PDA

View Full Version : Padahal



fixshine
21st April 2009, 10:15 PM
“ Aku ngga makan Ted, masih kenyang.. “

Teddy tercenung.. Mamandang mata Ayu dengan gagu.. Pikirannya telah kalut dari tadi.GUGUP... Momen ini harus sempurna, dia telah mempersiapkannya dengan matang. Semua harus sesuai dengan rencana.. Dia telah melatih dirinya berkali-kali untuk saat ini... Dipikirannya masih terekam jelas petuah Bang Fadli..

“ Nanti kamu ngomong ke Ayu nya setelah makan.. “

“ Kenapa bang..? “

“ Kalo sebelum makan nanti pelayan ngeganggu, nanya-naya dan nganter-nganter pesanan makan kalian.. “


Dan sekarang Ayu sama sekali tidak berniat makan. Teddy bingung, hal kecil seperti ini telah membuyarkan semua hapalan yang akan diungkapkannya pada Ayu. Benar.. HAPALAN..!! Dia melatihnya tiap malam, seminggu terakhir ini. Kata-kata yang telah dipilih dan didiskusikan serta disetujui Bang Fadli. Dia telah merancanakan semuanya... Tempat, waktu, rangkaian percakapan, tindakan, bahkan reaksi Ayu telah dia perkirakan dalam bayangannya. Reaksi Ayu dan penjelasan Teddy telah dirancang, direncanakan, dan diantisipasi... SEMUANYA.. Sejauh ini belum ada satupun yang sesuai rencananya. Teddy merencanakan dinner, dan kemaren pun Ayu masih setuju sebelum tiba-tiba Ayu memajukan jadwal pertemuan mereka menjadi sore ini tanpa member pilihan lain. Teddy pun kelabakan sambil menggerut..”Kenapa saat momen-momen yang kita inginkan selalu saja terjadi yang tidak kita inginkan? Arrrgghhh”


“ Uhm.. Kenapa ngga makan Yu..? suara Teddy tercekat dan kering tanpa bisa dia kenali lagi bahwa itu berasal dari kerongkongannya sendiri. Ayu yang bola mata indah nya dari tadi tak pernah lepas memandang Teddy, mengerjap sejenak sebelum tersenyum indah berujar..“ Aku baru makan siang dua jam yang lalu Van, masih kenyang.. Aku mesen minuman aja ya... “


Teddy memandang nya dengan gugup. Dia tidak pernah bisa membalas pandangan mata indah itu, Terlalu menggoda kemudian menghantuinya di setiap malam tanpa bisa tidur. Restoran ini nyaman, interior ditata benar-benar memberikan suasana tenang bagi pengunjungnya, tapi tidak bagi Teddy yang sedang GUGUP.


“ Oh.. OK kalo gitu... “ dengan gugup dia melirik cepat daftar menu.

“ Kamu mesen apa jadinya Yu? “ tanya Teddy kembali dengan sangat gugup. Ayu dengan jelas menyadari perubahan tingkah laku Teddy yang tidak seperti biasanya itu, dia hanya tidak ingin menambah gugup Teddy dengan mengajukan pertanyaan yang akan membuat Teddy makin kacau. Ayu hanya tersenyum maklum dan memanggil pelayan untuk memesan. Sementara Ayu berbicara dengan pelayannya, Teddy dengan cepat menggapai HP dari kantong dan mengirim sms pada Bang Fadli.


~ Bang.. dia ngga makan. Gimana ni?~


Ayu melirik saat Teddy sibuk dengan HP nya. Kembali perasaan Ayu terpecah. Selalu seperti ini, pikirnya, Tiap kali Ayu merasa tersanjung-sesaat oleh tindakan Teddy, sesaat kemudian dia merasa terabaikan kembali.


“ Van.. kamu mesen apa..?“ tanya Ayu tanpa senyuman lagi.

“ Oh.. eh sama aja mas...” jawabnya dan kembali melirik ke HP yang sekarang ditaruhnya diatas meja.

“ Kamu ngga makan? Aku cuma pesen minuman.. “

“ Eh iya.. uhm.. apa ya..? Apa yang enak ya Yu..? “ Teddy membolak-balik menu tanpa sadar sambil menyebutkan menu sekenanya dan kembali melirik pada HP nya yang sedetik kemudian berbunyi. SMS balasan dari Bang Fadli.


