fixshine
27th December 2008, 02:06 PM
Aku mengenalnya sebagai salah satu senior di kantorku. Seorang pekerja keras, seorang yang pantang menyerah, dan yang pasti dia tak kenal takut menentang perintah atasan yang tak masuk akal. Dua tahun umurnya di atasku, semakin membuatku segan padanya. Sejujurnya sih, antara kagum, dan sebal, lho kok ... ya habis dia perfeksionis, semua orang dianggap bisa sekeras dia dalam bekerja.
“Panggil aku Han ... cukup Han “ sikapnya tak acuh waktu kami berkenalan pertama kali, hanya melirikku sedikit, lalu segera tenggelam di meja kerjanya, mengangkat telpon berkali-kali sepertinya menghubungi beberapa prospek customer. Tiga bulan kemudian tim sales yang dipimpinnya mencapai prestasi penjualan tertinggi. Kemudian beberapa kali pergantian formasi anggota tim, ternyata tidak banyak mempengaruhi ketinggian prestasinya, kinerja disiplinnya memang tak tertandingi tim manapun. Trophy the best sales tim leader dalam setahun pun diraihnya. Enam bulan kemudian setelah merasa perusahaan tidak mampu membayar kemampuannya dengan pantas, dia berpindah ke perusahaan lain. Kabar terakhir dia sudah menjadi manager pemasaran. Wah, umur belum genap 30 tahun sudah menjadi manager, bahkan isunya lagi dia sudah merintis usaha sendiri, benar-benar spektakuler gebrakan orang itu.
“Kamu itu kerja atau main-main sih ?! Sudah setengah harian belum dapat closingan apapun !! .. putar otakmu ! “ matanya yang melotot itu tak akan pernah kulupakan suatu siang. Tentu saja aku sakit hati padanya. Tetapi dia sendiri tidak pernah goyah akan rasa sakit hati orang lain. Baginya tidak ada waktu untuk sakit hati orang lain jika memang kewajiban kerja keras sudah dilalaikan. Baginya waktu adalah perang, kalahkan waktu atau kamu ditelan waktu. Tiga bulan pernah menjadi bagian timnya, sudah cukup menyadarkanku bahwa bakatku memang tidak untuk mengejar target penjualan. Aku sering tidak tega, memaksakan sesuatu produk kepada calon pelanggan, walau harus kuakui komisi yang dijanjikan lumayan menggiurkan.
Selembar surat pengunduran diri dulu akhirnya kulayangkan padanya, dia menatap sebentar lalu tersenyum dengan raut teduh yang belum kulihat sebelumnya. “Aryo, sebelumnya aku minta maaf kalau pernah menyakitimu, aku sadar ada bagian diriku yang tidak menyenangkanmu, tapi jujur aku memang sudah seperti ini dari dulu ...”
“Ah, enggak kok Han, aku hanya merasa ga cocok, tentu membebankan sekali kalau dipaksakan ..” jawabku.
“Jangan salah mengerti, aku ga pernah melihat kamu tak berprestasi, hanya memang mungkin ada tempat lain yang lebih memacu kemampuanmu. Jika kamu mau mencoba ... aku berikan rekomendasi di bagian customer service , aku dengar mereka butuh tenaga baru, aku harap pengalamanmu di sini bisa menjadi nilai lebih ..” tawarnya. Selanjutnya aku hanya bengong, orang yang hampir kubenci ini, justru masih memikirkan masa depanku.
fixshine
27th December 2008, 02:06 PM
Han benar. Aku memang akhirnya cocok di bagian customer service ini. Bagian yang kadang-kadang diumpatnya terlalu cerewet dengan aturan. Tapi uniknya dia sendiri tidak pernah memberi ampun anggota tim salesnya yang melakukan trik sehingga justru merugikan pelanggan. Dia percaya penuh pada prinsip pareto. Sehingga dalam menjual produk tidak perlu over promise, yang perlu dilakukan hanya lebih giat menawarkan, lebih jelas menonjolkan manfaat, dan buat kesepakatan penjualan segera. Pengalaman membuatnya percaya diri sekaligus peka terhadap arah penetrasi yang salah.
Dia bahkan berani menolak coverage area penjualan yang diberikan Bos padanya , dengan lantang dia pernah berkata ,
“ Bahkan saya takut Bapak tidak bisa membayar gaji saya jika memaksakan penjualan di area ini ..!! “. Ya, karena ibarat komandan pasukan dia tidak pernah mau berperang pada peperangan yang tidak ia menangkan.
