PDA

View Full Version : “Cerita tentang Kamu” bag 2



fixshine
21st December 2008, 07:22 AM
Itu Cukup
( bagian kedua dari trilogi “Cerita tentang Kamu” )

Menurutmu bagaimana membaca tulisannya seperti itu. Tahukah kamu aku seperti tak menginjak bumi lagi, tanganku tak merasa berpegangan apa, dan di ujung dunia yang antah berantah ini aku merasa semakin melayang dibuatnya entah di dunia apa lagi ini.

Oh mengapa dia yang menuliskannya untukku ?
Oh mengapa harus dia yang sangat jauh dari impian-impianku ?
Oh mengapa dia yang menyanjungku sedemikian hingga ?

Aku bertanya padamu …
jujurkah dia ?
sekedarkah kepandaiannya merangkai kata ?
dan dari sedemikian hingga keindahan itu aku harus berbuat apa padanya ?

Aku sering mendapatkan perih dalam hidupku
sendirian aku tak kuat, hampir gila …
sendirian aku terhimpit,
sendirian tak kuasa menanggung pilihanku sendiri,
… dan dia datang, sebagai jawaban doaku

Aku ingin tempatku bersandar
tempatku ingin menumpahkan tangis
tempatku ingin melepaskan ikatan tatakrama yang menyesakkan
tempatku ingin berbagi cita yang seringkali dipandang sebelah mata
… dan dia datang begitu saja,

Aku terhibur dengannya
tapi aku tak siap tersanjung karena tulisannya
… ah kejamnya dia sekarang, membuat jurang dua sisi duniaku. Membawaku ke awan tinggi sekali, namun ketika kesadaranku menoleh ke bawah … betapa ngerinya, betapa dalam jurang itu, bagaimana jika aku terpeleset sekali lagi ? Aku pernah jatuh, sakit sekali. Aku tak mau jatuh lagi, … entah seperti apa lagi sakitnya nanti.

Tahukah kamu ? tulisannya itu benar. Seperti sering diakuinya, dia penulis yang hanya bisa menulis dari letupan-letupan perasaanya. Kamu juga pernah membaca salah satu pendapatnya bukan ? Banyak cara menulis, bahkan dari es-dhe sampai kuliah pun ada pelajarannya, tapi yang terindah ketika kejujurannya itu sampai menyentuh hati. Dan lihatlah olehmu, mataku kini basah, lidahku kelu, dan oh … Tuhan seperti tersiram air es, aku hampir membeku, aku hanya bisa terpaku. Keterpanaanku, tak pernah kusangka bahwa dia benar-benar yang menulis itu, membuatku seperti terhenti dalam waktu, tapi ah … dia kejam sekali, aku tak siap, atau bahkan mungkin tak akan pernah siap ? sehingga ketika waktu yang terhenti itu bergulir kembali, aku malah meragu … aku menafikkan tulisan-tulisannya kembali.

———-

Aku memandangi kotak messenger itu. Menurutmu kenapa ? Jujur aku ragu dan takut membuka login messenger itu. Bagaimana kalau dia online ? Bagaimana kalau dia menyapaku duluan ? Bagaimana kalau dia menanyakan kabarku ? Adu duh … kejamnya dia, membuatku salah tingkah begini. Teganya .. teganya dia, dan aku akan sebal sekali jika dia akan berlagak tidak tahu apa-apa, menganggap semuanya biasa. Seakan-akan dunia ini easy going, tapi seperti kamu tahu …. complicated unease !!! apalagi tanpa dia bagiku. Ah sial, aku mengakuinya juga.

Sudahlah kutantang diriku sendiri saja, I’m not a looser ..!!!

Dan belum lagi messengerku komplit membuka seluruh daftar teman-teman onlineku, pop up messagenya muncul. Ya dia memang bukan sekedar nangkring dalam list messengerku dari dulu. Tidak hanya selalu online entah kenapa. Tapi juga seakan tak mau keduluan menyapaku.

– hei hei, disituw idup ? –
tuh ‘kan benar sapaannya khasnya, seakan-akan dia tidak baru saja membuat kehebohan di hatiku.

– enggak, dah melayang2, I hate u !! beware –
– atuttttt ah –
– u must, I’ll haunt u !! –
aku selalu suka dia dari caranya mencairkan suasana.

