PDA

View Full Version : Surat untuk Valentina



fixshine
27th January 2009, 05:34 AM
Dear Valentina,

Aku menulis surat ini buatmu,

… dengan penuh rasa,

… dengan senyum merekah tersungging di bibirku.

Aku berharap, ketika sedang kutulis surat ini kamu pun merasakan buncahan-buncahan rasa yang sama. Aku ingin kamu, merasakan pelukan hangatku dalam dingin gerimis yang menusuk sore ini. Aku ingin selalu menggenggam tanganmu, melintasi perjalanan mimpi-mimpi kita. Andai ku punya sayap tentu aku akan membawamu terbang bermain memilih kelembutan awan-awan putih sesuka kita.



Pernahkah kamu merasa jauh denganku ? Percayalah aku tidak.

Terima kasih buatmu karena kamu selalu memberiku kabar.

… dengan sebaris huruf,

… serentetan kalimat,

… juga beberapa menit suaramu di telpon sudah cukup membuatku kecanduan.

Ah mungkin memang benar, kamu sudah mencuri sebagian hatiku sehingga waktu-waktu kembali menemukanmulah selalu menjadi saat-saat ternyaman.



Walau,… tidak selalu begitu,

karena jika saat-saat sakitmu menjelang, tak pelak deritamu menderaku pula.



Kurasakan cemasnya karena aku turut merasa berdosa tak bisa membantu apa-apa buatmu, setidaknya untuk sekedar mengompreskan sapu tangan basah ke keningmu. Kurasakan efek fisiknya, karena entah kenapa kalau aku sudah muntah-muntah di sini, besok kamu sudah akan baikan … ahh syukurlah. Ini ajaib, efek placebo ( .. pasti bukan ), transfer energi, atau entah apalah namanya. Inikah bukti bahwa cinta juga bisa menciptakan semacam dimensi sendiri bagi kita untuk saling berbagi ? saling meringankan derita masing-masing ? Jika memang begitu, aku pun rela … berapa kali pun akan rela



Jika aku menelponmu, kamu selalu saja menggodaku,

” Valentina tidak ada, anda salah sambung … ”

walau kutahu itu hanya candamu, aku selalu saja speechless … karena kalimat itu membuatku butuh beberapa detik kemudian, untuk kembaliku menguasai diri. Aku ingat, kalimat itu pulalah yang kamu ucapkan ketika pertama kali aku memberanikan diri menelponmu dulu.



“ Sepertinya anda salah sambung, ini bukan nomor Valentina “

” Tapi Valentina memberikan nomor ini ..” tanyaku dulu setengah bingung

” Kalau begitu … kamu tentu bisa tahu bagaimana caranya bicara langsung dengan Valentina ” kamu dulu tetap tenang, menunggu reaksiku.


Kamu memang punya gaya. Itu khas sekali kamu. Membuatmu beda, dengan keunikan yang hanya dimengerti orang-orang yang kamu izinkan memasuki hatimu. Dan aku beruntung mengetahuinya, setelah episode – episode perbincangan kita di dunia cyber. Kamu bisa-bisanya punya semacam password sendiri sebelum orang bisa bicara panjang lebar denganmu.



” Aku membawakan 3 hal untuk Valentina ..”

” Valentina memangnya pesan ? ” jawabmu mengetest.

” ya … untuk dikenakan, dikejar, dan selalu digenggam “

” menarik … coba sebutkan barangkali Valentina berkenan “



Ah, kamu memang suka sekali menguji kesungguhan orang.



” Valentina pesan melati ,..”

” untuk apa ? “

” dikenakan sebagai bandana penghias rambutnya … “

“ kenapa pilih melati ? “

“ karena kemungilannya membuat melati selalu disayang,.. “



” hemm … lalu pesanan lain ? “

” kupu - kupu untuk dikejar “

” ga ada yang lebih keren ? “

” justru itu tantangannya .. kupu-kupu memang tak bisa sembarang dikejar “

” menurutmu begitu …?”

” terlalu bernafsu mengejar hanya akan merusak keindahannya, tidak dikejar ya tidak akan dapat .. “

” kamu menantang teka-teki ? “

” bukan begitu maksudku, Valentina sangat tahu … hanya dengan bunga yang segar kupu-kupu itu akan datang sendiri, tidak ada yang dipaksa, tidak ada yang terlalu malas berusaha ..”



