nad3418
30th June 2010, 07:20 PM
Langit Senja Kesumba
Romans: Cerpen ini terbatas untuk anggota Group PT: Penyair Tuwir (ndorokakung (http://ndorokakung.com) dan Pakde mBilung (http://ndobos.com))
Perasaan saya puspas hari ini. Adakah Diajeng benar-benar sudah menanggalkan semua keperihan dan kepedihannya? Adakah hatinya benar-benar telah tertambat di Milan dan melupakan saya?
"Kuharap Kangmas tahu kalau kapal takkan terpancang jika dermaga selalu berpindah" masih tergiang betul. Diajeng mengatakannya dalam sayup-sayup berisik jangkrik malam.
Angin-angin nakal sesekali meniup rambutnya menari di wajah saya yang datar seperti panggung kosong sehampa hati. Ada geletar dingin di palung hati saat itu.
Selanjutnya Diajeng memang tidak banyak berkata. Wajahnya terus merunduk, tuturannya sepotong-sepotong.
Ia ingat pertemuan terakhirnya dengan Si Mas di Den Haag. Waktu itu masih pagi. Matahari baru saja meletek di timur. Tetes embun terakhir baru saja pergi. Jalanan sepi.
Ada dua cangkir kopi hangat tersaji di meja yang bercampur dengan potongan karcis kereta, uang logam dan selarik foto yang mereka buat berdua malam kemarin di photobooth.
Sudah lama sekali rasanya momen itu. Diajeng nyaris bisa mengulang kembali setiap potong adegan pagi itu. Apalagi ketika pertemuan itu berakhir dengan air mata.
"Mas, kita tidak bisa terus begini. Saya perlu kepastian" begitu ujar Diajeng lirih, nyaris berbisik.
Dugh. Si Mas seperti kena jab telak di ulu hati. Dia tak pernah mengira akan mendapat pukulan tajam seperti itu. Si Mas bingung bagaimana harus menjawab. Hati-hati dia mengelus hati Diajeng. "Kepastian bagaimana, Jeng?" tanya Si Mas.
jawaban tidak langsung diberikan, tangan Diajeng merogoh tas yang tersampir di kursi. Sebatang rokok mentol, yang langsung terselip di bibirnya yang tidak bergincu. Menyalakannya, dan Diajeng seolah sibuk melihat tarian asap.
Butir-butir berkilat mulai menggenangi ujung matanya. Bisa dipastikan sebentar lagi air matanya tumpah. Si Mas diam saja. Mulutnya tergembok rapat.
Si Mas tahu, pertanyaan itu cepat atau lambat akan datang. Tapi mengapa sekarang? begitu pikirnya.
Dan kenapa Diajeng selalu menanyakan hal yang sama. Si Mas mulai kelabakan. Tapi, ia tak kurang akal. Perlahan dibelainya rambut Diajeng yang hitam dan panjang, wangi lagi.
"Dik, kamu tahu saya menyayangimu dan kamu juga tahu bagaimana keadaanku sekarang. Aku tidak bisa meninggalkan istriku dan anak-anakku". Ada geletar tertahan di nada bicara si Mas, dia betul-betul tak tahu harus bagaimana.
Diajeng mendesah. Sudah berkali-kali ia mendengar jawaban klise seperti itu.
Si Mas tahu, desahan begitu adalah awal dari sebuah perdebatan yang akan berujung pada air mata.
"Kamu janganlah lelah berharap, Jeng. Selalu ada cahaya di ujung lorong," kata Si Mas untuk meredakan ketegangan.
"Aku memang hanya berbekal harapan Mas. Aku tahu itu sejak awal kita bersama, walaupun harapan itu setipis kulit ari." Diajeng berkata sebelum rokok mentol itu kembali terselip di bibirnya.
Perlahan-lahan Si Mas mengangsur korek api ke dekat bibir Diajeng. Dinyalakannya, gresss ... api menyala. Terang. Diajeng menunduk dan mendekatkan rokok ke korek.
Gelinjang asap kembali seolah menyita perhatian Diajeng. Ada kebisuan kelu menyelingi percakapan terpenggal-penggal itu.
Tapi, memang begitulah cara mereka menjalin komunikasi. Selalu tak pernah lengkap. Selalu ada hal-hal yang tak pernah selesai. Seperti kisah asmara mereka.
"Mas, aku dulu pernah bilang, kalau aku siap menjalani ini semua. Mungkin aku lelah dengan ketidakpastian, mungkin juga aku iri dengan belahanmu yang lain ... aku tak mau berbagi.".
Si Mas menghela napas panjang sebelum menjawab. "Tidak ada yang dibagi, Jeng. Hatiku cuma satu. Untuk kamu. Tidakkah kau tahu itu? Aku tak pernah berubah.".
"Aku ingin mempercayai ucapanmu Mas, teramat sangat ingin. Aku juga rela menghabiskan usiaku hingga kini untuk menunggu kepastian darimu. Sampai kapan ...." Pertanyaan menggantung yang tak lengkap, dan memang tak perlu dilengkapi.
Si Mas seperti jatuh di ngarai yang dalam setelah mendengar pertanyaan itu. Ia merasa tak berdaya, pun tiada sampai hati. Baginya, Diajeng itu segalanya. Selain pintar, ia begitu rupawan. Bidadari nirwana yang turun ke bumi.
Si Mas bukannya tidak mencintai Fina, istrinya itu, toh dia memilih Fina dahulu juga bukan karena paksaan siapapun. Hanya saja, Diajeng seolah pelengkap jiwanya.
Diajenglah satu-satunya yang bisa mengimbangi imajinasi si Mas yang liar, sekaligus teman diskusi yang asyik. Tak jarang mereka melewatkan malam-malam yang beku hanya dengan berbincang soal remeh-temeh, seperti kenapa air bisa membeku.
Atau seperti kemarin hari, saat mereka berjalan melintas padang, yang berpagar pepohonan berdaun kuning penanda musim gugur. "Mas, kenapa ya daun harus gugur?" Pertanyaan yang lantas menghadirkan percakapan sehangat pelukan.
Tiada mudah menghapus kenangan seperti itu. Ia memang sering hilang, tapi selalu muncul kembali. Si Mas seperti terapung di dua dunia: masa lalu dan masa kini.
"Kenapa Mas melamun ... diam saja", suara Diajeng membangunkan Si Mas dari lamunannya.
"Ah, enggak, Jeng," jawab Si Mas tersipu. Lamunannya tentang masa lalu seperti terenggut ke masa kini oleh pertanyaan Diajeng. Dipandangnya perempuan rupawan itu dengan penuh kasih.
Ada seulas senyum di sudut bibir Diajeng. Manis dan membius. "Maaf ya Mas, aku membuatmu susah lagi.".
Si Mas cuma nyengir. Dia sudah terlalu terbiasa menghadapi Diajeng yang susah ditebak apa maunya.
"Mas, saya akan ke Milan. Saya tahu ini bukan hal yang mudah buat Mas, tapi saya harus memikirkan masa depan saya." Ucapan Diajeng itu bagai palu godam yang telak menghantam.
"Ke Milan? Mau pameran lagi? Bukankah jadwal pameranmu masih sebulan lagi? Kenapa mesti berangkat sekarang?" tanya si Mas keheranan.
Diajeng menggeleng lembut. "Milan bukan hanya untuk pameran kan Mas. Ada tawaran bagus untuk masa depanku di sana.".
"Tawaran bagus? Apa itu? Terus mau berapa lama di sana?".
"Pekerjaan. Mungkin aku akan menetap di sana." Mata Diajeng kali ini terpaku pada titik embun di jendela kaca.
"Hah? Jadi kamu mau bekerja di Milan? Selamanya?" si Mas bertanya seolah tak percaya.
"Mas masih bisa datang kan, sesekali. Lagipula aku ingin mandiri, aku ingin menentukan jalan hidupku sendiri, di mana ada kepastian.".
Aha, kepastian. Itulah yang selalu dicari Diajeng, sesuatu yang si Mas tak pernah bisa berikan. Mas terdiam, seperti mengunyah kata-katanya sendiri dalam hati. Milan ...
Itu pertemuan terakhir mereka di Den Haag. Keduanya berpisah membawa hambar yang menyakitkan. Diajeng memang sempat sekali ke Jakarta dan mereka bertemu sebentar. Di malam yang riuh dengan nyanyian jangkrik itu.
