PDA

View Full Version : Andai Bisa Memilih



lanymm
8th March 2010, 01:23 AM
“Bagus mana, De? Yang pink atau merah?” tanya Ika sambil mengacungkan mawar pink di tangan kiri dan mawar merah di tangan kanan.

“Dua-duanya bangus. Lebih bagus lagi kamboja pink..” kataku datar.

“Orang gila!!!” Ika menghardikku. Aku berlalu.

“Dea!!!” Ika menarik keras tanganku. Sial.

“Apa?” sahutku cuek.

“Amadea Tambunan!! Kau ini benar-benar ya?” Ika menggeleng kepala berkali-kali seperti orang yang lagi ajeb-ajeb. Takutnya bentar lagi vertigo dia.

“Siaaappp....” sahutku meledek, sambil merebahkan diri ke kursi. “Apa sih, Ka? Ribet deh... Marah-marah mulu dari kemaren. Dari urusan katering, baju, foto, undangan, bunga, ampun dehhh,,, mau lo apa?” kataku sambil menatap Ika, sahabatku, dengan tatapan kosong.

“Heh!!! Kau sadar gak sih, Dea? Dua bulan lagi kamu nikah. Me-ni-kah. Astagaaa,, dan sekarang kamu nanya mauku apa?? Mauku tuh ya,, kamu bersikap sedikit dewasalah, Dea, serius, ini pernikahanmu kan?” Ika bertanya dengan bola mata yang hampir meloncat dari matanya. Rasanya sebentar lagi aku akan digigitnya.

“Iya, iya.. Pernikahan gue. Tau gue” jawabku sambil menatap keluar jendela.

Ika kembali berteriak, “kalo bukan karna Ibumu yang minta bantuan aku buat jadi maid of honor buat orang gila macem kamu,, gak mau aku, tau?” Ika pun berdiri, melemparkan dua contoh bunga mawar ke atas tempat tidurku dan bergegas mengambil tasnya lalu menuju ke pintu.

“Kamu tuh ya,” Ika berbalik menatap aku yang masih duduk semi-tiduran di atas kursi, “aarrgghh!!”

Brakkk!! Pintu kamarku dibanting.


* * *

Hari ini sepulang kantor, aku janjian dengan seorang seniorku di fakultas dulu. Kebetulan dia lagi ada tugas kantor ke Jakarta. Berhubung dia gak hafal jalan di Jakarta, aku bilang ketemu di cafe hotel tempat dia nginap aja.

Molor 1 jam dari waktu yang sudah kami sepakati. Maklumlah, menerobos jalan Sudirman di saat-saat pulang kantor memang membutuhkan mukjizat supaya cepat. Sayangnya mukjizat itu tidak berlaku malam ini.

“Hai bang!” kataku sambil menyalami seniorku itu. Namanya Pujo Rahardjo. Jawa asli. Tapi senang kali aku panggil dia bang, sudah kuanggap abangku sendiri. Kebetulan juga istrinya masih satu rumpun sama margaku, jadilah dia itu kuanggap saudara betulan.

“Astaga Dea ...” bang Pujo menyalamiku sambil menatap terheran-heran.

“Knapa bang?” aku mesem-mesem sambil mencomot kentang goreng yang ada di piring, di atas meja. “bang, pesen minum aku ya,, haus nihhh”


* * *

“Jadi itu penyebab rambutmu dipanjangin? Karna bentar lagi mau disanggul?” bang Pujo ngakak-ngakak gak karuan. “gak papa dek,, tambah cantik kok”

“Makasih bang, banyak yang bilang” kataku datar. “Kakak pakabar? Kenapa gak diajak ke Jakarta juga?” tanyaku tentang istrinya.

“Yah, cuma 3 hari disini dek. Lagian juga dalam rangka tugas kantor, bukan buat liburan. Nantilah saat pernikahanmu.”

Wajahku mendadak kaku. Lidahku kelu. Mataku sayu

“Hei!!” bang Pujo mengagetkan lamunanku.

“Bang, aku terpaksa menikah” kataku sambil menunduk. Memainkan tisyu.

“Apa???” setengah berteriak bang Pujo sambil menatap tajam ke arahku. “Ulangi dek!” Kalimatnya berubah jadi perintah. “Ulangi!”

Aku menatapnya. Agak menahan air mata. Entah mengapa tiba-tiba semuanya jadi terasa sangat emosional. Seperti ada beban berat di pundakku. Seperti ada sumbatan dimulutku. Dan saat mendengar perintah “Ulangi” dari bang Pujo, sumbatan itu seperti terpental keras dan mengalirlah semua beban itu.

