fixshine
24th January 2009, 12:48 AM
“Bisikan Sabar”
Sering
coba kubisikkan kata "sabar" di hatiku. Sabar menyusuri waktu
perlahan. Sabar menunggumu pelan-pelan. Sabar menghadapi aku. Kita bukan lagi
remaja belasan tahun yang coba maknai cinta dengan sebatang coklat, setangkai
bunga dan apel malam minggu. Cinta kita teramat jujur dengan semua rasa. Ia tak
hanya semanis rindu. Cinta kita juga pernah menjelma menjadi pilu dan diwakili
air mata yang menyesakkan. Cinta kita bahasakan rasa dengan jujur. Ia tak
pungkiri bahwa kebahagiaan, kesedihan, jarak dan waktu juga bagian dari cinta.
Bagian dari cinta yang memintaku bisikkan kata "sabar" di hatiku.
***
Apa
yang bisa kita simpulkan dari tiga tahun bersamanya kita? Kebersamaan yang
dijedai oleh ruang dan waktu? Tiga tahun yang membuatku hanyut saat menghirup
bau laut. Laut yang samarkan dirimu di antara birunya. Dan tahukah cinta? Laut
yang berada di tepi kaki langitlah yang pertama bisikkan kata "sabar"
untukku.
Mungkin
dirimu punya jawabannya sendiri. Dan aku memilih merangkai jawabnya dalam kata,
kata yang lintasi ruang dan waktu untukmu. Kata yang tiba-tiba begitu saja
menjelma menjadi dirimu dan mencuri hatiku.
Dan
malam ini aku ingin membawamu menelusuri satu persatu episode kata tentangmu.
Episode yang mungkin tak pernah kamu tahu. Episode rasaku padamu yang terukir
dalam hari dan waktu saat kucoba bisikkan kata "sabar" di hatiku,
saat bahkan bayangmu pun tak bisa kulihat, saat kamu ada disana dan aku
menantimu disini. Ini tentang episode rasaku saat mengakrabi kata karenamu. Ini
untukmu, hanya untukmu:
Ada
Rasa Disini
Ada
rasa disini. Tentang aku dan kamu. Yang ingin kutulis tiap harinya. Dalam
tiap-tiap kata, dalam bait, dalam kalimat.
Kata
tentang kita.
Kabut
Pagi Hari
Kabut
pagi hari serupa denganmu. Dingin dan bisa membuatku membeku. Mungkin kabut
pagi hari benar-benar dirimu.
Bermain
dengan Waktu
Kita
sedang bermain-main dengan waktu. Menunggunya. Begitu bukan?
Kita
dan Pelangi
Aku
bermimpi tentang kita. Angin yang meniup dedaunan. Rintik yang menghampiri
bumi. Dan kita disana, bersama pelangi.
Untuk
Kamu
Dan
rasa itu masih selalu sama: menghampakan udara, menyisakan satu ruang disini.
Untuk kamu.
Puzzle
Jika
dunia ini puzzle, selalu berharap kita adalah kepingan yang saling melengkapi.
Rintik
Rintik
yang menemaniku saat ini dan setiap kali ia berdesakan memenuhi jendela kamar
yang kuingat: dirimu." Mungkin kita dan hujan bersahabat", ujarmu
suatu ketika. Entahlah. Tapi tiap kali rintik itu menemui bumi ia mengantar
ingatanku kesana, menemuimu.
Melihatmu
Kamu
bisa melihatku
kan
?
Mungkin dari balik kata-kata ini, mungkin dari kerlip bintang disana, mungkin
dari terang langit di malam hari, mungkin dari bulan yang dulu kukirimkan
padamu, atau mungkin dari senandung yang berbisik di benakmu, kamu bisa
melihatku
kan
?
Karena disini aku hanya melihat kamu. Selalu.
Menanti
Malam
Dulu,
aku jatuh cinta pada langit, biru, indah, tak berbatas. Namun senja yang elok
berhasil mencuri sedikit rasaku. Lalu bintang, bintang yang membuat aku selalu
menanti malam. Seperti kamu.
Kita
Kakiku
dingin berulang kali tersentuh air laut yang selalu setia menghampiri pantai
seperti saat itu: saat dimana kamu ada di sampingku, dan kita diantara bebatuan
pantai, memandangi laut yang tak berbatas, laut yang menjadi satu dengan
langit. Dan aku, aku selalu berharap kapalmu kelak kan selalu berlabuh disini,
untukku.
