PDA

View Full Version : Pohon cinta indah pada waktunya ..



fixshine
6th December 2008, 01:05 PM
Ketika cinta menyapa, bisakah menahan rasa. Cinta menguji kejujuran. Cinta memberi, menawarkan lebih dari sekedar asa. Ada harapan di sana. Tentang seseorang yang selalu ada, tentang seseorang yang seseorang yang entah kenapa memberi kehangatan jiwa, tentang seseorang yang melihatnya saja sudah memberi ketenangan. Namun cinta juga menjadi candu, dalam takarnya menenangkan gejolak jiwa, dalam liarnya merusak segala. Ada harapan yang indahnya tak terkatakan disana, tetapi belukarnya kan merobek kulit luka. Sebagian menjadi lebih dewasa, sebagian menjadi gila. Tetapi tetap saja ketika cinta datang menyapa hati siapa yang bisa menolak ?

Aku merenung kenapa selintas saja raut wajah itu bisa mencuri perhatianku. Mengapa mataku tak bisa kukendalikan jika melihat sosoknya duduk di sana. Mengapa dia menjadi beda ? Tanpa nyanyian, tanpa poles muka, tanpa pernik baju menyala, dan hanya biasa yang menjadi luar biasa. Aku benci perasaan tak rela jika kepala meja makannya bukan diriku, namun aku juga ragu-ragu mengambil posisi itu. Aku tak rela dia bercanda dengan teman-temannya, tapi jika didekatnya aku tak bisa bicara apa-apa. Hanya kelu cekat tenggorokanmu, untung kesenioritasku menyelamatkan wibawa. Wibawa ? Dan dalam hati aku tertawa pedih. Wibawa hanya untuk bersembunyi dalam kekakuan, keraguan, dan ketakutan rasa. Inikah cinta yang datang ? Dimanakah indahnya jika aku ragu ? Mengapa aku tak setangkas mengerjakan latihan soal fisikaku, secepat merekam hafalan teori kenusantaraanku, atau bahkan semakin bersemangat belajar sekedar untuk melewati beberapa her di ulangan-ulangan harian.

Tetapi dia menjadi alasan melewati hari-hariku kini. Ada sejuk di sana yang kucari. Ada degub di hati yang menjadi sensasi. Antara ragu, mau, dan malu. Oh cerminku, seperti apa rupaku jika aku rindu dan tercekat hanya bisa memandangnya dari jauh. Jika cinta datang menyapa, siapa dapat menahan rasa. Oh rindu yang mengapa kian menjadi candu.

Aku beruntung, tidak segila beberapa teman yang nekad menjadikan cinta sebagai obesesi perburuan. Dari sekedar mengirim sebatang coklat kelas silverqueen sampai Lindt sebesar kuitansi Kosinus. Dari sekedar mengatur janji duduk di meja ruang makan, sampai nekad menyelundup hingga akhirnya jargon pantangan berpacaran mengemuka sebagai salah satu kode kehormatan. Beberapa orang yang tertangkap basah, harus merasakan interogasi dan intimidasi beberapa pamong yang ikut kebakaran jenggot. Dan aku, hanya terjebak diantara mensyukuri dan iri. Setidaknya mereka yang nekad, sudah berani, sudah memperjuangkan, sudah menunjukkan kesungguhan, dan kemungkinan besar mendapatkan siapa yang diperjuangkannya. Soal resiko, soal lain, bukankah selama ini juga hidup dengan resiko. Asal tidak lari layaknya pecundang, tetap terhormat sudah berjuang dan bertanggungjawab atas kesalahan jika itu memang diperbuat.

Ternyata aku menemui pergulatan kembali tentang makna perjuangan. Kedengarannya memang sangat memalukan berita-berita tentang tawuran hanya karena rebutan cewek. Tapi jika menghadapi sendiri kenyataan bahwa diri ini rapuh, di hadapan sang pujaan hati, humm ... sepertinya lebih gagah menantang preman di ujung jalan.