“Almarhum amangboru itu, bapaknya Riko, dulu teman karib Bapak” kataku memulai cerita. “kata Mamak, yang juga teman arisan si Namboru, mamanya Riko, sebenarnya sudah lama aku mau dikenalkan, tapi waktu itu si Riko kerja di pedalaman Kalimantan,” aku menghela napas panjang, ”Jadi yah, mungkin abang sudah bisa menebaklah, siapa sebenarnya yang menginginkan pernikahan ini”

“Lha? Jadi? Piye? Si Rikonya piye? Apa dia juga terpaksa? Udah pernah ketemu belum sih?” bang Pujo jadi gak sabaran.

“Beliaunya sih serius. Yah, setidaknya begitu katanya. Udah ketemu, beberapa kali. Gak tau bang. Gak dekat juga aku ma dia” kataku mengambang.

“Ha??? Bicara apa kamu? Dua bulan lagi nikah kok yo bilang ndak dekat sama calon suamimu. Dea... Dea... Come on..” semakin tajam tatapan bang Pujo. Marah tepatnya.

Tiba-tiba handphoneku berbunyi. EL. Aku tulis begitu. Enriko Lubis. Sungguh menyebalkan!!

“Hei, angkat itu, bunyi handphonemu” kata bang Pujo sambil melirik ke HPku. Tatapannya masih tatapan marah.

“Gak usah entar aja” kataku mengelak.

“Siapa sih?” bang Pujo lalu merampas HP yang kuletakkan di samping gelasku. “EL? Sapa tuh?”

“Enriko Lubis” jawabku datar lalu menghabiskan minumku.

Bunyi handphone berhenti. Aku menatap handphone yang sedang dipegang bang Pujo. Ban Pujo menatap aku. Pasti dengan tatapan semakin marah. Handphone berbunyi lagi.

“Angkat, Dea” bang Pujo menyodorkan HP yang masih menuliskan “EL” di layarnya.

Tak mau aku berdebat di tengah cafe. Ku angkat “Ya, halo” .... “Lagi makan” ... “gak papa, kenapa?” .... “terserah aja. Aku gak fanatik warna” ... “iya itu juga boleh” .... “kangen???” .... “lumayan” ...lumayan gak kangen, dalam hatiku .... “ya sudah besok aja” ... “terserah” ... “iya boleh disitu aja, gak usah jemput, aku kesana sendiri” .... “gak papa biar gak muter kamunya” .... “gak apa apa. Jelas??” .... “ya sudah kalo emang maksa ya sudah jemput aja, eh besok tanggal berapa ya?” .... “ha? Astaga, aku gak bisa, ada acara ulang tahun anaknya bos, kami sekantor diundanglah.” .... “ya ampun ini ultah anak 15 tahun, gak diminta bawa pasangan, plis deh” .... “ya sudah, aku masih makan nih” ... “yeah, bye!” HPnya langsung ku switch off.

Aku menatap bang Pujo. Bang Pujo ketawa sambil membersihkan mulut dengan serbet. “Astaga Dea... Kau ini...”

“Duh bang, apa lagi nih? Sudah kuangkat kan telponnya? Gak usah dibahas deh” kataku kesal.

Selesai makan kami berpindah ke lobi hotel dan aku bercerita tentang pernikahanku, eh, rencana pernikahanku ini. Termasuk bagaimana sibuknya keluargaku. Sahabatku si Ika yang cerewet minta ampun. Keluarga Riko yang seperti gak punya prinsip karna selalu bilang “Terserah sama Dea dan Riko”. Dan aku yang selalu bilang “Terserah” sama Riko ataupun Ika.

“Jadi, apa alasanmu mau menikah dengannya?” bang Pujo bertanya seakan mengharap adanya jawaban yang cukup masuk akal dariku.

“Karna ....” aku menunduk, “karna ....” aku mengangkat bahu, “entahlah bang. Butuh alasan ya?” aku balik bertanya.

“Heh!! Kau ini mau menikah apa mau jalan-jalan? Entahlah.. Terserah.. Gak tau... Maumu apa, dek?” bang Pujo menggeleng-gelengkan kepala. Persis Ika deh kalo lagi ajeb-ajeb menghadapiku. Pusing maksudnya.

“Mauku? Gak pentinglah mauku bang. Udah. Cukuplah. Aku kuliah, kerja di tempat-tempat yang aku pilih sendiri. Dan sudah lebih dari satu kali aku mencoba mencari sendiri pasangan hidupku tapi gak berhasil. Sudah bang. Cukup. Malas aku berdebat dengan orang tuaku.”

Hening. Bang Pujo hanya menjawabku dengan satu tarikan napas panjang.

“Kalau alasan ini cukup masuk akal buat abang, atau buat siapalah orang yang mau bertanya, aku mau menikah dengannya karena ingin orang tuaku bahagia. Titik. Klise. Tapi itu benar yang aku rasakan. Menurut aku, bang, kalo memang harus terjadi, terjadilah. Itu aja,” kataku sambil menatap bang Pujo, berharap dia memberi sedikit nasehat dan kekuatan seperti yang selama ini dia berikan tiap kali aku curhat tentang pacar-pacarku, maksudku, mantan mantanku.

