lanymm
8th March 2010, 01:23 AM
“Bagus mana, De? Yang pink atau merah?” tanya Ika sambil mengacungkan mawar pink di tangan kiri dan mawar merah di tangan kanan.
“Dua-duanya bangus. Lebih bagus lagi kamboja pink..” kataku datar.
“Orang gila!!!” Ika menghardikku. Aku berlalu.
“Dea!!!” Ika menarik keras tanganku. Sial.
“Apa?” sahutku cuek.
“Amadea Tambunan!! Kau ini benar-benar ya?” Ika menggeleng kepala berkali-kali seperti orang yang lagi ajeb-ajeb. Takutnya bentar lagi vertigo dia.
“Siaaappp....” sahutku meledek, sambil merebahkan diri ke kursi. “Apa sih, Ka? Ribet deh... Marah-marah mulu dari kemaren. Dari urusan katering, baju, foto, undangan, bunga, ampun dehhh,,, mau lo apa?” kataku sambil menatap Ika, sahabatku, dengan tatapan kosong.
“Heh!!! Kau sadar gak sih, Dea? Dua bulan lagi kamu nikah. Me-ni-kah. Astagaaa,, dan sekarang kamu nanya mauku apa?? Mauku tuh ya,, kamu bersikap sedikit dewasalah, Dea, serius, ini pernikahanmu kan?” Ika bertanya dengan bola mata yang hampir meloncat dari matanya. Rasanya sebentar lagi aku akan digigitnya.
“Iya, iya.. Pernikahan gue. Tau gue” jawabku sambil menatap keluar jendela.
Ika kembali berteriak, “kalo bukan karna Ibumu yang minta bantuan aku buat jadi maid of honor buat orang gila macem kamu,, gak mau aku, tau?” Ika pun berdiri, melemparkan dua contoh bunga mawar ke atas tempat tidurku dan bergegas mengambil tasnya lalu menuju ke pintu.
“Kamu tuh ya,” Ika berbalik menatap aku yang masih duduk semi-tiduran di atas kursi, “aarrgghh!!”
Brakkk!! Pintu kamarku dibanting.
* * *
Hari ini sepulang kantor, aku janjian dengan seorang seniorku di fakultas dulu. Kebetulan dia lagi ada tugas kantor ke Jakarta. Berhubung dia gak hafal jalan di Jakarta, aku bilang ketemu di cafe hotel tempat dia nginap aja.
Molor 1 jam dari waktu yang sudah kami sepakati. Maklumlah, menerobos jalan Sudirman di saat-saat pulang kantor memang membutuhkan mukjizat supaya cepat. Sayangnya mukjizat itu tidak berlaku malam ini.
“Hai bang!” kataku sambil menyalami seniorku itu. Namanya Pujo Rahardjo. Jawa asli. Tapi senang kali aku panggil dia bang, sudah kuanggap abangku sendiri. Kebetulan juga istrinya masih satu rumpun sama margaku, jadilah dia itu kuanggap saudara betulan.
“Astaga Dea ...” bang Pujo menyalamiku sambil menatap terheran-heran.
“Knapa bang?” aku mesem-mesem sambil mencomot kentang goreng yang ada di piring, di atas meja. “bang, pesen minum aku ya,, haus nihhh”
* * *
“Jadi itu penyebab rambutmu dipanjangin? Karna bentar lagi mau disanggul?” bang Pujo ngakak-ngakak gak karuan. “gak papa dek,, tambah cantik kok”
“Makasih bang, banyak yang bilang” kataku datar. “Kakak pakabar? Kenapa gak diajak ke Jakarta juga?” tanyaku tentang istrinya.
“Yah, cuma 3 hari disini dek. Lagian juga dalam rangka tugas kantor, bukan buat liburan. Nantilah saat pernikahanmu.”
Wajahku mendadak kaku. Lidahku kelu. Mataku sayu
“Hei!!” bang Pujo mengagetkan lamunanku.
“Bang, aku terpaksa menikah” kataku sambil menunduk. Memainkan tisyu.
“Apa???” setengah berteriak bang Pujo sambil menatap tajam ke arahku. “Ulangi dek!” Kalimatnya berubah jadi perintah. “Ulangi!”
Aku menatapnya. Agak menahan air mata. Entah mengapa tiba-tiba semuanya jadi terasa sangat emosional. Seperti ada beban berat di pundakku. Seperti ada sumbatan dimulutku. Dan saat mendengar perintah “Ulangi” dari bang Pujo, sumbatan itu seperti terpental keras dan mengalirlah semua beban itu.