” oke hal yang terakhir ? “

” sapu tangan untuk digenggam “

” kenapa harus ? “

” karena selalu ada, meski sedikit, kotoran yang harus dibersihkan, keringat yang diseka, bahkan mungkin sedikit luka yang harus sementara dibebat .. “



Rupanya memang jawaban-jawaban itu maumu.



” Okey….,

kamu memang sudah berbicara dengan Valentina, sejak dari beberapa menit yang lalu ..” rasanya tak keruan saat itu, lega sekaligus merasa bodoh karena dikerjai habis-habisan.



————-

Dear Valentina,



Aku beruntung hidup di jaman yang membuat jarak bukan lagi serasa menjadi tembok pemisah. Aku tak perlu menjadi Santiago yang tak mempunyai pilihan lain harus percaya pada cinta Fatima yang selalu menunggunya di novel “The Alchemist” atau menjadikanmu “Sang Zahir” yang menurut Paulo Cuelho bisa menjadikan jejak-jejak keberadaanmu menjelma dimana-mana menghantui pikiran.



Jarak menjadikan seni dalam hubungan kita. Melalui tulisan-tulisan dalam blogmu yang selalu bisa kubaca dan kupelajari emosi-emosinya. Melalui style ketikan-ketikan spontan pada chat, pertarungan icon-icon virtual, dan tentu saja poto digital dirimu yang selalu update sebagai hasil jepretan kamera handphone-mu.



Jika komputer dan koneksi internet tak sedang menjembatani dunia kita, bertaburanlah beberapa kali sms, misscall, dan tentu saja bergantianlah kita memanfaatkan free-talk. Apalagi kalau sebentar-sebentar koneksi telpon mati sendiri karena server operator telpon suka ngadat. Ya sudahlah “..gratis ko mau lancar, ga usah protes ..” tinggal redial aja terus ko repot. Sampai entah berapa kali berganti-ganti freetalk, bahkan sampai lupa kita sedang freetalk di dunia nyata atau dunia mimpi. Yang pasti siang harinya, ketika mata masih pedes karena semaleman dipaksa begadang hanya buat freetalk, kamu akan sms aku :



– seru ya tadi malam ? mo lagi ? –

– jangan sering-sering nanti bosan —



Itulah waktu yang seyogyanya butuh jeda. Seperti nafas yang punya batas untuk dipacu. Seperti nafas pula yang masih butuh lega untuk ruang keleluasaanya. Kadang memang ada waktu yang harus diburu. Tapi tetap saja akan ada juga waktu yang harus direlakan. Karena jika terus memburu, rutinitas akan alih-alih akan membunuh kita karena terus menuntut sampai melebihi batas.



Beberapa hari yang lalu, aku memikirkan salah satu isi pesan sms-mu

– kamu sudah siapkan kado ultahku ? –

– belum, tapi pasti kukirimlah –

– baguslah, jika belum beli, aku ga mau barang, bunga, coklat, entah kenapa .. –

– tumben, itu kan khasnya ultah deket2 valentine ? –

– aku mau yang beda .. –



Ya sudahlah, aku tak perlu lagi bertanya padamu. Toh, kamu juga tak akan tahu kenapa bisa jadi begitu. Kita hanya perlu mengambil jeda, dari rutinitas yang kita lalui. Mengambil segar dari penatnya cara - cara kita saling memberi perhatian.



————————



Dear Valentina,



Aku menulis surat ini, untuk membuatkanmu sesuatu yang beda, walau bukan sesuatu yang istimewa apalagi mahal dengan menghamburkan berjuta-juta digit rupiah. Aku menulis surat ini, karena teringat sesuatu yang beda.



Tahukah kamu Valentina, ketika seikat bunga segar menjadi simbol sebuah ungkapan cinta, semua orang ingin memetiknya, ingin merangkainya dengan bentukan-bentukan tertentu, dijual, diecer, dijajakan murahan di pinggir-pinggir jalan. Ungkapan cinta menjadi kehilangan maknanya karena hanya dihargai lembaran ribuan, dan tentu saja karena bisa didapatkan dengan mudah.

Mungkin itulah itulah sebab, mengapa seikat bunga segar menjadi hampa tanpa rasa.



