valentina
24th July 2010, 06:00 PM
baru belajar untuk nulis cerpen ni, ditunggu kripik pedes alias saran kritiknya :)
Di suatu malam yang dingin, di kala aku jengah dengan keadaan sekitarku, lelah disakiti, aku dengan sembrono berkata, “aku tak ingin lagi bisa merasakan, terutama cinta. Jika pada akhirnya yang kurasakan hanyalah rasa perih tak terperi. Aku lelah merasakan sakit ini. Andai aku bisa tak lagi merasa, maka aku akan sangat bahagia”
Dan tak ada tanggapan atas perkataanku itu. Aku sendiri. Dalam dingin dan sepi. Lagipula aku memang tidak ingin ditanggapi atau bahkan dihakimi.
***
Pagi ini kusadari, ucapanku menjadi nyata. Aku tak lagi dapat merasakan cinta. Tak lagilah aku peduli akan sakit atau tidak. Semenjak ucapan sembrono itu, aku hanya ingin menikmati apa yang ditawarkan di depan mata. Seperti saat ia memelukku, mencumbuku. Tak kurasakan adanya cinta. Hanya nafsu semata. Tak ada rasa menyesal, tak ada rasa bersalah. Dan memori tentang pagi itu kembali muncul.
Tepat pukul 7 pagi waktu Jakarta, supirnya menjemputku. Membawaku ke hotel tempat ia menginap. Jalanan Jakarta pagi itu cukup lengang. Tentu saja karena itu hari minggu, jam 7 pagi pula. Tentu banyak masyarakat Jakarta yang masih menikmati empuknya kasur, mengurai asam – asam laktat yang bertumpuk setelah menghabiskan malam minggu hingga larut malam atau bahkan hingga pagi menjelang. Beruntung supirnya cukup supel, dan sangat “heboh”. Kami mendendangkan lagu – lagu tompy sepanjang perjalanan, kebetulan selera musik kami sama. Sayang, ia tak sejalur dengan kami dalam hal musik. Pak supir itu senang sekali karena jika bersama ia, tak bisalah ia menyetel lagu – lagu tompi dengan volume yang memekakkan telinga, dan mendebarkan dada ini.
Tak kuingat berapa lama perjalanan dari tempatku menginap ke hotelnya. Yang kuingat, ia masih tidur ketika aku datang, dan jadilah aku berdiri agak lama di depan pintu kamarnya. Menelponnya pun tiada berguna jika ia masih tertidur. Beberapa orang di ujung lorong kamarnya memandangiku, risih rasanya. Untunglah ia kemudian bangun, membukakan pintu untukku
“oh dah dateng” kalimat pertama yang ia ucapkan ketika membuka pintu. Wajahnya pagi itu lucu sekali, masih belum sadar betul sepertinya.
“aku dah berdiri di depan lama, tau. Ngetok – ngetok g dibuka, telpon juga g diangkat – angkat” protesku sambil memasuki kamarnya, menaruh tasku di atas meja dan menjatuhkan diri ke kasur.
“kan aku dah bilang, digedor aja” ia menjawab dengan santai sambil membuntutiku, dan menjatuhkan diri kembali ke kasur. Meraihku. Memelukku erat.
Dan ya aku sangat menikmati setiap sentuhannya, kecupannya. Dan semakin lama nafasnya semakin memburu. Kesadarannya sudah pulih seutuhnya, rupanya. Semakin kuat usahaku untuk mengelak semakin banyak pula tenaga yang ia kerahkan untuk menindihku. Dan aku lelah mengelak, ia pun lelah berusaha keras. Aku pasrah dan ia menang.
Ah, ingatan yang hanya membuatku menginginkan ia kembali. Tersiksa? Rasanya tidak lagi. Sudah ku bilang aku sudah tak bisa merasakan apa-apa.
“it’s just one-night stand” kataku dengan entheng. Tak ada yang bisa diharapkan selain kepuasan nafsu yang memburu. Menginginkan masa depan dengannya? Hahahahaha…..silly! Bisa bertemu kembali dan memuaskan nafsu bersamanya saja sudah sangat berutung.
Beberapa hari yang lalu dia datang. Menggodaku untuk menggodanya. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tak perlu waktu lama. Tak perlu banyak babibu. Langsung hajar…hahahahaha…. Jangan terburu untuk berpikir negatif karena bagiku ini sudah lumrah. Lagi – lagi it’s just one-night stand(meski dia datang siang2 :p). Sama seperti ia, dia pun meraihku ke dalam pelukannya. Mendekapku. Mencumbuku. Membuatku mengerang, terengah dan basah. Kemudian pergi, dan berakhir. Aku tak ingin memaksa, tak ingin mengikatnya. Cukup ketika satu hasrat yang meronta – ronta ingin dipenuhi telah terpenuhi.
Parah? Tidak juga
Bersalah? Tidak ah
Perih? Sama sekali tidak
Bahagia? Biasa saja
Terpuaskan? Mungkin
Rasa apalagi yang biasa kalian rasakan? Silahkan tanyakan namun sepertinya aku tak lagi mampu merasakannya
***
*cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan cerita mungkin cerita ini menjadi benar adanya….hahahahahhahaha………..
Di suatu malam yang dingin, di kala aku jengah dengan keadaan sekitarku, lelah disakiti, aku dengan sembrono berkata, “aku tak ingin lagi bisa merasakan, terutama cinta. Jika pada akhirnya yang kurasakan hanyalah rasa perih tak terperi. Aku lelah merasakan sakit ini. Andai aku bisa tak lagi merasa, maka aku akan sangat bahagia”
Dan tak ada tanggapan atas perkataanku itu. Aku sendiri. Dalam dingin dan sepi. Lagipula aku memang tidak ingin ditanggapi atau bahkan dihakimi.
***
Pagi ini kusadari, ucapanku menjadi nyata. Aku tak lagi dapat merasakan cinta. Tak lagilah aku peduli akan sakit atau tidak. Semenjak ucapan sembrono itu, aku hanya ingin menikmati apa yang ditawarkan di depan mata. Seperti saat ia memelukku, mencumbuku. Tak kurasakan adanya cinta. Hanya nafsu semata. Tak ada rasa menyesal, tak ada rasa bersalah. Dan memori tentang pagi itu kembali muncul.
Tepat pukul 7 pagi waktu Jakarta, supirnya menjemputku. Membawaku ke hotel tempat ia menginap. Jalanan Jakarta pagi itu cukup lengang. Tentu saja karena itu hari minggu, jam 7 pagi pula. Tentu banyak masyarakat Jakarta yang masih menikmati empuknya kasur, mengurai asam – asam laktat yang bertumpuk setelah menghabiskan malam minggu hingga larut malam atau bahkan hingga pagi menjelang. Beruntung supirnya cukup supel, dan sangat “heboh”. Kami mendendangkan lagu – lagu tompy sepanjang perjalanan, kebetulan selera musik kami sama. Sayang, ia tak sejalur dengan kami dalam hal musik. Pak supir itu senang sekali karena jika bersama ia, tak bisalah ia menyetel lagu – lagu tompi dengan volume yang memekakkan telinga, dan mendebarkan dada ini.
Tak kuingat berapa lama perjalanan dari tempatku menginap ke hotelnya. Yang kuingat, ia masih tidur ketika aku datang, dan jadilah aku berdiri agak lama di depan pintu kamarnya. Menelponnya pun tiada berguna jika ia masih tertidur. Beberapa orang di ujung lorong kamarnya memandangiku, risih rasanya. Untunglah ia kemudian bangun, membukakan pintu untukku
“oh dah dateng” kalimat pertama yang ia ucapkan ketika membuka pintu. Wajahnya pagi itu lucu sekali, masih belum sadar betul sepertinya.
“aku dah berdiri di depan lama, tau. Ngetok – ngetok g dibuka, telpon juga g diangkat – angkat” protesku sambil memasuki kamarnya, menaruh tasku di atas meja dan menjatuhkan diri ke kasur.
“kan aku dah bilang, digedor aja” ia menjawab dengan santai sambil membuntutiku, dan menjatuhkan diri kembali ke kasur. Meraihku. Memelukku erat.
Dan ya aku sangat menikmati setiap sentuhannya, kecupannya. Dan semakin lama nafasnya semakin memburu. Kesadarannya sudah pulih seutuhnya, rupanya. Semakin kuat usahaku untuk mengelak semakin banyak pula tenaga yang ia kerahkan untuk menindihku. Dan aku lelah mengelak, ia pun lelah berusaha keras. Aku pasrah dan ia menang.
Ah, ingatan yang hanya membuatku menginginkan ia kembali. Tersiksa? Rasanya tidak lagi. Sudah ku bilang aku sudah tak bisa merasakan apa-apa.
“it’s just one-night stand” kataku dengan entheng. Tak ada yang bisa diharapkan selain kepuasan nafsu yang memburu. Menginginkan masa depan dengannya? Hahahahaha…..silly! Bisa bertemu kembali dan memuaskan nafsu bersamanya saja sudah sangat berutung.
Beberapa hari yang lalu dia datang. Menggodaku untuk menggodanya. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tak perlu waktu lama. Tak perlu banyak babibu. Langsung hajar…hahahahaha…. Jangan terburu untuk berpikir negatif karena bagiku ini sudah lumrah. Lagi – lagi it’s just one-night stand(meski dia datang siang2 :p). Sama seperti ia, dia pun meraihku ke dalam pelukannya. Mendekapku. Mencumbuku. Membuatku mengerang, terengah dan basah. Kemudian pergi, dan berakhir. Aku tak ingin memaksa, tak ingin mengikatnya. Cukup ketika satu hasrat yang meronta – ronta ingin dipenuhi telah terpenuhi.
Parah? Tidak juga
Bersalah? Tidak ah
Perih? Sama sekali tidak
Bahagia? Biasa saja
Terpuaskan? Mungkin
Rasa apalagi yang biasa kalian rasakan? Silahkan tanyakan namun sepertinya aku tak lagi mampu merasakannya
***
*cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan cerita mungkin cerita ini menjadi benar adanya….hahahahahhahaha………..