fixshine
15th November 2008, 08:10 AM
Bagian 0
Bukan Prolog
"Kring.....Kring..."
Telepon di sudut ruang keluarga sebuah rumah bertingkat dua bercat putih itu berdering. Tergopoh-gopoh seorang ibu menghampiri telepon itu.
"Halo, Assalamualaikum.." Begitu sapaan si ibu tersebut ketika mengangkat telpon itu.
Raut wajah si ibu itu pun berubah seiring pembicaraan di telepon itu berlanjut, seperti bahagia namun sedih, seperti sedih namun bahagia.
"Ya..terimakasih pak..Assalamualaikum" Perkataan itu menutup percakapan telepon di sore hari itu.
Perlahan si ibu segera berjalan menuju kamar anak bungsunya, ekspresi si ibu semakin campur aduk. Beliau kemudian masuk ke kamar anak laki-lakinya yang memang tidak pernah dikunci itu. Air mata tak terbendung lagi olehnya ketika ia melihat anaknya yang baru lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama itu tertidur dengan pulasnya. Ibu itu kemudian duduk di pinggir kasur itu. Hanya duduk. Sambil menangis. Masih terngiang perkataan bapak-bapak dengan aksen tegas yang menelpon tadi.
"Selamat ya Bu, anak ibu lolos seleksi daerah SMA Taruna Nusantara"
====
"Hehehehe..Wisnu lulus Ma" Ujar anak itu sambil tersenyum kepada Ibunya.
Batu besar dengan tanda tangan Try Sutrisno di bagian bawahnya dan udara sejuk kota Magelang menjadi saksi peluk bangga sang ibu kepada anaknya.
====
Bagian 1
Ketika itu Kelas Satu SMA
Aku hanyalah komputer biasa sebuah desktop dengan Operating System Windows 95. Kertas bertuliskan angka 17 tertempel di bagian atas monitorku. Aku bekerja di Lab Komputer sebuah Sekolah Menengah Atas yang lumayan kenamaan, biasanya anak-anak yang sekolah disini menyebut SMA ini dengan cukup singkat "Te-eN".
Bekerja di sebuah lab terkadang menyenangkan, namun lebih sering membosankan. Bosan juga melihat rambut-rambut cepak itu silih berganti masuk ke lab komputer itu. Bosan juga melihat ekspresi bingung anak-anak itu ketika guru-yang di sini biasa dipanggil Pamong- itu mengajarkan materil yang mungkin hanya dimengerti 10% siswa di lab itu, entah salah siapa. Bosan juga melihat rambut-rambut botak itu bermain game-game kecil ketika jam istirahat dimulai. Kesimpulannya singkat saja. BOSAN.
Tapi, pagi itu aku harus mencari penghapus. Untuk menghapus kata bosan yang kutuliskan di benakku(mungkin lebih tepat jika disebut processorku). Pagi itu tidak membosankan. Pagi itu menarik.
Pagi itu seorang anak berambut cepak dengan papan nama bertuliskan "Wisnu Wardhana" di dada kananya, datang ke lab itu. Dia menitikkan setitik air mata. Air mata itu terlihat cukup kontras dengan postur si anak yang cukup tinggi dengan wajah yang terlihat garang. Ingin aku bertanya kepada anak itu, mengapa ia menangis. Namun apa daya, masih terlalu cepat 30 tahun sampai manusia mungkin bisa berkomunikasi dengan bebas bersama desktop-nya.
Anak itu duduk di hadapanku, jemarinya menggapai mouse yang terletak di samping CPU-ku. Dia mengarahkan pointer di monitorku menuju sebuah ikon bergambar huruf W biru. Microsoft Word. Sesaat kemudian jemari itu mulai bergerak di atas keyboard. Bergerak penuh emosi, seakan menumpahkan segala isi perasaanya pada setiap momentum jari-jemarinya.
===
AKU SAYANG KAMU!!...
Pengen banget rasanya aku teriak dan ngasi tau dia, kalo aku sayang dia..
Tapi..aku ga bisa..dan mungkin ga bakal pernah bisa..
===
Jemari itu terdiam sejenak, imaji sang anak melayang
===
"Hi, namaku Wisnu" Kalimat itu mengawali pembicaraan dua orang anak manusia berseragam SMA dengan dasi yang berstrip satu di lorong kelas sekolah berasrama itu, dan tidak berhenti sampai disitu, sapaan itu mengawali sesuatu yang lebih besar.
===
Jemari si anak kembali bergerak
===
oh Tuhan...
Pertama kali aku bertemu dengannya di lorong kelas itu.
Aku ga bisa ngelupain mata itu.
Mata yang indah.
Terlalu indah.
Matamu hitam, pekat.
Matamu bagai portal menuju dimensi lain.
Dimensi baru dalam hidupku.
Dimensi yang aneh.
Dimensi yang membuatku gila.
Ingin aku bertanya.
Kenapa harus aku ?
lebih-lebih lagi.
Kenapa harus dia ?
aahhhh...peduli setan dengan semuanya...
Aku sayang dia!!!!
argghhh....
dan aku BENCI bahasa Inggris.
===
Si anak terdiam lama di tatapnya baris demi baris tulisan yang muncul di layar itu. Tatapan si anak terlihat sedikit lega. Dia mengklik ikon bergambar disket di jendela itu. ÒAku Benci Bahasa InggrisÓ begitu judul yang dia berikan pada file itu. Pointer bergerak menuju tanda silang di pojok kanan atas layar, klik, kemudian aku memunculkan pilihan untuk menyimpan data -sebuah standar prosedur yang harus kujalani-, klik, dan aku pun menutup jendela itu. Membiarkanku dalam keadaan menyala si anak pergi meninggalkanku, meninggalkan laboratorium Komputer.
Bagian 2
Ketika itu Kelas Dua SMA
Manusia adalah makhluk yang aneh, otak mereka sangat hebat, prosesorku tentu tidak ada apa-apanya dibanding kejeniusan sel-sel abu-abu dalam kepala manusia itu. Tapi, terkadang manusia itu sering bingung karena hal sederhana. Mereka bisa bingung karena dua pilihan yang sudah sangat jelas.
Bagiku :
Jika Òaku cinta padanyaÓ maka Òaku katakan padanyaÓ kalau tidak Òaku tidak katakan padanyaÓ
Tentu saja hal di atas adalah hal yang mudah bagiku. Tinggal mengecek apakah Òaku cinta padanyaÓ, lalu aku tinggal mengeksekusi salah satu perintah yang ada setelahnya. Simpel.
Namun bagi mereka :
Jika Òaku cinta padanyaÓ maka ...............................
Mereka bisa bingung karena kondisional simpel seperti itu, kondisional ini bisa mengarah pada gangguan kinerja piranti lunak manusia, atau mereka biasa menyebutnya ÒstresÓ.
Sepertinya gangguan kinerja bernama stres ini tengah melanda anak bernama Wisnu itu. Hari ini dia duduk dengan tatapan yang sama seperti dulu dia duduk di hadapanku. Tatapan gelisah. Kelihatannya dia butuh ÒaspirinÓ lagi. Dugaanku tepat, dia mengarahkan pointer ke ikon W biru itu lagi. Mencari file berjudul ÒAku Benci Bahasa InggrisÓ dalam folder-folder memoriku. Kemudian Òdia mulai meneguk aspirinÓ lewat setiap hentakan jarinya.
===
AKU STRESS!!!
AKU BINGUNG!!
Oh Tuhan..
kenapa Kau siksa aku dengan perasaan ini..
kenapa Kau buat setiap milisekon aku merindukannya..
kenapa Kau menyiksaku lewat malaikat terindahmu..
dia begitu baik padaku,
dia menghiburku dalam setiap saat sedihku..
dia tertawa bersamaku dalam saat bahagiaku..
dia adalah segala-galanya bagiku..
Setiap malam aku selalu menatap ke arah itu..
Menatap ke arahnya..
Mengharap keajaiban akan membawa dia
ke sisiku..
ke pelukku..
lagi-lagi aku ingin berteriak..
berteriak pada dunia
AKU SAYANG DIAAAA....
arghhhhhh!!
dan
aku semakin benci bahasa Inggris!!
===
Puas meneguk aspirin maya nya si anak kemudian pergi meninggalkanku, tentu saja tak lupa menghapus jejak memori yang sempat dia torehkan ke memoriku. Kepergianku meninggalkan sebuah kebingungan tersendiri. Apa arti sayang bagi manusia ? Bagi ku sayang adalah rangkaian huruf ÒS-A-Y-A-N-GÓ, jelas, riil, tidak membingungkan. Mengapa sayang begitu membingungkan bagi manusia ? Terkadang aku jadi bertanya-tanya sendiri, mengapa makhluk aneh seperti itu bisa-bisanya menciptakan diriku. Sungguh ajaib.
Bab 3
Ketika itu Kelas Tiga SMA
Hari ini tidak ada pelajaran di laboratorium komputer. Oh, bukan, hari ini bukan hari libur. Pagi-pagi aku sudah mendengar suara berbagai macam alat musik yang dibawakan sekelompok siswa. Mereka menyebutnya ÒMarching BandÓ. Gosipnya, hari ini adalah hari kelulusan bagi anak itu ÒPrasetya AlumniÓ namanya.
Sudah hampir tiga tahun sejak pertama kali si anak membuat file ÒAku Benci Bahasa Inggris.docÓ. Tiga tahun adalah waktu yang singkat bagi manusia, tapi tidak bagiku, sebentar lagi kelihatannya aku akan segera di depak dari lab ini, digantikan dengan produk-produk baru dengan Operating System baru, katanya sih namanya Windows 98. Aku tidak terlalu memusingkan hal ini.
Hari ini anak bernama Wisnu itu muncul lagi di hadapanku, ia menggunakan baju biru tua dan celana biru muda. Cukup gagah. Agaknya dia ingin meneguk aspirin terakhirnya sebelum meninggalkan sekolah ini.
Dia membuka file yang sama seperti yang dia buka tiga tahun lalu. Membaca ulang dari halaman pertama setiap kata-kata yang dia tuliskan, sambil terkadang tersenyum kecil. Selesai membaca ulang, mulai lah dia melakukan ritual meneguk aspirin itu.
===
Oh Tuhan.
Tiga tahun sudah
aku dan dia bersama..
Tiga tahun sudah
aku mencintainya
Aku dan dia akan berpisah hari ini..
Mungkin bertemu lagi suatu waktu..
mungkin juga tidak..
aku tidak pernah tahu apa yg Kau rencanakan
Tidak sekalipun aku bisa menyatakan betapa besar cintaku padanya..
tidak sekalipun terucap kata aku sayang kamu..
karena aku tidak bisa..
dan
aku tidak boleh..
Aku sayang dia
dan aku benci bahasa Inggris..
Mengapa ??
Coz' I Love Him..
===
Setelah terdiam cukup lama sang anak menutup jendela itu. Kemudian ia meninggalkan ruangan itu.
Bab ~
Bukan Epilog
Setelah kali terakhir dia menemuiku, tidak pernah lagi aku melihat anak itu kembali lagi. File buatanya masih tersimpan di memoriku yang makin karatan ini. Mungkin tinggal tunggu waktu saja aku crash dan data itu pun nantinya akan hilang.
Sialnya, sampai akhir aku masih juga belum mengerti apa maksud ÒsayangÓ yang dituliskan si anak itu. Ada yang tahu ? Kalau kamu tahu tolong kasih tahu aku ya ! Tapi tolong buat dalam format .exe sehingga aku dapat memahaminya dengan mudah. Ok ?
Seharusnya Selesai Aku Benci Bahasa Inggris
Bagian 0
Bukan Prolog
"Kring.....Kring..."
Telepon di sudut ruang keluarga sebuah rumah bertingkat dua bercat putih itu berdering. Tergopoh-gopoh seorang ibu menghampiri telepon itu.
"Halo, Assalamualaikum.." Begitu sapaan si ibu tersebut ketika mengangkat telpon itu.
Raut wajah si ibu itu pun berubah seiring pembicaraan di telepon itu berlanjut, seperti bahagia namun sedih, seperti sedih namun bahagia.
"Ya..terimakasih pak..Assalamualaikum" Perkataan itu menutup percakapan telepon di sore hari itu.
Perlahan si ibu segera berjalan menuju kamar anak bungsunya, ekspresi si ibu semakin campur aduk. Beliau kemudian masuk ke kamar anak laki-lakinya yang memang tidak pernah dikunci itu. Air mata tak terbendung lagi olehnya ketika ia melihat anaknya yang baru lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama itu tertidur dengan pulasnya. Ibu itu kemudian duduk di pinggir kasur itu. Hanya duduk. Sambil menangis. Masih terngiang perkataan bapak-bapak dengan aksen tegas yang menelpon tadi.
"Selamat ya Bu, anak ibu lolos seleksi daerah SMA Taruna Nusantara"
====
"Hehehehe..Wisnu lulus Ma" Ujar anak itu sambil tersenyum kepada Ibunya.
Batu besar dengan tanda tangan Try Sutrisno di bagian bawahnya dan udara sejuk kota Magelang menjadi saksi peluk bangga sang ibu kepada anaknya.
====
Bagian 1
Ketika itu Kelas Satu SMA
Aku hanyalah komputer biasa sebuah desktop dengan Operating System Windows 95. Kertas bertuliskan angka 17 tertempel di bagian atas monitorku. Aku bekerja di Lab Komputer sebuah Sekolah Menengah Atas yang lumayan kenamaan, biasanya anak-anak yang sekolah disini menyebut SMA ini dengan cukup singkat "Te-eN".
Bekerja di sebuah lab terkadang menyenangkan, namun lebih sering membosankan. Bosan juga melihat rambut-rambut cepak itu silih berganti masuk ke lab komputer itu. Bosan juga melihat ekspresi bingung anak-anak itu ketika guru-yang di sini biasa dipanggil Pamong- itu mengajarkan materil yang mungkin hanya dimengerti 10% siswa di lab itu, entah salah siapa. Bosan juga melihat rambut-rambut botak itu bermain game-game kecil ketika jam istirahat dimulai. Kesimpulannya singkat saja. BOSAN.
Tapi, pagi itu aku harus mencari penghapus. Untuk menghapus kata bosan yang kutuliskan di benakku(mungkin lebih tepat jika disebut processorku). Pagi itu tidak membosankan. Pagi itu menarik.
Pagi itu seorang anak berambut cepak dengan papan nama bertuliskan "Wisnu Wardhana" di dada kananya, datang ke lab itu. Dia menitikkan setitik air mata. Air mata itu terlihat cukup kontras dengan postur si anak yang cukup tinggi dengan wajah yang terlihat garang. Ingin aku bertanya kepada anak itu, mengapa ia menangis. Namun apa daya, masih terlalu cepat 30 tahun sampai manusia mungkin bisa berkomunikasi dengan bebas bersama desktop-nya.
Anak itu duduk di hadapanku, jemarinya menggapai mouse yang terletak di samping CPU-ku. Dia mengarahkan pointer di monitorku menuju sebuah ikon bergambar huruf W biru. Microsoft Word. Sesaat kemudian jemari itu mulai bergerak di atas keyboard. Bergerak penuh emosi, seakan menumpahkan segala isi perasaanya pada setiap momentum jari-jemarinya.
===
AKU SAYANG KAMU!!...
Pengen banget rasanya aku teriak dan ngasi tau dia, kalo aku sayang dia..
Tapi..aku ga bisa..dan mungkin ga bakal pernah bisa..
===
Jemari itu terdiam sejenak, imaji sang anak melayang
===
"Hi, namaku Wisnu" Kalimat itu mengawali pembicaraan dua orang anak manusia berseragam SMA dengan dasi yang berstrip satu di lorong kelas sekolah berasrama itu, dan tidak berhenti sampai disitu, sapaan itu mengawali sesuatu yang lebih besar.
===
Jemari si anak kembali bergerak
===
oh Tuhan...
Pertama kali aku bertemu dengannya di lorong kelas itu.
Aku ga bisa ngelupain mata itu.
Mata yang indah.
Terlalu indah.
Matamu hitam, pekat.
Matamu bagai portal menuju dimensi lain.
Dimensi baru dalam hidupku.
Dimensi yang aneh.
Dimensi yang membuatku gila.
Ingin aku bertanya.
Kenapa harus aku ?
lebih-lebih lagi.
Kenapa harus dia ?
aahhhh...peduli setan dengan semuanya...
Aku sayang dia!!!!
argghhh....
dan aku BENCI bahasa Inggris.
===
Si anak terdiam lama di tatapnya baris demi baris tulisan yang muncul di layar itu. Tatapan si anak terlihat sedikit lega. Dia mengklik ikon bergambar disket di jendela itu. ÒAku Benci Bahasa InggrisÓ begitu judul yang dia berikan pada file itu. Pointer bergerak menuju tanda silang di pojok kanan atas layar, klik, kemudian aku memunculkan pilihan untuk menyimpan data -sebuah standar prosedur yang harus kujalani-, klik, dan aku pun menutup jendela itu. Membiarkanku dalam keadaan menyala si anak pergi meninggalkanku, meninggalkan laboratorium Komputer.
