PDA

View Full Version : Sad Ending



violace
6th March 2010, 04:00 PM
Ini akan kembali menjadi salah satu episode ber-sad-ending. Huff... Satu hembusan nafas tak berguna. Maksud aku.. satu hembusan nafas penyesalan yang tiada guna (pastinya bernafas itu sangat berguna, yang tidak berguna itu penyesalan nya). Argh.. bahasan tentang pilihan kata sepertinya malah lebih menarik dari pada menulis lanjutan cerita episode kali ini. Tidak menarik. Tidak ada yang baru. Kembali tentang cinta. Kembali tentang hubungan emosional dua orang manusia yang tidak dewasa. Yang tidak mau mengakui ketidak dewasaannya. Yang berniat untuk saling menyakiti pasangannya.. Sebaiknya berhenti sampai disini. Semua kalimatnya terlalu berlebihan. Ya kan..? Lebih menarik membahas tentang bahasa. Huff...

Kejora (http://ikastara.org/showthread.php?861-KEJORA-...-Kerlip-Bintangku) memikirkan kembali semua pikiran yang berkelebat cepat di kepalanya, yang membuatnya kembali menulis untuk episode ini. Mencoba menuturkannya dalam rangkaian kalimat yang bisa dinikmati ternyata tak seindah bayangan sebelum nya, ketika keinginan untuk mencurahkan segala kepenatan ini dalam bentuk tulisan tak terhalang lagi. Menulis memang sangat membantu. Semua pikiran tadi sementara menepi. Memberikan jalan untuk pikiran rasionalnya berpikir lebih jelas. Menata kembali semua pikiran dalam barisan rapinya. Tak mudah. Karena sekarang, saat dia membutuhkan semua pasukan kata untuk ditulis, mereka menghilang secepat kilat.

Devan.
Satu kata yang mewakili sosok yang membuat Kejora mengalami semua ini. Ketikannya terhenti. Memikirkan sosok itu selalu menhentikan dunianya sejenak. Huff.. Satu hembusan nafas lagi. Tangannya kembali bergerak, kali ini bukan ke arah keyboard, melainkan meraih sekantong potato chips 200gram. Melahap konstan tanpa rasa. Matanya menatap layar laptop tua yang memajang tulisan satu paragraf, tapi pikirannya tak disana. Melayang ke sosok Devan yang secara logis sangat menyebalkan. Tapi dia tau dirinya sudah tidak logis lagi tentang segala hal yang berhubungan dengan Devan sejak sepuluh tahun yang lalu. Sejak pertama kali dirinya bertemu dengan Devan. Sejak dia menetapkan hati untuk "tidak memupuk cintanya pada Devan, dan tidak pula membunuhnya" hanya menjalani dan berusaha menikmati sambil menunggu sang pangeran berkuda putih yang akan membuatnya dapat melupakan cinta ini.
"Masokis..!" umpat nya pelan. Sepuluh tahun menjalani nya.. 90% dari waktu itu dia merasa sedih dan tersakiti. Dan dia berkata dia menikmatinya?

Benar-benar masokis..! Ketika wanita lain menyiksa diri dengan hi-heels, mengelupaskan lapisan kulit dengan suatu kegiatan bernama luluran demi perawatan tubuh, menahan nafas dibawah uap panas demi perawatan wajah, menahan panas di kepala demi megah nya rambut, atau menahan teriakan saat waxing, aku menjalani penyiksaan yang lebih parah tanpa hasil nyata. Maksud ku.. dengan semua penyiksaan yang aku sebutkan diatas tadi, sekurang nya mereka yakin bahwa dirinya bertambah cantik. Sedang kan aku..? Sepuluh tahun tanpa hasil.

Atau sekurangnya berhasil membuat ku tak menggandrungi salon dan hi-heels karna penderitaannya tak ada apa-apanya dibanding yang aku alami setiap hari; saat melihat Devan dengan hidupnya, dengan gadis-gadis nya, dan masih menyempatkan senyum dan sapa mesra padaku. Kadang kembali dengan pertanyaan goblok tentang -mengapa aku tidak mau dengannya- lengkap dengan pandangan tidak mengerti.

