nad3418
23rd May 2009, 10:57 PM
Aku dah sampai Amsterdam
Begitu pesan singkat yang baru saja mendarat di hape jadul yang ada senter alias sentolop-nya. Hape yang sama yang digunakan untuk mengirim pesan singkat ini karena memang dulu belinya sama. Senter? Iyah ... itu bagian penting karena alasan praktis. Aku disini sedikit takut gelap. Apalagi ada Bagas, buah hati kami yang sering terbangun tengah malam. Sedangkan dia disana, katanya sih, membutuhkan senter kalau buang air besar. Secara toilet di samping lab dia melakukan penelitian menggunakan sensor gerak. Apa hubungannya? Iyah ... ada hubungannya. Dia kalau buang air besar agak lama karena pikirannya sering kemana-mana, katanya, kalau sedang melakukan ritual itu. Jadi lampu toilet mati secara tidak dideteksi adanya gerakan yang berarti. Maka, hape bersenter jadi salah satu solusi praktis.
Eh, dia sudah sampai Amsterdam berarti sudah jam makan siang di sini. Pantas aku sudah merasa lapar. Ini juga saatnya makan dan minum susu buat Bagas. Ah memang lelah bersama Bagas, namun setidaknya aku ada teman yang menemani. Bukan seperti dia yang seperti berjuang sendiri di sana. Hm.. dengar-dengar sih dia sering sok punya gebetan di sana. Ah paling itu gombalannya juga.
*****
Message sent
Yup sudah terkirim. Saatnya perjuangan panjang dimulai. Dan perjuangan ini akan semakin sempurna ketika ...
"Hai En ..., sorry telat. Gak lama toch nunggunya?"
"Pertanyaan yang aneh Cin."
"Koq aneh? Apanya yang aneh?"
"Biasanya orang minta maaf tuh nanyanya, 'Lama nunggunya?' ... Lha kamu malah ..."
"Iya ... iya... gitu aja dibahas!"
Mendaratlah kecupan Cindy ke pipi montok Enade, tiga kali, khas Belanda. Sebelum akhirnya bibir merah pucat Cindy yang sangat jarang dipoles dengan lipstick ini berlabuh di bibir pecah-pecah yang baru saja melintasi samudera dan benua.
Setelah melepas kangen itu, Enade yang menunggu di meeting point bandara Schiplhol membuka tas ranselnya untuk membuka oleh-oleh buat Cindy. Tak sengaja terlihat olehnya seorang perempuan muda, menggendong anak kecil seusia Bagas. Air mata mengalir di pipi perempuan itu sedangkan anak kecil yang digendongnya terlihat melambaikan tangan ke arah departure gate. Entah melambaikan tangan dalam arti "good bye" atau "come here, please" ke arah siapa ....
"Cin, ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu."
*****
Aku menatap punggung Enade yang bergerak menjauh. Aku hanya bisa terbengong-bengong, masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Di tangan ini tergenggam gelang giok dari Kalimantan, oleh-oleh Enade. Seharusnya gelang itu menjadikan cinta kami semakin bersemi. Namun, entah "pencerahan" dari mana turun padanya sehingga terucap kalimat perpisahan itu. Meskipun terangkai indah dan keluar dengan merdu, kalimat itu begitu sempurna menghancurkan harapan-harapan kosong ini. Memang hanyalah harapan kosong, secara dia sudah memiliki belahan jiwa dan buah hati yang berada di belahan bumi yang lain. Tapi di sini, sekali lagi DI SINI, dia seharusnya milikku. Seutuhnya milikku.
Kurang ajar sekali lelaki sok tampan itu. Aku bangun pagi dan lebur ke hiruk-pikuknya bandara ini bukan untuk gelang giok ini, melainkan untuknya. Dia yang kadang merusak mimpi-mimpiku saat dia ambil cuti. Ranjangku dingin dan sepi sementara dia pasti bergelora dan bercanda dengan keluarga kecilnya di sana. Aku di sini, hanya menghitung hari kapan dia akan kembali. Dan yang kudapati hanya gelang giok ini. Hatiku ini hancur, seperti hancurnya harapan kosong ini. Meskipun kosong, harapan ini mampu memicu munculnya percikan-percikan singkat yang indah dan mungkin terlalu indah untuk dilupakan. Ah .... basi banget sih ... atau malah terlalu dangdut ini. Biarlah, seperti lagu Olga Syahputra ... dalam benak ini hanya ada dua kata hancur hatiku ... hancur ...hancur...hatiku.
Perjumpaan pertama kali dengannya adalah saat pertemuan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Amsterdam sekitar tiga tahun silam, di Hospitium, Laan van Kronenburg. Saat itu sedang ada acara kumpul-kumpul dalam rangka penyambutan teman-teman yang yang baru datang. Infonya sih ada sekitar 20an lebih mahasiswa baru yang datang atas beasiswa StuNed, sebagian besar pegawai negeri dari departemen keuangan. Pengen liat aja, kaya' apa mereka-mereka itu dihadapkan dengan kultur Amsterdam yang jelas-jelas berbeda. Di tengah acara, datanglah sosok kekanak-kanakan, gendut, rambut cepak dibalut jaket berwarna biru BNI'45, antara hijau muda atau biru muda ndak jelas. Karena terlambat, dikerjain lah dia oleh pembawa acara secara alasan terlambatnya nyolot banget: ketiduran. Jelas-jelas dia tinggal di gedung yang sama, hanya butuh turun 4 lantai, pakai lift pula. Hanya saja, dengan kepiawaian bersilat lidah. Hmm... dia memang piawai dalam bersilat lidah dalam arti literal hi..hi..hi...., eh balik ke topik. Dengan piawainya dia balas mengerjain balik si pembawa acara. Aku kira memang itu salah satu trik dia untuk "grab the attention": datang terlambat dan show off. Yup, jika memang itu tujuannya, dia cukup berhasil. Secara dia menjadi memang terlihat berbeda compare to bapak-bapak dan ibu-ibu dari Departemen Keuangan yang rata-rata sudah berumur. Dia sendiri dosen muda di sebuah universitas swasta di Yogyakarta. Sayangnya, dia sudah menikah. Tiga minggu sebelum berangkat ke Amsterdam ini atau berarti sekitar 5 minggu sebelum acara pertemuan itu, dia menikah. Istrinya ditinggal di Yogyakarta.
Tidak. Tidak ada yang istimewa bagiku dari dia meskipun membuat aksi itu. Hanya saja memang peristiwa itu membuat aku aware akan keberadaan "bocah tua nakal" itu. Hingga dua tahun kemudian atau sekitar setahun yang lalu, saat musim gugur sudah membuat taman-taman dan jalanan di Amsterdam seperti disepuh emas. Kami menjadi dekat karena aku sedang dikerjain habis-habisan oleh tugas akhir kuliahku di international business and management studies (IBMS) yang membutuhkan sentuhan program statistik yang namanya SPSS, yang sering diplesetkan olehnya menjadi Smart Program for Stupid Students. Iya, saat itu aku membutuhkan program itu dan sedikit bantuan intruksi pemakaiannya untuk analisis data, dan dari temanku Myra yang pernah satu almamater dengannya aku mendapat informasi bahwa dia sering pakai SPSS untuk risetnya di Belanda ini. Lewat Myra pula aku mendapat jalur untuk akses memasuki ranah pribadinya: kamar, laptop, masakannya dan cerita-ceritanya yang sering lebay dan jadi kadang gak masuk akal. Ya, sejak aku bertanya tentang SPSS kepadanya, dia menjadi mentorku sekaligus tempat aku meminjam laptop dan kamarnya untuk mengerjakan tugas akhir itu. Sementara dia memakai PC yang sudah diset khusus, katanya, untuk dapat mengakses server kampus. Sementara dia hanya memakai laptop untuk untuk chatting dan urusan entertainment lainnya. Kadang-kadang, hanya kadang-kadang memang, dia membutuhkan laptop itu untuk bikin laporan dan presentasi. So, selama musim gugur dan musim dingin itu, praktis laptop ini "milikku". Mungkin juga hatinya. Ah, tapi aku ragu tentang hatinya.
Selama musim yang merana itu, kadang karena bekerja sampai larut malam, aku memilih tidur di kamarnya, bersamanya. Dan ... tidak terjadi apa-apa. Jujur, aku sudah pasrah waktu itu. Aku mungkin sudah terpikat olehnya seiring waktu dan intensitas pertemuan ini. Andai dia menyentuhku pun aku akan menyambutnya dengan senang hati. Sayang aku masih terjerat oleh kultur timur yang membuatku tidak berani memulai. Sedangkan dia, dari pandangan matanya yang kadang sering mencuri-curi menuju ke buah dadaku yang tidak terlalu aduhai ini, dan juga saat kita bicara face to face sering kudapati fokus matanya ke arah bibirku, seperti hendak melumatnya. Aku yakin dia tertarik padaku. Namun entah karena apa, dia tidak pernah memanfaatkan "kesempatan" yang ada.
