nad3418
5th November 2008, 03:00 AM
Jejak kaki ini berhenti di bukit harapan
perbatasan antara nestapa kenyataan
dan indahnya impian
Kotamu terlihat gemerlap pagi ini
Kota tempat kita berbagi impian dan kenyataan
Kota tempat kau pernah membisikkan harapan
yang dengan tegas selalu berakhir dengan,
“Ini hanya harapan, bukan janji, apalagi kepastian.”
Senandung sendu menyaput kabut biru
sepanjang jalan dari kotamu
dalam pilu aku mencari kerlip rumahmu
yang bisa kupandangi dalam merindu
“Pergilah”,
Kata terakhir yang terucap olehmu dalam lelah
masih terngiang di hati yang gelisah
dan menutupi semua pepatah
serta cerita-cerita masa indah
Aku telah pergi sekarang
dari hatimu yang lebih keras bagai karang
memang lautan mampu mengubah karang
namun aku bukan lautan, aku juga bukan gelombang
yang mampu mengikis tebing karang saat pasang
Kabut memilih untuk pergi
meninggalkan embun sendiri menghadapi mahatari
bersembunyi di daun-daun kering disekitar kaki ini
yang enggan diajak melangkah lagi
Bibir ini masih bergetar mencari hangat kecupanmu
yang dulu selalu menghampiri saat kau lelah dan rindu
biarlah ini menjadi kenangan sebuah masa lalu
yang tiada abadi karena akan berlalu
setelah harapanku dan hasratmu layu
Kau pernah berkata,
“andai matahari tidak muncul hari ini
embun ini masih akan menemani kita”
namun sepertinya kau sengaja melupakan
bahwa matahari pasti akan segera muncul
dan kisah sang embun pun pasti akan berakhir
Angin membisikkan kepadaku saat itu,
“embun hari ini akan jadi kenangan
dan embun esok hari masih berupa angan.”
dan aku memilih menjadi embun.
Engkau sudah memutuskan untuk memintaku pergi
Namun kakiku yang mendengar suara hati
masih enggan melangkah lagi
Kapan berakhir ini elegi?
Mungkin saat embun berubah jadi bidadari
dan matahari enggan bersinar lagi
perbatasan antara nestapa kenyataan
dan indahnya impian
Kotamu terlihat gemerlap pagi ini
Kota tempat kita berbagi impian dan kenyataan
Kota tempat kau pernah membisikkan harapan
yang dengan tegas selalu berakhir dengan,
“Ini hanya harapan, bukan janji, apalagi kepastian.”
Senandung sendu menyaput kabut biru
sepanjang jalan dari kotamu
dalam pilu aku mencari kerlip rumahmu
yang bisa kupandangi dalam merindu
“Pergilah”,
Kata terakhir yang terucap olehmu dalam lelah
masih terngiang di hati yang gelisah
dan menutupi semua pepatah
serta cerita-cerita masa indah
Aku telah pergi sekarang
dari hatimu yang lebih keras bagai karang
memang lautan mampu mengubah karang
namun aku bukan lautan, aku juga bukan gelombang
yang mampu mengikis tebing karang saat pasang
Kabut memilih untuk pergi
meninggalkan embun sendiri menghadapi mahatari
bersembunyi di daun-daun kering disekitar kaki ini
yang enggan diajak melangkah lagi
Bibir ini masih bergetar mencari hangat kecupanmu
yang dulu selalu menghampiri saat kau lelah dan rindu
biarlah ini menjadi kenangan sebuah masa lalu
yang tiada abadi karena akan berlalu
setelah harapanku dan hasratmu layu
Kau pernah berkata,
“andai matahari tidak muncul hari ini
embun ini masih akan menemani kita”
namun sepertinya kau sengaja melupakan
bahwa matahari pasti akan segera muncul
dan kisah sang embun pun pasti akan berakhir
Angin membisikkan kepadaku saat itu,
“embun hari ini akan jadi kenangan
dan embun esok hari masih berupa angan.”
dan aku memilih menjadi embun.
Engkau sudah memutuskan untuk memintaku pergi
Namun kakiku yang mendengar suara hati
masih enggan melangkah lagi
Kapan berakhir ini elegi?
Mungkin saat embun berubah jadi bidadari
dan matahari enggan bersinar lagi