PDA

View Full Version : [cerpen] Hampa



goesgoes
23rd July 2010, 10:06 AM
“ …
So let mercy come
And wash away
What I’ve done

I'll face myself
To cross out what I’ve become
Erase myself
And let go of what I’ve done…”

Aku menunggu angkot di depan Akmil dan sudah lima menit sejak aku berdiri di depan took UM ini. Alunan lagu dari Linkin Park ini menemaniku selama menunggu. Akhirnya tak lama setelah lagu “What I’ve Done” selesai, ada angkot jalur 2 yang mengantarkanku ke Pakelan. Dari Pakelan, aku mengoper angkot untuk menuju tempat makan yang sudah lama ingin aku datangi. Aku duduk di bangku dekat pintu. Hembusan angin terasa begitu menyejukkan, mungkin karena memang Magelang berhawa dingin, beda dengan kotaku yang daerah panas.
Akhirnya aku sampai di tempat makan yang kutuju. Sayangnya tempat makan tersebut masih tutup. Aku akhirnya berjalan dan memutuskan makan di warung makan tak jauh dari situ. Walaupun sudah dua kali makan Ninit sebelumnya namun aku masih tetao memesan ayam goreng. Setelah perut kenyang, akupun berjalan lagi menuju sebuah kampus biru yang menorehkan banyak kenangan dalam hidupku.
Ya, SMA Taruna Nusantara. Aku berjalan melewati boulevard dan akhirnya sampai di depan Gedung Seni Budaya. Aku hendak berbelok ke kiri menuju GSG namun langkahku dihentikan temanku. Dia adalah Ken dan dia menyampaikan bahwa tempat berkumpul berpindah ke pelataran Balairung bukan di GSG lagi. Tempat berkumpul yang kumaksud disini adalah tempat berkumpulnya anak-anak yang akan pulang ke Bandung bersama rombongan naik bus. Aku tak tahu kenapa tempatnya berpindah dan berbeda seperti yang dijarkom.
Dengan headphone masih terpasang di telingaku, aku duduk di salah satu kursi. Aku dikagetkan oleh Anthares dari belakang, temanku yang sekarang melanjutkan studi di Akmil. Dia mengajakku menemui orang tuanya karena orang tua kami memang dekat karena kota tinggal kami berdekatan. Sehingga setiap ada acara Panda, orang tua kami pasti selalu bertemu. Aku bercengkerama dengan mereka dan mereka menanyakan kabar bapakku. Mereka ternyata tak tahu bahwa bapakku telah tiada. Kami akhirnya berbincang-bincang banyak hal termasuk tentang perkuliahan. Pembicaraan kami terhenti karena mereka akan pergi dan aku juga mendapat telepon. Ku ucapkan selamat tinggal pada mereka.
Diego, koordinator kepulangan kami ke Bandung, mengabsen satu per satu nama yang akan naik bus. Nama demi nama telah disebutkan dan namaku tak ada di dalam daftar. Aku menanyakan mengapa namaku tak disebut. Diego mengecek kembali daftar nama dan tetap tak menemukan namaku.
“Abang udah transfer loh, ini bukti transfernya. Abang masih bisa nggak ikut rombongan?”
“Oh, baik bang, tiga hari yang lalu ada abang yang ngebatalin koq jadi abang masih bisa ikut. Maaf ya bang.”
“Oh, gitu ya. Ya udah, trus abang bisa sholat Maghrib dulu khan?”
“Iya bang, mungkin setelah Maghrib busnya baru dating.”
Diego akhirnya mengumumkan bahwa rombongan bisa sholat dulu di masjid. Aku berjalan menuju masjid dan Shinta menyapaku dari belakang.
“Loh, Rif, kamu ikut rombongan toh? Kirain kamu udah pergi kemana gitu koq kemaren setelah makrab kamu nggak kelihatan pas foto angkatan.”
“Aku khan ikutan ngumpul angkatan Shin, di foto yang di FB aku ketutupan kali jadi nggak keliatan.”
“Ye…kirain kamu kemana, haha. Ya udah aku duluan ya.”
Aku terhenti saat aku sudah sampai di depan tangga karena HPku berbunyi. Ternyata pamanku yang menelpon. Aku ditanya oleh pamanku di mana alamatku di Bandung. Pamanku ingin mengirimkan KTPku yang baru. Aku membacakan alamatku sambil tetap berjalan menuruni tangga menuju masjid. Setelah itu, nada suara Paman tiba-tiba berubah.
“Rif, golongan kamu bener khan A? Cuma memastikan nggak salah, khan Pakdhe butuh buat ngurus KTPmu itu loh.”
“Iya koq Pakdhe, orang kemaren-kemaren baru donor darah koq. Khan pas donor kemaren dicek golongan darahnya biar nggak ketuker.”
“Berarti benar semua dugaan Pakdhe.”
“Emang ada apa Pakdhe?”, tanyaku mulai cemas. Aku berhenti berjalan di jembatan.
“Sebenarnya Pakdhe sudah ngerasa aneh pas kamu bilang golongan darahmu A, soalnya khan bapak ibumu golongan darahnya O. Setelah Pakdhe cek lagi dan tanya ke saudara-saudara yang lain, ternyata kamu itu bukan anak kandung bapak ibumu.”
Sesaat degup jantungku berdebar kencang.
“Pakdhe yakin? La…lalu saya anak siapa Pakdhe?”
“Mbahmu bilang, ibumu nemuin kamu di deket gubuk yang ada di sawahnya Mbahmu dan kamu bukan anak ibumu.”
Aku langsung menutup telepon dari Pakdheku. Kabar ini terlalu berat dan mendadak bagi aku. Aku berusaha keras menahan agar air mata tidak turun. Aku tidak mau terlihat sedih dan menangis di masjid ini di antara banyak orang. Selama berjalan menaiki tangga hingga melepas sepatu aku menahan air mata. Adam menepukku dari belakang, “Kenapa Rif, koq diem dan murung aja?”
“Ah, nggak ada apa-apa koq.”
“Kapan ya Rif, kita bakal ke TN lagi?”
“Yah…kalo masih ada umur Dam.”
“Ah, kamu Rif, ngomong gitu kayak kamu besok mati aja, haha. Udah ah, ayo wudhu.”
Saat akan mengambil air wudhu, ada sms masuk. SMS itu ternyata dari Pakdhe yang berisi tentang cerita dari nenekku.
“Maaf ya Rif, Pakdhe juga baru tahu. Ternyata dulu ibumu pernah keguguran pas lagi hamil gedhe dan nggak pernah cerita siapa-siapa. Entah dari mana, ibumu mendengar suara tangismu pas lewat gubuk. Akhirnya, sama ibu,bapak, sama mbahmu, kamu dikenalkan ke keluarga kalo kamu itu anak di kandungan ibumu. Yang sabar ya Rif, tetep do’ain mereka biar selamat di akhirat sana walaupun bukan orang tua kandungmu. Kalo ada apa-apa, hubungin Pakdhe ya.”
Aku mematikan keran dan menuju kamar mandi, aku tak kuasa menahan air mata untuk keluar namun aku berusaha untuk tetap sunyi agar tak ada yang tahu. Cukup lama aku menghabiskan waktu sendiriku di dalam kamar mandi itu.
Suara Iqomat sudah berkumandang. Aku segera keluar dari kamar mandi dan mengambil wudhu. Selesai sholat Maghrib, teman-teman melanjutkan dengan menjama’ sholat Isya. Aku turut menjadi makmum.
Setelah selesai sholat, semua bergegas kembali menuju Balairung sementara aku masih terdiam di dalam masjid.