Ayu bisa melihat kilat lega dari mata Teddy setelah membaca sms yang baru masuk itu. Dan Ayu sama sekali tidak menyukainya. Dia tidak tau dengan siapa Teddy sibuk berkirim pesan. Dia tidak pernah menanyakan dan tidak akan pernah. Biasanya Teddy sendiri akan bercerita padanya. Tapi sepertinya kali ini tidak. Tingkah laku Teddy sangat aneh, saat dia menelepon dan mengatakan akan ke Jakarta, membuat janji untuk dinner yang akhirnya harus dipindahkan ke sore ini. Bukannya Ayu tidak dapat menduga apa yang menyebabkan tingkah laku Teddy aneh belakangan ini, tapi Ayu pun tak dapat berbuat apa-apa. Ayu telah berpikir ulang berkali-kali, walaupun ada sedikit sesal, tapi dia tidak dapat menahan diri untuk tidak menyalahkan Teddy atas semua yang telah terjadi pada mereka hingga seperti ini.


Ayu telah mengenal Teddy sepanjang tahun ini. Berawal dari rengekan adiknya Dania yang memintanya jadi sopir untuk menjemput “abang-kakaknya” –begitu cara Dania memanggil mereka dengan nada memuja, yang membuat Ayu menaikkan alis, mengernyitkan hidung dan seakan menatap tak percaya- sesama alumni SMA Taruna Nusantara. Dania sering menyingkatnya menjadi TeeN, merasa semua orang tau apa itu TeeN. Walau dengan kesal Ayu memenuhi permintaan adik bawel nya itu. Bagaimana tidak kesal, menjemput orang-orang yang sama sekali tidak pernah ditemui, bahkan oleh Dania sendiri. Adiknya itu hanya mengenal mereka dari web forum ikatan alumni mereka. Sangat tidak masuk akal baginya saat itu. Tapi tanpa dia sangka, ternyata Dania bisa mengenali mereka dengan sekali lihat –kan ada foto2 nya di forum dan facebook, kata Dania- dan langsung terlibat perbincangan seru seakan telah lama saling kenal bahkan sudah tak sungkan untuk saling mengejek dan menarsiskan diri.. –“kan udah sering ngobrol di forum dan facebook..” lagi-lagi Dania menjelaskan dengan nada “gitu aja koq heran” di kemudian hari-


Disanalah dia pertama kali melihat Teddy. Tersenyum Teddy padanya. Tidak seperti dua orang lainnya yang tengah sibuk bercanda saling “menghina” dengan Dania, Teddy terlihat sangat “jaim”. Dia membuka percakapan dengan penuh basa-basi, memperkenalkan diri, menanyakan kabar Ayu, menyatakan permintaan maaf telah merepotkan dan menjanjikan balas budi dengan membuat janji traktiran di kemudian hari. Cukup singkat untuk membuat janji pertemuan demi pertemuan meraka berikutnya berlanjut.


Teddy merupakan sebuah misteri bagi Ayu, bahkan hingga saat ini. Kadang dia sangat dekat, kadang menjauh hingga terasa tak dapat direngkuh. Sekali waktu dia selalu ada menemani, kemudian tiba-tiba menghilang tanpa berita. Jarak yang membatasi mereka pun membuat Ayu tak bisa memahami alasan menghilangnya Teddy. Tanpa telepon, tanpa balasan sms, bahkan tanpa reaksi saat disapa diYM -padahal dia terlihat online tanpa icon sibuk. Kemudian pada saat Ayu mulai mengacuhkannya, Teddy tiba-tiba kembali muncul dan kembali mendekat dengan gaya yang sama, tanpa merasa bersalah.


Tak mungkin Ayu melupakan saat Ayu pun memberanikan diri mengajak Teddy jalan-jalan.. Saat-saat indah mereka lalui bersama..tanpa disadari bahwa Ayu menginginkan Teddy mengisi relung hati untuk selamanya..”Arrrgghhh kenapa pria ini tak bergeming?”, iba Ayu pada diri sendiri.. Hingga dua bulan yang lalu Ayu memutuskan untuk melanjutkan hidupnya tanpa mengharapkan Teddy lagi. Ayu berpikir bahwa dia tidak akan pernah mengerti Teddy, sepertinya Teddy tidak menganggap istimewa dibanding teman-temannya yang lain. Ayu masih mengingat jelas percakapan meraka sebulan yang lalu, dan dia tidak dapat menahan diri untuk-tidak-merasa-dongkol terhadap Teddy setiap kali mengingat percapan mereka

“ Kamu jadian sama Ari? “ tanya Teddy dengan nada “exciting” khas dirinya tanpa bisa menyembunyikan raut heran dan kecewa.

“ Iya... “ Ayu hanya menjawab singkat tapi berusaha keras menangkap ekspresi Teddy

“ Tapi dia kan jauh..., eh tapi selamat ya.. bukan maksud aku... wah... bisa ya... Hmm.. Gitu ya... Wah.. padahal aku mau nembak kamu lho..”