Bagian 2
Ketika itu Kelas Dua SMA
Manusia adalah makhluk yang aneh, otak mereka sangat hebat, prosesorku tentu tidak ada apa-apanya dibanding kejeniusan sel-sel abu-abu dalam kepala manusia itu. Tapi, terkadang manusia itu sering bingung karena hal sederhana. Mereka bisa bingung karena dua pilihan yang sudah sangat jelas.
Bagiku :
Jika Òaku cinta padanyaÓ maka Òaku katakan padanyaÓ kalau tidak Òaku tidak katakan padanyaÓ
Tentu saja hal di atas adalah hal yang mudah bagiku. Tinggal mengecek apakah Òaku cinta padanyaÓ, lalu aku tinggal mengeksekusi salah satu perintah yang ada setelahnya. Simpel.
Namun bagi mereka :
Jika Òaku cinta padanyaÓ maka ...............................
Mereka bisa bingung karena kondisional simpel seperti itu, kondisional ini bisa mengarah pada gangguan kinerja piranti lunak manusia, atau mereka biasa menyebutnya ÒstresÓ.
Sepertinya gangguan kinerja bernama stres ini tengah melanda anak bernama Wisnu itu. Hari ini dia duduk dengan tatapan yang sama seperti dulu dia duduk di hadapanku. Tatapan gelisah. Kelihatannya dia butuh ÒaspirinÓ lagi. Dugaanku tepat, dia mengarahkan pointer ke ikon W biru itu lagi. Mencari file berjudul ÒAku Benci Bahasa InggrisÓ dalam folder-folder memoriku. Kemudian Òdia mulai meneguk aspirinÓ lewat setiap hentakan jarinya.
===
AKU STRESS!!!
AKU BINGUNG!!
Oh Tuhan..
kenapa Kau siksa aku dengan perasaan ini..
kenapa Kau buat setiap milisekon aku merindukannya..
kenapa Kau menyiksaku lewat malaikat terindahmu..
dia begitu baik padaku,
dia menghiburku dalam setiap saat sedihku..
dia tertawa bersamaku dalam saat bahagiaku..
dia adalah segala-galanya bagiku..
Setiap malam aku selalu menatap ke arah itu..
Menatap ke arahnya..
Mengharap keajaiban akan membawa dia
ke sisiku..
ke pelukku..
lagi-lagi aku ingin berteriak..
berteriak pada dunia
AKU SAYANG DIAAAA....
arghhhhhh!!
dan
aku semakin benci bahasa Inggris!!
===
Puas meneguk aspirin maya nya si anak kemudian pergi meninggalkanku, tentu saja tak lupa menghapus jejak memori yang sempat dia torehkan ke memoriku. Kepergianku meninggalkan sebuah kebingungan tersendiri. Apa arti sayang bagi manusia ? Bagi ku sayang adalah rangkaian huruf ÒS-A-Y-A-N-GÓ, jelas, riil, tidak membingungkan. Mengapa sayang begitu membingungkan bagi manusia ? Terkadang aku jadi bertanya-tanya sendiri, mengapa makhluk aneh seperti itu bisa-bisanya menciptakan diriku. Sungguh ajaib.
Bab 3
Ketika itu Kelas Tiga SMA
Hari ini tidak ada pelajaran di laboratorium komputer. Oh, bukan, hari ini bukan hari libur. Pagi-pagi aku sudah mendengar suara berbagai macam alat musik yang dibawakan sekelompok siswa. Mereka menyebutnya ÒMarching BandÓ. Gosipnya, hari ini adalah hari kelulusan bagi anak itu ÒPrasetya AlumniÓ namanya.
Sudah hampir tiga tahun sejak pertama kali si anak membuat file ÒAku Benci Bahasa Inggris.docÓ. Tiga tahun adalah waktu yang singkat bagi manusia, tapi tidak bagiku, sebentar lagi kelihatannya aku akan segera di depak dari lab ini, digantikan dengan produk-produk baru dengan Operating System baru, katanya sih namanya Windows 98. Aku tidak terlalu memusingkan hal ini.
Hari ini anak bernama Wisnu itu muncul lagi di hadapanku, ia menggunakan baju biru tua dan celana biru muda. Cukup gagah. Agaknya dia ingin meneguk aspirin terakhirnya sebelum meninggalkan sekolah ini.
Dia membuka file yang sama seperti yang dia buka tiga tahun lalu. Membaca ulang dari halaman pertama setiap kata-kata yang dia tuliskan, sambil terkadang tersenyum kecil. Selesai membaca ulang, mulai lah dia melakukan ritual meneguk aspirin itu.
===
Oh Tuhan.
Tiga tahun sudah
aku dan dia bersama..
Tiga tahun sudah
aku mencintainya
Aku dan dia akan berpisah hari ini..
Mungkin bertemu lagi suatu waktu..
mungkin juga tidak..
aku tidak pernah tahu apa yg Kau rencanakan
Tidak sekalipun aku bisa menyatakan betapa besar cintaku padanya..
tidak sekalipun terucap kata aku sayang kamu..
karena aku tidak bisa..
dan
aku tidak boleh..
Aku sayang dia
dan aku benci bahasa Inggris..
Mengapa ??
Coz' I Love Him..
===
Setelah terdiam cukup lama sang anak menutup jendela itu. Kemudian ia meninggalkan ruangan itu.
Bab ~
Bukan Epilog
Setelah kali terakhir dia menemuiku, tidak pernah lagi aku melihat anak itu kembali lagi. File buatanya masih tersimpan di memoriku yang makin karatan ini. Mungkin tinggal tunggu waktu saja aku crash dan data itu pun nantinya akan hilang.
Sialnya, sampai akhir aku masih juga belum mengerti apa maksud ÒsayangÓ yang dituliskan si anak itu. Ada yang tahu ? Kalau kamu tahu tolong kasih tahu aku ya ! Tapi tolong buat dalam format .exe sehingga aku dapat memahaminya dengan mudah. Ok ?
Seharusnya Selesai Aku Benci Bahasa Inggris
Bagian 0
Bukan Prolog
"Kring.....Kring..."
Telepon di sudut ruang keluarga sebuah rumah bertingkat dua bercat putih itu berdering. Tergopoh-gopoh seorang ibu menghampiri telepon itu.
"Halo, Assalamualaikum.." Begitu sapaan si ibu tersebut ketika mengangkat telpon itu.
Raut wajah si ibu itu pun berubah seiring pembicaraan di telepon itu berlanjut, seperti bahagia namun sedih, seperti sedih namun bahagia.
"Ya..terimakasih pak..Assalamualaikum" Perkataan itu menutup percakapan telepon di sore hari itu.
Perlahan si ibu segera berjalan menuju kamar anak bungsunya, ekspresi si ibu semakin campur aduk. Beliau kemudian masuk ke kamar anak laki-lakinya yang memang tidak pernah dikunci itu. Air mata tak terbendung lagi olehnya ketika ia melihat anaknya yang baru lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama itu tertidur dengan pulasnya. Ibu itu kemudian duduk di pinggir kasur itu. Hanya duduk. Sambil menangis. Masih terngiang perkataan bapak-bapak dengan aksen tegas yang menelpon tadi.
"Selamat ya Bu, anak ibu lolos seleksi daerah SMA Taruna Nusantara"
====
"Hehehehe..Wisnu lulus Ma" Ujar anak itu sambil tersenyum kepada Ibunya.
Batu besar dengan tanda tangan Try Sutrisno di bagian bawahnya dan udara sejuk kota Magelang menjadi saksi peluk bangga sang ibu kepada anaknya.
====
Bagian 1
Ketika itu Kelas Satu SMA
Aku hanyalah komputer biasa sebuah desktop dengan Operating System Windows 95. Kertas bertuliskan angka 17 tertempel di bagian atas monitorku. Aku bekerja di Lab Komputer sebuah Sekolah Menengah Atas yang lumayan kenamaan, biasanya anak-anak yang sekolah disini menyebut SMA ini dengan cukup singkat "Te-eN".
Bekerja di sebuah lab terkadang menyenangkan, namun lebih sering membosankan. Bosan juga melihat rambut-rambut cepak itu silih berganti masuk ke lab komputer itu. Bosan juga melihat ekspresi bingung anak-anak itu ketika guru-yang di sini biasa dipanggil Pamong- itu mengajarkan materil yang mungkin hanya dimengerti 10% siswa di lab itu, entah salah siapa. Bosan juga melihat rambut-rambut botak itu bermain game-game kecil ketika jam istirahat dimulai. Kesimpulannya singkat saja. BOSAN.
Tapi, pagi itu aku harus mencari penghapus. Untuk menghapus kata bosan yang kutuliskan di benakku(mungkin lebih tepat jika disebut processorku). Pagi itu tidak membosankan. Pagi itu menarik.