Kecocokanku di customer service juga sebenarnya karena terbekali cara-cara Han dalam berkomunikasi, yang selalu singkat, tepat pada kasusnya, dan segera memberi solusi. Sebenarnya sama saja tekniknya hanya beda tema. Jika sales, terlalu banyak bicara hanya akan menghabiskan waktu untuk mengejar jumlah prospek pelanggan. Namun customer service, terlalu banyak bicara hanya akan mengurangi jumlah kasus masuk yang bisa ditangani. Bedanya lagi bagianku itu adalah pasif-action, hanya menunggu saja berapapun complaint yang masuk. Tentu saja di saat-saat tertentu bisa santai, karena tidak ada target, kecuali standard waktu bicara yang rata-rata 3 menit itu.
Prestasiku memang melejit sih, dan ketika kemarin aku sudah bisa memimpin timku sendiri, Han juga mengucapkan selamat dari kantor barunya.
“Ini Han, masih inget gue kan ...”
“Ah Bapak manager ya .... sekarang, ada yang bisa dibantu Pak ? “ jawabku ramah.
“Kamu ini formal sekali ya, sudah jadi leader disitu ...selamat yak “
“Han ... kan kamu guruku pertama kali kerja di sini “ ucapku tulus.
“Guru yang dulu sering ngomelin kamu yak, sudahlah.... klo gitu guru mau kasih hadiah ngajak kamu makan-makan boleh ? “ tak pernah kusangka dia sebaik ini, dia ingat aku saja sudah senang, eh malah nawarin makan-makan untuk ngerayain.
Han juga tahu aku suka steak, karena dulu pernah menangkap basah aku, ngabur siang-siang makan steak bersama teman-teman di Mall. Kali ini di counter favorit itu pula, dia mengajakku makan steak.
“Jangan cuma pesan es teh ya .... kau menghinaku nanti ha ha ..” tegasnya sambil tertawa.
“Han kamu baik sekali ada apa sih ? Aku kan belum pernah memberi apa-apa yang berarti buat kamu ”
tanyaku dengan sedikit heran.
“Ah kamu, bagi-bagi rejeki ga ada salahnya toh, lha kalau nunggu aku utang budi ke kamu ... ya keburu mati ga bakal ngerasai nikmatnya bagi-bagi rejeki ma temen kayax begini toh ..” sahutnya cepat dan mantap.
Han memang tak pernah tanggung-tanggung kalau bekerja. Demikian juga kalau membantu. Maka yang mahal dari dia adalah komitmennya. Ketika dia berkomitmen, semua harus tuntas dan tercapai. Semua anggota timnya harus bekerja seperti dia. Sebenarnya dia sendiri dulu menyiapkan timnya, sama seperti dirinya sendiri, jadi jika ada yang fail pasti hanya karena satu alasan yaitu malas.
“Yo, aku jujur mau buat pengakuan salah buat kamu ..” ujarnya tiba – tiba sambil menimati juice – punch kami.
“Upps...brsst brrpppss ....!! ” aku kaget dan sedikit tersedak.
“Aku sekarang mengerti ... kamu lebih mendapatkan damai dibandingkan aku ...” kalem tapi pasti.
“Yang benar saja dong Han ... kamu kan hampir punya perusahaan sendiri juga “ aku semakin tak mengerti.
“Justru itu, aku sudah terlanjur terbawa arus kesibukan kerja, ... walau semua kebutuhan fisikku sudah terbeli .. tapi aku sadar ujung-ujungnya kita mencari kedamaian “
Han kemudian bercerita. Dia dulu sempat kesal dengan kemalasanku .. eh tepatnya cara kerjaku yang dianggapnya terlalu santai. Aku ingat bahkan dulu, aku paling sering diawasi olehnya, dari jam masuk sampai target closingan harian. Aku sendiri sih selalu berpikir hidup sekali, kerja mati-matian, mati beneran kalau ga bisa menikmati. Dasar bandel, kadang-kadang ngabur sudah biasa, walau tetep aku hitung-hitung resikonya. Han sekarang rupanya sudah teracuni aku ha ha .. enggak sih dia sampai pada suatu kesadaran, bahwa tujuan pengejarannya selama ini hanyalah semu. Satu titik target yang dikejar, dan terus dikejar, pertanyaannya sampai kapan, dan apa sih yang dicari, apa ya hanya kesenangan mengejar sesuatu ?
“ Sorry nih Han, kamu punya moment tertentu hingga mempertanyakan itu ? “
“ Iya,... ketika suatu saat aku menyetir mobil, dan melihat Pak Tua yang bisa tidur nyenyak di pinggir jalan hanya beralas koran di sebuah gerobak “
“ Kamu yakin dia tenang ? Barangkali malah dia kecapean habis dikejar-kejar petugas penertiban kota ... ha ha ha “ selorohku becanda.
“ Enggaklah, mungkin asumsimu benar ... hanya aja kita ini kan pasti punya beban masing-masing, cuma aku jarang sekali bisa tidur nyenyak ... selalu kepikiran target ini itu. Tapi Pak Tua itu, bisa masa bodoh dengan urusan apapun ... bisa hidup damai “
“ Ya manusia itu memang gitu Han, dia bisa survive, dan mencari cara enaknya sendiri menjalani hidup “ tukasku spontan.
“ Nah itu pointnya, Yo.... makanya aku minta maaf ke kamu, soale aku dulu pernah nganggep kamu ga berhak ngerasain hidup sejahtera karena kuanggap kamu pemalas ...ternyata sekarang malah aku sendiri sekarang yang terjebak susah sendiri menikmati apa-apa yang seharusnya bisa kudapat ..”
Aku tercengang dengan pengakuannya. Aku hampir tak percaya seorang pekerja keras sepertinya malah susah menikmati hidup. Tapi ya dipikir-pikir benar juga. Malah sebenarnya aku belajar lagi satu hal darinya. Aku belajar bersyukur tentang apa saja yang sudah kuperoleh selama ini. Padahal aku dulu sering minder jika berdekatan dengannya. Ternyata memang benar Tuhan sudah mengatur rezeki masing-masing, tapi dibalik itu yang sering dilupakan orang Tuhan juga memberikan beban tanggungjawab seiring dengan besarnya rezeki itu.
“ Ah ya diitung-itung juga tetap enak kamu Han, punya mobil sendiri, rumah sendiri, ga kuatir utang kartu kredit ...” belum sempat aku meneruskan kalimatku, dia sudah memotong,
“ Hanya titipan Yo ... hakekatnya “
“ Titipan ?... ah ga percaya , duitmu kan cukup untuk beli sendiri ...?” ujarku semakin tak mengerti.
“ Kamu antar jemput kantor kan, berarti mobilnya punya kantor, kamu pake ya selama kamu kerja disitu. Kalau aku punya mobil sendiri, tapi ya selama aku masih kuat kerja ngebiayain mobil itu, padahal rezeki yang punya Tuhan, kalau aku misalnya dikasih sial .... ya sama aja”
Han tak kukira sama sekali dia bisa sampai pada kesadaran setinggi itu. Belum tentu kalau aku sekaya dia, masih bisa memikirkan bahwa hakekat harta itu sesungguhnya titipan Tuhan yang bisa diambil sewaktu-waktu.
“ Makanya Han, ga ada gunanya egois nyimpen-nyimpen sendiri namanya rezeki. Sama-sama titipan ngapain rebutan. Sama-sama titipan kenapa ga dibagi-bagi. Namanya titipan ya kalau diambil yang punya ga usah protes, damai lho ... akhirnya aku mikir kerja itu ya hanya sekedar ngejalanin talenta yang sudah diberkahkan buat masing-masing kita ... Kalau pun ada yang dapet rizki lebih ya bukan untuk disimpen sendiri, justru mungkin dititipi untuk dibagi-bagi ....”
Benarlah damai karena mau membagi. Mau menang sendiri hanyalah memicu iri dengki. Apalagi kalau memanfaatkan orang lain untuk kepentingan sendiri. Ah indahnya, kesadaran bahwa yang kita punya ini hanyalah titipan. Kita tak segan berbagi, karena memang titipan Tuhan itu adalah amanah untuk dibagi untuk mereka yang kekurangan. Tidak ada manusia yang diciptakan sama dalam talenta dan kemampuannya, Tak perlu iri atas keberhasilan dan kelebihan orang lain, tak perlu memaksakan diri menyerupai orang lain, karena memang tak mungkin akan sama. Optimalkan saja yang kamu mampu, syukuri apa yang dapatkan, sehingga dengan itu damai hatimu akan tercapai.
Kudengar handphonenya berderit di meja. Han berbicara sebentar dengan seseorang di ujung sana. Sepertinya ia memberi beberapa arahan.
“ Nah, pekerjaan memanggil lagi nih ... thanks lho sudah ngasih kesempatan aku ngerayain pengangkatanmu ..” dia tersenyum, sekali lagi memberi selamat. Aku masih saja tak percaya bahkan di saat terakhir pun dia yang lebih dulu mengucapkan terima kasih.
Aku berdoa dalam hati. Semoga selalu kau temukan kedamaian dalam hatimu, Han.
by fixshine
ditulis untuk Ikastara.org
untuk mereka jenuh dalam ritual kerutinan dan mencari pencerahan
amy982274
30th December 2008, 07:40 PM
cerita bagus bang..:)
Powered by vBulletin® Version 4.2.0 Copyright © 2013 vBulletin Solutions, Inc. All rights reserved.