Sekarang antara senang dan kesal menyelimutiku. Senang karena aku merasakan kembali kehangatan candanya. Kesal karena bisa-bisanya dia mempermainkan perasaanku. Hu huhh .. serius ga sih dia suka padaku, kalau cinta ko kayax main-main begini, kalau deket pengin rasanya kucakar-cakar dirinya, ada ga yak icon nyakar-nyakar orang di messengerku. Atau begini saja, kalau kamu sedang duduk di sebelahnya tolong cakar-cakar wajahnya, kalau dia marah bilang aku hu huhh.

Tapi jangan ding, aku masih butuh dia .. Biar model klasik foto id messengernya itu ga pernah berubah dari jaman bahulea, dialah yang sering menyejukkan hatiku. Tak peduli dia berceloteh apa, tapi dalam bahasa kami .. bahasa buana kami, dia seolah selalu ingin berkata,” aku selalu ada di sini, tenangkan hatimu ..”

————————–

Seperti kamu tahu, telah kutinggalkan jauh negeriku. Fisikku terbang melintasi negeri-negeri jauh. Tapi sebenarnya aku tidak berubah, aku tetaplah aku dengan namaku dengan kebodohanku, kenaifan diriku, dengan keterkungkunganku dalam sebuah kebutaan. Aku dan buku – buku yang kutekuni mencoba meraba dunia. Tapi itu tak cukup. Karena dunia yang luas ini, terlalu luas bahkan dibanding beberapa centimeter halaman buku. Dan yang pasti terlalu liar, untuk ditebak dibandingkan teraturnya baris-baris kalimat dan paragraf dalam masih buku – buku itu.

Kamu juga pasti spontan akan mengatakan kalimat persetujuan pada betapa “freak” nya diriku pada aturan. Seperti disiplin-nya para penulis buku literatur yang harus mencantumkan darimana mereka mendapat sumber pengetahuan. Aku suka kejujuran, aku suka pertanggungjawaban, aku suka komitmen penuh. Sayangnya aku tak hidup di dunia buku, tak hidup dalam dunia yang bisa diramal dan dipastikan rumus-rumus fisika, bahkan hukum ekonomi pun masih tergantung dua kata yang menyebalkan “ceteris paribus”. Aku sendiri melangkah, memaksakan kedisiplinan yang kuyakini, tapi lihatlah sekelilingku … hum aku hanya bisa menutup mata, daripada keyakinanku terusik.

“……
Honestly what will become of me
don’t like reality
It’s way too clear to me
But really life is dandy
We are what we don’t see
Missed everything daydreaming…”
(All Good Things / Nelly Furtado / Loose )


Jika 2 kutub saling bertentangan bersinggungan apa yang terjadi ? Woylaa … tepat jawabanmu, bahkan tak perlu orang pintar untuk tau, bahwa tak pelak akan percikan api atau parahnya ledakan semesta halilintar. Tapi itu hanya terjadi jika 2 kutub itu masing-masing punya daya yang sama. Namun jika tidak ? Homo homini lupus … yang kuat akan memangsa yang lemah. Sayangnya aku lemah. Sayangnya aku tak punya daya. Tokh aku juga tak mau memelas belas kasihan, apalagi pada mereka yang jelas-jelas berbeda denganku. Mereka boleh menang, setidaknya aku memenangkan prinsipku sendiri, untuk diriku sendiri. Bersimbah air mataku ketika banyak impianku melayang karena kelemahanku, dari apa-apa yang tidak kumiliki, tapi sampai kapan ?

Lalu dia muncul, entah sengaja, entah kebetulan, atau itu entah itu kebiasaannya. Walau dulu dia kukenal hanya sekedar nickname yang sering getol ngepost di forum, bisa-bisanya dia menyapa dulu. Kamu pasti juga sependapat kalau selayaknya setiap perkenalan harus disambut baik, sehingga semoga Tuhan membuka pintu-pintu rizki.

– suka membaca novel apa ? — dulu dia bertanya begitu.
– yang pasti bukan chiklit, aku bukan seperti kebanyakan ce —
– kalau begitu pasti pernah ngintip The Alchemist — terkejutlah, mengapa dia bisa menebak begitu tepat ? itulah satu-satunya novel yang kubawa, dan selalu kubaca bolak-balik untuk menguatkan tekadku.

– ehm ehm … gimana bisa langsung menebak ? –
– cuman nyari temen yg sama-sama ngefans cuelho ajah – santai sekali jawabannya. Tapi cukup memberiku tanda bahwa kita telah berjodoh dalam moment itu.