Pagi itu seorang anak berambut cepak dengan papan nama bertuliskan "Wisnu Wardhana" di dada kananya, datang ke lab itu. Dia menitikkan setitik air mata. Air mata itu terlihat cukup kontras dengan postur si anak yang cukup tinggi dengan wajah yang terlihat garang. Ingin aku bertanya kepada anak itu, mengapa ia menangis. Namun apa daya, masih terlalu cepat 30 tahun sampai manusia mungkin bisa berkomunikasi dengan bebas bersama desktop-nya.
Anak itu duduk di hadapanku, jemarinya menggapai mouse yang terletak di samping CPU-ku. Dia mengarahkan pointer di monitorku menuju sebuah ikon bergambar huruf W biru. Microsoft Word. Sesaat kemudian jemari itu mulai bergerak di atas keyboard. Bergerak penuh emosi, seakan menumpahkan segala isi perasaanya pada setiap momentum jari-jemarinya.
===
AKU SAYANG KAMU!!...
Pengen banget rasanya aku teriak dan ngasi tau dia, kalo aku sayang dia..
Tapi..aku ga bisa..dan mungkin ga bakal pernah bisa..
===
Jemari itu terdiam sejenak, imaji sang anak melayang
===
"Hi, namaku Wisnu" Kalimat itu mengawali pembicaraan dua orang anak manusia berseragam SMA dengan dasi yang berstrip satu di lorong kelas sekolah berasrama itu, dan tidak berhenti sampai disitu, sapaan itu mengawali sesuatu yang lebih besar.
===
Jemari si anak kembali bergerak
===
oh Tuhan...
Pertama kali aku bertemu dengannya di lorong kelas itu.
Aku ga bisa ngelupain mata itu.
Mata yang indah.
Terlalu indah.
Matamu hitam, pekat.
Matamu bagai portal menuju dimensi lain.
Dimensi baru dalam hidupku.
Dimensi yang aneh.
Dimensi yang membuatku gila.
Ingin aku bertanya.
Kenapa harus aku ?
lebih-lebih lagi.
Kenapa harus dia ?
aahhhh...peduli setan dengan semuanya...
Aku sayang dia!!!!
argghhh....
dan aku BENCI bahasa Inggris.
===
Si anak terdiam lama di tatapnya baris demi baris tulisan yang muncul di layar itu. Tatapan si anak terlihat sedikit lega. Dia mengklik ikon bergambar disket di jendela itu. ÒAku Benci Bahasa InggrisÓ begitu judul yang dia berikan pada file itu. Pointer bergerak menuju tanda silang di pojok kanan atas layar, klik, kemudian aku memunculkan pilihan untuk menyimpan data -sebuah standar prosedur yang harus kujalani-, klik, dan aku pun menutup jendela itu. Membiarkanku dalam keadaan menyala si anak pergi meninggalkanku, meninggalkan laboratorium Komputer.
Bagian 2
Ketika itu Kelas Dua SMA
Manusia adalah makhluk yang aneh, otak mereka sangat hebat, prosesorku tentu tidak ada apa-apanya dibanding kejeniusan sel-sel abu-abu dalam kepala manusia itu. Tapi, terkadang manusia itu sering bingung karena hal sederhana. Mereka bisa bingung karena dua pilihan yang sudah sangat jelas.
Bagiku :
Jika Òaku cinta padanyaÓ maka Òaku katakan padanyaÓ kalau tidak Òaku tidak katakan padanyaÓ
Tentu saja hal di atas adalah hal yang mudah bagiku. Tinggal mengecek apakah Òaku cinta padanyaÓ, lalu aku tinggal mengeksekusi salah satu perintah yang ada setelahnya. Simpel.
Namun bagi mereka :
Jika Òaku cinta padanyaÓ maka ...............................
Mereka bisa bingung karena kondisional simpel seperti itu, kondisional ini bisa mengarah pada gangguan kinerja piranti lunak manusia, atau mereka biasa menyebutnya ÒstresÓ.
Sepertinya gangguan kinerja bernama stres ini tengah melanda anak bernama Wisnu itu. Hari ini dia duduk dengan tatapan yang sama seperti dulu dia duduk di hadapanku. Tatapan gelisah. Kelihatannya dia butuh ÒaspirinÓ lagi. Dugaanku tepat, dia mengarahkan pointer ke ikon W biru itu lagi. Mencari file berjudul ÒAku Benci Bahasa InggrisÓ dalam folder-folder memoriku. Kemudian Òdia mulai meneguk aspirinÓ lewat setiap hentakan jarinya.
===
AKU STRESS!!!
AKU BINGUNG!!
Oh Tuhan..
kenapa Kau siksa aku dengan perasaan ini..
kenapa Kau buat setiap milisekon aku merindukannya..
kenapa Kau menyiksaku lewat malaikat terindahmu..
dia begitu baik padaku,
dia menghiburku dalam setiap saat sedihku..
dia tertawa bersamaku dalam saat bahagiaku..
dia adalah segala-galanya bagiku..
Setiap malam aku selalu menatap ke arah itu..
Menatap ke arahnya..
Mengharap keajaiban akan membawa dia
ke sisiku..
ke pelukku..
lagi-lagi aku ingin berteriak..
berteriak pada dunia
AKU SAYANG DIAAAA....
arghhhhhh!!
dan
aku semakin benci bahasa Inggris!!
===
Puas meneguk aspirin maya nya si anak kemudian pergi meninggalkanku, tentu saja tak lupa menghapus jejak memori yang sempat dia torehkan ke memoriku. Kepergianku meninggalkan sebuah kebingungan tersendiri. Apa arti sayang bagi manusia ? Bagi ku sayang adalah rangkaian huruf ÒS-A-Y-A-N-GÓ, jelas, riil, tidak membingungkan. Mengapa sayang begitu membingungkan bagi manusia ? Terkadang aku jadi bertanya-tanya sendiri, mengapa makhluk aneh seperti itu bisa-bisanya menciptakan diriku. Sungguh ajaib.
Bab 3
Ketika itu Kelas Tiga SMA
Hari ini tidak ada pelajaran di laboratorium komputer. Oh, bukan, hari ini bukan hari libur. Pagi-pagi aku sudah mendengar suara berbagai macam alat musik yang dibawakan sekelompok siswa. Mereka menyebutnya ÒMarching BandÓ. Gosipnya, hari ini adalah hari kelulusan bagi anak itu ÒPrasetya AlumniÓ namanya.
Sudah hampir tiga tahun sejak pertama kali si anak membuat file ÒAku Benci Bahasa Inggris.docÓ. Tiga tahun adalah waktu yang singkat bagi manusia, tapi tidak bagiku, sebentar lagi kelihatannya aku akan segera di depak dari lab ini, digantikan dengan produk-produk baru dengan Operating System baru, katanya sih namanya Windows 98. Aku tidak terlalu memusingkan hal ini.
Hari ini anak bernama Wisnu itu muncul lagi di hadapanku, ia menggunakan baju biru tua dan celana biru muda. Cukup gagah. Agaknya dia ingin meneguk aspirin terakhirnya sebelum meninggalkan sekolah ini.
Dia membuka file yang sama seperti yang dia buka tiga tahun lalu. Membaca ulang dari halaman pertama setiap kata-kata yang dia tuliskan, sambil terkadang tersenyum kecil. Selesai membaca ulang, mulai lah dia melakukan ritual meneguk aspirin itu.
===
Oh Tuhan.
Tiga tahun sudah
aku dan dia bersama..
Tiga tahun sudah
aku mencintainya
Aku dan dia akan berpisah hari ini..
Mungkin bertemu lagi suatu waktu..
mungkin juga tidak..
aku tidak pernah tahu apa yg Kau rencanakan
Tidak sekalipun aku bisa menyatakan betapa besar cintaku padanya..
tidak sekalipun terucap kata aku sayang kamu..
karena aku tidak bisa..
dan
aku tidak boleh..
Aku sayang dia
dan aku benci bahasa Inggris..
Mengapa ??
Coz' I Love Him..
===
Setelah terdiam cukup lama sang anak menutup jendela itu. Kemudian ia meninggalkan ruangan itu.
Bab ~
Bukan Epilog
Setelah kali terakhir dia menemuiku, tidak pernah lagi aku melihat anak itu kembali lagi. File buatanya masih tersimpan di memoriku yang makin karatan ini. Mungkin tinggal tunggu waktu saja aku crash dan data itu pun nantinya akan hilang.
Sialnya, sampai akhir aku masih juga belum mengerti apa maksud ÒsayangÓ yang dituliskan si anak itu. Ada yang tahu ? Kalau kamu tahu tolong kasih tahu aku ya ! Tapi tolong buat dalam format .exe sehingga aku dapat memahaminya dengan mudah. Ok ?