======================


Malam minggu selalu menjadi saat menyenangkan bermain ke rumah beberapa pamong. Bercanda dengan putra putri kecil yang entah kenapa bisa ikut-ikutan memanggil “abang” atau “kakak”. Selalu menjadi pemandangan indah dalam harmoni keluarga. Kadang-kadang juga beberapa dari kami membawakan cemilan, permen, coklat, atau bahkan mainan. Begitulah jika keramahan berbalas keikhlasan selalu ada berkah dari sekedar bercanda..

Saat itu aku sedang asyik bercanda dengan Rio kecil putra Ibu Ima. Balita kecil itu sangat suka bermain denganku. Kali itu si kecil sedang berada di pangkuanku sambil menonton acara kartun di tivi. Dia menunjuk-nunjuk salah salah satu tokoh kartun. Tangannya kesana – kemari, berjingkrak-jingkrak dan tertawa-tawa riang. Menyenangkan sekali bisa sesekali mendekapnya, seperti layaknya adikku sendiri saja. Sementara itu Ibu Ima seperti lazimnya setiap sabtu sore selalu bersiap-siap menyiapkan beberapa cemilan, karena sebentar lagi serombongan siswa lain pasti akan menyerbu. Dan tentu saja Rio kecil sudah siap juga menjadi artis kecil malam itu menjadi rebutan teman lain yang gemas ingin menggendongnya juga.

Dan benar saja, aku mendengar di luar sana tampak lewat jendela serombongan siswa berhenti. Ketokan pintu pun menyusul. Aku membantu membukakan pintu.

“Malam, Bang ... Ibu Ima ada ?” oww oww rupanya serombongan adik siswi putri yang berkunjung.
“Halahh .. basa-basi amat sih “ aku tersenyum.
“Abang curang nih, dah ngapelin Rio duluan “ salah satu dari mereka menyela canda, kubalas dengan senyum tipis.
Jujur saja aku tak begitu hafal siapa saja semua adik-adik yang datang itu. Hanya saja mataku segera mengenali sesosok lincah yang sekarang sedang menggoda Rio kecil. Dia kembali selalu bisa membuatku terpaku. Oh, rasanya ini detik-detik terlama ketika dia sudah di depan mata dan aku tak tahu harus berbuat apa.

“Bang, liat nie, Rio ga mau minjemin kapal-kapalannya !” aku tersadar. Dia memanggilku, benarkah...
“Emh, Rio Kak Trias dipinjemin dong kapal-kapalannya..” sahutku yang tak kusangka bisa lepas dari kekakuan waktu.
“..tapi nanti dibuatin lagi yak,..” Rio menjerit-jerit, lalu menghambur ke arahku.

Aku segera mendekapnya. Si kecil itu kemudian asyik menarik-narik kerah bajuku. Trias yang belum berhasil juga menarik perhatian Rio kecil mendekat ke arahku. Kemudian dengan gemas dia berusaha mencubit-cubit kecil lengan si kecil. Rio tampak marah, tangannya menggapai-gapai tak jelas berusaha membalas cubitan Trias.
“Abang pake apa sih, Rio bisa lengket begitu ?”
“Emh pake kkapal ...” aku dengan bodohnya menunjukkan kapal kertas baru buatanku.

“Rio ..sini makan dulu..” suara Ibu Ima muncul dari dapur.
Seperti biasa si kecil selalu menjerit kembali menolak, dia tentu saja lebih memilih bermain-main apalagi filem kartun kesukaanya belum selesai tayang.
“Biar Trias yang menyuapi Rio, bu...” dia menawarkan diri, lalu segera mengambilkan semangkuk kecil nasi dan lauk.
“Bantuin mbujuk Rio supaya mau disuapin ya ... Bang “
akupun mengangguk.

