sofyantoro_fajar
20th February 2012, 07:02 AM
Semua cerita yang pernah kita toreh di sini seakan mengendap, tidak terpendar hanya karena lekang panas dan rintikan hujan. Selayaknya besi-besi kokoh berpasangan yang terbentang memanjang memanggul kereta di pundaknya, tangan kita pernah bergenggaman menyusurinya. Menjemput senja, membicarakan hari yang baru saja kita jalani, entah tentang apa waktu itu, ingatanku hanya samar-samar bisa memindainya. Satu hal yang pasti, rasa yang membekas di sini, di dalam dada ini, yang akan aku ingat sepanjang jalan, bukan hanya berhenti di ujung rel itu saja, tetapi sampai nanti ketika gerbong ujung usiaku akan berhenti.
Aku tidak berhenti tersenyum ketika mendengarmu bercerita, menikmati setiap detiknya, sambil sesekali menendang-nendang kerikil yang ada di sela-sela rel besi di bawah kaki kita. Masih terasa juga tatapan anehmu yang melengkapi ledakan tawa sesudahnya, ketika aku mengajakmu berbaring di atas kerikil dan menempelkan telinga ke atas rel besi. Aku bilang padamu bahwa dengan mendengarkan apa yang dikatakan rel kepada kerikil di bawahnya, kita bisa membayangkan apa saja yang di alami oleh gerbong yang melewatinya. Dengan bersemangat, waktu itu, aku ceritakan padamu bahwa gerbong-gerbong kereta ini melewati satu rangkaian rel yang semuanya bersambung satu sama lain, sehingga tidak akan ada cerita yang tertinggal tentang liku-liku yang di alami gerbong kereta ketika melintas di atasnya. Lewat tepi jurang, membelah sawah, memisahkan jalan, menggetarkan pondasi jembatan, memunggungi bukit, mengejar matahari terbit dan menyongsong senja, semua pasti pernah di alami kereta-kereta itu. Sambil menggelengkan kepala dan mengacak-ngacak rambutku, kamu pun menuruti keinginanku dan membaringkan badan, miring membelakangi matahari yang turun dengan teratur. Aku berjongkok di sampingmu, menjaga kalau-kalau ada petugas yang membunyikan peluitnya, sambil menikmati wajahmu yang teduh ketika sedang memejamkan mata, mendengarkan pesan-pesan rel dengan seksama.
Apa yang kamu dengar, tanyaku.
Kamu diam saja, satu menit berjalan, dua menit berputar, sampai beberapa saat ketika kamu akhirnya bangun dan mengembangkan senyum yang manis sekali.
Apa yang kamu dengar, tanyaku lagi.
Kamu, dengan sengaja, perlahan membersihkan serasah yang menempel di lenganmu, mengambil waktu dan menikmati setiap detik yang membuatku penasaran, dan dengan nakalnya, kamu bilang bahwa itu rahasia. Tawamu meledak, aku cemberut, dan mau tidak mau tertawa bersamamu, memecah senja yang sekarang sudah berpendar menghitam, menciptakan siluet kita berdua.
Tidak ada yang hambar tentang tempat ini. Bahkan sekotak lahan sempit yang ada di depannya akan selalu penuh ketika Sabtu malam tiba. Penuh dengan manusia dan roda dua, menjadi saingan kita untuk bisa berebut sekedar seduduk tikar dan selembar kertas menu. Berhadapan dengan segelas susu jahe hangat, beberapa suap nasi dan tempe serta susu putih kegemaranmu, kita berbagi cerita sampai kemana-mana. Dari mulai arus listrik sampai Singapura, menemani kita menghabiskan jatah Sabtu malam yang katanya lama itu.
Hingga di akhir malam sebelum pulang, kamu bilang padaku dengan muka penuh keisengan, kamu mau tahu apa yang aku dengar ketika ku dekatkan telingaku ke rel dan menutup mata waktu itu?
Boleh, jawabku.
Aku mendengar detak jantungku sendiri, katamu, dia mengucapkan terima kasih atas hari ini, karena kamu sudah dengan sukses membuatnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.
***
Kita berdebat tentang definisi cakrawala versi kita masing-masing waktu itu. Dalam benakku, cakrawala itu tidak ada batasnya, sama seperti yang kita tatap lekat-lekat setiap senja, ditemani semburat warna teh di sudut-sudut ombak yang berdesir perlahan. Kita berdebat, dengan seru, seperti biasa.
Cakrawala itu punya definisi masing-masing menurut setiap orang, katamu. Kalau kamu bilang cakrawala itu tidak berujung, aku tidak setuju, karena aku hanya bisa menikmati sedikit segmen yang kebetulan Tuhan letakkan persis di depanku. Aku bukan sepertimu yang bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu, yang aku tahu, aku tidak perlu menikmati cakrawala yang luas itu sendirian, aku cukup mengagumi yang jelas-jelas ada di depanku, karena aku sudah punya kamu yang bisa menjaga agar cakrawala itu tetap luas. Karena aku sudah punya kamu, katamu sambil mengacak-ngacak rambutku.
Aku terdiam. Aku tersenyum. Aku kalah lagi, dan aku tertawa mengikutimu.
Ketika semua permainan yang mungkin kita lakukan sudah habis jatahnya, kamu berbaring dan tiba-tiba menunjuk ke langit yang sudah diselimuti bintang. Kamu lihat bintang itu?, katamu sambil menunjuk salah satu kerlip yang ada di kaki langit sebelah selatan. Itu namanya PS-170V-3U. Aku mengernyit. Kamu tertawa lagi, terbahak-bahak. Itu bintangku, katamu. Sejak kecil aku selalu menatapnya setiap malam, berharap dia akan jatuh dan bisa mengabulkan permintaanku. Dasar aneh, jawabku. Kamu tak menjawab, hanya tersenyum manis.
Catatan ini lahir tepat saat kamu tiba-tiba memanggil nama seseorang dalam tidurmu. Entah itu nama siapa, aku tidak peduli. Hanya satu hal yang aku tahu, senyummu manis sekali saat kau tidur. Esok paginya, kita kembali ke dunia kita masing-masing, dengan kesibukan masing-masing, dengan agenda masing-masing, dengan cakrawala masing-masing. Kusisipkan doaku untukmu malam itu, isinya tentu rahasia, hanya aku dan Tuhan yang tahu, tapi salah satunya, aku meng-amin-kan keisenganmu agar bintang yang namanya susah ku ingat itu benar-benar jatuh. Dua belas purnama lagi, kita lihat apakah dia masih disana.
Baik-baik ya, Kecil. Selamat ulang tahun.
***
Lantai merah bermotif kotak ini yang menemani kita menghabiskan waktu. Bahkan menjadi saksi dari rehat kita yang paling lama.
Berantem versi kita memang menggelikan, sampai-sampai aku kehabisan tempat untuk menghindar agar tidak berpapasan denganmu. Selasar ini yang mempertemukan semuanya.
Kadang tanpa angin dan mendung pun, kamu tiba-tiba mendiamkan aku. Tapi justru itu yang membuat semuanya menjadi terlihat lucu di mataku. Kamu ingat, saat kita berdelapan menghabiskan waktu dengan yang lain, melingkar di atas rumput di depan selasar, kamu hanya bertanya dan tertawa kepada enam orang lain di sebelah kanan dan kiriku. Aku yang jelas ada di arah jam dua belasmu pun kamu anggap tidak ada. Saat itulah aku paham bahwa ada cara menegur yang lebih menyakitkan dibandingkan dengan sindiran, bahkan tanpa kata.
Ditengah masa rehat kita, ini yang aku amati, kalau kita entah bagaimana harus memecah kediaman itu, pesan singkat yang kamu tulis pasti berbeda dari yang biasanya. Terakhir kali, pesan singkatmu benar-benar seperti seorang guru Bahasa Indonesia, dengan bahasa yang formal tanpa singkatan dan tanda baca yang tepat di sana-sini. Bukan q tapi aku, bukan syp tapi siapa (lengkap dengan tanda tanyanya) dan namaku pun dengan sopan kamu tulis huruf pertamanya dengan huruf kapital, F besar. Aku balas pesanmu dengan tanda tanya, dan kamu malah membalasnya dengan tanda seru. Aku bingung jadi kamu kudiamkan saja.
Semua ruang dan waktu di kampus ini mempunyai bagian tersendiri dalam kenanganku tentangmu. Namun porsi terbesar ada di selasar merah itu, yang membagi waktu kita menjadi beberapa segmen. Akan selalu ada ruang untuk selasar ini di dalam cerita kita nanti.
***
Ini adalah cerita tentang stasiun, pantai dan selasar kita yang berharga. Aku pindai kembali beberapa rasa yang masih pantas untuk menjadi bahan nostalgia. Beberapa sudah terserak di Picasa, berantakan di Facebook dan berbagai kantung kenangan kita. Aku satukan, menutup September ini, dalam bentuk kertas sebesar jendela. Masih terlalu sempit rupanya.
Aneh rasanya ketika melihat ke belakang, bahwa kita menjadi dekat hanya karena sebuah pesan singkat. Aku ingat betul, malam itu aku sedang guling-guling di atas tempat tidur, menunggu gerimis reda, setelah maghrib tiba. Aku mendapatkan nomormu dari teman sekamarku. Aku mulai dengan basa-basi, dan kamu menyambutnya dengan titik dua dan kurung tutup. Dari makan malam sampai bukit bintang, tiba-tiba kotak masukku menjadi penuh denganmu. Sejak saat itu, kita resmi berkenalan. Justru bukan beberapa belas bulan sebelumnya ketika kita hampir sebulan berada di atap yang sama, namun bahkan belum berani untuk saling menyapa. Karena jodoh memang tak akan ke mana, dan di kota kita inilah aku pertama kali ke bioskop denganmu, makan nasi padang tengah malam, merasakan detak jantungku berirama ketika menjemputmu, dan menikmati hangatnya punggungmu.
Bukan hanya stasiun, pantai dan selasar yang kita bagi di kota ini. Namun simpul-simpul ini lah yang menjadi salah satu alasan mengapa kota kita ini terasa begitu istimewa, setidaknya untuk aku sendiri. Tidak perlu ada ritual apapun, hanya ketika ada kamu di sinilah kota kita ini menjadi benar-benar istimewa. Bahkan ketika stasiun, pantai dan selasar itu dihapuskan dari peta, kota kita akan tetap istimewa ketika ada kamu di dalamnya. Kota kita memang istimewa.
Sampai nanti, Kecil. Dini hari ini aku akan berangkat ke negeri Sakura, memenuhi salah satu janji terbesarku di antara seratus yang sudah hampir penuh itu. Perahu kertas tidak akan pernah cukup untuk menyeberang ke sana, kali ini kamu tidak perlu pulang pergi ke dermaga. Aku tidak butuh ritual perpisahan ala sinetron yang berair-mata. Karena kita sudah sama-sama tahu bahwa akan selalu ada kangen untukmu. Aku pasti pulang. Peluk. Erat.
~ijinkanlah aku untuk selalu pulang lagi..
Aku tidak berhenti tersenyum ketika mendengarmu bercerita, menikmati setiap detiknya, sambil sesekali menendang-nendang kerikil yang ada di sela-sela rel besi di bawah kaki kita. Masih terasa juga tatapan anehmu yang melengkapi ledakan tawa sesudahnya, ketika aku mengajakmu berbaring di atas kerikil dan menempelkan telinga ke atas rel besi. Aku bilang padamu bahwa dengan mendengarkan apa yang dikatakan rel kepada kerikil di bawahnya, kita bisa membayangkan apa saja yang di alami oleh gerbong yang melewatinya. Dengan bersemangat, waktu itu, aku ceritakan padamu bahwa gerbong-gerbong kereta ini melewati satu rangkaian rel yang semuanya bersambung satu sama lain, sehingga tidak akan ada cerita yang tertinggal tentang liku-liku yang di alami gerbong kereta ketika melintas di atasnya. Lewat tepi jurang, membelah sawah, memisahkan jalan, menggetarkan pondasi jembatan, memunggungi bukit, mengejar matahari terbit dan menyongsong senja, semua pasti pernah di alami kereta-kereta itu. Sambil menggelengkan kepala dan mengacak-ngacak rambutku, kamu pun menuruti keinginanku dan membaringkan badan, miring membelakangi matahari yang turun dengan teratur. Aku berjongkok di sampingmu, menjaga kalau-kalau ada petugas yang membunyikan peluitnya, sambil menikmati wajahmu yang teduh ketika sedang memejamkan mata, mendengarkan pesan-pesan rel dengan seksama.
Apa yang kamu dengar, tanyaku.
Kamu diam saja, satu menit berjalan, dua menit berputar, sampai beberapa saat ketika kamu akhirnya bangun dan mengembangkan senyum yang manis sekali.
Apa yang kamu dengar, tanyaku lagi.
Kamu, dengan sengaja, perlahan membersihkan serasah yang menempel di lenganmu, mengambil waktu dan menikmati setiap detik yang membuatku penasaran, dan dengan nakalnya, kamu bilang bahwa itu rahasia. Tawamu meledak, aku cemberut, dan mau tidak mau tertawa bersamamu, memecah senja yang sekarang sudah berpendar menghitam, menciptakan siluet kita berdua.
Tidak ada yang hambar tentang tempat ini. Bahkan sekotak lahan sempit yang ada di depannya akan selalu penuh ketika Sabtu malam tiba. Penuh dengan manusia dan roda dua, menjadi saingan kita untuk bisa berebut sekedar seduduk tikar dan selembar kertas menu. Berhadapan dengan segelas susu jahe hangat, beberapa suap nasi dan tempe serta susu putih kegemaranmu, kita berbagi cerita sampai kemana-mana. Dari mulai arus listrik sampai Singapura, menemani kita menghabiskan jatah Sabtu malam yang katanya lama itu.
Hingga di akhir malam sebelum pulang, kamu bilang padaku dengan muka penuh keisengan, kamu mau tahu apa yang aku dengar ketika ku dekatkan telingaku ke rel dan menutup mata waktu itu?
Boleh, jawabku.
Aku mendengar detak jantungku sendiri, katamu, dia mengucapkan terima kasih atas hari ini, karena kamu sudah dengan sukses membuatnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.
***
Kita berdebat tentang definisi cakrawala versi kita masing-masing waktu itu. Dalam benakku, cakrawala itu tidak ada batasnya, sama seperti yang kita tatap lekat-lekat setiap senja, ditemani semburat warna teh di sudut-sudut ombak yang berdesir perlahan. Kita berdebat, dengan seru, seperti biasa.
Cakrawala itu punya definisi masing-masing menurut setiap orang, katamu. Kalau kamu bilang cakrawala itu tidak berujung, aku tidak setuju, karena aku hanya bisa menikmati sedikit segmen yang kebetulan Tuhan letakkan persis di depanku. Aku bukan sepertimu yang bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu, yang aku tahu, aku tidak perlu menikmati cakrawala yang luas itu sendirian, aku cukup mengagumi yang jelas-jelas ada di depanku, karena aku sudah punya kamu yang bisa menjaga agar cakrawala itu tetap luas. Karena aku sudah punya kamu, katamu sambil mengacak-ngacak rambutku.
Aku terdiam. Aku tersenyum. Aku kalah lagi, dan aku tertawa mengikutimu.
Ketika semua permainan yang mungkin kita lakukan sudah habis jatahnya, kamu berbaring dan tiba-tiba menunjuk ke langit yang sudah diselimuti bintang. Kamu lihat bintang itu?, katamu sambil menunjuk salah satu kerlip yang ada di kaki langit sebelah selatan. Itu namanya PS-170V-3U. Aku mengernyit. Kamu tertawa lagi, terbahak-bahak. Itu bintangku, katamu. Sejak kecil aku selalu menatapnya setiap malam, berharap dia akan jatuh dan bisa mengabulkan permintaanku. Dasar aneh, jawabku. Kamu tak menjawab, hanya tersenyum manis.
Catatan ini lahir tepat saat kamu tiba-tiba memanggil nama seseorang dalam tidurmu. Entah itu nama siapa, aku tidak peduli. Hanya satu hal yang aku tahu, senyummu manis sekali saat kau tidur. Esok paginya, kita kembali ke dunia kita masing-masing, dengan kesibukan masing-masing, dengan agenda masing-masing, dengan cakrawala masing-masing. Kusisipkan doaku untukmu malam itu, isinya tentu rahasia, hanya aku dan Tuhan yang tahu, tapi salah satunya, aku meng-amin-kan keisenganmu agar bintang yang namanya susah ku ingat itu benar-benar jatuh. Dua belas purnama lagi, kita lihat apakah dia masih disana.
Baik-baik ya, Kecil. Selamat ulang tahun.
***
Lantai merah bermotif kotak ini yang menemani kita menghabiskan waktu. Bahkan menjadi saksi dari rehat kita yang paling lama.
Berantem versi kita memang menggelikan, sampai-sampai aku kehabisan tempat untuk menghindar agar tidak berpapasan denganmu. Selasar ini yang mempertemukan semuanya.
Kadang tanpa angin dan mendung pun, kamu tiba-tiba mendiamkan aku. Tapi justru itu yang membuat semuanya menjadi terlihat lucu di mataku. Kamu ingat, saat kita berdelapan menghabiskan waktu dengan yang lain, melingkar di atas rumput di depan selasar, kamu hanya bertanya dan tertawa kepada enam orang lain di sebelah kanan dan kiriku. Aku yang jelas ada di arah jam dua belasmu pun kamu anggap tidak ada. Saat itulah aku paham bahwa ada cara menegur yang lebih menyakitkan dibandingkan dengan sindiran, bahkan tanpa kata.
Ditengah masa rehat kita, ini yang aku amati, kalau kita entah bagaimana harus memecah kediaman itu, pesan singkat yang kamu tulis pasti berbeda dari yang biasanya. Terakhir kali, pesan singkatmu benar-benar seperti seorang guru Bahasa Indonesia, dengan bahasa yang formal tanpa singkatan dan tanda baca yang tepat di sana-sini. Bukan q tapi aku, bukan syp tapi siapa (lengkap dengan tanda tanyanya) dan namaku pun dengan sopan kamu tulis huruf pertamanya dengan huruf kapital, F besar. Aku balas pesanmu dengan tanda tanya, dan kamu malah membalasnya dengan tanda seru. Aku bingung jadi kamu kudiamkan saja.
Semua ruang dan waktu di kampus ini mempunyai bagian tersendiri dalam kenanganku tentangmu. Namun porsi terbesar ada di selasar merah itu, yang membagi waktu kita menjadi beberapa segmen. Akan selalu ada ruang untuk selasar ini di dalam cerita kita nanti.
***
Ini adalah cerita tentang stasiun, pantai dan selasar kita yang berharga. Aku pindai kembali beberapa rasa yang masih pantas untuk menjadi bahan nostalgia. Beberapa sudah terserak di Picasa, berantakan di Facebook dan berbagai kantung kenangan kita. Aku satukan, menutup September ini, dalam bentuk kertas sebesar jendela. Masih terlalu sempit rupanya.
Aneh rasanya ketika melihat ke belakang, bahwa kita menjadi dekat hanya karena sebuah pesan singkat. Aku ingat betul, malam itu aku sedang guling-guling di atas tempat tidur, menunggu gerimis reda, setelah maghrib tiba. Aku mendapatkan nomormu dari teman sekamarku. Aku mulai dengan basa-basi, dan kamu menyambutnya dengan titik dua dan kurung tutup. Dari makan malam sampai bukit bintang, tiba-tiba kotak masukku menjadi penuh denganmu. Sejak saat itu, kita resmi berkenalan. Justru bukan beberapa belas bulan sebelumnya ketika kita hampir sebulan berada di atap yang sama, namun bahkan belum berani untuk saling menyapa. Karena jodoh memang tak akan ke mana, dan di kota kita inilah aku pertama kali ke bioskop denganmu, makan nasi padang tengah malam, merasakan detak jantungku berirama ketika menjemputmu, dan menikmati hangatnya punggungmu.
Bukan hanya stasiun, pantai dan selasar yang kita bagi di kota ini. Namun simpul-simpul ini lah yang menjadi salah satu alasan mengapa kota kita ini terasa begitu istimewa, setidaknya untuk aku sendiri. Tidak perlu ada ritual apapun, hanya ketika ada kamu di sinilah kota kita ini menjadi benar-benar istimewa. Bahkan ketika stasiun, pantai dan selasar itu dihapuskan dari peta, kota kita akan tetap istimewa ketika ada kamu di dalamnya. Kota kita memang istimewa.
Sampai nanti, Kecil. Dini hari ini aku akan berangkat ke negeri Sakura, memenuhi salah satu janji terbesarku di antara seratus yang sudah hampir penuh itu. Perahu kertas tidak akan pernah cukup untuk menyeberang ke sana, kali ini kamu tidak perlu pulang pergi ke dermaga. Aku tidak butuh ritual perpisahan ala sinetron yang berair-mata. Karena kita sudah sama-sama tahu bahwa akan selalu ada kangen untukmu. Aku pasti pulang. Peluk. Erat.
~ijinkanlah aku untuk selalu pulang lagi..