“Almarhum amangboru itu, bapaknya Riko, dulu teman karib Bapak” kataku memulai cerita. “kata Mamak, yang juga teman arisan si Namboru, mamanya Riko, sebenarnya sudah lama aku mau dikenalkan, tapi waktu itu si Riko kerja di pedalaman Kalimantan,” aku menghela napas panjang, ”Jadi yah, mungkin abang sudah bisa menebaklah, siapa sebenarnya yang menginginkan pernikahan ini”
“Lha? Jadi? Piye? Si Rikonya piye? Apa dia juga terpaksa? Udah pernah ketemu belum sih?” bang Pujo jadi gak sabaran.
“Beliaunya sih serius. Yah, setidaknya begitu katanya. Udah ketemu, beberapa kali. Gak tau bang. Gak dekat juga aku ma dia” kataku mengambang.
“Ha??? Bicara apa kamu? Dua bulan lagi nikah kok yo bilang ndak dekat sama calon suamimu. Dea... Dea... Come on..” semakin tajam tatapan bang Pujo. Marah tepatnya.
Tiba-tiba handphoneku berbunyi. EL. Aku tulis begitu. Enriko Lubis. Sungguh menyebalkan!!
“Hei, angkat itu, bunyi handphonemu” kata bang Pujo sambil melirik ke HPku. Tatapannya masih tatapan marah.
“Gak usah entar aja” kataku mengelak.
“Siapa sih?” bang Pujo lalu merampas HP yang kuletakkan di samping gelasku. “EL? Sapa tuh?”
“Enriko Lubis” jawabku datar lalu menghabiskan minumku.
Bunyi handphone berhenti. Aku menatap handphone yang sedang dipegang bang Pujo. Ban Pujo menatap aku. Pasti dengan tatapan semakin marah. Handphone berbunyi lagi.
“Angkat, Dea” bang Pujo menyodorkan HP yang masih menuliskan “EL” di layarnya.
Tak mau aku berdebat di tengah cafe. Ku angkat “Ya, halo” .... “Lagi makan” ... “gak papa, kenapa?” .... “terserah aja. Aku gak fanatik warna” ... “iya itu juga boleh” .... “kangen???” .... “lumayan” ...lumayan gak kangen, dalam hatiku .... “ya sudah besok aja” ... “terserah” ... “iya boleh disitu aja, gak usah jemput, aku kesana sendiri” .... “gak papa biar gak muter kamunya” .... “gak apa apa. Jelas??” .... “ya sudah kalo emang maksa ya sudah jemput aja, eh besok tanggal berapa ya?” .... “ha? Astaga, aku gak bisa, ada acara ulang tahun anaknya bos, kami sekantor diundanglah.” .... “ya ampun ini ultah anak 15 tahun, gak diminta bawa pasangan, plis deh” .... “ya sudah, aku masih makan nih” ... “yeah, bye!” HPnya langsung ku switch off.
Aku menatap bang Pujo. Bang Pujo ketawa sambil membersihkan mulut dengan serbet. “Astaga Dea... Kau ini...”
“Duh bang, apa lagi nih? Sudah kuangkat kan telponnya? Gak usah dibahas deh” kataku kesal.
Selesai makan kami berpindah ke lobi hotel dan aku bercerita tentang pernikahanku, eh, rencana pernikahanku ini. Termasuk bagaimana sibuknya keluargaku. Sahabatku si Ika yang cerewet minta ampun. Keluarga Riko yang seperti gak punya prinsip karna selalu bilang “Terserah sama Dea dan Riko”. Dan aku yang selalu bilang “Terserah” sama Riko ataupun Ika.
“Jadi, apa alasanmu mau menikah dengannya?” bang Pujo bertanya seakan mengharap adanya jawaban yang cukup masuk akal dariku.
“Karna ....” aku menunduk, “karna ....” aku mengangkat bahu, “entahlah bang. Butuh alasan ya?” aku balik bertanya.
“Heh!! Kau ini mau menikah apa mau jalan-jalan? Entahlah.. Terserah.. Gak tau... Maumu apa, dek?” bang Pujo menggeleng-gelengkan kepala. Persis Ika deh kalo lagi ajeb-ajeb menghadapiku. Pusing maksudnya.