“Gak ada salahnya kan bang membahagiakan Bapak dan Mamak, bang?

“Ya gak salah, dek ... ” kata bang Pujo.

“Tapi?” tanyaku sambil tertawa sinis.

“Ah kau ini, belum juga selesai kalimatku sudah kau potong,” tampak kesal wajah bang Pujo, entah apa karena pembicaraannya kupotong atau karena dia sudah bosan mendengar curhatanku, “Ya sudah, banyak banyaklah doa ya, dek... Minta petunjuk. Ojo malas doa kowe, nduk. Minta sama Tuhan. Minta.”

“Bang, Tuhan tau kok aku perlunya apa. Tuhan juga tau kapan waktu yang tepat untuk aku menerimanya. Jadi, terserahlah. Malas aku berdoa banyak-banyak bang. Dulu-dulu juga banyak berdoa tetap aja gak dapat-dapat yang aku mau,” kataku sinis. Full of hopelessness.

“Heh! Bicara apa kau dek? Ojo ngono tho. Jangan hopeless gitu. Bersyukur. Kau ini, ndak lihat di luar sana? Berapa banyak orang yang ingin seperti kau? Kerja bagus, keluarga baik-baik, sekarang sudah akan menikah. Bersyukur ajalah dek,” suara bang Pujo mulai melembut.

“Siap bang, diusahakan deh...” kataku sambil tersenyum. Tersenyum miris.

* * *

lanymm
8th March 2010, 01:29 AM
* * *

“Dea, kamu diet ya?” Ika menanyaiku seperti polisi bertanya ke junkies ‘kamu pake narkoba ya?’ Hah! Tatapannya itu lho, gak enak banget.

“Gak! Diet diet, apa pula itu?” kataku santai sambil terus fokus menyetir. Untunglah jalanan gak begitu macet. Kami buru-buru mau pulang ke rumah. Gak buru-buru sih aku. Si Ika tepatnya. Buru-buru ingin melihat gaun pengantinku. Dan tentu saja baju khusus buat maid of honor.

“Kamu kok kurusan sih? Gak bagus tau. Nanti bajunya malah longgar di kamunya,” mulai Ika berpidato.

“Sebodolah, masih ada waktu kan? Nanti dikecilin lagilah,” kataku cuek.

“Woiiii!!! Bener-bener lu yah! Tinggal 2 minggu lagi, Dea...” suara Ika mulai naik 1 oktaf.

“Iya tau, tau,, ampun dehhh” jawabku santai.

“Dea! Dea!!!” Ika mencengkram bahuku, memaksaku menatapnya. Untung pas lagi berhenti lampu merah.

“Iya apa??” kataku sambil menarik rem tangan.

“Aku tau kenapa kamu begini. Tapi kita tidak bisa menghentikan waktu dan merubah semua yang sudah hampir 100% dilakukan, ya kan? Cobalah fokus sedikit, De. Ini hari spesial kamu. Semua mengharapkan kamu bahagia, De. Keluargamu, keluarga Riko, Riko, aku dan keluargaku, teman-teman kita, semualah. Semua mengharapkan kebahagiaanmu. Semangatlah dikit. Cheer up,, put a smile on your ugly face lah... Ingat, 5 April sebentar lagi,” panjang lebar pidato Ika berakhir dengan bunyi keras klakson mobil di belakang kami.

* * *


rasa ini ...
tak perlu ensiklopedi
tak butuh saksi ahli
tak usah pakai puisi
tak guna dicari arti

ini rasa ...
tak perlu dibuat prosa
tak butuh lain bahasa
tak usah lihat ke angkasa
tak guna nelangsa

rasa ini jelas. lugas. tanpa perlu teriak keras-keras.
rasa ini pasti. dari hati. tak perlu lagi dicari arti.
rasa ini nyata. fakta. tak perlu lagi kata-kata.
rasa ini sekarang. tidak sembarang. bukan dikarang-karang.

rasa ini ...
benci.

“Hah??? Puisi macam apa ini, Dea?” Ika berteriak sambil melotot. Aku takut, terlalu sering begitu bola matanya bisa benar-benar lepas meloncat keluar.

“Ya puisi. Katamu aku disuruh menulis puisi,” jawabku datar.

“Orang sinting!!! Maksudku bikin puisi untuk kata-katamu saat mengucap janji pernikahanmu Dea. Kau ini... Aaarggghh!!! Deaaaa....” Ika meraih tanganku berniat menggigitnya. Apa kubilang. Bisa-bisa wanita ini menerkam aku.

“Hahahahaha...” aku tertawa sambil berlari meninggalkan kamar dan Ika yang wajahnya merah seperti cherry, menuju ke dapur. Butuh sesuatu yang dingin untuk menyejukkan hati.