Si Mas ingat, setiap kali Diajeng pulang dan mampir ke Jakarta, mereka selalu melewatkan waktu yang cuma sejenak itu di sebuah vila, di mana kabut jatuh dan senja merah kesumba.
Teras belakang villa yang menghadap ke ladang hijau di bawah, dan sebuah sofa tua seperti disiapkan sebagai arena peraduan kasih.
Di depannya terhampar padang rumput yang berujung di sebuah kebun teh. Suasanya tenang, setenang hati Diajeng setiap kali ke sana. Hanya tempat itulah satu-satunya yang bisa meredam gejolak hatinya.
Pekerjaannya di Milan memang menguras energinya. Sebetulnya bisa saja dia menghabiskan masa liburannya di selatan Perancis sana. Hanya saja, bayang-bayang Si Mas lah yang selalu menyeretnya kembali ke Jakarta dan kembali ke villa itu.
Si Mas dan vila di Puncak itu adalah kombinasi yang sulit untuk dilewatkan. Diajeng sangat menikmati bertemu dengan keduanya: Si Mas yang syahdu dan vila yang elok itu.
Ya, ini hanya tempat sementara, sekedar tempat berlabuh barang sesaat. Diajeng tahu itu. Semua ini hanya sementara.
Seperti semua yang ada di dunia ini fana. Tapi cinta mungkin tidak. "Ah, cinta," desah Diajeng dalam hati. "Berapa kali aku terluka karena cinta?".
Luka yang selalu dirindunya. Hati Diajeng memang telah terparut. Tetapi cinta Si Mas lain, dia menikam. Mencabut belati penikam hanya akan memperparah luka. Diajeng tahu, pilihannya hanyalah menerima, memeluk logam belati yang dingin selama dia bisa.
Rasanya memang seperti Sisifus: mendorong batu harapan ke atas, tapi hanya untuk jatuh ke bawah lagi. Sia-sia. Tapi apalah daya?
Toh baginya Sisifus bukanlah simbol kesia-siaan, itu lebih berupa simbol pengharapan, suatu saat kelak batu itu bisa diam di pucuk bukit.
Tapi, kapan? Semuanya serba tak pasti di mata Diajeng. Itulah yang selalu merisaukan hatinya selama ini.
...
Romans: Cerpen ini terbatas untuk anggota Group PT: Penyair Tuwir (ndorokakung (http://ndorokakung.com) dan Pakde mBilung (http://ndobos.com))
Perasaan saya puspas hari ini. Adakah Diajeng benar-benar sudah menanggalkan semua keperihan dan kepedihannya? Adakah hatinya benar-benar telah tertambat di Milan dan melupakan saya?
"Kuharap Kangmas tahu kalau kapal takkan terpancang jika dermaga selalu berpindah" masih tergiang betul. Diajeng mengatakannya dalam sayup-sayup berisik jangkrik malam.
Angin-angin nakal sesekali meniup rambutnya menari di wajah saya yang datar seperti panggung kosong sehampa hati. Ada geletar dingin di palung hati saat itu.
Selanjutnya Diajeng memang tidak banyak berkata. Wajahnya terus merunduk, tuturannya sepotong-sepotong.
Ia ingat pertemuan terakhirnya dengan Si Mas di Den Haag. Waktu itu masih pagi. Matahari baru saja meletek di timur. Tetes embun terakhir baru saja pergi. Jalanan sepi.
Ada dua cangkir kopi hangat tersaji di meja yang bercampur dengan potongan karcis kereta, uang logam dan selarik foto yang mereka buat berdua malam kemarin di photobooth.
Sudah lama sekali rasanya momen itu. Diajeng nyaris bisa mengulang kembali setiap potong adegan pagi itu. Apalagi ketika pertemuan itu berakhir dengan air mata.
"Mas, kita tidak bisa terus begini. Saya perlu kepastian" begitu ujar Diajeng lirih, nyaris berbisik.
Dugh. Si Mas seperti kena jab telak di ulu hati. Dia tak pernah mengira akan mendapat pukulan tajam seperti itu. Si Mas bingung bagaimana harus menjawab. Hati-hati dia mengelus hati Diajeng. "Kepastian bagaimana, Jeng?" tanya Si Mas.
jawaban tidak langsung diberikan, tangan Diajeng merogoh tas yang tersampir di kursi. Sebatang rokok mentol, yang langsung terselip di bibirnya yang tidak bergincu. Menyalakannya, dan Diajeng seolah sibuk melihat tarian asap.
