IntanRianda
11th April 2011, 09:04 PM
Mengapa aku memilih dirimu???
Dalam penglihatanku,
Saat itu redup, temaram remang-remang
Sedikit cahaya masuk melalui cornea mataku,
Menembus pupil, aqueous humor, lens, vitreous humor,
Lalu terserap oleh pigmen retinaku,
Kemudian dikembalikannya rangsangan itu ke ganglion cell untuk dihantarkan ke otakku melalui optic nerve.
Kau, hanya untuk melihat siluetmu dalam gelap,
Aku aktifkan banyak sekali rod cells dalam photoreceptors ku.
Kau, hanya untuk melihat detail dirimu,
Aku harus melampaui range yang ditetapkan oleh cone cells'ku.
Kau, demi melihat dirimu seutuhnya,
Aku lewati chiasma itu, aku putarbalikkan di otakku,
Aku terjemahkan, aku distribusikan, aku interpretasikan.
Kemudian aku resapi, dan aku tau mengapa aku memilihmu.
Dalam pendengaranku,
Getaran gelombang suaramu tertangkap oleh kedua daun telingaku.
Merambat perlahan melalui selaput tipis gendang timpaniku,
Masuk ke bilik tengah, membentur ketiga tulang kecilku,
Berturut-turut, malleus, incus, stapes.
Memperbesar getaran itu beribu kali lipat,
Merambatkannya ke arah jendela bundarku.
Hingga kemudian getaran itu menyentuh cochlea'ku,
Mengguncangkan rambut-rambut di tectorial membrane'ku
Berjalan melalui scala vestibuli dan scala tympani'ku
Hingga aku dapat mengenali frekuensimu, dan mengetahui posisimu,
Di otakku sebaik aku mengetahuinya di hatiku.
Dalam penciumanku,
Zat-zat kimia yang kau hasilkan dari keringatmu,
Menguap dan bercampur di udara
Yang kemudian aku hirup dalam-dalam saat mengambil nafas kehidupan
Menempellah particle itu dalam lubang hidungku
Hingga larut dalam olfactory membrane ku, mengalir dalam olfactory bulb,
Dan tertangkap oleh olfactory track ku.
Sensoriku yang paling primitive ini, langsung menunjukkan jalan pada pheromone'mu
Ke mana arah menuju ke bagian paling dalam otakku,
Yang kemudian bersemayan di sana,
Hingga aku gila menahan godaan nista untuk menerjang
Kecocokan itulah, kegilaan inilah yang membuatku tau mengapa aku memilihmu.
Dalam perabaanku,
Semua receptor-receptor di kulitku dapat menemukanmu.
Sensitifitas corpuscle ku merasakanmu,
Mekanisme-mekanisme pengenalan yang berbeda pada meissner, paccini, rufini'ku
Memyempurnakan sentuhanmu pada jemariku,
Mentransfer sensasi panas itu, tak hanya ke otakku, namun juga hatiku
Terakhir dalam pengecapanku,
Rasamu buyar bersama salivaku,
Tersedot oleh papilla-papilla'ku,
Mengarah ke ujung manis lidahku.
Sebagaimana glucose,
Semakin lama aku mengecapmu,
Semakin manis legit pula kurasa.
Begitulah rumitnya prosesku memilihmu.
Semoga persepsi yang diterima oleh sensory-sensory'ku ini
Dan aksi yang diintegrasi oleh otakku,
Tak terdistorsi oleh imajinasiku tentang dirimu...
Dalam penglihatanku,
Saat itu redup, temaram remang-remang
Sedikit cahaya masuk melalui cornea mataku,
Menembus pupil, aqueous humor, lens, vitreous humor,
Lalu terserap oleh pigmen retinaku,
Kemudian dikembalikannya rangsangan itu ke ganglion cell untuk dihantarkan ke otakku melalui optic nerve.
Kau, hanya untuk melihat siluetmu dalam gelap,
Aku aktifkan banyak sekali rod cells dalam photoreceptors ku.
Kau, hanya untuk melihat detail dirimu,
Aku harus melampaui range yang ditetapkan oleh cone cells'ku.
Kau, demi melihat dirimu seutuhnya,
Aku lewati chiasma itu, aku putarbalikkan di otakku,
Aku terjemahkan, aku distribusikan, aku interpretasikan.
Kemudian aku resapi, dan aku tau mengapa aku memilihmu.
Dalam pendengaranku,
Getaran gelombang suaramu tertangkap oleh kedua daun telingaku.
Merambat perlahan melalui selaput tipis gendang timpaniku,
Masuk ke bilik tengah, membentur ketiga tulang kecilku,
Berturut-turut, malleus, incus, stapes.
Memperbesar getaran itu beribu kali lipat,
Merambatkannya ke arah jendela bundarku.
Hingga kemudian getaran itu menyentuh cochlea'ku,
Mengguncangkan rambut-rambut di tectorial membrane'ku
Berjalan melalui scala vestibuli dan scala tympani'ku
Hingga aku dapat mengenali frekuensimu, dan mengetahui posisimu,
Di otakku sebaik aku mengetahuinya di hatiku.
Dalam penciumanku,
Zat-zat kimia yang kau hasilkan dari keringatmu,
Menguap dan bercampur di udara
Yang kemudian aku hirup dalam-dalam saat mengambil nafas kehidupan
Menempellah particle itu dalam lubang hidungku
Hingga larut dalam olfactory membrane ku, mengalir dalam olfactory bulb,
Dan tertangkap oleh olfactory track ku.
Sensoriku yang paling primitive ini, langsung menunjukkan jalan pada pheromone'mu
Ke mana arah menuju ke bagian paling dalam otakku,
Yang kemudian bersemayan di sana,
Hingga aku gila menahan godaan nista untuk menerjang
Kecocokan itulah, kegilaan inilah yang membuatku tau mengapa aku memilihmu.
Dalam perabaanku,
Semua receptor-receptor di kulitku dapat menemukanmu.
Sensitifitas corpuscle ku merasakanmu,
Mekanisme-mekanisme pengenalan yang berbeda pada meissner, paccini, rufini'ku
Memyempurnakan sentuhanmu pada jemariku,
Mentransfer sensasi panas itu, tak hanya ke otakku, namun juga hatiku
Terakhir dalam pengecapanku,
Rasamu buyar bersama salivaku,
Tersedot oleh papilla-papilla'ku,
Mengarah ke ujung manis lidahku.
Sebagaimana glucose,
Semakin lama aku mengecapmu,
Semakin manis legit pula kurasa.
Begitulah rumitnya prosesku memilihmu.
Semoga persepsi yang diterima oleh sensory-sensory'ku ini
Dan aksi yang diintegrasi oleh otakku,
Tak terdistorsi oleh imajinasiku tentang dirimu...