fixshine
11th December 2008, 12:00 PM
Seorang Direktur suatu perusahaan sedang khawatir dengan kondisi perusahaan yang dipimpinnya. Ia yakin kualitas produk yang dipasarkannya tidak kalah dengan para pesaing. Para konsultan yang melakukan penelitian intern menyarankan supaya kepedulian kerja para karyawan harus ditingkatkan dengan semacam “training softskill”. Yaitu training yang mengangkat motivasi dan kesadaran pribadi untuk bekerja.
Direktur itu akhirnya memanggil seorang trainer khusus untuk memberikan training per divisi bergantian selama 3 bulan. Trainer ini memfokuskan bahan trainingnya pada cara berkomunikasi antara atasan dan bawahannya. Setelah training banyak Standard Procedur yang mengalami revisi total, lalu secara fantastis 6 bulan kemudian perusahaan itu mengalami masa - masa keemasannya.
Sebenarnya apa yang di bicarakan dalam materi training si Trainer tadi ? tak lain hanya permainan bicara atau buta.
Tukang Perintah vs para pemalas
“Hari bahagia bukan para peserta training sekalian ?” trainer itu menyapa
“Maksud anda ?” terdengar nada tidak senang
“Saya melihat wajah - wajah cerah anda semua “
“Ah anda tak ubahnya seperti manager-manager penjilat dan suka membawa janji-janji surga itu … mengaku sajalah anda kesini hanya mau uangnya kan ? Mari kita percepat prosesnya bagikan saja absennya kami tanda tangani, dan kita akhiri sesi-sesi membosankan ini ..” suara lain malah memprovokasi.
Trainer itu hanya tersenyum. Sebagai trainer berpengalaman bukan satu dua kali dia mengalami penolakan seperti ini. Ia tetap percaya diri. Ia punya trik.
“Maksud anda kita akan punya sekedar waktu untuk ngobrol, makan-makan snack, mengutuki para manager yang menyebalkan itu, kemudian kembali ke kantor sebentar untuk mengisi absen kehadiran ? “
“Apalagi toh perusahaan mau bangkrut, kami hanya akan menjaga kekompakan agar pesangon kami tidak dibawa kabur orang-orang kapitalis itu ” peserta yang duduk depan sendiri menegaskan lalu disambut riuh rendah suara sorak sorai “
“Ya kalau begitu memang hal itu yang akan saya lakukan pada anda ..” trainer itu mengedipkan mata, lalu membuka jasnya, melepas dasi, menyingsingkan lengan kemeja, tampak benar-benar tidak ingin melanjutkan sesi trainingnya.
“Kabar baiknya lagi di ruangan sebelah saya sudah menyediakan snack, beberapa cangkir kopi,… apakah ada diantara bapak-bapak sekalian yang mau menemani saya untuk tetap di ruangan ini ? “
Para peserta mulai terpecah dalam pikiran masing-masing. Snack dan kopi di ruangan sebelah memang terlihat sebagian karena pintunya terbuka sedikit. Semula mereka pikir hidangan itu untuk para bos yang mau datang menjenguk. Beberapa orang berpikir pergi meninggalkan ruangan sudah pasti merugi karena diluar panas sangat terik, dan kalaupun mau makan di warung mereka berpikir dua kali, jika ada yang gratis sudah disediakan mengapa masih harus membeli.
Detik pertama, detik kedua, … lalu satu menit setelah beberapa kepala menoleh kanan kiri dan tidak mendapat respon teman yang ingin keluar ruangan, suasana menjadi lebih kondusif.
“Ah benar kan, kita memang punya pikiran yang sama. Saya bangga kepada para peserta yang sudah memilih tawaran saya yang kiranya sangat menguntungkan ini … oleh karena itu saya masih akan menawarkan beberapa hadiah, jangan dilihat wujudnya .. tapi lihatlah betapa saya sangat menghargai bapak - bapak yang mampu memilih tawaran yang paling baik …” si trainer mengeluarkan beberapa bungkusan kado kecil yang sudah terbungkus rapi.
