PDA

View Full Version : Apapun Untukmu (Sebuah Cerminan Cinta Sepenuh Hati)



Yeyep Imoetz
13th October 2009, 05:39 PM
Karen termangu di depan cermin. Dipandanginya bayangan suaminya yang tertidur pulas dibungkus selimut. Air matanya mulai menetes kembali.

Enam bulan sudah sejak hari pernikahan mereka. Namun, tak satu hari pun dalam enam bulan itu, Karen maupun suaminya merasakan kebahagiaan sepasang manusia dewasa dalam pernikahan. Semua bermula pada malam pertama, saat pertama kali Karen menjalankan tugas sebagai seorang istri. Karen bisa mengingat semuanya. Ternyata membuat anak itu sangat menyiksa.

Karen dapat mengingat semuanya bagaikan hal itu terjadi semenit yang lalu. Sakit yang membakar yang berasal dari dalam kemaluannya, menjalar ke kedua kakinya juga ke kepalanya. Karen merasa seperti sedang bergulat dengan Malaikat Maut.

Sejak saat itu, sesi bercinta dengan suaminya pasti diakhiri dengan ketakutan dalam diri Karen. Awalnya Teddy, suami Karen, sangat sabar, "Kita coba lagi besok, ya!" Ucap Teddy. Tapi lama kelamaan Teddy menunjukkan sikap tidak suka dan sikap itu makin kentara seiring berjalannya waktu. Karen tidak menyalahkan Teddy. Sudah enam bulan! teman-teman Karen yang menikah hampir berbarengan dengannya sudah hamil dan menghitung bulan kelahiran. Tinggal dia yang tak ada kabar. Bagaimana bisa ada kabar? Bahkan bercinta saja mereka tidak sempurna.

"Karen, gimana kabarmu, Nak? Sudah haid bulan ini?" Itu pertanyaan yang selalu diucapkan Umah, ibu Karen, saat menelepon dirinya. Membuat beban Karen bertambah saja!

"Aku malu ditanya terus sama teman-teman. Dianggap aku gak mampu bikin anak!" Kalimat itu keluar dari Teddy, suaminya.

Sekali lagi Karen tidak bisa menyalahkan Teddy. Dia sudah begitu sabar terhadap Karen. Wajar kalau sekarang Teddy mulai merasa jengah mengingat Karen sama sekali tak ada kemajuan.

Karen kembali memandangi wajahnya di cermin. Dia berwajah manis. Nyaman dilihat, paling tidak. Reproduksi normal, biologis mendukung, haid teratur. Empat dokter spesialis OG yang didatanginya mengatakan tidak ada masalah dengan kandungannya. Semua kembali kepada Karen.

Semua kembali kepada Karen!

***

Toyota Yaris perak itu membelok kearah yang berlawanan dengan rumah Karen. Walaupun Teddy sudah melarang Karen konsultasi ke DSOG lagi, Karen merasa dia harus pergi. Di kotanya ada lima DSOG, dan dari lima itu empat sudah didatanginya. Masih ada harapan satu DSOG lagi, siapa tahu dia memberikan solusi yang masuk akal yang tidak hanya "kembali kepada Anda!" Karen bicara dalam hati.

Setelah mengantarkan Teddy ke bandara untuk dinas luar ke Kota Buaya, Karen yang belum minta ijin Teddy untuk berkunjung ke DSOG terakhir di Kota Kayu itu memutuskan tetap berkunjung walau tanpa ijin. Karen memarkir Toyota Yaris peraknya di hadapan Apotek Risca, tempat dr. Eko, Sp.OG praktik. Setelah menunggu beberapa saat, nama Karen pun dipanggil.

Dokter Eko ternyata sudah separuh baya umurnya, sekitar 45 tahunan. Kulitnya kuning, seperti layaknya kulit orang asli Kota Kayu. Padahal kalau dilihat dari namanya, nama Eko bukan nama yang lazim di Kota Kayu ini. Sang dokter begitu ramah menyambut Karen.

"Apa yang bisa saya bantu, Bu?" Sapa dr. Eko.

"Saya selalu merasakan kesakitan saat intercouse, Dok." Jawab Karen. Dia merasa tak ada gunanya bertele-tele dan malu-malu seperti yang sudah dia lakukan kepada empat DSOG sebelumnya. Karena malu-malu itulah, Karen mendapatkan jawaban yang sangat tidak memuaskan.

Sang dokter hanya memandang Karen. Lalu dia mengajukan beberapa pertanyaan sederhana. Karen menjawab semuanya juga mengatakan bahwa dokter tersebut adalah DSOG kelima yang dia datangi. Maksudnya, tolong, jangan ulangi nasihat DSOG-DSOG sebelumnya.

Ketika sang dokter tiba pada ucapan: "Semua kembali kepada Anda, Nyonya Karen!" Karen tak mampu lagi membendung air matanya. Dia menangis. Dengan tersedu Karen bercerita bahwa semua dokter berkata demikian dan tak satupun memberikan solusi.

"Beri saya obat, apa saja, Dok! Yang membuat saya tidak lagi merasakan sakit. Apa saja! Walaupun dengan obat itu ternyata saya tidak merasakan apa-apa, saya tidak peduli! Saya ingin menyelamatkan rumah tangga saya, Dok! Beri saya obat, Dok!" Rengek Karen tersedu-sedu. Itulah alasan Karen berangkat ke DSOG, dia ingin meminta resep obat yang membuat dirinya sama sekali tidak merasakan sakit saat bercinta. Walaupun untuk itu dia tidak akan merasakan apa-apa. Karen tak peduli. Dia hanya memikirkan suaminya. Karen mencintai Teddy dengan sepenuh hatinya.

"Nyonya Karen, saya tidak dapat menganjurkan obat apapun untuk Anda. Maaf sebelumnya, apa Anda sudah pernah berkonsultasi dengan psikiater?"

Karen menggeleng. Psikiater? jelas belum pernah. Dokternya orang gila, kan?

"Nyonya Karen, apa yang Anda alami sudah masuk dalam lingkup psikologi. Dan itu bukan bidang saya lagi. Begini saja, Anda saya rujuk ke seorang psikiater, bagaimana?"

Karen mengangguk lemah. Apapun itu, asal dia sembuh. Walaupun harus berurusan dengan dokternya orang gila! Karen membatin.

***

Apotek Tessa rupanya tidak terlalu besar. Hari itu juga setelah keluar dari ruang praktik dr. Eko, Sp.OG, Karen melajukan mobilnya menuju Apotek Tessa untuk bertemu sang psikiater. Karen bahkan tidak tahu siapa nama psikiater itu.

Karen melihat papan plang nama-nama dokter yang praktek di apotek itu. Salah satunya berbunyi "dr. Enade, Sp.Kj." Itu pasti dokternya! batin Karen. Karen pun masuk ke dalam apotek itu dan mendaftarkan diri. Dirinya adalah pasien pertama sang dokter rupanya.

Ruangan praktik dr. Enade ternyata sangat sempit. Hanya ada sebuah ranjang pasien dan sebuah meja dokter yang tidak seperti dokter-dokter lain yang mejanya sangat penuh dengan berkas, meja dr. Enade sangat bersih, seakan sang dokter sangat santai dalam bekerja.

Di hadapan dr. Enade karen duduk dan menyerahkan surat rujukan dari dr. Eko, Sp.OG.

"Jadi, apa keluhan Anda?" Tanya dr. Enade, walaupun telah membaca surat rujukan tadi.

"Dokter Eko sudah menceritakan semuanya dalam surat rujukan itu!" Jawab Karen menahan air mata.

"Betul. Tapi Anda harus tetap bercerita pada saya! Saya sama sekali tidak dapat membantu Anda apabila Anda tidak terbuka pada saya." Jawab sang dokter.

Cerita Karen pun mengalir deras. Sang dokter kadang menghentikan ceritanya untuk membuat catatan. Karen menangis dalam ceritanya. Sang dokter melakukan beberapa pemeriksaan terhadap tekanan darah Karen.

"Nyonya Karen, ada sedang mengalami depresi seksual. Untuk menyembuhkannya, bukan hanya Anda yang datang berkonsultasi. Saya harap konsultasi berikutnya, suami Anda datang bersama Anda untuk berkonsultasi bersama.

"Saat ini saya akan memberikan resep untuk Anda. Ingat, ini obat psikotropika! Jadi Anda harus mengonsumsinya sesuai dengan resep yang saya berikan!" Jelas dokter Enade kepada Karen.

Karen menunduk. Sungguh aneh kehidupan yang dijalaninya. Dokter spesialis kejiwaan dan obat psikotropika? Hal-hal yang tidak pernah dibayangkan Karen sebelumnya.

***

Xanax, itu nama obat yang diresepkan dr. Enade pada Karen. Diminum sekali sehari di malam hari sesudah makan. Harus sesuai resep yang diberikan!

Karen menghela nafas. Memangnya apa yang dipikirkan dokter itu? aku minum xanax lebih dari sekali sehari? Emangnya aku mau mabuk?

Namun, ada hal lain yang berkelebat di pikiran Karen. Ya, dr. Enade tahu bahwa Karen ragu meminumnya. Karena itu sang dokter memerintah Karen untuk mengonsumsi obat itu. Demi Karen sendiri.

Malam itu, Karen masih sendirian. Teddy baru akan pulang besok. Karen meminum sebutir xanax dengan air putih dan berangkat tidur. Terucap dalam doa sebelum tidurnya, doa keselamatan untuk suaminya, juga dirinya. Doa kebahagiaan untuk suaminya, juga dirinya. Karen akan melakukan apapun, apapun, untuk kebahagiaan Teddy, suaminya.

bani
13th October 2009, 06:34 PM
terus? lanjutannya apa kak?
*hehehehhe....jadi keinget tret cerbung deh :p

ada om teddy....ada mang eko....ada dr. enade.....
klo karen?
:mmikir:

violace
13th October 2009, 07:49 PM
True story..?
Wew..

lanymm
13th October 2009, 09:20 PM
minum xanax bukannya malah lebih "berat" ke tidur ya? :mmikir:
tar gak bisa bikin anak lagi... hehe...
good job yep,, ditunggu sambungannya... :p

lanymm
13th October 2009, 09:43 PM
kayak kisah temen gw...
nikah nov 2007,, baru hamil sekitar feb 2009

bukan karna gak subur, tapi butuh waktu lama untuk "gol"
yeah,, you all know what I mean...

dia bahkan cerita, "gila lann,, sakit banget,, ampe bedarah-darah..."
gw bilang "anjriiit,,, ngape cerita ke gw??? bikin ilfil aja,,, kan jadi takut juga"
:mpanas:

kami, teman2 segeng, nyaranin untuk honeymoon kemanaaa, biar relax..
kami sarankan untuk tinggal misah dari ortu
dan berbagai saran lainnya...
untunglahhh,,, bisa hamil juga sebelum muncul saran ke psikiater :p

fixshine
13th October 2009, 09:59 PM
bagus :) cmn kurang HOT, hrs lebih berani lagi explorenya
ya sastra memang begitu

lanymm
14th October 2009, 06:37 AM
bagus :) cmn kurang HOT, hrs lebih berani lagi explorenya
ya sastra memang begitu

kalo kurang hot, gimana kalo baca cerpen ini di deket kompor bang... :p
dijamin hottt...


:mngacir:....

Yeyep Imoetz
14th October 2009, 08:41 AM
terus? lanjutannya apa kak?
*hehehehhe....jadi keinget tret cerbung deh :p

ada om teddy....ada mang eko....ada dr. enade.....
klo karen?
:mmikir:

Masih belum kepikiran ada lanjutannya... hehehe... kan ceritanya si Teddy masih ke Kota Buaya...

Karen? gak tau deh dari mana datengnya... sebenarnya pokoknya tokoh utamanya adalah Karen, nama-nama lainnya nyatut dari forum :p

Yeyep Imoetz
14th October 2009, 08:42 AM
True story..?
Wew..

Alhamdulillah bukan, Kak :mgeer:

Yeyep Imoetz
14th October 2009, 08:45 AM
minum xanax bukannya malah lebih "berat" ke tidur ya? :mmikir:
tar gak bisa bikin anak lagi... hehe...
good job yep,, ditunggu sambungannya... :p

Oh, xanax untuk menenangkan kan kak? hehehe... cuma sedikit paham plus sotoy soalnya, coz baru gu(g)ling-gu(g)ling dikit n nemu judul obat psikotropika lucu.. xanax :p

Jelas gak bisa bikin anak kak... kan Teddy lagi di Kota Buaya.. :mgeer:

Yeyep Imoetz
14th October 2009, 09:04 AM
bagus :) cmn kurang HOT, hrs lebih berani lagi explorenya
ya sastra memang begitu

:p:p:p
Kan ini cerpen "deket kompor" pertama saya, Bang...

Masih belajar lah,,, Kebetulan gas di rumah lagi abis, jadi mungkin untuk beberapa saat ke depan, belum bisa bikin cerita hot lagi :p

Nanti saya coba eksplor lagi deh bang...

fixshine
14th October 2009, 12:35 PM
saran-nya pakai metafora2 biar indah

nad3418
14th October 2009, 07:31 PM
Nice story ... Tapi bagiku ini masih berupa plot yang bisa dikembangkan lebih manis. :mbisik:

Eh iya itu Apotek Tessa atau Tasya?

asri.putri.xii
14th October 2009, 10:25 PM
Cerpen orang gede ya :mcengo:

:mngacir:

Yeyep Imoetz
15th October 2009, 09:06 AM
Nice story ... Tapi bagiku ini masih berupa plot yang bisa dikembangkan lebih manis. :mbisik:

Eh iya itu Apotek Tessa atau Tasya?

demi dr. Enade, Sp.Kj. nama apoteknya diubah jadi Apotek Tessa :mgeer:

Mohon bimbingannya ya Master... :mmohon:

Yeyep Imoetz
15th October 2009, 09:12 AM
Cerpen orang gede ya :mcengo:

:mngacir:

Gak kok Sri... cerpen kita semua nih... :mbisik:

Benny_BA
15th October 2009, 09:14 PM
xanax...

familier...

enak tuh...

btw, emang bener bikin nagih yha?

Egtheasilva Artella
18th October 2009, 02:17 AM
merasa terpanggil....:mlewat::mlewat::mlewat:

fixshine
18th October 2009, 12:19 PM
tessa tessa

Yeyep Imoetz
19th October 2009, 08:24 AM
xanax...

familier...

enak tuh...

btw, emang bener bikin nagih yha?

kamu tau xanax? bentuknya gimana? rasanya gimana?

Benny_BA
19th October 2009, 08:27 AM
kamu tau xanax? bentuknya gimana? rasanya gimana?

saya japri yah kak....:mbisik: