali lagi mengkonfirmasi dalam hati, sungguh cantik dan sungguh pintar. Kombinasi yang sungguh berbahaya.

Sambil menyeruput dengan gaya konservatif eropa kuno, Enade melempar pandangan minta penjelasan dan bertanya langsung, "Dan apa hubungannmu dengan Red Light District alias RLD. Dari tarikan tali dan teriakan 'acht zes'-mu aku berpikir kalau kau ada hubungan dengan dengan RLD?"

"Sebelum aku jawab, aku bertanya dulu. Kau tahu darimana tentang tali dan teriakan 'acht zes'? Vaste klanten (=pelanggan tetap) di RLD ya?" tanya Olive sambil melirik nakal.

"Yee .., sore sebelum kau nginap di tempatku itu, kebetulan aku ikut tour RLD yang dipimpin Marijke. Dari situ aku tahu tentang tali dan teriakan 'acht zes' itu."

"Iya ... iya ... Baiklah aku jujur padamu. Aku memang penghuni RLD sejak aku hadir di Belanda. Sekarang aku masih kerja di sana. Jam kerja tetapku adalah saat akhir pekan pukul 20.00 sampai sekitar pukul 01.00 CET, kecuali sedang kedatangan bulan seperti minggu lalu. Aku haus akan ilmu karena saat aku tidak sempat mengenyam bangku kuliah. Jadi semenjak dapat status legal kemarin aku mulai ambil kuliah lagi di bidang sastra Belanda. Aku suka sastra. Meski aku kuliah, aku tetap butuh penghasilan untuk hidup, makanya aku tetap berkerja di RLD saat akhir pekan."

Olive berhenti sejenak untuk menghabiskan cappuccino-nya, "Iya, dari pandangan matamu aku tahu kau pasti mau menawarkan informasi pekerjaan lain. Namun aku tidak tertarik. Pertama memang alasan uang. Penghasilan di RLD cukup jauh di atas rata-rata perkerjaan sampingan lainnya dan tidak menyita banyak energi secara aku sudah terbiasa di sini. Sehingga aku bisa membagi waktu kuliahku dengan kerja. Kalau kuliah ndak sibuk dan aku sedang mood baik, pada hari kerja aku juga ngantor di RLD. Dan RLD sudah jadi komunitasku, Kak En. RLD dan aku saling membutuhkan."

Enade menikmati tegukan terakhir dari french coffee seraya melempar pandangan kagum. Kagum akan perjuangan dan semangat perempuan di depannya.

"Kak En, kopinya dah habis? Aku mau berangkat kerja nih. Kak En mau jalan sama aku ke tempat kerjaku?" tanya Olive sambil mengerling manja.

"Boleh."

Olive dan Enade lalu beranjak keluar dari De Jaren dan sambil bergandengan berpelukan, mereka melangkah ke utara ke arah Niuwemarkt lalu belok kiri menuju kawasan gemerlap RLD. Enade mengikuti langkah Olive menuju Oude Kerk. Dua gang sebelum Oude Kerk, Olive belok kiri dan masuk ke kamar ke tiga di sebelah kiri. Enade diajaknya masuk dan sementara Olive bersiap-siap, Enade bengong mengamati kondisi kamar yang diterangi cahaya remang-remang dari lampu pendar. Olive berganti dari baju anggun untuk kencan dengan Enade, menjadi lingerie warna hijau pupus yang bisa berpendar dan menonjolkan bagian tubuh yang memang layak ditonjolkan. Enade mulai bergairah melihat pemandangan itu.


http://www.perfectvisit.nl/filerep/Image/Oude_Kerk.jpgOude Kerk

"Oke, aku sudah siap. Maaf, bukan mengusir, tapi ini jam kerjaku. Kasihan pelanggan yang mungkin sudah menunggu."

"Kalau aku mau tinggal bagaimana?" tanya Enade sambil memeluk Olive.

"Fifty euro. You can stay 20 minutes more." jawab Olive sambil mengecup tipis bibir Enade.

"What can I get for 50 euro?"

"I will get naked. You can touch my body, my boobs and butt. But not my pussy. And, of course, suck and fuck." kata Olive datar.

"Itu pertanyaan dan jawaban by default, ya?"

"Iyahhh"

"Ya sudah, aku pergi. Aku gak mau mengurangi pendapatanmu karena mengajak ngobrol pada jam kerja." Sambil bersiap-siap meninggalkan "kantor" Olive.

Ketika Enade sudah hampir sampai pintu keluar, Olive memegang pergelangan tangan Enade. Sama seperti saat Olive mau meninggalkan kamar Enade minggu lalu.

