Yeyep Imoetz
15th October 2009, 11:16 AM
"Para penumpang yang terhormat, dalam beberapa menit lagi pesawat ini akan mendarat. Silakan duduk di kursi Anda masing-masing serta pasang sabuk pengaman Anda!" Sang pramugari memberikan informasi penerbangan melalui speakerphone di pesawat. Teddy memperbaiki sabuk pengamannya yang memang tidak pernah dia buka sejak duduk di pesawat ini. Pesawat yang membawanya pulang ke Kota Kayu. Pulang kepada Karen.
Karen, ada rasa bersalah terbersit di hati Teddy. Sejak kejadian malam itu, dia dan Karen tak pernah membicarakannya. Namun, Teddy tahu, Karen tidak akan pernah lupa.
Teddy teringat akan malam sebelum keberangkatannya ke Kota Buaya. Karen menjamu kepulangannya dari lembur di kantor dengan lingerie Fairy Princess lengkap dengan sayapnya. Lingerie cantik yang membuat tubuh putih dan mulus Karen makin memesona. Terbuat dari bahan kain putih yang lembut namun tembus pandang. Hanya ada ornamen dua bunga yang letaknya di puncak dada Karen. Menggemaskan.
Suami mana yang tidak bahagia ketika lelahnya mendera, dia pulang dan disambut istri dengan penuh gairah? Teddy tiba-tiba menjadi segar kembali. Karen berhasil mengembalikan gairahnya. Karen begitu cantik!.
Seperti biasa, Karen meraih tangan Teddy dan menciumnya. Namun, tak seperti biasa – Teddy mencium kening Karen – kali ini Teddy langsung meraih istrinya itu. Diciumnya bibir Karen. Yang dicium balas mencium. Makin lama makin dalam sehingga mereka berdua tidak ingat lagi dimana mereka. Teddy menggendong Karen menuju kamar mereka, gairah membuat Teddy hanya melihat Karen begitupun sebaliknya.
Dan tiba saat Teddy harus melakukan kewajiban sebagai suami terhadap Karen, wajah Karen langsung pucat. Teddy tahu, Karen pasti ketakutan sekarang.
"Karen, kamu mau punya anak?" Bisik Teddy lembut. Karen mengangguk cepat. Sisa rangsangan bertubi-tubi Teddy masih melekat di otaknya.
"Kalau gitu, tahan ya, Sayang!" Bimbing Teddy. Teddy pun membaringkan Karen. Dia melakukannya sepelan mungkin. Teddy tahu dia tidak bisa tergesa-gesa. Karen akan kesakitan bila dia tergesa-gesa. Dan semuanya akan berantakan. Percobaan enam bulan yang melelahkan.
Tiba-tiba Karen berteriak, "Aduuuhhh!!! Teddy, sakiiittt!!! Sakiiittt!"
"Tahan ya, Sayang! Tahan! Kamu pingin hamil, kan?" Teddy mencoba meredakan kepanikan Karen. Selalu begitu! batin Teddy. Namun, sekali lagi, setelah berulang kali, Karen menendang Teddy. Teddy termangu. Hilang sudah birahinya. Lemas sudah semuanya. Teddy merasa kesal sekali pada Karen. Selalu begini! Kata Teddy dalam hati.
"Salahku apa, sih? Kenapa kamu nolak aku terus, Ren?" Teddy sedikit membentak.
Karen terdiam, meringkuk di balik selimut, menutupi tubuhnya yang tak berbusana. Teddy melihat air mata Karen. Namun, entah kenapa kali ini dia tak tersentuh hatinya sedikitpun. Teddy merasa sudah jengah menghadapi semua ini.
"Aku gak nolak kamu, Ted. Aku kesakitan. Rasanya seperti sekarat." Jawab Karen tersedu,
"Ah, lebai! Mana ada orang bercinta sesakit itu?" Sahut Teddy kesal. "Ini sudah enam bulan, Ren! Aku malu ditanya terus sama teman-teman. Dianggap aku gak mampu bikin anak!"
