PDA

View Full Version : Macam-macam orang aneh



fixshine
1st March 2010, 06:45 AM
Kamu pernah sakit kepala? Atau pusing? Wah, aku sedang dipusingkan banyak hal saat ini. Kepala ini, kepalaku, sering minta macam-macam sebagai pengurang sakit (sebenarnya lebih tepat dikatakan pengalih perhatian terhadap rasa sakit). Mulai sekedar belai-belai, pijat-pijat, sampai sedikit tepukan ringan. Tepukan ringan? Ya, seperti saat menepuk pantat bayi agar lekas ia pergi tidur, persis seperti yang kini sedang kulakukan.

> >

Icie, seorang sahabat sekaligus tuan rumah, sedang pergi sejenak membelikan putrinya susu formula.

“Din, bentar ya, aku mau pergi cari susu. Aku lupa kalau sudah habis. Ntar keburu dia rewel minta susu. Jagain, ya! Jangan sampai dia bangun sebelum aku balik, ya..”

“Cie, kalau ia tiba-tiba bangun?”

“Wah, tolong ditepuk-tepuk aja pantatnya, kayak biasa itu lho, nanti juga dia tidur lagi. Ok? Dah dulu, ya”

“Yo...”

> >

Dan dapatkah kamu membayangkan, mengapa aku sedang menepuk-nepuk pantat si bayi? Entah mengapa, bayi memiliki ikatan tersendiri dengan si ibu. Ia tahu saat ibunya berada di luar radius 5 meter darinya. Atau 100 meter? Entah. Yang jelas, bagi si bayi, ibunya sedang berada jauh darinya, dan itu membuatnya tak nyaman. Ketidaknyamanan membuatnya gelisah, dan tebak, dia terbangun dari tidurnya.

> >

Aku juga baru menyadari dia terbangun saat sedikit melirik ke tempat tidurnya. Sungguh, aku benar-benar kaget. Tidak ada angin, tidak ada hujan (ini memang musim kemarau). Bahkan ia tidak bersuara! Astaga...

> >

Tak sampai semenit, ia kembali terlelap. Fiu... Aku meneruskan buku yang tadi kubaca sebelum menidurkan si bayi. Bagiku buku bukan benda menakutkan. Mereka yang justru takut padaku. Aku sudah biasa melahap buku setebal bantal dalam hitungan menit. Jadi, jangan sekali-kali bertanya, aku sudah baca apa, tapi apa yang belum kubaca.

Buku yang kini ada di depan mataku membahas mengenai teori konspirasi bencana. Entah mengapa kini aku semakin tertarik dengan hal-hali yang berbau geologi. Aku semakin heran, karena saat sekolah aku paling membenci ilmu sosial maupun sains yang berbau hafalan. Lebih-lebih, tidak ada hubungan geologi dan psikologi (begini-begini, aku lulusan jurusan psikologi di sebuah universitas ternama di Singapura).

> >

Kata Icie, ada dua hal yang membuatku tertarik geologi. Pertama, negeri ini sudah habis (materi, sdm, dan masa depan) akibat bencana alam. Bersama negara-negara berpenduduk raksasa (jumlahnya) lain, Indonesia makin terpuruk karena bencana alam. Ditambah, dalam sepuluh tahun terakhir posisi negara berpenduduk Muslim juga makin terpojok. Menurut Icie, sisi logisku mengatakan, bukan kebetulan jika negara adikuasa dan sekutunya tetap sehat walafiat, dan semakin makmur, malah. Intinya, menurut Icie, ada kecenderungan bagi diriku untuk meletakkan si negara adikuasa dan sekutunya sebagai dalang di balik layar atas berbagai bencana alam dunia, seperti saat mereka mendalangi hancurnya negara-negara berpenduduk Muslim.

> >

Apa aku seekstrem itu? Aku bahkan tidak merasa... Baik, itu MENURUT Icie...

> >

Alasan kedua, versi Icie, sekali lagi. Geologi... Geologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan di bawah... Stop! Tidak usah diteruskan!

> >

Baik, aku teruskan...

> >

Geologi merupakan salah satu cabang ilmu fisika. Menurut Icie, alam bawah sadarku akan terus mencari hal-hal yang berhubungan dengan... Stop!!! Sudah!

> >

Baik, aku teruskan...

> >

Menurut Icie, alam bawah sadarku akan terus mencari segala hal yang berhubungan dengan Rijal (?). Baik... kami teman dekat... Baik! Kami pacaran! Atau pernah pacaran?

