PDA

View Full Version : Karena Ku Ingin Ibu Bahagia



fixshine
13th March 2010, 12:11 PM
Ibu layak untuk bahagia. Namun entah kenapa kebahagiaan seperti enggan menyapa ibu.

***

Wajahnya kuyu. Beberapa helai rambut putih mulai bermunculan di antara rambutnya yang dulu indah nian itu. Garis-garis wajahnya bercerita betapa tak mudah hidup yang ia lalui. Aku memandangnya sejenak. Ingin kurengkuh tubuhnya yang mulai renta. Ingin kuhapus buliran air matanya. Tapi lebih dari itu, aku ingin menghadiahinya sebuah rasa: bahagia.

Sungguh, bertahun-tahun aku berada jauh dari rumah hanya untuk membuatnya berbangga, untuk menunjukkan padanya rasa terima kasihku, untuk membuatnya bersuka cita saat menyambutku kelak. Betapa tidak, anak laki-lakinya berhasil lulus sarjana di sebuah perguruan ternama di luar negeri. Namun ternyata senyuman ibu tak seindah dulu lagi. Ada yang merenggutnya. Ada yang mengambilnya pergi.

Hari berganti. Kedatanganku belum juga membangkitkan semangat ibu. Sepertinya banyak yang tak pernah ibu ceritakan saat kami berjauhan dulu. Namun tiap hari pula ku coba mengembalikan senyuman ibu, walau itu sia-sia. Ada yang perih, ada yang terluka dan mungkin tidak dapat disembuhkan lagi. Hingga suatu sore, tanya itu mulai sedikit terjawab.

***

Lama aku pandangi wajah ibu, sampai kemudian mengalirlah cerita kerinduan ibu pada ayah. Ayah yang kutahu telah meninggalkanku saat aku tengah kuliah dulu. Berita yang kudapat dari ibu saat itu, ayah berpulang karena sakitnya. Tapi ternyata tak seperti itu adanya. Yang benar adalah kenyataan yang membuatku sangat terpukul, bahwa ibulah yang telah meniadakan sosok ayah dalam hidup kami.

Aku terdiam. Aku terguncang. Aku sungguh marah. Aku merasa sangat bodoh. Dan aku pergi. Meninggalkan ibu sendiri.

***

Dua tahun berselang

Aku tak pernah bisa datang lagi ke kampung halamanku. Aku hanya merasa sebagai orang bodoh disana, tidak tahu apa-apa. Kini aku sudah menata hidupku di pulau lain. Jauh. Cukup jauh. Tapi aku tetap memberi kabar pada ibuku, sekedar untuk menghormatinya.

Hidupku disini cukup sempurna. Meski gelarku ternyata tidak begitu berarti di Indonesia, tapi berkat teman-temanku aku berhasil mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Cukup mapanlah hidupku. Dan apa aku bahagia?

Rutinitasku selalu sama tiap harinya. Namun tak bisa kusangkal, tak bisa ku pungkiri, selalu ada ruang hampa disini. Selalu ada yang kurindukan. Mungkinkah aku merindukan ibu? Aku ingat pelukannya. Aku ingat belaiannya. Aku ingat tubuh rentanya. Tapi aku juga begitu marah. Aku begitu tidak suka dengan kebohongan ibu. Aku begitu ingin meneriakkan kekosongan ini.

Tapi apa mungkin aku merindukan ayah? Sosok yang telah aku lupakan beberapa tahun ini karena kebohongan ibu. Sosok yang tak pernah aku temui lagi. Sosok yang sudah aku ikhlaskan untuk pergi.

Atau mungkin karena aku membenci mereka. Apa karena aku membenci keduanya? Aku tidak tahu. Aku kecewa. Sedih. Benci. Aku tak suka dan aku muak.

Hingga suatu ketika aku menerima surat ibu: "Ananda tercinta. Maafkan ibu. Juga ayah. Maafkan ibu yang telah membenci ayah. Maafkan ayah yang telah membuat ibu terluka. Maafkan ibu yang telah menyakitimu. Tapi ayahmu kini benar-benar ingin bertemu. Kembalilah kesini". Dan kegalauan melandaku. Hingga keesokan paginya aku sudah tiba di bandara, hendak menjejakkan kakiku kembali disana, di kampung halamanku.

***

Aku terlambat. Aku hanya mendapati tubuh rentah ibu yang terkulai di sisi ayah. Wajah ayah yang pucat masih rupawan, seperti ia muda dulu. Badannya pun menyisakan cerita tentang pengabdiannya pada negara ini. Tapi kini ia disini, berbaring dan terdiam. Meninggalkanku dan ibu. Selamanya.