“Mauku? Gak pentinglah mauku bang. Udah. Cukuplah. Aku kuliah, kerja di tempat-tempat yang aku pilih sendiri. Dan sudah lebih dari satu kali aku mencoba mencari sendiri pasangan hidupku tapi gak berhasil. Sudah bang. Cukup. Malas aku berdebat dengan orang tuaku.”
Hening. Bang Pujo hanya menjawabku dengan satu tarikan napas panjang.
“Kalau alasan ini cukup masuk akal buat abang, atau buat siapalah orang yang mau bertanya, aku mau menikah dengannya karena ingin orang tuaku bahagia. Titik. Klise. Tapi itu benar yang aku rasakan. Menurut aku, bang, kalo memang harus terjadi, terjadilah. Itu aja,” kataku sambil menatap bang Pujo, berharap dia memberi sedikit nasehat dan kekuatan seperti yang selama ini dia berikan tiap kali aku curhat tentang pacar-pacarku, maksudku, mantan mantanku.
“Gak ada salahnya kan bang membahagiakan Bapak dan Mamak, bang?
“Ya gak salah, dek ... ” kata bang Pujo.
“Tapi?” tanyaku sambil tertawa sinis.
“Ah kau ini, belum juga selesai kalimatku sudah kau potong,” tampak kesal wajah bang Pujo, entah apa karena pembicaraannya kupotong atau karena dia sudah bosan mendengar curhatanku, “Ya sudah, banyak banyaklah doa ya, dek... Minta petunjuk. Ojo malas doa kowe, nduk. Minta sama Tuhan. Minta.”
“Bang, Tuhan tau kok aku perlunya apa. Tuhan juga tau kapan waktu yang tepat untuk aku menerimanya. Jadi, terserahlah. Malas aku berdoa banyak-banyak bang. Dulu-dulu juga banyak berdoa tetap aja gak dapat-dapat yang aku mau,” kataku sinis. Full of hopelessness.
“Heh! Bicara apa kau dek? Ojo ngono tho. Jangan hopeless gitu. Bersyukur. Kau ini, ndak lihat di luar sana? Berapa banyak orang yang ingin seperti kau? Kerja bagus, keluarga baik-baik, sekarang sudah akan menikah. Bersyukur ajalah dek,” suara bang Pujo mulai melembut.
“Siap bang, diusahakan deh...” kataku sambil tersenyum. Tersenyum miris.
* * *
“Dua-duanya bangus. Lebih bagus lagi kamboja pink..” kataku datar.
“Orang gila!!!” Ika menghardikku. Aku berlalu.
“Dea!!!” Ika menarik keras tanganku. Sial.
“Apa?” sahutku cuek.
“Amadea Tambunan!! Kau ini benar-benar ya?” Ika menggeleng kepala berkali-kali seperti orang yang lagi ajeb-ajeb. Takutnya bentar lagi vertigo dia.
“Siaaappp....” sahutku meledek, sambil merebahkan diri ke kursi. “Apa sih, Ka? Ribet deh... Marah-marah mulu dari kemaren. Dari urusan katering, baju, foto, undangan, bunga, ampun dehhh,,, mau lo apa?” kataku sambil menatap Ika, sahabatku, dengan tatapan kosong.
“Heh!!! Kau sadar gak sih, Dea? Dua bulan lagi kamu nikah. Me-ni-kah. Astagaaa,, dan sekarang kamu nanya mauku apa?? Mauku tuh ya,, kamu bersikap sedikit dewasalah, Dea, serius, ini pernikahanmu kan?” Ika bertanya dengan bola mata yang hampir meloncat dari matanya. Rasanya sebentar lagi aku akan digigitnya.
“Iya, iya.. Pernikahan gue. Tau gue” jawabku sambil menatap keluar jendela.
Ika kembali berteriak, “kalo bukan karna Ibumu yang minta bantuan aku buat jadi maid of honor buat orang gila macem kamu,, gak mau aku, tau?” Ika pun berdiri, melemparkan dua contoh bunga mawar ke atas tempat tidurku dan bergegas mengambil tasnya lalu menuju ke pintu.
“Kamu tuh ya,” Ika berbalik menatap aku yang masih duduk semi-tiduran di atas kursi, “aarrgghh!!”
Brakkk!! Pintu kamarku dibanting.
* * *
Hari ini sepulang kantor, aku janjian dengan seorang seniorku di fakultas dulu. Kebetulan dia lagi ada tugas kantor ke Jakarta. Berhubung dia gak hafal jalan di Jakarta, aku bilang ketemu di cafe hotel tempat dia nginap aja.