Teddy teringat pertama kali melihat Ayu.. ya..mata Ayu.. Mata Ayu sungguh mempesona..Senyuman Ayu yang hangat dan canda tawa ringan yang dilontarkan Ayu membuat Teddy tak tau harus berbuat apa kecuali bersikap kaku seakan-akan tak mampu mengimbanginya.. Semakin mengenal Ayu..membuat Teddy tak mampu melepaskan Ayu dari hatinya..”kenapa setiap bersama dia, aku selalu merasa tenang dan bahagia?”..


“ Lho.. kenapa kamu ngga bilang dari dulu..? tanya Ayu datar dan tersenyum hambar memecahkan keheningan dan kenangan yang bermain di benak Teddy.


Dalam hatinya, Ayu ingin sekali berteriak di depan muka Teddy, mengatakan bahwa dia sudah capek menunggu selama ini, menduga tanpa bisa mengerti isi hati Teddy. Dan sekarang dengan santai manusia di depannya itu mengucapkan hal yang selama ini dia tunggu dengan penuh sabar. Mungkin Ayu masih akan sabar menunggu Teddy, jika tidak ada Ari. Tapi saat ini ada Ari selama ini disisi Ayu. Menemaninya, mengakui bahwa dia memuja Ayu, meladeni semua sapa nya, tidak pernah hilang meninggalkannya tanpa berita, dan selalu menyatakan bahwa dia menginginkan Ayu. Tidak pernah seperti itu dengan Teddy.


Ayu mengetahui pasti isi hati Ari, tidak perlu harus menduga dan bersabar. Walau terbersit juga di hati Ayu mungkin dia menerima Ari hanya karena ingin mengetahui reaksi Teddy, mengetahui perasaan Teddy yang sebenarnya.


Sekarang Ayu mengetahui perasaan Teddy memang sesuai dugaannya, tapi reaksi Teddy saat mengatakan hal ini sama sekali tidak sesuai dengan harapan Ayu.

“ Padahal aku mau nembak kamu lho...”

“PADAHAL..???” Dengan santainya Teddy bisa mengatakan hal itu? Yah.. memang dia sangat gugup saat itu dan sama sekali tidak terlihat santai. Tapi Ayu sama sekali tidak merasa terlambung atau senang atau bahagia mendengar ungkapan seperti itu. Sepertinya segala sesuatu menjadi rusak karenanya..

“PADAHAL..??? “ ahhh..darimana Ayu bisa tau kalau Teddy suka padanya kalau dia tidak pernah mengatakan langsung, bahkan sedikit menyinggung pun tidak pernah. Yang ada hanya hadir dan hilangnya Teddy sesuka hati. Dari mana Teddy mengharapkan dia bisa tau? Kurang apalagi perhatiannya pada Teddy selama ini? Apalagi yang ditunggu Teddy..? Apa lagi yang diharapkannya..? Mengapa dia menyatakannya sekarang saat Ayu memutuskan untuk bersama Ari?? Berbagai bertanyaan tanpa jawab selalu berputar di kepala Ayu saat mengingat percakapan terakhir itu.


Dan sekarang Ayu sama sekali tidak dapat menduga alasan Teddy mengajaknya setengah memaksa ke restoran ini. Walaupun dia dapat menduga penyebab kegugupan Teddy dari tadi. Ini kali kedua mereka bertemu dengan status Ayu telah bersama Ari.


Teddy sedang mengutuki dirinya sendiri yang tiba-tiba sangat goblok hanya karena Ayu tidak memesan makanan, dia telah panik dan kehilangan nyali. Tapi sms dari Bang Fadli telah menguatkannya kembali. Pergeseran waktu dan tidak makannya Ayu tidak akan merusak rencananya kali ini, Dia tetap akan menjalankan sesuai rencana awal. Tangan Teddy kembali merogoh ke kantong nya. Bukan untuk mencari HP lagi, tapi untuk memastikan bahwa kotak kecil itu masih disana. Kotak yang isinya dia beli seminggu yang lalu di Jogja. Pilihan yang berdasarkan pertimbangan dirinya, Juwita, Icha, dan tentu saja Bang Fadli. Kotak yang membuatnya gugup sepanjang minggu, membuatnya gagu sepanjang hari, dan membuatnya gagap sejak bertemu dengan Ayu. Benda di dalam kotak mungil itu yang menghantuinya dengan berbagai pertanyaan,,,


“Bagaimana jika Ayu menolaknya?” yang menurut Teddy hal ini yang kemungkinan besar akan terjadi. Teddy telah menemukan jawabannya. Dia akan menjual kembali benda ini.