Karen masih menangis. Teddy menarik selimut untuk dirinya dan tidur memunggungi Karen.
"Sudahlah! Gak usah nangis! Besok juga kamu pasti lupa!" Kata Teddy sebelum tidur.
"Aku gak akan lupa, Ted. Aku gak pernah lupa." Jawab Karen masih tersedu.
Karen benar. Teddy tahu siapa Karen. Teddy tahu Karen tidak akan pernah melupakan apapun yang berkaitan dengan masalah ini. Berapa kali mereka bercinta, dan gagal, berapa kali yang berhasil walau sedikit. Karen ingat semuanya. Termasuk rasa sakit membakar itu. Apa benar rasanya seperti orang sekarat?
Pesawat mulai bergoncang, pramugari menginformasikan bahwa pesawat melewati gugusan awan tebal. Rasanya seperti naik mobil di atas jalan makadam. Orang yang duduk di sebelah kanan dan kiri Teddy terbangun. Di kanan Teddy, di dekat jendela, duduk seorang gadis yang sepantaran adiknya yang masih kuliah semester tiga di ITS. Di kirinya, di dekat lorong, duduk bapak separuh baya yang sepertinya pernah menjadi mitra kerja perusahaan Teddy. Tapi Teddy tak ambil pusing dengan mengajak bapak ini mengobrol, Teddy tak ingat di mana dan kapan mereka bekerja sama. Lagipula, bapak ini tidur sepanjang perjalanan.
Pesawat masih bergoncang, Teddy teringat pada Karen. Sedang apa dia sekarang? Apakah dia menangis lagi setelah mengantarnya ke bandara? Rasa bersalah kembali mendera Teddy. Kalau sampai aku melihat mata Karen sembab saat menjemputku, akan kupeluk dan kucium dia saat itu juga! Aku gak peduli sama orang lain! Batin Teddy.
Saat pertama Teddy melihat Karen, dia langsung jatuh cinta kepada gadis itu, gadis yang aktif di organisasi kampus. Karen bukan gadis tercantik di kampusnya. Wajahnya rata-rata. Hanya saja, dia manis sekali. Senyumnya memesona Teddy. Dan setelah enam tahun berpacaran, mereka menikah. Sebelumnya Teddy mengira pernikahannya dengan Karen baik-baik saja, seperti layaknya kawan-kawannya yang lain. Sebulan setelah pernikahan, Karen akan hamil, dan melahirkan sembilan bulan kemudian. Apa salah dia sampai ini terjadi padanya dan Karen?
Pesawat terbang rendah, sebentar lagi mendarat. Wajah Karen terbayang oleh Teddy. Baru dua hari dirinya meninggalkan Karen, tapi rindunya tak tertahankan. Teddy menyadari, bagaimanapun keadaan Karen, dia mencintai istrinya. Dia mencintai Karen sehingga tak mungkin rasanya dia mengikuti kata-kata Karen untuk menikah lagi saat dirinya mengeluh akan ketidakmampuan Karen di atas ranjang.
"Mau sampai kapan kita seperti ini, Ren? Aku ingin merasakan yang suami lain rasakan. Dari sejak menikah sampai sekarang, aku tidak tahu bagaimana rasanya bercinta itu!"
Seperti biasa, Karen mulai menangis, sedih akan ucapan Teddy.
"Bukan maksudku, Ted. Aku juga ingin ngerasain yang kayak di tivi-tivi tuh. Perempuannya rasanya nikmatin banget! Aku pengen kayak gitu juga! Tapi gimana lagi? Sakitnya aku gak tahan, Ted!
"Gini aja lah, kalau kamu memang pingin banget ngerasain apa yang suami lain rasain, menikah sajalah lagi! Aku sadar aku yang gak bisa membahagiakan kamu. Aku ijinkan kamu menikah!" Karen berkata menggebu-gebu, dirinya lelah didera rasa bersalahnya.
