View Full Version : Mimpi yang mewujud
fixshine
15th November 2008, 08:50 PM
Setiap orang punya mimpi. Mimpi yang indah. Mimpi yang selalu ingin diwujudkan. Mimpi yang awalnya semu tetapi karena kesungguhan nyata juga pada akhirnya. Mimpi kadang datang beberapa, sehingga harus memilih. Sebaliknya mimpi juga memilih para pemimpi terbaiknya. Sebagian akan gagal, namun apakah pencarian mimpi berakhir ? Sebagian akan berhasil, puaskah ketika hanya mencapai satu mimpi? Atau bagaimana jika yang datang bahkan pada kesempatan yang tak pernah termimpikan sekali pun ?
Ketika menjadi seorang anak SMP mendengar nama “Taruna Nusantara” berikut berita-beritanya di media, sudah cukup untuk membuat diriku untuk fokus belajar, berlatih, dan menjaga kesehatan. Sangat sederhana ketika ditanya cita-cita, aku akan mantap menjawab,” ..Aku ingin masuk SMA Taruna Nusatara..” Dan memang benar, tercapai juga. Lalu apa setelah itu ? sekedar masuk ? sekedar berbaris ? sekedar seragam pesiar biru ? ternyata mimpi tak kenal kata henti. Tiga bulan pertama yang menjadi euforia, lihatlah aku, jika dulu aku hanya bisa mengenal nama SMA ini ...sekarang aku menjadi bagian darinya. Lihatlah aku, kepala plontos ini, tegapnya barisan apelku, dan betapa semua guruku adalah yang terbaik di jamannya. Ini awal atau akhir perjuangan ? Aku memetik atau memulai langkah pendakian bukit lainnya ?
Belajar adalah kata yang pasti di setiap sekolah. Mengejar nilai adalah indikasi sebuah prestasi. Tetapi SMA Taruna Nusantara bukan soal prestasi. Karena prestasi sudah pasti, hanya masalah siapa yang berhak mencatatkan namanya. Ada mimpi lain di sana senyata kehidupan. Ada ruang-ruang lain di sana selain kelas. Dan setiap ruang-ruang itu mempunyai bintangnya. Kudengar ada lekuk indah nada di panggung pementasan gedung serba guna, kulihat betapa gagah tim Tonpara menjadi petugas-petugas utama upacara kebesaran, kukagumi kerapian dan ketelitian PKS untuk dalam menertibkan atribut kami, terlebih jika mereka sedang bertugas mengawal tamu, wahh sungguh keterkaguman-keterkaguman yang mencuatkan mimpi-mimpi baru. Tentang sosok yang berpose gagah di foto, tentang tanda tangan pujian di buku saku, dan memang rasanya sayang sekali melewatkan 3 tahun di TN hanya untuk menjadi sekedar menjalani hari berjalan menyusuri jalan antara graha asrama dan kelas.
Selepas 3 bulan pertamaku, berkali-kali ujian penyaringan tim-tim elit tadi diumumkan di ruang makan bersama. Siapa yang tidak bersemangat mengikutinya. Namun mimpipun memilih yang terbaik diantara para pemimpi. Sebagian cerita indah yang terungkap adalah tentang keberhasilan, sejujurnya lebih banyak cerita sedih tentang kegagalan yang tak terungkap, tentang pilih kasih, tentang sakit ketika ujian berlangsung, tentang kurangnya persyaratan postur, dan seterusnya. Mimpi mengajarkan bahwa hanya semu jika mengejar yang memang tak berhak dimiliki. Mimpi itu hanya maya maka indahnya memberi inspirasi, tapi buruknya hendaklah memacumu untuk bangun dan melihat nyata. Meratapi mimpi tidaklah akan punya arti. Carilah mimpi-mimpi lain, karena Tuhan menyiapkan segalanya cukup.
fixshine
15th November 2008, 08:51 PM
Memang tak satu pun akhirnya aku lulus ujian saringan tim elit itu. Apakah aku hanya menjadi kelompok rumput yang bergoyang ? boleh ya , boleh tidak. Kadang-kadang ketika kehilangan mimpi yang satu sebenarnya sudah akan terganti dengan mimpi yang lain, hanya kelapangan dada menerima sajalah yang menjadi masalah.
Sesekali sembari melepas kepenatan belajar menghadapi rutinitas mengikuti olympiade HER bersama, aku sering menulis beberapa cerpen, artikel, atau bahkan puisi-puisi. Beberapa dimuat di mading kelas, beberapa menumpuk menganggur di ruangan buletin Kreasi, selebihnya di diaryku. Aku tak pernah mengatakan tulisan-tulisanku bagus, secara dipanggil untuk ikut serta dalam lomba saja tidak pernah. Hanya sekedar mengungkap rasa, menakar kejujuran hati, dan menepis bias dusta saja.
Seringkali mimpi memilih sendiri para pemimpi yang mengejarnya, namun mimpi juga terwujud sendiri oleh keikhlasan hati. Karena mimpimu itu milikmu mengapa tak kau ciptakan sendiri, karena mungkin hanya menunggu waktu terbaik menemuinya.
Aku senang sekali dengan ruang baca perpustakaan. Aku takjub melihat kelengkapan bukunya. Dan aku nyaman duduk di pojok bersender di jendela, membiarkan diriku membebaskan imaginasi dalam bacaan, semakin termanja dengan sepoi angin bukit. Aku memang lebih menyukai novel ketimbang latihan soal MAFIA seri "Schaum", aku lebih tertarik mengagumi gambaran ensiklopedi daripada otobiografi yang super tebal, dan yang pasti aku mencari ketenangan dalam bacaan-bacaan ringan yang memotivasi.