Ternyata kerjasama baik kami berhasil membuat si kecil menghabiskan mangkuk nasinya. Aku membujuknya supaya tenang dengan kapal-kapalan di tanganku yg berputar-putar, sedangkan Trias dengan cerdiknya mencari celah saat menyuapinya. Aku menikmati benar saat-saat itu. Tak pernah kusangka saat-saat indah itu datang begitu saja. pernah kumimpikan pun tidak. Oh, Tuhan terima kasih.

Bagaimana pun si kecil yang lincah itu pun punya keterbatasan aksi. Setelah kekenyangan, dia tertidur masih di pangkuanku. Trias yang melihat keringat menimbul dari kening si kecil, kemudian sigap mengipasinya. Kami berdua rasanya seperti, ah sudahlah tak berani aku berpikir terlalu jauh ...

Ibu Ima yang akhirnya sadar juga bahwa jerit ocehan si kecil sudah tak membahana lagi, kemudian menghampiri kami.
“Waduh, maafkan ya, Rio ini ... kalo di kamar malah susah tidur, mintanya macem-macem. Tapi kalo kecapekan maen ma siswa .. cepet banget tidurnya..”

Ah, si kecil itu berpindah juga ke gendongan Ibunya, dan sebentar kemudian sudah berselimut hangat di baby boxnya.

Berkat si kecil, kecanggunganku kepada Trias mulai meleleh. Walau tetap saja dia yang membuka obrolan. Dari pertanyaan standar tentang budaya daerah masing-masing, sampai kebiasaan-kebiasaan masa kecil. Berlanjut ke tips-tips menguasai beberapa mata pelajaran yang kukuasai, percaya diriku semakin meningkat. Tanpa terasa jam kepulangan ke graha terlewati dengan penanda bunyi terompet malam. Saat-saat indahku pun menjelang akhir.

Setelah mereka berpamitan ke Bu Ima, barisan siswi putri itu berbaris kompak menuju grahanya. Aku masih turut mengantar kepergian barisan itu, dan tetap saja mata ini tak bisa lepas dari sosoknya.

“Kamu bahagia ya, malam ini ?”
aku tersentak, dan gugup mendengar sapaan ringan Bu Ima tiba-tiba.
“Ehm Ibu, enggak eh, maksud Ibu..?” sambil salah tingkah aku membantu merapikan kembali isi ruangan rumah.
“Kamu sudah lama kenal Trias ?”

aduh mengapa jadi sesi interogasi begini, dan aku semakin tak bisa menjawab.
“Ehm .. hanya sekedar tahu, baru deket tadi bu..” jawabku sekenanya.
“Tapi ko akrabnya lain .. ha ha “ Ibu Ima ini paling pandai memang melihat gejala-gejala hati.
“Bagaimana Ibu tahu ?” sudahlah tak usah menutup-nutupi lagi pikirku, toh Ibu Ima sangat kupercaya selama ini.
“Hati-hati ya dengan perasaanmu itu, jangan sampai mengganggu konsentrasi belajarmu..” oh Ibu yang pengertian itu, berujar nasehat sekarang.
“Siap Bu, saya sadar ada kode kehormatan dilarang berpacaran ..” ups benarkah, aku mau menerima begitu saja kode kehormatan satu ini.
“Begitu ya ? sini duduk sebentar kalau begitu...”
“Ada yang salah dengan perilaku saya, Bu ?” aku siap dengan posisi menerima wejangan.
“Cinta akan datang pada masanya. Ibu pikir jika kamu dihinggapi perasaan itu sekarang wajar. Hanya saja tentang kedewasaan itulah yang membedakan...”
“Maksud Ibu ? mohon maaf saya tidak mengerti pacaran seperti apa yang dilarang ..”
“Setiap cinta tumbuh dihati dari benih yang akan terus tumbuh menjadi pohon yang indah, masalahnya akan seperti apa kamu merawatnya. Ketika dihadapkan dengan kepentingan-kepentingan lain, seperti apa kamu akan menyikapinya...”
“Saya harus memilih kepentingankah maksud Ibu ?”
“Ibu mengerti kompleks masalahnya, apalagi seumurmu. Saran Ibu, jangan kamu matikan pohon cinta yang sedang berkembang di hatimu, cukuplah berkembang dengan harapan-harapan. Karena segalanya akan indah pada waktunya ..”