Hari
Kita
Senang
rasanya masih bersamamu saat ini. Saat hari tak lagi miliki nama, karena ia
telah menjelma menjadi hari kita, hari dimana tak ada aku, tak ada kamu, hanya
ada kita. Kita dalam ruang-ruang yang terpendar oleh rasa yang punya banyak
rupa, yang wakili berbagai cerita. Cerita yang terajut atas nama cinta. Ini
hari kita, hari yang tak miliki waktu, tak akan ada akhir. Semoga.
Kata
Untukmu
Lagi-lagi
kamu akan pergi. Tinggalkan aku dengan sejuta kata yang memaksa berhamburan
dari segenap rasaku. Rasa tentang kamu yang tak pernah ada habisnya. selalu
sama, selalu seperti dulu, selalu tak berubah, kata yang menemaniku jika tak
ada kamu: ia tak pernah berubah, selalu miliki cinta untukmu, hanya untukmu.
Seperti aku.
Hingga Kita Bersama Nanti
Aku
ingin terdiam disini, dipeluk kabut
Membuat
rupaku tak berbentuk
Tersamar
putih
Aku
ingin pergi dari sini, seperti senja
Yang
hanya meninggalkan bayang
Tapi
tak kan terlupa
Aku
ingin hilang
Tapi
tetap ada
Aku
ingin ada
Tapi
tak kan lama
Aku
ingin menyapamu
Dan
berlari
:Sampai
nanti cinta
:Sampai
ada yang sampaikan salamku
:Sampai
nanti hingga kamu melihatku lagi
:Sampai
nanti saat kutemukan dirimu
:Sampai
nanti
Hingga
kita bersama lagi
Rumah
Kita
Hanya
ingin kembali ke tempat ternyaman di sini: rumah kita, tempat segala rasa
dimuarakan dan jadi satu kembali.
Jangan
Lupakan
Jangan
pernah lupakan rasa ini ya, rasa saat udara hanya dipenuhi bahasa kita.
Aku
Rindu Kamu
Ini
malam yang sama tanpa kamu, tanpa ada kamu yang benar benar ada. Ini entah
malam yang keberapa saat kamu disana dan hanya ada rasa yang menyesakkan
disini. Cepatlah kemari, karena bintang tak pernah bisa menggantikanmu
menghiasi langitku. Aku rindu kamu.
Cinta Kita
Cinta
itu bodoh seperti kamu
Juga
aku
Tak
bisa melihat
Apalagi
berbahasa
Hanya
tenggelam dalam rasa
Benar-benar
bodoh
Cinta Untukku
Kita
punya banyak hari untuk dilalui
Tak
hanya hari ini
Tak
cuma masa lalu
Dan
titip satu:
Jangan
habiskan cinta untukku
Kamu Puisiku
Hadirmu
telah jadi satu mimpi
Tingkahmu
selalu menjelma menjadi sejuta bait
Dirimu
adalah puisiku
Iya
cinta, dirimu adalah puisiku. Dan malam ini aku tak bisa mengumpulkan semua
kata tentangmu yang berserakan dalam ruang dan waktuku. Namun aku ingin kamu
tahu dan mengakrabi kata tentangmu, menyimpannya dalam hatimu, seperti yang
kulakukan selama ini.
***
Dan
cinta, apa lagi yang bisa kita simpulkan dari tiga tahun bersamanya kita? Bahwa
kita adalah sepasang anak manusia dalam universitas kehidupan. Klise
terdengarnya? Mungkin iya. Tapi aku yakin itu, karena kita terus belajar untuk
memaknai cinta, memahami wujudnya. Aku mengagumi dirimu dan menyukai kita yang
tidak tergerus waktu. Kita yang pelajari satu demi satu keping cinta kita. Yang
tak menyerah pada keadaan. Yang tak ragu tuk memulai sesuatu dari awal lagi.
Kita yang tak pernah berhenti belajar dan memperbaiki segalanya. Aku suka itu.
Sungguh, aku menyukai kita dan cara kita saling mencinta.