> >

Aku menerawang... Sebenarnya dari tadi aku pura-pura baca buku. Aku lebih tepat dikatakan tengah melamun. Bertanya mengapa jalan menuntun kami ke arah ini. Mengenang cinta yang entah bagaimana akhirnya. Aku lebih suka mengatakannya berakhir, seperti yang sering kukatakan di depan semua orang, bahkan di depan Icie. Walau demikian, Icie tak pernah lelah mengatakan bahwa jauh di lubuk hatiku... aku berharap Rijal akan datang untuk sekedar mengetuk lagi pintu hati ini.

> >

Aku mengenalnya di bangku sekolah, saat aku tak berpikir untuk punya hubungan aneh-aneh dengan siswa putra. Aku tidak ingin seperti rekan-rekanku yang harus mengorbankan segala-galanya hanya untuk menunjukkan status ‘punya pacar’ di depan komunitas siswa satu sekolah. Aku jelas bukan golongan siswa demikian, walau sahabat terdekatku saat itu, Coza, juga menjadi tidak jelas kalau sudah menyangkut hubungan yang namanya pacaran. Intinya, aku tidak berharap punya pacar. Nggak guna bgt gt lowch!

> >

Seperti di novel-novel teenlit atau chicklit atau sejenis itulah, (dengan anehnya) dia bisa mengubah sesuatu. Bukan cara pandangku yang berubah, yang jelas. Entah bagaimana, dia mengerti aku, dan aku berusaha mengerti dia. Dan di sini aku tahu (walau tidak paham), mengapa banyak orang menjadi semakin aneh saat jatuh cinta, mengapa harus berkorban demi sesuatu bernama cinta. Sekarang, semua menjadi jelas. Mengapa aku dulu begitu under estimate? Golongan orang yang dulu aku benci, ternyata memanfaatkan cinta! Sampai sekarang, aku membenci orang, yang baik sengaja, maupun tidak sengaja, masuk ke golongan ini. Pada kenyataannya, Rijal mengantarkan aku untuk menyadari masih banyak orang yang bahagia karena cinta. Karena, cinta itu, memberi...

> >

Naif?

> >

Terserah, yang jelas, kami masih punya hubungan yang jelas sampai kami meneruskan bangku kuliah. Aku pergi ke negeri singa dengan psikologiku. Dia bergelut dengan fisika murninya. Long Distance Relationship... Sebagai mahasiswa dengan pendanaan orang tua yang terbatas, kami harus mengurangi intensitas kami berkomunikasi. Dan, dapat ditebak, tidak sampai satu setengah tahun, kami sama sekali tidak berhubungan. Sama sekali. Dimulai saat masa ujian semester ketiga.

> >

Bahkan, sahabat terdekatku saat Sma, Coza, sempat berpamitan pada pos-elnya yang terakhir.

Din, aku keterima di sekolah yang pingin banget aku masukin... ini pos-el terakhirku. Demo, boku-tachi wa tomodachi da... Always! Yubikiri!

Coza berhasil jadi mahasiswa sekolah sandi negara. Entah bagaimana di mana dia sekarang.

> >

Sementara Rijal? Dia bahkan sama sekali tidak menghubungiku. Aku berkali-kali mengiriminya pos-el saat masa ujian selesai. Berkali-kali pula aku kecewa melihat kotak masuk yang kosong. Saat ada rejeki, aku meneleponnya. Tak pernah diangkat. Nomer ponselnya? Tidak pernah aktif.

> >

Dan saat itu, di sana aku. Jauh dari negeriku. Tanpa siapa-siapa. Itu juga yang dialami Icie. Kami satu tempat kuliah, walau beda jurusan, satu asrama, dan... satu kamar. Dan, kami bersahabat, seperjuangan, mahasiswa Indonesia dengan dana pas-pasan, cewek-cewek yang jauh dari orang-orang terdekatnya. Intinya, seperjuangan, walau nasib mengantar kami ke jalan yang berbeda.

> >

Aku melihat lagi ke tempat tidur si bayi. Bagus, masih terlelap... Cantik sekali bayi ini. Seperti ibunya. Saat kuliah dulu, tak sedikit surat cinta datang ke kamar kami. Semua ditujukan pada Icie. Namun, tak satupun surat itu ia baca. Sekali lihat paragraf pembuka, ia langsung merematnya lalu dilempar ke jaring basket kecil di atas tempat sampah. Ia sepertiku, punya seseorang yang menunggu (atau ditunggu?) di tanah air.
> >

Berbeda dariku, saat pulang ke tanah air, hal-hal berputar begitu cepat, hingga tiba-tiba, mereka sudah menikah dan punya seorang bayi (yang sedang aku jaga sekarang). Karena suami Icie mendapat beasiswa di Belanda, dia tinggal sendiri dan mengajakku menemaninya. Sebuah kebetulan, aku sedang butuh tempat tinggal sementara di Semarang untuk wawancara di sebuah perusahaan tempat aku melamar pekerjaan

> >

Aduh, kepalaku pusing lagi. Coba, kubelai-belai...

Ya ampun, kepala ini sekarang minta dipijit-pijit! Ok, aku kasih...

Ngomong-ngomong, Icie beli susu di mana sih? Jauh banget apa? Mending tadi biar aku yang keluar cariin susu terus Icie di rumah sama si bayi kali ya...

Aduh, pusing nih.

Astaga! Bayi ini bangun lagi!

“Sayang, bobo’ lagi ya... Ayo sayang...”

Aku menepuk-nepuk pantat bayi yang semakin ditepuk semakin rewel ini.

“Sayang mau apa? Mimik? Lagi dicariin ama Mama... Tunggu ya... Bobo’ dulu tapi ya, sayang...”

“Kring... Kring”

Telepon? Sebentar ya anak manis, tante mau angkat telepon...

> >

“Selamat siang...”

Setelah dua detik terdengar suara agak berdengung dari ujung kabel, sepertinya menelepon dari tempat yang sangat jauh, “Mbak Icie?”

“Bukan, ini Dina, temannya. Icie masih keluar. Ada pesan?”

Keheningan.

“Baik, ini Rijal”

Hah?! Rijal?

“Ini Rijal, teman sekamar Mas Ari, suami Mbak Icie. Tolong sampaikan pada Mbak Icie kalau sudah sampai rumah, atau, nanti Mbak... Dina... bisa tolong hubungi ponselnya...”

Aku masih setengah percaya: aku sedang berbicara dengan Rijal, setelah sekian tahun! Ini memang suara Rijal! Tidak salah lagi... “Iya, nanti saya telepon ke ponselnya, ada apa ya, Mas... Rijal...?”

“Begini, Mas Ari... sedang menyeberang jalan, tetapi...”

Ya ampun, kepalaku makin sakit, minta ditepuk-tepuk.

“Hwa...”

Aduh, kenapa si bayi tiba-tiba menangis? Aku melirik sebentar dan berbisik pada si bayi, “Sebentar lagi, sayang... Mama pulang sebentar lagi”

> >

“Bip... bip...” telepon terputus.

Sepertinya orang bernama Rijal ini menelepon dari telepon kartu, dan sayang sekali, pulsa kartunya habis. Tunggu dulu. Jika memang dia menelepon dari Belanda, berarti mungkin di sana sore... Pasti sesuatu yang sangat penting kalau dia sampai menelepon ke Indonesia saat jam bukan diskon. Ada apa dengan Mas Ari??? Lalu, kalau memang itu Rijal yang dulu aku kenal, Rijal yang tidak pernah meneleponku, pacarnya, kalau itu memang dia, mengapa dia harus menelepon Icie?

fixshine
1st March 2010, 06:46 AM
> >

“Hwa...”

Aduh, si bayi ini...

“Sayang... cup dulu, yah! Aduh ilang de cantiknya kalo nangis. Cup ya... Sayang...”

Kutepuk-tepuk pantat si bayi. Ampun, kepalaku juga minta ditepuk-tepuk... Masa kepalaku dan pantat si bayi harus rebutan tanganku untuk ditepuk-tepuk?

> >

“Kring...”

Telepon?

> >

Telepon?

> >

Ternyata deringnya Cuma sekali.

> >

“Kring...”

Tunggu dulu

> >

“Kring...”

Oke, ini benar-benar panggilan.

> >

“Selamat siang”

“Din!” suara Icie, dengan latar belakang keramaian lalu lintas.

“Icie, ke mana to kamu? Ini lo si bayi udah bangun dua kali, pake nangis lagi...”

“Din, tolong sebentar ya... Dia udah pipis ko tadi... Pokoknya, dibuat tidur aja... Aku lagi di jalan ni... Macet! Ada tabrakan di perempatan depan...”

Aku langsung ngeri membayangkannya.

“Cie, tadi ada telepon...”

“Oya?”

“Dari Rijal, katanya temen Mas Ari kuliah di Belanda sana”

“Oh, iya... Rijal dari Pertamina itu... Bukan Rijalnya kamu lho Din...” Icie tertawa ringan.

Hatiku langsung mencelos. Tentu saja bukan Rijal yang itu! Rijal yang cinta fisika dari lubuk hati yang terdalam.

> >

“Kenapa Din? Kok tumben dia telepon?”

“Katanya...” Aku benar-benar masih mengira tadi aku berbicara dengan Rijal...

“Katanya...” Rijal itu siapa sih? Bukan siapa-siapa!

“Katanya...” kepalaku pusing.

“Iya Din, apa kata Rijal?”

“Katanya...” Terdengar tangis si bayi dari kejauhan...

“Katanya...” Tangis si Bayi makin kencang, dan kepalaku minta ditepuk-tepuk.

“Din, itu Nina nangis tuh...”

“Katanya...” dinding rumah bergoyang-goyang. Perabot-perabot rumah berguncang. Aku berusaha memegang lemari terdekat, tapi tak teraih. Gempa!

“Din...”

“Katanya...” semua jadi berputar-putar. Si Bayi! Aku harus melindunginya!

“Dina...”

“Katanya...” Jangan-jangan, Semarang menjadi sasaran negara adikuasa selanjutnya!

“Katanya...” tiba-tiba ingat Coza, udah jadi intelkah dia?

“Katanya...” astaga, gempa ini bikin kepala makin sakit! Tadi si Rijal itu bilang apa sih??? Sesuatu tentang Mas Ari...?

“Katanya...” getaran semakin hebat. Si Bayi! Selamatkan! Segera!

> >

“Din... Nina nangis... buruan, apa kata si Rijal?”

“Ka...ta... Katanya...”

“Iya...”

> >

> >

“Katanya...”

> >

“Cie, berlindung! Gempa!”

“Din...”

> >

“Katanya...”


************************************************** *******************

Seminggu kemudian. Di rumah sakit.

> >

> >

Ada seorang ibu dan bayinya. Menunggu giliran periksa dokter anak.

> >

Ada seorang wanita. Membaca cetakan pos-el dari teman suaminya tentang suatu kecelakaan lalu lintas yang tidak terlalu parah.

> >

Ada seorang bayi, memeluk ibunya erat-erat. Sedikit bersin-bersin.

> >

Ada seorang pria. Mengantri nomor untuk periksa gigi.

> >

Ada seorang ibu. Memasukkan surat lalu membersihkan hidung anaknya dengan penuh kasih sayang.

> >

Ada seorang eksekutif muda. Menahan sakit gigi dan yakin lebih baik sakit gigi daripada sakit hati akibat putus kontak dengan kekasihnya saat kuliah.

> >

Ada seorang anak. Melirik ke seorang fisikawan.

> >

Ada seorang eksekutif muda. Melihat seorang wanita yang mengingatkannya pada seseorang dalam masa lalunya.

> >

Ada seorang teman. Mengenang temannya yang meninggal seminggu lalu akibat gejala migrain.

> >

Ada seorang fisikawan yang merindukan kenangan.

> >

Ada sosok tak kasat mata yang mengamati semua itu.

> >

Dan...

> >

Ada orang aneh yang mau baca cerita aneh ini...

violace
1st March 2010, 06:50 AM
whakaka.. judul nya ternyata itu...?
ngga bangeeeed ternyata...
kalo waktu nilai udah masuk pake judul ini instead of just cerpen #9,
pasti udah ilfil duluan..
(btw komen gini gapapa kan yaa..?)

fixshine
1st March 2010, 07:01 AM
komenku nie cerpen yg paling berani ngeluarin ide yang melompat bebas ke sana kemari, asyik bacanya smp akhir

violace
1st March 2010, 07:08 AM
komenku nie cerpen yg paling berani ngeluarin ide yang melompat bebas ke sana kemari, asyik bacanya smp akhir

stuju... manstaff lah lah cara nulisnya... beda..

tapi tetap males dengan judul nya.. diganti apa gituuu..
hmm... *gada ide* :p

gitafh
1st March 2010, 09:13 AM
seru ni. tapi kalimat terakhirnya jadi bikin antiklimaks hehe. dan setuju ma kak cece, judulnya agak kurang klik, tapi okeh banget ni idenya, seru!

dina kharisma
1st March 2010, 11:26 AM
eh bang, yang bawah kekopi dua kali tuh kayaknya
aneh bacanya keulang gitu :)