View Full Version : Ritual makan bersama
fixshine
2nd December 2008, 01:20 PM
(episod tentang aku, Dea)
“Sebelum makan mari kita berdoa..”
Beberapa detik berlalu, dengan bisik-bisik khusuk
“Amiiin ….” suara kami berlima terdengar bersamaan. Aku, dua Kakakku, Ayah dan Ibu selalu dibiasakan makan bersama. Hanya saat-saat tertentu kita tidak bersama, misal ayah jika sedang ada tugas luar kota, aku atau Kakak-Kakakku jika ada kegiatan kampus, yang paling parah sih saat ibu jatuh sakit karena thypus, aduh jangan lagi deh …. nightmare itu.
Kalian kan tahu jika kaum nasrani punya gereja untuk ritualnya, muslim punya masjid untuk sholat berjamaahnya, demikian juga keluargaku makan bersama di meja bundar warisan Kakekku itu adalah ritual. Salah satu ustadku pernah bilang, kalau umat muslim tidak sholat jum’at 3 kali maka dia akan dianggap keluar dari agamanya. Kalau di keluargaku, ritual makan bersama ini percaya atau tidak sungguh menjadi pertanda tersendiri. Siapa yang absen dalam beberapa waktu tanpa alasan jelas sudah pasti dia sedang mempunyai masalah.
Namaku Dea Listiani Putri, panggil saja aku Dea. Akulah si bungsu yang menjadi anggota ritual makan bersama paling terakhir. Sejak kecil aku memang paling susah makan. Bukan tidak doyan ha ..ha.. jangan salah masakan Ibuku adalah terenak didunia meskipun dia seorang yang anti bumbu MSG. Aku sayang banget dengan Ibuku sehingga sstt …ssst.. selalu mencari perhatiannya. Jangan heran saat kecil aku sering merengek-rengek itu hanya agar jangan sampai Ibuku sempat mengambilkan sayur untuk saudara-saudaraku, atau menambahkan nasi untuk ayahku. Aku anak manja ya ? O iya aku bangga menjadi anak manja … terutama anak termanja Ibuku. Dia paling tahu tentang aku. Dia lembut menenangkan. Dia yang selalu menjadi pelindungku saat ayah sedang marah.
Suatu kali beberapa hari aku malas makan bersama. Aku lebih suka di kamarku menghabiskan waktu. Kakakku sudah pasti enggan mengajakku makan karena aku memang super jutek. Namun ayah memang tak pernah mau ambil kompromi. “Ikuti aturannya” atau ….
“Deaaaaaaaa …!!!” suara menggelegar dari ruang makan bagai geledek menyambar.
“Iyaa….” mati kutulah aku, duh tak bisa menghindar lagi deh pikirku saat itu. Yak ruang makan yang biasanya meneduhkan itu seketika bak disulap David Cobbuzier menjadi ruang sidang. Tiba-tiba sosok Judge Bao yang terkenal ga pernah kenal sama bulu itu seperti bangun dari kubur, uhh seram sekali. Ayah tahu nilai ulanganku jelek. Ayah tahu aku membolos les, hanya untuk kabur nonton pilemnya Brad Pitt, ah memang ganteng sih aktor Hollywood satu itu. Tapi dasar ayah, sekali lagi “ikuti aturannya” atauu …. bye bye Brad Pitt-ku sayang. Ah entah darimana Ayah tahu soal nilai ulanganku yang makin jelek itu, mungkin ayah tahu dari laporan guru-guru sekolahku yang dikenal baik olehnya, atau orang tua teman-teman sekolahku yang senasib tertangkap basah.
Oh ayahku, tiada yang aku bantah, ayah selalu benar tentang pandangan bagaimana menjadi anak yang baik. Tapi seiring umurku, aku tak tahu kenapa jadi begini. Aku ingin ikut nge-gank bersama teman-temanku nonton pilem, ikut pagelaran music di alun-alum kota, maafkan ayah aku tak bisa menjadi semisal murid teladan seperti Kakak.
” Ayah, Dea butuh kesempatan, mungkin dia kurang refreshing kita juga sudah jarang jalan2 bersama lagi…kan ” Uahhh suara malaikat itu akhirnya datang. Suara Ibu, suara pelipur lara, suara peredam amarah, suara tidak bisa tidak untuk melembutkan hati ayah kembali.
Aku kembali mengikuti ritual makan bersama itu, dan selalu di samping Ibuku. Sejak itu bertobat menjadi anak bandel, tentu saja dengan kehangatan Ibuku. Ternyata, di tunggui Ibuku dalam belajar adalah obat manjur. Ayahku tak gusar lagi karena Ibuku jaminannya.
Ukuran senyum di bibir Ibuku adalah rambu-rambu aku boleh bergaul dengan siapa. Seringkali teman-teman cowok yang ingin dekat denganku aku suruh telpon ke rumah di jam-jam tertentu. Ketika telpon berdering inilah skenarionya, aku biarkan Ibuku sebagai menjalankan perannya sebagai operator telepon. Dari balik dinding aku biarkan beberapa conversation berlangsung.
“Hallo, kediaman keluarga Budiman di sini…”
“emmh hallo tante, Dea ada ? “
“ooww, ini dengan siapa ya ? “
Selalu Ibuku mengetes, dengan tidak langsung menjawab aku ada terlebih dulu.
“Dea sedang belajar tuh, bagaimana ?” selanjutnya apapun jawaban para penelpon itu jika Ibuku kemudian bilang, ” Oww ya sudah sepertinya ada pe-er yak, Deaa…. ini ada temanmu !” berarti lampu hijau bagiku.
Tak banyak memang akhirnya yang sanggup menembus saringan kesopanan itu. Tetapi aku selamat dan hanya bergaul dengan orang-orang yang membuatku lebih maju saja. Aku bersyukur melewati saat-saat transisi kedewasaanku bersama Ibu. Sementara teman-teman gank-ku dulu bahkan ada yang sampai terpaksa kawin muda, tertangkap kasus-kasus narkoba, hanya karena salah pergaulan. Sekarang aku menikmati sekali bisa nyamannya kuliah, dan kesibukanku memimpin salah satu study club di kampusku.
fixshine
2nd December 2008, 01:21 PM
(episod tentang kakakku, Raka)
Raka Rahadian ialah Kakak pertamaku, Kakakku yang baik, yang mewarisi kegagahan masa muda ayahku. Kata Kakekku dulu yang Jawa tulen dia dilahirkan “kalung usus” suatu pertanda bahwa dia orang yang cocok berbusana apa saja. Walau aku juga tak terlalu percaya takhyul, ada benarnya juga sieh. Kakakku yang satu ini memang sederhana, tidak seperti aku dan Kak Shinta yang selalu “lapar mata” jika ke mall dan melihat model-model baju terbaru. Alih-alih beli sendiri Kak Raka malah sering memakai baju ayah. Tentu saja dengan sedikit magic jahitan Ibuku model baju ayah bisa menjadi trendy ngepas di badannya dengan paduan kaos polos, ga putih polos sieh .. seingatku ada corak merek-merek semacam “61″, “C59″, hehe juga kaos “Dagadu” oleh-oleh pamanku dari Jogja. Lho kok jadi terpesona Kakak sendiri sieh ? ya begitulah .. asal tahu saja aku dan Kak Shinta sering sebal dengan teman-teman cewek yang tiba-tiba dekat dengan kami rupanya hanya mencari jalan untuk kenal dengan Kak Raka.
Kursi sebelah ayah adalah kursinya. Mau tahu kenapa … alasan kerennya Kak Raka adalah ibarat tangan kanan ayah. Dialah andalan ayahku, ayahku bangga sekali karena banyak sifatnya diwarisi, dari main catur sampai kelihaian mbetulin genteng bocor. Nah, itulah dia alasan ga kerennya .. .. dia itu tukang suruhan ayahku.. tapi dengan adanya saudara lelaki seperti itu kita bisa berhemat membayar tukang mbetulin rumah. Dua pria berbeda usia itu kompak sekali kalau sudah ketemu. Kemana mata ayah memandang disitu hidung Kak Raka mencium ketidak beresan. Cat tembok yang luntur, engsel pintu, Kaki lemari, ban bocor, sampai onderdil mobil tua warisan Kakek tuntas semua di tangan kekompakan mereka.
Ketika Kakakku semakin dewasa, aku semakin kagum dengan cara berpikirnya. Mungkin bakat “mengakali” segala sesuatunya membuatnya survive. Mungkin juga rasa tanggung jawabnya sebagai anak pertama membuatnya malu untuk meminta lebih terutama untuk masalah uang saku. Dari hasil membantu banyak orderan kerja sampingan ayah sebagai distributor bahan bangunan, ia bisa mengumpulkan uang untuk membeli komputer, he he … tentu saja yang satu ini soal komputer maksudku hanya dia yang tahu. Kita sih tahunya hanya make sebangsa aplikasi word, excell, sialnya kalau file-file di USB flashdisk-ku kena virus sehabis dipakai download data di internet kampus. Alert message antivirus itu selalu membuat jantungku berdegup kencang, yang muncul pertama kali adalah bayangan aku harus mengerjakan tugas kuliah dari awal lagi jika file-fileku rusak. Pasrah deh kalau sudah begitu, harapan satu-satunya tinggal merajuk minta dibenerin Kak Raka. Dia seperti biasa akan jual mahal nunggu sogokan bubur ayam P’No di seberang jalan… yah inilah harga sebuah kecerobohan. Lain aku lain Kak Shinta …. dia yang salah dia yang uring-uringan sendiri, waduhh akhirnya Ibuku juga yang turun tangan memberi sabda pada Kak Raka supaya jangan kabur duluan. Bukan apa-apa sieh, kalau Ibuku sedang mengerjakan order jahitan dari tetangga, Kak Shinta yang menjadi koki pengganti. Bayangkan klo dia uring-uringan bisa-bisa makan malam ritual kami menjadi malam tanpa garam yang tak bisa lagi diprotes.
Ayahku sering berandai-andai Kak Raka menjadi pegawai negeri di instansi pemerintahan dengan gaji dan jenjang karir yang bagus. Menjadi pegawai negeri itu “aman” karena kalau tua mendapat pensiun. Jadi tak perlu repot dengan masa depan juga masa tua.
Namun hal itulah yang menjadi masalah begitu Kak Raka lulus kuliah. Ayah selalu bersemangat begitu melihat lowongan menjadi pegawai negeri di koran, atau mendengar info-info lain dari radio. Jika ayah sedang membaca keras-keras iklan itu, Kak Raka langsung menghilang. Jika ayah berpromosi di meja ritual makan bersama kami, Kak Raka mempercepat makannya. Semula aku menganggapnya biasa karena semenjak kuliah pun Kak Raka rajin mengerjakan tugas kuliah, dan dia juga bekerja free-lance untuk order-order dari kampus, kegiatan mahasiswa, atau rekanan lain. Ya aku dan Kak Shinta sering mengejeknya,”Wah … Kak Rani marah ga yak, dia diduain ma komputer pentium 4 itu ..?”
Komputer itu memang sudah seperti bagian hidupnya, oh ya apalagi setelah komplek area kami dilewati jaringan TV kabel yang kebetulan bisa untuk internet unlimited acces. Tiada hari tanpa mendowload program pokoknya.
“Kamu tahu Dea, internet adalah media bisnis baru yang diramalkan Peter Drucker…, kamu bisa menjalankan bisnismu dari komputer ini, dan punya jaringan sebesar kamu mau di dunia ini tanpa harus pergi dan bertatap muka…”
Betul juga sih, sekarang jarak dan waktu seakan bisa diperpendek. Dulu bagaimana terbayang bisa kenal dengan bule-bule dari amrik wong ke Jogja saja kita harus ngantri tiket keretanya seminggu sebelumnya. Sekarang cukup chating tinggal pilih mau di room mana. Bahkan kalau mau jujur Kak Raka sebagian besar ilmunya tidak diperoleh dari perkuliahan namun dari forum dan milis keahlian tertentu yang diikutinya di internet. Dulu jika ayahku harus mengurus gaji pegawai sekantor dia harus ekstra hati-hati minta pengamanan polisi. Sekarang kalau mau dengan teknologi internet banking, pembayaran semua client tinggal ketik-ketik sebentar beberapa digit angka semua beres.
Impian Kakakku memang ternyata sudah 180 derajat berbeda dengan impian ayah. Semakin hari semakin nyata perbedaan itu. Walau mereka masih kompak mencuci mobil, tapi soal pilihan hidup menjadi apa sudah bagaikan air dan minyak. Ayah semakin gencar berpromosi dari pegawai DepKeu sampai Pertamina, dan Kak Raka semakin memilih diam. Makan bersama semakin sering ditinggalkannya.
“Nanggung nih, sono aja duluan,….!” selalu begitu jika kuingatkan
Dan ayah semakin sering merasa sebagai radio yang ditinggal tidur pendengarnya.
Sampai suatu saat puncaknya malam itu,
“Ka, bisa kita ngobrol bentar ?” lembut pinta Ibuku suatu saat. Kak Raka menuju ruang tengah, sepertinya akan ada sidang lagi antara Kak Raka , ayah , dan semoga Ibu berhasil kembali menjadi juru damai.
Lima menit berlalu,
“Kamu itu mau jadi apa !!!!?” kudengar bentakan menggelegar. Meluncurlah argumen-argumen sakti ayah. Intinya punya usaha sendiri itu beresiko berdasarkan pengalamannya. Nganggur taruhannya, dan yang pasti ga dapet pensiun.