Dan
tahukah cinta? Masih sering kubisikkan kata "sabar" di hatiku hingga
aku tak ingin berhenti mengakrabi kata, tak ingin ku berhenti meminjam rupa
kata:
Karena
aku ingin selalu menulis untukmu cinta. Agar rindu tak pernah usang. Agar cinta
tak pernah lelah. Karena aku tak pernah ingin berhenti mencintaimu
Bandung, menjelang Juni tahun ini
by Gita (Ienk)/8
(Puisi ini menang dalam lomba Sastra forum Sastra Ikastara.org ke-3)
Sering
coba kubisikkan kata "sabar" di hatiku. Sabar menyusuri waktu
perlahan. Sabar menunggumu pelan-pelan. Sabar menghadapi aku. Kita bukan lagi
remaja belasan tahun yang coba maknai cinta dengan sebatang coklat, setangkai
bunga dan apel malam minggu. Cinta kita teramat jujur dengan semua rasa. Ia tak
hanya semanis rindu. Cinta kita juga pernah menjelma menjadi pilu dan diwakili
air mata yang menyesakkan. Cinta kita bahasakan rasa dengan jujur. Ia tak
pungkiri bahwa kebahagiaan, kesedihan, jarak dan waktu juga bagian dari cinta.
Bagian dari cinta yang memintaku bisikkan kata "sabar" di hatiku.
***
Apa
yang bisa kita simpulkan dari tiga tahun bersamanya kita? Kebersamaan yang
dijedai oleh ruang dan waktu? Tiga tahun yang membuatku hanyut saat menghirup
bau laut. Laut yang samarkan dirimu di antara birunya. Dan tahukah cinta? Laut
yang berada di tepi kaki langitlah yang pertama bisikkan kata "sabar"
untukku.
Mungkin
dirimu punya jawabannya sendiri. Dan aku memilih merangkai jawabnya dalam kata,
kata yang lintasi ruang dan waktu untukmu. Kata yang tiba-tiba begitu saja
menjelma menjadi dirimu dan mencuri hatiku.
Dan
malam ini aku ingin membawamu menelusuri satu persatu episode kata tentangmu.
Episode yang mungkin tak pernah kamu tahu. Episode rasaku padamu yang terukir
dalam hari dan waktu saat kucoba bisikkan kata "sabar" di hatiku,
saat bahkan bayangmu pun tak bisa kulihat, saat kamu ada disana dan aku
menantimu disini. Ini tentang episode rasaku saat mengakrabi kata karenamu. Ini
untukmu, hanya untukmu:
Ada
Rasa Disini
Ada
rasa disini. Tentang aku dan kamu. Yang ingin kutulis tiap harinya. Dalam
tiap-tiap kata, dalam bait, dalam kalimat.
Kata
tentang kita.
Kabut
Pagi Hari
Kabut
pagi hari serupa denganmu. Dingin dan bisa membuatku membeku. Mungkin kabut
pagi hari benar-benar dirimu.
Bermain
dengan Waktu
Kita
sedang bermain-main dengan waktu. Menunggunya. Begitu bukan?
Kita
dan Pelangi
Aku
bermimpi tentang kita. Angin yang meniup dedaunan. Rintik yang menghampiri
bumi. Dan kita disana, bersama pelangi.
Untuk
Kamu
Dan
rasa itu masih selalu sama: menghampakan udara, menyisakan satu ruang disini.
Untuk kamu.
Puzzle
Jika
dunia ini puzzle, selalu berharap kita adalah kepingan yang saling melengkapi.
Rintik
Rintik
yang menemaniku saat ini dan setiap kali ia berdesakan memenuhi jendela kamar
yang kuingat: dirimu." Mungkin kita dan hujan bersahabat", ujarmu
suatu ketika. Entahlah. Tapi tiap kali rintik itu menemui bumi ia mengantar
ingatanku kesana, menemuimu.
Melihatmu
Kamu
bisa melihatku
kan
?
Mungkin dari balik kata-kata ini, mungkin dari kerlip bintang disana, mungkin
dari terang langit di malam hari, mungkin dari bulan yang dulu kukirimkan
padamu, atau mungkin dari senandung yang berbisik di benakmu, kamu bisa
melihatku
kan
?
Karena disini aku hanya melihat kamu. Selalu.
Menanti
Malam
Dulu,
aku jatuh cinta pada langit, biru, indah, tak berbatas. Namun senja yang elok
berhasil mencuri sedikit rasaku. Lalu bintang, bintang yang membuat aku selalu
menanti malam. Seperti kamu.
Kita
Kakiku
dingin berulang kali tersentuh air laut yang selalu setia menghampiri pantai
seperti saat itu: saat dimana kamu ada di sampingku, dan kita diantara bebatuan
pantai, memandangi laut yang tak berbatas, laut yang menjadi satu dengan
langit. Dan aku, aku selalu berharap kapalmu kelak kan selalu berlabuh disini,
untukku.