Molor 1 jam dari waktu yang sudah kami sepakati. Maklumlah, menerobos jalan Sudirman di saat-saat pulang kantor memang membutuhkan mukjizat supaya cepat. Sayangnya mukjizat itu tidak berlaku malam ini.
“Hai bang!” kataku sambil menyalami seniorku itu. Namanya Pujo Rahardjo. Jawa asli. Tapi senang kali aku panggil dia bang, sudah kuanggap abangku sendiri. Kebetulan juga istrinya masih satu rumpun sama margaku, jadilah dia itu kuanggap saudara betulan.
“Astaga Dea ...” bang Pujo menyalamiku sambil menatap terheran-heran.
“Knapa bang?” aku mesem-mesem sambil mencomot kentang goreng yang ada di piring, di atas meja. “bang, pesen minum aku ya,, haus nihhh”
* * *
“Jadi itu penyebab rambutmu dipanjangin? Karna bentar lagi mau disanggul?” bang Pujo ngakak-ngakak gak karuan. “gak papa dek,, tambah cantik kok”
“Makasih bang, banyak yang bilang” kataku datar. “Kakak pakabar? Kenapa gak diajak ke Jakarta juga?” tanyaku tentang istrinya.
“Yah, cuma 3 hari disini dek. Lagian juga dalam rangka tugas kantor, bukan buat liburan. Nantilah saat pernikahanmu.”
Wajahku mendadak kaku. Lidahku kelu. Mataku sayu
“Hei!!” bang Pujo mengagetkan lamunanku.
“Bang, aku terpaksa menikah” kataku sambil menunduk. Memainkan tisyu.
“Apa???” setengah berteriak bang Pujo sambil menatap tajam ke arahku. “Ulangi dek!” Kalimatnya berubah jadi perintah. “Ulangi!”
Aku menatapnya. Agak menahan air mata. Entah mengapa tiba-tiba semuanya jadi terasa sangat emosional. Seperti ada beban berat di pundakku. Seperti ada sumbatan dimulutku. Dan saat mendengar perintah “Ulangi” dari bang Pujo, sumbatan itu seperti terpental keras dan mengalirlah semua beban itu.
“Almarhum amangboru itu, bapaknya Riko, dulu teman karib Bapak” kataku memulai cerita. “kata Mamak, yang juga teman arisan si Namboru, mamanya Riko, sebenarnya sudah lama aku mau dikenalkan, tapi waktu itu si Riko kerja di pedalaman Kalimantan,” aku menghela napas panjang, ”Jadi yah, mungkin abang sudah bisa menebaklah, siapa sebenarnya yang menginginkan pernikahan ini”
“Lha? Jadi? Piye? Si Rikonya piye? Apa dia juga terpaksa? Udah pernah ketemu belum sih?” bang Pujo jadi gak sabaran.
“Beliaunya sih serius. Yah, setidaknya begitu katanya. Udah ketemu, beberapa kali. Gak tau bang. Gak dekat juga aku ma dia” kataku mengambang.
“Ha??? Bicara apa kamu? Dua bulan lagi nikah kok yo bilang ndak dekat sama calon suamimu. Dea... Dea... Come on..” semakin tajam tatapan bang Pujo. Marah tepatnya.
Tiba-tiba handphoneku berbunyi. EL. Aku tulis begitu. Enriko Lubis. Sungguh menyebalkan!!
“Hei, angkat itu, bunyi handphonemu” kata bang Pujo sambil melirik ke HPku. Tatapannya masih tatapan marah.
“Gak usah entar aja” kataku mengelak.
“Siapa sih?” bang Pujo lalu merampas HP yang kuletakkan di samping gelasku. “EL? Sapa tuh?”
“Enriko Lubis” jawabku datar lalu menghabiskan minumku.
Bunyi handphone berhenti. Aku menatap handphone yang sedang dipegang bang Pujo. Ban Pujo menatap aku. Pasti dengan tatapan semakin marah. Handphone berbunyi lagi.
“Angkat, Dea” bang Pujo menyodorkan HP yang masih menuliskan “EL” di layarnya.