* * *
Dan hari-haripun berlari begitu cepat. Membawa aku melompat dari butik ke gedung, ke gereja, ke percetakan, ke salon, ke bridal, dan seterusnya dan seterusnya. Dari satu pertengkaran ke pertengkaran yang lain dengan Riko, mengenai pekerjaanku sesudah menikah, tinggal dimana, gaji harus diapakan, dan seterusnya dan seterusnya. Akhirnya sampai pada malam ini.

“Dea,” kata Mamak sambil mengusap lembut kepalaku, “istirahat yang nyenyak yah, besok harus bangun pagi-pagi. Besok hari yang paling indah buatmu dan Riko, buat Mamak dan Bapak, buat kita semua, yah? Mamak bahagia sekali Dea.”

Ah, mata Mamak benar-benar penuh harap dan penuh cinta. Siap yang bisa menolak tatapan macam itu. Rasanya sepanjang usiaku yang kuhabiskan untuk menjadi anak yang paling nakal buat orang tuaku berakhir pada satu titik. Malam ini. Malam aku terakhir tidur di rumah orang tuaku. Dengan pengertian konotatif ya. Secara besok sudah berganti margaku dan akan pindah ke rumah Riko. Rumah Kami. Rumah kami? Geli benar membayangkannya.


* * *


Hampir sejam aku bolak-balik di tempat tidurku. Aku gak bisa tidur. Jelas ini belum jam tidurku. Ini baru jam 8 malam. Teringat juga dua cup moccacino yang kuminum tadi siang dan beberapa permen kopi yang kukunyah sebelum makan malam. Rasanya ingin lari ke dapur membuat susu supaya bisa diminum. Siapa tau bisa bikin cepat tidur. Tapi aku khawatir kalau Mamak melihatku masih berkeliaran, akan tambah panik dia dan Bapak. Gak usahlah.

Aku bangun. Duduk sebentar di tempat tidur lalu menyalakan lampu tidur yang temaram. Haduhhhh,,, pusing benar. Kalo boleh gak tidur aja deh. Pusing nih mikirin besok. Duh duh duh.... Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Rasanya pernah sangat mengenalnya. Yup, obat tidur. Setahun yang lalu pernah diresepkan dokter di klinik kantor buat aku yang hampir seminggu gak bisa tidur. Tepatnya waktu aku diputuskan Clark. Si bule Amrik bangsat itu.

Dimana yah dimana obat itu. Aku sibuk membuka laci-laci meja riasku. Nah! Ini dia. Alprazolam. Hahaha... Nama obatnya mirip mantra. Sering kuplesetkan jadi alakazam alprazolam, saat meminumnya dulu. Mantra pengantar tidur. Aku mengambil tiga tablet. Pikirku, ini masih jam 8, aku tidur 12 jam pun gak apa-apa, bisa bangun jam 8, kan pemberkatannya jam 11, bisalah siap-siap 3 jam. Lagipula efek kafein yang masih ada di darahku tidak akan mempan bila cuma dengan satu tablet

Glekk!! Tiga tablet alprazolam kutelan. Tak lupa mengucap mantra, “alakazam alprazolam, tidur tidurlah Amadea Tambunan,” kataku di depan cermin.

Sebelum tidur, aku menulis sebuah puisi di kertas kecil. Dan menempelkannya di cermin meja riasku.


Lelah. Bagai kena tulah.
Gelap. Memejam ingin terlelap.
Pusing. Berputar bagai gasing.
Menyerah. Melangkah tanpa arah.

Kelam. Bagai pekat malam.
Remuk. Hancur terkena amuk.
Kosong. Tiada yang disongsong.
Pedih. Sakit berbalut sedih.


* * *


“Deaaaa.... Deaaaa.... Dea bangun nak,” teriak Mamak disamping telingaku. Suaranya begitu nyaring dan nanar.

Di samping Mamak ada Bapak, Ika, Riko, namboru, bang Pujo dan kak Ida, kakak-kakaknya Riko, dan seorang pria dengan jas putih.

Ha?? Kenapa aku dikerubuti seperti itu? Dan kenapa aku ada di atas lemari?? Heiii,,, apa yang terjadi?? O my God!!! Kenapa aku pucat sekali itu, kenapa bibirku berbusa. Astaga???

“Sepertinya Dea mengkonsumsi obat tidur berlebih, dan yang sudah kadaluarsa,” jelas pria dengan jas putih dengan wajah sedih, “Dan akhirnya ....”

“Tidaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkk .....”


* * *


Aku tak bisa lagi mendengar jelas kata-kata pria berjas putih itu, karna Mamak dan Bapak berteriak sangat kencang. Riko juga menangis sambil mengguncang-guncang tubuhku. Semua menangis, berteriak memanggil namaku.

Aku masih bingung kenapa aku ada diatas lemari dan bisa terbang melewati dinding. Kenapa juga ada aku yang lain yang tertidur kaku di tempat tidurku. Kenapa aku memakai baju putih panjang yang ternyata bukan gaun pengantinku.