Butir-butir berkilat mulai menggenangi ujung matanya. Bisa dipastikan sebentar lagi air matanya tumpah. Si Mas diam saja. Mulutnya tergembok rapat.
Si Mas tahu, pertanyaan itu cepat atau lambat akan datang. Tapi mengapa sekarang? begitu pikirnya.
Dan kenapa Diajeng selalu menanyakan hal yang sama. Si Mas mulai kelabakan. Tapi, ia tak kurang akal. Perlahan dibelainya rambut Diajeng yang hitam dan panjang, wangi lagi.
"Dik, kamu tahu saya menyayangimu dan kamu juga tahu bagaimana keadaanku sekarang. Aku tidak bisa meninggalkan istriku dan anak-anakku". Ada geletar tertahan di nada bicara si Mas, dia betul-betul tak tahu harus bagaimana.
Diajeng mendesah. Sudah berkali-kali ia mendengar jawaban klise seperti itu.
Si Mas tahu, desahan begitu adalah awal dari sebuah perdebatan yang akan berujung pada air mata.
"Kamu janganlah lelah berharap, Jeng. Selalu ada cahaya di ujung lorong," kata Si Mas untuk meredakan ketegangan.
"Aku memang hanya berbekal harapan Mas. Aku tahu itu sejak awal kita bersama, walaupun harapan itu setipis kulit ari." Diajeng berkata sebelum rokok mentol itu kembali terselip di bibirnya.
Perlahan-lahan Si Mas mengangsur korek api ke dekat bibir Diajeng. Dinyalakannya, gresss ... api menyala. Terang. Diajeng menunduk dan mendekatkan rokok ke korek.
Gelinjang asap kembali seolah menyita perhatian Diajeng. Ada kebisuan kelu menyelingi percakapan terpenggal-penggal itu.
Tapi, memang begitulah cara mereka menjalin komunikasi. Selalu tak pernah lengkap. Selalu ada hal-hal yang tak pernah selesai. Seperti kisah asmara mereka.
"Mas, aku dulu pernah bilang, kalau aku siap menjalani ini semua. Mungkin aku lelah dengan ketidakpastian, mungkin juga aku iri dengan belahanmu yang lain ... aku tak mau berbagi.".
Si Mas menghela napas panjang sebelum menjawab. "Tidak ada yang dibagi, Jeng. Hatiku cuma satu. Untuk kamu. Tidakkah kau tahu itu? Aku tak pernah berubah.".
"Aku ingin mempercayai ucapanmu Mas, teramat sangat ingin. Aku juga rela menghabiskan usiaku hingga kini untuk menunggu kepastian darimu. Sampai kapan ...." Pertanyaan menggantung yang tak lengkap, dan memang tak perlu dilengkapi.
Si Mas seperti jatuh di ngarai yang dalam setelah mendengar pertanyaan itu. Ia merasa tak berdaya, pun tiada sampai hati. Baginya, Diajeng itu segalanya. Selain pintar, ia begitu rupawan. Bidadari nirwana yang turun ke bumi.
Si Mas bukannya tidak mencintai Fina, istrinya itu, toh dia memilih Fina dahulu juga bukan karena paksaan siapapun. Hanya saja, Diajeng seolah pelengkap jiwanya.
Diajenglah satu-satunya yang bisa mengimbangi imajinasi si Mas yang liar, sekaligus teman diskusi yang asyik. Tak jarang mereka melewatkan malam-malam yang beku hanya dengan berbincang soal remeh-temeh, seperti kenapa air bisa membeku.
Atau seperti kemarin hari, saat mereka berjalan melintas padang, yang berpagar pepohonan berdaun kuning penanda musim gugur. "Mas, kenapa ya daun harus gugur?" Pertanyaan yang lantas menghadirkan percakapan sehangat pelukan.
Tiada mudah menghapus kenangan seperti itu. Ia memang sering hilang, tapi selalu muncul kembali. Si Mas seperti terapung di dua dunia: masa lalu dan masa kini.
"Kenapa Mas melamun ... diam saja", suara Diajeng membangunkan Si Mas dari lamunannya.