Tahukah kamu Valentina, ketika kupu-kupu yang indah tak perlu lagi diburu hinggapnya, nilai perjuangannya menjadi hilang. Sudah banyak lukisan bahkan re-touch foto-foto digital tentang keindahan kupu-kupu. Begitu mudah mendapatkan foto-foto itu apalagi jika kita bertanya pada “Mbah Google” si dukun segala tahu era cyber ini. Tinggal ketik dan klik, save as, atau segera bawa ke printer model apa.

Mungkin itulah sebab, mengapa tarian kupu-kupu tak lagi dikenal uniknya.



Tahukah kamu Valentina, ketika selembar sapu tangan direndahkan menjadi beratus-ratus lembar tissue sekali-pakai. Dipaketkan dalam box-box plastik, tinggal cabut, usap, buang dengan selintas noda menempel.

Mungkin itulah sebab, mengapa tiada kenang indah dalam secarik yang sekarang tanpa warna itu.



Aku menulis surat ini dengan penaku.

Aku menulis surat ini di atas kertas yang akan kumasukkan dalam amplop, lalu kukirim via pos padamu

Aku menulis surat ini dengan kata-kataku sendiri, terinspirasi kenangan-kenangan milik kita sendiri dan bukan orang lain.



————–



Dear Valentina,



Aku hadir padamu kali ini dengan cara yang berbeda, tidak dengan segala kecepatan digital semata. Aku ingin kali ini kita menikmati cinta kita dengan kesabaran sebuah penantian. Ketika dering sepeda Pak Pos menyapa di depan rumahmu. Aku membayangkan senyummu menyambut sepucuk surat dariku, lalu membaca baris-baris luapan kasihku.


Aku telah hadir padamu Valentina, dan aku senang kamu telah membaca kehadiranku dengan cara yang berbeda.


Terima kasih Valentina,



I love u

I love u

I love u


by fixshine
Feb'08

valentina
27th January 2009, 07:34 AM
Nice story...
Nama yg dipake jg bagus.bang :p

fixshine
27th January 2009, 03:01 PM
boleh ko narsis hi hi hi
kata temen gue klo Valentin = tgl 14
klo Valentina ( nambah a ) = tgl 15

valentina
27th January 2009, 09:54 PM
boleh ko narsis hi hi hi
kata temen gue klo Valentin = tgl 14
klo Valentina ( nambah a ) = tgl 15

:mketawa:
Aneh bgt c.bang

dwijako
28th January 2009, 04:13 AM
boleh ko narsis hi hi hi
kata temen gue klo Valentin = tgl 14
klo Valentina ( nambah a ) = tgl 15

hmmm... emang hari ini tanggal berapa ya?

valentina
28th January 2009, 07:07 AM
hmmm... emang hari ini tanggal berapa ya?

Hari ini?
28 januari.bang
Knp?disorientasi kah anda? :p

fixshine
28th January 2009, 08:19 AM
diputusin Valentina yak ...

dwijako
28th January 2009, 09:18 AM
Hari ini?
28 januari.bang
Knp?disorientasi kah anda? :p

makan-makan dong di rumah pak gorys... :p

fixshine
28th January 2009, 11:45 AM
Si cantik Valentina di kantorku di panggil Vey :msokimut:

aRda ArDA aRdA
28th January 2009, 02:10 PM
ada bagian2 yg membuat saya mengorek ngorek kenangan..:(

fixshine
28th January 2009, 02:45 PM
ada bagian2 yg membuat saya mengorek ngorek kenangan..:(

akhirnya aRda ( artisnya Datang ) juga biar terobek2 tp manis kan ?

aRda ArDA aRdA
28th January 2009, 03:01 PM
akhirnya aRda ( artisnya Datang ) juga biar terobek2 tp manis kan ?

heeh bang..
apalagi yg bagian telpon ma surat...
seperti berkaca pada kenangan sendiri..:(

fixshine
28th January 2009, 06:08 PM
heeh bang..
apalagi yg bagian telpon ma surat...
seperti berkaca pada kenangan sendiri..:(

bahan untuk nulis lomba cerpen yuhuww

valentina
28th January 2009, 11:19 PM
makan-makan dong di rumah pak gorys... :p

Maybe...i dunno... :p

aRda ArDA aRdA
28th January 2009, 11:37 PM
bahan untuk nulis lomba cerpen yuhuww

mo bikin apa lg bang???