Aku tidak tahu apakah dongeng The Alchemist itu pernah ada atau tidak. Tapi yang kukagumi setiap aku membacanya kembali selalu saja ada kalimat-kalimat baru yang membuncahkan maknanya.

– kamu suka Santiago ? — tanyanya mulai membahas novel itu.
– tentu, dari kepolosan hingga begitu percayanya pada the universal language, menjadikannya punya kekuatan memanggil badai … wuihh — jawabku dulu bersemangat.
– kedengarannya seperti the power of mind yak, itulah hebatnya cuelho menjadikan Santiago sebagai tokoh utama dan bukannya sang alkemis sendiri — aku jadi berpikir, benar juga.
– Iya yak, baru nyadar padahal judulnya The Alchemist, kamu sendiri ingin menjadi Santiago ? –
– Cuelho ingin semua pembaca novelnya menjadi Santiago tokh, tapi tokoh Fatima lebih menyentuhku –
– lho dia kan cuma diceritain sebentar –
– tapi sebentarnya tampil, menjadi alasan Santiago berjuang. Ketika Santiago bertemu Fatima ia melupakan cita-citanya. Tapi Fatima menunda menerima cinta Santiago, ia menyuruh Santiago mendapatkan cita-citanya lalu boleh kembali padanya, dan hebatnya ia bersabar dalam penantiannya –
– mereka punya mimpi bersama, kali .. — komentarku.
– itu bukan bagian yang diceritakan —
– lalu ? –
– karena Fatima percaya .., karena Santiago percaya –

Singkat saja kesimpulannya, karena percaya. Lupakan besarnya hambatan, lupakan betapa mengerikan musuh, lupakan betapa tidak adanya harapan, cukup percaya dan semua jalan akan terbuka.

Kok jadi mengajak kamu, ngelantur soal Cuelho dengan The Alchemistnya sieh ? Memangnya kamu pernah baca The Alchemist ? Coba bacalah .. untuk tahu mengapa Cuelho sangat terkenal dengan novel itu, bukan sekedar novel, tapi ukiran kerendahan hati Cuelho untuk menggambarkan bahwa semua orang yang percaya layak mendapat kekuatan dari-Nya.

Awalnya dari novel itu barangkali, dia bisa memasuki logika-logikaku. Ketika banyak dari keluhku meragukan diriku sendiri, dia hanya menuliskan message :

– aku percaya kamu –

dan itu cukup, kalau ada satu orang saja yang percaya pada kemampuanku, kenapa aku tidak ?

– tapi kalau gagal ? –
– aku tetap percaya padamu, karena Tuhan akan mengganti kegagalanmu –
– ko nyambungnya ke Tuhan sih ? –
– karena manusia wajar untuk salah, tapi Tuhan tidak pernah salah –

Bukan itu saja, aku memang manja, sering merepotkannya juga. Minta dicarikan artikel ini dan itu, yang sebenarnya bisa kucari sendiri di google. Tapi ko dia ga pernah komplain yak, atau karena dia sudah kebanyakan dikomplain orang kali jadinya kebal. Aku memang butuh kok, lupakan dululah soal ga enakan, nanti aja minta maafnya. Kadang-kadang memang tidak serta merta terbantu sih, dan aku suka kalau dia jujur meminta waktu. Aku sabar, dan dia pasti menepati janjinya.

Dan waktu menenggelamkanku pada rutinintas, aku semakin mandiri dengan tugas-tugasku. Tapi aku dan dia tidak saling menjauh. Kami masih bicara dalam banyak hal. Dia serasa memang bukan teman sekedar dunia maya saja. Yang kuheran pada setiap konflik-konflik yang kuceritakan dia selalu mengatakan kata “wajar” dan aku jelas kesal. Aku mendebatnya seru, tapi selalu berbalas celetukan-celetukan ringan yang membantuku keluar dari batasan-batasan subjektivitas. Bahwa sebagai pribadi, yang lebih penting berkaca pada diri sendiri dulu sebelum menyalahkan orang lain.

