nad3418
19th July 2009, 06:49 AM
Ruang KB266 terasa semakin dingin. Seorang pria dengan kemeja lusuh duduk di sudut sementara di sudut yang lain seorang pria lain, bule tinggi besar, berjalan mondar-mandir seperti resah.
"Enade, that's the best I could do for you. I'm sorry." kata bule itu sambil memegang dokumen evaluasi tahunan yang dipercepat di tangan kanannya..
"Yes, thank you."
Bule itu kemudian meninggalkan Enade setelah mengucapkan selamat tinggal dan selamat berakhir pekan, prettige weekend.
Setelah tegukan terakhir kopi yang sudah dingin, Enade pun juga meninggalkan ruangan itu dan bergerak ke ruang sebelahnya, KB276. Ruangan terpencil di koridor tambahan lantai 2 di Science Building, Vrije Universiteit Amsterdam. Laptop dan komputer kerja di-shut down, merapikan meja kerja yang berserakan jurnal dan coretan tidak jelas. Sudut mata Enade melirik jam dinding di atas pintu, pukul 18.30. Week end sudah dimulai satu setengah jam yang lalu. Hm ... sebelum Desember tahun lalu, pulang terakhir dari lab merupakan fitur tambahan Enade dalam menuntut ilmu. Yang sekarang sangat jarang setelah ada kolega baru yang workaholic, yang cukup sangat mampu menggesernya untuk evaluasi yang dipercepat .... dengan kemungkinan untuk dipecat. Yups.... hari ini hari yang berat bagi Enade. A day which he struggled.
Meninggalkan lab tepat pukul 19.00 setelah memastikan semua lampu mati dan pintu terkunci, Enade dengan langkah berat menuju halte tram. "D*mn!" pikirnya "Ini summer, ndak ada metro langsung ke apartemen. Sh*t!!!" Tapi terus langkahnya menuju halte De Boelelaan. Halte terdekat dari tempatnya berkerja untuk mengambil metro nomor 51, yang tidak beroperasi summer ini. Setelah menunggu di halte sekitar 7-10 menit, datang tram nomor lima dengan tujuan Amsterdam Centraal Station. Enade naik tram itu dan memainkan lagu-lagu KLA dari mp3 player yang baru dibeli 4 bulan yang lalu. Dia bukan fanatik musik, namun sepertinya dia membutuhkan untuk mengurangi kecamuk di benak yang berputar tiada henti. Sengaja dia tidak overstapen di halte Station Zuid, namun memilih terus dan menikmati ramainya tram nomor lima di akhir pekan. Tram yang membawa penumpangnya melewati pusat-pusat hiburan Amsterdam: Concert Gebouw, Museum Plein, Leidseplein, Spui, dan tentu saja, Kalverstraat, pusat perbelanjaan yang lokasinya paralel dengan Red Light District yang terkenal itu. Enade turun di Koningsplein, berjalan menyusuri Bloemen Markt (terjemahan bebas: Pasar Kembang), dan ternyata dia memilih mengawali akhir pekan di Pathe de Munt. Pathe adalah sebuah jaringan bioskop mirip jaringan 21 di Indonesia. Dengan kartu unlimited yang dimiliki dia bebas nonton film apa saja.
Setelah memasuki hall Pathe de Munt, dia mendongak ke atas kanan tempat jadawal film yang diputad dan didapati bahwa Harry Potter 6 sudah habis dipesan. Secara Enade gak peduli mau nonton film apa, dia memilih film yang terdekat yang akan diputar. Jatuhlah pilihan pada "The Hangover".
*******
Ho... ho... ho... Enade masuk ke Bioskop tadi dengan dua kaleng Amstel Beer. Sepertinya sudah agak mabuk dan agak ringan tatapannya dibanding sebelum nonton tadi.
Enade keluar dari Pathe de Munt dan berjalan kaki menyusuri Rembrandplein, daerah yang banyak kafe dengan bendera pelangi dipajang diatasnya. Cukup aneh pilihan perjalanannya kali ini. Kalau mau pulang biasanya dia naik tram 9 ke arah waterloplein dan overstapen metro nomor berapapun ke arah Amstel Station. Kemanakah gerangan langkah berat Enade diayunkan?
Ternyata dia mampir sebentar ke Wok to Go di seberang jalan, dan keluar dengan menenteng tas plastik yang sepertinya produk masakan kilat kedai Wok to Go. Enade terlihat lagi meneruskan perjalanan menyusuri Rembrandplein. Sesampainya di jembatan yang melintasi sungai Amstel dia berbelok kanan. Oh ... sepertinya dia akan menyusuri Amsteldijk lagi.
Kira-kira 200 meter dari jembatan, dengan pemandangan di seberang sungai dua pasang anak muda yang saling berciuman dengan pasangannya, Enade berhenti dan duduk di sebuah kursi yang tersedia di situ. Perlahan dia meletakkan tasnya di sebelah kiri sambil menyiapkan makanan yang baru dibeli di Wok to Go dan bersiap untuk menyantap selagi masih hangat.