Ungkapan-ungkapan yang filosofis kedengarannya. Walau agak abstrak, tapi aku mengerti. Sekolah kami memang didirikan dengan penuh harapan dan penghormatan. Selalu demi masa depan bangsa dan negara didengung-dengungkan. Namun manusia tetaplah manusia yang membutuhkan cinta. Bahkan kegagahan pun perlu kelembutan, keperkasaan juga harus diimbangi dengan kehalusan budi, dan kedisiplinan selalu berseni dengan toleransi, dan diatas segalanya adalah bijaksana menyikapi situasi. Ketika pohon cinta bersemi, siapa bisa menolak, karena datangnya pun tanpa permisi, begitu saja dan kadang menjadi candu tentang nyanyian rindunya. Mematikan rasa itu serupa mematikan sebagian jiwa. Sebaliknya memperturutkannya akan mengundang nafsu seumpama virus ganas yang menggerogoti akal sehat.

“Menurut Ibu saya harus bersikap apa ?”
“Cinta selalu hidup dalam perhatian, dan perhatian itu luas ... bukan sekedar kucing-kucingan mengirimkan sebatang coklat ..” kami pun tertawa, aku teringat kemarin baru saja Bu Ima menangkap basah seorang teman memberikan coklat di meja makan pada seorang adik siswi putri.
“Kalau duduk berduaan ga boleh ya Bu ..” aku mencoba memancing.
“Kamu bisa menjamin tidak terjadi apa-apa setelah itu ?” pertanyaan balik yang cerdik, lalu aku hanya menyunggingkan senyum simpul.

Sayangnya selama ini mataku hanya merekam ungkapan-ungkapan cinta tidak jauh dari kiriman coklat, makan bareng, atau janjian ketemu di suatu tempat. Benarkah ada cara lain ?

“Seperti kamu dan Trias tadi, Ibu toh tidak melarang kan ?”
dan aku tersadar. Tapi masih belum mampu mencernanya.
“Pohon cinta itu akan menemukan jalannya sendiri untuk berkembang, selalu hadir dalam bentuk ungkapan kasih, dan bukannya egoisitas pribadi ..”
“Maksud saya tidak perlu memaksakan untuk selalu menjaga hubungan khusus berdua begitu ?”
“Kamu sudah mulai mengerti rupanya ... karena cinta akan menjadi indah pada waktunya, bahkan jika hanya punya waktu untuk saling mengucapkan selamat “

Sungguh malam itu lengkap dengan keindahan hikmahnya. Aku berbahagia karena mendapat kesempatan tak terduga bisa akrab dengan sosok yang tiap hari tak lepas dari anganku. Dan pelajaran tentang pohon cinta itu rupanya menjadi kunci bagi pertanyaan-pertanyaanku selama ini. Tak perlu mengejar cinta membabi buta. Pohon cinta akan menemukan sendiri jalannya untuk berkembang. Seperti kisah teladan seorang guru yang menyuruh muridnya menangkap kupu-kupu, semakin keras mengejar semakin tidak tertangkap, dan jika tertangkap pun sudah rusak oleh cengkeraman tangan si murid. Sebaliknya, dengan ketenangan dan kesabaran, sang guru, hanya cukup dengan membuka tangan di udara kupu-kupu itu malah justru datang mendekat sendiri. Ya memang benar, jika cinta itu akan menemukan jalannya sendiri, dan segalanya akan indah pada waktunya.