Yang pasti, sekarang ini, aku melihat semua orang yang aku cintai dan yang mencintai aku, entahlah si Enriko Lubis itu termasuk dimana, berdiri memakai baju hitam hitam mengelilingi sebuah makam. Semuanya menangis sambil berpelukan. Wajah-wajah yang penuh kedukaan. Menatap nanar sebuah nisan yang bertuliskan :


R.I.P
Amadea Tambunan
10-12-1980
05-04-2010

Sebuah makam bercat putih. Di bawah pohon kamboja merah jambu.

nad3418
8th March 2010, 02:30 AM
So dark .... I like this!

@Fixshine ... diperlukan genre romantismu untuk membuat forum lebih ceria dan berbunga-bunga ... Gita, Lany dan Cece sudah membuat galery sastra forum jadi cukup "gelap" :D

violace
8th March 2010, 03:42 AM
Cool...!!
Sayang terlalau cepat berakhirnya...


Gita, Lany dan Cece sudah membuat galery sastra forum jadi cukup "gelap" :D

salahkan orang yang meracuninya bang... :p

lanymm
8th March 2010, 05:51 AM
bang nade, thank u.. biasa bang ga bs tidur dan kesambet.. Semoga yg 1 ini tdk diblg 'menyesatkan' deh, ehehe.. Walo ini cerpen gw maunya apa endingnya apa.. Sarap emg kalo dah kesambet.. :p

cece, haduh kalo panjang2 tar pake ABM 1, ABM 2, ampe ABM 7 dah.. :p kan cerpen ce, tar yg mo baca pada pingsan duluan..

lain kali, pasti bikin yg romantis deh!! ..hix.. mudah2an bisa kesambet roh romantis..

ah buset dah, gw dah 2 kale neh, ga bs tdr malah jadi cerpen, tiap hari bgni bs KO gw.. Mau tiduuuurr.. :mnangis:

violace
8th March 2010, 08:31 AM
maksudnya sayang tokoh nya udah di akhiri aja...
jadi ga bisa dibikin lanjutan...
jangan cuma ampe ABM 7 lan...
tapi ampe ABM 365, kan tiap kali ga bisa tidur bisa nulis 1 cerpen... :msembah:

gitafh
8th March 2010, 09:06 AM
kak lany, cerita yang muram, tapi penuturannya mengalir bagus sekali..

menulis lg kak :)

lanymm
8th March 2010, 10:31 AM
Cece, nanti deh dihidupkan lagi dalam wujud orang lain deh :p tadinya ga gt endingnya, tau tuh knpa jadinya RIP gt..hehe.. Thanx yah.. Penulis awal ce.. Dikit2 dululah, tar panjang2 gw bikin, ngerti kagak dibaca kagak, haha..mesakne..

Gita, trima kasih dek.. Siap siap.. Diusahakan nulis lagi deh.. :)

btw, kita bertiga dituduh memberi kemuraman di gallery ini, hahaha.. Ampun deh.. :mpanas:

fixshine
8th March 2010, 03:01 PM
@Fixshine ... diperlukan genre romantismu untuk membuat forum lebih ceria dan berbunga-bunga ... Gita, Lany dan Cece sudah membuat galery sastra forum jadi cukup "gelap" :D

ya ga heran stylenya lanny mang kek gitu, bagus2 aja sie hehehehe
cmn menurutku premature dalam sebab akibat, segampang itukah ga sengaja minum obat tidur terus game over, jadi rasanya kek lagi nonton sinetron tiba2 'bleppp...' lampu mati

sarannya :
'kalimat2 langsungnya knp harus berupa teriakan2 dan panggilan sih ?
'tokoh clark ? knp tdk banyak di explore untuk penyebab alasan depresi
'knp harus diakhiri dng mati sih, memang benar klo akhir kematian tokoh sering dipakai untuk menimbulkan kesan, tp ya bny cara sebenarnya
misal : bayangkan setelah dea minum obat tidur tiba2 die ngimpi ketemu clark, dimaki2 abis lah tuh clark dalam mimpi. clark terus jujur klo die udah mati, truss cerita klo clark dulu cmn pura2 mutusin, krn sadar die sakit parah dan ga mau dea tau terus sedih, terus bilang tugas dea di dunia lom selesai, jadi dea hiduppp lagi ....; cerita di tutup dng dea membuka mata melihat harapan baru, orang2 baru yang mencintainya

---------- Post added at 04:01 PM ---------- Previous post was at 03:56 PM ----------


kak lany, cerita yang muram, tapi penuturannya mengalir bagus sekali..