Tentang pacar, kekasih, oh jika kamu bertanya itu, aku pernah punya dong, aku normal ko he he he. Tapi tentu bukan dia. Tetap beda rasanya, ehm ..eh..iya iya cuma masalah keduluan barang kali. Dia tak pernah menampakkan sikap-sikap jealous dan sebagainya halahh .. sebaliknya dia menasehatiku bahwa sebagian besar cinta adalah masalah emosi selebihnya ketika serius menjalin hubungan, logika harus bicara. Aku jujur padanya ingin tiap hari menelpon kekasihku, tapi dia meledekku bahwa aku akan makin kurus karena uang sakuku hanya untuk gizi pulsa. Aku juga menumpahkan kekesalanku jika kekasihku cuek, tapi dia meledekku orang jutek mana keren. Dan ketika aku benar-benar putus dengan kekasihku, dia tetap tenang dan terus menyemangatiku bahwa aku sudah memilih jalanku sendiri dan tidak mengorbankan perhatianku untuk hal-hal yang selalu menyakitiku.

Dia tidak melarangku menangis saat-saat perihku, dalam kelapangan hatinya menemaniku, dia membuatkan sungai agar air mataku tersalurkan.

– bersabarlah, waktu menyembuhkan –
– kamu yakin ? –
– aku percaya –
– tanggung jawab ya, klo enggak –
– I’ll never leave u –

Dan benar, dia setia menemaniku ..
Sehingga luka sayap-sayap patahku mengering dan sembuh
Sehingga tulang sayap-sayap patahku menguat dan kembali mengepak
Sehingga aku dapat terbang kembali menembus awan, menyisir mega, dan bebasku hinggap di mana-mana

Pernah aku bertanya padanya,
– kamu pernah sakit hati ga sieh ? –
– knp ? –
– ko dengan gampangnya nyuruh2 aku sabar, susah tau .. –
– ha ha ha ha –
– hei serius, jng sampai cm jd kelinci percobaan buku-buku bacaanmu yak –
– sama seperti yg kita bicarakan tiap hari, hny berbagi pengalaman saja –
– kamu jg pernah menangis ? co pernah menangis ? –
– berhari-hari .., feel loosing, feel nothing –
– mrs tanpa pegangan, kehilangan bumi tempat berpijak jg ? –
– ya –
– lalu bagaimana kamu hidup sampai sekarang ? –
– aku mencari teman –

Teman.
Kata yang sederhana. Tapi teman seperti apa ? bukankah susah mencari teman ?

– teman untuk membuka cerita-cerita baru –
– maksudmu ? –
– melawan kepedihan hati itu lebih parah, drpd sekedar menerimanya –
– memangnya kamu pernah ? –
– ya –
– seperti apa memang kamu melawannya ? –

Kemudian dia bercerita tentang orang-orang yang datang dan pergi darinya. Dia mengakui dia juga sering berbuat kebodohan, egois, dan seterusnya. Aku juga bahkan ikut-ikutan meledek kebodohan perilaku masa lalunya. Namun, aku juga bersimpati pada dilema-dilema pilihan hatinya. Lalu setelah banyak dia berbagi ceritanya, aku juga serasa mengerti diriku sendiri. Dia membukakan cara baru memandang dunia, beserta kemungkinan-kemungkinan liarnya. Selalu ada yang datang dan pergi, dan itu wajar. Ada saat kemarahan, kebencian, melanda. Namun, kita juga masih tetap bisa merasa bahagia, tergelak tawa, atau sekedar nyengir ga keruan di foto.

“………
Flames to dust
Lovers to friends
Why do all good things come to an end ? …”
( All Good Things / Nelly Furtad / Loose )

—————————–


– aku pernah melawan perasaan pedihku dengan menyalahkan orang lain, membenarkan diriku dengan berbagai alasan — dia mengakui.
– hasilnya ? –
– dendam tak berkesudahan, memandang jijik orang yang kubenci, sangat ironis ketika kuingat masa-masa manis kami –
– sekarang masih ? –
– tidak, aku sudah menerima sebagai bagian cerita, tidak akan berpengaruh lagi kecuali aku yang membuka-buka luka lama itu kembali –
– tentu ada ‘kan yang seseorang membuatmu bisa melupakan itu semua ? –
– ya –
– siapa ? aku ingin tahu siapa dia –
– dia itu …–
– ayolah, jangan malu-malu kita ‘kan teman –

dia tidak segera menjawab, kutunggu beberapa saat, dan ..

– kamu –

aku sempat terkejut sesaat apa maksudnya, sih

– aku ? knp ? becanda ah –
– kan sudah kubilang, aku butuh teman, untuk membuka cerita-cerita baru…–
– cerita-cerita tentang apa ? –

sesaat aku memang curiga saat itu.

– cerita-cerita tentang pengampunan, kesyukuran, dan bagaimana kita harus menghadapi segala sesuatu dengan cara terbaik yang kita mampu –

lalu aku teringat pada saat-saat pedihku, dia membagikan kalimat-kalimat doanya padaku,

“ Tuhanku Sang Maha Pemberi Kasih, kuatkanlah hatiku selalu, … limpahi aku dengan cinta .. limpahi aku dengan cinta … limpahi aku dengan cinta, aku ingin cinta mendamaikan aku, aku ingin cinta memberi kekuatan untukku terus hidup, aku ingin cinta memberiku cahaya penerang jalanku ..”

———

– BUZZ!! –
– BUZZ!! –

kotak messenger bergoyang keras, berikut suara nyaring berisik
– ngelamun ya neng, ko ga jawab2 dari tadi ? –

aku tersadar kembali, tertarik menghadapi dia dengan kotak messengernya di masa kini.
– kamu ini jahat yak –
– knp ? –
– menulis itu semua, jangan pura-pura tidak tahu deh –
– oh, .. kamu marah ? aku bisa dengan beberapa kali pencet tombol menghapuskannya ko –

dia yang spontan, jujur, dan kadang-kadang tidak terduga, sekarang malah membuatku bingung sendiri. Sesungguhnya aku juga tersanjung, tapi juga malu, ah sudahlah … aku memang tak pernah akan siap untuknya.

– wait, kamu yakin akan menghapusnya ? tulisanmu bagus, sayang kalau dibuang begitu saja, lagian orang tidak tahu kalau itu aku –
– kamu lebih indah ‘kan, kamu yang memberiku banyak cerita-cerita indah yang baru ‘kan –

Kamu baca sendiri ‘kan, bagaimana kalau kamu di posisiku, dia jahat sekali … dia selalu tahu aku tak akan pernah siap menerima kalimat-kalimatnya seperti itu. Tapi kamu tahu sendiri, tiba-tiba terpampang begitu saja di depanku

– jika aku harus kehilangan banyak cerita-cerita baru bersamamu, hanya karena aku egois tak mau menghapusnya, aku memilih Ctrl-A lalu tombol Del –

Menurutmu, aku harus menjawab apa, kenapa balik aku yang merasa seperti bertanggung jawab ? Aku seperti Judge Bao yang harus memberi putusan pengadilan pada seorang Ksatria yang mengakui kesalahannya. Dia bisa saja dianggap salah, membuatku malu, dia harus dihukum. Tapi benarkah begitu ? Karena aku juga tersanjung ko karenanya, sangat.

– aku tunggu 10 detik, jika kamu tidak menjawab .. aku hapus tulisanku –

satu detik berlalu,
dua detik berlalu,
tiga detik berlalu,
…. aku masih terpana, belum bisa mengambil keputusan

sembilan, sepuluh ….. ah tidak ! aku terlambat !!

– JANGANN !! —

beberapa detik kemudian hening.

– ma kasih yak –

entah kenapa aku tersenyum.

– kamu pernah menceritakan padaku soal filosofi lalat yang begitu setia mengerubungi kotoran kerbau sampai bau busuknya hilang, kamu telah rela mendengarkan banyak cerita pedihku, juga kebodohan-kebodohanku, kamu memberikan kelapangan hatimu, aku ingin berterima kasih padamu — aku sekarang harus jujur juga padanya
– tapi juga …. — aku masih menambahkan
– tapi juga apa ? –
– tetaplah begitu … jangan pernah jauh dariku –
– aku juga tak pernah ingin jauh darimu –

Ah lega rasanya sekarang.
Tahukah kamu ? Itu cukup.

Buatku, buat dirinya.











by fixshine,
thx to dia yang sudah mengizinkan
tulisan pribadinya untukku dirombak ulang

Link :
bagian 1 dari trilogi “Cerita tentang Kamu” (http://ikastara.org/forum/showthread.php?t=600)
bagian 2 dari trilogi “Cerita tentang Kamu” (http://ikastara.org/forum/showthread.php?t=601)
bagian 3 dari trilogi “Cerita tentang Kamu” (http://ikastara.org/forum/showthread.php?t=602)

fixshine
27th January 2011, 11:20 AM
klo yang ini kebalikan seri 1 nya, ce nya kebingungan ditembak co nya , masih sudut pandang orang ke 1 ( tp dr sisi ce )

IntanRianda
4th February 2011, 11:58 AM
wahhhh.. yang ini dah jauh lebih gampang dimengertiii...
bagus bang.....