PDA

View Full Version : [puisi] Puisi Lara



IntanRianda
9th September 2010, 06:34 AM
Sakit…
Nyeri sekali rasanya
Tertekan dalam kegelapan malam
Tenggelam di dasar kesunyian
Tertimbun dalam penderitaan
Kau berpaling dariku
Tak hiraukan tangisku
Putuskan semua asaku, harapku,
Cemasku
Meruntuhkan tekadku, penompang dalam hidupku
Namun kau tak jua habiskan sabarku
Kasihku, sayangku
Tak timbulkan marahku, jengkelku,
Hanya sesak kudapat
Sakit kuderita, nyeri kurasa
Hatiku pun kecewa

lanymm
9th September 2010, 08:20 AM
move it to puisi hari ini :mjaim:

nad3418
9th September 2010, 07:36 PM
move it to puisi hari ini :mjaim:

Why?

Nestapa adalah muse
mengubah karang menjadi pujangga

violace
9th September 2010, 07:38 PM
hoo...
kalo yang ini gw dapat emosinya though..

IntanRianda
10th September 2010, 05:32 PM
makasihhh kak! ini sy bikin pas lagi bener2 desperate dan patah hati,,,
hehehhehehehehe,,, tpi sy sdng mencoba bikin puisi dng emosi yg positif utk karya berikutnya,,,
mohon kritik dan saran yg membangun ya, kak!

IntanRianda
14th September 2010, 06:55 PM
Sakit…
Nyeri sekali rasanya
Tertekan dalam kegelapan malam
Tenggelam di dasar kesunyian
Tertimbun dalam penderitaan
Kau berpaling dariku
Tak hiraukan tangisku
Putuskan semua asaku, harapku,
Cemasku
Meruntuhkan tekadku, penompang dalam hidupku
Namun kau tak jua habiskan sabarku
Kasihku, sayangku
Tak timbulkan marahku, jengkelku,
Hanya sesak kudapat
Sakit kuderita, nyeri kurasa
Hatiku pun kecewa

hari ini telah aku buktikan padamu
dinginnya malam ini,,
sepinya hati ini,,
belum dapat dibandingkan
dengan kesedihanmu
kesendirianmu
rasa sepimu,,
serta segala asam asin hidupmu..
ingin sekali ku capai dirimu
agar dapat ku peluk erat,,
ku hangatkan,,
dan ku obati..
namun..
apalah daya diriku ini
kau..
sangatlah jauh..
terlalu berharga,,
untuk ku rengkuh..
:mcengeng:

IntanRianda
15th September 2010, 08:26 AM
Sakit…
Nyeri sekali rasanya
Tertekan dalam kegelapan malam
Tenggelam di dasar kesunyian
Tertimbun dalam penderitaan
Kau berpaling dariku
Tak hiraukan tangisku
Putuskan semua asaku, harapku,
Cemasku
Meruntuhkan tekadku, penompang dalam hidupku
Namun kau tak jua habiskan sabarku
Kasihku, sayangku
Tak timbulkan marahku, jengkelku,
Hanya sesak kudapat
Sakit kuderita, nyeri kurasa
Hatiku pun kecewa

PANDORA

Pergi saja pergi!
Tak perlu kau menoleh lagi,,
Untuk apa? Telan semua telan!
Simpan semua simpan!
Jangan bagi, jangan berani perlihatkan!!

Benci, aku sungguh benci kau!
Jangan bersuara, aku benci katamu!
Jangan muncul, aku tak suka tampangmu.

Sedih tersayat sepi.
Buat apa aku buka?
Biarkan tutup kotak pandora. 

:mmarah::mmarah::mmarah::mmarah::mmarah:

IntanRianda
5th October 2010, 06:52 PM
hari ini telah aku buktikan padamu
dinginnya malam ini,,
sepinya hati ini,,
belum dapat dibandingkan
dengan kesedihanmu
kesendirianmu
rasa sepimu,,
serta segala asam asin hidupmu..
ingin sekali ku capai dirimu
agar dapat ku peluk erat,,
ku hangatkan,,
dan ku obati..
namun..
apalah daya diriku ini
kau..
sangatlah jauh..
terlalu berharga,,
untuk ku rengkuh..
:mcengeng:

Lagi Lagi Aku Terbungkam


Lagi-lagi aku terdiam. Sejenak hening. Sepintas sunyi. Untuk kesekian kali.
Aku terbentur, menatap dinding kegundahan dan kegelisahan.
Ada apakah ini? Mengapa begini?

Aku, aku, dan aku. Keburukanku. Kejelekanku. Kekhawatiranku. Tak lagi biasa aku bagi. Denganmu. Lidahku kelu, tanganku bisu. Tak bisa ku rangkai kata. Untukmu.
Tak mampu terucap, tak mampu ku membentuk kalimat. Entah karena kurang nyali, kelebihan pikir, atau keraguan hati.

Aku tebak, lagi-lagi ini angkuhku, atau takutku?
Mungkinkah kasihku yang membuatku lumpuh?
Mengapa hanya padamu?

Aku bertanya..
Salahkah aku? Jika tak kupercayakan sedihku padamu?
Hinakah aku jika menyembunyikan masalahku di balik punggungku?
Khianatkah aku jika tak kubicarakan semua itu denganmu?

Aku tak yakin. Aku tak tahu. Aku hanya bimbang. Bingung dan ragu terbelit menjadi satu.

Ini hanyalah rintang kecil, pikirku selalu. Tak pantas aku mengatakannya padamu.
Ini hanyalah hambatan mudah, ulangku sambil lalu. Tak pantas aku membicarakannya di hadapanmu.
Ini hanyalah tantangan ringan kehidupan, ujarku pada diriku. Tak pantas aku mengeluhkannya padamu.

Lagi dan lagi. Tak ingin kuhabiskan sedikit waktu berhargamu denganku hanya untuk itu.
Tak mau kusiakan detik-detik langkamu denganku hanya untuk menyeretmu dalam alunan senduku.
Tak sudi kubuang detak jantungmu bersamaku hanya untuk memperlihatkan kelemahanku di hadapanmu.
Tidak, tidak, dan tidak.

Aku bertanya....
Salahkah aku? Jika aku hanya ingin menggunakan waktuku untuk menyenangkanmu?
Hinakah aku jika mauku habiskan detik-detikku hanya untuk menghiburmu?
Khianatkah aku jika hasratku tuk melihat senyummu dalam setiap detak jantungku?

Kudengar suaraku dalam canda tawamu bergaung hampa tanpa nada. Tak terhindar lagi tanyaku.
Taukah kau kalau kututupi semua itu di balik bayangku?
Sadarkah kau bila ku lakukan itu agar aku dapat menyambutmu dengan senyumku?

Apakah diammu karena kau menyadarinya? Mungkinkah kata lainmu merupakan pengertianmu?
Benarkah penerimaan itu berarti pengampunanmu? Ataukah bincangmu hanya taburan manis penutup rindu?

Aku tak yakin. Aku tak tahu. Aku hanya bimbang. Takut dan kecemasan makin melilitku.

Lagi dan lagi. Aku tau aku sedang jatuh. Terperosok dalam lubang yang sama. Keraguan yang sama. Ketakutan yang sama.
Kekhawatiran yang sama. Bimbang yang terus membayang.

Sampai kapan kah kau akan tahan? Lelah kah kau kelamaan? Aku makin tercekam kelam.
Mampukah kau mengerti? Mampukah kau menjangkauku yang tersembunyi di sudut?
Sanggupkah kau raba dan rasakan hatiku sebelum cahaya lain menimpaku?

Karena makin ku sayang kau, semakin ku bungkam.

Lagi dan lagi. Aku tatap sosokmu saat kau terbang dengan sepenuh jiwamu,
Sedangkan aku dsini masih cemas mencoba mengais sayap tuk tentukan arah langitku..

IntanRianda
25th October 2010, 04:34 PM
Hanya Kosong


Mudah katakan cukup untukmu di hadapan yang lain.
Mudah katakan tidak untukmu jika itu kuucapkan di depan yang lain.
Dan ternyata tetap mudah bagiku untuk mengatakan keduanya langsung padamu.

Tak sedikit pun aku ragu tuk tunjukkan bahwa aku tak takut kehilanganmu.
Tak sedikit pun marah atau kesal menggayuti nadaku.
Namun tak sedikit pun simpati kurasakan jua.

Lantas apa yang tertinggal untukku sebagai seorang perempuan?
Apa yang ada padaku sebagai manusia?
Jika tak dapat kurasakan marah, kesal, ataupun simpati?

Tak berartikah bagiku bulan-bulan yang telah kulalui denganmu?
Tak kecewa kah aku padamu? Tak sakit kah hatiku?

Aku tak tau. Aku tak yakin. Aku hanya kosong.
Yaaaa.. aku hanya 'kosong'
Itu satu-satunya kata yang bisa mendiskripsikan perasaanku, padamu.