Tak ada kata terucap dari Kak Raka. Dia sudah tahu itu akan terjadi. Dia memahami ayah karena memang dia tercipta dari sebagaian diri ayah. Tetapi memang manusia memang bebas memilih impiannya. Kak Raka bukan orang yang mau menyerahkan waktunya untuk bekerja dalam aturan orang lain. Dia ingin mengatur waktunya sendiri. Dia sadar akan pilihannya. Dia sudah menghitung pilihan hidupnya menjadi apa. Terbukti honor free-lancenya pun sudah cukup untuk sekedar menghidupi kami, walau tentunya tidak akan dia beritahukan. Penghasilannya selama ini hanya dia tabung sendiri. Hanya aku dan Kak Shinta yang tahu, karena itu anggap aja jatah kita klo minta apa-apa tidak usah lagi minta orang tua.
Ibu selalu tahu isi hati anaknya. Ibu ingin selalu terbaik untuk anaknya.
“Sudahlah, Raka sudah memilih. Kalau kita paksa dan pilihkan ternya dia tidak bisa menikmati, toh orang tua juga yang akhirnya berdosa pada anaknya …”
Ayah terdiam.
Ibu menebar kasihnya tak kasat mata.
Bara dalam suasana terhisap hening.
“Kamu masih banyak kerjaan kan, sana selesaiin… tapi jangan lupa klo cape tidur, di belakang sudah Ibu buatkan susu, cepat diminum, sudah mulai dingin tuh …”
Dengan langkah berat Kak Raka beranjak .
Ayah masih mengubur impian tentang jagoan andalannya. Ibu bersabar menemani, menenangkan dengan penghiburan, mencipta saat romantis meneduh luka ayah.
fixshine
2nd December 2008, 01:22 PM
(episod tentang kakakku, Shinta)
Kak Shinta dan aku kuliah di kampus yang sama. Kami hanya berbeda 2 tahun saja. Kami hampir mirip, dua-duanya mewarisi wajah manis Ibu. Hanya saja aku lebih senang dengan model rambut pendek, sedangkan Kak Shinta senang merawat rambut panjangnya. Kami sering dapet job menjadi “putri sakembaran” kalau ada saudara yang sedang mempunyai hajatan pernikahan, peresmian-peresmian, atau acara lain yang memakai adat jawa. Ya tentu saja aku selalu memakai rambut palsu, tapi tenang saja sanggul selalu buatan kok… Kami pasti mirip di setiap foto, dan fans-fans ceileee.. sering salah kirim salam buat kenalan.
Berbeda dengan Kak Raka yang selalu berkutat dengan komputer, internet, dan hal-hal yang berbau teknik, Kakak cewekku ini lebih romantis orangnya. Melalui dialah aku tahu kalau perpustakaan kampusku bukan sekedar tempat pinjam buku kuliah (maksudku daripada beli mahal-mahal). Ternyata ada satu rak buku di perpustakaan itu yang berisi novel-novel. Beberapa judul asli berbahasa Inggris. Rak sebelahnya, tentang pengetahuan kejiwaan, problem-problem hidup manusia, beberapa judul tentang parenting, kisah-kisah kepribadian ganda, o yaa.. of course Chicken Soup dan variannya. Kak Shinta sering mojok, eh salah maksudku… berdiri mematung memilih-milih buku di sekitar situ. Jadi kalau aku pengin ketemu dia di kampus dan dibales dengan sms
” … aku ditempat biasa ”
aku sudah tahu begitu membuka pintu perpustakaan, harus melongok kemana. Jika ada cewek berambut panjang, tinggi sedang semampai, tangan kiri menopang tangan kanan yang memegang buku .. itulah si cantik Shinta Hapsari. Begitu mendekat aku biasa menyapanya dengan ” ..ssst ..ssssstt..!!!”
Dia menoleh.
Aku mengedip-ngedipkan mata.
“.. Kenapa ? “
“..He he … males aja sendiri, mo curhat aja ma Kakak..”
Satu jarinya membetulkan letak kaca mata dengan frame tipis itu.
“..Nggak bareng Topan ? “
” Yee … nyindir neh “
” Lho bukannya lagi seruu tuh ” .. ada senyum menggoda nampak sekilas.
” Kakakkkk …!!” aku melotot dan segera mencubitnya gemas
” ..sstttt.. ini perpus “ jari telunjuk segera menyilang di bibir merah itu
Aku tersadar. Sambil menahan malu, kepala menoleh kanan-kiri, melirik Ibu Basuki pustakawan senior yang sedang duduk di singgasana kerjanya. Untung dia hanya melotot ke komputer. Semoga ia juga sedang sibuk sendiri.
“ Abis Kakak nggodain aja …. enggak lagi Kak, dia aja yang nyebarin gosip. Setelah aku dan dia sukses jadi MC bareng di acara Malam Gembira kemarin…”
“ Tapi kayaxnya kamu suka, ngelayani lagi … dan kayaxnya si Topan tipe pantang menyerah tuh”
” Mulai dehhh…” tanganku sudah dalam posisi mau menjitaknya plus mata melotot.
” Eitss … tapi suka kan, ganteng lho … di kelasku aja semua cewek klo bisa berebut duduk deket-deket dia..”
Kak Shinta itu memang fotocopy Ibu. Maka dari itulah hanya masakan dia yang di approve Ibu untuk mewakilinya membuat makanan hantaran kalau keluarga kita sedang ada syukuran. Eh dia juga yang mengajari aku dandan yang luwes. He he .. kalau tidak bedak dan lipstik bisa abis dalam hitungan hari hanya untuk membuat muka ondel-ondel makhluk bernama Dea ini. Meski kalau urusan pilihan baju waduhh, klo harus pakai rok dan hak tinggi .. enggak banget deh. Saran Ibu untuk memanjangkan rambut agar lebih feminim, mentah-mentah kutolak .. ribett euuuy, gerah, dan seribu alasan lain. Dan sudah dapat ditebak jeans adalah kostum favorit, dipadu kaos lengan panjang, kalau lagi dingin ya pakai sweater model turtleneck, mau tau asesoris kebanggaanku ? Ya cuma syal ajah, itu juga hadiah ulang tahun ke 17-ku dari Kak Shinta. Katanya biar aku lebih feminim sedikit.
Kalau Kak Shinta hafal merek-merek parfum, maka aku hafal merek-merek kaos. Satu-satunya hal yang kubanggakan adalah kalau ada acara camping lalu Kak Shinta diharuskan bawa kaos lengan panjang … kemana lagi dia kalau enggak memelas mengajukan proposal peminjaman pada diriku ini. he .. he … kubuka lemariku dan kupamerkan koleksi kaosku bak obral tahun baru .. sssttt jangan bilang-bilang yak itu hasil aku ngibulin Kak Raka. Jadi kalau aku habis survey ke dept. store seperti Ramayana, Matahari, RIMO, Gardena, aku pasti ngajak tebak-tebakan dengan Kak Raka. Ya jelas dia yang kalah .. wong aku yang bikin tebakannya … herannya dia kok mau aja yak aku kibulin, he he … denger-denger sie karena buat siapa lagi duitnya kalau enggak buat nyenenengin adiknya. Apalagi Kak Shinta lebih memilih menjahit bajunya sendiri, dia kan asisten Ibuku kalau urusan ketrampilan wanita he he he ..dari masak, menjahit, menyulam, o ya mencuci dan mengepel jatahku deh .. hiks hiks .. ga enak masak si bungsu tidak ikut berpartisipasi karena nyuci mobil dan ngurus halaman depan sudah bagian Kak Raka.
Orang tidak banyak tahu Kak Shinta karena dia memang pendiam. Tapi kok memilih jurusan Komunikasi sieh ? auk ahh gelap. Tapi dia itu penulis, tentu saja juga tidak banyak yang tahu karena dia sering memakai nama samaran “Kejora”. Kalau tiba-tiba dia senyum-senyum sendiri membaca surat kabar minggu atau sebuah majalah remaja, aku sudah pasti langsung nodong, ” Kak … kapan nieh makan-makan syukuran honornya dimuat ….”
Enak juga ternyata klo punya kakak-kakak yang produktif dan mandiri begini. Inilah berkah si bungsu, tapi ya itu jeleknya ga sembuh-sembuh penyakit boros. Jadi takut sendiri, oh Tuhan lamaan dikit lagi dong masa-masa bahagia begini.
Oya … Topan teman sekelas Kak Shinta itu sudah enggak gencar lagi “ngapelin” aku. Aku sendiri bingung, cowok sekeren itu kok bisa-bisanya aku cuekin. Dulu aku menikmati sekali dikejar-kejar, lalu perjuangannya itu hanya kubalas dengan semakin ngejutekin. Pertama kali sieh emang nggak niat nanggepin, maklum tugas-tugas kuliah dan shoping bersama Kak Shinta lebih mengisi hari-hariku. Tapi yaa.. lama - lama tersentuh juga, tapi klo dibandingin betapa romantisnya cerita di novel-novel yang dipinjam Kak Shinta, kok ga berasa “greeng..” begitu yak. Jangan-jangan aku termasuk orang yang bakal mengalami ” tresna jalaran saka kulina ” (cinta karena terbiasa diteror). Duuhhh jangan dong …. aku juga pengin punya kisah romantis bak Romeo-Juliet, halahhh jangan ding masak sad ending. Bagi penggemar komik Shin-Chan semacam aku ini, anti deh namanya cerita sad ending … Pokoknya biar Brad Pitt mainin peran Shin-Chan kalau itu berakhir sad ending, aku akan memutuskan berhenti berlangganan komik Shin-Chan saat itu juga ..huhh. Lho .. kenapa dari Topan .. jadi Shin-Chan, emang mirip yak kepalanya kan enggak plontos ?
Makanya begitu Topan enggak nguber-uber aku lagi .. ya biasa aja, no thing to loose kok. Tapi jujur ya ada yang hilang. Enak juga ada yang selalu merhatiin, selalu ngerayu bilang aku itu imut, sayangnya Kak Raka langsung memberi warning bahwa aku sedang digombalin saat itu, il-feel dehh. Eh tapi aku juga enggak pernah menjadi tuan rumah yang baik kalau dia datang. Malah Kak Shinta yang sering jadi bemper sempurna, dari mbukain pintu, nerima telpon pertama kali, nyediain air minum … dan nemenin ngobrol dan aku baru keluar sebagai puteri jutek di 10 menit terakhir ketika dia sudah mau pulang. He he ya harus pulang … kalau enggak bakal kusuruh Ayah yang ngegantiin aku ngobrol dengannya sampai mabok, selamat pacaran deh dengan ayahku kalau nekad, beeh jahat yak.
Makin tinggi semester, makin aneh-aneh aja tugas kuliah. Perpustakaan lokal kampus sudah lama tidak memadai. Observasi lapangan lebih banyak disorot dari pada sekedar bahan teori yang rata-rata intinya sama, wong cuma nyuplik kutipan. Kak Shinta yang mengambil jurusan komunikasi makin sering harus praktek nyari berita ke sana ke mari, nguber nara sumber, kadang-kadang sampai harus nginep tempat temen karena nanggung ngerjain tugas kelompok. Ritual makan bersama kami beberapa kali terpaksa tidak lengkap tanpa kehadirannya. Ya sudahlah asal bukan nyiapin sayur dan lauk pauk bisalah aku bantu-bantu.
” Ayah, Ibu .. aku duluan ya… kayaxnya udah dijemput temen ngerjain tugas kelompok nih “
” bareng siapa kamu, ga dianter Raka ? “ tanya Ibu.
” Dia udah ada langganan anter ko, … udah aku tawarin dari kemarin-kemarin ditolak mulu..he he he “ lalu cubitan kecil terselip di lengan Kak Raka
” Nginep lagi yak ? “ tanya Ibu
” Iya Bu, nanggung ngerjainnya, di rumah Yanti kok “
Beberapa menit kemudian ada gerungan sepeda motor sayup-sayup di luar rumah.
fixshine
2nd December 2008, 01:23 PM
(episod, maafkan aku adikku)
Sampai beberapa waktu kami tidak pernah tahu siapa penjemput Kak Shinta itu. Tapi ya tidak begitu pentinglah namanya juga orang buru-buru masak dipaksa masuk dulu. Kadang-kadang adab kesopanan begitu enggak relevan juga bagi jaman sekarang.
“…Ketika anda fokus sederhanakan hidup anda … “ begitu kata salah seorang trainer soft skill di kampusku. Jadi kalau orang cuek itu bukan berarti dia enggak perhatian tapi, kemungkinan besar dia sedang fokus terhadap sesuatu hal yang lain. Nah kita-kita yang orang luar sebaiknya menghormati dan tetap menjaga hubungan baik. Karena dengan itu kita enggak menambah masalah menjadi tambah rumit.
Kak Shinta dengan fokus mengejar pengerjaan tugas-tugas kuliahnya memang sedikit banyak membuat formasi pembagian tugas di rumah menjadi berubah. Aku jadi harus turun tangan juga masak …. halahhh sombong, maksudku aku karena kepepet akhirnya kreatif masak-masak sendiri, ya dari pengorbanan seminggu orang serumah makan salah bumbu, akhirnya aku menemukan resep andalanku yang belum pernah ada di rumah ini yaitu : mie rebus ditaburin bawang goreng, mie goreng berlumur kecap asin, mie rebus campur telur, mie goreng irisan telur dadar, dann .. martabak mie dengan cita rasa bawang bombay. Halahhh semua kok mie … mie mie teyuzzzz.
Kalau disindir Kak Raka bahwa bisaku cuma masak mie ajah, aku selalu berkilah “ Justru yang penting itu masak mie, karena dalam keadaan darurat makanan paling gampang adalah mie … klo ga bisa masak mie seenak-enaknya .. sungguh kasihan orang itu ..” tandasku mantap. Dan Kak Raka hanya bisa nyengir, ujung-ujungnya dia nambah juga.
Oya, daripada sepi di rumah, selain ngurusi kegiatan kampus, aku menerima orderan bimbingan belajar ke anak-anak tetangga. Bisnis yang menarik sih, mengajar sendiri itu excited … ha ha sok Inggris, cuma mau menekankan aja kok. Kadang-kadang aneh juga ya .. wong ilmu yang dari sekolah kan sama saja, kok masih ada ya anak yang butuh bantuan belajar, padahal tinggal baca, hafalin, atau latihan soal. Tapi ya mungkin adanya perhatian dan trik yang membedakan. Bagaimana pun di era persaingan yang keras ini butuh percepatan-percepatan tertentu. Pintar saja tidak cukup, karena perlu arahan. Arahan terbaik sih sebenarnya dari orang tua, cuma ya tau sendiri jaman sekarang ga ada cerita kerja cuma setengah hari keluarga bisa hidup layak. Seringkali anak-anak mendapatkan waktu sisa sebelum saatnya mandiri. Maka alternatifnya ya mencari pengajar-pengajar private yang baik hati, sabar, pengertian, siap membantu apa aja, dan tentu saja manis dan suka tersenyum seperti aku …. halahhh narsisnya kumat.
Mengajari anak-anak yang nakal itu seperti nostalgia masa kecilku. Anak kecil relatif selalu sama kok, penginnya main terus, tapi membiarkannya terus main ya jelas salah. Karena masa depan bukanlah permainan. Hanya perlu dipancing rasa ingin tahunya dengan ajakan, dengan pertanyaan-pertanyaan, dengan komunikasi yang lemah lembut. Nah kalau sudah “dekat”, di sini nih excited-nya , mereka kadang-kadang curhat kalau lagi berantem sama temennya, lucu-lucu sie, dari rebutan permen , sampai nilai ulangan kalah bagus karena temen bisa nyontek. Ah biasanya, kan aku yang curhat segalanya ke kak Shinta, sekarang gantian aku yang dicurhatin anak-anak kecil itu … mulai deh kelembutan-kelembutan Kakak tercantikku itu aku tiru … mulai dari pandangan penuh perhatian, hembusan-hembusan nafas tenang yang mendamaikan, dan “physical touch” ceilee … yaitu usapan atau belaian – belaian penuh kasih sangat mujarab untuk menenangkan jiwa-jiwa yang sedang nggondok sekaligus memotivasinya. Hasilnya … jelas dong banyak yang meroket prestasi nya di sekolah. Hi hi sebenarnya aku mulai laris sih .. banyak yang nawarin ngajar les private, tapi ya aji mumpung itu ga baik .. aku batasi seminggu ngasih bimbingan ke 3 tempat aja. Biar tetep kuliah ga keganggu maksudnya … aku kan perlu ngerjain pe-er2 ku sendiri toh.
Aku ketemu Kak Shinta paling-paling pagi kalau mau berangkat kuliah atau malam ketika pintu kamar terbuka perlahan karena dia baru pulang. Seringkali aku sapa dengan kekuatan mata 20% kesadaran … cukuplah melihat tatapan mata lelahnya, selanjutnya hanya indera keenamkulah yang masih mendeteksi tarian jemarinya di atas keyboard mengerjakan tugas-tugas kuliahnya.
“Kemarin pulang dianter siapa Kak semalem ?” tanyaku sesekali walau basa-basi.
Dia tak pernah menjawab hanya senyum kudapat selalu. Kukira dulu hanya karena dia tahu itu pertanyaan basa-basi ya sudahlah, ternyata belakangan memang dia menyembunyikan sesuatu. Rahasia kecil yang mungkin ga enak diceritakan, atau bingung cara nyeritain, walhasil nunggu tahu sendiri.
Dan akhirnya waktu untuk tahu itu tiba juga.
Suatu kali karena waktu ujian sekolah, Ibu si anak bimbinganku minta waktu ekstra agar aku mau nemenin si anak untuk belajar. Ga pa pa sih kebetulan aku besoknya kuliah kosong, paling-paling pulang agak malaman. Nah setelah ngasih bimbingan ini serunya. Saat mau masuk belokan rumahku, aku melihat seseorang dengan sepeda motor dengan posisi agak ngumpet. Halahh kupikir iseng amat nih orang. Sesekali dia melihat jam dan tampak mencet-mencet handphone. Ketika aku lewat … aku tersadar, eh lho … aku menengok dan mata kami entah kenapa bertatapan. Tebak siapa ? Topan. Jrenggg … ngapain dia ngumpet ?
“Pan ..?!”
“Eh Dea .. ehm eh malam “ sapanya kikuk.
“Nunggu sapa nie, lama ndak mampir nih, sombong …” tanyaku dengan basa-basi innocent.
“Eh nunggu .. itu ehm”
Kalau ga ada apa-apa kenapa harus aneh begitu sih, jadi curiga.
Terdengar langkah-langkah agak berlari dari balik belokan. Sedetik kemudian aku menengok … dan lengkaplah sudah. Kulihat Kak Shinta lengkap dengan dandanannya yang manis, lengan kiri mencangklong tas, tangan kanan mencangking helm. Aku melotot bengong, Kak Shinta juga rupanya tak siap untuk pertemuan tak terduga-duga seperti ini. Ini namanya ketangkap basah enggak bisa bantah … jadi selama ini …. ya ampuuuuuuuuun.
“Eh Dea .. eh sorry … ehmm Topan cuman nganter..”
Bahkan aku masih ingat seratus persen belum pernah menanyakan kenapa Topan ngumpet di situ. Ah sudahlah, orang kalau merasa bersalah, memang reaksinya akan menutupi salah, namun lucunya akan semakin menunjukkan kalau dia sudah salah. Aduh Kakakku yang yang manis kenapa ga bilang dari dulu sih.
“Eh iya, ati-ati ya Kak … jangan lupa bawa oleh-oleh …” jawabku sekenanya.
fixshine
2nd December 2008, 01:23 PM
Ketika aku sudah menjelang tidur, Kak Shinta pulang, dan seperti biasa aku mendengar suara berat pintu terbuka.
“Dea … “ usapan lembut terasa ragu di pundakku.
“Ya … “ jawabku membalikkan badan dengan enggan.
“Ini martabak keju .. kesukaanmu “ uluran kotak berisi martabak yang masih hangat itu kuterima dengan bengong .
“Eh lho .. beneran toh, tumben, nyogokkk nie.. enggak ah “ jual mahal dikit dong, aku meletakkan bungkusan martabak itu di meja, lalu memasang muka cemberut.
Kak Shinta terdiam. Hening beberapa saat. Kesadaranku perlahan memulih menghilangkan kantukku.
Tiba-tiba Kak Shinta menutup mukanya sendiri dan menangis.
“Deaa .. maaffff .. hu hu hu, aku tidak bermaksud … tapi, akhh harusnya aku ga boleh …”
Aku membiarkan Kak Shinta menangis. Sepertinya malah makin menjadi, untung pintu kamar sudah tertutup dan kejadian ini sepertinya hanya akan menjadi rahasia kami berdua.
“Dea maaff yak, maafkan Kakak … Kakak sudah mengkhianati adik “ Kak Shinta sekarang bersimpuh , memeluk pahaku.
Air matanya membasahi celana piyama tidurku. Aku jadi ikut larut juga. Dalam diam, aku belum bisa berkata apa-apa. Otakku masih berpikir keras harus bersikap apa. Topan memang pernah mengejar-ngejar aku. Kak Shinta juga dulu yang paling semangat ngejodohin aku. Aku sendiri walau jutek-jutek ya akhirnya agak suka juga, sayangnya begitu sudah mulai suka Topannya malah menghilang ga ada kabar lagi. Ternyata sebabnya, dia memilih Kak Shinta tokh.
Otakku kemudian jelas mereka-reka pecahan-pecahan kejadian. Pantas Kak Shinta enggak mau nyebutin siapa yang mengantar ngerjain tugas-tugasnya. Jangan-jangan enggak ngerjain tugas tapi malah pacaran yak. Ah, ga bolehlah punya pikiran buruk. Pantas Topan juga menghilang begitu saja. Pantas Kak Shinta enggak pernah lagi cerita-cerita lagi tentang Topan .. dst dst …
Soal Topan ya sudah lah, lewat lewatlah, dulu juga ga terlalu suka juga. Cuma serasa kesentil perasaan ini kalau nyata di depan mata jelas-jelas dibohongi begini. Aku mengerti mungkin Kak Shinta ga enak atau gimana, tapi tetap saja tidak mengurangi rasa dongkolku. Aku rela kok … cuma kenapa harus ada yang disembunyikan … ah sebal dibodohi begini, tapi ya masih untung aku enggak tau dari teman, pasti lebih kesal lagi, Tuhan memang Maha Adil dengan kuasanya.
Tapi ya sudahlah. Kak Shintaku kakak tercintaku. Masak aku tega dia putus ma kekasihnya gara-gara aku. Masak aku mentingin dongkolku sendiri.
“Sudahlah Kak, … aku minta maaf juga, aku yang egois” aku gantian memeluk kakakku agar tidak semakin histeris.
“Hu hu .. enggak Dea Kakak yang egois, harusnya Kakak minta ijin dulu ke kamuuu..”
“Ga pa pa Kak, semua orang pernah salah … yang penting Dea sudah tahu sebenarnya sekarang, jadi lain kali Kakak ga perlu sembunyi-sembunyi lagi kan…” aku sekarang jadi yang berusaha menenangkannya.
Setelah puas air matanya tertumpah, keluar juga cerita lengkapnya. Tak jauh beda, dengan perkiraanku. Kelembutan Kak Shinta, dan kesabarannya menemani Topan menghadapi kejutekankulah, yang akhirnya justru mendekatkan hati mereka. Topan sampai pada suatu kesadaran bahwa dirinya lebih cocok dan membutuhkan Kak Shinta di sampingnya, daripada sekedar terus mengejar-ngejar aku. Kak Shinta memang belum sepenuhnya mengatakan iya, dia hanya bilang “..Jalani sajalah “
Aku yakin dengan kejadian ini banyak hikmah terambil. Dengan persetujuanku hubungan mereka akan lebih baik. Kak Shintaku mantap mendapatkan tambatan hatinya. Kak Shintaku mendapatkan kesempatan lebih leluasa mencintai dan dicintai, ahh indahnya. Selanjutnya, Topan ga usah sembunyi-sembunyi lagi di belokan gang itu. Dia benar-benar calon kakak ipar yang baik … kadang-kadang dia membawakan buah-buahan kesukaan ayah ibuku, sebaliknya Kak Shinta membawakan masakan andalannya untuk orang tua Topan. Kak Shintaku, bahagia sekali sudah bisa memberikanmu kado terindah, walau hanya sekalimat “Aku ikhlaskan dia untukmu Kak …”
fixshine
2nd December 2008, 01:24 PM
(episod apa cinta itu)
Ritual makan bersama keluargaku, di hari – hari kemudian harus mengikuti perkembangan jaman he he maksudku kemudian mempunyai anggota tambahan tidak tetap. Yaitu kadang-kadang Rani-nya Kak Raka atau Topan-nya Kak Shinta, malah kalau 2 orang itu nongol semua …. sudah berarti satu hal saja, itu karena aku yang lagi Ulang Tahun wakakaka …nambah 2 orang calon kakak ipar berarti nambah 2 orang calon dipalak, seru kan … hu hu banyak hadiah, banyak kecupan sayang, ceileee …. panjang umur dan banyak rejeki untuk si bungsu yang tercinta ini yak.
Melihat kakak-kakakku dengan dengan pasangannya masing-masing kadang-kadang membuat sedikit iri. Tapi melihat apa dan mengapa mereka bertemu sungguh suatu keajaiban. Dari ketidaksengajaan, yang bertumbuh lewat kebersamaan, dibina dengan saling pengertian. Kak Raka ketemu Kak Rani yang paling lucu. Mereka bertemu tak sengaja dari chating di warnet, lalu tukar menukar alamat email dan nomor HP.
Kak Raka senang sekali membaca blog Kak Rani yang selalu diupdate dan sebaliknya Kak Raka memberi masukan trik-trik memperindah tampilan blognya. Kak Raka memang suka menolong mereka yang mau belajar padanya tentang web, tentang internet, asal bukan ngehack dalam arti negatif. Setelah sekian lama chating, parahnya mereka itu enggak saling tanya detil dimana lokasi mereka berinternet ria. Suatu saat ketika mereka bertukar foto, dua-duanya terkejut kok kayaknya pernah lihat wajah masing-masing … dan coba tebak … ha ha ha … mereka komputernya memang berhadap-hadapan di warnet yang sama, hanya tersekat sebuah kotak papan pembatas.
Kalau kutanya Kak Raka apa menariknya Kak Rani, dia bilang
“Aku tuh cocok ma Rani .. jauh sebelum aku kenal wajahnya, jadi merem aja cocok .. kebetulan wajahnya oke … ya bonuslah itu “
Kalau begitu lebih ke pribadi yak, jadi makin males dandan kemana-mana nih, pikirku suatu kali. Toh kalau emang ketemu jodohnya, ya ketemu aja. Rambut selalu kupotong pendek biar simple, lima kali sisir keliatan rapi, truss dikuncir, atau pakai jepitan rambut. Ah sudahlah ga usah pakai bedak, nyengir dikit di depan kaca asal gigiku berbaris putih rapi dah puas.
Tapi Kak Shinta yang terkasih kadangkala mengingatkan ,” Kepribadian juga bisa tampak dari cara merawat penampilan …lho, karena siapa tidak suka dengan penampilan yang cantik, yang manis. Kebiasaan merawat yang baik akan berimbas pada kebiasaan-kebiasaan lain … gitu “.
Waduh ampun Kak, ampuun. Kakakku ini tahu aja kelemahanku, apalagi dibandingkan dia. Kakakku itu bangun paling pagi, dan tidak bisa lihat kamar yang berantakan. Aku sudah sering bilang bahwa kamar akan kubersihkan nanti sembari menuntaskan dendam molorku, tapi tetap saja dia bersihkan juga. Dia tidak merasa kebersihan rumah adalah beban, tapi sudah menjadi bagian hidupnya.
Apa ya kelebihan diriku ini, yang kuinget-inget sih cuma bikin keributan saja, masak ada sih cowok yang suka cewek tukang bikin keributan seperti aku. Untunglah Ibuku memberiku harapan, “ Lihat Indy Barens atau Ulfa di TV kan … kamu bisa menyalurkan bakat seperti mereka ….” .
Setitik harapan tlah datang , ha ha ternyata ada juga bisnis bagi tukang bikin ribut. Lumayan kan jadi MC walau acara 17-an, atau acara-acara konser kampus, kecil-kecilan tapi dah serasa selebritis.
“Intinya sih orang suka itu karena kesan yang diterimanya, selalu emotional case. Selanjutnya ya untuk membina hubungan perlu berlatih menggunakan logika, klo emosi terus … bawaannya nuntut terus, jealous terus … klo sudah gitu ya kuat-kuatan aja … yang ga kuat ya ngajak bubar …” Kak Raka suatu kali menceritakan pengalamannya.
“Lihat Ayah dan Ibu aja deh … kalau pengin tahu true love itu seperti apa “ kata Kak Shinta. Waduh kalau sudah terbayang ketika cinta datang terus dihubungkan dengan membentuk keluarga, ngeri deh. Banyak dukanya dari pada sukanya kali yak, begitu banyak tanggung jawab, begitu banyak yang diurus, padahal kalau sekedar pacaran .. he he enak semua dari makan bareng, nonton bareng, belanja bareng, yang pasti kalau aku mau dengan modal niat dandan dikit pasti semuanya itu gratis bisa kudapatkan.
“Saat-saat paling membahagiakan itu selalu kalau kita makan bersama di meja ini …” begitu ungkap Ibu. Jadi inget pepatah Jawa “mangan ora mangan ngumpul “ (makan tidak makan asal kumpul) untungnya kami selalu berkumpul untuk makan. Berbagai menu pernah terhidang di sini. dari cuma nasi tempe sampai kreasi steak dan spaghetti hasil kerjasama yang baik antara Kak Shinta dan Ibu, eh jangan lupakan jasaku juga meluncurkan ide (halah ga mau kalah). Tapi yang pasti meja makan inilah sumber inspirasi kami, tempat kami berbagi, dan juga merayakan apa saja.
Akhir-akhir ini ayah sering batuk-batuk dan masuk angin. Suatu kali aku melihat yang sudah pensiun itu ketiduran di kursi, tampak sekali ketuaannya.
“Dea … kok ayah cuma dipandangi gitu , disuruh masuk ke kamar dong “ tegur Ibu dari belakang.
Ah belum sempat kagetku teratasi. Adegan cinta kasih itu terpampang jelas di mataku. Adegan Ibu membangunkan ayah dengan lembut, mata ayah yang membuka perlahan, lalu Ibu membimbingnya ke kamar untuk menidurkannya. Oh Tuhan …. betapa cinta mereka terjaga sampai tua. Oh ayah ibuku, doakan aku sempat mendapatkan masa-masa indah seperti ini pula nantinya.
fixshine
2nd December 2008, 01:24 PM
(episod selamat jalan ayah..)
Kata orang, semakin tua kadang-kadang orang itu akan kembali seperti anak kecil. Lucu juga sih, demikian juga ayah. Dibalik ketegaran sosok tuanya, kadang-kadang kalau keinginan ngototnya kumat norak banget. Kadang-kadang lagi asyik-asyiknya aku nonton vcd, ayah datang lalu nyuruh-nyuruh minta dibuatin mie, lengkap dengan es teh manis. Aduhhh sebel deh ayah ini … dan ga bisa ditolak karena ayah akan terus menterorku dengan duduk di sebelahku sambil nyubitin. Sempat sieh, aku kerjain bumbunya enggak aku masukin, biar kapok ga nyuruh-nyuruh aku lagi. Tapi parah akibatnya malah disuruh masak mie lagi doble tambah minta dibuatin telur dadar….waduhh.
Nah ternyata teror ayah merata ke semua anggota rumah, Kak Raka yang parah tiba-tiba malam-malam ayah minta besok cat ruangan diganti. Truss siang-siang ga biasanya Kak Shinta ditelpon ayah minta dimasakin sayur asem dengan lauk rendang …lha ga nyambung banget, nah belingsatan ga tuh belanja kepasarnya, wong kalau ayah bersabda ga bisa ditawar lagi, soalnya pakai ngancem ga mau makan segala. Kalau Ibu beda lagi, disaat mereka sedang ngobrol-ngobrol berdua jaman pacaran dulu, ayah cerita tentang motif baju batik milik kakek…. dan benar saja dia akhirnya ngotot minta dibuatin baju batik dengan motif seperti itu, kebayang dong itu motif jaman tahun ‘45 nyari dimana coba. Beberapa undangan pernikahan kolega yang datang tak pernah lagi dihadiri ayahku, hanya karena Ibu belum menjahitkan baju batik dengan motif yang dimaksud ayah… walah parah..parahhh. Untungnya … ketika ada kerabat datang, dari bisik-bisik Ibu menanyakan batik kakek itu, alhamdullilah barangnya masih ada. Wuihhh ayahku yang makin norak itu dendam barangkali, mengurus kenakalan anak-anaknya dulu, sekarang dibalas satu per satu.
