PDA

View Full Version : [cerbung] Selintas Warna yang Lain #3



IntanRianda
4th May 2011, 06:36 AM
CHAPTER 3: My World Doesn't Work That Way


Lagi-lagi aku kembali untuk memperhatikan sang Gadis. Bagiku kehidupan manusia selalu saja menarik, terutama kehidupan Gadis yang satu ini. Kasihan Gadis, belum usai kebimbangannya dalam mengambil keputusan yang sangat mempengaruhi hidupnya, kini dia ditimpa masalah lain. Tentang hubungan antar manusia. Aku rasa ini adalah salah satu objek yang takkan pernah tuntas dibahas. Sekaligus yang paling rumit dan yang takkan pernah bisa dipahami olehku yang bukan manusia ini. Untung saja aku tak harus menjalaninya. Sudah cukup bagiku menjadi penonton di sini, melihat dan memerhatikan panggung sandiwara kehidupan dunia.

Kisah menarik ini dimulai pada suatu malam yang dingin dan berkabut. Sang Gadis duduk di meja belajarnya menghadap ke arah laptop, mengernyitkan muka berpikir keras sebelum menarikan jemarinya di atas keyboard. Sesekali, Gadis terdiam dan menyeruput tehnya diam-diam, menghayati suara senyap yang melingkupi kamar. Menghela nafas dan menghirupnya lagi. Gadis mendesah dan menggerak-gerakkan kursinya maju-mundur dengan tampang bosan. Tak lama, suatu bunyi menderu kencang. Ponsel Gadis bergetar. Dalam waktu milisekon, wajah Gadis bersemu merah dengan bibir tertarik lebar ke samping. Dengan segera, Gadis melonjak riang meraih ponselnya.

G: GADIS
P: Penelpon

G: Assalamualaikum. Aku dah tunggu-tunggu telpon dari tadi lohh..
P: ################################################## #
G: Iya, nggak apa-apa kok. Kan nungguinnya sambil belajar.
P: ################################################## #
G: Hu'uhmmm.. Udah nyampe. Bagus kok, aku suka. Makasih yaaa.
P: ################################################## #
G: He'ehhhhhh.. Tapi menurutku sih itu masih kurang. Ada beberapa bagian yang kurang sreg. Sayang banget kalo ga disempurnain.
P: ##################################################
G: Apa? Bukan gitu maksudnya. Aku ngehargain kok.
P: ##################################################
G: Iya, aku tau. Kamu dah usaha dan masih mau berusaha buat aku.
P: ##################################################
G: Kemarin kan udah dibahas. Aku terima kok.
P: ##################################################
G: Nggak, ga ada maksud yang laen. Aku ga nyindir kok.
P: ##################################################
G: Tolong, aku ga mau ada pertengkaran lagi kayak kemarin-kemarin.
P: ##################################################
G: Iya
P: ##################################################
G: Maafin aku, gak sengaja kayak gitu kok.
P: ##################################################
G: Ya gak gitu juga lah. Ga ada aku pernah bilang kamu ga berjuang buat aku, buat kita.
P: ##################################################
G: Aku kan juga berusaha. Kita sama-sama berusaha.
P: ##################################################
G: Aku tau seberapa besar pengorbanan dan perjuanganmu. Aku hargain banget itu.
P: ##################################################
G: Aku juga!!! Perbedaan waktu, harus nyesuain jadwal kerjamu, harus standy-by, kadang-kadang ga tidur, menunggu yang tidak pasti. Ga gampang! Belum lagi tiap kali kamu nyuekin aku kalo harus pergi tiba-tiba karena proyek.
P: ##################################################
G: Berat banget, tau. Kenapa sih kamu selalu aja menekankan ke aku tentang hal itu? Tentang gimana besarnya pengorbananmu dan usahamu untukku? Aku tau itu kok. Aku ngehargain dengan sangat.
P: ##################################################
G: Ga bisa kamu bilang kayak gitu ke aku. Kamu harus sadar, kalo yang berkorban dan berjuang ga hanya kamu. Aku juga berusaha meskipun mungkin terkesan kecil bagimu.
P: ##################################################
G: Aku bilang kecil, karena aku emang ga mau menganggap itu hal yang besar. Aku ga mau ngeluh-ngeluh ke kamu.
P: ################################################## #
G: Aku jarang ngeluh bukan berarti aku ga butuh kamu. Aku sayang sama kamu. Sayang banget. Makanya, pengorbanan kayak gitu ga pentes aku sebutin. Aku ga mau nginget-ingetin kamu seberapa besar usahaku buat nyayangin kamu karena aku ga mau kamu terbebani dengan hal itu.
P: ################################################## #
G: Aku ga suka, aku ga mau ngedapetin perhatian dan kasih sayang dengan cara itu. Aku ga mau nuntut atau ngancem-ngancem kamu dengan menyinggung-nyinggung masalah itu.
P: ################################################## #
G: Sayang itu bukan sekedar sebanyak apa daftar pengorbanan yang aku lakuin. Sayang itu ditunjukkan dengan sikap, bukan perkataan. Sayang itu bukan memojokkan, tapi menenangkan. Sayang itu bukan menuntut, tapi mendengarkan dan mengerti. Sayang itu seharusnya bukan untuk dijelaskan, tapi untuk dipahami.
P: ################################################## #
G: Iya, sayang banget. Tapi aku ga mau sakit dan buta juga karena sayang.
P: ################################################## #
G: Aku selalu diem sampai saat ini. Nyoba terus-terusan ngertiin dan mahamin kamu, tanpa ngeluh. Tapi pada suatu titik aku sadar kalo aku jadi ga pernah cerita-cerita lagi sama kamu, ga pernah bagi-bagi masalahku ke kamu. Aku selalu saja cuma jadi pendengar setia dan penasehat pribadimu.
P: ################################################## #
G: Kamu sering ga kasih aku ruang dan kesempatan. Sedangkan aku sendiri selalu merasa kesulitan untuk menyela. Aku takut. Aku sungkan.
P: ################################################## ##
G: Aku ngerti kamu punya cara sendiri buat nyayangin aku. Aku ga minta kamu buat nyesuaian dengan caraku. Aku ga masalah dengan cara apa pun.
P: ################################################## ###
G: Aku cuma pengen aku ngerasa nyaman, tenang dan aman aja di samping kamu.
P: ################################################## ###
G: Akhir-akhir ini aku maksain diri buat bahas masalah ini karena aku mau kita bertahan ampe kakek-nenek.
P:################################################ ######
P:################################################ ######
G: Iya, aku ngerti kalau kamu masih sulit buat nerima.
P:################################################ ######
G: Iya, kita sama-sama butuh waktu buat nenangin diri masing-masing.
P:################################################ ######
G: Iya, aku tunggu kamu ngehubungin aku lagi.
P:################################################ ######
G: Sampai ketemu lagi. Aku..
TUUUUUUUT-TUUUUUUUUUUUT-TUUUUUUUUUUUUUUUUUUUT..
*jeda sesaat*
G: Aku cuma pengen bilang aku sayang kamu.


Woahhhh... cukup dramatis. Aku yang hanya bisa memerhatikan saja ikut menahan nafas! Luar biasa sang Gadis. Dia pemeran utama yang cukup tegar rupanya. Tak ada setetes pun air mata meleleh di pipinya. Hanya saja terlihat jelas olehku usaha sang Gadis untuk menahan air mata itu menggenang di permukaan matanya yang indah. Aku tak mengerti mengapa tak ia biarkan saja air mata itu mengalir. Bukankah itu bisa meringankan bebannya meskipun hanya sedikit?

Aku tak paham hati manusia. Sudah kuperhatikan sang Gadis terdiam cukup lama di atas kursinya. Termenung menatap kosong layar ponselnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Aku pun mulai merasa bosan. Drama yang kunanti tak kunjung datang. Bahkan sang Gadis tak bersuara sedikitpun. Aku bertanya-tanya, apakah manusia itu bisa rusak seperti mesin?

Krieeeeeeeeeeeeeeeeet....
Sang Gadis akhirnya bergerak! Dengan perlahan kulihat ia meraih sebuah buku saku sederhana bersampul hitam kulit. Dengan lemah, Sang Gadis membuka lembar demi lembar. Terdapat banyak tulisan di dalamnya. Tulisan-tulisan pendek berisi berbagai macam pesan singkat. Terlalu singkat hingga aku tak mengerti apa maksudnya.Saat tiba di halaman terakhir, Gadis meraih penanya. Ia torehkan sebuah garis panjang melintasi suatu kalimat. Dengan gamang dan ragu, ia bubuhkan kalimat baru di bawahnya. Samar aku lihat bercak-bercak basah menodai kertasnya. Perlahan aku tersenyum, samar memudar mengundurkan diri untuk memberi ruang bagi Gadis dan dirinya sendiri.

[
never explain yourself to anyone,
because the person who likes you doesn't need it,
and the person who dislikes you won't believe it
by: Kak Eci


unfortunately,
my world doesn't work that way
Special thanks to kak Eci yang telah menginspirasi terciptanya karya ini. :mmalu:

violace
5th May 2011, 12:20 PM
chapter 1 n 2 nya mana ya..? :mnyari::mnyari:

IntanRianda
5th May 2011, 01:18 PM
Yang kemarin itu kak.. Kan udah pernah nulis selintas warna yang lain. Yang tentang idul Fitri. Cuma yang itu ga pake chapter karena saya pikir ga bakal lanjut..

---------- Post added at 05:18 PM ---------- Previous post was at 05:16 PM ----------

Ohhh iyaa, saya lupa belum masukin 'selintas warna lain 2' karena terlalu singkat. Yang kedua adanya di blog sy. Tapi gpp'lah, tiap chapter beda masalah kok..