Damn! Aku ndak boleh menyerah begitu saja. Ini masih menit 29. Aku yakin keretanya belum berangkat. Kereta ke Groningen via Amsterdam baru berangkat menit 35 dari spoor 3.
******
Aku melihatnya menuruni eskalator menuju spoor 3. Cindy yang kukenal pasti tidak terima ditinggal begitu saja. Dia pasti akan mencoba mencari penjelasan. Setelah turun ke spoor tiga lewat eskalator yang mudah dilihatnya, aku naik melalui tangga di seberang yang langsung muncul di samping Burger King. Aku memang lapar, moreover sengaja menghindar kalau-kalau Cindy mengejar untuk minta penjelasan, which is most likely.
Laparku segera terpenuhi oleh menu Long Chiken dari Burger King. ya. Berat memang melepaskan Cindy, namun semua ini demi kebaikan kita. Saat usianya semakin matang nanti dia akan semakin kehilangan pesona. Sedangkan aku, masih atau tidak pesona itu, aku sudah memiliki tempat untuk "pulang".
Memang, saat-saat yang kami lalui memang indah. Terlalu indah untuk dilupakan kalau boleh menjiplak lagunya Slank. Di akhir periode masterku dia hadir dengan masalah statistik yang sebenarnya dapat aku selesaikan dengan mudah. Namun, mengingat dia harus belajar, maka aku biarkan dia eksplore apa yang dia bisa lakukan. Dan itu menyebabkan itu dia beberapa kali bermalam di tempatku. Entah karena terpaksa, atau karena ingin bersamaku.
Iya, memang akhirnya aku tidak kuasa menahan diri. Aku mengajaknya berinta dan dia menanggapi dengan antusias. Detailnya tidak perlulah aku ceritakan, sama dengan certa sebagian besar dari kalian, ketika kebutuhan bertemu dengan harapan. Tapi itu semua harus diakhiri. Kuakui dia memang cantik dan menarik. Namun ini masalah komitmen.
"Kalau aku memilih kamu Cin, karena lebih baik dari istriku. Suatu saat nanti aku sangat mungkin akan meninggalkanmu untuk mendapat yang lebih darimu." bisikku kala itu. Teringatku pada suatu waktu yang lalu saat kau berkata bahwa kau lebih baik dari istriku. Memang engkau perempuan idaman seperti yang aku bayangkan pada malam-malam lajang dan jalangku. Namun sekali lagi, ini masalah komitmen.
********
Aku tidak menemukan Enade di Spoor 3. Dia mungkin sudah mengambil kereta ke Amsterdam Zuid menit 43. Aku sudah mencoba menelpon dia, dan hanya dijawab oleh mailbox. Baiklah, engkau pergi, maka aku akan mengambil kereta berikutnya. Semua sudah berlalu. Sudah selesai.
Beberapa bulir air mata mengalir di pipi kuning langsat Cindy. Pikirannya berkecamuk mengenang saat-saat indah bersama Enade. Dan itu semua memang kan berakhir. Namun dia tidak pernah memprediksi bahwa akan berakhir hari ini.
Enade, telah membantunya untuk lulus dan sekarang dia masih dalam usaha mencari pekerjaan untuk bisa tinggal di Belanda. Supaya bisa lebih lama bersama Enade. But, is it worthed now? Segera setelah kereta datang, Cindy melangkah ke dalam dengan perasaan masih berkecamuk. Di Amsterdam Zuid, segera dia ambil metro nomer 51 menuju Nieuwmarkt.
Sesampainya di Nieuwemarkt, Cindy segera melangkahkan kaki ke Cathay Travel, membeli tiket pulang.
"Aku harus pulang, aku ingin pulang." petikan lagu dari Ebiet terngiang-ngiang d telinganya. Lagulagu Ebiet selalu mewarnai suasana saat bermalam di tempat Enade, bergantian dengan lagu-lagu dari KLA. Ah, Enade lagi, dia tidak layak untuk diingat.
Sesampainya di Cathay travel, Cindy booking ticket untuk bulan depan di hari yang sama.
********
"Kondisi aman. Target sudah meninggalkan posisi."
"Sekarang, kemana kita?"
"Bapak akan kita bawa menghadap pimpinan tertinggi operasi ini di Den Haag. Dan Bapak segera diterbangkan di Hawai setelah itu. Kuliah Bapak akan ditunda dengan rekomendasi dari Bapak Menhan. Surat dari Dubes ke atasan Bapak di VU yang menyatakan bahwa Bapak dipanggil untuk urusan negara sudah disampaikan."
"Baiklah. Namun aku ada satu permintaan."
"Siap! Silakan disampaikan!"
"Berikan surat ini ke pemilik Long Pura (http://www.restaurant-longpura.com/), restaurant Indonesia di Amsterdam", ujar Enade sambil menyerahkan amplop coklat.
Amplop coklat tersebut kemudian dibuka oleh agen yang berpakaian casual dan berambut gondrong untuk memastikan bahwa tidak ada kebocoran rencana. Sejenak agen tersebut membaca dan kemudian tersenyum.
"Siap, laksanakan!"
*******
Besok, saatnya aku pulang. Enade sudah hilang. Apartemennya kosong. Temannya tiada bisa mengatakan dia dimana. Bosnya bahkan bilang,"I got a mail and it's confidential I think. I can't give you any information. I'm so sorry" Oke, Aku pulang. Satu-satunya yang membuatku bertahan disini hanya Enade. Tanpa dia, tiada berarti lagi. AKu rindu pelukan hangat Mama, nasihat Papa, dan bercanda dengan Silvia.
Malam terakhirku di Amsterdam akan aku habiskan di Long Pura sendiri. Restaurant tempat aku bekerja dulu, dan meninggalkan banyak kesan. Enade dan aku hanya sekali ke sana. Dia lebih suka ke Warung Celebes daripada ke Long Pura. Mahal katanya. Ah, biarlah sekali lagi ini.
Aku melangkahkan kaki ke Long Pura. Begitu melihatku, para pelayan sepertinya saling melirik. Ah, biarlah. Mas Lukman, salah satu pelayan yang juga kuliah di VU, pasti tahu apa yang kumau.
Sejenak aku duduk sudut utara, tempat Enade dan aku pernah menghabiskan malam bersama, aku duduk sendiri kali ini. Mas Lukman datang membawa dua gelas, satu diisi red wine, satu diisi white wine. Aku bingung, karena aku hanya sendiri dan tidak memesa red winw. Namun mata mas Lukman menyiratkan mistery. Aku diam saja. Sudah terlalu banyak kejutan yang kualami akhir-akhir ini. Biarlah ....
Sajian makanan yang tidak kupesan, mengalir dan aku menikmatinya. Sepertinya mereka tahu kesukaanku. Iyalah, aku pernah kerja disini cukup lama. Sampai aku mengenal Enade, dan aku berhenti karena Enade mencukupi kebutuhanku disini.
Aku menikmatinya, dan melihat segelas red wine yang masih utuh. Aku kenyang dan tidak ingin melihat gelas itu masih utuh. Saat kuraih gelas itu, sebuah tangan menyambar menghentikan. Kulirik siapa pemilik tangan itu, aku tidak mengenalnya. Terlalu gelap secara lampu tertutup oleh tubuhnya. Namun aku seperti mengenal aroma tubuhnya. Ia mengecup bibirku dan mengucapkan selamat jalan.
********
"Mama sendiri menjemputku?"
"Iyalah, Cin. Papa sibuk dengan distribusi produk jamunya ke Gunung Kidul!"
"Yogya panas ya Ma?"
"Ah nggaya kamu!" jawab ibunda Cindy sambil mencubit pipi Cindy yang kuning langsat.
Sementara mereka berjalan melewati para penunggu dan parkiran Bandara Adisucipto Yogyakarta, pandangan Cindy tertumbuk pada sesosok yang seperti dikenalnya. Bersama seorang anak kecil yang sepertinya masih berjalan jalan.
Cindy berhenti sejenak, sementara ibunya memanggil-manggil dari kejauhan. Anak kecil yang belajar jalan bersama ibunya di lapangan parkir bandara itu sangat aktif dan sangat cerewet, mengingatkan Cindy pada seseorang.
Saat di perjalanan pulang menuju perumahan Minomartani. Masih teringat apa yang dilakukan anak kecil itu setiap melihat pesawat yang terbang, tinggal landas. Dia melambaikan tangannya, menyuruh pesawat itu turun sambil teriak .... "Papa ... papa... papa ...'
Sebutir air mata mengalir di pipi Cindy. Dan dia tidak menyesali keputusannya untuk pulang. Anak kecil itu sangat mirip dengan anak kecil di desktop komputer Enade .....
http://i517.photobucket.com/albums/u334/nad3418/DSC_0897_edited.png
-------------------------------- Selesai ------------------------------
Begitu pesan singkat yang baru saja mendarat di hape jadul yang ada senter alias sentolop-nya. Hape yang sama yang digunakan untuk mengirim pesan singkat ini karena memang dulu belinya sama. Senter? Iyah ... itu bagian penting karena alasan praktis. Aku disini sedikit takut gelap. Apalagi ada Bagas, buah hati kami yang sering terbangun tengah malam. Sedangkan dia disana, katanya sih, membutuhkan senter kalau buang air besar. Secara toilet di samping lab dia melakukan penelitian menggunakan sensor gerak. Apa hubungannya? Iyah ... ada hubungannya. Dia kalau buang air besar agak lama karena pikirannya sering kemana-mana, katanya, kalau sedang melakukan ritual itu. Jadi lampu toilet mati secara tidak dideteksi adanya gerakan yang berarti. Maka, hape bersenter jadi salah satu solusi praktis.
Eh, dia sudah sampai Amsterdam berarti sudah jam makan siang di sini. Pantas aku sudah merasa lapar. Ini juga saatnya makan dan minum susu buat Bagas. Ah memang lelah bersama Bagas, namun setidaknya aku ada teman yang menemani. Bukan seperti dia yang seperti berjuang sendiri di sana. Hm.. dengar-dengar sih dia sering sok punya gebetan di sana. Ah paling itu gombalannya juga.
*****
Message sent
Yup sudah terkirim. Saatnya perjuangan panjang dimulai. Dan perjuangan ini akan semakin sempurna ketika ...
"Hai En ..., sorry telat. Gak lama toch nunggunya?"
"Pertanyaan yang aneh Cin."
"Koq aneh? Apanya yang aneh?"
"Biasanya orang minta maaf tuh nanyanya, 'Lama nunggunya?' ... Lha kamu malah ..."
"Iya ... iya... gitu aja dibahas!"
Mendaratlah kecupan Cindy ke pipi montok Enade, tiga kali, khas Belanda. Sebelum akhirnya bibir merah pucat Cindy yang sangat jarang dipoles dengan lipstick ini berlabuh di bibir pecah-pecah yang baru saja melintasi samudera dan benua.
Setelah melepas kangen itu, Enade yang menunggu di meeting point bandara Schiplhol membuka tas ranselnya untuk membuka oleh-oleh buat Cindy. Tak sengaja terlihat olehnya seorang perempuan muda, menggendong anak kecil seusia Bagas. Air mata mengalir di pipi perempuan itu sedangkan anak kecil yang digendongnya terlihat melambaikan tangan ke arah departure gate. Entah melambaikan tangan dalam arti "good bye" atau "come here, please" ke arah siapa ....
"Cin, ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu."
*****
Aku menatap punggung Enade yang bergerak menjauh. Aku hanya bisa terbengong-bengong, masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Di tangan ini tergenggam gelang giok dari Kalimantan, oleh-oleh Enade. Seharusnya gelang itu menjadikan cinta kami semakin bersemi. Namun, entah "pencerahan" dari mana turun padanya sehingga terucap kalimat perpisahan itu. Meskipun terangkai indah dan keluar dengan merdu, kalimat itu begitu sempurna menghancurkan harapan-harapan kosong ini. Memang hanyalah harapan kosong, secara dia sudah memiliki belahan jiwa dan buah hati yang berada di belahan bumi yang lain. Tapi di sini, sekali lagi DI SINI, dia seharusnya milikku. Seutuhnya milikku.
Kurang ajar sekali lelaki sok tampan itu. Aku bangun pagi dan lebur ke hiruk-pikuknya bandara ini bukan untuk gelang giok ini, melainkan untuknya. Dia yang kadang merusak mimpi-mimpiku saat dia ambil cuti. Ranjangku dingin dan sepi sementara dia pasti bergelora dan bercanda dengan keluarga kecilnya di sana. Aku di sini, hanya menghitung hari kapan dia akan kembali. Dan yang kudapati hanya gelang giok ini. Hatiku ini hancur, seperti hancurnya harapan kosong ini. Meskipun kosong, harapan ini mampu memicu munculnya percikan-percikan singkat yang indah dan mungkin terlalu indah untuk dilupakan. Ah .... basi banget sih ... atau malah terlalu dangdut ini. Biarlah, seperti lagu Olga Syahputra ... dalam benak ini hanya ada dua kata hancur hatiku ... hancur ...hancur...hatiku.
Perjumpaan pertama kali dengannya adalah saat pertemuan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Amsterdam sekitar tiga tahun silam, di Hospitium, Laan van Kronenburg. Saat itu sedang ada acara kumpul-kumpul dalam rangka penyambutan teman-teman yang yang baru datang. Infonya sih ada sekitar 20an lebih mahasiswa baru yang datang atas beasiswa StuNed, sebagian besar pegawai negeri dari departemen keuangan. Pengen liat aja, kaya' apa mereka-mereka itu dihadapkan dengan kultur Amsterdam yang jelas-jelas berbeda. Di tengah acara, datanglah sosok kekanak-kanakan, gendut, rambut cepak dibalut jaket berwarna biru BNI'45, antara hijau muda atau biru muda ndak jelas. Karena terlambat, dikerjain lah dia oleh pembawa acara secara alasan terlambatnya nyolot banget: ketiduran. Jelas-jelas dia tinggal di gedung yang sama, hanya butuh turun 4 lantai, pakai lift pula. Hanya saja, dengan kepiawaian bersilat lidah. Hmm... dia memang piawai dalam bersilat lidah dalam arti literal hi..hi..hi...., eh balik ke topik. Dengan piawainya dia balas mengerjain balik si pembawa acara. Aku kira memang itu salah satu trik dia untuk "grab the attention": datang terlambat dan show off. Yup, jika memang itu tujuannya, dia cukup berhasil. Secara dia menjadi memang terlihat berbeda compare to bapak-bapak dan ibu-ibu dari Departemen Keuangan yang rata-rata sudah berumur. Dia sendiri dosen muda di sebuah universitas swasta di Yogyakarta. Sayangnya, dia sudah menikah. Tiga minggu sebelum berangkat ke Amsterdam ini atau berarti sekitar 5 minggu sebelum acara pertemuan itu, dia menikah. Istrinya ditinggal di Yogyakarta.
Tidak. Tidak ada yang istimewa bagiku dari dia meskipun membuat aksi itu. Hanya saja memang peristiwa itu membuat aku aware akan keberadaan "bocah tua nakal" itu. Hingga dua tahun kemudian atau sekitar setahun yang lalu, saat musim gugur sudah membuat taman-taman dan jalanan di Amsterdam seperti disepuh emas. Kami menjadi dekat karena aku sedang dikerjain habis-habisan oleh tugas akhir kuliahku di international business and management studies (IBMS) yang membutuhkan sentuhan program statistik yang namanya SPSS, yang sering diplesetkan olehnya menjadi Smart Program for Stupid Students. Iya, saat itu aku membutuhkan program itu dan sedikit bantuan intruksi pemakaiannya untuk analisis data, dan dari temanku Myra yang pernah satu almamater dengannya aku mendapat informasi bahwa dia sering pakai SPSS untuk risetnya di Belanda ini. Lewat Myra pula aku mendapat jalur untuk akses memasuki ranah pribadinya: kamar, laptop, masakannya dan cerita-ceritanya yang sering lebay dan jadi kadang gak masuk akal. Ya, sejak aku bertanya tentang SPSS kepadanya, dia menjadi mentorku sekaligus tempat aku meminjam laptop dan kamarnya untuk mengerjakan tugas akhir itu. Sementara dia memakai PC yang sudah diset khusus, katanya, untuk dapat mengakses server kampus. Sementara dia hanya memakai laptop untuk untuk chatting dan urusan entertainment lainnya. Kadang-kadang, hanya kadang-kadang memang, dia membutuhkan laptop itu untuk bikin laporan dan presentasi. So, selama musim gugur dan musim dingin itu, praktis laptop ini "milikku". Mungkin juga hatinya. Ah, tapi aku ragu tentang hatinya.
Selama musim yang merana itu, kadang karena bekerja sampai larut malam, aku memilih tidur di kamarnya, bersamanya. Dan ... tidak terjadi apa-apa. Jujur, aku sudah pasrah waktu itu. Aku mungkin sudah terpikat olehnya seiring waktu dan intensitas pertemuan ini. Andai dia menyentuhku pun aku akan menyambutnya dengan senang hati. Sayang aku masih terjerat oleh kultur timur yang membuatku tidak berani memulai. Sedangkan dia, dari pandangan matanya yang kadang sering mencuri-curi menuju ke buah dadaku yang tidak terlalu aduhai ini, dan juga saat kita bicara face to face sering kudapati fokus matanya ke arah bibirku, seperti hendak melumatnya. Aku yakin dia tertarik padaku. Namun entah karena apa, dia tidak pernah memanfaatkan "kesempatan" yang ada.
Damn! Aku ndak boleh menyerah begitu saja. Ini masih menit 29. Aku yakin keretanya belum berangkat. Kereta ke Groningen via Amsterdam baru berangkat menit 35 dari spoor 3.
******
Aku melihatnya menuruni eskalator menuju spoor 3. Cindy yang kukenal pasti tidak terima ditinggal begitu saja. Dia pasti akan mencoba mencari penjelasan. Setelah turun ke spoor tiga lewat eskalator yang mudah dilihatnya, aku naik melalui tangga di seberang yang langsung muncul di samping Burger King. Aku memang lapar, moreover sengaja menghindar kalau-kalau Cindy mengejar untuk minta penjelasan, which is most likely.
Laparku segera terpenuhi oleh menu Long Chiken dari Burger King. ya. Berat memang melepaskan Cindy, namun semua ini demi kebaikan kita. Saat usianya semakin matang nanti dia akan semakin kehilangan pesona. Sedangkan aku, masih atau tidak pesona itu, aku sudah memiliki tempat untuk "pulang".
Memang, saat-saat yang kami lalui memang indah. Terlalu indah untuk dilupakan kalau boleh menjiplak lagunya Slank. Di akhir periode masterku dia hadir dengan masalah statistik yang sebenarnya dapat aku selesaikan dengan mudah. Namun, mengingat dia harus belajar, maka aku biarkan dia eksplore apa yang dia bisa lakukan. Dan itu menyebabkan itu dia beberapa kali bermalam di tempatku. Entah karena terpaksa, atau karena ingin bersamaku.
Iya, memang akhirnya aku tidak kuasa menahan diri. Aku mengajaknya berinta dan dia menanggapi dengan antusias. Detailnya tidak perlulah aku ceritakan, sama dengan certa sebagian besar dari kalian, ketika kebutuhan bertemu dengan harapan. Tapi itu semua harus diakhiri. Kuakui dia memang cantik dan menarik. Namun ini masalah komitmen.
"Kalau aku memilih kamu Cin, karena lebih baik dari istriku. Suatu saat nanti aku sangat mungkin akan meninggalkanmu untuk mendapat yang lebih darimu." bisikku kala itu. Teringatku pada suatu waktu yang lalu saat kau berkata bahwa kau lebih baik dari istriku. Memang engkau perempuan idaman seperti yang aku bayangkan pada malam-malam lajang dan jalangku. Namun sekali lagi, ini masalah komitmen.
********
Aku tidak menemukan Enade di Spoor 3. Dia mungkin sudah mengambil kereta ke Amsterdam Zuid menit 43. Aku sudah mencoba menelpon dia, dan hanya dijawab oleh mailbox. Baiklah, engkau pergi, maka aku akan mengambil kereta berikutnya. Semua sudah berlalu. Sudah selesai.
Beberapa bulir air mata mengalir di pipi kuning langsat Cindy. Pikirannya berkecamuk mengenang saat-saat indah bersama Enade. Dan itu semua memang kan berakhir. Namun dia tidak pernah memprediksi bahwa akan berakhir hari ini.
Enade, telah membantunya untuk lulus dan sekarang dia masih dalam usaha mencari pekerjaan untuk bisa tinggal di Belanda. Supaya bisa lebih lama bersama Enade. But, is it worthed now? Segera setelah kereta datang, Cindy melangkah ke dalam dengan perasaan masih berkecamuk. Di Amsterdam Zuid, segera dia ambil metro nomer 51 menuju Nieuwmarkt.
Sesampainya di Nieuwemarkt, Cindy segera melangkahkan kaki ke Cathay Travel, membeli tiket pulang.
"Aku harus pulang, aku ingin pulang." petikan lagu dari Ebiet terngiang-ngiang d telinganya. Lagulagu Ebiet selalu mewarnai suasana saat bermalam di tempat Enade, bergantian dengan lagu-lagu dari KLA. Ah, Enade lagi, dia tidak layak untuk diingat.
Sesampainya di Cathay travel, Cindy booking ticket untuk bulan depan di hari yang sama.
********
"Kondisi aman. Target sudah meninggalkan posisi."
"Sekarang, kemana kita?"
"Bapak akan kita bawa menghadap pimpinan tertinggi operasi ini di Den Haag. Dan Bapak segera diterbangkan di Hawai setelah itu. Kuliah Bapak akan ditunda dengan rekomendasi dari Bapak Menhan. Surat dari Dubes ke atasan Bapak di VU yang menyatakan bahwa Bapak dipanggil untuk urusan negara sudah disampaikan."
