PDA

View Full Version : Chaos Generasi Perut



sofyantoro_fajar
21st August 2009, 10:45 PM
Negeri ini tidak pernah sekacau ini. Presiden mengumumkannya sebagai bencana nasional dan membentuk panitera khusus yang anggotanya tidak main-main. Ilmuan dari luar negeri dipanggil pulang, teknisi terpilih dengan pengalaman terbaik.Chaos.

Rakyat menjarah pusat junk food impor. Segerombolan orang mengadakan demonstrasi tak terkendali. Petani dan anteknya. Hanya untuk satu tuntutan.

?


Seakan tidak pernah cukup dengan nikmat yang diberikan, negeri ini terus meminta lebih. Kata-kata terakhir sebelum ibunya pergi ini yang membuat Peta bersumpah lima belas tahun yang lalu. Sumpah membalas dendam terhadap orang-orang negeri ini. Dari tingkat presiden sampai pengemis. Bukan balas dendam dalam kemasan biasa. Peta sudah berikrar. Dan dia pasti mewujudkannya.

Pusat junk food impor dijarah besar-besaran hanya menjadi satu dari sekian target yang tertulis dalam benak Peta tentang rancangan balas dendamnya. Pengunduran diri presiden. Target berikut yang harus diraihnya, Peta pampang di setiap dinding di kontrakan seluas ruang kelas itu.

?


Kita harus bertahan walau apapun yang terjadi. Ani mengobarkan pidato kebiasaannya didepan anak buahnya. Sudah dua bulan sejak pertama kali mereka merencanakan mogok. Bukankan kita sudah kekurangan bahan makanan juga? Kata yang paling kecil di antara mereka berseratus. Tidak, itu hanya perkiraanmu saja, Ani menyangkal. Ini hanya masalah waktu sampai pemerintah menyerah dan tunduk kepada kita. Menyerah! Hidup kita!.

Ilmuan hasil didikan luar negeri yang menjadi pemimpin tim khusus presiden akan mengadakan konferensi pers hari ini. Sambil berdeham tiga kali, ilmuan itu mulai bicara. Saudar-saudaraku sebangsa dan setanah air yang sangat kami cintai dan kami banggakan. Kesabaran presiden terbukti pendek, pengawalnya menekankan moncong pistol ke ilmuan senior itu untuk segera mempercepat pengumumannya.

Baik, baik, akan segera saya umumkan. Baik. Jadi kesimpulan atas investigasi wabah padi hijau abadi ini adalah tidak ada solusinya. Presiden terganga. Peta mengelus dada. Ina bersorak. Sekali lagi saya umumkan. Wabah ini belum bisa ditangani. Presiden merah padam dan segera meninggalkan podium. Sang ilmuan melenggang dengan santai ke mobil mewah pribadi yang diberikan presiden beberapa hari lalu. Didalamnya sudah ada dua karung beras yang diterima sopirnya dari orang asing. Untuk bosmu atas kerjasamanya. Orang asing itu hanya berpesan seperti itu.

?


Oke, kita harus segera mengambil kesempatan ini dan mengambil alih pemerintahan. Salah satu anggota seniornya mendesak Ani untuk segera bertindak dan memanfaatkan momentum ini. Tapi bukankah tujuan kita hanya meminta pemerintah mememenuhi tuntutan kita itu? Ani masih ragu dengan maksud sebenarnya dari demonstrasi yang sudah dilakukannya selama dua bulan ini.

Dimulai dengan penerbitan surat ancaman mewujudkan “krisis pangan yang belum pernah ada dalam sejarah“ melalui media massa, Ani meminta pemerintah melaksanakan permintaannya dan teman-teman mantan petaninya. Pemerintah hanya menganggapnya sebagai ancaman kosong dan tidak menghiraukannya. Surat tantangan kedua langsung ditujukan kepada presiden yang isinya masih sama tentang ancaman krisis pangan terburuk yang pernah ada. Semula presiden hendak melakukan negoisasi tetapi atas permintaan dewan penasihat spiritualnya, beliau mengurungkan niatnya. Ani sudah muak dan Peta segera memanfaatkan kesempatan ini untuk bertindak dan menyebarkan virus padi hijau abadi ini ke daerah sentra pertanian di sebelah barat ibu kota. Ancaman itu terbukti dan reaksi masyarakat melebihi perkiraan Ani.

Lain halnya dengan Peta yang sudah memperhitungkan segala kemungkinan bahkan yang terburuk sekalipun. Reaksi masyarakat yang menjadikan lahan padi hijau abadi hasil ancaman Ani sebagai objek wisata membuat Ani geram. Presiden meminta staf penelitiannya mensurvei daerah korban tersebut dan menganggapnya sebagai sebuah anomali alami.

Tanpa bersabar lagi, ancaman virus padi hijau abadi disebar Ani dan kroninya ke seluruh negeri dengan menggunakan pesawat terbang. Peta merasa Ani sudah tidak perlu didikte lagi karena tindakannya yang emosional sudah diperkirakan sebelumnya. Seluruh negeri segera geger dan gempar dengan padi yang tidak mau masak dan tetap berwarna hijau. Media membesar-besarkan isu krisis pangan dan harga beras di pasaran pun langsung melonjak 500 persen. Rakyat kebingungan. Tidak ada lagi hamparan sawah yang menguning. Chaos.

?


Sebenanrnya Ani sendiri masih bimbang langkah apa yang seharusnya dia ambil. Tekanan dari segenap pihak senior memaksanya mengambil keputusan untuk turut menjatuhkan wibawa presiden dengan melakukan kudeta. Entah siapa yang memulai, tetapi mantan petani-pertani di lumbung itu bergerak dan berdemonstrasi membuat kekacauan. Aduh, sebenarya apa yang harus kulakukan. Ani masih bingung.

Tim khusus presiden juga masih belum menyerah begitu saja. Riset lanjutan segera dilakukan meneruskan penelitian ilmuan kepala yang sekarang sudah tidak diketahui keberadaannya itu. Akibat virus hijau ini, selama beberapa dekade ke depan, semua padi yang ditanam akan tetap berwarna hijau sampai layu dan kemudian mati atau hanya menjadi makanan hama saja. negeri ini semakin eksis saja dengan ke-zamrud-annya, batin presiden. Semakin hijau dan semakin hijau yang dulu menjadi target, sekarang malah menjadi hal yang disesali.

?


Massa yang dikerahkan Ani pagi ini sudah merangsek masuk ke dalam pelataran gedung pemerintahan. Padi yang disabet paksa dari sawah di sepanjang jalan menuju gedung pemerintahan yang masih berwarna hijau ditumpuk menggunung dan dibakar secara besar-besaran di halaman gedung pemerintahan. Rakyat yang sudah bosan dengan makanan non-dalam negeri seperti roti dan gandum juga terbakar emosinya dan turut melakukan tindak anarkisme. Selamatkan bangsa! Selamatkan Petani negeri ini! Kembalikan beras kami!! Teriakan yang seakan merobek langit ini mau tidak mau memenuhi telinga presiden yang masih bersembunyi di dalam gedung pemerintahan.

?


Peta melemparkan bom molotov ke tengah kobaran api yang masih melahap tumpukan padi hasil virus hijau di depan gedung pemerintahan itu. Lihatlah ibu, negeri yang tidak pernah puas ini akan segera berakhir, kau pasti sedang tersenyum melihatnya kan?

Teriakan semakin menjadi di antara demonstran yang menuntut agar presiden keluar dan mengumumkan pengunduran dirinya karena sudah dianggap tidak becus melakukan tugasnya. Keluar kau presiden busuk! Lihatlah rakyar yang kau sia-siakan karena kau anak tirikan petaninya dulu! Dua bulan yang lalu tidak akan terjadi hal seperti ini kalau kau dan pemerintahanmu yang bobrok itu mencukupi pupuk mereka, menaikkan harga hasil pertanian. Keluar kau presiden busuk! Orasi yang provokatif dari kacung kanan Peta tersebut semakin membakar semangat massa untuk menumbangkan rezim presiden saat ini. Setiap kata yang menuntut lengsernya akan disambut massa yang sebagian besar adalah mantan petani itu dengan teriakan dan takbir.

Muka presiden memerah ketika tidak ada keputusan akhir selain memenuhi tuntutan para demonstran itu. Dengan lunglai presiden menemui Ani sebagai perwakilan mantan petani dan membaca draft tuntutan para demonstran tersebut. Point ketiga aku tidak bisa memenuhinya, seru presiden setelah beberapa menit berdebat dengan penasihat spiritualnya. Ani dan kelompoknya gusar, segera diadakan rapat darurat tentang penolakan dari presiden tersebut. Saya tidak mau mengundurkan diri. Jika saya mengundurkan diri, siapa yang akan memenuhi dua tuntutan kalian lainnya, lanjut presiden.

Setelah berdiskusi sekian lama, Ani akhirnya mencapai kesepakatan dengan perwakilan mantan Petani lainnya. Hanya dua tuntutan yang akan dipenuhi dan mereka akan memberikan vaksin untuk mempercepat pematangan padi yang sudah menghijau selama dua bulan di ibukota saja. Untuk daerah lain, tim ilmuan presiden akan diberikan sampel vaksin untuk diperbanyak secara mandiri.

Oke, kita sepakat. Presiden dan Ani sebagai perwakilan mantan petani bersalaman. Sorak sorai demonstran membahana dan merobek langit untuk kedua kalinya. Peta terduduk dan menangis. Bukan seperti ini hasil yang dia harapkan. Bukan seperti ini hasil yang dia rancang dua bulan lalu. Kenapa negeri ini tidak hancur saja? Teriakannya tertelan arus massa yang bergelombang ke depan.

Oke, kami akan memenuhi permintaan kalian yang pertama untuk membebaskan rekan-rekan kalian yang kami tahan selama dua bulan ini. Dan untuk tuntutan kalian yang kedua akan kami usahakan penuhi selama dua bulan ke depan. Tuntutan yang jujur mengagetkan saya bahkan sebagai seorang presiden. Tuntutan untuk menjamin agar tiga generasi di bawah kalian tidak akan begitu miskin sampai terpaksa harus menjadi petani.

Peta masih tertegun. Terbayang ibunya yang menangis.

Ani bersorak.

Presiden terburu-buru pergi.

?


Negeri ini siapa yang punya. Kita. Negeri ini siapa yang punya. Kita.Negeri ini siapa yang punya. Kita.

Lagu teriakan demonstran mantan Petani memenuhi atmosfer negeri ini.


Ditengah kuliah percobaan teknologi tani senin pagi.


07.45_selesai

nad3418
22nd August 2009, 02:08 PM
Nice .......................

fixshine
23rd August 2009, 05:18 AM
he2
khas cirinya spt tulisan yg dulu

cityca
23rd August 2009, 08:19 AM
kereeenn...... :)

violace
15th October 2009, 12:47 PM
Baru baca..
Kuat....