"Dan kalau kamu merasa gak mampu punya dua istri, aku rela mengalah. Aku rela kamu ceraikan supaya kamu ngedapetin kebahagiaan yang kamu inginkan." Karen mengakhiri kata-katanya dengan masih menangis.
Teddy terdiam. Percakapan mereka tidak berakhir. Seperti biasa, mereka menganggap tidak ada apa-apa lagi. Selesai. Mereka pun melanjutkan hari seperti biasa. Malamnya bercinta seperti biasa, dan gagal seperti biasa.
Pesawat yang harusnya sudah mendarat tiba-tiba terbang kembali. Sang pilot tidak dapat menemukan celah di antara tebalnya awan agak pesawat mendarat dengan baik. Gadis di sebelah kanan Teddy gemetar, memegang rosarionya dan berdoa. Bapak sebelah kiri Teddy berkomat-kamit mengucapkan Doa Nabi Yunus. Semua penumpang panik.
Teddy malah teringat Karen. Akankah dia hidup untuk meminta maaf pada kekasihnya itu? Karen, maafkan aku.
Setelah beberapa kali berputar di udara, dan membuat semua penumpang panik, pesawat itu akhirnya mendarat. Teddy segera keluar di saat-saat pertama ia bisa keluar. Dicarinya Karen, ia merindukan Karen.
Wajah yang dirindukannya itu akhirnya muncul di sela-sela kerumunan penjemput. Teddy segera menghampiri Karen. Senyum Karen, senyum yang membuat Teddy nyaris menangis karena bersalah. Karen meraih tangan Teddy dan menciumnya. Teddy meraih Karen dan memeluknya, Erat.
"Maafkan aku, Sayang! Maafkan aku! Tahukah kamu betapa aku merindukanmu?" Seru Teddy memeluk erat Karen.
Karen hanya terdiam, sedikit tersenyum. Sebelum Teddy meminta maaf, Karen sudah memafkannya. Bagaimana tidak? Karen mencintai suaminya, bagaimana bisa karen tidak memaafkan Teddy.
Karen menyerahkan kunci mobil pada Teddy, Teddy meraihnya dan menggandeng tangan Karen untuk pulang. Ada janji di hati Teddy, dia akan menemani Karen sampai kapanpun. Dia akan sabar terhadap apa yang Karen hadapi. Dia tidak akan mengecewakan Karen lagi.
Karen, ada rasa bersalah terbersit di hati Teddy. Sejak kejadian malam itu, dia dan Karen tak pernah membicarakannya. Namun, Teddy tahu, Karen tidak akan pernah lupa.
Teddy teringat akan malam sebelum keberangkatannya ke Kota Buaya. Karen menjamu kepulangannya dari lembur di kantor dengan lingerie Fairy Princess lengkap dengan sayapnya. Lingerie cantik yang membuat tubuh putih dan mulus Karen makin memesona. Terbuat dari bahan kain putih yang lembut namun tembus pandang. Hanya ada ornamen dua bunga yang letaknya di puncak dada Karen. Menggemaskan.
Suami mana yang tidak bahagia ketika lelahnya mendera, dia pulang dan disambut istri dengan penuh gairah? Teddy tiba-tiba menjadi segar kembali. Karen berhasil mengembalikan gairahnya. Karen begitu cantik!.
Seperti biasa, Karen meraih tangan Teddy dan menciumnya. Namun, tak seperti biasa – Teddy mencium kening Karen – kali ini Teddy langsung meraih istrinya itu. Diciumnya bibir Karen. Yang dicium balas mencium. Makin lama makin dalam sehingga mereka berdua tidak ingat lagi dimana mereka. Teddy menggendong Karen menuju kamar mereka, gairah membuat Teddy hanya melihat Karen begitupun sebaliknya.
Dan tiba saat Teddy harus melakukan kewajiban sebagai suami terhadap Karen, wajah Karen langsung pucat. Teddy tahu, Karen pasti ketakutan sekarang.
"Karen, kamu mau punya anak?" Bisik Teddy lembut. Karen mengangguk cepat. Sisa rangsangan bertubi-tubi Teddy masih melekat di otaknya.
"Kalau gitu, tahan ya, Sayang!" Bimbing Teddy. Teddy pun membaringkan Karen. Dia melakukannya sepelan mungkin. Teddy tahu dia tidak bisa tergesa-gesa. Karen akan kesakitan bila dia tergesa-gesa. Dan semuanya akan berantakan. Percobaan enam bulan yang melelahkan.
Tiba-tiba Karen berteriak, "Aduuuhhh!!! Teddy, sakiiittt!!! Sakiiittt!"
"Tahan ya, Sayang! Tahan! Kamu pingin hamil, kan?" Teddy mencoba meredakan kepanikan Karen. Selalu begitu! batin Teddy. Namun, sekali lagi, setelah berulang kali, Karen menendang Teddy. Teddy termangu. Hilang sudah birahinya. Lemas sudah semuanya. Teddy merasa kesal sekali pada Karen. Selalu begini! Kata Teddy dalam hati.
"Salahku apa, sih? Kenapa kamu nolak aku terus, Ren?" Teddy sedikit membentak.
Karen terdiam, meringkuk di balik selimut, menutupi tubuhnya yang tak berbusana. Teddy melihat air mata Karen. Namun, entah kenapa kali ini dia tak tersentuh hatinya sedikitpun. Teddy merasa sudah jengah menghadapi semua ini.
"Aku gak nolak kamu, Ted. Aku kesakitan. Rasanya seperti sekarat." Jawab Karen tersedu,
"Ah, lebai! Mana ada orang bercinta sesakit itu?" Sahut Teddy kesal. "Ini sudah enam bulan, Ren! Aku malu ditanya terus sama teman-teman. Dianggap aku gak mampu bikin anak!"
Karen masih menangis. Teddy menarik selimut untuk dirinya dan tidur memunggungi Karen.
"Sudahlah! Gak usah nangis! Besok juga kamu pasti lupa!" Kata Teddy sebelum tidur.
"Aku gak akan lupa, Ted. Aku gak pernah lupa." Jawab Karen masih tersedu.
Karen benar. Teddy tahu siapa Karen. Teddy tahu Karen tidak akan pernah melupakan apapun yang berkaitan dengan masalah ini. Berapa kali mereka bercinta, dan gagal, berapa kali yang berhasil walau sedikit. Karen ingat semuanya. Termasuk rasa sakit membakar itu. Apa benar rasanya seperti orang sekarat?
Pesawat mulai bergoncang, pramugari menginformasikan bahwa pesawat melewati gugusan awan tebal. Rasanya seperti naik mobil di atas jalan makadam. Orang yang duduk di sebelah kanan dan kiri Teddy terbangun. Di kanan Teddy, di dekat jendela, duduk seorang gadis yang sepantaran adiknya yang masih kuliah semester tiga di ITS. Di kirinya, di dekat lorong, duduk bapak separuh baya yang sepertinya pernah menjadi mitra kerja perusahaan Teddy. Tapi Teddy tak ambil pusing dengan mengajak bapak ini mengobrol, Teddy tak ingat di mana dan kapan mereka bekerja sama. Lagipula, bapak ini tidur sepanjang perjalanan.
Pesawat masih bergoncang, Teddy teringat pada Karen. Sedang apa dia sekarang? Apakah dia menangis lagi setelah mengantarnya ke bandara? Rasa bersalah kembali mendera Teddy. Kalau sampai aku melihat mata Karen sembab saat menjemputku, akan kupeluk dan kucium dia saat itu juga! Aku gak peduli sama orang lain! Batin Teddy.
Saat pertama Teddy melihat Karen, dia langsung jatuh cinta kepada gadis itu, gadis yang aktif di organisasi kampus. Karen bukan gadis tercantik di kampusnya. Wajahnya rata-rata. Hanya saja, dia manis sekali. Senyumnya memesona Teddy. Dan setelah enam tahun berpacaran, mereka menikah. Sebelumnya Teddy mengira pernikahannya dengan Karen baik-baik saja, seperti layaknya kawan-kawannya yang lain. Sebulan setelah pernikahan, Karen akan hamil, dan melahirkan sembilan bulan kemudian. Apa salah dia sampai ini terjadi padanya dan Karen?
Pesawat terbang rendah, sebentar lagi mendarat. Wajah Karen terbayang oleh Teddy. Baru dua hari dirinya meninggalkan Karen, tapi rindunya tak tertahankan. Teddy menyadari, bagaimanapun keadaan Karen, dia mencintai istrinya. Dia mencintai Karen sehingga tak mungkin rasanya dia mengikuti kata-kata Karen untuk menikah lagi saat dirinya mengeluh akan ketidakmampuan Karen di atas ranjang.
"Mau sampai kapan kita seperti ini, Ren? Aku ingin merasakan yang suami lain rasakan. Dari sejak menikah sampai sekarang, aku tidak tahu bagaimana rasanya bercinta itu!"
Seperti biasa, Karen mulai menangis, sedih akan ucapan Teddy.
"Bukan maksudku, Ted. Aku juga ingin ngerasain yang kayak di tivi-tivi tuh. Perempuannya rasanya nikmatin banget! Aku pengen kayak gitu juga! Tapi gimana lagi? Sakitnya aku gak tahan, Ted!
"Gini aja lah, kalau kamu memang pingin banget ngerasain apa yang suami lain rasain, menikah sajalah lagi! Aku sadar aku yang gak bisa membahagiakan kamu. Aku ijinkan kamu menikah!" Karen berkata menggebu-gebu, dirinya lelah didera rasa bersalahnya.
"Dan kalau kamu merasa gak mampu punya dua istri, aku rela mengalah. Aku rela kamu ceraikan supaya kamu ngedapetin kebahagiaan yang kamu inginkan." Karen mengakhiri kata-katanya dengan masih menangis.
Teddy terdiam. Percakapan mereka tidak berakhir. Seperti biasa, mereka menganggap tidak ada apa-apa lagi. Selesai. Mereka pun melanjutkan hari seperti biasa. Malamnya bercinta seperti biasa, dan gagal seperti biasa.
Pesawat yang harusnya sudah mendarat tiba-tiba terbang kembali. Sang pilot tidak dapat menemukan celah di antara tebalnya awan agak pesawat mendarat dengan baik. Gadis di sebelah kanan Teddy gemetar, memegang rosarionya dan berdoa. Bapak sebelah kiri Teddy berkomat-kamit mengucapkan Doa Nabi Yunus. Semua penumpang panik.
Teddy malah teringat Karen. Akankah dia hidup untuk meminta maaf pada kekasihnya itu? Karen, maafkan aku.
Setelah beberapa kali berputar di udara, dan membuat semua penumpang panik, pesawat itu akhirnya mendarat. Teddy segera keluar di saat-saat pertama ia bisa keluar. Dicarinya Karen, ia merindukan Karen.
Wajah yang dirindukannya itu akhirnya muncul di sela-sela kerumunan penjemput. Teddy segera menghampiri Karen. Senyum Karen, senyum yang membuat Teddy nyaris menangis karena bersalah. Karen meraih tangan Teddy dan menciumnya. Teddy meraih Karen dan memeluknya, Erat.
"Maafkan aku, Sayang! Maafkan aku! Tahukah kamu betapa aku merindukanmu?" Seru Teddy memeluk erat Karen.
Karen hanya terdiam, sedikit tersenyum. Sebelum Teddy meminta maaf, Karen sudah memafkannya. Bagaimana tidak? Karen mencintai suaminya, bagaimana bisa karen tidak memaafkan Teddy.
Karen menyerahkan kunci mobil pada Teddy, Teddy meraihnya dan menggandeng tangan Karen untuk pulang. Ada janji di hati Teddy, dia akan menemani Karen sampai kapanpun. Dia akan sabar terhadap apa yang Karen hadapi. Dia tidak akan mengecewakan Karen lagi.