Olive menarik Enade melumat lembut bibir Enade. Enade yang sudah bergairah menanggapi dengan memeluk Olive. Kamar temaram menjadi saksi pergulatan cinta malam itu, antara Olive dan Enade.

***

"Aku pamit dulu. Terima kasih."

"Aku yang terima kasih" tukas Olive.

Enade mengeluarkan dompet.

"Apa maksudnya itu, Kak En? Aku suka Kakak dan anggaplah itu tadi sebagai penglaris. Kakak pelanggan pertamaku hari ini." Tolak Olive saat Enade mengeluarkan dua lembar 50-an euro dari dompetnya secara mereka memadu cinta lebih dari setengah jam.

"Terimalah. Ini jam kerja. Kau harus tetap profesional toch?"

"Baiklah, aku terima 50 euro saja. Aku kan ndak profesional kali ini, secara kita berciuman." Jawab Olive sambil kembali mengecup bibir Enade.

Enade lalu meninggalkan "kantor" Olive dan berdiri di luar mengamati "jendela" tempat Olive memamerkan "dagangannya". Enade meninggalkan tempat itu sekitar 7 menit kemudian setelah ada pelanggan baru yang masuk ke kamar Olive dan gordyn "kantor" Olive ditutup.

Jendela di RLD:
http://michaelscomments.files.wordpress.com/2006/12/amsterdam-red-light-district.jpg

Enade memilih jalan kaki untuk pulang ke apartemennya malam itu. Langit cerah, bintang bertaburan serta bulan yang hampir sempurna setelah 3 hari yang lalu purnama menemani langkah-langkah ringan dari kawasan RLD menuju Amstel station. Berjalan kaki merupakan cara yang ampuh, menurut Enade, untuk mengendapkan dan meresapi segala kejadian sepekan ini.

Sungai Amstel di jembatan Amsteldijk yang sebagian permukaannya masih berupa es, memantulkan pemandangan langit lengkap dengan gemerlap lampu dari belantara Amsterdam. Sungai ini sebenarnya kotor sekali. Namun karena ditata elok dan rapi, serta tidak ada sampah yang mengapung di pemukaan, terlihat seperti cantik dan indah.

Berjalan di tepian Amsteldijk, melihat berpasangan kekasih berjalan berpelukan, membawa angan Enade melayang sebentar ke saat berpisah dengan belahan jiwanya di bandara Soekarno Hatta beberapa tahun silam.

"Aku mencintaimu En."

"Aku tahu. Aku juga mencintaimu."

"Kembalilah dengan utuh, Say."

"Aku tidak bisa berjanji untuk kembali utuh. Aku mencintaimu, itu pasti. Dan aku berjanji akan kembali sebagai suamimu.

http://farm1.static.flickr.com/123/361406222_83d98849b1.jpg?v=0

****

http://www.youtube.com/watch?v=RYzZPsK78Gg

---selesai---

~Disclaimer: Cerita ini fiktif belaka. Nama-nama yang dikenal dimunculkan untuk membuat efek nyata. Namun sekali lagi, kisah ini fiktif belaka.

qybolt
8th February 2009, 07:36 PM
hmmmm.....
nampaknya bang enade sudah melakukan field research yang sangat detil seblum bikin cerpen ini, walopun ada indikasi masih pake bahan lama juga..

en kalo ga salah....
nampaknya pas aku jalan ke RLD kemaren , coincidentally "penghuni" di "kantor" Olive juga berlingerie hijau deh....

mmmmmm....
perasaanku aja kali ya????
hehehhe

nad3418
8th February 2009, 07:37 PM
Silakan-silakan dinikmati. Ini ending alternatif kisah "Seutas tali di atas bantal". Ayo komen dan cendolnya.

Eh Git, ini (digabung dengan Seutas Tali di atas bantal) bisa kuikutsertakan di lomba toh?

nad3418
8th February 2009, 07:38 PM
hmmmm.....
nampaknya bang enade sudah melakukan field research yang sangat detil seblum bikin cerpen ini, walopun ada indikasi masih pake bahan lama juga..

en kalo ga salah....
nampaknya pas aku jalan ke RLD kemaren , coincidentally "penghuni" di "kantor" Olive juga berlingerie hijau deh....

mmmmmm....
perasaanku aja kali ya????
hehehhe

Ah itu hanya perasaanmu saja kali Bal. Di RLD kan emang banyak yang pakai lingerie hijau ...

Al-Faruq
8th February 2009, 11:23 PM
wah...lanjutan cerita yang ok bang nade!!
cendol dah meluncur....:)

fixshine
8th February 2009, 11:57 PM
Silakan-silakan dinikmati. Ini ending alternatif kisah "Seutas tali di atas bantal". Ayo komen dan cendolnya.

Eh Git, ini (digabung dengan Seutas Tali di atas bantal) bisa kuikutsertakan di lomba toh?

ya semaumu asal jng ngerjain gue suruh compile :mbom:

fixshine
9th February 2009, 12:19 AM
...
Olive menarik Enade melumat lembut bibir Enade. Enade yang sudah bergairah menanggapi dengan memeluk Olive. Kamar temaram menjadi saksi pergulatan cinta malam itu, antara Olive dan Enade....

cmn segini yak ? mengupasnya kurang mustinya ini jadi klimaks, vulgarnya disisipin metafora2 gitu biar bangunan cerita dari awal dapet penegasan; misal dijadiin gini


... Kamar temaram itu perlahan lenyap dalam nyatanya dunia. suara-suara dunia mengecil, lalu lalang luar sana menciut, Olive merasa entah di dunia apa namanya, serasa pernah dia lalui berkali-kali, tapi sensasinya beda kali ini. Seluruh gelinjang kepekaan rasanya menjadi sensitif seperti sengatan-sengatan ribuan volt listrik kosmis. Meluncur cepat, mendesah liar dalam gelora, tak tentu irama nada ketika mendaki dan terus mendaki. Dia lupa kapan lingerie itu terloloskan dari ikatannya, kapan dia tak menyentuh lantai karena dibopong Enade dengan hentakan kelelakiannya, yang dia sadar dia sedang terbang lepas ke awan yang sejak lama tak dia rasakan dan bahkan baru kali ini dia rasakan kesejukannya

Oh inikah rasanya ... detik-detik ini ingin terus dia daki bersama Enade, bersama yang entah kenapa dia temukan begitu saja. Terus tersedot dalam lobang hitam entah menjadi serupa apa. Entah manusia atau bukan, tak terhitung berapa kecepatan partikel-partikel newtron menghantar pesan-pesan impuls rasa ke otak jika memang mampu. Dosa apa yang telah diperbuatnya, malaikat bersama enade itu datang begitu saja. Lupakan dunia, lupakan kehirukpikukan yang menyiksa ... cabutlah saja nyawa ini, Olive tidak ingin kembali setelah seluruh tenaganya dia teriakkan saat titik gelora, indah ... dan indah saja, hangat, meleleh, damai ... diam dalam satu titik

" Terima kasih .., Kak " bisik Olive

nad3418
9th February 2009, 05:02 AM
cmn segini yak ? mengupasnya kurang mustinya ini jadi klimaks, vulgarnya disisipin metafora2 gitu biar bangunan cerita dari awal dapet penegasan; misal dijadiin gini

Cool Git ... sepertinya akan aku tambahkan deh ... :mbisik:

Emang sengaja gak kueksplore bagian itu karena agak susah menggambarkan dari sisi "wanita". :mgeer:

fixshine
9th February 2009, 05:54 AM
Cool Git ... sepertinya akan aku tambahkan deh ... :mbisik:

Emang sengaja gak kueksplore bagian itu karena agak susah menggambarkan dari sisi "wanita". :mgeer:

pinjem dr eleven minutes :mbisik: aja

dina kharisma
9th February 2009, 10:36 AM
pinjem dr eleven minutes :mbisik: aja

gila tu novel, ampe merinding :mpanas:

betewe bukannya ga bole poto2 di RLD bang? :mbisik:

nad3418
9th February 2009, 12:20 PM
gila tu novel, ampe merinding :mpanas:

betewe bukannya ga bole poto2 di RLD bang? :mbisik:

Itu poto punya nyuri dari blog orang dengan semena-mena.

crimehunter
9th February 2009, 05:00 PM
Silakan-silakan dinikmati. Ini ending alternatif kisah "Seutas tali di atas bantal". Ayo komen dan cendolnya.

Eh Git, ini (digabung dengan Seutas Tali di atas bantal) bisa kuikutsertakan di lomba toh?
ck..ck..ck.. salut ama karya sastra lu bro... :msokimut:

sebagai tanda mata dr gw, cendol perdana gw meluncur... :p

nad3418
9th February 2009, 05:08 PM
ck..ck..ck.. salut ama karya sastra lu bro... :msokimut:

sebagai tanda mata dr gw, cendol perdana gw meluncur... :p

Terima kasih, Bang! :p :msembah:

Egtheasilva Artella
9th February 2009, 08:58 PM
bru tau kalo RLD itu lampunya bener2 red,,,hahaha,,, :p

*nora' banget ya gw :p*

nad3418
9th February 2009, 09:18 PM
bru tau kalo RLD itu lampunya bener2 red,,,hahaha,,, :p

*nora' banget ya gw :p*

Yeee... lha kan namanya memang diambil dari situ.

In fact, lampu merah yang berpendar itu menyebabkan penghuninya terlihat semakin seksi .... :mgeer: :p

fixshine
10th February 2009, 06:58 AM
jadi temanya bahkan pelacur pun masih punya cinta gitu yak
so nice

nad3418
10th February 2009, 02:39 PM
jadi temanya bahkan pelacur pun masih punya cinta gitu yak
so nice

Yahhh Sigit menyempitkan tema ...

Tema yang waktu itu muncul ketika menulis cerpen adalah mengkritisi:


When love beckons to you, follow him,
Though his ways are hard and steep.
And when his wings enfold you yield to him,
Though the sword hidden among his pinions may wound you.
And when he speaks to you believe in him,
Though his voice may shatter your dreams
as the north wind lays waste the garden.

For even as love crowns you so shall he crucify you. Even as he is for your growth so is he for your pruning.
Even as he ascends to your height and caresses your tenderest branches that quiver in the sun,
So shall he descend to your roots and shake them in their clinging to the earth.

Like sheaves of corn he gathers you unto himself.
He threshes you to make you naked.
He sifts you to free you from your husks.
He grinds you to whiteness.
He kneads you until you are pliant;
And then he assigns you to his sacred fire, that you may become sacred bread for God's sacred feast.

All these things shall love do unto you that you may know the secrets of your heart, and in that knowledge become a fragment of Life's heart.

But if in your fear you would seek only love's peace and love's pleasure,
Then it is better for you that you cover your nakedness and pass out of love's threshing-floor,
Into the seasonless world where you shall laugh, but not all of your laughter, and weep, but not all of your tears.
Love gives naught but itself and takes naught but from itself.
Love possesses not nor would it be possessed;
For love is sufficient unto love.

When you love you should not say, "God is in my heart," but rather, "I am in the heart of God."
And think not you can direct the course of love, for love, if it finds you worthy, directs your course.

Love has no other desire but to fulfill itself.
But if you love and must needs have desires, let these be your desires:
To melt and be like a running brook that sings its melody to the night.
To know the pain of too much tenderness.
To be wounded by your own understanding of love;
And to bleed willingly and joyfully.
To wake at dawn with a winged heart and give thanks for another day of loving;
To rest at the noon hour and meditate love's ecstasy;
To return home at eventide with gratitude;
And then to sleep with a prayer for the beloved in your heart and a song of praise upon your lips.
Khalil Gibran

lanymm
10th February 2009, 04:14 PM
hohohoooo... bang Enade rocks!!! :p

aku paling suka part "mencubit pipi" Enade....
hahaha, bang....dah gendut banget ya??

violace
10th February 2009, 05:17 PM
Khas b enade... narasi deskriptifnya (bener gak ini istilahnya ya..hehe...) lancar sekali.. (masih ngirii..)
Bang enade aslinya emosinya datar ya???
Penggambaran emosi tokoh hampir selalu tenang klihatannya...
Ato aku yang baca nya aja ya...:mmikir::mmikir::mmikir:

fixshine
10th February 2009, 05:36 PM
Khas b enade... narasi deskriptifnya (bener gak ini istilahnya ya..hehe...) lancar sekali.. (masih ngirii..)
Bang enade aslinya emosinya datar ya???
Penggambaran emosi tokoh hampir selalu tenang klihatannya...
Ato aku yang baca nya aja ya...:mmikir::mmikir::mmikir:

tenang = pengalaman :mbisik:

crimehunter
10th February 2009, 05:44 PM
tenang = pengalaman :mbisik:

Yang bener lu git..?? :mcengo:

nad3418
11th February 2009, 01:34 AM
hohohoooo... bang Enade rocks!!! :p

aku paling suka part "mencubit pipi" Enade....
hahaha, bang....dah gendut banget ya??

Haish... ini fiksi ... kesamaan rupa dan nama memang disengaja untuk mendapakan efek "nyata". :msokimut:

~tapi memang aku gemuk koq ... 85 kg ... terakhir kita ketemu sepertinya aku masih 58 kg .... :mnyerah:

nad3418
11th February 2009, 01:43 AM
Khas b enade... narasi deskriptifnya (bener gak ini istilahnya ya..hehe...) lancar sekali.. (masih ngirii..)
Bang enade aslinya emosinya datar ya???
Penggambaran emosi tokoh hampir selalu tenang klihatannya...
Ato aku yang baca nya aja ya...:mmikir::mmikir::mmikir:

Mengalir? Mungkin karena melakukan field research dulu kali ya ...? Huahahahahaa

Cerita ini ditulis untuk memenuhi permintaan pasar untuk membuat ending/sequel Seutas tali di atas bantal.

Di "seutas tali di atas bantal", tokoh "Enade" digambarkan cukup kompulsif (seperti aslinya) dan ekspresif. Hampir keseluruhan cerita di "seutas tali di atas bantal", perasaan tokoh "Enade" bergejolak ...

Di cerita ini, tokoh "Enade" digambarkan pasif dan cerita ini mencoba mengeksplore dari sisi para tokoh wanita.

Jujur aja, agak bingung eksplorasi teknik menyampaikan perasaan tertulis secara resiprokal.

Enade yang asli? Wuaaaaa moody bangeeetttt ... :mgeer:

nad3418
11th February 2009, 01:44 AM
tenang = pengalaman :mbisik:

Sigit .... :msokimut: :msokimut:

:mbom:

nad3418
11th February 2009, 01:47 AM
Yang bener lu git..?? :mcengo:

:mgeer: :p

~pengalaman bikin cerpen kan maksudnya?

atau pengalaman selingkuh? atau pengalaman jatuh cinta sama prostitute? atau ...

Egtheasilva Artella
11th February 2009, 04:12 AM
:mgeer: :p

~pengalaman bikin cerpen kan maksudnya?

atau pengalaman selingkuh? atau pengalaman jatuh cinta sama prostitute? atau ...
hahahha,,,
no comment d b,,,:mlewat:

nad3418
11th February 2009, 04:23 AM
hahahha,,,
no comment d b,,,:mlewat:

He..he..he.. :mgeer: :p

Apa perlu dibuat sequel ke-3 :mbisik:

Dengan tokoh bernama Sigit dan Tessa ... :mgeer:

fixshine
11th February 2009, 05:06 AM
tessa harus kriting yahh ... he ehhehehe

Egtheasilva Artella
11th February 2009, 11:16 PM
tessa harus kriting yahh ... he ehhehehe
knapa harus?

@ b enade: ikutin lomba skalian b,,, :p

fixshine
12th February 2009, 05:13 AM
to nade yg dibuat lomba kisah Sigit + Tessa
:mlewat:

nad3418
12th February 2009, 12:20 PM
to nade yg dibuat lomba kisah Sigit + Tessa
:mlewat:

Yah cuma dibuat lewat ... :( :mnyerah:

fixshine
12th February 2009, 08:32 PM
Yah cuma dibuat lewat ... :( :mnyerah:

mo buat lagi ?

nad3418
12th February 2009, 08:46 PM
mo buat lagi ?

Dah ah .. bairin sajah .. itu cuma buat memuaskan diri kemarin ...

Khusus buat Sigit:
Sebenarnya endingnya mau dibuat Tessa selingkuh ma Enade, dan Sigit bunuh diri karena Tessa selingkuh sama Enade. Enade berbahagia di atas penderitaan Sigit huahahahaahahhaahahhaahahahaaaaa. Ah tapi lumayan sudah ada Haqi dan Ubhe sebagai tokoh figuran

fixshine
12th February 2009, 09:47 PM
Dah ah .. bairin sajah .. itu cuma buat memuaskan diri kemarin ...

Khusus buat Sigit:
Sebenarnya endingnya mau dibuat Tessa selingkuh ma Enade, dan Sigit bunuh diri karena Tessa selingkuh sama Enade. Enade berbahagia di atas penderitaan Sigit huahahahaahahhaahahhaahahahaaaaa. Ah tapi lumayan sudah ada Haqi dan Ubhe sebagai tokoh figuran

Tessaku2 ternyata kamu ? :mbom:

nad3418
12th February 2009, 09:52 PM
Tessaku2 ternyata kamu ? :mbom:

Daripada kejadian beneran ... makanya ambil ending yang relatif soft ...

Kenapa aku sulit bangeeeeetttt sih bikin happy ending .... :(

Egtheasilva Artella
12th February 2009, 10:53 PM
Daripada kejadian beneran ... makanya ambil ending yang relatif soft ...

Kenapa aku sulit bangeeeeetttt sih bikin happy ending .... :(
hahaha,,
tega lowh b,,,sama temen sendiri,,, :p

nad3418
13th February 2009, 03:59 AM
hahaha,,
tega lowh b,,,sama temen sendiri,,, :p

Iyahhh ... :mgeer: :p