PDA

View Full Version : Detik Kosong



fixshine
1st March 2010, 07:03 AM
Tanganku melambai ke arah angkutan umum yang biasa mengantarku ke kampus. Hari baru di minggu yang baru. Aku melangkahkan kaki naik ke angkutan umum yang biasa disebut “angkot” atau angkutan kota. Kendaraan yang sangat mudah ditemukan di kota kembang ini. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri, mungkin karena hari ini hari pertama masuk kuliah setelah hampir 2 bulan libur, sehingga aku jadi bersemangat. Sebenarnya rutinitas kuliah bukan sesuatu yang menarik buatku, tapi memikirkan bahwa semester ini berarti aku memasuki tahap tahun terakhirku di kampus yang tercinta ini membuatku bersemangat. Rasanya ingin cepat cepat lulus saja.

Angkot melaju lambat sekali. Bukan hal yang baru di pagi hari. Jalanan di sekitar tempat kos ku memang selalu macet di pagi hari. Mungkin karena banyak mahasiswa yang kos disini, dan banyak anak sekolah serta pegawai kantoran yang akan berangkat melakukan aktivitas masing masing, membuat jalanan yang tidak terlalu lebar ini jadi padat. Pandanganku menunduk, menatap tas dan map biru kesayanganku yang kutaruh di atas pangkuanku. Walaupun sudah biasa, tapi tetap saja kemacetan ini menyiksa. Wajah dosen “killer” yang akan menatapku tajam bila terlambat sudah terbayang bayang. Namun tak ada yang bisa dilakukan, angkot tetap berjalan perlahan, dan aku pun mulai tenggelam dalam lamunan.

Aku menyebutnya “detik kosong”. Waktu dimana seolah hanya ada aku dalam detik yang berjalan lambat, seperti lambatnya angkot yang bergerak, tak ada siapa siapa dan tak ada suara. Entah kenapa sensasi ini selalu datang, rasa dimana aku merasa sepi di tengah keramaian. Bukan kesepian, namun kenikmatan akan penguasaan waktu dimana hanya ada aku dan hening. Aku sangat menikmati momen ini. Tak akan ada yang merasa aneh melihatku hanya terdiam dengan tatapan kosong, seolah bosan. Tak akan ada yang tahu, apa yang aku pikirkan.

Aku semakin tenggelam dalam pikiranku sendiri. Tentang apa yang sudah kulakukan, apa yang akan kulakukan, tentang teman, kegembiraan, kehilangan, dan tentang cinta. Cinta, suatu bentuk abstrak dari emosi dan pikiran yang tidak dapat diungkapkan namun bisa dirasakan. Mengagumi seseorang bukan hal yang sulit untukku, tapi untuk menetapkan hati, benar-benar suatu hal yang sangat sulit dan rumit. Sahabatku bilang aku terlalu memilih. Kadang egoku bilang aku tidak salah. Memilih belahan jiwa bukan suatu dosa. Batinku berkata demikian. Namun, terkadang aku menyesal kembali mengikuti ego dalam memutuskan. Seandainya saja 4 tahun yang lau aku bilang iya, mungkin kita sekarang bahagia. Tapi entah mengapa, hati ini seperti terlapisi benteng ketika kamu bertanya untuk yang ketiga kalinya, dan aku pun masih menggeleng dan berkata tidak. Sudah sangat lama sekali ketika aku terkahir kali berbicara denganmu. Yang aku ingat hanya pertengkaran kita, yang tak jelas apa penyebabnya. Mungkin kamu benar benar ingin melupakan aku, atau mungkin kamu ingin aku mencari pengggantimu. Sampai sekarang pun aku tak pernah tahu yang sebenarnya.

Aku malu. Malu karena ternyata aku mengingkari janjiku untuk melupakanmu. Janji bahwa aku akan berusaha untuk tidak perduli padamu. Janji untuk menghapus namamu dari hatiku. Dan janji bahwa aku akan memberikan ruang di hatiku untuk penggantimu. Aku tidak tahan untuk selalu mencari tahu tentangmu. Lewat situs jejaring sosial aku selalu mencari tahu perkembanganmu, menyelidiki apakah kamu sudah memiliki penggantiku. Aku tahu ini bukan lagi seperti cinta. Tapi ini lebih mirip kompetisi ego, dimana yang menang adalah yang pertama bahagia. Ada rasa tidak rela membagi kebahagiaan yang pernah kudapat dengan orang lain yang menggantikanku. Masa masa bahagia itu. Ketika kita hanya dua anak sekolah yang biasa dianggap anak kemarin sore, saling berbagi perhatian, walau saat itu tanpa ikatan. Semua tingkah laku kamu yang lugu, sehingga terkadang membuat aku makan hati karena kamu tak pernah mengerti, membuat aku terus ingin bersamamu. Semua kejutan yang kamu buat, walau kadang tak indah, membuat aku tak pernah bosan berbagi denganmu.

Kenangan itu memang hanya tinggal dalam ingatan saja sekarang. Adakalanya dia akan berada di bawah tumpukan memori baru. Hingga suatu saat memori lama dibangkitkan kembali dan berada di atas lagi. Sialnya memori itu sedang berada di atas sekarang, dan aku semakin tenggelam dalam dunia kenangan kita.

Kamu berubah sekarang. Tidak ada lagi kamu yang lugu, hanya ada kamu yang mulai tidak kaku. Tidak ada lagi kamu yang pemalu, hanya ada kamu yang mulai mengerti dunia baru. Lingkungan sekitar mu sekarang membuat kamu seperti orang baru bagiku. Aku seperti tidak mengenalmu lagi. Mungkin ini rencana yang diberikan Tuhan padaku. Untuk bisa menjauhkanmu dariku. Membuat kita tak kan pernah satu. Membuat aku tahu bahwa kamu bukan yang terbaik untukku.

Perih ini memang terasa di awal, tapi aku bersyukur. Aku bersyukur aku tak merasakannya ketika hati ini mulai terjerat terlalu kuat. Mungkin luka itu selalu membekas, tapi pasti bisa ditutupi. Biarlah luka itu tertutup dan menjadi bagian dari masa lalu.

Getaran di kantong celanaku membuyarkan lamunanku. Ada SMS masuk rupanya.

“Bright u’r day with u’r smile honey. U’r the light that shine my day. Luv u”

Aku tersenyum. Memikirkan kenaifan ku sendiri dan semua lamunan tadi. Mungkin memang hanya dia yang bisa menutupi. Mungkin hanya dia yang mampu mengerti. Dan kini hanya menunggu hati ini untuk berpijak lebih pasti. Janji ini pasti akan aku tepati dan yakini dengan hati.

“Kiri kiriii...” Angkot pun menepi dan aku turun dengan hati-hati. Setelah aku membayar ongkosnya, aku segera bergegas menuju kelas. “detik kosong” tadi membuatku lupa kalau dosenku yang galak sudah menanti. Kupercepat langkahku memasuki gerbang kampusku. Langkah kaki ini semakin terasa pasti, dan ku yakini bahwa semua ini memang jalan yang terbaik untuk dijalani.

Ucapkan selamat tinggal pada masa lalu.

gitafh
1st March 2010, 08:56 AM
kisah yang 'manis'.

btw quote favorit: 'penguasaan waktu dimana hanya ada aku dan hening' :)

violace
1st March 2010, 10:22 AM
kirain ini tulisan ienk.. :D

jurezz
2nd March 2010, 01:19 PM
gud gud gud....

kayaknya tau nih siapa yang nulis...

semester akhir,kota kembang,map biru,,,

hmmmmm.........

nekotisme
11th March 2010, 10:32 AM
oh ini toh kisah nyata encik siti dari tubagus ismail naek sadang serang-caringin ke kampus gajah......:p

cityca
11th March 2010, 11:01 AM
:mtengsin:
Tadinya mw angkot cisitu bang..
Tapi warnanya ungu..jadi angkot sadang serang aja ah yg biru..hehehe...

GQ
11th March 2010, 11:18 AM
cicaheum atau ciampea aja ..

cityca
11th March 2010, 11:24 AM
Ciampea? Cihampelas maksudny bang?
klo itu mah endingnya di ciwalk baang..bukan d kampus.. :mtengsin:

nekotisme
11th March 2010, 05:03 PM
:mtengsin:
Tadinya mw angkot cisitu bang..
Tapi warnanya ungu..jadi angkot sadang serang aja ah yg biru..hehehe...


cicaheum atau ciampea aja ..


Ciampea? Cihampelas maksudny bang?
klo itu mah endingnya di ciwalk baang..bukan d kampus.. :mtengsin:

ternyata kisah cinta encik ama sopir angkot toh...ya ya ya... :p

cityca
11th March 2010, 05:34 PM
Engga dong bang..
Ama supir busway..eh, Transjakarta.. :mtengsin:

fixshine
13th March 2010, 12:09 PM
cini2 kapan mau ditraktir jng ajak supir angkotna yak

khaidar
17th March 2010, 09:33 AM
bagus...bagus...