"Wan, kamu bisa bantu mengetik ?" tanya Roy teman depan kamarku suatu kali
"Ya bisalah, tapi habis Her nanti malam yak .." jawabku dengan niat hanya membantunya
"Tim buletin mau ngejar dead-line nih, sebenarnya ga akan sesibuk ini kalau hu huhh sebal .." dia tampak menggerutu.
"Kenapa ... ?"
"Kamu tahu kan, komputer di ruang buletin itu memang kandang virus, eror, dan apalah lagi itu namanya .. apalagi adik-adik itu suka ceroboh asal main shut-down ajah .."
"Sudah kamu push-up mereka ? " tanyaku iseng
"Sudahlah jelas, wong seluruh data jadi hilang gitu, tapi ya mau aku suruh push up 1000 kali juga datanya ga bakal balik .."
"Memangnya ga punya back-up di disket ?"
"Itulah .. kemarin juga kepikiran begitu, tapi sialnya disketnya dibawa Andin adik Sub-Sieku "
"Lha kan bisa ijin sebentar ke graha putri kan boleh toh ..."
"Hahahahaha ........" dia tertawa walo tidak dalam nada gembira.
"Kok ? "
"Si anak pintar itu sudah kabur ke Eropa tadi pagi, masak kamu lupa tulisan dia tentang Hari Pangan se Dunia kan berhasil mewakili Indonesia di forum pemuda dunia ..., sialnya tuh disket kebawa dia "
"Ada bWahyudinya..."
"Apa ?" matanya melotot
"..disketnya bisa liat Eropa , hahahaha.." jawabku becanda, lalu tak menunggu semenit aku sudah digetok sandal.
Roy makin tampak lusuh saja kalau begitu. Inilah resikonya jadi ketua tim buletin. Fasilitas seadanya, tapi apa yang ditampilkan pada buletin akan menjadi sejarah. Dia memang pintar memilih anggota tim termasuk Andin si manis, yang punya jam terbang menulis sukar dicari tandingannya itu. Tapi sebentar, hei hei ... aku segera menyadari sesuatu.
"Aku cuma mbantuin ngetik ? "
"Emh ..sebenarnya, kamu kan tahu sendiri kan kita mulai dari awal ?"
"Maksudmu ?"
"...Wan semua data hilang !! Jadi ya semua artikel, cerpen, puisi, atau pernik-pernik rubrik lain harus ditulis ulang , padahal waktu tinggal 2 minggu "
"Kamu ga bisa buat pengumuman ulang yak untuk pengumpulan ulang ? " saranku spontan.
"Kamu gila ya ? mukaku ditaruh mana ? lagian ini masa-masa Her siapa mau bikin ? "
Aku semakin tersadar, seakan mimpiku bukan lagi sesuatu yang dikejar, sekarang sudah teronggok begitu saja di depan mata.
"Roy, aku bantu tapi kalau kamu setuju ...emh tapi gimana ya ?"
"Ngomong aja ... yang pasti aku harap kamu bisa bantu tidak sekedar tukang ketik, aku lihat kamu pernah ngisi beberapa artikel di mading kelas kan ?"
"Kamu ga bakal ngebandingin karyaku dengan punya Andin kan ?"
Aku melihat binar matanya.
"Tentu-tentu ... dengan sedikit editing dan saran pamong pasti beres, tulisan Andin juga sudah ga level di buletin lokal kita kali he he he..."
Aku mengambilkan Roy sebuah disket, dan beberapa lembar artikel yang masih kusimpan. Dia lalu membaca beberapa..
"Wonderfull, friend ... kenapa sebWahyudi ini tidak pernah kamu kirim ?"
"Emh ... malu tulisanku kebaca ma Andin " jawabku sambil tersipu.
"Ha ha .... gue yakin 1000% Andin bakal senang juga kalau tahu kamu bisa menulis artikel-artikel sedetil ini .. darimana sih bahannya ?"
"Perpus lahh...bagian ensiklopedi " jawabku singkat.
"Okeh ... welcome to my team, mulai nanti malam kita ngebutt !!"
Oh bahagianya, dalam benakku kapanpun Roy minta aku menulis, mengetik semua bahan buletin, aku rela. Wah, membayangkan dan bukan bayangan lagi inisial WRS (Wirawan Satmoko) sebagai penulis akan tersebar pada Buletin Kreasi, dibaca seluruh siswa, dibaca seluruh keluarga besar SMA Taruna Nusantara, bahkan tidak hanya sekilas koran harian, karena buletin ini media yang terbitnya setahun sekali.
Dua minggu yang gila-gilaan memang, hikmahnya aku juga banyak belajar teknik lay-out, reporter dadakan sana-sini, menyusun draft, dan seterusnya hingga puyeng mengurus ijin dinas luar ke percetakan, pertaruhan juga karena harus membagi waktu untuk belajar menghadapi Ulangan Umum. Menyuruh adik-adik juga bisa sih, tapi Roy sudah patah arang, dengan kecerobohan mereka, belum lagi harus bertanggung jawab atas perijinan mereka. Roy akhirnya hanya percaya aku, satu-satunya teman yang kebetulan depan kamar, yang kebetulan suka menulis artikel, yang kebetulan menyeret kebetulan-kebetulan lain sehingga mengubah ketidakmungkinan menjadi fakta bahwa 1000 ekslempar buletin Kreasi tahun ini tercetak juga.
fixshine
15th November 2008, 08:53 PM
Mimpi selalu memilih para pemimpinya yang terbaik, tapi di atas segalanya keikhlasan hatilah yang memanggil mimpi bahkan seakan teronggok di depan mata.