"Hey!?" teriak Enade tertahan ketika sepasang tangan tiba-tiba menutup matanya.
"Guess who?" bisik lembut pemilik sepasang tangan yang halus itu.
"Hm ....." Ingatan Enade meloncat-loncat mencoba mengingat siapa pemilik suara khas dan tangan yang menutup matanya ini. Dan setelah hati dan otaknya meyakinkan dia terhadap kisah-kisah yang hilang sejak beberapa bulan yang lalu, Enade berbisik lemah ....
"Olive...?"
"Yak .... betul. Anda benar." Teriak perempuan berdarah oriental itu sambil memutar tangannya, melepas dari kedua mata Enade dan sekarang posisi mereka saling berhadapan dengan Enade duduk di kursi, Olive di depannya dalam posisi berdiri membungkuk sambil merangkul Enade. Wajah mereka saling berhadapan. Ada perasaan aneh mengalir di nadi Enade. Hangat tapi menahannya supaya tidak mencium bibir Olive. "Rasa" bibir Olive masih tersimpan kuat di memorinya secara mereka pernah "hidup bersama" beberapa waktu yang lalu. Ah .... mereka akhirnya hanya terlihat menyapa secara khas Belanda, cium tiga kali: saling menempelkan pipi kanan, pipi kiri dan pipi kanan lagi.
"Apa kabar Kak En?" Tanya Olive membuka percakapan, yang dijawab Enade dengan senyuman tipis saja.
"Sepertinya ini musim panas, koq langkah Kak En terasa berat dari perasaanku saat melihat Kak berjalan hingga duduk di bangku ini? Hidup semakin berat pastinya ..."
"Koq bisa kau tahu aku disini?"
"Mengawali week end dengan nongkrong di salah satu kafe di Rembrandplein kupikir cukup asyik. Eh, gak sengaja melihat seorang yang kurasa kukenal karena pakaiannya yang aneh di tengah musim panas ini. Matahari bersinar terang koq pakai jaket dan pernak-pernik lain seperti orang mau naik gunung ? Siapa lagi kalau bukan Kak En. Ja toch?" ujar Olive yang berkostum sandal jepit, celana pendek jeans putih dan tanktop. Sandal jepitnya berbentuk norak dan berwarna merah jambu, begitu pula dengan tanktopnya. Kacamata hitam besar menutupi matanya yang sipit.
"Lalu segera kubayar pesananku supaya tidak kehilangan Kak En. Setelah kubayar, aku cari di halte rembrandplein, Kak En ndak ada. Namun aku masih melihat sosok Kak En menuju Waterloplein. Aku ikuti dengan harapan Kak En masih terkejar sebelum masuk metro station. Namun koq tiba-tiba di Sungai Amstel, Kak En belok kanan. Ah makin tidak tertebak aja Kak En ini, batinku waktu itu. Dan kemudian kulihat Kak En duduk di bangku ini. Muncul deh pikiran iseng untuk ngerjain Kak En. Hebat ya ... Kak En masih mengenal aku meski matanya ditutup."
Sementara Olive menjelaskan panjang lebar bagaimana dia bisa menemukan Enade, Enade kehilangan fokus, memandangi sepasang anak muda di seberang sungai yang sedang melakukan "public display of affection". Enade hanya sempat menangkap kalimat terakhir, dan menjawab dengan intonasi datar, "Siapa sih yang bisa melupakan wanita secantik engkau." Sebuah jawaban default yang otomatis keluar.
Olive menangkap kegetiran dalam kalimat itu. Dia merasa Enade bukan pribadi yang enak diajak bicara saat ini. Dia berpikir untuk meninggalkan Enade supaya week end ini tidak rusak karenanya. Namun ada sesuatu yang dia harus sampaikan ke Enade sebelum pergi. Enade berhak mengetahui hal ini.
"Kak En?"
"Ya?"
"Kak En baik-baik saja? Ceritalah Kak .... mungkin itu bisa mengurangi beban dan Kakak lebih menikmati week end ini."
"Aku baik-baik saja. I have God, I have enough."
"Ah perkataan dari mulut Kakak ndak sejalan dengan rasa dan kehendak Kakak. Itu hanya jawaban default dari Kakak saja. Kalau Kakak memang begitu kuatnya dengan iman Kakak yang I have God I have enough itu, kenapa kulihat mendung menghalangi pancaran wajahmu ...."
"... tak terbiasa kudapati kau diam menjura ..." dilanjutkan Enade perkataan Olive dengan lirik dari lagu yang pernah dinyanyikan Katon dan Ruth Sahanaya
"Ya. I have God, I have enough. Namun boleh toch merenungi the days which I struggled ...." lanjut Enade sambil kembali mempersiapkan lagi makan malamnya yang tertunda.
"Mau?" Enade menawarkan box mienya dengan basa-basi. Yang dijawab gelengan singkat Olive. Mereka pun kembali terdiam. Olive sibuk dengan pikirannya sendiri sementara Enade menyuapi naga-naga yang berontak di perutnya.
Setelah beberapa menit dalam bisu, Enade berjalan bergerak ke tempat sampah terdekat dan membuang box berikut perlengkapan makannya.
"Olive, aku mau jalan lagi. Kau mau ikut aku menyusuri sungai Amstel ini sampai apartemenku atau ..."
"Kak En, duduk sini dulu dong, temani Olive dulu. Ada yang ingin Olive sampaikan ke kakak. Penting banget" rajuk Olive.
"Hmm.. apaan?" Enade kembali duduk di samping Olive.
"Kak En dulu yang cerita lah. Kak En yang tampangnya berlipat gitu."
"Ndak ada yang perlu diceritakan. Just an ordinary story from an ordinary person. Aku barusan dievalusi dan dinyatakan gak perform well. Kemungkinan besar aku akan dipecat atau at least kontrakku dipercepat. Ah itu hanya bahasa lain dipecat. Intinya aku sudah tidak dibutuhkan lagi. Kau tahu kan perasaan tidak dibutuhkan? Itu kan alasanmu meninggalkan aku beberapa bulan dengan beberapa baris pesan di meja kamar kita eh ..kamarKU?" Enade berkata seperti menyalak dengan nada tinggi, serta tatapan mata dingin jauh ke depan.
Olive hanya meringis. Dia meninggalkan apartemen Enade beberapa bulan lalu dan hanya meninggalkan pesan di meja, bertuliskan "Kak En, sepertinya Kakak sudah tidak membutuhkan aku lagi. Terima kasih dan selamat tinggal. Love always, Olive"
Saat itu awal musim semi. Baik Enade maupun Olive lebur dengan kesibukan masing-masing. Olive sibuk dengan tugas akhir studi dengan menulis thesis yang tidak kunjung usai. Sementara Enade sibuk adu cepat di lab dalam usaha riset grupnya dalam menemukan obat anti Flu Burung. Hingga keduanya kehilangan percikan-percikan yang membuat mereka memutuskan untuk tinggal bersama. Puncaknya adalah Olive pergi meninggalkan sebaris pesan dan tidak bisa dihubungi lagi.
"Maaf ..."
Dan suasana kembali hening. Enade menyalakan rokok putih dan berencana membaginya dengan Olive. Yang tidak disangkanya, Olive menolak tawaran itu dengan senyum yang sangat manis.
"Aku sudah berhenti Kak. Aku hamil ..."
Enade terbatuk tersedak asap rokok yang dihisapnya. Dia berdiri dan tangannya bergetar hebat sampai-sampai batang rokok putih di tangannya terjatuh. Enade tidak bisa berkata apa-apa lagi hanya menatap Olive dengan pandangan tajam menuntut penjelasan. Dalam benaknya dia mengutuk, "Masalah apa lagi yang menimpaku kali ini ... Tidak cukupkah serangan beruntun pekan ini untuk menumbangkanku, dan membuatku jatuh rebah dan terpuruk."
Olive masih tersenyum manis dan mencoba mengecup bibir Enade yang ditanggapi dengan tepisan yang sedikit kasar.
"Rileks Kak En. Ini bukan anak Kak En. Bukankah kita selalu pakai pengaman dulu. Ini kabar bahagia koq."
Enade mulai agak tenang. Dan dia menjatuhkan kepalanya di pelukan Olive yang disambut dengan belaian lembut.
"Aku lelah. Andai cawan ini berlalu daripadaku."
"Sssttt .. sudahlah. You have your God, and You have enough. Don't you?"
Enade melampiaskan seluruh rasanya di pelukan Olive saat itu. Dia menceritakan segalanya. Segalanya. Terutama luka-luka yang diderita akibat keangkuhan dia sendiri. Dia mendapat kabar kalau perkawinan Sigit dan Tessa, kedua sahabatnya di Indonesia, akhirnya kandas. Sigit belum balik lagi ke Amsterdam. Sementara istri dan anaknya sendiri semakin sulit diajak komunikasi. Dia diabaikan di keluarganya sendiri. Juga dia dapat kabar bahwa posisi di kantornya di Indonesia sudah ditempati orang lain, yang artinya dia akan jobless sepulang dari Amsterdam. Hal ini merupakan akibat dari perseteruannya dengan Bos besar di Indonesia. Hal ini merembet ke kinerjanya dan akibatnya sudah diketahui di awal cerita ini. Dia tahu kalau semua itu bersumber pada keangkuhannya sendiri. Andai dia mau menunduk, dan belajar rendah hati. Penuh percaya diri namun rendah hati seperti lagu Pesan Ibunda ciptaan BU LB Moerdani. Andai ...
"Sssstt ... semua sudah terjadi. You still have your God. Okay? Masih ada anugerah berupa setiap hembusan nafas ini Kak En. Dulu Kak En yang sering berkata begitu. Yang diakhiri dengan '...kepakkan sayapmu dan terbanglah. Karena engkau adalah rajawali Allah ...' diakhir wejangan itu"
Setelah perasaan sedikit lega. Enade melepas pelukan Olive dan berdiri mendekati Sungai Amstel.
"Di buku Coelho yang berjudul 'Di Tepi Sungai Piedra, Aku terduduk dan tersedu', ada kepercayaan kalau apapun yang masuk sungai piedra akan diubah jadi batu. Termasuk air mata dan hati yang mulai membeku. Kalau airmataku tadi menetes di sunga Amstel, paling hanya akan bercampur dengan segala kebusukan sungai ini." Teriak tertahan Enade yang hanya bisa didengar Olive.
"Ah, airmatamu membasahi dadaku koq." Jawab Olive ringan. Dan Enade sudah bisa tersenyum dan matanya menyiratkan semangat lagi.
"Thanks. Oh ya, selamat atas kehamilanmu. Maaf aku tidak memperhatikan perubahan fisikmu. Sepertinya memang tidak berubah hanya kau memang tampak lebih cantik." Ujar Enade sambil kembali duduk disamping Olive.
"Sama-sama. Dan berita lagi. Aku dah lulus dan sekarang sudah menyandang gelar master seperti yang kaupunya." Ujar Olive sambil mengulangi kegemarannya masa lalu, mencubit kecil pipi tembem Enade.
"Good for you!" Enade semakin terbelalak dan pikiran nakalnya mulai bermain untuk menikahi Olive meskipun sudah hamil dan menceraikan istrinya di Indonesia. Namun dia mengusir pikiran nakal itu segera. Enough is enough.
"Dan masih ada satu lagi, aku akan menikah di Gementee bulan depan."
Berita ini semakin membuat Enade mengusir jauh-jauh pikiran nakalnya. Matanya juga semakin terbelalak dan sekali lagi berteriak.
"Akhirnya dengan segala perjuangan dan derita yang kau lewati. It's over. Olive yang dulu teriak acht zes dengan pancaran mata ketakutan, sekarang berubah menjadi a ladies. Congratulations ..."
"Roda selalu berputar toch Kak En. Ever it is a good day or a bad day, God will always be with you. Toch?"
Enade hanya mengangguk kecil.
"Ayo aku kenalkan pada my fiancee. Dia sudah sampai Rembrandplein, sepertinya. Kami janjian di sana untuk mengawali week end ini. Sebentar aku cek dulu."
Olive kemudian menelpon seseorang sementara Enade melirik jam tangannya, 22.15 CET, matahari masih bersinar terang. Rencana Enade untuk menyusuri sungai Amstel dibatalkan.
"Yuk Kak, dia masih di tram menuju Rembrandplein. Cukup jauh perjalanan dia kemari. Dia dari Nijmegen."
Lalu Olive dan Enade berjalan dengan tempo sedikit lebih cepat menuju Rembrandplein. Olive mengajaknya masuk ke salah satu kafe. Perasaan Enade mulai tidak enak secara dia melihat bendera pelangi di kafe itu. Namun dia melihat ada beberapa pasangan hetero di tempat itu. "Ah biarlah," batin Enade.
Olive memesan dua french coffee, satu untuk Olive dan satu untuk Enade. Saat menunggu minuman terhidang, terlihat seseorang berjalan menuju meja mereka.
"Ah ini dia sudah sampai. Enade, this is Marijke, my fiancee. Marijke, this is Enade, my ex"
"I'm Marijke, I heard a lot about you from Olive. Nice to meet you." ujar Marike memperkenalkan dirinya.
Enade hanya tertegum sambil bersalaman dengan Marijke. Dengan pandangan bertanya-tanya, dia juga menjawab, "Enade, Nice to meet you too."
Lalu sambil masih bersalaman dengan Marijke yang tinggi dengan kecantikan khas Belanda, serta sedikit kekar. Enade memandang perut Olive sambil bertanya, "How come?"
Olive hanya menjawab sambil tertawa kecil, "I think you're a scientist"
*******
Enade menatap sungai Amstel dari balik jendela kamarnya malam ini. Lampu-lampu sudah menghiasi Amsterdam. Pemandangan dari kamarnya ternyata mempesona. Sudah lama ia tinggal di tempat itu tapi tidak pernah menyadarinya.
"Hari ini begitu indah" bisik lirih Enade pada malam, lalu menutup jendela dan beranjak tidur.
*** Selesai ***
~Disclaimer: Cerita ini fiktif belaka. Nama-nama yang dikenal dimunculkan untuk membuat efek nyata. Namun sekali lagi, kisah ini fiktif belaka.
"Enade, that's the best I could do for you. I'm sorry." kata bule itu sambil memegang dokumen evaluasi tahunan yang dipercepat di tangan kanannya..
"Yes, thank you."
Bule itu kemudian meninggalkan Enade setelah mengucapkan selamat tinggal dan selamat berakhir pekan, prettige weekend.
Setelah tegukan terakhir kopi yang sudah dingin, Enade pun juga meninggalkan ruangan itu dan bergerak ke ruang sebelahnya, KB276. Ruangan terpencil di koridor tambahan lantai 2 di Science Building, Vrije Universiteit Amsterdam. Laptop dan komputer kerja di-shut down, merapikan meja kerja yang berserakan jurnal dan coretan tidak jelas. Sudut mata Enade melirik jam dinding di atas pintu, pukul 18.30. Week end sudah dimulai satu setengah jam yang lalu. Hm ... sebelum Desember tahun lalu, pulang terakhir dari lab merupakan fitur tambahan Enade dalam menuntut ilmu. Yang sekarang sangat jarang setelah ada kolega baru yang workaholic, yang cukup sangat mampu menggesernya untuk evaluasi yang dipercepat .... dengan kemungkinan untuk dipecat. Yups.... hari ini hari yang berat bagi Enade. A day which he struggled.
Meninggalkan lab tepat pukul 19.00 setelah memastikan semua lampu mati dan pintu terkunci, Enade dengan langkah berat menuju halte tram. "D*mn!" pikirnya "Ini summer, ndak ada metro langsung ke apartemen. Sh*t!!!" Tapi terus langkahnya menuju halte De Boelelaan. Halte terdekat dari tempatnya berkerja untuk mengambil metro nomor 51, yang tidak beroperasi summer ini. Setelah menunggu di halte sekitar 7-10 menit, datang tram nomor lima dengan tujuan Amsterdam Centraal Station. Enade naik tram itu dan memainkan lagu-lagu KLA dari mp3 player yang baru dibeli 4 bulan yang lalu. Dia bukan fanatik musik, namun sepertinya dia membutuhkan untuk mengurangi kecamuk di benak yang berputar tiada henti. Sengaja dia tidak overstapen di halte Station Zuid, namun memilih terus dan menikmati ramainya tram nomor lima di akhir pekan. Tram yang membawa penumpangnya melewati pusat-pusat hiburan Amsterdam: Concert Gebouw, Museum Plein, Leidseplein, Spui, dan tentu saja, Kalverstraat, pusat perbelanjaan yang lokasinya paralel dengan Red Light District yang terkenal itu. Enade turun di Koningsplein, berjalan menyusuri Bloemen Markt (terjemahan bebas: Pasar Kembang), dan ternyata dia memilih mengawali akhir pekan di Pathe de Munt. Pathe adalah sebuah jaringan bioskop mirip jaringan 21 di Indonesia. Dengan kartu unlimited yang dimiliki dia bebas nonton film apa saja.
Setelah memasuki hall Pathe de Munt, dia mendongak ke atas kanan tempat jadawal film yang diputad dan didapati bahwa Harry Potter 6 sudah habis dipesan. Secara Enade gak peduli mau nonton film apa, dia memilih film yang terdekat yang akan diputar. Jatuhlah pilihan pada "The Hangover".
*******
Ho... ho... ho... Enade masuk ke Bioskop tadi dengan dua kaleng Amstel Beer. Sepertinya sudah agak mabuk dan agak ringan tatapannya dibanding sebelum nonton tadi.
Enade keluar dari Pathe de Munt dan berjalan kaki menyusuri Rembrandplein, daerah yang banyak kafe dengan bendera pelangi dipajang diatasnya. Cukup aneh pilihan perjalanannya kali ini. Kalau mau pulang biasanya dia naik tram 9 ke arah waterloplein dan overstapen metro nomor berapapun ke arah Amstel Station. Kemanakah gerangan langkah berat Enade diayunkan?
Ternyata dia mampir sebentar ke Wok to Go di seberang jalan, dan keluar dengan menenteng tas plastik yang sepertinya produk masakan kilat kedai Wok to Go. Enade terlihat lagi meneruskan perjalanan menyusuri Rembrandplein. Sesampainya di jembatan yang melintasi sungai Amstel dia berbelok kanan. Oh ... sepertinya dia akan menyusuri Amsteldijk lagi.
Kira-kira 200 meter dari jembatan, dengan pemandangan di seberang sungai dua pasang anak muda yang saling berciuman dengan pasangannya, Enade berhenti dan duduk di sebuah kursi yang tersedia di situ. Perlahan dia meletakkan tasnya di sebelah kiri sambil menyiapkan makanan yang baru dibeli di Wok to Go dan bersiap untuk menyantap selagi masih hangat.
"Hey!?" teriak Enade tertahan ketika sepasang tangan tiba-tiba menutup matanya.
"Guess who?" bisik lembut pemilik sepasang tangan yang halus itu.
"Hm ....." Ingatan Enade meloncat-loncat mencoba mengingat siapa pemilik suara khas dan tangan yang menutup matanya ini. Dan setelah hati dan otaknya meyakinkan dia terhadap kisah-kisah yang hilang sejak beberapa bulan yang lalu, Enade berbisik lemah ....
"Olive...?"
"Yak .... betul. Anda benar." Teriak perempuan berdarah oriental itu sambil memutar tangannya, melepas dari kedua mata Enade dan sekarang posisi mereka saling berhadapan dengan Enade duduk di kursi, Olive di depannya dalam posisi berdiri membungkuk sambil merangkul Enade. Wajah mereka saling berhadapan. Ada perasaan aneh mengalir di nadi Enade. Hangat tapi menahannya supaya tidak mencium bibir Olive. "Rasa" bibir Olive masih tersimpan kuat di memorinya secara mereka pernah "hidup bersama" beberapa waktu yang lalu. Ah .... mereka akhirnya hanya terlihat menyapa secara khas Belanda, cium tiga kali: saling menempelkan pipi kanan, pipi kiri dan pipi kanan lagi.
"Apa kabar Kak En?" Tanya Olive membuka percakapan, yang dijawab Enade dengan senyuman tipis saja.
"Sepertinya ini musim panas, koq langkah Kak En terasa berat dari perasaanku saat melihat Kak berjalan hingga duduk di bangku ini? Hidup semakin berat pastinya ..."
"Koq bisa kau tahu aku disini?"
"Mengawali week end dengan nongkrong di salah satu kafe di Rembrandplein kupikir cukup asyik. Eh, gak sengaja melihat seorang yang kurasa kukenal karena pakaiannya yang aneh di tengah musim panas ini. Matahari bersinar terang koq pakai jaket dan pernak-pernik lain seperti orang mau naik gunung ? Siapa lagi kalau bukan Kak En. Ja toch?" ujar Olive yang berkostum sandal jepit, celana pendek jeans putih dan tanktop. Sandal jepitnya berbentuk norak dan berwarna merah jambu, begitu pula dengan tanktopnya. Kacamata hitam besar menutupi matanya yang sipit.
"Lalu segera kubayar pesananku supaya tidak kehilangan Kak En. Setelah kubayar, aku cari di halte rembrandplein, Kak En ndak ada. Namun aku masih melihat sosok Kak En menuju Waterloplein. Aku ikuti dengan harapan Kak En masih terkejar sebelum masuk metro station. Namun koq tiba-tiba di Sungai Amstel, Kak En belok kanan. Ah makin tidak tertebak aja Kak En ini, batinku waktu itu. Dan kemudian kulihat Kak En duduk di bangku ini. Muncul deh pikiran iseng untuk ngerjain Kak En. Hebat ya ... Kak En masih mengenal aku meski matanya ditutup."
Sementara Olive menjelaskan panjang lebar bagaimana dia bisa menemukan Enade, Enade kehilangan fokus, memandangi sepasang anak muda di seberang sungai yang sedang melakukan "public display of affection". Enade hanya sempat menangkap kalimat terakhir, dan menjawab dengan intonasi datar, "Siapa sih yang bisa melupakan wanita secantik engkau." Sebuah jawaban default yang otomatis keluar.
Olive menangkap kegetiran dalam kalimat itu. Dia merasa Enade bukan pribadi yang enak diajak bicara saat ini. Dia berpikir untuk meninggalkan Enade supaya week end ini tidak rusak karenanya. Namun ada sesuatu yang dia harus sampaikan ke Enade sebelum pergi. Enade berhak mengetahui hal ini.
"Kak En?"
"Ya?"
"Kak En baik-baik saja? Ceritalah Kak .... mungkin itu bisa mengurangi beban dan Kakak lebih menikmati week end ini."
"Aku baik-baik saja. I have God, I have enough."
"Ah perkataan dari mulut Kakak ndak sejalan dengan rasa dan kehendak Kakak. Itu hanya jawaban default dari Kakak saja. Kalau Kakak memang begitu kuatnya dengan iman Kakak yang I have God I have enough itu, kenapa kulihat mendung menghalangi pancaran wajahmu ...."
"... tak terbiasa kudapati kau diam menjura ..." dilanjutkan Enade perkataan Olive dengan lirik dari lagu yang pernah dinyanyikan Katon dan Ruth Sahanaya
"Ya. I have God, I have enough. Namun boleh toch merenungi the days which I struggled ...." lanjut Enade sambil kembali mempersiapkan lagi makan malamnya yang tertunda.
"Mau?" Enade menawarkan box mienya dengan basa-basi. Yang dijawab gelengan singkat Olive. Mereka pun kembali terdiam. Olive sibuk dengan pikirannya sendiri sementara Enade menyuapi naga-naga yang berontak di perutnya.
Setelah beberapa menit dalam bisu, Enade berjalan bergerak ke tempat sampah terdekat dan membuang box berikut perlengkapan makannya.
"Olive, aku mau jalan lagi. Kau mau ikut aku menyusuri sungai Amstel ini sampai apartemenku atau ..."
"Kak En, duduk sini dulu dong, temani Olive dulu. Ada yang ingin Olive sampaikan ke kakak. Penting banget" rajuk Olive.
"Hmm.. apaan?" Enade kembali duduk di samping Olive.
"Kak En dulu yang cerita lah. Kak En yang tampangnya berlipat gitu."
"Ndak ada yang perlu diceritakan. Just an ordinary story from an ordinary person. Aku barusan dievalusi dan dinyatakan gak perform well. Kemungkinan besar aku akan dipecat atau at least kontrakku dipercepat. Ah itu hanya bahasa lain dipecat. Intinya aku sudah tidak dibutuhkan lagi. Kau tahu kan perasaan tidak dibutuhkan? Itu kan alasanmu meninggalkan aku beberapa bulan dengan beberapa baris pesan di meja kamar kita eh ..kamarKU?" Enade berkata seperti menyalak dengan nada tinggi, serta tatapan mata dingin jauh ke depan.
Olive hanya meringis. Dia meninggalkan apartemen Enade beberapa bulan lalu dan hanya meninggalkan pesan di meja, bertuliskan "Kak En, sepertinya Kakak sudah tidak membutuhkan aku lagi. Terima kasih dan selamat tinggal. Love always, Olive"
Saat itu awal musim semi. Baik Enade maupun Olive lebur dengan kesibukan masing-masing. Olive sibuk dengan tugas akhir studi dengan menulis thesis yang tidak kunjung usai. Sementara Enade sibuk adu cepat di lab dalam usaha riset grupnya dalam menemukan obat anti Flu Burung. Hingga keduanya kehilangan percikan-percikan yang membuat mereka memutuskan untuk tinggal bersama. Puncaknya adalah Olive pergi meninggalkan sebaris pesan dan tidak bisa dihubungi lagi.
"Maaf ..."
Dan suasana kembali hening. Enade menyalakan rokok putih dan berencana membaginya dengan Olive. Yang tidak disangkanya, Olive menolak tawaran itu dengan senyum yang sangat manis.
"Aku sudah berhenti Kak. Aku hamil ..."
Enade terbatuk tersedak asap rokok yang dihisapnya. Dia berdiri dan tangannya bergetar hebat sampai-sampai batang rokok putih di tangannya terjatuh. Enade tidak bisa berkata apa-apa lagi hanya menatap Olive dengan pandangan tajam menuntut penjelasan. Dalam benaknya dia mengutuk, "Masalah apa lagi yang menimpaku kali ini ... Tidak cukupkah serangan beruntun pekan ini untuk menumbangkanku, dan membuatku jatuh rebah dan terpuruk."
Olive masih tersenyum manis dan mencoba mengecup bibir Enade yang ditanggapi dengan tepisan yang sedikit kasar.
"Rileks Kak En. Ini bukan anak Kak En. Bukankah kita selalu pakai pengaman dulu. Ini kabar bahagia koq."
Enade mulai agak tenang. Dan dia menjatuhkan kepalanya di pelukan Olive yang disambut dengan belaian lembut.
"Aku lelah. Andai cawan ini berlalu daripadaku."
"Sssttt .. sudahlah. You have your God, and You have enough. Don't you?"
Enade melampiaskan seluruh rasanya di pelukan Olive saat itu. Dia menceritakan segalanya. Segalanya. Terutama luka-luka yang diderita akibat keangkuhan dia sendiri. Dia mendapat kabar kalau perkawinan Sigit dan Tessa, kedua sahabatnya di Indonesia, akhirnya kandas. Sigit belum balik lagi ke Amsterdam. Sementara istri dan anaknya sendiri semakin sulit diajak komunikasi. Dia diabaikan di keluarganya sendiri. Juga dia dapat kabar bahwa posisi di kantornya di Indonesia sudah ditempati orang lain, yang artinya dia akan jobless sepulang dari Amsterdam. Hal ini merupakan akibat dari perseteruannya dengan Bos besar di Indonesia. Hal ini merembet ke kinerjanya dan akibatnya sudah diketahui di awal cerita ini. Dia tahu kalau semua itu bersumber pada keangkuhannya sendiri. Andai dia mau menunduk, dan belajar rendah hati. Penuh percaya diri namun rendah hati seperti lagu Pesan Ibunda ciptaan BU LB Moerdani. Andai ...
"Sssstt ... semua sudah terjadi. You still have your God. Okay? Masih ada anugerah berupa setiap hembusan nafas ini Kak En. Dulu Kak En yang sering berkata begitu. Yang diakhiri dengan '...kepakkan sayapmu dan terbanglah. Karena engkau adalah rajawali Allah ...' diakhir wejangan itu"
Setelah perasaan sedikit lega. Enade melepas pelukan Olive dan berdiri mendekati Sungai Amstel.
"Di buku Coelho yang berjudul 'Di Tepi Sungai Piedra, Aku terduduk dan tersedu', ada kepercayaan kalau apapun yang masuk sungai piedra akan diubah jadi batu. Termasuk air mata dan hati yang mulai membeku. Kalau airmataku tadi menetes di sunga Amstel, paling hanya akan bercampur dengan segala kebusukan sungai ini." Teriak tertahan Enade yang hanya bisa didengar Olive.
"Ah, airmatamu membasahi dadaku koq." Jawab Olive ringan. Dan Enade sudah bisa tersenyum dan matanya menyiratkan semangat lagi.
"Thanks. Oh ya, selamat atas kehamilanmu. Maaf aku tidak memperhatikan perubahan fisikmu. Sepertinya memang tidak berubah hanya kau memang tampak lebih cantik." Ujar Enade sambil kembali duduk disamping Olive.
"Sama-sama. Dan berita lagi. Aku dah lulus dan sekarang sudah menyandang gelar master seperti yang kaupunya." Ujar Olive sambil mengulangi kegemarannya masa lalu, mencubit kecil pipi tembem Enade.
"Good for you!" Enade semakin terbelalak dan pikiran nakalnya mulai bermain untuk menikahi Olive meskipun sudah hamil dan menceraikan istrinya di Indonesia. Namun dia mengusir pikiran nakal itu segera. Enough is enough.
"Dan masih ada satu lagi, aku akan menikah di Gementee bulan depan."
Berita ini semakin membuat Enade mengusir jauh-jauh pikiran nakalnya. Matanya juga semakin terbelalak dan sekali lagi berteriak.
"Akhirnya dengan segala perjuangan dan derita yang kau lewati. It's over. Olive yang dulu teriak acht zes dengan pancaran mata ketakutan, sekarang berubah menjadi a ladies. Congratulations ..."
"Roda selalu berputar toch Kak En. Ever it is a good day or a bad day, God will always be with you. Toch?"
Enade hanya mengangguk kecil.
"Ayo aku kenalkan pada my fiancee. Dia sudah sampai Rembrandplein, sepertinya. Kami janjian di sana untuk mengawali week end ini. Sebentar aku cek dulu."
Olive kemudian menelpon seseorang sementara Enade melirik jam tangannya, 22.15 CET, matahari masih bersinar terang. Rencana Enade untuk menyusuri sungai Amstel dibatalkan.
"Yuk Kak, dia masih di tram menuju Rembrandplein. Cukup jauh perjalanan dia kemari. Dia dari Nijmegen."
Lalu Olive dan Enade berjalan dengan tempo sedikit lebih cepat menuju Rembrandplein. Olive mengajaknya masuk ke salah satu kafe. Perasaan Enade mulai tidak enak secara dia melihat bendera pelangi di kafe itu. Namun dia melihat ada beberapa pasangan hetero di tempat itu. "Ah biarlah," batin Enade.
Olive memesan dua french coffee, satu untuk Olive dan satu untuk Enade. Saat menunggu minuman terhidang, terlihat seseorang berjalan menuju meja mereka.
"Ah ini dia sudah sampai. Enade, this is Marijke, my fiancee. Marijke, this is Enade, my ex"
"I'm Marijke, I heard a lot about you from Olive. Nice to meet you." ujar Marike memperkenalkan dirinya.
Enade hanya tertegum sambil bersalaman dengan Marijke. Dengan pandangan bertanya-tanya, dia juga menjawab, "Enade, Nice to meet you too."
Lalu sambil masih bersalaman dengan Marijke yang tinggi dengan kecantikan khas Belanda, serta sedikit kekar. Enade memandang perut Olive sambil bertanya, "How come?"
Olive hanya menjawab sambil tertawa kecil, "I think you're a scientist"
*******
Enade menatap sungai Amstel dari balik jendela kamarnya malam ini. Lampu-lampu sudah menghiasi Amsterdam. Pemandangan dari kamarnya ternyata mempesona. Sudah lama ia tinggal di tempat itu tapi tidak pernah menyadarinya.
"Hari ini begitu indah" bisik lirih Enade pada malam, lalu menutup jendela dan beranjak tidur.
*** Selesai ***
~Disclaimer: Cerita ini fiktif belaka. Nama-nama yang dikenal dimunculkan untuk membuat efek nyata. Namun sekali lagi, kisah ini fiktif belaka.