Semua perjalanan hidupku bagai sebuah film yang terputar di dalam otakku. Aku yang selalu menjadi manusia yang tak diinginkan. Aku yang tidak pernah hidup dalam harapan orang tuaku sehingga mereka membenciku. Mungkin kabar dari Pakdhe itulah penyebab semua kebencian mereka terhadapku. Aku yang tak pernah dianggap oleh teman-temanku di rumah pada saat di kelas. Aku bahkan ragu sekarang, apakah mereka yang pernah duduk sebangku, mendiami kelas yang sama denganku, dari aku TK hingga aku SMP memang benar bisa disebut teman atau hanya memanfaatkan aku yang pendiam ini demi dianggap mereka sebagai seorang “teman”. Ternyata melanjutkan SMA jauh-jauh ke TN agar tak bertemu mereka lagi, tak mengubah juga nasib bawaan lahirku ini. Aku tetaplah data pencilan dari semua teman-teman angkatanku. Tak ada prestasi, tak ada memori. Ternyata semua kenanganku di TN ini hanyalah memoriku seorang. Aku tak pernah ada di memori orang lain. Mereka semua tidak pernah menganggap aku ada. Entah kenapa aku yakin kalau aku tidak bakal dicari jika aku tetap tinggal di masjid. Bahkan mereka mungkin tidak sadar bahwa ada kursi kosong, kursi yang seharusnya kududuki, sehingga mereka lupa memasukkan namaku di daftar penumpang bus. Aku hanyalah anak yang dibuang di tengah sawah. Bahkan orang tua kandungku sendiri tak menginginkanku ada dihadapan mereka. Mungkin mereka mengharapkan aku mati kedinginan di tengah sawah atau ada binatang buas yang memangsaku. Mungkin aku harusnya tidak usah menangis yang membuat aku ditemukan oleh “ibu”ku.

Aku beranjak dari masjid dan segera berjalan keluar masjid dengan bertelanjang kaki. Aku berjalan menuruni tangga di tengah kesunyian, sudah selayaknya memang bagiku hidup dalam kesunyian dan kehampaan. Aku melihat air yang tak terlalu tinggi dari pinggir jembatan. Batu-batu yang mencuat itu, aku tak sempat memandanginya lama, karena aku hanya merasakan rasa sakit yang ditimbulkan karena menghantam batu-batu itu dari atas. Aku merasakan darahku mengalir bersama air, darah yang mengaliri tubuh yang tak diinginkan di dunia ini. Pandanganku mulai gelap. Aku akan menuju neraka atas semua tindakan dan salahku, pikirku.

Aku bingung, kenapa bukan panas yang kurasakan, melainkan dingin yang menusuk. Jangan-jangan selama ini guru agamaku berbohong tentang neraka yang terbuat dari api yang menyala-nyala. Kalau memang neraka dari api, mengapa aku tidak melihat apa-apa selain kegelapan dan aku tidak merasa panas. Suara gemuruh ku dengar dari sekeliling. Mungkin itu suara halilintar yang akan menyambar aku sebagai hukuman.

Tapi entah mengapa dari suara gemuruh-gemuruh itu, aku mendengar suara lirih seperti suara seseorang yang memanggil.


“Bang…bang Arif…bangun bang.”
“Hah…dimana ini ??”
“Ini udah nyampe tempat makan bang. Abang kenapa bang ? Koq hujan-hujan gini, mana ACnya dingin pula, abang keringetan. Loh, abang koq kayak abis nangis sih? Bang, abang baik-baik saja khan ?”
“Eh..eh…iya dek. Abang nggak apa-apa koq. Cuma mimpi buruk.”

Jadi……rasa sakitku tadi......darah yang kurasakan tadi……semua hanya mimpi buruk?

Aku segera turun dari bus dan segera menuju mushola yang ada di tempat makan itu. Aku segera mengambil wudhu dan sholat, aku bersyukur kepada Tuhan yang masih memberiku nafas dan hidup. Aku berterima kasih kepada Tuhan atas cobaan yang aku alami, cobaan bahwa aku bukanlah anak kandung orang tuaku. Aku mengucapkan syukur kepada Tuhan karena aku masih cukup kuat untuk tidak mengikuti kata hatiku, memberikan aku petunjuk bahwa setidakdiinginkannya aku ada di dunia ini, aku tetap memiliki suatu peran untuk membawa kebaikan, seperti kata pepatah “Seekor kecoa pun punya fungsinya masing-masing”. Mungkin itulah alasan Tuhan memberiku mimpi buruk jika aku mengikuti kata hatiku.

Terima kasih Tuhan.

goesgoes
23rd July 2010, 10:11 AM
Cerita di atas adalah fiktif belaka
Kesamaan nama, tokoh maupun cerita merupakaan ketidaksengajaan :mpanas:

*dan saya juga minta maaf atas pengeditan yang buruk karena entah kenapa tombol2 yang ada di atas ini [yang macem bikin bold, justify, bullets numbering dkk] nggak bisa dipake :mcengeng:

muhamadyusuf
23rd July 2010, 10:40 AM
mantap goes...
lanjutken...!

goesgoes
23rd July 2010, 10:46 AM
mantap goes...
lanjutken...!

nggak ada komen2 apa gitu bang...:mbisik:

*soalnya berasa pasti ada yang kurang di karya saya satu ini...
jadi merasa kurang kalo ada yang belum ngritik....:mtengsin:

violace
23rd July 2010, 11:56 AM
mbak editor bakal bisa mengubah rangkaian kalimatnya jadi lebih enak dibaca.... :D
lanjut goes...

goesgoes
23rd July 2010, 01:06 PM
@kak Violace
nggak ada tambahan kak? :mcengo:
sebenernya aslinya lebih panjang beberapa kalimat,cuma diedit karena nggak muat kalo dipost semuanya

trus saya rada keselnya itu,ngedit paragraf,alinea,tata letak di forum nggak segampang diWord :mpanas:
jadinya selalu berantakan tiap ngepost karya :mtengsin:

violace
23rd July 2010, 01:30 PM
kalo kepanjangan cerpennya di bagi 2 aja... jadi 2kali posting
tiap paragraf di kasi spasi... enter skali lagi tiap mulai paragraf baru
tiap kalimat langsung (yang pake "...") juga di kasi jarak skali enter
di akhir2 udah lumayan rapi tuh.. awal nya aja yang dempetan.

komen lainnya...
yah selera pribadi sie... gw kan ga suka baca panjang2 ngga jelas di awal tanpa konflik (suka bosen), dan menduga2 sbenernya mo mengarah kemana... konflik nya kan terakhir yang dia merasa selalu ngga dianggap, tapi cerita awal bukannya ngga bermakna, justru ngasih gambaran gimana dia bisa dilupakan juga... walopun kaitan antara nunggu angkot, ayam ninit dan konflik masih ngga kuat menurut gw...

Tapi ya selera masing2 aja... :)
lanjuuuut...!! :D

fixshine
23rd July 2010, 02:52 PM
sepertinya masalah proporsi konflik saja

goesgoes
23rd July 2010, 05:38 PM
kalo kepanjangan cerpennya di bagi 2 aja... jadi 2kali posting
tiap paragraf di kasi spasi... enter skali lagi tiap mulai paragraf baru
tiap kalimat langsung (yang pake "...") juga di kasi jarak skali enter
di akhir2 udah lumayan rapi tuh.. awal nya aja yang dempetan.

komen lainnya...
yah selera pribadi sie... gw kan ga suka baca panjang2 ngga jelas di awal tanpa konflik (suka bosen), dan menduga2 sbenernya mo mengarah kemana... konflik nya kan terakhir yang dia merasa selalu ngga dianggap, tapi cerita awal bukannya ngga bermakna, justru ngasih gambaran gimana dia bisa dilupakan juga... walopun kaitan antara nunggu angkot, ayam ninit dan konflik masih ngga kuat menurut gw...

Tapi ya selera masing2 aja... :)
lanjuuuut...!! :D
itu sebenernya yang awal kalo di word bacanya rada enakan sih kak :mpanas:
yang akhir, saya sengaja beri spasi lebih biar lebih meresap aja...:mmikir:

sepertinya masalah proporsi konflik saja

kebiasaan saya bang, suka bertele-tele di awal
berlaku juga di karya ini, soalnya karya semalem jadi :mtengsin:
awalnya mau menceritakan settingnya, tapi ternyata kebabalasan
udah kemaleman, udah ngantuk, timbang nggak selese2, langsung dimunculkan konflik dan tambah ngantuk akhirnya konflik cuma dapet jatah segitu :mpanas:

terima kasih buat abang dan kakak atas sarannya :msenyum: