PDA

View Full Version : Perjumpaan Pertama



lanymm
18th February 2010, 11:41 PM
Aku menimbang-nimbang. Telpon gak telpon gak. Ahhh,, sial,, hari ini gak bisa hitung kancing. Aku pake kaos bergambar suatu tanaman yang dulu ngetop banget di jaman orde baru.

Telpon.
Gak.
Telpon.
Gak.
Telpon.
Telpon ajalahhh. Itu hasil menghitung koin 500 dalam kantung celana jeansku yang mulai sobek di bagian lutut. Kata teman-teman “cool...”

“Halo...” suara dari sana.
“Ha-ha-ha..o..” jdarrr!!! Akhirnya keluar juga suaraku

.......

Klik! telpon kututup.
Pipiku memerah. Mulut komat-kamit gak jelas. Senyum sedikit. Syukur telponku diterima. Untung dia tidak menutupnya.
“Heee!!!” bersorak kegirangan aku sambil berlari.
“Untung telepon umumnya deket sini, gak perlu jalan jauh-jauh” batinku.

Hampir setengah jam aku menunggu. Rambutku sudah kurapikan. Tadi juga sudah sempat cuci kaki biar bersih. Baju? Yah gak kusut-kusut amatlah. Ah, beginikah rasanya kencan pertama? Kenapa aku takut, malu, ingin ketemu, tapi juga ingin lari jauh-jauh. Tapi aku sudah bertekad. Ini saat yang tepat. Ini harus jadi saatnya. Perjumpaan pertamaku. Saat aku bertemu dengannya.

“Tapi bagaimana kalau dia tak suka penampilanku dan aku tak boleh bersamanya?”
Suara setan muncul bersama angin yang cukup kencang. Dingin. Kudekap kedua tangan. Lain kali harus bawa mantel.
“Bagaimana kalau aku nanti tak bisa berkata-kata? Kalau gagap? Jadi bisu? Atau tiba-tiba lupa ingatan seperti di sinetron-sinetron?” batinku penuh pertanyaan aneh.
“Bagaimana kalau uangku tak cukup untuk yang pertama kali ini? Aku pasti akan sangat malu sama dia. Tidak akan mau dia bertemu aku lagi” hampir menangis aku membayangkan.

Seorang Ibu muda berjalan melewatiku. Melempar pandangan ke arahku. Aku tersenyum. Ibu itu melengos pergi.
“Ah, ada sesuatukah di wajahku? Sial. Mungkin sebentar lagi dia datang.. Bagaimana ini? Huaaaa....” sekali lagi muncul suara-suara aneh di kepalaku.

Ku bersihkan wajahku. Seperti seorang gadis manis memakai bedak tabur di wajah. Ah, mudah-mudahan tidak ada apa-apa dengan wajahku. Pakaianku. Sendalku. Tas Plastik jinjinganku. Semoga semua beres.

Tiba-tiba berhenti di depanku. Sebuah mobil warna biru. Aku lihat nomornya. Persis.
Jantungku berdebar. Aku melangkah mantap.

Sial! Terlalu girang barangkali, tak sadar sendal jepit di kaki kiriku menginjak ujung depan sendal jepit di kaki kananku. Putus! Ya, sendal jepit sebelah kanan itu putus. Benar-benar sial di pertemuan pertama. Selain terlalu girang, sudah pasti ini karena hujan lebat yang membuat banjir jalanan ini. Kakiku jadi licin. Huh! Aku lalu melangkah dengan sendal jepit di tangan kanan dan tas plastik berisi penuh buah salah di tangan kiri.

Aku menatapnya. Jantungku makin berdebar kencang. Pipiku memerah.
Perlahan ku buka pintu mobilnya. Masuk. Dan duduk.
Jantungku masih berdebar. Semakin kencang. Wajahku yang tadi memerah pucat.
Ujung jari tangan dan kakiku dingin. Aku duduk di bagian tengah kursi waktu itu. Dingin sekali.
Sayup-sayup terdengar lagu dari tape mobilnya. Sahabat Jadi Cinta. Zigaz.
Tiba-tiba dia berbalik. Aku tersentak.

“Mau diantar kemana, dek?” sambil tersenyum, walau tatapan wajahnya tak bisa dibilang tidak kaget.

Kukuatkan hatiku, menjawab dengan mantap,
“ha’lan nu’nyu’be’lah ah’u’nus he’be’la’ han’no’u’be’nyu, a’so wo’wong...”
Tersenyum.

“Jalan tujuh belas agustus, sebelah kantor gubernur, masuk lorong??”
Kata bapak berkemeja biru dengan mantap.

Aku mengangguk tersenyum. Sambil mengacungkan jempol.
Dan taksi blue bird pun melaju di jalanan yang tertutup air, menembus hujan lebat yang sedari tadi siang mengguyur kotaku.

-The end-



Epilog

Aku Rini Surapanji. Umur 15 tahun. Aku penjual salak di daerah pusat kota.
Badanku kurus. Rambutku agak memerah. Aku juga seorang penderita bibir sumbing.
Tadinya aku tak mau naik taksi bluebird. Tapi hujan turun sangat lebat dan payung yang aku letakkan di samping salak-salak jualanku, terbang ditiup angin sampai ke dekat selokan di samping jalan raya. Ada bapak-bapak berseragam dan bersepatu lars (mungkin) tidak sengaja menyenggolnya, akhirnya payungku terjatuh masuk ke dalam selokan.
Jadi aku tak punya payung untuk pulang. Untunglah aku punya ide naik taksi. Sekalian ingin merasakan naik taksi blue bird, yang katanya paling bagus di kota ini. Syukurlah tadi jualanku agak lumayan. Walaupun masih ada yang salak yang tersisa.
Dua puluh tiga ribu lima ratus rupiah uang hasil jualanku.
Untunglah cukup membayar taksiku. Sembilan belas ribu.
Aku berikan selembar dua puluh ribu dan dua buah salak ke pak sopir, sambil berucap, “e’i’ma a’nyi..”



inspired by the rain,, taksi yg tak kunjung lewat saat tadi pulang kantor,, penjual salak di dekat kantor, dan para penjual payung yang gigih nawarin payung ke aku walo jelas2 aku pun pake payung.. :mpanas:

---------- Post added at 12:41 AM ---------- Previous post was at 12:36 AM ----------

maaf,,, gak bisa tidur,, jadinya bikin cerpen...
tadi minum kopi ada kali 3 cangkir.
rada senewen emang...

semoga berkenan di hati para penikmat gallery sastra sekalian... :msembah:

gitafh
19th February 2010, 03:18 AM
bagus kak, mestinya ikut lomba niy ^^, di ikutkan aja kak, kata bang sigit masiy bisa ^^

fixshine
19th February 2010, 03:57 AM
bagus kak, mestinya ikut lomba niy ^^, di ikutkan aja kak, kata bang sigit masiy bisa ^^

sdh ko, emang lomba kali ini aneh disuruh ngirim email ko malah pada buru2 diposting sendiri wekekeke
komennya kreatip2 andai nade ga banyak deadline pasti dah tertantang

nad3418
19th February 2010, 05:11 AM
kwa.. kwa.. kwa.. nice story ... though I think twistnya dipaksakan sejak awal. But still ... great ...

lanymm
19th February 2010, 05:26 AM
Terima kasih admin sudah menghapus postingan yg satu.. :p

gita, haduh, thank u, kayaknya ini masih jauh dari sempurna.

b'sigit, aku ndak niat ikut lomba sastra.. Belum levellah.. Sekedar berbalas pantun mungkin bisa.. Puisi2 pendek iya.. :mpanas: masih jauhh..

b'nade, hehe..keliatan gt ya? Honestly, feeling cewe disini tuh feeling gw tiap mo naik taksi..di jkt! Hahaha.. Krn gw gatau jalan. Jadi jantung berdebar kencang. Pucat. Kadang suka gagap. Celingak celinguk anek kek linglung. Hihihi..

Trima kasih semua untuk komen positifnya.. :msembah:

fixshine
19th February 2010, 07:56 AM
suka idenya sie kepanikan vs ketragisan jalanan nie klo diterusin sambung menyambung dng cerita2 kecil lain bisa kek puzzle makin seru entah nanti bentuknya kek gimana

lanymm
19th February 2010, 08:03 PM
suka idenya sie kepanikan vs ketragisan jalanan nie klo diterusin sambung menyambung dng cerita2 kecil lain bisa kek puzzle makin seru entah nanti bentuknya kek gimana

hhmm,,, :mmikir: kepanikan dan ketragisan jalanan....
keren tuhhh,,, apalagi jalanan ibukota,,, panik tragis dan bengis tuhhh... :mnyerah:

kalo dapat supir taksi bahlul,, udah gw gak ngerti jalan,, ditanya2 pake nada tinggi pula,,
hahhh,,, naik taksi sendirian di jakarta is always spooky for me... :mtengsin:

violace
22nd February 2010, 12:51 PM
kwa.. kwa.. kwa.. nice story ... though I think twistnya dipaksakan sejak awal. But still ... great ...

whua nice...
iya koq malah pada posting disini dulu... untung udah baca versi lomba yg dikirim b sigit sebelum baca disini...
senada ma b nade.. di awal ada beberapa clue yang terkesan maksa untuk menyesatkan pembaca kaya yang gini..


“Bagaimana kalau uangku tak cukup untuk yang pertama kali ini? Aku pasti akan sangat malu sama dia. Tidak akan mau dia bertemu aku lagi” hampir menangis aku membayangkan.

tapi ide n cara nulisnya cool...!
*like this*

lanymm
22nd February 2010, 02:16 PM
whua nice...
iya koq malah pada posting disini dulu... untung udah baca versi lomba yg dikirim b sigit sebelum baca disini...
senada ma b nade.. di awal ada beberapa clue yang terkesan maksa untuk menyesatkan pembaca kaya yang gini..



tapi ide n cara nulisnya cool...!
*like this*

he?? versi lomba??
emang ini dilombakan?? :mmikir: dilombakan gimana ceritanya?

btw,, menurut suhu cece dan suhu nade,, bagian mana sih yg terkesan maksa??
atau, mungkin kalo pake bahasa ABG, rada lebay?
mungin bisa ditunjukkan frase2 lebay itu yg mana..

anyway, thank u suhu for the comments.. :msembah:

Benny_BA
22nd February 2010, 09:57 PM
he?? versi lomba??
emang ini dilombakan?? :mmikir: dilombakan gimana ceritanya?

btw,, menurut suhu cece dan suhu nade,, bagian mana sih yg terkesan maksa??
atau, mungkin kalo pake bahasa ABG, rada lebay?
mungin bisa ditunjukkan frase2 lebay itu yg mana..

anyway, thank u suhu for the comments.. :msembah:

Bagiku, kak lan, just perfect!:mcengir:

lanymm
24th February 2010, 08:50 PM
Bagiku, kak lan, just perfect!:mcengir:

:msembah: ... thank u, beben... :p

violace
26th February 2010, 05:02 PM
he?? versi lomba??
emang ini dilombakan?? :mmikir: dilombakan gimana ceritanya?

btw,, menurut suhu cece dan suhu nade,, bagian mana sih yg terkesan maksa??
atau, mungkin kalo pake bahasa ABG, rada lebay?
mungin bisa ditunjukkan frase2 lebay itu yg mana..

anyway, thank u suhu for the comments.. :msembah:

Bukan gitu maksud gw lan..
Rada ga tau juga sie pendapat nya emang sama ama b nade ato ngga...
kaya yang gw quote dalam warna biru, terkesan nya maksa biar pembaca mikir dia mau ketemu pacar nya.
Ketakukan "Tidak akan mau dia bertemu aku lagi” kan irrelevan dengan sopir taxi
cuma pendapat gw yg pembaca biasa ajaaa...[COLOR="Silver"]

nad3418
26th February 2010, 05:10 PM
Idem Cece. Di awal aku merasa digiring untuk "disesatkan". Aku bukan suhu, hanya pembaca juga dan mengungkapkan perasaan yang muncul saat baca karya ini. Lanjutkan!

lanymm
26th February 2010, 10:03 PM
Bukan gitu maksud gw lan..
Rada ga tau juga sie pendapat nya emang sama ama b nade ato ngga...
kaya yang gw quote dalam warna biru, terkesan nya maksa biar pembaca mikir dia mau ketemu pacar nya.
Ketakukan "Tidak akan mau dia bertemu aku lagi” kan irrelevan dengan sopir taxi
cuma pendapat gw yg pembaca biasa ajaaa...

---------- Post added at 06:00 PM ---------- Previous post was at 06:00 PM ----------



Bukan gitu maksud gw lan..
Rada ga tau juga sie pendapat nya emang sama ama b nade ato ngga...
kaya yang gw quote dalam warna biru, terkesan nya maksa biar pembaca mikir dia mau ketemu pacar nya.
Ketakukan "Tidak akan mau dia bertemu aku lagi” kan irrelevan dengan sopir taxi
cuma pendapat gw yg pembaca biasa ajaaa...

---------- Post added at 06:02 PM ---------- Previous post was at 06:00 PM ----------



Bukan gitu maksud gw lan..
Rada ga tau juga sie pendapat nya emang sama ama b nade ato ngga...
kaya yang gw quote dalam warna biru, terkesan nya maksa biar pembaca mikir dia mau ketemu pacar nya.
Ketakukan "Tidak akan mau dia bertemu aku lagi” kan irrelevan dengan sopir taxi
cuma pendapat gw yg pembaca biasa ajaaa...


ckckck,,, semangat skali ce,, ampe triple gini? :mpanas:

nahh,, waktu dia nelpon kan nyebut nama, identitas, dan ketahuanlah dari suara ini anak bibir sumbing,, alamat tempat kerja juga tau (si operator taksi),, nah kalo uangnya gak cukup,, dan dia kurang bayarnya,, selain dimaki2 ancur ma supir taksi juga pasti diblacklist dong,, setidaknya itu aku mencoba berpikir seperti anak 15 tahun yang seumur2 blom pernah naik taksi dan baru denger dari orang2 naik taksi tuh kayak apa,,,
bukan supir taksi yg dimaksud,, tapi taksi bluebird itu,,


Idem Cece. Di awal aku merasa digiring untuk "disesatkan". Aku bukan suhu, hanya pembaca juga dan mengungkapkan perasaan yang muncul saat baca karya ini. Lanjutkan!

kesannya aku seperti penyesat :mpanas:
lanjutkan!!!