***

Tak banyak berubah. Ibu kembali mematung tanpa bicara. Dan aku masih memandanginya, menanti jawaban untuk semua kesunyian ini. Senja tiba dan ibu mulai bicara.

Senja mengingatkan ibu pada ayah. Pada sosok yang dinantinya tiap senja. Seseorang yang amat dicintainya. Seseorang yang membuat ibu mengorbankan apapun. Sebagai istri seorang prajurit ibu harus meninggalkan tanah kelahirannya, pun saat kedua orang tuanya meninggal ibu tak bisa menemui mereka untuk terakhir kalinya. Pengabdian ayah sebagai seorang prajurit membuat ayah tanpa sengaja mengabaikan ibu. Namun ibu bersabar dan yakin, bahwa penantian ibu setiap senja akan berakhir. Bahwa suatu saat ayah akan pulang dan menemui ibu. Menemui ibu untuk kemudian tidak mengabaikannya. Ibu selalu yakin itu. Setiap hari. Setiap menit. Setiap detiknya. Keyakinan atas cinta. Cinta yang memberikan nyawa bagi ibu.

Hingga malam menenggelamkan ayah. Menenggelamkan senja. Menenggelamkan cinta. Meninggalkan ibu yang terluka. Perih. Meninggalkan aku yang tak tahu apa-apa.

Aku ingin marah. Tapi pada siapa? Pada ibu yang membohongi aku? Pada ayah yang melukai ibu? Pada malam yang menenggelamkan ayah?

Entahlah. Namun itu semua pun membuatku terluka. Membuatku tak lagi mengerti. Kerumitan ini berawal dari cinta. Cinta ibu pada ayah. Cinta ayah pada malam. Kerumitan yang sederhana. Kerumitan yang menghilangkan segalanya dari ibu.

***

Wajahnya kini semakin kuyu. Garis-garis di wajahnya semakin tegas berkata betapa tak mudah hidup yang ia lalui. Ingin kurengkuh tubuh rentanya. Ingin kuhapus buliran air matanya. Tapi lebih dari itu, aku ingin menghadiahinya sebuah rasa bernama bahagia.


(Gita Fitriah Hulliyana/8/97.1886)
for ikastara.org

gitafh
13th March 2010, 12:37 PM
bang sigit, kritikannya mana? hehe

fixshine
13th March 2010, 01:40 PM
bang sigit, kritikannya mana? hehe

ga ngritik, wong cece yg ga jagoin spy menang, cece dulu ajah

ecieci
13th March 2010, 03:17 PM
sedih leee =::::::::::::::::::::::::::: (

dina kharisma
13th March 2010, 04:54 PM
wado.. T_T

violace
13th March 2010, 05:09 PM
waduuuh.. maaf ya ienk...
bang sigit emang jagoin ini, aku suka ceritanya, tapi waktu pertama baca ada beberapa hal yang bikin "ga enak" n ini catatan waktu itu
(bukan penilaian ya ini.. cuma pendapat pribadi setelah ngebacanya)
- Ide ceritanya bagus
- Lumayan bikin bertanya-tanya kemana arah ceritanya
- Sayang cara nulisnya flat
- Narasi aja, gada emosi

gitafh
13th March 2010, 06:32 PM
hehe, gapapa kok kak, makasi ya, daku jg pas baca lg ,setelah bang sigit publish tadi, merasa ada yg kurang klik ma cerpen yg ini, terlihat terburu2nya, jadi terasa ceritanya agak tumpul, konfliknya kurang tajam

btw emang lebih suka bercerita dgn "aku dan kamu" aja, tanpa percakapan dan nama2 tokohnya hehe, sebenarnya siy krn ga bisa dan ga nyaman bikin dialog antar tokohnya, ga bs seperti kak lany dgn tokoh deanya atau kyk eci dan bang nade..

fixshine
14th March 2010, 09:19 AM
itulah knp aku dan ce bersepakat ga menominasikan, scr pribadi spt aku sendiri yg nulis, aku kenal bgt feelnya cara nulis spt ini, mungkin jg itu yg membuat aku jg selalu aja bisa nyambung2in puisinya gita wekekew ko bisa ya; jadi ya ndak ada kritik cmn saran belajar gaya lain ya

gitafh
14th March 2010, 09:26 AM
huhu, makanya bang daku lg puasa nulis, kecuali bwt lomba ini, lg bosan dgn gaya sendiri :D :D

---------- Post added at 10:26 AM ---------- Previous post was at 10:24 AM ----------

makasi ya kak cece ma bang sigit :)

nad3418
15th March 2010, 12:19 AM
Pengen komen tapi sulit menemukan kata yang pas. Aku merasa "ngeri" membacanya ...