"Baiklah. Namun aku ada satu permintaan."
"Siap! Silakan disampaikan!"
"Berikan surat ini ke pemilik Long Pura (http://www.restaurant-longpura.com/), restaurant Indonesia di Amsterdam", ujar Enade sambil menyerahkan amplop coklat.
Amplop coklat tersebut kemudian dibuka oleh agen yang berpakaian casual dan berambut gondrong untuk memastikan bahwa tidak ada kebocoran rencana. Sejenak agen tersebut membaca dan kemudian tersenyum.
"Siap, laksanakan!"
*******
Besok, saatnya aku pulang. Enade sudah hilang. Apartemennya kosong. Temannya tiada bisa mengatakan dia dimana. Bosnya bahkan bilang,"I got a mail and it's confidential I think. I can't give you any information. I'm so sorry" Oke, Aku pulang. Satu-satunya yang membuatku bertahan disini hanya Enade. Tanpa dia, tiada berarti lagi. AKu rindu pelukan hangat Mama, nasihat Papa, dan bercanda dengan Silvia.
Malam terakhirku di Amsterdam akan aku habiskan di Long Pura sendiri. Restaurant tempat aku bekerja dulu, dan meninggalkan banyak kesan. Enade dan aku hanya sekali ke sana. Dia lebih suka ke Warung Celebes daripada ke Long Pura. Mahal katanya. Ah, biarlah sekali lagi ini.
Aku melangkahkan kaki ke Long Pura. Begitu melihatku, para pelayan sepertinya saling melirik. Ah, biarlah. Mas Lukman, salah satu pelayan yang juga kuliah di VU, pasti tahu apa yang kumau.
Sejenak aku duduk sudut utara, tempat Enade dan aku pernah menghabiskan malam bersama, aku duduk sendiri kali ini. Mas Lukman datang membawa dua gelas, satu diisi red wine, satu diisi white wine. Aku bingung, karena aku hanya sendiri dan tidak memesa red winw. Namun mata mas Lukman menyiratkan mistery. Aku diam saja. Sudah terlalu banyak kejutan yang kualami akhir-akhir ini. Biarlah ....
Sajian makanan yang tidak kupesan, mengalir dan aku menikmatinya. Sepertinya mereka tahu kesukaanku. Iyalah, aku pernah kerja disini cukup lama. Sampai aku mengenal Enade, dan aku berhenti karena Enade mencukupi kebutuhanku disini.
Aku menikmatinya, dan melihat segelas red wine yang masih utuh. Aku kenyang dan tidak ingin melihat gelas itu masih utuh. Saat kuraih gelas itu, sebuah tangan menyambar menghentikan. Kulirik siapa pemilik tangan itu, aku tidak mengenalnya. Terlalu gelap secara lampu tertutup oleh tubuhnya. Namun aku seperti mengenal aroma tubuhnya. Ia mengecup bibirku dan mengucapkan selamat jalan.
********
"Mama sendiri menjemputku?"
"Iyalah, Cin. Papa sibuk dengan distribusi produk jamunya ke Gunung Kidul!"
"Yogya panas ya Ma?"
"Ah nggaya kamu!" jawab ibunda Cindy sambil mencubit pipi Cindy yang kuning langsat.
Sementara mereka berjalan melewati para penunggu dan parkiran Bandara Adisucipto Yogyakarta, pandangan Cindy tertumbuk pada sesosok yang seperti dikenalnya. Bersama seorang anak kecil yang sepertinya masih berjalan jalan.
Cindy berhenti sejenak, sementara ibunya memanggil-manggil dari kejauhan. Anak kecil yang belajar jalan bersama ibunya di lapangan parkir bandara itu sangat aktif dan sangat cerewet, mengingatkan Cindy pada seseorang.
Saat di perjalanan pulang menuju perumahan Minomartani. Masih teringat apa yang dilakukan anak kecil itu setiap melihat pesawat yang terbang, tinggal landas. Dia melambaikan tangannya, menyuruh pesawat itu turun sambil teriak .... "Papa ... papa... papa ...'
Sebutir air mata mengalir di pipi Cindy. Dan dia tidak menyesali keputusannya untuk pulang. Anak kecil itu sangat mirip dengan anak kecil di desktop komputer Enade .....
http://i517.photobucket.com/albums/u334/nad3418/DSC_0897_edited.png
-------------------------------- Selesai ------------------------------