Hari
Kita
Senang
rasanya masih bersamamu saat ini. Saat hari tak lagi miliki nama, karena ia
telah menjelma menjadi hari kita, hari dimana tak ada aku, tak ada kamu, hanya
ada kita. Kita dalam ruang-ruang yang terpendar oleh rasa yang punya banyak
rupa, yang wakili berbagai cerita. Cerita yang terajut atas nama cinta. Ini
hari kita, hari yang tak miliki waktu, tak akan ada akhir. Semoga.
Kata
Untukmu
Lagi-lagi
kamu akan pergi. Tinggalkan aku dengan sejuta kata yang memaksa berhamburan
dari segenap rasaku. Rasa tentang kamu yang tak pernah ada habisnya. selalu
sama, selalu seperti dulu, selalu tak berubah, kata yang menemaniku jika tak
ada kamu: ia tak pernah berubah, selalu miliki cinta untukmu, hanya untukmu.
Seperti aku.
Hingga Kita Bersama Nanti
Aku
ingin terdiam disini, dipeluk kabut
Membuat
rupaku tak berbentuk
Tersamar
putih
Aku
ingin pergi dari sini, seperti senja
Yang
hanya meninggalkan bayang
Tapi
tak kan terlupa
Aku
ingin hilang
Tapi
tetap ada
Aku
ingin ada
Tapi
tak kan lama
Aku
ingin menyapamu
Dan
berlari
:Sampai
nanti cinta
:Sampai
ada yang sampaikan salamku
:Sampai
nanti hingga kamu melihatku lagi
:Sampai
nanti saat kutemukan dirimu
:Sampai
nanti
Hingga
kita bersama lagi
Rumah
Kita
Hanya
ingin kembali ke tempat ternyaman di sini: rumah kita, tempat segala rasa
dimuarakan dan jadi satu kembali.
Jangan
Lupakan
Jangan
pernah lupakan rasa ini ya, rasa saat udara hanya dipenuhi bahasa kita.
Aku
Rindu Kamu
Ini
malam yang sama tanpa kamu, tanpa ada kamu yang benar benar ada. Ini entah
malam yang keberapa saat kamu disana dan hanya ada rasa yang menyesakkan
disini. Cepatlah kemari, karena bintang tak pernah bisa menggantikanmu
menghiasi langitku. Aku rindu kamu.
Cinta Kita
Cinta
itu bodoh seperti kamu
Juga
aku
Tak
bisa melihat
Apalagi
berbahasa
Hanya
tenggelam dalam rasa
Benar-benar
bodoh
Cinta Untukku
Kita
punya banyak hari untuk dilalui
Tak
hanya hari ini
Tak
cuma masa lalu
Dan
titip satu:
Jangan
habiskan cinta untukku
Kamu Puisiku
Hadirmu
telah jadi satu mimpi
Tingkahmu
selalu menjelma menjadi sejuta bait
Dirimu
adalah puisiku
Iya
cinta, dirimu adalah puisiku. Dan malam ini aku tak bisa mengumpulkan semua
kata tentangmu yang berserakan dalam ruang dan waktuku. Namun aku ingin kamu
tahu dan mengakrabi kata tentangmu, menyimpannya dalam hatimu, seperti yang
kulakukan selama ini.
***
Dan
cinta, apa lagi yang bisa kita simpulkan dari tiga tahun bersamanya kita? Bahwa
kita adalah sepasang anak manusia dalam universitas kehidupan. Klise
terdengarnya? Mungkin iya. Tapi aku yakin itu, karena kita terus belajar untuk
memaknai cinta, memahami wujudnya. Aku mengagumi dirimu dan menyukai kita yang
tidak tergerus waktu. Kita yang pelajari satu demi satu keping cinta kita. Yang
tak menyerah pada keadaan. Yang tak ragu tuk memulai sesuatu dari awal lagi.
Kita yang tak pernah berhenti belajar dan memperbaiki segalanya. Aku suka itu.
Sungguh, aku menyukai kita dan cara kita saling mencinta.
Dan
tahukah cinta? Masih sering kubisikkan kata "sabar" di hatiku hingga
aku tak ingin berhenti mengakrabi kata, tak ingin ku berhenti meminjam rupa
kata:
Karena
aku ingin selalu menulis untukmu cinta. Agar rindu tak pernah usang. Agar cinta
tak pernah lelah. Karena aku tak pernah ingin berhenti mencintaimu
Bandung, menjelang Juni tahun ini
by Gita (Ienk)/8
(Puisi ini menang dalam lomba Sastra forum Sastra Ikastara.org ke-3)