Hari-hari kemudian berlalu dengan lebih ringan, aku bisa lebih jujur pada diriku jika mencintainya. Aku cukup percaya cinta akan menemukan jalannya sendiri, dan anehnya aku justru semakin banyak punya waktu untuk sekedar menyapa dan tersenyum padanya. Tentu saja aku menikmati karena sapa, senyum, dan perhatianku bersambut.

Tak pernah ada kata cinta terucap, tak pernah ada coklat terkirim, dan tentu saja cekat tenggorokan yang mengangguku lagi. Ketika semuanya mengalir cinta memang menjadi nyanyian hari yang menyejukkan. Puncaknya di hari akhirku di sekolah ini aku mendapat surat darinya

“.. Selamat ya Bang atas kelulusannya, tunggu aku, do'akan aku, dan jangan lupa sering-sering kirim surat untuk kabar-kabar...

yang termanis,
Trias ......”


Aku melambai padanya di ujung boulevard itu, dan bening air matanya sudah cukup menjadi bukti bahwa pohon cinta kami indah pada waktunya.


Published by fixshine
for ikastara.org
9th May 2007
diinspirasikan nasehat “pohon cinta”-nya Bu Prima
(nama, tempat, dan suasana hanya rekaan belaka)

fixshine
6th December 2008, 01:07 PM
wah .. senangnya cerpen ini ketemu lagi :mpanas: walo repost tp memorable buatkuw

arfiek
6th December 2008, 09:19 PM
wah .. senangnya cerpen ini ketemu lagi :mpanas: walo repost tp memorable buatkuw

jadi trias tu sapa git ?? masa cm rekaan aja, hehe.

Al-Faruq
6th December 2008, 10:14 PM
wah...cerpennya bener2 menyentuh saya..
singkat tapi terasa maknanya buat saya...(yang seringkali bingung dalam
menyikapi sebentuk perasaan bernama Cinta)
nice work bang!

fixshine
6th December 2008, 10:51 PM
jadi trias tu sapa git ?? masa cm rekaan aja, hehe.

ga dong .. ada ko orangnya sering ngejunk malah di forum ini :msokimut:

Egtheasilva Artella
6th December 2008, 11:05 PM
hehehe,,,
sebut nama dungs b,,, :p

nad3418
7th December 2008, 12:34 AM
I'm jelaous. Karya-karyaku nyangkut di mana? :mnyerah: :mnyerah: :mnyerah:

@Fixshine: Goed gedaan!

arfiek
7th December 2008, 10:51 AM
ya ela lu git, uda capek2 baca abis tu cerpen masi dicela juga.
kan kalu di bedah2 buku suka ditanyain tu inspirasi bikin bukunya darimana ?? :msokimut::msokimut:

jadi, sapa trias ?? :p

fixshine
7th December 2008, 12:03 PM
ga hot lha klo lgs sebut nama :p
biar ybs aja mengomentari sendiri, ...

sebenere cerpennya ga ke triasnya sie tujuannya, tp lebih ke nasehatnya Bu prima itu. krn seringkali kita patah arang klo ditolak :( padahal manusia bisa berubah, someday klo emang jodoh , semoga sempet , pohon cinta itu akan berbuah manis :mpanas:

fixshine
7th December 2008, 12:04 PM
woeeeyyyyy cendoll dunks :p

Egtheasilva Artella
7th December 2008, 01:41 PM
aku udh bsa nebak dengan bener kan b,,
gmana kalo cendolnya kasi ke aku aja,,, :p

fixshine
7th December 2008, 02:10 PM
aku udh bsa nebak dengan bener kan b,,
gmana kalo cendolnya kasi ke aku aja,,, :p

:msokimut: mana bisa kutolak klo dah begini

Al-Faruq
7th December 2008, 03:50 PM
siap cendol sudah dikirim bang...:p

Saut
7th December 2008, 08:19 PM
Git bagus banget sih karyamu......kata2nya Indah. Boleh gw tampilin di blog gw nggak?

fixshine
7th December 2008, 08:52 PM
Git bagus banget sih karyamu......kata2nya Indah. Boleh gw tampilin di blog gw nggak?

boleh asal kasih cendol dulu :msokimut:

Saut
7th December 2008, 08:53 PM
boleh asal kasih cendol dulu :msokimut:

cendol apaan sih?