Hari ini kuselesaikan ujian skripsiku. Tadi pagi semua isi rumah dipamiti kayak maju perang bharatayudha ajah. Tenang, walau sempat mules-mules dikit karena stress ketika akan menghadapi dosen – dosen penguji semuanya lancar. Sorenya hasil sudah dikalkulasi dan lulus dong, nyaris B gemuk alias memang A wakakaka … tenang sebenere aku cuma jago cuap-cuap, persiapan presentasi dari slide hingga gambar-gambar animasi jelas karya Kak Raka nan kreatif, paling-paling akan kubayar royalty karya animasinya itu dengan sate Pak Basuki atau soto Pak Mium di belakang pasar.
Kehendak Tuhan memang tak bisa dibantah. Suka duka berjalan berganti-ganti. Baru saja aku senyum-senyum keluar pintu kampus, handphone ku berbunyi, segera kuangkat ,”Sayang … kamu sudah selesai ?” oh Ibuku, tapi tunggu kok ada suara serak tangis di ujung sana. Ah paling karena bahagia,” Sudah Bu, .. mau tahu hasilnya ? Setelah perdebatan seru dengan dosenku ..a khirnya aku dapat nilai A !!” hanya hening respon yang kudapat, lho … kok ga ada rasa-rasa gembira sih.
“Dea cepat pulang ya …” ada pinta tertahan kudengar
“Iy .. iyaa …” dan sambungan telpon terputus. Wah, pasti ada yang ga beres nih. Segera aku menyetop angkot, perlu 2 kali angkot ke terminal, untuk naek bis ke rumahku, lalu naik ojek ke kompleks rumahku. Aku berusaha telpon Kak Shinta, nada sibuk. Aku telpon rumah tak ada yang angkat. Aku telpon Kak Raka, setelah agak lama baru terangkat, dan belum sempat aku bicara,” Dea aku masih di rumah sakit, tadi ayah tiba-tiba jatuh dan …. ya sudahlah kamu tunggu di rumah saja, bawa kunci sendiri kan ?!” yang kutangkap nada bingung.
Sepanjang jalan hanya doa, semoga ayah hanya jatuh biasa, paling perlu istirahat total beberapa hari di rumah, toh aku juga sudah bebas sekarang. Namun, semua begitu cepat, dan malang yang terjadi tak sempat lagi ditawar. Sampaiku di rumah 1 jam kemudian hanya disambut peluk tangis Kak Shinta, aku melirik di balik pintu yang sudah dipenuhi orang itu. Oh sekilas tampak sebujur kaku kafan putih, oh lemasnya tubuh ini. Benarkah ayahku berpulang ke haribaan-Mu Tuhan ? Baru saja aku ingin menunjukkan hasil ujianku, ah … gagal sudah semua rencana indahku.
Ibu hanya terdiam di pojok, beberapa kali histeris dan pingsan. Kak Shinta dan Kak Rani sibuk mengipasi dan menghibur. Di luar Kak Raka dibantu Topan sibuk berkoordinasi dengan pengurus masjid setempat menyiapkan acara pemakaman. Aku sendiri bingung, dengan perasaan tak keruan, aku harus apa sekarang. Semua sudah terlambat, kalau tahu ayah akan meninggal aku rela mengulang setahun lagi, demi menjaga ayah agar terhindar dari maut yang menjemputnya kali ini.
Begitu cepat, begitu menorehkan kesedihan. Saat ingin aku terlonjak gembira merayakan keberhasilan, sebuah ironi di saat yang sama aku kehilangan ayah tercinta. Kini aku hanya bisa memandangi pusara ayah yang masih basah. Rumah ayah kini yang indah dihiasi bunga-bunga. Tempat tidur ayah yang paling harum untuk selama-lamanya.
“Ayah sempat tahu … kamu lulus nilai terbaik .. sebelum meninggal, ga usah sedih ya ..” bisik Ibuku, seraya memeluk menenangkanku
fixshine
2nd December 2008, 01:25 PM
(episod terima kasih pada kebersamaan)
Hari-hari pertama sepeninggal ayah adalah terberat … Ibu belum mau duduk di meja makan kami. Ibu masih takut terbawa menyendokkan nasi dan sayur buat ayah, cinta sejatinya. Kak Shinta masih belum bisa bicara juga, aku kesepian, tempat curhatku pun sedang merana. Hanya Kak Raka yang tidak tampak menangis sekalipun, walau tetap saja gurat kesedihan tampak. Wajar, belum ada waktu bersedih baginya, segala urusan di pundaknya sekarang, walau untuk urusan-urusan administratif bergantian diurus bersamaku.
Waktu itu menyembuhkan, dengan berbagi, kesedihan akan perlahan sirna. Entah hari ke berapa aku lupa, meja makan kami baru bisa berfungsi kembali. Formasi otomatis berubah, kursi ayah Kak Raka yang tempati, lihatlah seakan raja baru dengan mahkotanya. Ayah seakan menjelma dalam dirinya. Semakin lengkap, karena Ibulah yang melayani makan Kak Raka. Ah semua sudah kembali …
“Raka … Ibu restui kalau kamu mau melamar Rani “ kata Ibu pelan dan pasti suatu malam.
Semua terhenyak kaget. Padahal Kak Raka belum meminta.
“Sungguh Bu ?”
“Iya …. tapi tinggal di sini ya “
Oh Tuhan indahnya restu Ibu di meja makan ini, tempat paling sakral bagi keluarga kami. Aku terlahir menjadi saksi sekaligus pelaku, ritual makan bersama di keluarga bahagia ini. Aku saksi dan pelaku cerita-cerita sejarah keluarga ini yang selalu berawal dari meja makan bundar ini. Aku yakin sekali berkah Tuhan mengalir dari tiap makanan yang tersaji dari meja makan warisan kakek ini. Kami berpadu dan terus berbagi rasa. Di sinilah tempat citra cinta terjelma sebagai bentuk keluarga. Di sinilah tempat ternyaman untuk kembali, setelah kemanapun masing-masing dari kami mengarungi hari. Di sinilah segala cita rasa terasa nikmat karena tersaji dalam olahan cinta orang tua dan anak. Terima kasih Tuhan memberkahi meja makan kami.
ditulis untuk Ikastara.org
untuk mereka yang selalu kangen akan kebersamaan dalam keluarga
Egtheasilva Artella
2nd December 2008, 07:06 PM
panjaaaanngg,,, :p
btw,,ini repost ya b?
kayaknya udh pernh baca,,,hohoh
fixshine
2nd December 2008, 07:48 PM
panjaaaanngg,,, :p
btw,,ini repost ya b?
kayaknya udh pernh baca,,,hohoh
emang repost tp keknya bny yg lom baca :mbisik:
Powered by vBulletin® Version 4.2.0 Copyright © 2013 vBulletin Solutions, Inc. All rights reserved.