Antusiasme peserta training sudah mulai tampak.
Trainer itu menggunakan momen selanjutnya untuk berkenalan. Menanyakan latar belakang lalu memujinya.
“Bapak … Mujiono, oww dari bagian teknis, dari Semarang ya.. kita sekota asal, memang banyak orang hebat dari sana..”
“Bapak ..Arif, pernah mencapai penjualan diatas 300 unit dalam sebulan ? woww sangat fantastis ..saya pribadi harus belajar dengan Bapak nih .. nanti private time ya Pak ? “
“Kalau ini Mas Jono ya .. wah baru lulus sudah berkeluarga yak, uah sungguh besar tanggung jawabnya .. semangat ya Pak keluarga di rumah selalu berdoa untuk Bapak ..”
Demikianlah sampai akhirnya seluruh peserta rapat dikenal trainer itu. Mereka berbagi humor juga. Peserta training mereka pelan-pelan terbawa dalam arus training yang sebenarnya.
“Nah bener kan Pak saya cuma mau ngajak ngobrol-ngobrol legal, daripada nyuri-nyuri waktu mbolos mending di sini ya nggak ?” kali ini disambut tertawaan akrab para peserta.
“Sebenarnya saya ini agak ga enak mo curhat, karena kemarin habis adu argumentasi dengan bos-bos anda ..”
Suasana kemudian mulai mengarah serius.
“Wah Bapak .. sudah mulai kemasukan doktrinasi mereka yak, benar-benar tak tahu diri mereka bisanya cuma merintah saja memang tuww !!” terdengar peserta bagian belakang menunjukkan perhatian.
“Kemarin itu Pak Bos mau ngadain program rasionalisasi gaji dan efektifitas kerja karyawan ..” trainer itu membangun suasana dramatis.
“Mau ada yang dipecat lagi ya Pak, he he sanggup ga tuh mereka bayar pesangonnya ?” ada nada sinis lain.
“Lagian perusahaan pesaing siap nerima ko, boleh saja kalau berani asal pecat ..” suara peserta bagian pinggir menimpali.
Inilah bagian emosi yang diharapkan trainer itu untuk menunjang antusiasme. Trainer itu lalu bercerita bahwa dia sudah berusaha menyarankan Dewan Direksi agar tidak menjalankan program rasionalisasi tersebut. Alasannya sama persis dengan yang diungkapkan beberapa peserta training tadi. Sebagai gantinya dia menawarkan program perbaikan komunikasi antar atasan-bawahan.
“Pak dimana-mana ujung-ujungnya duit, program Bapak ga akan jalan jika ga ada duit, karyawan ga akan mau kerja lagi lah jika gaji dan bonus kami tidak ditambah … ” masih ada saja suara sumbang nyeletuk.
Trainer itu tersenyum. Oww.. orientasi uang ya rupanya.
“Saya pribadi setuju dengan Bapak, tapi rasa-rasanya nih Pak saya juga tidak mau tuw Pak kalau gaji naik tapi genteng masih bocor aja saja dari kemarin ” balas cerdik si trainer itu.
Uang tidak dipungkiri adalah motivasi kerja. Uang bahkan dapat meningkat menjadi orientasi. Kalau tidak ada uang ya tidak jalan. Sayangnya dalam satu mata rantai kerja, jika satu bagian tidak bekerja sesuai standarnya akan menjadi lingkaran setan penurunan kualitas kerja keseluruhan. Trainer itu pernah mendengar cerita .. bahwa pada ruang administrasi utama, genteng dan plafonnya sering bocor ketika hujan. Ketika bocor praktis semua aktivitas kerja terhent hanya untuk memindah-mindahkan arsip penting agar tidak kebasahan. Sesuai prosedur standar untuk perbaikan membutuhkan pengajuan surat pemohonan penggantian dan perawatan ruangan ke bagian GA (General Affairs). Namun setelah surat diajukan .. tiada kabar berita. Jika diklarifikasi Sang manager GA hanya menerima proposal yang akan ditandangani 10 buah per hari dari sekretaris. Nah ketika ditanyakan berkas tersebut ke sekretarisnya, dia menjelaskan bahwa jika dalam seminggu surat tersebut tidak mendapat pengesahan dari manager GA yang bersangkutan, maka divisi bersangkutan harus mengajukan ulang. Sekretaris itu menjelaskan bosnya tidak mau menerima pengajuan proposal yang sudah tidak up to date tanggalnya.
