PDA

View Full Version : Itu juga Benderaku



nad3418
19th July 2009, 07:33 PM
Matahari sudah hampir tenggelam ketika hukuman tembak mati itu dilaksanakan. Matahari yang ditutupi awan hitam sepertinya enggan jadi saksi ketika tubuh perempuan cantik itu rebah ke tanah setelah sebutir peluru bersarang di rongga dadanya. Jika cinta memang ada di dada, tempat itu pulalah dia menyimpan segala rasa cintanya. Kepada Amar, komandan pasukan gerilya ini yang juga memerintahkan hukuman mati ini. Aisha, yang secara profesional lebih dikenal sebagai Elsje, mati dengan tuduhan sebagai mata-mata pengkhianat perjuangan bangsa.

*******

Serangan ke Hotel Merdeka kali ini gagal total. Bahkan Purbo, komandan mereka meninggal kena gempuran kendaraan lapis baja milik pasukan NICA. Serangan ini didasari laporan Amar, wakil Purbo dan juga bertanggung jawab menangani urusan telik sandi.

Berdasar info yang didapat Amar, bahwa akhir pekan ini, 8-9 Januari 1949, petinggi-petinggi Belanda akan berkumpul di Hotel Merdeka di utara Statiun Tugu. Sebagai pasukan gerilya yang menyaru di lembah code sekitar jembatan Kewek (Kerk Weg), pasukan Purbo, yang merupakan bagian dari Brigade X/Wehrkreis III dibawah komando Letkol Suharto, berada di garis depan dalam pertempuran jika sasarannya adalah Hotel Merdeka. Mereka menyamar sebagai tukang batu di kali code dan juga pedagang di pasar maupun pekerja kelas rendah lainnya. Hanya Amar yang piawai bicara dalam Bahasa Belanda yang mendapat posisi cukup tinggi dalam "penyamaran"nya. Amar menjadi, istilah jaman sekarang, pegawai rekanan Hotel Merdeka dalam pasokan logistik dan laundry. Posisi itu pula yang mengantar Amar menjadi wakil komandan sekaligus bertanggung jawab terhadap urusan telik sandi.

nad3418
19th July 2009, 07:36 PM
Git dah kumulai tuh ... :mbisik:

cityca
20th July 2009, 04:34 PM
Ini mw dibikin cerbung bang? :mmikir:

nad3418
20th July 2009, 05:07 PM
Ini mw dibikin cerbung bang? :mmikir:

Kata Sigit sih untuk memperingati tujuhbelasan mau bikin cerpen yang (sok) patriotis.

cityca
20th July 2009, 05:43 PM
Ooo....berarti dilanjutin ceritanya? Kayak game sambung kata? :mmikir:

fixshine
21st July 2009, 11:12 AM
humm rencanaku kn puisi tapi baiklah kita coba saja
yang mau ikut ym an ma bang nade yak biar tahu alur cerita yg dimaui dia

fixshine
21st July 2009, 11:54 AM
Amar ingin memeluk tubuh yang rebah ke tanah itu. Ia sungguh mencintainya, namun penyesalan baginya mengapa mereka harus bertemu dengan takdir seperti ini. Konsekuensi perjuangan antara 2 ekstrim. Kaum penjajah yang ingin terus mempertahankan hegemoninya dan Kaum pejuang republik ini yang ingin bebas dari keterkungkungan ratusan tahun. Harga yang mahal !! resiko dilema hati ini yang tak terelakkan karena mereka berani bermain-main diantara 2 dunia itu.

Siapa itu penjajah, siapa itu Belanda, siapa itu KNIL, bagi seorang elsye ? mereka tak lebih ladang beberapa lembar gulden yang terselip di bawah bantalnya, atau berserakan di hamparan seprei putih yang tadi malam bersaksi atas jasanya membuat malam-malam mereka menyala dalam gelegak nafsu dunia. Dan mengapa Elsye, memilih jalan hidup seperti ini ?

"Komandan ! eksekusi telah dilakukan !"
"Kuburkan !" perintah singkat Amar lalu berbalik.

Kilasan-kilasan kisah hidup elsje mengalun kembali, seakan belum rela meninggalkan dunia. "Aku tak pernah ingin hidup seperti ini "
"Mengapa ? kamu bisa Ely, aku akan membantumu"
"Kamu bodoh Amar, jika aku tiba2 hilang dari tempat ini ... aku akan dicari, setelah pergi aku mau jadi apa ?"
"Kamu bisa membantu kami menyediakan logistik, nasi bungkus, di dapur umum, atau ... sebagai perawat sukarelawan ..."

Amar mengenang kalimat-kalimat itu. Serius tapi mesra ...
Ketika Amar bisa menyusup ke kamar pribadi Elsje, dan mereka malam dengan hangatnya cinta, setelah keletihan-keletihan mendera hari-hari mereka sebelumnya

"Amar, aku sudah hitam, seakan takdirku sudah pasti, aku disini menunggu akhirku ..."
"Kamu punya kesempatan"
"Memangnya mereka percaya apalagi jika mereka tau latar belakangku, hanya melemparkanku pada kehinaan satu ke kehinaan yang lain.."

Elsje tau resiko berkenalan bahkan intim sengan Amar. Mungkin seorang Amar-lah yang kehadirannya ia rindukan selama ini. Dia mendendam pada semua lelaki bule yang mendatanginya tiap malam, yang ia layani sampai mereka puas, yang merusak kesempatan hidupnya menjadi wanita sempurna. Dia tau hidup dalam kondisi perang seperti ini, nyawa harganya sangat murah. Meletupnya peluru dari senapan jenis apapun menembus liar bagian mana saja tubuhnya nanti sudah tidak ia takuti.

Yang ia takuti, ia akan mati tanpa arti.

Amar datang begitu saja dalam hidupnya. Dan ia menemukan jawabannya doanya. Alasan mengapa ia hidup. Banyak informasi rahasia yang berguna bagi pejuang republik mengalir lancar dari bibir yang merona itu. Dan Amar hanya membayarnya dengan pelukan hangat sampai pagi menjelang