"..Berikut di umumkan nama panitia gabungan siswa selama Masa Basis untuk periode ..." ketika aku selesai menyantap makan siang terakhir sebelum pulang liburan. Pikiranku hanya satu saat itu, ingin segera menunjukkan tulisan-tulisanku kepada orang tua dan adik-adikku di rumah.
Namun sayup jauh gema suara microphone itu jelas, " ..Rekan Wirawan Satmoko sebagai sekretaris umum .. mengendalikan operasional administratif untuk bidang-bidang sebagai berikut ..."
Aku kaget setengah mati, apa tidak salah dengar. Memangnya aku punya pengalaman apa, sekedar membantu Roy ngerjain buletin, kok bisa ... OSIS saja tidak pernah dilirik.
Tiba-tiba bahuku ada yang menepuk," ..Hei.. hei selamat ya , tugas baru menanti setelah liburan, ga pa pa kan liburanmu dipotong 3 hari lebih awal ?"
"Roy, kamu toh .. kamu sendiri kebagian apa ?"
"Sebenarnya, jabatan itu ditawarkan padaku, hanya saja dengan beberapa pertimbangan waktu pulang liburan, dan fokus belajar aku menolak, dan menawarkan namamu...., sorry ya "
"Ah kamu memangnya aku bisa, harusnya bilang-bilang dulu ..."
"Wan, kamu satu-satunya yang bisa kupercaya, mungkin kebetulan tapi kamu sudah membuktikan kualitasmu dalam waktu singkat ... jadi kalau aku percaya kenapa yang lain tidak ?"
Ia hanya tersenyum, menepuk-nepuk punggungku sebentar dan berlalu membiarkanku terdiam ragu.
===================
Bagiku sekolah berasrama satu ini memang istimewa. Saat meninggalkan Kampus SMA TN untuk pulang liburan memang menyenangkan karena kerinduan akan suasana keluarga nun jauh di sana akan segera terobati. Sebaliknya ketika memasukinya kembali ada kerinduan lain di hati ini yang merasuk. Bukan saja sudah menjadi rumah kedua, kampus ini telah menjadi tempat bernaung, tempat menempa diri, dan bukan tidak mungkin apa yang menjadi masa depanku, tergantung bagaimana sikapku menjalani hidup di kampus ini.
Liburanku berlalu dengan cepat, tetapi sudah cukup. Ayahku sering berkata, di masa umurku sekarang kemandirian harus dipacu, kreatifitas harus diberikan ruang seluas-luasnya, karena kedewasaan berarti mengejar mimpi sendiri, kedewasaan berarti belajar berlari mencapai target-target sendiri, tentu ada halangan, tentu ada kegagalan, namun hidup sesungguhnya indah ketika sudah melampauinya. Tiada kesyukuran hidup tanpa adanya ujian, tiada penghargaan sesuap nasi tanpa pernah terperas keringat mendapatkannya. Itulah kenapa liburanku, meskipun sedikit hari kudapatkan, selalu terasa indah karena selalu bermakna karena tidak sedetik pun ingin kulewatkan dengan meresap keindahan dalam keluarga.
Aku menjejakkan kembali di kampus, ketika suasana masih lengang. Rapat kepanitiaan pembukaan pendidikan masih nanti malam. Tetapi kulihat rekan-rekan tim Tonpara sudah sibuk melatih baris berbaris adik-adik CASIS SMA TN di pelataran Balairung Pancasila. Aku terbayang juga kenangan 2 tahun lalu. Aku si kurus, yang baru saja dicukur habis rambutnya, masih berpakaian kaos putih dan celana panjang olahraga. Dengan gerakan baris yang salah-salah, tak henti-hentinya mengagumi abang-abang Tonpara itu. Jika dulu aku hanya kagum tentang keindahan baris berbaris dari sekedar melihat ritual upacara Paskibraka di televisi, atau defile pasukan di HUT TNI/POLRI sekarang aku adalah bagian dari pelaku budaya baris berbaris itu. Berbaris itu tidak sekedar melangkahkan kaki, dan mengayunkan tangan. Karena akan begitu kompleks dengan fokus pada perintah komandan, sikap tubuh, dan yang pasti perlu keteguhan hati untuk terus mempertahankan ritme. Disitulah loyalitas terbentuk, kekompakan terbina, seni memimpin, memberikan perintah diajarkan, dan yang pasti sifat-sifat cengeng, lembek, gampang menyerah, akan dibabat habis.
Kepanitiaan pembukaan pendidikan adalah salah satu dari sekian kepanitiaan besar yang melibatkan siswa dan pamong. Kepanitiaan ini terbilang istimewa karena melibatkan banyak kegiatan berkesinambungan untuk selama masa Basis 3 bulan bagi adik-adik kelas satu. Akan banyak kepanitiaan kecil lain yang akan dibentuk dengan target waktu, tentu akan banyak rapat-rapat diadakan, tentu ruang kekretariatan akan menyala sepanjang malam untuk mempersiapkan proposal rencana kerja, dan sebagainya, dan secara administratif akan dibawah pengawasanku. Entah tenaga darimana, entah ilham darimana, entah keberanian darimana, aku bisa juga unjuk bicara melemparkan usul dan menyumbangkan pikiran.
"Terus terang saya akan kesulitan melihat progress kepanitiaan jika kita hanya bicara dalam rapat .. " umpanku untuk perbaikan.
"Bukankah kita notulen rapat, dan itu sebagian kamu yang mengerjakan ? " salah satu pamong mencoba mengkoreksi.
"Benar Pak, tetapi setelah itu masing-masing tim akan berkerja dengan caranya sendiri ?"
"Apa masalahnya, toh kami punya standar sendiri yang teruji berkali-kali.." jawab rekanku anggota Tonpara yang bertanggung jawab untuk mempersiapkan upacara dan defile.
"Masalahnya adalah pada transparansi dan efektifitas pemantauan pelaksanaan harian .., apa yang harus dijawab rekan Wahyudi sebagai Ketua Umum jika ditanya kegiatan siswa kelas pada suatu hari tertentu ? "
"Bukankah tinggal memanggil ketua timnya ? " rekan tim yag lain mencoba memberi usul.
"Itulah pointnya ... harus mencari dulu orangnya, jika ada dokumentasi lengkap yang terus diupdate akan memudahkan koordinasi, setiap pasukan yang maju perang tentu melihat peta .. dan dokumentasi kegiatan itulah pemetaan kita "
"Kamu masih bicara dalam bagian tugasmu kan ? " pamong lain memperingatkan.
"Tentu Pak .., seluruh sie, dan kepanitiaan kecil dibawah kepanitiaan umum harus membuat perencanaan harian tertulis, menyangkut detail kegiatan, waktu dan penganggung jawab... sehingga koordinasi waktu pelaksanaan tidak tumpang tindih seperti pengalaman di waktu-waktu yang lalu..."
"Saya keberatan ..!" rekan panitia lain mengacungkan tangan segera
"Alasannya ?" tanyaku
"Memang mungkin terobosan positif .. namun merepotkan tim lapangan, toh selama ini tanpa itu berjalan lancar-lancar saja, anda tahu kan .. di lapangan banyak hal bisa berubah ?" pertanyaan kritis, dan sesuai fakta memang, namun aku tak boleh menyerah.
"Ayolah teman, kita belajar pada cara yang benar, catatan kegiatan itu penting karena tidak akan terbuang percuma, karena akan terus menjadi evaluasi kepanitiaan-kepanitiaan mendatang ........."
"Tetapi apakah kamu punya solusi soal fleksibilitas ?"
Dan aku terdiam aku teringat pemeo soal orang lapangan dan orang belakang meja. Dan kini aku berhadapan dengan pertarungannya. Rekan-rekan di lapangan dengan orientasi hasil dan otorisasi yang dimiliki akan bergerak se kreatif mungkin agar target kegiatan diselesaikan. Membuat detail catatan wajar justru akan kontraproduktif dengan banyaknya perubahan situasi.
"Baiklah, kepada Saudara Ketua Umum, apakah diperbolehkan kesekretariatan menambah anggota tim ?"
"Untuk dipekerjakan sebagai apa ? " Wahyudi menanyakan alasan.
"Dokumentasi adalah wajib, namun rekan-rekan di kepanitiaan kecil atau seksi-seksi terkait boleh membuat catatan-catatan singkat tulisan tangan ... nah setelah itu diserahan pada tim kesekretariatan untuk didokumentasikan .. kemudian pada rapat evaluasi mingguan kami akan menyediakan data perkembangan kegiatannya .."
"Saya kira itu usul yang menjadi terobosan, karena selama ini Humas kita juga kesulitan jika ada wartawan tiba-tiba datang untuk meminta wawancara .. tentunya data lengkap kita bisa lebih dapat mempertanggungjawabkan .." tegas Bapak Kepala Sekolah.
Repot juga ternyata. Tapi ya memang begitu. Jabatan itu bisa dilakukan dengan cara mudah atau detail yang susah. Mudah jika hanya ikut rapat, dan menjawab pertanyaan sekenanya. Toh sama-sama terkenal untuk cukup di kerubutin adik-adik yang ingin mencari tanda tangan saat ospek. Itulah pilihan bekerja dan orientasinya.
Aku merekrut lima orang anggota tim kesekreatriatan yang tiap hari akan mencatat progress kegiatan dari seksi-seksi panitia terkait. Aku sendiri memiliki buku agenda tersendiri untuk meringkas hasil pemantauan harian. Hal yang menarik adalah secara tidak langsung aku dapat belajar bagaimana tim-tim semacam Tonpara, PKS, Pataka, atau dari tim kesenian mempersiapkan acaranya. Posisiku juga memungkinkan untuk membagi waktu kegiatan jika sekiranya tumpang tindih, sekaligus menyampaikan pesan-pesan khusus dari pengurus sekolah mengenai tema acara.
"Wan .. kamu ada waktu ?" tanya Sapta temanku yang menjadi ketua tim persiapan upacara.
"Untuk apa ?"
"Kamu ngomong dong di depan adik-adik .."
"Lho apa kapasitasnya ... Wahyudi saja dia kan Ketua Umum "
"Udah kuminta, cuman tuh dia pergi dipanggil Kasek .., kamu kan yang ngawasin progress kita juga toh, ngomonglah apa-apa gitu biar mereka tambah semangat.."
"Lha kamu kan Bosnya disini ..he he" candaku.
"Mereka bosen gue push-up mulu kaliee..."
Jujur saja, lagi-lagi kehormatan yang datang begitu saja. Dan inilah pertama kali aku bicara didepan adik-adik sebanyak ini, karena biasanya hanya sebatas kepala meja makan.
"Adik-adik abang tahu kalian cape, tapi siapa yang masih bisa senyum tunjuk tangan ?" tanyaku ramah pada mereka yang sedang duduk santai di pelataran yang teduh.
Beberapa menunjukkan tangan, disusul beberapa yang lain.
"Okey diulang, siapa yang masih bisa senyum untuk latihan lagiii !!!?" dan kali ini kompak seluruhnya mengangkat tangan.
"Abang juga pernah seperti kalian, kulit terbakar, kepanasan, namun terus latihan .. tapi karena semangat, semangat, semangat, makanya bisa terus senyum .."
Memang sekedar ngoceh tentang senyum sih yang kubicarakan. Karena mereka lelah, tak perlu kiranya ceramah bertele-tele. Senyum adalah penghiburan, dan senyum akan ada tanpa adanya penyesalan. Dan kunci dari semua itu adalah semangat, dan terus bersemangat dalam kebersamaan. Menyenangkan sekali bisa membangkitkan semangat mereka kembali.
fixshine
15th November 2008, 08:53 PM
Ada yang bilang perencanaan yang matang itu sudah 70% keberhasilan, tetapi aku lebih suka menyebut perencanaan itu bagian dari berbagi mimpi. Mimpi tak mungkin dicapai sendiri, bahkan tak pernah akan indah jika dinikmati sendiri. Menuliskan proposal, melaporkan progress kegiatan adalah langkah-langkah mendekat pada mimpi. Karena mimpi memilih para pemimpinya terbaik, yang makin mendekat dengan usaha kerasnya. Mimpi juga kadang menguji dengan caranya sendiri.
Apa yang pasti selain ketidak pastian itu sendiri ? Kita hanya berusaha meminimalisir ketidakpastian itu dengan kesamaan langkah dan kekompakan, dengan satu komando dan ketaatan, dengan keterbukaan di awal dan loyalitas saat sudah menjadi kesepakatan. Sungguh pun demikian selalu ada di atas segalanya, selalu saja ada hal-hal diluar prediksi dengan mudahnya bisa terjadi. Seperti siang itu, ketika Wahyudi menarikku dan membisikkan sederet kalimat pesan yang tidak boleh bocor dahulu sebelum masanya. Aku kaget sekali mendengar berita itu, bisa-bisanya rencana kami yang begitu rapi berantakan dengan hanya satu memo yang datang ke Kasek.
“Gimana Wan, ... masih bisa ga dilakukan yak ?”
“Yah ini tradisi Gus, bagaimana pun bentuknya harus tetap ada “
“Kamu yakin ? “
“Aku harus coba bicarakan dulu dengan Sapta yak ...”
“Oke Wan, kita bagi tugas kamu coba ngomong ke Sapta, aku coba minta waktu 1 hari sebelum Kasek memberi jawaban ke LPTTN besok ..”
Aku mengiyakan pelan. Tak begitu yakin.
Begitu Wahyudi menuju ruang Kasek, aku pun segera menuju ruang sekretariat.
“Liat Wan, ini pemetaan pelataran Balairung Pancasila, adik-adik kelas satu akan dibagi menjadi 4 kompi, mereka akan berangkat dari daerah persiapan di sini .. lalu melintas dengan ...” Sapta berapi-api menjelaskan.
“Bang ini ... model-model formasi PBB tanpa aba-aba yang akan kita tampilkan yang sudah aku print “ salah seorang adik kelas 2 menyerahkan beberapa berkas.
“Emh Andri, Budi, dan Riani .... kalian sudah bekerja keras sore ini aku izinkan kalian istirahat lebih awal , nanti malam jika perlu aku panggil lagi “ perintahku cepat, sebenarnya agar adik-adik kelas 2 di ruang ini dapat segera meninggalkan ruang ini. Ada hal penting yang harus kubicarakan dengan Sapta sebagai penanggung jawab upacara penutupan PDK kali ini.
“Ada apa Wan, ada yang penting ? Mereka kan belum selesai ..”
“Mungkin tidak ada gunanya lagi , berkas-berkas itu ...” jawabku lemah.
“Maksudmu ?”
Aku memberi tanda agar Sapta duduk di kursi, lalu kami berdua menghadapi meja disebelah jendela. Aku menghela nafas panjang untuk menyampaikan kabar buruk.
“To the point saja yak, ada memo dari pusat ke Kasek yang isinya implisit menyebutkan agar meminimalisir simbol-simbol kemiliteran di Upacara PDK nanti ..”
“Ah kamu, memangnya kita bawa senapan ? Ga ada sejarahnya kan ? “
“Teman ini serius, .. karena itu berarti tidak ada seragam pesiar di upacara, tidak ada defile, dan tentu saja tidak ada PBB tanpa aba-aba ..! “
“Apaaaaaaaaa ... kamu gila ya !! “ lalu gebrakan meja kudengar menggelegar.
Inilah yang terberat. Karena sepanjang pengalamanku yang paling mudah adalah menyampaikan berita keberhasilan, yang menantang adalah menyampaikan berita yang membangkitkan semangat, yang paling berkesan adalah mampu membawa berita penghiburan, namun yang paling berat selalu menyampaikan berita pembatalan seperti ini, apalagi kalau persiapan sudah sematang ini. Seakan menjilat ludah sendiri. Seakan mengkhianati semangat telah digembor-gemborkan hari-hari kemarin.
“Sap, kamu tahu kan euforia gerakan reformasi di luar sana juga menimbulkan antipati pada simbol-simbol kemiliteran ?”
“Ya tapi ini di dalam TN, apa urusannya, lagian ini sudah tradisi .. tradisi harus sama tiap angkatan, karena dengan itu kita diinisiasi dengan cara yang sama ... oh kasihan sekali mereka adik-adik itu, ahhh.. kenapa bisa jadi berantakan begini ??!!” Sapta tampak terpukul sekali, ia mengusap-ngusap gusar kepalanya.
“Benar alasanmu teman, hanya saja, kita tidak dalam posisi menolak kan ?”
“Ya tapiiii, ahh aku ga mungkin ...ehm .... aku ga mau jadi orang yang memberitahukan hal ini kepada adik-adik “
Memang menyebalkan hal – hal seperti ini. Aku yang hanya melihat progress kegiatan latihan dari laporan harian saja tak tega memberitahukan kabar ini, bagaimana dia yang tiap hari berpeluh keringat bersama adik-adik. Rekan-rekan Tonpara yang lain pasti bakal sama terpukulnya. Jika begini cuma ada 2 pilihan saja, menyerah saja dan tak usah peduli lagi, atau menyisakan sedikit semangat untuk membuat perbedaan.
“Kecuali satu hal kesempatan kecil, Sap ..”
“Apa ? “
“PBB tanpa aba-aba itu menjadi bagian dari rangkaian acara seni di Gedung Serba Guna.. dan itu berarti kita harus merombak habis-habis skenario acara “
“Itu lebih gila tau ! Kamu liat formasi-formasi ini !? “ Sapta mengacungkan berkas-berkas gambar formasi barisan itu.
“Aku tahu, aku juga pernah kesulitan menghafal hitungan langkah tanpa aba-aba itu ..”
“Nah, ... apalagi waktu tinggal satu bulan , dan sebenarnya 2 minggu saja jika dipotong Ulangan Umum dan RPS, bagaimana bisa ?”
Lalu beberapa menit kubiarkan berlalu agar dia sedikit menjadi lebih tenang. Namun aku tahu ada sedikit kesempatan walau itu hampir mustahil, dan Sapta menjadi kunci saat ini.
“Sap, besok Wahyudi yang akan mengumumkan hal ini. Sampai saat ini hanya kita ber tiga yang tahu. Tapi apa yang Wahyudi umumkan besok tergantung padamu ..”
“Maksudmu ..?”
“Jika kamu menyerah, Wahyudi akan mengumumkan mereka tinggal melewatkan 1 bulan ini dengan belajar saja dan upacara penutupan PDK berlangsung tanpa kesan ...dan ...”
“Dan jika tidak aku harus apa ..? “ dengan nada gusar dia memotong pembicaraanku.
“Sap .. ini tantangan kita, kita harus ciptakan keajaiban, aku bisa membantumu ...” tawarku.
“Memangnya kamu tau apa ? Sorry, bukan meremehkanmu .. tapi aku yang tau kemampuan adik-adik di lapangan “
“Sorry juga kalau menyinggungmu, tapi lihat ini ...” aku mengambil beberapa catatan harian latihan PBB tanpa aba-aba. Aku menunjukkan tahap-tahap latihan yang sudah dilakukan, dan tentu saja bagian tersulitnya tentang hitungan langkah-langkahnya.
“Dimana peluang kita ? “
“Lupakan seragam, lupakan atribut, karena kita hanya diijinkan memakai seragam PDH layaknya SMA biasa ... tapi untuk hitungan kita bisa mengakali ..”
“Maksudmu ? “
Melihat progress harian aku tahu kalau hitungan langkah yang harus dihafal, selalu berganti-ganti karena harus menyesuaikan panjang lebar lapangan dan bentuk formasi.
“Lihat hitungan langkah per formasi di kertas ini, aku jamin siapapun akan susah menghafal, tetapi jika begini ...” aku asal saja merubah hitungan langkah-langkahnya menjadi pembulatan angka yang mudah dihafal dan terus berulang.
“Hei formasi amburadul apa yang kamu buat barusan ?” tanyanya heran.
“Aku tidak membuat formasi, Sap ... aku hanya menunjukkan saran bagaimana agar hitungan itu bisa dihafal dalam waktu singkat, toh adik-adik sudah terbiasa perubahan, terbiasa dengan gerakan-gerakan baris-berbaris... selebihnya kamu dan rekan-rekan Tonpara pasti lebih tahu...”
“Tapi tidak akan ada model formasi yang bWahyudi dengan caramu itu ...”
“Sap ... kita sudah banyak berkorban, jangan korbankan yang ini juga untuk mengejar bentuk ideal ..” aku berusaha meyakinkan.
“Oke-oke bisa aku pikirkan bersama timku malam ini ...”
“Lagian orang hanya tahu kalau itu PBB tanpa aba-aba .. tidak ada yg peduli dengan formasi, nanti untuk sekedar kamuflase aku bisa atur narasi pembawa acara ... yang penting adik-adik bisa tunjukkan PBB tanpa aba-aba itu sebagai bagian dari tradisi yang berkelanjutan bagaimana pun bentuknya ..”
Sapta bangkit sambil wajahnya tampak memikirkan sesuatu. Ia lalu menepuk bahuku.
“Terima kasih, teman ... titip bilang ke Wahyudi formasi barunya besok siap, malam ini aku bicarakan dengan timku soal ini ...”
fixshine
15th November 2008, 08:54 PM
Esok harinya, Wahyudi selaku Ketua Umum panitia siswa mengumumkan perombakan acara besar-besaran ini. Tidak ada yang gembira mendengarnya. Semua terlukan atas kesia-siaan latihan selama ini. Namun masih ada kesempatan kecil yang masih coba dihembuskan.
“ ... kita lihat latihan 2 minggu ini, jika kalian dibawah arahan abangmu Sapta bisa mulus melakukan PBB tanpa aba-aba dengan formasi baru yang sederhana, walaupun tanpa seragam pesiar biru kebanggaan, kalian masih bisa menunjukkan bahwa tradisi siswa kita masih hidup, masih eksis, dan kita memang akan akan membuat keajaiban ..” seru Wahyudi.
Sapta benar diatas kertas memang mudah mengubah hitungan langkah dan formasi. Tetapi kenyataan di lapangan sungguh berbeda. Ada saja yang masih salah, sehingga barisan bisa saling bertubrukan. Belum lagi aku baru sadar di ruangan GSG yang lebih sempit itu kesalahan kecil pun menjadi sangat terlihat dibanding sebelumnya di pelataran. Dan semakin dihukum dan takut salah, sepertinya makin banyak saja salahnya.
“Ini tidak mungkin, Wan ..” Sapta mengeluh.
“Aku melihatnya juga, Sap ... sepertinya mereka makin grogi, semakin sering latihan “
“Apa ya yang bisa bikin sedikit santai ? Suasana tegang begini emosi mulu nih ..”
“Emh nyanyi kali ...” jawabku sekenanya.
“Nyanyi ... oh iya pintar kamu, mereka butuh irama, dan itu bisa sambil nyanyi .. kita kan punya stock banyak lagu mars , briliant ide kamu ......”
Syukurlah, usul asal saja dariku itu bekerja. Hitungan mulut yang diganti dengan nyanyian lagu mars membuat segalanya lancar, dan sedikit berseni. Bertahap dari bernyanyi lagu mars yang diiringi suara drum, bernyanyi sambil terus mengecilkan suara, berbisik, hingga akhirnya tanpa bantuan apapun bagaikan harmoni mereka bisa memeragakan formasi-formasi sederhana yang sudah dirancang, mungkin dalam kesunyian suara rancak sepatu pun bisa berfungsi sebagai ketukan-ketukan irama pemandu.
Gladi bersih yang disaksikan jajaran pengurus sekolah berhasil. Semua lega. Tinggal menunggu hari "H" sambil melatih rotasi pergantian kostum. Karena modifikasi acara menjadi bagian dari rangkaian acara seni yang diakhiri dengan pertemuan siswa kelas satu dengan orang tuanya.
Hari itu pun tiba, hari bersejarah bagi kelas satu karena pada hari itulah mereka akan diinisiasikan sebagai sosok - sosok baru sebagai siswa SMA TN. Seragam pesiar biru kami memang hari itu tidak tampak. Namun apalah arti seragam, jika kebanggaan sudah menyala. Apalah arti warna jika gurat sikap sudah menanda. Berbeda dalam langkah yang sudah menjadi tegap, berbeda dalam teguhnya sikap siap, dan berbeda dalam sorot mata memandang arti cita-cita hidup. Tentu saja, kami yang turut serta dalam kepanitiaan masa basis sangat berbangga hati, memetik hasil kerja keras tanpa pamrih tersebut. Serasa mereka keluarga baru dalam hati, dimana tradisi akan selalu terwariskan.
Upacara penutupan pendidikan berlalu dengan sederhana dan khidmat. Meski para orang tua sudah berebut ingin segera bertemu putra-putri tercintanya, saatnya belum tiba. Beberapa unjuk kebolehan acara seni harus ditampilkan dulu, sebagai bukti hasil sebuah model proses pendidikan. Setelah penampilan semua acara kesenian dari adik-adik kelas satu selesai, jeda 15 menit diambil tim marching Band Gita Bahana Nusantara untuk menampilkan atraksinya, sembari memberi waktu untuk persiapan tradisi PBB tanpa aba-aba.
" Adik-adikku kita tinggal selangkah lagi, kuatkanlah hati kalian, lihat disana orang tua kalian ... lihat disana orang tua kalian akan bangga ... beberapa menit lagi adalah puncak pembuktian .. beberapa menit lagi adalah milik kalian .!! " Wahyudi berusaha membangkitkan semangat.
Sapta kemudian memimpin doa sebentar. Kemudian setelah laporan kesiapan pasukan dilakukan, suaranya menggelegar memberi komando agar barisan per kompi itu masuk ke dalam GSG memeragakan PBB tanpa aba-aba. Suana sangat hening, kami semua yang mengerti bagaimana formasi-formasi barisan itu harus terbentuk menahan nafas. Benar-benar menit-menit milik mereka. Benar-benar mereka harus lepas sendiri membuktikan bahwa mereka memang bisa. Hanya bunyi rancak sepatu mereka yang indah berpadu. Formasi masuk selesai, berlanjut formasi menyamping, menyilang, membelah, ... dan wow semua bersorak ketika formasi terakhir yang membentuk angka romawi angkatan mereka sampai pada langkah terakhirnya.
"..Siap memberikan karya terbaik bagi masyarakat, bangsa, nedara, dan dunia !!" itulah kalimat serempak yang mereka kumandangkan bersama menutup peragaan PBB tanpa aba-aba itu.
fixshine
15th November 2008, 08:55 PM
Formasi yang sungguh mengesankan, sehingga menjadi akhir keseluruhan acara yang manis. Adik-adik kami berhasil membuat keajaiban, bukan hanya mimpi belaka. Mimpi memang memilih para pemimpi terbaiknya, dan kami menjawab dengan kebersamaan, kami bersatu mewujudkan mimpi, menyisir halangan, menepis keterbatasan, dan mencipta keajaiban.
" Wan .. ikut Ibu " sebuah tangan menggaetku ketika sedang asyik melihat adegan para orang tua mencari putra putrinya dalam barisan
" Siap Bu, masih ada tugas ? " sahutku cepat menanggapi ajakan Ibu Ani, Wakasek Humas
" Ikut pers conference .. dengan wartawan di ruang tamu "
" Wahyudi bagaimana, Bu ? " tanyaku heran.