Tak mau aku berdebat di tengah cafe. Ku angkat “Ya, halo” .... “Lagi makan” ... “gak papa, kenapa?” .... “terserah aja. Aku gak fanatik warna” ... “iya itu juga boleh” .... “kangen???” .... “lumayan” ...lumayan gak kangen, dalam hatiku .... “ya sudah besok aja” ... “terserah” ... “iya boleh disitu aja, gak usah jemput, aku kesana sendiri” .... “gak papa biar gak muter kamunya” .... “gak apa apa. Jelas??” .... “ya sudah kalo emang maksa ya sudah jemput aja, eh besok tanggal berapa ya?” .... “ha? Astaga, aku gak bisa, ada acara ulang tahun anaknya bos, kami sekantor diundanglah.” .... “ya ampun ini ultah anak 15 tahun, gak diminta bawa pasangan, plis deh” .... “ya sudah, aku masih makan nih” ... “yeah, bye!” HPnya langsung ku switch off.
Aku menatap bang Pujo. Bang Pujo ketawa sambil membersihkan mulut dengan serbet. “Astaga Dea... Kau ini...”
“Duh bang, apa lagi nih? Sudah kuangkat kan telponnya? Gak usah dibahas deh” kataku kesal.
Selesai makan kami berpindah ke lobi hotel dan aku bercerita tentang pernikahanku, eh, rencana pernikahanku ini. Termasuk bagaimana sibuknya keluargaku. Sahabatku si Ika yang cerewet minta ampun. Keluarga Riko yang seperti gak punya prinsip karna selalu bilang “Terserah sama Dea dan Riko”. Dan aku yang selalu bilang “Terserah” sama Riko ataupun Ika.
“Jadi, apa alasanmu mau menikah dengannya?” bang Pujo bertanya seakan mengharap adanya jawaban yang cukup masuk akal dariku.
“Karna ....” aku menunduk, “karna ....” aku mengangkat bahu, “entahlah bang. Butuh alasan ya?” aku balik bertanya.
“Heh!! Kau ini mau menikah apa mau jalan-jalan? Entahlah.. Terserah.. Gak tau... Maumu apa, dek?” bang Pujo menggeleng-gelengkan kepala. Persis Ika deh kalo lagi ajeb-ajeb menghadapiku. Pusing maksudnya.
“Mauku? Gak pentinglah mauku bang. Udah. Cukuplah. Aku kuliah, kerja di tempat-tempat yang aku pilih sendiri. Dan sudah lebih dari satu kali aku mencoba mencari sendiri pasangan hidupku tapi gak berhasil. Sudah bang. Cukup. Malas aku berdebat dengan orang tuaku.”
Hening. Bang Pujo hanya menjawabku dengan satu tarikan napas panjang.
“Kalau alasan ini cukup masuk akal buat abang, atau buat siapalah orang yang mau bertanya, aku mau menikah dengannya karena ingin orang tuaku bahagia. Titik. Klise. Tapi itu benar yang aku rasakan. Menurut aku, bang, kalo memang harus terjadi, terjadilah. Itu aja,” kataku sambil menatap bang Pujo, berharap dia memberi sedikit nasehat dan kekuatan seperti yang selama ini dia berikan tiap kali aku curhat tentang pacar-pacarku, maksudku, mantan mantanku.
“Gak ada salahnya kan bang membahagiakan Bapak dan Mamak, bang?
“Ya gak salah, dek ... ” kata bang Pujo.
“Tapi?” tanyaku sambil tertawa sinis.
“Ah kau ini, belum juga selesai kalimatku sudah kau potong,” tampak kesal wajah bang Pujo, entah apa karena pembicaraannya kupotong atau karena dia sudah bosan mendengar curhatanku, “Ya sudah, banyak banyaklah doa ya, dek... Minta petunjuk. Ojo malas doa kowe, nduk. Minta sama Tuhan. Minta.”
“Bang, Tuhan tau kok aku perlunya apa. Tuhan juga tau kapan waktu yang tepat untuk aku menerimanya. Jadi, terserahlah. Malas aku berdoa banyak-banyak bang. Dulu-dulu juga banyak berdoa tetap aja gak dapat-dapat yang aku mau,” kataku sinis. Full of hopelessness.
“Heh! Bicara apa kau dek? Ojo ngono tho. Jangan hopeless gitu. Bersyukur. Kau ini, ndak lihat di luar sana? Berapa banyak orang yang ingin seperti kau? Kerja bagus, keluarga baik-baik, sekarang sudah akan menikah. Bersyukur ajalah dek,” suara bang Pujo mulai melembut.
“Siap bang, diusahakan deh...” kataku sambil tersenyum. Tersenyum miris.
* * *