menulis lg kak :)

ya itulah lanny, meledak2 huahaha .... yg bagus sie sebenarnya krn menulisnya dng stylenya sendiri, peduli amat ma teknik. tapi mmg hrs begitu menulis menurut stylenya sendiri, ungkapan perasaannya sendiri ( ga pake mikir jauh2 ), teknik mah belakangan

lanymm
8th March 2010, 06:22 PM
ahahahahaha,,,
bang sigit,,, tadinya bukan begitu endingnya,,, lain... (bukan mimpi juga),,, tapi gatau kayak gitu jadinya.
waktu pertama nulis "kamboja pink" di atas,, gak kebayang paling akhir nulis kamboja pink juga. Agak merinding juga sih begitu dibaca lagi,, hahahaha.... Kalo soal "cara mati" sih,,, banyak macam bang... Keselek bakso juga mati. Gak sengaja ngunyah baygon mati. Siram bunga di halaman rumah ketabrak truk yang remnya blong juga mati. Bukan ingin menggampangkan cara mati,, tapi entah kenapa "roh" tadi malam berkehendak begitu :p

sama seperti cerpen pertama,,, gw bagian awal2 aja yg terbersit di pikiran,, tengah dan akhir gw gatau kenapa jadinya kek gitu. Emang gak direncanain,, jadinya ya begitu :p

yup yup,, memang kalo mau diexplore bisa jadi 5 halaman posting (1 hal max. 1500 karakter) ,,, berhubung sebagai anak bawang di gallery ini,,, saya cukup tau diri untuk gak memusingkan para pembaca. Loncat loncat aja yang penting indah :)

dan sebenarnya ini memang sengaja yang diexplore hanyalah orang2 yg punya memori positif buat si almarhumah tokoh di cerpen ini. sahabatnya, senior yg sudah dianggap abangnya, dan mamanya. Tokoh lain sengaja tidak diexplore karena memang tokoh ini memilih siapa yang ingin dikenang dan siapa yang tidak ingin dikenang.

Btw,, selain tata bahasa penulisan, gw baru tau kalo nulis cerpen itu ada tekniknya... Iya ya? hahahaha.... katro super deh gw... Gw cuma mengerti dasar2 pelajaran bahasa Indonesia aja,, dan menurut gw cerpen/puisi/prosa gak ada tekniknya,,, bebas aja,, mengalir...

Mungkin perlu banyak belajar... hehehe... dan lain kali mungkin gak perlu menuruti "roh menulis" membawa endingnya kemana ya? :p

thank u bang... :msembah:

nad3418
8th March 2010, 06:39 PM
Jangan .... tetap ikuti "roh menulis" itu. Karena Roh itu tidak pernah berbohong. Nanti yang memperbaiki biar editor atau di lain waktu. Saat menulis biarlah jemari yang menari ...

lanymm
8th March 2010, 07:01 PM
Jangan .... tetap ikuti "roh menulis" itu. Karena Roh itu tidak pernah berbohong. Nanti yang memperbaiki biar editor atau di lain waktu. Saat menulis biarlah jemari yang menari ...

ok, brother... http://www.addemoticons.com/emoticon/monkey/AddEmoticons126120.gif thank u...

gitafh
8th March 2010, 07:08 PM
setuju ma bang nade kak, saat menulis biarlah jemari yang menari..
entah mau di bawa kemana tapi soulnya tetep ada kak, dan akhirnya setelah nulis kitanya jadi lega dan puas, tapi beda kali ya ma yang memang menulis untuk kemudian dijual kembali :)

btw emoticonnya kak lany manis sekali he2

lanymm
8th March 2010, 07:14 PM
setuju ma bang nade kak, saat menulis biarlah jemari yang menari..
entah mau di bawa kemana tapi soulnya tetep ada kak, dan akhirnya setelah nulis kitanya jadi lega dan puas, tapi beda kali ya ma yang memang menulis untuk kemudian dijual kembali :)

btw emoticonnya kak lany manis sekali he2

ok,, stuju dehhhh ama suhu suhu semua ...
memang,, pernah bikin cerpen yang "direncanakan" dibikin garis2 besar, dipikirin,, sampe kemungkinan ending... jaman dulu banget tapi sih,, cerpen rohani gitu...
nah,, kalo yang aku tulis di gallery sastra ini emang kayak kesambet gitu,,, ga bisa tidur, bangun, ketak ketik ketak ketik,, posting. selesai.
makanya,, dibaca ulang jadi ngeri sendiri,, hahaha...

ini khusus buat gita dan ichiro,, http://www.addemoticons.com/emoticon/monkey/AddEmoticons126128.gif

gitafh
9th March 2010, 08:53 AM
huhu, lucu sekali emoticonnya, cute, :) sun balik dari ichiro buat kak lany :)

fixshine
9th March 2010, 03:28 PM
Btw,, selain tata bahasa penulisan, gw baru tau kalo nulis cerpen itu ada tekniknya... Iya ya? hahahaha.... katro super deh gw... Gw cuma mengerti dasar2 pelajaran bahasa Indonesia aja,, dan menurut gw cerpen/puisi/prosa gak ada tekniknya,,, bebas aja,, mengalir...

Mungkin perlu banyak belajar... hehehe... dan lain kali mungkin gak perlu menuruti "roh menulis" membawa endingnya kemana ya? :p

thank u bang... :msembah:

ya apa sie yg ga da tekniknya , teknik itu membantu cerpen2 spy konsisten dan komersil. tapi teknik memang tidak ada gunanya jika blm bisa menulis dari dalam hati dulu. Analoginya pelari marathon punya teknik untuk mengatur nafas dan tenaga, tp ya ga da gunanya klo pelarinya lagi ga mau lari krn lg kesleo misalnya heheheh

---------- Post added at 04:19 PM ---------- Previous post was at 04:05 PM ----------


setuju ma bang nade kak, saat menulis biarlah jemari yang menari..
entah mau di bawa kemana tapi soulnya tetep ada kak, dan akhirnya setelah nulis kitanya jadi lega dan puas, tapi beda kali ya ma yang memang menulis untuk kemudian dijual kembali :)

btw emoticonnya kak lany manis sekali he2

begini tidak semua orang punya bakat spt gita yg selalu bisa memilih kalimat2 yg pas, menyentuh perasaan, nade yg super kreatip klo ngibul, ato eci yg bisa membuat perkara sederhana bisa jadi kejadian special. maka teknik itu penting untuk menutupi gap, misal cece yg kadang ko ngeliat tulisan sendiri malu yak, ya krn ada gap antara tulisan favoritnya dan hasil tulisan dirinya sendiri, nah gap ini musti dicari solusinya dng teknik. bisa jadi malah asyik meramu bbrp teknik tulisan2 favorit.

- misal bagaimana menulis luapan emosi kek lanny
- misal bbrp kalimat yg menyentuh model gita
- misal detil amsterdam versi nade
- dst ... hingga cara menempatkan titik, koma, tanda seru, kapan saat yg tepat berpindah tokoh, sehingga memperkaya banyak unsur menjadi harmony

---------- Post added at 04:28 PM ---------- Previous post was at 04:19 PM ----------



memang,, pernah bikin cerpen yang "direncanakan" dibikin garis2 besar, dipikirin,, sampe kemungkinan ending... jaman dulu banget tapi sih,, cerpen rohani gitu...
nah,, kalo yang aku tulis di gallery sastra ini emang kayak kesambet gitu,,, ga bisa tidur, bangun, ketak ketik ketak ketik,, posting. selesai.
makanya,, dibaca ulang jadi ngeri sendiri,, hahaha...


ini kesalahan pengajaran sastra kekna klo pake rencana2, gue lebih suka sastra itu, dipelajari sebagai hobby, terus berbagi, dan saling memperbaiki teknik. klo penulisan ilmiah mungkin benar, tapi klo sastra lebih ke roh rasa, jadi apa yg mau direncanakan, klo ga nemu apa yg mau ditulis ya mana bisa nulis, sebaliknya klo lagi deras idenya mana bisa juga ditahan2 => kek orang mo bersin, yang diatur bukan bagaimana spy bisa bersin, tapi kalau bersin bagaimana nyaman, dan membuat orang ketularan virusnya, bisa pakai tissue smp ... ngumpet nunduk2

violace
9th March 2010, 04:00 PM
misal cece yg kadang ko ngeliat tulisan sendiri malu yak, ya krn ada gap antara tulisan favoritnya dan hasil tulisan dirinya sendiri

jleb.. jleb.. jleb...
kadang suka takjub dengan orang yang bisa ngerti n mengungkap dengan kata yang tepat kaya b sigit n b nade..
bahkan sebelum pelakunya sendiri bisa mendefinisikan perasaannya... :msembah:

lanymm
9th March 2010, 05:12 PM
ya apa sie yg ga da tekniknya , teknik itu membantu cerpen2 spy konsisten dan komersil. tapi teknik memang tidak ada gunanya jika blm bisa menulis dari dalam hati dulu. Analoginya pelari marathon punya teknik untuk mengatur nafas dan tenaga, tp ya ga da gunanya klo pelarinya lagi ga mau lari krn lg kesleo misalnya heheheh


ini kesalahan pengajaran sastra kekna klo pake rencana2, gue lebih suka sastra itu, dipelajari sebagai hobby, terus berbagi, dan saling memperbaiki teknik. klo penulisan ilmiah mungkin benar, tapi klo sastra lebih ke roh rasa, jadi apa yg mau direncanakan, klo ga nemu apa yg mau ditulis ya mana bisa nulis, sebaliknya klo lagi deras idenya mana bisa juga ditahan2 => kek orang mo bersin, yang diatur bukan bagaimana spy bisa bersin, tapi kalau bersin bagaimana nyaman, dan membuat orang ketularan virusnya, bisa pakai tissue smp ... ngumpet nunduk2

baiklah suhu,,, :msembah:


kami akan berusaha menulis dengan baik dan dengan roh rasa!!! :mperang:

aryo_wiman
9th March 2010, 06:22 PM
Saya mulai menghargai sastra, habis baca novel laskar pelangi ... dan bandingin ama filmnya. Sumpah, filmnya ga ada apa2 ... baru nyadar bahasa sastra begitu indahnya mengeksplorasi imajinasi manusia

gitafh
9th March 2010, 06:36 PM
mulai menulis aryo :)

lanymm
9th March 2010, 06:49 PM
Saya mulai menghargai sastra, habis baca novel laskar pelangi ... dan bandingin ama filmnya. Sumpah, filmnya ga ada apa2 ... baru nyadar bahasa sastra begitu indahnya mengeksplorasi imajinasi manusia

udah baca Sang Pemimpi? Edensor? Maryamah Karpov? ... udah baca Andai Bisa Memilih? :msenyum:


mulai menulis aryo :)

Aryooooo menulis....
*dinyanyikan*

goesgoes
10th March 2010, 07:14 PM
wah...
keren nih kak...
lagi jarang baca karya sastra tiba-tiba iseng ppengen baca tulisan ini karena judulnya...hehe

cerita singkat padat deh menurut saya
meskipun endingnya cukup unik bin nyeleneh tapi saya tetep suka,hehe

emang lagi nyari cerpen yang bener2 pendek, jadi menurut saya, nggak papalah kalo emang ada emosi yang harusnya bisa digali lebih dalam jadinya belum termunculkan di cerpen ini :)

lanymm
10th March 2010, 07:43 PM
wah...
keren nih kak...
lagi jarang baca karya sastra tiba-tiba iseng ppengen baca tulisan ini karena judulnya...hehe

cerita singkat padat deh menurut saya
meskipun endingnya cukup unik bin nyeleneh tapi saya tetep suka,hehe

emang lagi nyari cerpen yang bener2 pendek, jadi menurut saya, nggak papalah kalo emang ada emosi yang harusnya bisa digali lebih dalam jadinya belum termunculkan di cerpen ini :)

:msembah: ...thank u goes...

as a newcomer,, aku merasa perlu membuat "cerpen" bukan "cerpan" :p takut bikin pembaca keburu gak suka dan bosen...
jadi ya seperti itu,, singkat padat-seperti katamu (mudah2an jg cukup jelas pesan yg disampaikan),, ato lompat lompat kecil (tetep lompat indah dong)
daripada kubikin 5 halaman posting (5 x 1500 karakter) gada yg baca? soalnya mo baca udah pusing duluan ngeliat panjangnya... :mpanas:

sekali lagi terima kasih ya... http://www.addemoticons.com/emoticon/monkey/AddEmoticons126120.gif

goesgoes
10th March 2010, 07:49 PM
:msembah: ...thank u goes...

as a newcomer,, aku merasa perlu membuat "cerpen" bukan "cerpan" :p takut bikin pembaca keburu gak suka dan bosen...
jadi ya seperti itu,, singkat padat-seperti katamu (mudah2an jg cukup jelas pesan yg disampaikan),, ato lompat lompat kecil (tetep lompat indah dong)
daripada kubikin 5 halaman posting (5 x 1500 karakter) gada yg baca? soalnya mo baca udah pusing duluan ngeliat panjangnya... :mpanas;

sekali lagi terima kasih ya... http://www.addemoticons.com/emoticon/monkey/AddEmoticons126120.gif

thats it kak
saya lagi keliling galery sastra, lihat beberapa panjang-panjang udah males bacanya :mcengeng:
tiap buka tret pasti langsung lihat panjangnya dulu, kalo panjang langsung lewat :mtengsin:
soalnya lagi males baca yang panjang2
eh, koq pas kebetulan lewat karena tertarik judulnya, ceritanya juga pas buat saya,hehe :mcengir: (tapi semoga nggak kejadian beneran, amit-amit deh...:mmutah:)

lanymm
10th March 2010, 07:53 PM
thats it kak
saya lagi keliling galery sastra, lihat beberapa panjang-panjang udah males bacanya :mcengeng:
tiap buka tret pasti langsung lihat panjangnya dulu, kalo panjang langsung lewat :mtengsin:
soalnya lagi males baca yang panjang2
eh, koq pas kebetulan lewat karena tertarik judulnya, ceritanya juga pas buat saya,hehe :mcengir: (tapi semoga nggak kejadian beneran, amit-amit deh...:mmutah:)

hahaha,,, sama goes :p tapi ya ini gallery sastra,,, ada cerpen ada cerpan,,, mampunya baru (bikin dan baca) cerpen deh gw... hahaha...

kejadian nyata? hihihiii,,, *knock knock on the wood* amit amit cabang olahraga dek,,, jangan sampeeeee..... :p

btw,, numpang promo ye... http://ikastara.org/showthread.php?1853-Perjumpaan-Pertama

thank u,,, :msembah: