PDA

View Full Version : [cerpen] Titik Tentu



dina kharisma
24th July 2011, 01:27 AM
Aku tahu malam ini adalah malam yang berbeda. Yang aku selalu hindari kedatangannya sejak seratus dua puluh empat hari kita mengambil mufakat tanpa sepatah kata. Sunyi adalah kedamaian terbaik yang mampu kita berdua putuskan, walau aku tahu, gencatan ini hanya manifestasi sosok pecundang dalam kita, enggan menghadapi luapan emosi ala sinetron kejar tayang. Aku benci perasaan bersalah, sebenci kamu akan air mata. Tapi malam ini, kamu dan aku tidak punya banyak pilihan. Dua jam terjebak denganmu di kereta ini, kita tidak akan bisa lari lagi.

Aku tahu kita harus bicara. Kepalaku diserang gempa lokal dan aku mulai merutuki secangkir kopi yang kuteguk sore tadi tanpa pikir panjang. Melihatmu menatapku dengan sepasang mata penuh keraguan membuat perutku serasa diserbu kumbang. dua ratus tiga puluh sembilan hari aku menyimpan ragu yang sama. Bahkan aku tidak tahu lagi siapa yang perlu merasa teraniaya.

Kenapa kamu menjauhi aku?
Kamu tidak butuh aku.
Apa maksudmu?
Bukankah kamu punya dia?

Kamu terdiam. Empat puluh tiga kali kutanyakan dan kamu selalu menghindar.

Dan kamu pikir aku tidak perlu tahu. Aku tahu.
Belum saatnya kamu tahu.

Aku terdiam. Aku tidak perlu tahu. Kedamaian semu menguap seperti spiritus tumpah di lantai bengkel.

Aku tidak perlu tahu?
Belum saatnya kamu tahu.
Karena ini bukan urusanku? Bukannya kamu yang memanfaatkan aku selama ini?

Kereta memasuki terowongan, suara desing roda dan rel beradu, memantulkan gaung di tembok bata. Aku menatap matanya yang mulai berkaca-kaca, menatap gelap terpantul di luar kaca jendela. Menatap kecewa yang muncul seperti piet hitam di malam natal. Hitam melebur menjelaga seisi kabin kereta. Desing mencairkan gendang telinga. Aku tidak tahan lagi, ini semua pasti salah kopi impulsif sore tadi. Ah aku ingin teriak!

Dan hanya begitu saja, terowongan berakhir. Lampu kota menyerbu masuk mata, memikat segenap panca indra. Mata, mulut, telinga mencecap lautan sinar tanpa nama, disumbang dengan cuma-cuma.

Samar-samar aku mendengar kamu meminta maaf.
Kita berdua tahu cerita ini sudah. Titik.

violace
25th July 2011, 07:09 PM
lanjuuut... :D

dina kharisma
26th July 2011, 08:13 PM
lanjuuut... :D
lanjutin dong kak :p