Seharusnya Selesai
---------------
diambil dari salah satu karya kontroversial para anonym ikastara.org
Bukan Prolog
"Kring.....Kring..."
Telepon di sudut ruang keluarga sebuah rumah bertingkat dua bercat putih itu berdering. Tergopoh-gopoh seorang ibu menghampiri telepon itu.
"Halo, Assalamualaikum.." Begitu sapaan si ibu tersebut ketika mengangkat telpon itu.
Raut wajah si ibu itu pun berubah seiring pembicaraan di telepon itu berlanjut, seperti bahagia namun sedih, seperti sedih namun bahagia.
"Ya..terimakasih pak..Assalamualaikum" Perkataan itu menutup percakapan telepon di sore hari itu.
Perlahan si ibu segera berjalan menuju kamar anak bungsunya, ekspresi si ibu semakin campur aduk. Beliau kemudian masuk ke kamar anak laki-lakinya yang memang tidak pernah dikunci itu. Air mata tak terbendung lagi olehnya ketika ia melihat anaknya yang baru lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama itu tertidur dengan pulasnya. Ibu itu kemudian duduk di pinggir kasur itu. Hanya duduk. Sambil menangis. Masih terngiang perkataan bapak-bapak dengan aksen tegas yang menelpon tadi.
"Selamat ya Bu, anak ibu lolos seleksi daerah SMA Taruna Nusantara"
====
"Hehehehe..Wisnu lulus Ma" Ujar anak itu sambil tersenyum kepada Ibunya.
Batu besar dengan tanda tangan Try Sutrisno di bagian bawahnya dan udara sejuk kota Magelang menjadi saksi peluk bangga sang ibu kepada anaknya.
====
Bagian 1
Ketika itu Kelas Satu SMA
Aku hanyalah komputer biasa sebuah desktop dengan Operating System Windows 95. Kertas bertuliskan angka 17 tertempel di bagian atas monitorku. Aku bekerja di Lab Komputer sebuah Sekolah Menengah Atas yang lumayan kenamaan, biasanya anak-anak yang sekolah disini menyebut SMA ini dengan cukup singkat "Te-eN".
Bekerja di sebuah lab terkadang menyenangkan, namun lebih sering membosankan. Bosan juga melihat rambut-rambut cepak itu silih berganti masuk ke lab komputer itu. Bosan juga melihat ekspresi bingung anak-anak itu ketika guru-yang di sini biasa dipanggil Pamong- itu mengajarkan materil yang mungkin hanya dimengerti 10% siswa di lab itu, entah salah siapa. Bosan juga melihat rambut-rambut botak itu bermain game-game kecil ketika jam istirahat dimulai. Kesimpulannya singkat saja. BOSAN.
Tapi, pagi itu aku harus mencari penghapus. Untuk menghapus kata bosan yang kutuliskan di benakku(mungkin lebih tepat jika disebut processorku). Pagi itu tidak membosankan. Pagi itu menarik.
Pagi itu seorang anak berambut cepak dengan papan nama bertuliskan "Wisnu Wardhana" di dada kananya, datang ke lab itu. Dia menitikkan setitik air mata. Air mata itu terlihat cukup kontras dengan postur si anak yang cukup tinggi dengan wajah yang terlihat garang. Ingin aku bertanya kepada anak itu, mengapa ia menangis. Namun apa daya, masih terlalu cepat 30 tahun sampai manusia mungkin bisa berkomunikasi dengan bebas bersama desktop-nya.
Anak itu duduk di hadapanku, jemarinya menggapai mouse yang terletak di samping CPU-ku. Dia mengarahkan pointer di monitorku menuju sebuah ikon bergambar huruf W biru. Microsoft Word. Sesaat kemudian jemari itu mulai bergerak di atas keyboard. Bergerak penuh emosi, seakan menumpahkan segala isi perasaanya pada setiap momentum jari-jemarinya.
===
AKU SAYANG KAMU!!...
Pengen banget rasanya aku teriak dan ngasi tau dia, kalo aku sayang dia..
Tapi..aku ga bisa..dan mungkin ga bakal pernah bisa..
===
Jemari itu terdiam sejenak, imaji sang anak melayang
===
"Hi, namaku Wisnu" Kalimat itu mengawali pembicaraan dua orang anak manusia berseragam SMA dengan dasi yang berstrip satu di lorong kelas sekolah berasrama itu, dan tidak berhenti sampai disitu, sapaan itu mengawali sesuatu yang lebih besar.
===
Jemari si anak kembali bergerak
===
oh Tuhan...
Pertama kali aku bertemu dengannya di lorong kelas itu.
Aku ga bisa ngelupain mata itu.
Mata yang indah.
Terlalu indah.
Matamu hitam, pekat.
Matamu bagai portal menuju dimensi lain.
Dimensi baru dalam hidupku.
Dimensi yang aneh.
Dimensi yang membuatku gila.
Ingin aku bertanya.
Kenapa harus aku ?
lebih-lebih lagi.
Kenapa harus dia ?
aahhhh...peduli setan dengan semuanya...
Aku sayang dia!!!!
argghhh....
dan aku BENCI bahasa Inggris.
===
Si anak terdiam lama di tatapnya baris demi baris tulisan yang muncul di layar itu. Tatapan si anak terlihat sedikit lega. Dia mengklik ikon bergambar disket di jendela itu. ÒAku Benci Bahasa InggrisÓ begitu judul yang dia berikan pada file itu. Pointer bergerak menuju tanda silang di pojok kanan atas layar, klik, kemudian aku memunculkan pilihan untuk menyimpan data -sebuah standar prosedur yang harus kujalani-, klik, dan aku pun menutup jendela itu. Membiarkanku dalam keadaan menyala si anak pergi meninggalkanku, meninggalkan laboratorium Komputer.
Bagian 2
Ketika itu Kelas Dua SMA
Manusia adalah makhluk yang aneh, otak mereka sangat hebat, prosesorku tentu tidak ada apa-apanya dibanding kejeniusan sel-sel abu-abu dalam kepala manusia itu. Tapi, terkadang manusia itu sering bingung karena hal sederhana. Mereka bisa bingung karena dua pilihan yang sudah sangat jelas.
Bagiku :
Jika Òaku cinta padanyaÓ maka Òaku katakan padanyaÓ kalau tidak Òaku tidak katakan padanyaÓ
Tentu saja hal di atas adalah hal yang mudah bagiku. Tinggal mengecek apakah Òaku cinta padanyaÓ, lalu aku tinggal mengeksekusi salah satu perintah yang ada setelahnya. Simpel.
Namun bagi mereka :
Jika Òaku cinta padanyaÓ maka ...............................
Mereka bisa bingung karena kondisional simpel seperti itu, kondisional ini bisa mengarah pada gangguan kinerja piranti lunak manusia, atau mereka biasa menyebutnya ÒstresÓ.
Sepertinya gangguan kinerja bernama stres ini tengah melanda anak bernama Wisnu itu. Hari ini dia duduk dengan tatapan yang sama seperti dulu dia duduk di hadapanku. Tatapan gelisah. Kelihatannya dia butuh ÒaspirinÓ lagi. Dugaanku tepat, dia mengarahkan pointer ke ikon W biru itu lagi. Mencari file berjudul ÒAku Benci Bahasa InggrisÓ dalam folder-folder memoriku. Kemudian Òdia mulai meneguk aspirinÓ lewat setiap hentakan jarinya.
===
AKU STRESS!!!
AKU BINGUNG!!
Oh Tuhan..
kenapa Kau siksa aku dengan perasaan ini..
kenapa Kau buat setiap milisekon aku merindukannya..
kenapa Kau menyiksaku lewat malaikat terindahmu..
dia begitu baik padaku,
dia menghiburku dalam setiap saat sedihku..
dia tertawa bersamaku dalam saat bahagiaku..
dia adalah segala-galanya bagiku..
Setiap malam aku selalu menatap ke arah itu..
Menatap ke arahnya..
Mengharap keajaiban akan membawa dia
ke sisiku..
ke pelukku..
lagi-lagi aku ingin berteriak..
berteriak pada dunia
AKU SAYANG DIAAAA....
arghhhhhh!!
dan
aku semakin benci bahasa Inggris!!
===
Puas meneguk aspirin maya nya si anak kemudian pergi meninggalkanku, tentu saja tak lupa menghapus jejak memori yang sempat dia torehkan ke memoriku. Kepergianku meninggalkan sebuah kebingungan tersendiri. Apa arti sayang bagi manusia ? Bagi ku sayang adalah rangkaian huruf ÒS-A-Y-A-N-GÓ, jelas, riil, tidak membingungkan. Mengapa sayang begitu membingungkan bagi manusia ? Terkadang aku jadi bertanya-tanya sendiri, mengapa makhluk aneh seperti itu bisa-bisanya menciptakan diriku. Sungguh ajaib.