Ironis memang, semakin uang menjadi sebuah orientasi maka hingga detil terkecil perlu uang agar dapat berjalan. Padahal seharusnya ketika seseorang diterima bekerja dalam suatu perusahaan dia seharusnya melakukan hal yang terbaik pada tanggung jawab pekerjaannya. Selalu berkomunikasi dan penuh kepedulian, agar tiap kekurangan yang tak bisa dihindari dapat ditemukan solusinya dengan cepat dan tepat. Orientasi pada uang juga menunjukkan tidak adanya kepercayaan antar bagian. Dan itu berarti suatu perusahaan sudah memulai penghancuran dirinya dari dalam.
“Oke peserta training sekalian, boleh bantu saya memainkan game kecil-kecilan ?”
Training sebenarnya dimulai.
Orang gila dan pembual
Trainer itu meminta satu orang sukarelawan mengikutinya keluar ruangan, untuk penjelasan skenario sebuah permainan seru.
“Pak saya minta Bapak menjadi tukang perintah…”
“Wah asyik juga nih bisa niruin manager-manager itu, lumayan walau cuma main-main ” gurau peserta sukarelawan permainan tadi.
Trainer itu menjelaskan tugasnya, dia hanya boleh duduk dikursi samping meja, kemudian di bebaskan bicara memerintahkan apa saja ke peserta training lain agar membuka tutup botol yang akan diletakkan di tengah meja nantinya.
“Ingat ya Pak, Bapak hanya boleh menggunakan kata-kata Bapak .. hanya bicara untuk memerintahkan membuka tutup botol itu nanti …”
“Ah gampang, cuma ngomong kan …” seru peserta itu.
Setelah masuk ruangan kembali trainer itu meletakkan botol bertuliskan “BOM” ke tengah meja.
“Nah, peserta lain sekalian mari kita lihat acting teman kita kali ini …” trainer itu tersenyumpenuh arti.
Selanjutnya muncullah adegan “1000 jurus perintah” dari peserta sukarelawan tadi. Hanya dari tempat duduknya dia berteriak-teriak memberi bermacam-macam jenis perintah. Nada lembut, nada memelas, nada gemas, sampai membentak-bentak semua dikeluarkan hanya agar ada satu saja peserta mau membuka tutup botol itu.
“Bagaimana Pak, masih ada jurus lain ? “
Sukarelawan peserta itu tampak kehilangan akal. Bahkan tampak semua orang menertawakannya layaknya orang gila.
“Begini saja Pak, saya bantu … Bapak tetap tidak boleh melakukan kontak fisik dengan peserta lain … tapi Bapak boleh melakukan semacam pancingan “
Dan sukarelawan itu langsung tanggap.
“Barang siapa mau membuka tutup botol ini silakan ambil uang saya seratus ribu ini …!” dia menunjukkan lembaran merah uang seratus ribu rupiah yang masih mulus itu.
Beberapa orang maju dan adu cepat membuka tutup botol itu. Namun …..
“Yak, BOOOOOMMM……!!!” seru keras trainer itu, kemudian tampak dia tertawa.
“Peserta sekalian ceroboh sekali anda-anda ini .. saya sudah memasang tulisan B O M di botol itu kok tidak diperhatikan yak …”
“Wah .. Bapak menjebak kita semua yak hahahaha “
Pelajaran pertama trainer itu berhasil dengan gemilang. Asal perintah tidak ada gunanya. Dan asal menuruti perintah hanya dengan menuruti imbalan besar (baca: orientasi uang) lebih konyol lagi.
“Ya namanya permainan Pak, silakan rehat dulu .. sambil direnungkan makna permainan tadi, nanti kita lanjutkan permainan lain yang lebih seru…” sahut trainer cerdik itu.
Direktur itu akhirnya memanggil seorang trainer khusus untuk memberikan training per divisi bergantian selama 3 bulan. Trainer ini memfokuskan bahan trainingnya pada cara berkomunikasi antara atasan dan bawahannya. Setelah training banyak Standard Procedur yang mengalami revisi total, lalu secara fantastis 6 bulan kemudian perusahaan itu mengalami masa - masa keemasannya.
Sebenarnya apa yang di bicarakan dalam materi training si Trainer tadi ? tak lain hanya permainan bicara atau buta.
Tukang Perintah vs para pemalas
“Hari bahagia bukan para peserta training sekalian ?” trainer itu menyapa
“Maksud anda ?” terdengar nada tidak senang
“Saya melihat wajah - wajah cerah anda semua “
“Ah anda tak ubahnya seperti manager-manager penjilat dan suka membawa janji-janji surga itu … mengaku sajalah anda kesini hanya mau uangnya kan ? Mari kita percepat prosesnya bagikan saja absennya kami tanda tangani, dan kita akhiri sesi-sesi membosankan ini ..” suara lain malah memprovokasi.
Trainer itu hanya tersenyum. Sebagai trainer berpengalaman bukan satu dua kali dia mengalami penolakan seperti ini. Ia tetap percaya diri. Ia punya trik.
“Maksud anda kita akan punya sekedar waktu untuk ngobrol, makan-makan snack, mengutuki para manager yang menyebalkan itu, kemudian kembali ke kantor sebentar untuk mengisi absen kehadiran ? “
“Apalagi toh perusahaan mau bangkrut, kami hanya akan menjaga kekompakan agar pesangon kami tidak dibawa kabur orang-orang kapitalis itu ” peserta yang duduk depan sendiri menegaskan lalu disambut riuh rendah suara sorak sorai “
“Ya kalau begitu memang hal itu yang akan saya lakukan pada anda ..” trainer itu mengedipkan mata, lalu membuka jasnya, melepas dasi, menyingsingkan lengan kemeja, tampak benar-benar tidak ingin melanjutkan sesi trainingnya.
“Kabar baiknya lagi di ruangan sebelah saya sudah menyediakan snack, beberapa cangkir kopi,… apakah ada diantara bapak-bapak sekalian yang mau menemani saya untuk tetap di ruangan ini ? “
Para peserta mulai terpecah dalam pikiran masing-masing. Snack dan kopi di ruangan sebelah memang terlihat sebagian karena pintunya terbuka sedikit. Semula mereka pikir hidangan itu untuk para bos yang mau datang menjenguk. Beberapa orang berpikir pergi meninggalkan ruangan sudah pasti merugi karena diluar panas sangat terik, dan kalaupun mau makan di warung mereka berpikir dua kali, jika ada yang gratis sudah disediakan mengapa masih harus membeli.
Detik pertama, detik kedua, … lalu satu menit setelah beberapa kepala menoleh kanan kiri dan tidak mendapat respon teman yang ingin keluar ruangan, suasana menjadi lebih kondusif.
“Ah benar kan, kita memang punya pikiran yang sama. Saya bangga kepada para peserta yang sudah memilih tawaran saya yang kiranya sangat menguntungkan ini … oleh karena itu saya masih akan menawarkan beberapa hadiah, jangan dilihat wujudnya .. tapi lihatlah betapa saya sangat menghargai bapak - bapak yang mampu memilih tawaran yang paling baik …” si trainer mengeluarkan beberapa bungkusan kado kecil yang sudah terbungkus rapi.
Antusiasme peserta training sudah mulai tampak.
Trainer itu menggunakan momen selanjutnya untuk berkenalan. Menanyakan latar belakang lalu memujinya.
“Bapak … Mujiono, oww dari bagian teknis, dari Semarang ya.. kita sekota asal, memang banyak orang hebat dari sana..”
“Bapak ..Arif, pernah mencapai penjualan diatas 300 unit dalam sebulan ? woww sangat fantastis ..saya pribadi harus belajar dengan Bapak nih .. nanti private time ya Pak ? “
“Kalau ini Mas Jono ya .. wah baru lulus sudah berkeluarga yak, uah sungguh besar tanggung jawabnya .. semangat ya Pak keluarga di rumah selalu berdoa untuk Bapak ..”
Demikianlah sampai akhirnya seluruh peserta rapat dikenal trainer itu. Mereka berbagi humor juga. Peserta training mereka pelan-pelan terbawa dalam arus training yang sebenarnya.
“Nah bener kan Pak saya cuma mau ngajak ngobrol-ngobrol legal, daripada nyuri-nyuri waktu mbolos mending di sini ya nggak ?” kali ini disambut tertawaan akrab para peserta.
“Sebenarnya saya ini agak ga enak mo curhat, karena kemarin habis adu argumentasi dengan bos-bos anda ..”
Suasana kemudian mulai mengarah serius.
“Wah Bapak .. sudah mulai kemasukan doktrinasi mereka yak, benar-benar tak tahu diri mereka bisanya cuma merintah saja memang tuww !!” terdengar peserta bagian belakang menunjukkan perhatian.
“Kemarin itu Pak Bos mau ngadain program rasionalisasi gaji dan efektifitas kerja karyawan ..” trainer itu membangun suasana dramatis.
“Mau ada yang dipecat lagi ya Pak, he he sanggup ga tuh mereka bayar pesangonnya ?” ada nada sinis lain.
“Lagian perusahaan pesaing siap nerima ko, boleh saja kalau berani asal pecat ..” suara peserta bagian pinggir menimpali.
Inilah bagian emosi yang diharapkan trainer itu untuk menunjang antusiasme. Trainer itu lalu bercerita bahwa dia sudah berusaha menyarankan Dewan Direksi agar tidak menjalankan program rasionalisasi tersebut. Alasannya sama persis dengan yang diungkapkan beberapa peserta training tadi. Sebagai gantinya dia menawarkan program perbaikan komunikasi antar atasan-bawahan.
“Pak dimana-mana ujung-ujungnya duit, program Bapak ga akan jalan jika ga ada duit, karyawan ga akan mau kerja lagi lah jika gaji dan bonus kami tidak ditambah … ” masih ada saja suara sumbang nyeletuk.
Trainer itu tersenyum. Oww.. orientasi uang ya rupanya.
“Saya pribadi setuju dengan Bapak, tapi rasa-rasanya nih Pak saya juga tidak mau tuw Pak kalau gaji naik tapi genteng masih bocor aja saja dari kemarin ” balas cerdik si trainer itu.
Uang tidak dipungkiri adalah motivasi kerja. Uang bahkan dapat meningkat menjadi orientasi. Kalau tidak ada uang ya tidak jalan. Sayangnya dalam satu mata rantai kerja, jika satu bagian tidak bekerja sesuai standarnya akan menjadi lingkaran setan penurunan kualitas kerja keseluruhan. Trainer itu pernah mendengar cerita .. bahwa pada ruang administrasi utama, genteng dan plafonnya sering bocor ketika hujan. Ketika bocor praktis semua aktivitas kerja terhent hanya untuk memindah-mindahkan arsip penting agar tidak kebasahan. Sesuai prosedur standar untuk perbaikan membutuhkan pengajuan surat pemohonan penggantian dan perawatan ruangan ke bagian GA (General Affairs). Namun setelah surat diajukan .. tiada kabar berita. Jika diklarifikasi Sang manager GA hanya menerima proposal yang akan ditandangani 10 buah per hari dari sekretaris. Nah ketika ditanyakan berkas tersebut ke sekretarisnya, dia menjelaskan bahwa jika dalam seminggu surat tersebut tidak mendapat pengesahan dari manager GA yang bersangkutan, maka divisi bersangkutan harus mengajukan ulang. Sekretaris itu menjelaskan bosnya tidak mau menerima pengajuan proposal yang sudah tidak up to date tanggalnya.
Ironis memang, semakin uang menjadi sebuah orientasi maka hingga detil terkecil perlu uang agar dapat berjalan. Padahal seharusnya ketika seseorang diterima bekerja dalam suatu perusahaan dia seharusnya melakukan hal yang terbaik pada tanggung jawab pekerjaannya. Selalu berkomunikasi dan penuh kepedulian, agar tiap kekurangan yang tak bisa dihindari dapat ditemukan solusinya dengan cepat dan tepat. Orientasi pada uang juga menunjukkan tidak adanya kepercayaan antar bagian. Dan itu berarti suatu perusahaan sudah memulai penghancuran dirinya dari dalam.
“Oke peserta training sekalian, boleh bantu saya memainkan game kecil-kecilan ?”
Training sebenarnya dimulai.
Orang gila dan pembual
Trainer itu meminta satu orang sukarelawan mengikutinya keluar ruangan, untuk penjelasan skenario sebuah permainan seru.
“Pak saya minta Bapak menjadi tukang perintah…”
“Wah asyik juga nih bisa niruin manager-manager itu, lumayan walau cuma main-main ” gurau peserta sukarelawan permainan tadi.
Trainer itu menjelaskan tugasnya, dia hanya boleh duduk dikursi samping meja, kemudian di bebaskan bicara memerintahkan apa saja ke peserta training lain agar membuka tutup botol yang akan diletakkan di tengah meja nantinya.
“Ingat ya Pak, Bapak hanya boleh menggunakan kata-kata Bapak .. hanya bicara untuk memerintahkan membuka tutup botol itu nanti …”
“Ah gampang, cuma ngomong kan …” seru peserta itu.
Setelah masuk ruangan kembali trainer itu meletakkan botol bertuliskan “BOM” ke tengah meja.
“Nah, peserta lain sekalian mari kita lihat acting teman kita kali ini …” trainer itu tersenyumpenuh arti.
Selanjutnya muncullah adegan “1000 jurus perintah” dari peserta sukarelawan tadi. Hanya dari tempat duduknya dia berteriak-teriak memberi bermacam-macam jenis perintah. Nada lembut, nada memelas, nada gemas, sampai membentak-bentak semua dikeluarkan hanya agar ada satu saja peserta mau membuka tutup botol itu.
“Bagaimana Pak, masih ada jurus lain ? “
Sukarelawan peserta itu tampak kehilangan akal. Bahkan tampak semua orang menertawakannya layaknya orang gila.
“Begini saja Pak, saya bantu … Bapak tetap tidak boleh melakukan kontak fisik dengan peserta lain … tapi Bapak boleh melakukan semacam pancingan “
Dan sukarelawan itu langsung tanggap.
“Barang siapa mau membuka tutup botol ini silakan ambil uang saya seratus ribu ini …!” dia menunjukkan lembaran merah uang seratus ribu rupiah yang masih mulus itu.
Beberapa orang maju dan adu cepat membuka tutup botol itu. Namun …..
“Yak, BOOOOOMMM……!!!” seru keras trainer itu, kemudian tampak dia tertawa.
“Peserta sekalian ceroboh sekali anda-anda ini .. saya sudah memasang tulisan B O M di botol itu kok tidak diperhatikan yak …”
“Wah .. Bapak menjebak kita semua yak hahahaha “
Pelajaran pertama trainer itu berhasil dengan gemilang. Asal perintah tidak ada gunanya. Dan asal menuruti perintah hanya dengan menuruti imbalan besar (baca: orientasi uang) lebih konyol lagi.
“Ya namanya permainan Pak, silakan rehat dulu .. sambil direnungkan makna permainan tadi, nanti kita lanjutkan permainan lain yang lebih seru…” sahut trainer cerdik itu.