manesha
2nd April 2012, 07:20 AM
Hi Ikastaran,
Tadi ketika sedang menjelajah twitter, saya menemukan sebuah akun twitter yang mempromosikan Gentle Birth. Saya kemudian membaca banyak postingan beliau dan blog beliau mengenai Gentle Birth. Saya awalnya membaca dengan skeptis, mengingat Gentle Birth ini sebenarnya dapat diklasifikasikan ke dalam pengobatan alternatif. Apalagi kemudian membaca cerita si pemilik akun (yang ternyata adalah seorang dokter), menceritakan pengalamannya Vaginal Birth After 3 Cesarean Delivery (VBAC). Sekedar informasi saja, guideline umum di Indonesia setelah 2 kali riwayat kelahiran dengan C-Section, demi mencegah robekan rahim sebaiknya si ibu direncanakan untuk C-section secara elektif.
Kemudian saya pun mencari berbagai jurnal dan literatur, jujur saya kaget dengan hasil pencarian saya. Ternyata Vaginal Birth after multiple previous C-Section memang memiliki risiko yang tidak jauh berbeda dengan jika ditolong dengan C-Section, namun persalinan ini tetap ditolong dengan persiapan untuk melakukan C-Section darurat. Ini kemudian menimbulkan keingintahuan saya untuk berdiskusi dengan si pemilik akun ini dengan lebih dalam. Tapi kemudian saya justru semakin heran, karena si dokter ini nekat melahirkan anaknya di rumah. Beliau mengklaim bahwa jika ada tanda-tanda robekan rahim, beliau bisa segera ditransport ke Rumah Sakit. Sampai di sini saya masih mencoba mengerti.
Diskusi berlanjut, si pemilik akun ini kemudian mengeluarkan kata-kata mutiara yang kurang lebih intinya "jika saya bisa VBAC, semua ibupun bisa". Ini sebuah pernyataan yang berbahaya menurut saya, mengingat tidak semua persalinan dapat berlangsung normal. Ketika saya konfirmasi ke beliau, jawabannya kurang lebih "memang semua ibu bisa melahirkan normal, bahkan dengan kondisi plasenta previa". Untuk informasi, plasenta previa adalah kondisi plasenta yang menutupi jalan lahir, ada beberapa gradasinya dari menutup sempurna sampai hanya di tepi saja. Kondisi plasenta previa yang menutup sempurna (totalis) akan mengakibatkan perdarahan yang banyak pada ibu, tentunya ini dapat berakhir pada kematian janin dan bahkan ibu. Ketika saya konfirmasi mengenai ini jawaban beliau sungguh mencengangkan kurang lebih "banyak hal-hal yang sekilas tidak mungkin dapat terjadi dengan gentle birth, InsyaAllah ada keajaiban. Kalau semua plasenta previa diketahui sejak lama dapat tetap lahir normal". Ada beberapa argumen dokter ini yang cukup janggal lainnya, seperti pada saat partus sebaiknya tidak dilakukan colok vagina dan lain sebagainya. Di sinilah titik di mana saya sadar untuk tidak perlu melanjutkan diskusi, ketika "keajaiban" menjadi dasar berpikir tidak mungkin ada argumen yang dapat menjelaskan sebaliknya. Saya tidak menutup mata, keajaiban dapat terjadi memang, namun apakah hal ini layak untuk dijadikan dasar penanganan secara umum?
Ini yang kemudian menimbulkan pikiran tersendiri bagi saya, apakah gerakan Back to Nature ini sudah keterlaluan? Apakah gerakan ini sudah menjadi gerakan tanpa rasio? Jika tindakan itu tidak akan mengakibatkan bahaya tentu tidak masalah. Namun pada contoh kasus ini informasi yang diberikan dokter ini jelas dapat membahayakan pada ibu-ibu yang tidak banyak mengetahui tentang proses persalinan. Ibu-ibu lantas dapat mencoba melahirkan sendiri di rumah dengan kondisi yang mungkin hampir mustahil dapat menjalani persalinan normal dan berakhir pada kesakitan bahkan kematian. Saya sama sekali tidak merendahkan/menghina/memojokkan gerakan alternatif (gentle birth)ini secara keseluruhan, terkadang banyak hal yang dapat diambil pelajaran juga. Namun untuk informasi yang diberikan dokter ini saya benar-benar tidak dapat menerima.
Sebagai penutup saya menghimbau kepada rekan-rekan Ikastara agar dapat menyikapi semua terapi-terapi alternatif dengan bijak. Informasi banyak bertebaran di dunia maya, namun kita harus dapat menyaring informasi itu dengan kritis agar tidak mendatangkan keburukan.
Tadi ketika sedang menjelajah twitter, saya menemukan sebuah akun twitter yang mempromosikan Gentle Birth. Saya kemudian membaca banyak postingan beliau dan blog beliau mengenai Gentle Birth. Saya awalnya membaca dengan skeptis, mengingat Gentle Birth ini sebenarnya dapat diklasifikasikan ke dalam pengobatan alternatif. Apalagi kemudian membaca cerita si pemilik akun (yang ternyata adalah seorang dokter), menceritakan pengalamannya Vaginal Birth After 3 Cesarean Delivery (VBAC). Sekedar informasi saja, guideline umum di Indonesia setelah 2 kali riwayat kelahiran dengan C-Section, demi mencegah robekan rahim sebaiknya si ibu direncanakan untuk C-section secara elektif.
Kemudian saya pun mencari berbagai jurnal dan literatur, jujur saya kaget dengan hasil pencarian saya. Ternyata Vaginal Birth after multiple previous C-Section memang memiliki risiko yang tidak jauh berbeda dengan jika ditolong dengan C-Section, namun persalinan ini tetap ditolong dengan persiapan untuk melakukan C-Section darurat. Ini kemudian menimbulkan keingintahuan saya untuk berdiskusi dengan si pemilik akun ini dengan lebih dalam. Tapi kemudian saya justru semakin heran, karena si dokter ini nekat melahirkan anaknya di rumah. Beliau mengklaim bahwa jika ada tanda-tanda robekan rahim, beliau bisa segera ditransport ke Rumah Sakit. Sampai di sini saya masih mencoba mengerti.
Diskusi berlanjut, si pemilik akun ini kemudian mengeluarkan kata-kata mutiara yang kurang lebih intinya "jika saya bisa VBAC, semua ibupun bisa". Ini sebuah pernyataan yang berbahaya menurut saya, mengingat tidak semua persalinan dapat berlangsung normal. Ketika saya konfirmasi ke beliau, jawabannya kurang lebih "memang semua ibu bisa melahirkan normal, bahkan dengan kondisi plasenta previa". Untuk informasi, plasenta previa adalah kondisi plasenta yang menutupi jalan lahir, ada beberapa gradasinya dari menutup sempurna sampai hanya di tepi saja. Kondisi plasenta previa yang menutup sempurna (totalis) akan mengakibatkan perdarahan yang banyak pada ibu, tentunya ini dapat berakhir pada kematian janin dan bahkan ibu. Ketika saya konfirmasi mengenai ini jawaban beliau sungguh mencengangkan kurang lebih "banyak hal-hal yang sekilas tidak mungkin dapat terjadi dengan gentle birth, InsyaAllah ada keajaiban. Kalau semua plasenta previa diketahui sejak lama dapat tetap lahir normal". Ada beberapa argumen dokter ini yang cukup janggal lainnya, seperti pada saat partus sebaiknya tidak dilakukan colok vagina dan lain sebagainya. Di sinilah titik di mana saya sadar untuk tidak perlu melanjutkan diskusi, ketika "keajaiban" menjadi dasar berpikir tidak mungkin ada argumen yang dapat menjelaskan sebaliknya. Saya tidak menutup mata, keajaiban dapat terjadi memang, namun apakah hal ini layak untuk dijadikan dasar penanganan secara umum?
Ini yang kemudian menimbulkan pikiran tersendiri bagi saya, apakah gerakan Back to Nature ini sudah keterlaluan? Apakah gerakan ini sudah menjadi gerakan tanpa rasio? Jika tindakan itu tidak akan mengakibatkan bahaya tentu tidak masalah. Namun pada contoh kasus ini informasi yang diberikan dokter ini jelas dapat membahayakan pada ibu-ibu yang tidak banyak mengetahui tentang proses persalinan. Ibu-ibu lantas dapat mencoba melahirkan sendiri di rumah dengan kondisi yang mungkin hampir mustahil dapat menjalani persalinan normal dan berakhir pada kesakitan bahkan kematian. Saya sama sekali tidak merendahkan/menghina/memojokkan gerakan alternatif (gentle birth)ini secara keseluruhan, terkadang banyak hal yang dapat diambil pelajaran juga. Namun untuk informasi yang diberikan dokter ini saya benar-benar tidak dapat menerima.
Sebagai penutup saya menghimbau kepada rekan-rekan Ikastara agar dapat menyikapi semua terapi-terapi alternatif dengan bijak. Informasi banyak bertebaran di dunia maya, namun kita harus dapat menyaring informasi itu dengan kritis agar tidak mendatangkan keburukan.