" Dia sedang sibuk mendampingi tamu dari Lembaga meninjau area pembangunan gedung baru .."
Ternyata di era reformasi posisi SMA TN yang notabene dikenal sebagai pencetak calon-calon taruna TNI/Polri semakin menarik di bicarakan. Perbincangan tentang demokrasi dan dikotomi sipil-militer sangat mengemuka. Ada antipati terhadap sikap tegas, dan represif. Padahal sebenarnya semua dilakukan melalui prosedur-prosedur yang ketat juga. Seperti halnya kami di SMA TN, kedisiplinan yang menjadi ciri bukanlah sebagai hasil dari tindakan-tindakan represif, namun hasil dari kebiasaan sehari-hari.
Ibu Ani dengan tangkas memaparkan hasil-hasil pendidikan SMA TN, berikut nilai-nilai dasar yang selalu diajarkan pada setiap program pendidikan. Kukira aku hanya akan diam untuk sekedar mendampingi, sampai suatu ketika pada pertanyaan kecil yang kritis dari seorang wartawan,
"... Apakah dengan merubah tradisi PBB tanpa aba-aba yang biasanya lengkap berseragam menjadi hanya berpakaian berseragam SMA biasa, adalah salah satu usaha memanipulasi unsur kemiliteran yang ada ? "
" Tentu tidak, kemiliteran sendiri hanya sedikit unsur dari unsur pendidikan lain yang membentuk SMA ini , jadi tidak masalah, namun anda dapat mendengar sendiri ... dari wakil siswa di samping saya ..ini "
Ibu Ani kemudian mempersilakan aku memberi jawaban, dan aku sadar apa yang keluar dari mulutku nanti sangat menentukan citra sekolah.
" Kedisiplinan menumbuhkembangkan kreatifitas ... itulah bunyi prasasti yang dapat anda sekalian baca di depan lapangan bola. Itulah kami ... Itulah keseharian kami .... PBB tanpa aba-aba sendiri adalah tradisi siswa yang menjadi simbol bahwa ketika disiplin dijalankan, aturan-aturan ditepati, harmoni kehidupan akan tercipta ... sebaliknya PBB tanpa aba-aba sendiri memiliki resiko ketika karena satu orang saja salah langkah dia akan mengacaukan seluruh barisan ..."
" Apakah kebanggaan anda berkurang dengan ketiadaan seragam pesiar biru seperti biasanya ?"
Aku takjub dengan pertanyaan wartawan satu ini, dia mengenal sekali kebiasaan kami dari tahun ke tahun rupanya.
" Jika kami merasakan perbedaan tentu tidak kami pungkiri, namun siswa SMA TN bukan semata-mata seragam pesiar biru, justru pada kesempatan ini kami berhasil membuktikan dalam baju apapun kami mampu, ... dan bukankah setelah lulus SMA ini kami lebih dituntut terus berprestasi dengan baju yang lebih beragam ? " berhasil juga kututup kedua pertanyaan kritis itu.
Sesi pers conference itu berakhir sebentar kemudian. Aku dan Ibu Ani turut mengantar para wartawan itu keluar ruangan.
" Ibu tidak salah kan, mengajak kamu ... "
" Waduh, sebisanya dan sejujurnya saya tadi itu, Bu " jawabku tersipu
" Kalau begitu apa kata media yang memuat perkataanmu tadi .. terima kasih ya Wan " Ibu Ani pun serta merta menyalamiku.
Bangga rasanya bisa berguna. Entah ilham darimana juga kalimat-kalimat tadi bisa keluar begitu saja. Serasa hasil kerja keras selama ini hanya agar kalimat-kalimat tadi terucapkan mantap. Ah, tak terasa mimpi-mimpiku banyak yang sudah terlampaui. Mimpi-mimpi yang memilih para pemimpi terbaiknya. Mimpi-mimpi yang mewujud indah dengan bentuknya sendiri, yang begitu saja menjadi berkah pada waktunya. Ikhlas hati yang mewujudkan mimpi.
repost by fixshine
untuk ikastara.org
nad3418
16th November 2008, 12:51 AM
membaca ini, sekali lagi air mataku mengalir ... entah mengapa
~ini pasti karena campuran sokelat ma amareto
Egtheasilva Artella
16th November 2008, 11:12 AM
sama b,,,
jadi inget masa2 PDK lagi,,, =(
getepe
16th November 2008, 07:34 PM
jadi btanya sendiri, emang sma tn udah terkenal di angk 6? kan yg dilulusin baru 4 or 5 angkatan:mmikir:
valentina
21st November 2008, 06:01 AM
Jadi inget masa2 perjuangan di tn
:(
Jadi inget juga mimpi yg aq bawa stelah lulus dr tn yg sempat kuabaikan....
fixshine
21st November 2008, 11:22 PM
sebenernya heran knp cerpen ini yg rame direply sih
Egtheasilva Artella
22nd November 2008, 12:00 AM
emangnya kenapa b?
amy982274
22nd November 2008, 12:33 AM
sebenernya heran knp cerpen ini yg rame direply sih
karena bener2 cerita anak tn dan kehidupan di tn..
* baca cerpen ni jadi kangen ma masa2 sma...:(
fixshine
22nd November 2008, 12:07 PM
gue ragu krn cerpen ini idealis bgt .. gitu; ada sie yg romantis cmn linknya lom ketemu ma oggy :(
Powered by vBulletin® Version 4.2.0 Copyright © 2013 vBulletin Solutions, Inc. All rights reserved.