Huff...
Kejora mengerlip dan menyadari separo isi potato chip telah berpindah ke lambungnya. Tak ada rasa. Dia telah kehilangan semangat untuk melanjutkan tulisannya. Lebih tertarik untuk menjawab pertanyaan yang terlontar kembali: Kenapa dia tidak pernah mau menerima Devan lagi..? Walau selalu menyatakan pada Devan bahwa dia mencintainya. Walau selalu menjadi tempat berceritanya Devan, selalu ada saat Devan membutuhkan -saat bermasalah atau bosan dengan gadis-gadisnya. Ya.. Aku baru menyadari sekarang kalau masalah Devan -yang dia bagi denganku- selalu tentang gadis-gadis itu. Masalah yang dia tak pernah tau cara penyelesaian nya sebelum berdiskusi denganku. Masalah pekerjaan atau urusan kantornya tidak pernah menjadi bahasan. Bahkan masalah dengan keluarganya pun tidak memerlukan pendapatku. Dia bisa menyelesaikannya dengan pasti, dengan tepat, yakin akan tindakannya. Tapi tidak dengan permasalahan dengan para gadis. Pendapatku diatas segalanya. Dan aku selalu ada untuk nya. Jangan tanya mengapa aku melakukannya, atau apa itu tidak menyakiti ku.. Sudah kubilang.. Aku masokis sejati..!

Aku pikir awal nya ini hanya akan membutuhkan waktu 1-2 tahun. Saat aku berkomitmen bodoh untuk TIDAK mengubur cinta bagi Devan. Dan tanpa terasa menjadi 4 tahun, 6 tahun, dan sekarang telah 10 tahun... Aku pikir perbedaan fase dari kuliah ke kerja akan membawa perubahan yang nyata. Ternyata tidak untuk rasa ini. Aku pikir jarak akan membantuku menghapusnya saat aku harus pindah kantor ke kota lain. Ternyata hanya menjadikan aku yang biasanya tak bisa menahan kantuk hingga tengah malam menjadi penikmat 4-5jam tidur dan pencinta skype. Aku pikir kedewasaan akan datang selaras dengan bertambah nya usiaku. Ternyata kedewasaan, usia dan cinta sama sekali tidak ada korelasinya. Aku pikir... Seharusnya aku tak pernah berpikir..!

Tapi waktu perlahan dan pasti telah mentransformasi rasa ini. Tentu saja.. Satu dasawarsa bukan waktu yang sebentar. Walau Kejora masih tetap mempertanyakan sikap Devan yang mendua. Mengakui mencintai nya, tapi tak pernah bisa melepas gadis-gadis nya. Menggelikan..! Apa yang ada dipikirannya? Mungkin dia juga tak pernah bisa menjawab seperti aku tak pernah bisa menjelaskan entah apa yang ada di pikiran ku selama ini. Mungkin masokis satu-satunya penjelasan yang masuk akal. Semua rasa sakit itu justru pemicu yang dibutuhkan untuk semua tulisan ku. Dan aku menggandrungi nya. Menikmati, meresapi, dan menuturkan nya dengan berbagai versi yang berujung sama. SAD ENDING. Suatu kepuasan saat tokoh ciptaanku menderita. Apalagi jika penderitaannya karena cinta.

violace
7th March 2010, 06:12 AM
hihi... banyak yang liat tapi gada yang berkomentar...
:mnyari: b nade..?? b sigit..?? :mnyari:
Udah lama ga nulis, kali ini mencampur aduk sudut pandang orang pertama dan ketiga.
sepertinya ga sukses.. :mtengsin:

Ga berasa udah 4 tahun aja dari pertama kali nulis "KEJORA" buat forum.
Dulu waktu lomba pertama itu aku ngirim 3 cerpen deh kalo ga salah.. (semangat beneeer..)
yang 2 lagi ntah dimana...

gitafh
7th March 2010, 11:21 AM
huhu, daku komentar kak, kalimat di paragraf terakhirnya benar-benar kelam: 'Suatu kepuasan saat tokoh ciptaanku menderita. Apalagi jika penderitaannya karena cinta.'

violace
7th March 2010, 02:41 PM
huhu, daku komentar kak, kalimat di paragraf terakhirnya benar-benar kelam: 'Suatu kepuasan saat tokoh ciptaanku menderita. Apalagi jika penderitaannya karena cinta.'

waktu nulis ini emang lagi gelap gulita nie... hehe...

nad3418
7th March 2010, 03:02 PM
Too dark. Dan pesan yang ingin kau sampaikan sangat masuk Ce.

fixshine
8th March 2010, 03:06 PM
walau ce pintar mengolah pergulatan kalimat dan mengaduk2 perasaan yg baca
tp kuragu nie bakal komersil
sarannya : eksplorasi devan msie abstrak, mungkin bisa dibantu dng mungkin petikan surat2/isi sms/status facebook dr devan

violace
8th March 2010, 09:13 PM
thanks sarannya bang.. Dah lama ga nulis nie.. jadi tumpul ternyata..
dan menyadari kalo aku bukan kaya penulis2 laen di forum ini yang sekali duduk bisa menghasilkan satu karya bagus.
ini n yang di thread b nade hasil percobaan "sekali nulis langsung jadi" ternyata kecewa sendiri setelah di baca lagi.. :D