"Ah, enggak, Jeng," jawab Si Mas tersipu. Lamunannya tentang masa lalu seperti terenggut ke masa kini oleh pertanyaan Diajeng. Dipandangnya perempuan rupawan itu dengan penuh kasih.
Ada seulas senyum di sudut bibir Diajeng. Manis dan membius. "Maaf ya Mas, aku membuatmu susah lagi.".
Si Mas cuma nyengir. Dia sudah terlalu terbiasa menghadapi Diajeng yang susah ditebak apa maunya.
"Mas, saya akan ke Milan. Saya tahu ini bukan hal yang mudah buat Mas, tapi saya harus memikirkan masa depan saya." Ucapan Diajeng itu bagai palu godam yang telak menghantam.
"Ke Milan? Mau pameran lagi? Bukankah jadwal pameranmu masih sebulan lagi? Kenapa mesti berangkat sekarang?" tanya si Mas keheranan.
Diajeng menggeleng lembut. "Milan bukan hanya untuk pameran kan Mas. Ada tawaran bagus untuk masa depanku di sana.".
"Tawaran bagus? Apa itu? Terus mau berapa lama di sana?".
"Pekerjaan. Mungkin aku akan menetap di sana." Mata Diajeng kali ini terpaku pada titik embun di jendela kaca.
"Hah? Jadi kamu mau bekerja di Milan? Selamanya?" si Mas bertanya seolah tak percaya.
"Mas masih bisa datang kan, sesekali. Lagipula aku ingin mandiri, aku ingin menentukan jalan hidupku sendiri, di mana ada kepastian.".
Aha, kepastian. Itulah yang selalu dicari Diajeng, sesuatu yang si Mas tak pernah bisa berikan. Mas terdiam, seperti mengunyah kata-katanya sendiri dalam hati. Milan ...
Itu pertemuan terakhir mereka di Den Haag. Keduanya berpisah membawa hambar yang menyakitkan. Diajeng memang sempat sekali ke Jakarta dan mereka bertemu sebentar. Di malam yang riuh dengan nyanyian jangkrik itu.
Si Mas ingat, setiap kali Diajeng pulang dan mampir ke Jakarta, mereka selalu melewatkan waktu yang cuma sejenak itu di sebuah vila, di mana kabut jatuh dan senja merah kesumba.
Teras belakang villa yang menghadap ke ladang hijau di bawah, dan sebuah sofa tua seperti disiapkan sebagai arena peraduan kasih.
Di depannya terhampar padang rumput yang berujung di sebuah kebun teh. Suasanya tenang, setenang hati Diajeng setiap kali ke sana. Hanya tempat itulah satu-satunya yang bisa meredam gejolak hatinya.
Pekerjaannya di Milan memang menguras energinya. Sebetulnya bisa saja dia menghabiskan masa liburannya di selatan Perancis sana. Hanya saja, bayang-bayang Si Mas lah yang selalu menyeretnya kembali ke Jakarta dan kembali ke villa itu.
Si Mas dan vila di Puncak itu adalah kombinasi yang sulit untuk dilewatkan. Diajeng sangat menikmati bertemu dengan keduanya: Si Mas yang syahdu dan vila yang elok itu.
Ya, ini hanya tempat sementara, sekedar tempat berlabuh barang sesaat. Diajeng tahu itu. Semua ini hanya sementara.
Seperti semua yang ada di dunia ini fana. Tapi cinta mungkin tidak. "Ah, cinta," desah Diajeng dalam hati. "Berapa kali aku terluka karena cinta?".
Luka yang selalu dirindunya. Hati Diajeng memang telah terparut. Tetapi cinta Si Mas lain, dia menikam. Mencabut belati penikam hanya akan memperparah luka. Diajeng tahu, pilihannya hanyalah menerima, memeluk logam belati yang dingin selama dia bisa.
Rasanya memang seperti Sisifus: mendorong batu harapan ke atas, tapi hanya untuk jatuh ke bawah lagi. Sia-sia. Tapi apalah daya?
Toh baginya Sisifus bukanlah simbol kesia-siaan, itu lebih berupa simbol pengharapan, suatu saat kelak batu itu bisa diam di pucuk bukit.
Tapi, kapan? Semuanya serba tak pasti di mata Diajeng. Itulah yang selalu merisaukan hatinya selama ini.
...