~ketinggalan berita

fixshine
7th December 2008, 08:57 PM
liat postinganku bang ... klik ijo2 di sebelah kanan
biar daku semangat nulis2 lagi ... hayo yg lain komen2 :mgeer:

lanymm
12th December 2008, 04:40 PM
bang, baru baca 1 nih... bagus kok....
backsoundnya pas ketemuannya si Rio dan Trias itu lagu Tempoe doeloe aja,
lagu nostalgia SMA... tapi versi TN bang :

...ada yang saling cinta,... hanya jadi saudara....

*musik dan nada tetap sama,
lirik yang dirubah
digubah oleh beberapa orang yang (mungkin pernah) mengalaminya...

fixshine
12th December 2008, 08:13 PM
bang, baru baca 1 nih... bagus kok....
backsoundnya pas ketemuannya si Rio dan Trias itu lagu Tempoe doeloe aja,
lagu nostalgia SMA... tapi versi TN bang :

...ada yang saling cinta,... hanya jadi saudara....

*musik dan nada tetap sama,
lirik yang dirubah
digubah oleh beberapa orang yang (mungkin pernah) mengalaminya...

imaginasimu itu lho dr dulu ga brubah :mpanas:

lanymm
13th December 2008, 11:31 AM
imaginasimu itu lho dr dulu ga brubah :mpanas:

hee?? :mcengo: maksudnya?? ga ngerti...
(dari dulu emang lambat ngerti... hehe)

Al-Faruq
13th December 2008, 02:01 PM
bang sigit..cerpen ini boleh saya pajang di facebook kah??
agar orang2 lain bisa baca juga....:p

fixshine
13th December 2008, 02:46 PM
bang sigit..cerpen ini boleh saya pajang di facebook kah??
agar orang2 lain bisa baca juga....:p

boleh aja jng fixshine dan ikastara.org nya

amy982274
19th December 2008, 09:00 PM
cerpen yang bagus bang....

based on true story kah? :mgeer:

fixshine
20th December 2008, 03:33 PM
cerpen yang bagus bang....

based on true story kah? :mgeer:

itu kan dah ditulis toh; bu primanya aja ditulis ko cmn tokoh "Trias"-nya aja yg very private confidential

amy982274
21st December 2008, 06:50 PM
itu kan dah ditulis toh; bu primanya aja ditulis ko cmn tokoh "Trias"-nya aja yg very private confidential

jadi penasaran ma tokoh "Trias" di kehidupan nyata?:mgeer:

fixshine
21st December 2008, 06:59 PM
jadi penasaran ma tokoh "Trias" di kehidupan nyata?:mgeer:

penasaran juga ma tokoh lain di cerpen sebelah ga ?

amy982274
21st December 2008, 07:13 PM
penasaran juga ma tokoh lain di cerpen sebelah ga ?

iya...
keknya banyak kisah ya bang, pas sma dulu...:p

nad3418
22nd December 2008, 12:53 AM
penasaran juga ma tokoh lain di cerpen sebelah ga ?

Ini gak refer ke cerpenku toh?

amy982274
22nd December 2008, 08:28 PM
Ini gak refer ke cerpenku toh?

punya abang fiksi kan?

nad3418
22nd December 2008, 09:13 PM
punya abang fiksi kan?

Mmm... mmm... mmm... :mngintip: :p :p :mngacir:

amy982274
24th December 2008, 04:33 PM
Mmm... mmm... mmm... :mngintip: :p :p :mngacir:

berarti karya fiksi yang based on true story.....:mpanas: