PDA

View Full Version : [cerbung] Surat yang tidak pernah selesai karena senja yang terlalu cepat datang : Selesai.



sofyantoro_fajar
21st January 2011, 09:41 PM
Mendung.

Aku selalu menggigil ketika hujan mulai merayapi kota istimewa yang sama-sama kita cintai ini. Karena meski dalam setiap titik airnya kutitipkan salam rindu untukmu, aku tahu kau sedang kedinginan di sana, Nduk. Aku percaya tanah merah itu tidak akan pudar hanya karena usapan air hujan yang sekedar permisi di atasnya, sama seperti hatiku.

Aku berhutang cerita padamu. Terlalu banyak mungkin, sampai-sampai senja kali ini tidak akan pernah cukup untuk meringkasnya jadi satu. Padahal, hanya ini kesempatanku bisa bercerita denganmu.

Entah senja yang keberapa sejak kita tidak bertemu lagi, aku bertemu dengan seorang malaikat.

Bukan malaikat yang sama yang pernah kau ceritakan padaku dulu. Hanya satu kesan yang terlintas ketika aku membayangkan tentang malaikat yang baru aku temui ini : hangat. Sensasi yang kita rasakan ketika berbaring di padang rumput dan menatap ke langit tanpa merasa silau, kemudian perlahan mulai tertidur samar-samar. Hangat seperti itu yang aku bicarakan.

Nduk, kau tentu masih ingat ketika kita dengan sedikit banyak bercanda akan melanggar slogan Keluarga Berencana. Kita sama-sama bermimpi akan ada sosok-sosok kecil yang berlarian menyambutku pulang dengan latar belakang senja yang mulai meredup di belakang punggungmu. Aku masih ingat jelas, kita berdebat semalam penuh untuk menentukan nama empat sosok kecil kita. Yang pertama, sesuai permintaanku, siapapun dia, apapun jenis kelamin yang diputuskan Tuhan untuknya, dia akan mendapat panggilan Bumi. Nama yang membuat kau cemburu karena dia adalah cinta pertamaku. Bumi yang teguh. Kemudian di belakangnya akan menyusul, Langit. Nama yang kau bayangkan dengannya akan terbentuk sosok kecil yang lapang hatinya, polos sifatnya dan menenangkan ketika dipandang saat kita pulang. Langit yang bijak. Dan kemudian, sesuai kesepakan kita, nama yang sama-sama kita kasihi, dia yang kita harapkan akan membawa cahaya dari senyuman dan tawanya, sosok dengan hati terluas yang pernah kita harapkan ada, sosok kecil ketiga bernama Mentari. Mentari yang ceria. Sosok kecil yang keempat, akan menemani saudara-saudaranya menjaga kita ketika sudah tua nanti, Samudera. Samudera yang santun.

Aku tidak tahu Nduk, dari mana nyeri ini datang setiap aku mulai membayangkan gambaran tentang kita dengan rambut yang sudah memutih sempurna, kita yang sudah bahagia dengan empat anak yang sedang berebut mainan dan kita sedang duduk di kursi goyang sambil mendengarkan musik gamelan dari radio. Tapi sekarang, aku sudah menemukan obat nyeri itu Nduk, obat itu adalah malaikatku. Akan kusampaikan kesepakatan kita itu ke malaikatku. Akan kuyakinkan dia, bahwa nama-nama itu bukan hanya kata-kata kosong, tetapi ada harapan dan doa di sana. Doa aku dan kamu. Doa kita. Doa kami juga.

Dua puluh empat jam yang lalu, malaikat itu memintaku menjadi bagian dari dirinya, dan aku berjanji akan memberikan jawaban kepadanya beberapa putaran jarum jam lagi. Kalau kau ingin tahu, mantera apa yang sudah dia rapalkan sampai membuat aku seperti ini, kau pasti akan kaget. Dia hanya mengelus kepalaku, merapikan rambutku yang acak-acakan, menatap mataku lekat-lekat dan berujar :

“Baik-baik ya, Kecil. Jangan cepet gede, nanti ga lucu lagi. “

Sesederhana itu. Itu saja.

Aku berjanji, segera setelah aku menyelesaikan surat ini, aku akan menyiapkan enam bagian dalam hati ku. Satu bagian untuk kenangan kita dulu : gandengan tangan pertama ku denganmu sebelum apel sekolah, sosok punggung yang pernah aku lamunkan saat istirahat siang sebelum kita kenalan, sekian pesan singkat yang masih ku simpan dalam kotak masuk telepon genggamku, percikan gambar kita berdua yang selalu menghiasi latar belakang desktop-ku, dan yang paling penting, janji untuk bisa mengecup keningmu yang belum sempat terlaksana. Satu bagian yang lain khusus untuk senyum malaikatku. Empat bagian lagi untuk sosok-sosok kecil yang mungkin tidak akan mengenalmu, namun akan selalu mengingatkan aku tentangmu.

Kukatakan sekali lagi, aku tidak suka ketika kita menyebut ikatan kita sebagai sebuah ikatan mati.

Bukan janji sehidup semati yang kita bentuk dalam ikatan ini, tetapi bagaimana salah satu dari kita bisa menjadi hidup bagi satu yang lain. Hidupku telah datang, bersama kehangatan yang diberikan malaikatku. Ketika batu nisan itu menjadi saksi tentang kesetiaanku, aku berdoa untuk kehidupanmu, Nduk. Bukan untuk kematianmu senja itu dan hari ini.

Nduk, ini adalah suratku yang ke seratus empat puluh delapan. Bersama empat puluh tujuh sisanya yang tidak pernah sempat kau baca, akan kukirimkan surat ini nanti malam melalui cerobong asap di ruang tengahku, semoga asapnya bisa mencapai surga dan menceritakan isinya kembali untukmu.

Mendung.

Malaikatku sudah menunggu, aku pamit. Dan satu lagi, aku minta izin atas nama malaikatku untuk bisa memilihkan nama bagi sosok-sosok kecil lain yang mungkin akan menyusul. Semoga dia bisa menjadi ayah yang tepat untuk mereka.

Kelak pada saatnya nanti, akan ku ajak Bumi, Langit, Mentari dan Samudera mengirimkan doanya untukmu. Aku janji.

Semoga kau tenang di sana, Nduk. Amin.

---------- Post added at 10:41 PM ---------- Previous post was at 10:38 PM ----------

mohon bantaian-nya :)

cityca
21st January 2011, 10:12 PM
minta link yg bagian pertama dong..
Agak2 lupa nih cerita pertamanya..hehehe..

Malaikatnya emg sengaja dibikin samar gt ya?
Soalnya lemot nih aku..ga nangkep siapa yg jadi malaikatnya..
:mtengsin:

dina kharisma
24th January 2011, 12:34 PM
eh jadi ini tokohnya cewe?


"Semoga dia bisa menjadi ayah yang tepat untuk mereka"

nad3418
25th January 2011, 03:09 AM
Yang kutangkap sih. Tokohnya cowok dan "mati".

dina kharisma
25th January 2011, 09:41 AM
Yang kutangkap sih. Tokohnya cowok dan "mati".

eh saya pikir yang mati adalah cewenya
trus cowonya yang nulis surat ini

tapi setelah baca kalimat


"Semoga dia bisa menjadi ayah yang tepat untuk mereka"

kok jadi bingung @.@

sofyantoro_fajar
25th January 2011, 06:22 PM
wah, ternyata malah jadi mbulet ya :P

violace
1st February 2011, 07:16 PM
tadi nya berpikir tokoh nya mo mati, dan malaikat nya = malaikat maut.
Tapi baca ulang lagi spertinya ngga seperti itu...

Egtheasilva Artella
2nd February 2011, 10:21 PM
kalau aku nangkepnya....yg nulis surat ini cewek, trus suami/pacarnya ini mati...
trus dia dapet calon suami baru yg dipanggil malaikat itu...
hoho...