Bab 3
Ketika itu Kelas Tiga SMA
Hari ini tidak ada pelajaran di laboratorium komputer. Oh, bukan, hari ini bukan hari libur. Pagi-pagi aku sudah mendengar suara berbagai macam alat musik yang dibawakan sekelompok siswa. Mereka menyebutnya ÒMarching BandÓ. Gosipnya, hari ini adalah hari kelulusan bagi anak itu ÒPrasetya AlumniÓ namanya.
Sudah hampir tiga tahun sejak pertama kali si anak membuat file ÒAku Benci Bahasa Inggris.docÓ. Tiga tahun adalah waktu yang singkat bagi manusia, tapi tidak bagiku, sebentar lagi kelihatannya aku akan segera di depak dari lab ini, digantikan dengan produk-produk baru dengan Operating System baru, katanya sih namanya Windows 98. Aku tidak terlalu memusingkan hal ini.
Hari ini anak bernama Wisnu itu muncul lagi di hadapanku, ia menggunakan baju biru tua dan celana biru muda. Cukup gagah. Agaknya dia ingin meneguk aspirin terakhirnya sebelum meninggalkan sekolah ini.
Dia membuka file yang sama seperti yang dia buka tiga tahun lalu. Membaca ulang dari halaman pertama setiap kata-kata yang dia tuliskan, sambil terkadang tersenyum kecil. Selesai membaca ulang, mulai lah dia melakukan ritual meneguk aspirin itu.
===
Oh Tuhan.
Tiga tahun sudah
aku dan dia bersama..
Tiga tahun sudah
aku mencintainya
Aku dan dia akan berpisah hari ini..
Mungkin bertemu lagi suatu waktu..
mungkin juga tidak..
aku tidak pernah tahu apa yg Kau rencanakan
Tidak sekalipun aku bisa menyatakan betapa besar cintaku padanya..
tidak sekalipun terucap kata aku sayang kamu..
karena aku tidak bisa..
dan
aku tidak boleh..
Aku sayang dia
dan aku benci bahasa Inggris..
Mengapa ??
Coz' I Love Him..
===
Setelah terdiam cukup lama sang anak menutup jendela itu. Kemudian ia meninggalkan ruangan itu.
Bab ~
Bukan Epilog
Setelah kali terakhir dia menemuiku, tidak pernah lagi aku melihat anak itu kembali lagi. File buatanya masih tersimpan di memoriku yang makin karatan ini. Mungkin tinggal tunggu waktu saja aku crash dan data itu pun nantinya akan hilang.
Sialnya, sampai akhir aku masih juga belum mengerti apa maksud ÒsayangÓ yang dituliskan si anak itu. Ada yang tahu ? Kalau kamu tahu tolong kasih tahu aku ya ! Tapi tolong buat dalam format .exe sehingga aku dapat memahaminya dengan mudah. Ok ?
Seharusnya Selesai Aku Benci Bahasa Inggris
Bagian 0
Bukan Prolog
"Kring.....Kring..."
Telepon di sudut ruang keluarga sebuah rumah bertingkat dua bercat putih itu berdering. Tergopoh-gopoh seorang ibu menghampiri telepon itu.
"Halo, Assalamualaikum.." Begitu sapaan si ibu tersebut ketika mengangkat telpon itu.
Raut wajah si ibu itu pun berubah seiring pembicaraan di telepon itu berlanjut, seperti bahagia namun sedih, seperti sedih namun bahagia.
"Ya..terimakasih pak..Assalamualaikum" Perkataan itu menutup percakapan telepon di sore hari itu.
Perlahan si ibu segera berjalan menuju kamar anak bungsunya, ekspresi si ibu semakin campur aduk. Beliau kemudian masuk ke kamar anak laki-lakinya yang memang tidak pernah dikunci itu. Air mata tak terbendung lagi olehnya ketika ia melihat anaknya yang baru lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama itu tertidur dengan pulasnya. Ibu itu kemudian duduk di pinggir kasur itu. Hanya duduk. Sambil menangis. Masih terngiang perkataan bapak-bapak dengan aksen tegas yang menelpon tadi.
"Selamat ya Bu, anak ibu lolos seleksi daerah SMA Taruna Nusantara"
====
"Hehehehe..Wisnu lulus Ma" Ujar anak itu sambil tersenyum kepada Ibunya.
Batu besar dengan tanda tangan Try Sutrisno di bagian bawahnya dan udara sejuk kota Magelang menjadi saksi peluk bangga sang ibu kepada anaknya.
====
Bagian 1
Ketika itu Kelas Satu SMA
Aku hanyalah komputer biasa sebuah desktop dengan Operating System Windows 95. Kertas bertuliskan angka 17 tertempel di bagian atas monitorku. Aku bekerja di Lab Komputer sebuah Sekolah Menengah Atas yang lumayan kenamaan, biasanya anak-anak yang sekolah disini menyebut SMA ini dengan cukup singkat "Te-eN".
Bekerja di sebuah lab terkadang menyenangkan, namun lebih sering membosankan. Bosan juga melihat rambut-rambut cepak itu silih berganti masuk ke lab komputer itu. Bosan juga melihat ekspresi bingung anak-anak itu ketika guru-yang di sini biasa dipanggil Pamong- itu mengajarkan materil yang mungkin hanya dimengerti 10% siswa di lab itu, entah salah siapa. Bosan juga melihat rambut-rambut botak itu bermain game-game kecil ketika jam istirahat dimulai. Kesimpulannya singkat saja. BOSAN.
Tapi, pagi itu aku harus mencari penghapus. Untuk menghapus kata bosan yang kutuliskan di benakku(mungkin lebih tepat jika disebut processorku). Pagi itu tidak membosankan. Pagi itu menarik.
Pagi itu seorang anak berambut cepak dengan papan nama bertuliskan "Wisnu Wardhana" di dada kananya, datang ke lab itu. Dia menitikkan setitik air mata. Air mata itu terlihat cukup kontras dengan postur si anak yang cukup tinggi dengan wajah yang terlihat garang. Ingin aku bertanya kepada anak itu, mengapa ia menangis. Namun apa daya, masih terlalu cepat 30 tahun sampai manusia mungkin bisa berkomunikasi dengan bebas bersama desktop-nya.
Anak itu duduk di hadapanku, jemarinya menggapai mouse yang terletak di samping CPU-ku. Dia mengarahkan pointer di monitorku menuju sebuah ikon bergambar huruf W biru. Microsoft Word. Sesaat kemudian jemari itu mulai bergerak di atas keyboard. Bergerak penuh emosi, seakan menumpahkan segala isi perasaanya pada setiap momentum jari-jemarinya.
===
AKU SAYANG KAMU!!...
Pengen banget rasanya aku teriak dan ngasi tau dia, kalo aku sayang dia..
Tapi..aku ga bisa..dan mungkin ga bakal pernah bisa..
===
Jemari itu terdiam sejenak, imaji sang anak melayang
===
"Hi, namaku Wisnu" Kalimat itu mengawali pembicaraan dua orang anak manusia berseragam SMA dengan dasi yang berstrip satu di lorong kelas sekolah berasrama itu, dan tidak berhenti sampai disitu, sapaan itu mengawali sesuatu yang lebih besar.
===
Jemari si anak kembali bergerak
===
oh Tuhan...
Pertama kali aku bertemu dengannya di lorong kelas itu.
Aku ga bisa ngelupain mata itu.
Mata yang indah.
Terlalu indah.
Matamu hitam, pekat.
Matamu bagai portal menuju dimensi lain.
Dimensi baru dalam hidupku.
Dimensi yang aneh.
Dimensi yang membuatku gila.
Ingin aku bertanya.
Kenapa harus aku ?
lebih-lebih lagi.
Kenapa harus dia ?
aahhhh...peduli setan dengan semuanya...
Aku sayang dia!!!!
argghhh....
dan aku BENCI bahasa Inggris.
===
Si anak terdiam lama di tatapnya baris demi baris tulisan yang muncul di layar itu. Tatapan si anak terlihat sedikit lega. Dia mengklik ikon bergambar disket di jendela itu. ÒAku Benci Bahasa InggrisÓ begitu judul yang dia berikan pada file itu. Pointer bergerak menuju tanda silang di pojok kanan atas layar, klik, kemudian aku memunculkan pilihan untuk menyimpan data -sebuah standar prosedur yang harus kujalani-, klik, dan aku pun menutup jendela itu. Membiarkanku dalam keadaan menyala si anak pergi meninggalkanku, meninggalkan laboratorium Komputer.
Bagian 2
Ketika itu Kelas Dua SMA
Manusia adalah makhluk yang aneh, otak mereka sangat hebat, prosesorku tentu tidak ada apa-apanya dibanding kejeniusan sel-sel abu-abu dalam kepala manusia itu. Tapi, terkadang manusia itu sering bingung karena hal sederhana. Mereka bisa bingung karena dua pilihan yang sudah sangat jelas.
Bagiku :
Jika Òaku cinta padanyaÓ maka Òaku katakan padanyaÓ kalau tidak Òaku tidak katakan padanyaÓ
Tentu saja hal di atas adalah hal yang mudah bagiku. Tinggal mengecek apakah Òaku cinta padanyaÓ, lalu aku tinggal mengeksekusi salah satu perintah yang ada setelahnya. Simpel.
Namun bagi mereka :
Jika Òaku cinta padanyaÓ maka ...............................
Mereka bisa bingung karena kondisional simpel seperti itu, kondisional ini bisa mengarah pada gangguan kinerja piranti lunak manusia, atau mereka biasa menyebutnya ÒstresÓ.
Sepertinya gangguan kinerja bernama stres ini tengah melanda anak bernama Wisnu itu. Hari ini dia duduk dengan tatapan yang sama seperti dulu dia duduk di hadapanku. Tatapan gelisah. Kelihatannya dia butuh ÒaspirinÓ lagi. Dugaanku tepat, dia mengarahkan pointer ke ikon W biru itu lagi. Mencari file berjudul ÒAku Benci Bahasa InggrisÓ dalam folder-folder memoriku. Kemudian Òdia mulai meneguk aspirinÓ lewat setiap hentakan jarinya.
===
AKU STRESS!!!
AKU BINGUNG!!
Oh Tuhan..
kenapa Kau siksa aku dengan perasaan ini..
kenapa Kau buat setiap milisekon aku merindukannya..
kenapa Kau menyiksaku lewat malaikat terindahmu..
dia begitu baik padaku,
dia menghiburku dalam setiap saat sedihku..
dia tertawa bersamaku dalam saat bahagiaku..
dia adalah segala-galanya bagiku..
Setiap malam aku selalu menatap ke arah itu..
Menatap ke arahnya..
Mengharap keajaiban akan membawa dia
ke sisiku..
ke pelukku..
lagi-lagi aku ingin berteriak..
berteriak pada dunia
AKU SAYANG DIAAAA....
arghhhhhh!!
dan
aku semakin benci bahasa Inggris!!
===
Puas meneguk aspirin maya nya si anak kemudian pergi meninggalkanku, tentu saja tak lupa menghapus jejak memori yang sempat dia torehkan ke memoriku. Kepergianku meninggalkan sebuah kebingungan tersendiri. Apa arti sayang bagi manusia ? Bagi ku sayang adalah rangkaian huruf ÒS-A-Y-A-N-GÓ, jelas, riil, tidak membingungkan. Mengapa sayang begitu membingungkan bagi manusia ? Terkadang aku jadi bertanya-tanya sendiri, mengapa makhluk aneh seperti itu bisa-bisanya menciptakan diriku. Sungguh ajaib.
Bab 3
Ketika itu Kelas Tiga SMA
Hari ini tidak ada pelajaran di laboratorium komputer. Oh, bukan, hari ini bukan hari libur. Pagi-pagi aku sudah mendengar suara berbagai macam alat musik yang dibawakan sekelompok siswa. Mereka menyebutnya ÒMarching BandÓ. Gosipnya, hari ini adalah hari kelulusan bagi anak itu ÒPrasetya AlumniÓ namanya.
Sudah hampir tiga tahun sejak pertama kali si anak membuat file ÒAku Benci Bahasa Inggris.docÓ. Tiga tahun adalah waktu yang singkat bagi manusia, tapi tidak bagiku, sebentar lagi kelihatannya aku akan segera di depak dari lab ini, digantikan dengan produk-produk baru dengan Operating System baru, katanya sih namanya Windows 98. Aku tidak terlalu memusingkan hal ini.
Hari ini anak bernama Wisnu itu muncul lagi di hadapanku, ia menggunakan baju biru tua dan celana biru muda. Cukup gagah. Agaknya dia ingin meneguk aspirin terakhirnya sebelum meninggalkan sekolah ini.
Dia membuka file yang sama seperti yang dia buka tiga tahun lalu. Membaca ulang dari halaman pertama setiap kata-kata yang dia tuliskan, sambil terkadang tersenyum kecil. Selesai membaca ulang, mulai lah dia melakukan ritual meneguk aspirin itu.
===
Oh Tuhan.
Tiga tahun sudah
aku dan dia bersama..
Tiga tahun sudah
aku mencintainya
Aku dan dia akan berpisah hari ini..
Mungkin bertemu lagi suatu waktu..
mungkin juga tidak..
aku tidak pernah tahu apa yg Kau rencanakan
Tidak sekalipun aku bisa menyatakan betapa besar cintaku padanya..
tidak sekalipun terucap kata aku sayang kamu..
karena aku tidak bisa..
dan
aku tidak boleh..
Aku sayang dia
dan aku benci bahasa Inggris..
Mengapa ??
Coz' I Love Him..
===
Setelah terdiam cukup lama sang anak menutup jendela itu. Kemudian ia meninggalkan ruangan itu.
Bab ~
Bukan Epilog
Setelah kali terakhir dia menemuiku, tidak pernah lagi aku melihat anak itu kembali lagi. File buatanya masih tersimpan di memoriku yang makin karatan ini. Mungkin tinggal tunggu waktu saja aku crash dan data itu pun nantinya akan hilang.
Sialnya, sampai akhir aku masih juga belum mengerti apa maksud ÒsayangÓ yang dituliskan si anak itu. Ada yang tahu ? Kalau kamu tahu tolong kasih tahu aku ya ! Tapi tolong buat dalam format .exe sehingga aku dapat memahaminya dengan mudah. Ok ?
Seharusnya Selesai Aku Benci Bahasa Inggris
Bagian 0
Bukan Prolog
"Kring.....Kring..."
Telepon di sudut ruang keluarga sebuah rumah bertingkat dua bercat putih itu berdering. Tergopoh-gopoh seorang ibu menghampiri telepon itu.
"Halo, Assalamualaikum.." Begitu sapaan si ibu tersebut ketika mengangkat telpon itu.
Raut wajah si ibu itu pun berubah seiring pembicaraan di telepon itu berlanjut, seperti bahagia namun sedih, seperti sedih namun bahagia.
"Ya..terimakasih pak..Assalamualaikum" Perkataan itu menutup percakapan telepon di sore hari itu.
Perlahan si ibu segera berjalan menuju kamar anak bungsunya, ekspresi si ibu semakin campur aduk. Beliau kemudian masuk ke kamar anak laki-lakinya yang memang tidak pernah dikunci itu. Air mata tak terbendung lagi olehnya ketika ia melihat anaknya yang baru lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama itu tertidur dengan pulasnya. Ibu itu kemudian duduk di pinggir kasur itu. Hanya duduk. Sambil menangis. Masih terngiang perkataan bapak-bapak dengan aksen tegas yang menelpon tadi.
"Selamat ya Bu, anak ibu lolos seleksi daerah SMA Taruna Nusantara"
====
"Hehehehe..Wisnu lulus Ma" Ujar anak itu sambil tersenyum kepada Ibunya.
Batu besar dengan tanda tangan Try Sutrisno di bagian bawahnya dan udara sejuk kota Magelang menjadi saksi peluk bangga sang ibu kepada anaknya.
====
Bagian 1
Ketika itu Kelas Satu SMA
Aku hanyalah komputer biasa sebuah desktop dengan Operating System Windows 95. Kertas bertuliskan angka 17 tertempel di bagian atas monitorku. Aku bekerja di Lab Komputer sebuah Sekolah Menengah Atas yang lumayan kenamaan, biasanya anak-anak yang sekolah disini menyebut SMA ini dengan cukup singkat "Te-eN".
Bekerja di sebuah lab terkadang menyenangkan, namun lebih sering membosankan. Bosan juga melihat rambut-rambut cepak itu silih berganti masuk ke lab komputer itu. Bosan juga melihat ekspresi bingung anak-anak itu ketika guru-yang di sini biasa dipanggil Pamong- itu mengajarkan materil yang mungkin hanya dimengerti 10% siswa di lab itu, entah salah siapa. Bosan juga melihat rambut-rambut botak itu bermain game-game kecil ketika jam istirahat dimulai. Kesimpulannya singkat saja. BOSAN.
Tapi, pagi itu aku harus mencari penghapus. Untuk menghapus kata bosan yang kutuliskan di benakku(mungkin lebih tepat jika disebut processorku). Pagi itu tidak membosankan. Pagi itu menarik.
Pagi itu seorang anak berambut cepak dengan papan nama bertuliskan "Wisnu Wardhana" di dada kananya, datang ke lab itu. Dia menitikkan setitik air mata. Air mata itu terlihat cukup kontras dengan postur si anak yang cukup tinggi dengan wajah yang terlihat garang. Ingin aku bertanya kepada anak itu, mengapa ia menangis. Namun apa daya, masih terlalu cepat 30 tahun sampai manusia mungkin bisa berkomunikasi dengan bebas bersama desktop-nya.
Anak itu duduk di hadapanku, jemarinya menggapai mouse yang terletak di samping CPU-ku. Dia mengarahkan pointer di monitorku menuju sebuah ikon bergambar huruf W biru. Microsoft Word. Sesaat kemudian jemari itu mulai bergerak di atas keyboard. Bergerak penuh emosi, seakan menumpahkan segala isi perasaanya pada setiap momentum jari-jemarinya.
===
AKU SAYANG KAMU!!...
Pengen banget rasanya aku teriak dan ngasi tau dia, kalo aku sayang dia..
Tapi..aku ga bisa..dan mungkin ga bakal pernah bisa..
===
Jemari itu terdiam sejenak, imaji sang anak melayang
===
"Hi, namaku Wisnu" Kalimat itu mengawali pembicaraan dua orang anak manusia berseragam SMA dengan dasi yang berstrip satu di lorong kelas sekolah berasrama itu, dan tidak berhenti sampai disitu, sapaan itu mengawali sesuatu yang lebih besar.
===
Jemari si anak kembali bergerak
===
oh Tuhan...
Pertama kali aku bertemu dengannya di lorong kelas itu.
Aku ga bisa ngelupain mata itu.
Mata yang indah.
Terlalu indah.
Matamu hitam, pekat.
Matamu bagai portal menuju dimensi lain.
Dimensi baru dalam hidupku.
Dimensi yang aneh.
Dimensi yang membuatku gila.
Ingin aku bertanya.
Kenapa harus aku ?
lebih-lebih lagi.
Kenapa harus dia ?
aahhhh...peduli setan dengan semuanya...
Aku sayang dia!!!!
argghhh....
dan aku BENCI bahasa Inggris.
===
Si anak terdiam lama di tatapnya baris demi baris tulisan yang muncul di layar itu. Tatapan si anak terlihat sedikit lega. Dia mengklik ikon bergambar disket di jendela itu. ÒAku Benci Bahasa InggrisÓ begitu judul yang dia berikan pada file itu. Pointer bergerak menuju tanda silang di pojok kanan atas layar, klik, kemudian aku memunculkan pilihan untuk menyimpan data -sebuah standar prosedur yang harus kujalani-, klik, dan aku pun menutup jendela itu. Membiarkanku dalam keadaan menyala si anak pergi meninggalkanku, meninggalkan laboratorium Komputer.
Bagian 2
Ketika itu Kelas Dua SMA
Manusia adalah makhluk yang aneh, otak mereka sangat hebat, prosesorku tentu tidak ada apa-apanya dibanding kejeniusan sel-sel abu-abu dalam kepala manusia itu. Tapi, terkadang manusia itu sering bingung karena hal sederhana. Mereka bisa bingung karena dua pilihan yang sudah sangat jelas.
Bagiku :
Jika Òaku cinta padanyaÓ maka Òaku katakan padanyaÓ kalau tidak Òaku tidak katakan padanyaÓ
Tentu saja hal di atas adalah hal yang mudah bagiku. Tinggal mengecek apakah Òaku cinta padanyaÓ, lalu aku tinggal mengeksekusi salah satu perintah yang ada setelahnya. Simpel.
Namun bagi mereka :
Jika Òaku cinta padanyaÓ maka ...............................
Mereka bisa bingung karena kondisional simpel seperti itu, kondisional ini bisa mengarah pada gangguan kinerja piranti lunak manusia, atau mereka biasa menyebutnya ÒstresÓ.
Sepertinya gangguan kinerja bernama stres ini tengah melanda anak bernama Wisnu itu. Hari ini dia duduk dengan tatapan yang sama seperti dulu dia duduk di hadapanku. Tatapan gelisah. Kelihatannya dia butuh ÒaspirinÓ lagi. Dugaanku tepat, dia mengarahkan pointer ke ikon W biru itu lagi. Mencari file berjudul ÒAku Benci Bahasa InggrisÓ dalam folder-folder memoriku. Kemudian Òdia mulai meneguk aspirinÓ lewat setiap hentakan jarinya.
===
AKU STRESS!!!
AKU BINGUNG!!
Oh Tuhan..
kenapa Kau siksa aku dengan perasaan ini..
kenapa Kau buat setiap milisekon aku merindukannya..
kenapa Kau menyiksaku lewat malaikat terindahmu..
dia begitu baik padaku,
dia menghiburku dalam setiap saat sedihku..
dia tertawa bersamaku dalam saat bahagiaku..
dia adalah segala-galanya bagiku..
Setiap malam aku selalu menatap ke arah itu..
Menatap ke arahnya..
Mengharap keajaiban akan membawa dia
ke sisiku..
ke pelukku..
lagi-lagi aku ingin berteriak..
berteriak pada dunia
AKU SAYANG DIAAAA....
arghhhhhh!!
dan
aku semakin benci bahasa Inggris!!
===
Puas meneguk aspirin maya nya si anak kemudian pergi meninggalkanku, tentu saja tak lupa menghapus jejak memori yang sempat dia torehkan ke memoriku. Kepergianku meninggalkan sebuah kebingungan tersendiri. Apa arti sayang bagi manusia ? Bagi ku sayang adalah rangkaian huruf ÒS-A-Y-A-N-GÓ, jelas, riil, tidak membingungkan. Mengapa sayang begitu membingungkan bagi manusia ? Terkadang aku jadi bertanya-tanya sendiri, mengapa makhluk aneh seperti itu bisa-bisanya menciptakan diriku. Sungguh ajaib.
Bab 3
Ketika itu Kelas Tiga SMA
Hari ini tidak ada pelajaran di laboratorium komputer. Oh, bukan, hari ini bukan hari libur. Pagi-pagi aku sudah mendengar suara berbagai macam alat musik yang dibawakan sekelompok siswa. Mereka menyebutnya ÒMarching BandÓ. Gosipnya, hari ini adalah hari kelulusan bagi anak itu ÒPrasetya AlumniÓ namanya.
Sudah hampir tiga tahun sejak pertama kali si anak membuat file ÒAku Benci Bahasa Inggris.docÓ. Tiga tahun adalah waktu yang singkat bagi manusia, tapi tidak bagiku, sebentar lagi kelihatannya aku akan segera di depak dari lab ini, digantikan dengan produk-produk baru dengan Operating System baru, katanya sih namanya Windows 98. Aku tidak terlalu memusingkan hal ini.
Hari ini anak bernama Wisnu itu muncul lagi di hadapanku, ia menggunakan baju biru tua dan celana biru muda. Cukup gagah. Agaknya dia ingin meneguk aspirin terakhirnya sebelum meninggalkan sekolah ini.
Dia membuka file yang sama seperti yang dia buka tiga tahun lalu. Membaca ulang dari halaman pertama setiap kata-kata yang dia tuliskan, sambil terkadang tersenyum kecil. Selesai membaca ulang, mulai lah dia melakukan ritual meneguk aspirin itu.
===
Oh Tuhan.
Tiga tahun sudah
aku dan dia bersama..
Tiga tahun sudah
aku mencintainya
Aku dan dia akan berpisah hari ini..
Mungkin bertemu lagi suatu waktu..
mungkin juga tidak..
aku tidak pernah tahu apa yg Kau rencanakan
Tidak sekalipun aku bisa menyatakan betapa besar cintaku padanya..
tidak sekalipun terucap kata aku sayang kamu..
karena aku tidak bisa..
dan
aku tidak boleh..
Aku sayang dia
dan aku benci bahasa Inggris..
Mengapa ??
Coz' I Love Him..
===
Setelah terdiam cukup lama sang anak menutup jendela itu. Kemudian ia meninggalkan ruangan itu.
Bab ~
Bukan Epilog
Setelah kali terakhir dia menemuiku, tidak pernah lagi aku melihat anak itu kembali lagi. File buatanya masih tersimpan di memoriku yang makin karatan ini. Mungkin tinggal tunggu waktu saja aku crash dan data itu pun nantinya akan hilang.
Sialnya, sampai akhir aku masih juga belum mengerti apa maksud ÒsayangÓ yang dituliskan si anak itu. Ada yang tahu ? Kalau kamu tahu tolong kasih tahu aku ya ! Tapi tolong buat dalam format .exe sehingga aku dapat memahaminya dengan mudah. Ok ?
Seharusnya Selesai
---------------
diambil dari salah satu karya kontroversial para anonym ikastara.org