goesgoes
22nd July 2009, 02:54 AM
* Malam yang sepi di sebuah ruang. Bulan yang tak terlalu terang membuat ruang itu cukup remang-remang. Sebuah speaker putih yang terhubung dengan sebuah radio mengeluarkan bunyi-bunyi yang mengisi udara di ruang tersebut, memecah keheningan yang tercipta sedari tadi. *
“Ada Nita di Plesiran yang request lagu “Tak Ada yang Abadi”-nya Peterpan nih. OK, sekarang gw puterin lagu ini khusus buat Nita”
. .Begitulah kalimat penyiar radio yang sering kudengar via HP ini. Aku suka mendengarkan radio, tapi aku tak pernah sekali pun mengirimkan sms request maupun kirim salam. Volume speakerpun kuperbesar. Aku cukup suka mendengarkan lagu ini.
….
Tak 'kan selamanya
tanganku mendekapmu
Tak 'kan selamanya
Raga ini menjagamu
Jiwa yang lama segera pergi
Bersiaplah para pengganti...
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
….
. .Sepenggal lirik yang bagiku memiliki arti yang sangat dalam. Cukup dalam ketika kuresapi akhir-akhir ini. Alunan nada yang terdngar membawaku kembali mengingat-ingat memori yang ada di otak ini.
***************
* Sebuah kelas terletak di bagian selatan sekolah yang ukurannya tak terlalu besar, bahkan cukup kecil untuk ukuran sekolah ternama dikota itu. Empat puluh tiga orang siswa yang tengah gaduh karena sebuah permainan kecil, menyisakan seorang siswa dalam sepinya. *
. .Aku duduk termenung sendiri, melihat suasana di luar kelas dari jendela di dekat bangkuku. Teman-temanku yang sedang heboh karena guru yang seharusnya mengajar tidak datang. Beginilah aku, selalu sepi sendiri di tengah ramai. Tak banyak yang tahu bahwa aku begini. Mereka hanyalah mengenal aku dari topeng “tawa”,”senyum”,”senang” dan berbagai ekspresi positif tanpa mengenal aku yang sebenarnya lebih banyak mengenakan topeng “muram”,”sedih” dan juga “tangis”.
. .“Heiii…..ngelamun aja disiang bolong, ntar kesurupan loh”, canda teman sebangkuku yang menjabat posisi ketua kelas. Yurri, siapa sih yang nggak kenal dia. Pintar, berbakat di bidang seni, eksis di PMR dan lain-lain. Nggak salahlah kalo dia yang jadi ketua kelas. Oh, aku lupa bercerita bahwa aku adalah seorang wakil ketua kelas. Itulah mengapa kami duduk berdua. Cuma karena aku duduk sebangku, tidak ada alasan yang lebih reasonable.
. .Walaupun aku tahu, sebenernya aku dipilih karena aku tipe orang yang dengan mudah menyanggupi permintaan teman-teman sekelas. Yang disuruh ngambil kertas buat ujian lah, bikin jadwal-jadwal dan ngetikin plus motokopiin buat sekelas yang bahkan uangnya tidak diganti, ataupun ngerjain PR yang tinggal dicontek besok paginya. Huh…aku terkadang sebal namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya dengan cara inilah aku dapat eksis dan “dilihat” oleh teman-temanku.
. .“Ah…elu…pinter-pinter masih percaya takhayul aja…he…he…”, hanya kalimat itulah yang bisa kukeluarkan. Aku memang sering merenung ketika tak banyak orang tahu, karena akan lebih sakit jika mereka mengetahuinya. Mereka tak mungkin membantuku, yang ada justru mereka malah senang dapat bahan bercandaan baru tentang masalah-masalahku ataupun sebagian yang cuek bebek denganku yang sering mereka perintah-perintah layaknya seorang pelayan.
. .Mereka yang sering curhat segala macam hal ke aku karena mereka bilang aku orangnya enak diajak sharing, tapi terkadang malah tak pernah mendengarkan isi hatiku. Mereka hanya ingin berbagi masalah tanpa mau berusaha mencari solusinya sendiri. Terkadang yang ada hanyalah menyusahkanku dengan menambah beban pikiranu. Bukannya aku pamrih, tapi aku hanya ingin dimengerti terkadang. Tapi,biarlah, aku juga tidak terlalu berharap didengar.
***************
. .Ternyata pindah ke kota seramai Bandung juga tidak mengubah kisah hidupku. Kini hidupku semakin terkotak-kotak. Duniaku dengan teman-temanku tidak dapat kuselaraskan dengan dunia dengan keluargaku. Keduanya ada di semesta yang berbeda dan usaha yang telah kucoba benar-benar tidak berhasil. Kini aku tinggal sendiri sedangkan kakakku di Surabaya. Kedua orang tuaku resmi bercerai saat aku lulus SMA dan tak pernah ada kabarnya lagi.
. .Aku sekarang melanjutkan studi di kampus yang terkenal dengan biayanya yang amat mahal. Beruntung ditahun pertama kakak masih memiliki simpanan dari ibu jadi biaya kuliahku tidak terlalu menjadi beban. Tapi ditahun kedua ini, semua serba berbeda. Uang simpanan sudah habis dan gaji kakakku hanya cukup untuk hidup kita berdua. Aku sudah berusaha mencoba mencari beasiswa sejak tahun pertama namun apa daya, aku tak bisa karena aku masuk melalui jalur khusus. Aku juga sudah berniat ingin bekerja sambil kuliah, tapi kakakku melarang karena melihat kondisi nilai dan juga kesehatanku yang juga memburuk akhir-akhir ini. Kakakku khawatir nilaiku akan semakin jelek dan aku akan jatuh sakit yang bakal membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk berobat.
. .Yang aku bisa hanya belajar segiat mungkin agar nilaiku tidak menurun. Aku tak peduli bila mereka bilang aku sombong karena tidak mau mendengarkan curhat-curhat itu. Untuk apa aku mendngarkan curhat mereka sedangkan aku sendiri tidak punya waktu untuk mendengarkan isi hatiku. Aku juga sudah tak memiliki waktu dan biaya untuk masuk ke dalam dunia maya seperti tahun pertama dulu. Menjelajahi situs jejaring sosial dimana aku hanya dapat melihat, tanpa pernah diajak bercakap.
***************
* Bulan terlihat terang karena tak tertutup awan. Sinarnya memasuki isi jendela sebuah ruang, membuat sebuah siluet di gorden dari seorang yang terdiam jika dilihat dari luar*
. .Sekarang aku disini, di kamarkku, menggenggam selembar kertas yang berisikan angka-angka yang bagiku sangat tidak kuinginkan untuk menjadi nilai akhirku. Air mata sudah tak terbendung hingga jatuh ke lantai. Aku tak tahu harus mengadukan kemana lagi. Mungkin hanya Tuhan yang tahu betapa kerasnya penderitaanku. Terlebih lagi begitu mendengar kabar bahwa ibuku meninggal. Rasanya hidupku hancur seketika. Aku sudah bosan bila ada orang yang bilang “orang baik itu disayang Tuhan, makanya dipanggil lebih dulu”. Aku menghela nafas. Apakah Tuhan tidak sayang kepadaku hingga tidak memanggilku terlebih dahulu. Aku harus berbuat apalagi setelah semua hidupku banyak yang terbuang demi orang lain agar aku disebut orang baik. Dan banyak pertanyaan yang membendung dada ini dan membuatku sesak. Alunan lagu itu sudah hampir selesai.
. .Aku mengambil seutas tali yang sudah kupersiapkan disebelahku jauh sebelum aku mendengar lagu itu. Aku tahu, ini gila, tapi aku sudah mengerahkan semua tenagaku demi satu niat ini. Aku juga sudah memikirkan apa yang mungkin terjadi esok hari. Kakakku mungkin akan sedih tapi dia takperlu susah payah lagi bekerja siang malam untuk menghidupiku. Pasti juga banyak yang senang karena aku yang aneh ini bisa menghilang dari hdup kalian. Meskipun kalian menangis, itu hanyalah tangis karena kehilangan objek bulan-bulan, objek kesenangan, bukan karena tangis haru atas semua hal yang telah kulakukan untuk kalian. Dan sebagian dari kalian yang bahkan tidak perduli denganku karena aku hanyalah seorang yang berusaha membaur, berbagi cerita, menjadi seperti kalian tapi usahaku hanya menjadikanku semakin tidak dianggap.
. .Sekarang tertawalah karena aku telah tiada, bukan karena aku terlahir. Tidak perlu pasang muka menangis yang harusnya kalian lakukan saat aku lahir. Selamat tinggal semua, selamat tinggal dunia.
***************
* Pagi yang cerah dan udara yang agak dingin, suasana yang cukup manjur untuk membuat orang betah di atas kasurnya. Namun, beberapa orang di rumah di ujung jalan itu segera beranjak setelah mendengar teriakan dari salah seorang pernghuninya yang menemukan seseorang yang telah tak bernyawa di kamar dengan suara radio yang masih menyala. *
“Ada Nita di Plesiran yang request lagu “Tak Ada yang Abadi”-nya Peterpan nih. OK, sekarang gw puterin lagu ini khusus buat Nita”
. .Begitulah kalimat penyiar radio yang sering kudengar via HP ini. Aku suka mendengarkan radio, tapi aku tak pernah sekali pun mengirimkan sms request maupun kirim salam. Volume speakerpun kuperbesar. Aku cukup suka mendengarkan lagu ini.
….
Tak 'kan selamanya
tanganku mendekapmu
Tak 'kan selamanya
Raga ini menjagamu
Jiwa yang lama segera pergi
Bersiaplah para pengganti...
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
….
. .Sepenggal lirik yang bagiku memiliki arti yang sangat dalam. Cukup dalam ketika kuresapi akhir-akhir ini. Alunan nada yang terdngar membawaku kembali mengingat-ingat memori yang ada di otak ini.
***************
* Sebuah kelas terletak di bagian selatan sekolah yang ukurannya tak terlalu besar, bahkan cukup kecil untuk ukuran sekolah ternama dikota itu. Empat puluh tiga orang siswa yang tengah gaduh karena sebuah permainan kecil, menyisakan seorang siswa dalam sepinya. *
. .Aku duduk termenung sendiri, melihat suasana di luar kelas dari jendela di dekat bangkuku. Teman-temanku yang sedang heboh karena guru yang seharusnya mengajar tidak datang. Beginilah aku, selalu sepi sendiri di tengah ramai. Tak banyak yang tahu bahwa aku begini. Mereka hanyalah mengenal aku dari topeng “tawa”,”senyum”,”senang” dan berbagai ekspresi positif tanpa mengenal aku yang sebenarnya lebih banyak mengenakan topeng “muram”,”sedih” dan juga “tangis”.
. .“Heiii…..ngelamun aja disiang bolong, ntar kesurupan loh”, canda teman sebangkuku yang menjabat posisi ketua kelas. Yurri, siapa sih yang nggak kenal dia. Pintar, berbakat di bidang seni, eksis di PMR dan lain-lain. Nggak salahlah kalo dia yang jadi ketua kelas. Oh, aku lupa bercerita bahwa aku adalah seorang wakil ketua kelas. Itulah mengapa kami duduk berdua. Cuma karena aku duduk sebangku, tidak ada alasan yang lebih reasonable.
. .Walaupun aku tahu, sebenernya aku dipilih karena aku tipe orang yang dengan mudah menyanggupi permintaan teman-teman sekelas. Yang disuruh ngambil kertas buat ujian lah, bikin jadwal-jadwal dan ngetikin plus motokopiin buat sekelas yang bahkan uangnya tidak diganti, ataupun ngerjain PR yang tinggal dicontek besok paginya. Huh…aku terkadang sebal namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya dengan cara inilah aku dapat eksis dan “dilihat” oleh teman-temanku.
. .“Ah…elu…pinter-pinter masih percaya takhayul aja…he…he…”, hanya kalimat itulah yang bisa kukeluarkan. Aku memang sering merenung ketika tak banyak orang tahu, karena akan lebih sakit jika mereka mengetahuinya. Mereka tak mungkin membantuku, yang ada justru mereka malah senang dapat bahan bercandaan baru tentang masalah-masalahku ataupun sebagian yang cuek bebek denganku yang sering mereka perintah-perintah layaknya seorang pelayan.
. .Mereka yang sering curhat segala macam hal ke aku karena mereka bilang aku orangnya enak diajak sharing, tapi terkadang malah tak pernah mendengarkan isi hatiku. Mereka hanya ingin berbagi masalah tanpa mau berusaha mencari solusinya sendiri. Terkadang yang ada hanyalah menyusahkanku dengan menambah beban pikiranu. Bukannya aku pamrih, tapi aku hanya ingin dimengerti terkadang. Tapi,biarlah, aku juga tidak terlalu berharap didengar.
***************
. .Ternyata pindah ke kota seramai Bandung juga tidak mengubah kisah hidupku. Kini hidupku semakin terkotak-kotak. Duniaku dengan teman-temanku tidak dapat kuselaraskan dengan dunia dengan keluargaku. Keduanya ada di semesta yang berbeda dan usaha yang telah kucoba benar-benar tidak berhasil. Kini aku tinggal sendiri sedangkan kakakku di Surabaya. Kedua orang tuaku resmi bercerai saat aku lulus SMA dan tak pernah ada kabarnya lagi.
. .Aku sekarang melanjutkan studi di kampus yang terkenal dengan biayanya yang amat mahal. Beruntung ditahun pertama kakak masih memiliki simpanan dari ibu jadi biaya kuliahku tidak terlalu menjadi beban. Tapi ditahun kedua ini, semua serba berbeda. Uang simpanan sudah habis dan gaji kakakku hanya cukup untuk hidup kita berdua. Aku sudah berusaha mencoba mencari beasiswa sejak tahun pertama namun apa daya, aku tak bisa karena aku masuk melalui jalur khusus. Aku juga sudah berniat ingin bekerja sambil kuliah, tapi kakakku melarang karena melihat kondisi nilai dan juga kesehatanku yang juga memburuk akhir-akhir ini. Kakakku khawatir nilaiku akan semakin jelek dan aku akan jatuh sakit yang bakal membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk berobat.
. .Yang aku bisa hanya belajar segiat mungkin agar nilaiku tidak menurun. Aku tak peduli bila mereka bilang aku sombong karena tidak mau mendengarkan curhat-curhat itu. Untuk apa aku mendngarkan curhat mereka sedangkan aku sendiri tidak punya waktu untuk mendengarkan isi hatiku. Aku juga sudah tak memiliki waktu dan biaya untuk masuk ke dalam dunia maya seperti tahun pertama dulu. Menjelajahi situs jejaring sosial dimana aku hanya dapat melihat, tanpa pernah diajak bercakap.
***************
* Bulan terlihat terang karena tak tertutup awan. Sinarnya memasuki isi jendela sebuah ruang, membuat sebuah siluet di gorden dari seorang yang terdiam jika dilihat dari luar*
. .Sekarang aku disini, di kamarkku, menggenggam selembar kertas yang berisikan angka-angka yang bagiku sangat tidak kuinginkan untuk menjadi nilai akhirku. Air mata sudah tak terbendung hingga jatuh ke lantai. Aku tak tahu harus mengadukan kemana lagi. Mungkin hanya Tuhan yang tahu betapa kerasnya penderitaanku. Terlebih lagi begitu mendengar kabar bahwa ibuku meninggal. Rasanya hidupku hancur seketika. Aku sudah bosan bila ada orang yang bilang “orang baik itu disayang Tuhan, makanya dipanggil lebih dulu”. Aku menghela nafas. Apakah Tuhan tidak sayang kepadaku hingga tidak memanggilku terlebih dahulu. Aku harus berbuat apalagi setelah semua hidupku banyak yang terbuang demi orang lain agar aku disebut orang baik. Dan banyak pertanyaan yang membendung dada ini dan membuatku sesak. Alunan lagu itu sudah hampir selesai.
. .Aku mengambil seutas tali yang sudah kupersiapkan disebelahku jauh sebelum aku mendengar lagu itu. Aku tahu, ini gila, tapi aku sudah mengerahkan semua tenagaku demi satu niat ini. Aku juga sudah memikirkan apa yang mungkin terjadi esok hari. Kakakku mungkin akan sedih tapi dia takperlu susah payah lagi bekerja siang malam untuk menghidupiku. Pasti juga banyak yang senang karena aku yang aneh ini bisa menghilang dari hdup kalian. Meskipun kalian menangis, itu hanyalah tangis karena kehilangan objek bulan-bulan, objek kesenangan, bukan karena tangis haru atas semua hal yang telah kulakukan untuk kalian. Dan sebagian dari kalian yang bahkan tidak perduli denganku karena aku hanyalah seorang yang berusaha membaur, berbagi cerita, menjadi seperti kalian tapi usahaku hanya menjadikanku semakin tidak dianggap.
. .Sekarang tertawalah karena aku telah tiada, bukan karena aku terlahir. Tidak perlu pasang muka menangis yang harusnya kalian lakukan saat aku lahir. Selamat tinggal semua, selamat tinggal dunia.
***************
* Pagi yang cerah dan udara yang agak dingin, suasana yang cukup manjur untuk membuat orang betah di atas kasurnya. Namun, beberapa orang di rumah di ujung jalan itu segera beranjak setelah mendengar teriakan dari salah seorang pernghuninya yang menemukan seseorang yang telah tak bernyawa di kamar dengan suara radio yang masih menyala. *