PDA

View Full Version : Merindu Bulan



fixshine
4th February 2009, 09:29 PM
Sepenggal pesan singkat yang kuterima di pagi ini benar-benar merusak seluruh hari. Dari dia, yang menyebut namanya saja sanggup menggetarkan hatiku. Dia yang membawaku lari dari dunia logis realistis yang mengakui kecerdasanku. Dengan dia, aku adalah orang buta dalam gulita. Dan dia adalah sesorot cahaya lembut yang kutuju, berusaha ku gapai. Dia adalah bulan di gelap malamku.

Bulanku....

haha... ungkapan yang sangat egois. Penunjuk kepemilikan. Padahal dia hanya Bulan. Bukan Bulan-KU. Karena kalimat penolakan akan tambahan dua huruf terakhir itu telah terlontar gamblang sejak kami masih berseragam putih abu-abu.

Alasannya?

Karena aku adalah mataharinya.

Benar. Matahari-NYA. Lengkap dengan bukti kepemilikan N-Y-A. Dan aku merelakan diri menjadi miliknya tanpa bisa memiliki dirinya. Karena yang dia klaim menjadi miliknya itu adalah bagian diriku yang ada karena hadirnya. Bagi dia, aku matahari. Bagiku, aku tak lebih dari pungguk yang merindunya.

Baca saja pesan singkat Bulan barusan...

”Fiuh... nyampe rumah juga akhirnya nih bro.. Thx 4 everything ya... Aq dah normal lagi sekarang... ;p”

Yeah...Bulanku.. ups... Bulan telah normal lagi sekarang. Kembali memberikan sinar magisnya ke dunia setelah seharian memucat disampingku. Menumpahkan semua ketakutan, ketidakmampuan, dan ketidakberdayaannya akan hidup. Percakapan searah.... Dia mengeluh dan aku mendengar. Dia menghancurkan topeng hidupnya, menanggalkan sinar keemasan, dan memperlihatkan kawah gelap berdebu. Sementara aku, dalam diamku, menjelma jadi mataharinya. Memberikan sinar yang perlahan dia serap dan teruskan. Membuatnya kembali bersinar. Magis.

Aku dimata dia adalah matahari yang bercahaya cemerlang. Yang bisa memberinya sinar, atau meniadakannya. Aku baginya adalah pemberi cahaya yang membuatnya bersinar di sisi lain dunia. Dia, disamping ku akan memucat tak terlihat, tak terhiraukan, bahkan tak disadari. Dia yang memberi arti diriku, merasa tak berarti disampingku.

Jadi disanalah dia, disisi lain dunia agar eksistensinya diakui. Menjauh dariku agar bisa meneruskan sinarku lebih berarti. Saat Bulan (bukan Bulanku) menjalani hidup normalnya disisi lain dunia itu, aku disini kembali bermetamorfosa menjadi pungguk merindu. Menunggu dalam kelam sampai suatu saat Bulan akan menghampiriku dalam pucat.

Aku benci melihatnya pucat. Aku ingin melihatnya bersinar. Tapi disisi lain, aku hanya bisa merindu saat dia bersinar. Sementara saat dia pucat, aku nyata disampingnya, bahkan bisa merengkuhnya dalam diam. Hanya diam, tanpa kata, tapi penuh makna.

Aku telah menjadi mataharinya sejak dahulu. Katanya jauh sebelum aku meminta dia untuk jadi Bulanku.

”Dari pertama kali kamu bisa menyelesaikan soal logaritma yang sedikitpun tak ku mengerti” ujarnya dalam bangga.

Dan otak ku otomatis memutar ulang sebuah peristiwa tak penting di kelas satu SMA. Ketika seorang gadis memandang kaget saat meyadari penyelesaian soal itu di depan matanya.

Aku berubah menjadi pungguk setahun setelah itu. Saat kembali menemukan tatapan puja penuh kekaguman dimatanya yang tulus. Bukan penuh perhitungan seperti tatapan kagum dari yang lain.

Bulan benar-benar mengagumi ku atas anugerah cahaya digdaya yang dilimpahkan Tuhan kepadaku. Yang membuat silau banyak orang, tapi tidak dirinya. Bulan menyerap sedikit cahayaku dan meneruskannya dengan lembut. Membuat ku balik mengaguminya dalam harap.

Bulan yang menyadarkan ku bahwa gelap itu ada, dan gelap yang membuat cahaya sangat berarti. Bulan membawaku ke dunia baru yang penuh ragu. Dimana perhitungan matematis tak selalu logis dan rumus empiris hanya membuat miris. Aku terpesona dengan dunianya walau tak sepenuhnya mengerti, sama seperti Bulan terpesona melihat ku memahami fisika kuantum dengan kecepatan pentium. Di dunia Bulan, satu kata tak hanya bermakna satu, dua, atau tiga. Satu kata bisa bermakna semesta.

Yang paling membuat ku kagum adalah cara dia memandang dunia dan cara menampilkan dirinya pada dunia. Dia selalu memandang positif dunia, sepositif dia berusaha menampilkan wujudnya. Dan karena aku telah berada di luar semestanya sejak mengabdikan diri menjadi matahari dan punggguk, maka dihadapanku lah Bulan melepas semua energi negatif, memperlihatkan sisi gelapnya.

Seperti pemain drama di belakang panggung. Di panggung, penonton bisa melihat nya bahagia, sedih, putus asa, berjuang, tertatih, terjungkal, atau pasrah, tapi dengan cara yang mengagumkan. Dengan cara yang dimengerti, dipahami, dan dinanti penonton. Tapi penonton tidak boleh melihat sang pemeran yang gemetar gugup dibelakang panggung, bingung dengan apa yang akan dihadapinya.

Begitulah Bulan. Aku adalah orang dibelakang panggung yang menenangkannya sebelum dia naik pentas kehidupan. Aku telah melihat wajah asli nya yang tidak memakai topeng peran. Dan aku masih memujanya.

Aku adalah matahari nya. Aku adalah teman di belakang panggung nya. Aku adalah pemberi cahaya nya. Aku adalah tempatnya mengadu. Aku yang merengkuhnya kala pucat. Aku yang menghiburnya kala gugup. Aku yang mengumpulkan kembali serpihan dirinya yang hancur lebur agar bisa kembali utuh. Aku... Aku yang melakukan semua itu dan Aku masih memujanya...

Apa kurang ku? Kenapa Bulan tak mau bersama ku??

Dan ku ingat saat Bulan menjelaskan dalam sendu...

...Karena kamu matahariku, aku pucat dan tak terlihat saat disamping mu. Karena kamu teman belakang panggungku, aku jelek dan gugup saat disamping mu.

Aku bersinar untuk yang lain, tapi tak bisa untuk mu. Aku tampil mempesona untuk yang lain, tapi tidak untuk mu. Aku ingin memberikan yang terbaik dari diriku untuk mu, tapi hanya bisa kulakukan saat jauh darimu. Bersama mu, aku tak berarti....

Apa yang bisa kau lakukan saat orang yang paling berarti bagimu merasa tak berarti di samping mu?? Menganggap dunia tak adil?? Atau meyakinkan dia; walaupun dia merasa tak berarti, tapi disanalah tempat terbaik nya?? Kemudian melihat dia memucat dan kehilangan pesona dimata yang lain. Walau kau tetap memujanya dalam kondisi itu, tapi sama saja membunuhnya perlahan. Setiap orang ingin memiliki arti. Seperti aku yang merasa berarti di sampingnya.

Saat harus memilih antara inginku dan ingin nya. Aku tahu pilihan ku. Aku masih bisa menjadi matahari yang melihat Bulan meneruskan cahaya ku. Walau di sisi lain dunia aku hanyalah pungguk yang memuja cahaya bulan.

Dan disinilah aku sekarang. Memandangi pesan Bulan yang telah kembali memberikan yang terbaik pada dunia, setelah jauh dari ku. Seonggok cairan tercekat di kerongkongan ku. Kutengadahkan kepala mencari bulan di langit siang. Sebentuk usaha mengalihkan perhatian dan menahan mekanisme pengucuran air mata. Tak kutemukan Bulan disana.

Aku telah kembali menjadi pungguk yang merindu...

Merindumu Bulan...

Selalu...

~untuk sang bulan yang menjadikan ku pungguk

dan untuk matahari yang memberiku sinar

ditulis:
14.05.2007
Violace/7

Egtheasilva Artella
4th February 2009, 09:53 PM
b sigit,,,ayo dibujuk2 k cece biar ikutan lomba lagi,,,hehe

dina kharisma
4th February 2009, 10:01 PM
:(

so sweeeeett :(

violace
5th February 2009, 10:08 AM
:(

so sweeeeett :(

Ada juga yang bilang ga ngerti baca cerita ini :(
Dan yang bilang gitu ngga cuma 1 orang... :mnangis::mnangis:

nad3418
5th February 2009, 01:40 PM
Ada juga yang bilang ga ngerti baca cerita ini :(
Dan yang bilang gitu ngga cuma 1 orang... :mnangis::mnangis:

Sepertinya wajar Ce. Kau banyak pakai kiasan di cerpen ini dan juga yang satu lagi (yang judulnya pakai KEJORA?). Cerpenmu yang "bunuh diri" itu keren habis.

fixshine
5th February 2009, 04:17 PM
sayang ku tak punya copy nya yg ttg bunuh diri itu ... ; dan satu lagi yang tentang cewek msie mau aja di madu itu ..so exiting

violace
6th February 2009, 11:28 AM
Yang bunuh diri..? Hmmm.. kayanya masih ada, ntar deh di cari lagi...
Yang cewe dimadu itu sampai sekarang belum selesai juga ending nya bang.. :p:p

fixshine
6th February 2009, 08:45 PM
lha obyeknya dah ending blm; lha kamu ngikutin obyeknya ya ga selsai2

violace
7th February 2009, 05:56 PM
gada obyek nya lah.. tu kan cerita fiktif, udah ada ide dari awal nulis, endingnya seperti apa, tapi menuju kesana males skali nulisnya... :D
Yang bunuh diri udah aku posting.. cuma ga ngerti itu temanya apa.. hehe...

dina kharisma
13th February 2009, 05:35 PM
Ada juga yang bilang ga ngerti baca cerita ini :(
Dan yang bilang gitu ngga cuma 1 orang... :mnangis::mnangis:

i love your word choices sist
kaya diksi :)

violace
11th November 2009, 07:05 PM
Huff.. Giling jg gw nulis nya kalo lg kalap ya.. Ga heran slalu sad ending..
~terkagum bc tulisan sendiri..dasarmanusiaaneh

Sdg kerasukan mo menyelesaikan cerpen cewe yg d madu itu..

nad3418
11th November 2009, 08:23 PM
Huff.. Giling jg gw nulis nya kalo lg kalap ya.. Ga heran slalu sad ending..
~terkagum bc tulisan sendiri..dasarmanusiaaneh

Sdg kerasukan mo menyelesaikan cerpen cewe yg d madu itu..

Ditunggu ....

Ayu Anindita
21st December 2009, 11:34 AM
mantap!!!!!!! baca pilihan katanya ,,kakak hebat banget!