“Bagaimana jika Ayu menerimanya?” Tentu dia akan sangat bahagia... Tapi untuk pilihan ini, Teddy mengetahui peluangnya sangat kecil sehingga tidak telalu memikirkan tindakan selanjutnya.



Teddy bukan seseorang yang suka bertaruh tanpa mengetahui peluang keberhasilannya. Apalagi dengan seorang wanita. Dia terlalu berhati-hati. Mungkin hal inilah yang kemudian mengakibatkan dia kehilangan Ayu. Tapi perjuangan belum berakhir.. begitu kata Bang Fadli seminggu yang lalu.

“ Dengar Ted... Kamu telah kalah langkah saat ini, Jauh tertinggal... Makanya kamu harus habis-habisan. Lagian kamu aneh sekali... Emangnya kamu siapa sampai pake tarik ulur dengan cewek secantik itu...? Sekarang udah keduluan sama yang lain, baru menyesal..”


Sekarang telah kepalang tanggung, Teddy tidak bisa mundur lagi, walau dia sendiri sangat gugup. Telah hilang semua hal yang dilatih bersama Bang Fadli seminggu yang lalu. Makanan yang telah dipesan telah habis tanpa sedikitpun dia sadari rasanya. Tatapan Ayu yang penuh tanya, cara Ayu menyeruput sedikit demi sedikit minumannya, percakapan mereka yang terputus-putus kaku, kilasan masa lalu mereka dan Teddy terus mengingat pembekalan Bang Fadli silih berganti menghinggapi angan. Dan akhirnya dia harus melakukannya juga. Saat ini, sekarang, atau tidak untuk selamanya. Dia merasa antara nyata dan tiada. Pikirannya melayang, membawa semua terasa berdetak melambat.


Suaranya semakin terdengar menjauh, berujar tanpa terpikirkan terlebih dahulu, terputus-putus kaku. Ayu menatap dengan mata indah yang menyipit heran, kemudian membola lagi penuh tanya. Tangan Teddy bergerak mengambil kotak kecil mungil berwarna merah dari kantongnya, menggenggamnya sesaat di telapak yang gemetar dan berkeringat. Hapalannya telah melayang... Rentetan alasan, pernyataan, dan permintaan yang telah disusun rapi cantik dan seharusnya mengalun lembut mendayu memikat itu telah berubah menjadi gagapan kata-kata tak berwujud. Mata indah itu kembali mengernyit mencoba mengerti, menangkap maksud yang susah payah dia jelaskan. Kotak mungil berwarna merah itu telah diatas meja sekarang. Mata indah itu kembali membola ternganga.. takjub ataukah heran tak mengerti? Kedua tangan Teddy memegangnya teguh, seakan seluruh kekuatannya bergantung pada usaha membuka kotak itu. Kerongkongannya kering tercekat, beribu kata berputar di otaknya tapi tak menemukan jalan keluar untuk bisa didengar. Mata indah itu akhirnya mengalihkan pandangan dari kotak mungil berwarna merah itu ke wajah Teddy. Tak lagi membola atau menyipit mengernyit. Hanya menatap tenang menunggu.


Kata-kata itu akhirnya menemukan jalan keluar. Tidak mulus, tapi berdesakan berdempetan seakan lega menemukan udara. Berhamburan terbang tak tentu arah. Beberapa terdengar, yang lainnya hilang tak tertangkap. Lalu Teddy menatatp kotak mungil itu dan mencoba membuka dengan usaha yang terlalu besar dari yang dibutuhkan untuk membukanya. Merobek menyentak nyaris melontarkan isinya. Mata indah itu terlalu dingin melihatnya. Teddy telah mengetahui nasibnya jauh sebelum mulut Ayu membuka bersuara.


“ Tapi Yu... “ Teddy kembali bersuara kali ini tanpa menyisakan gagu... Pikirannya kembali menyatu. Ayu telah menolak cincin yang diberikannya dengan alasan yang rasional tapi masih menyisakan harapan. Dan hal entah kenapa hal ini membawa perasaan lega di diri Teddy. Kalimat Teddy menggantung lama. Disengajanya. Ingin melihat apakah ayu masih mengharapkannya untuk terus dirayu atau kah telah muak melihatnya. Teddy kembali dengan kebiasaan praktek tarik ulurnya.


“ Tapi kenapa..? “ kejar Ayu setelah udara tak dapat lebih lama lagi menahan gaung kalimat terakhir Teddy.

“ Eh.... ngga... Maksud aku.. Padahal Yu, aku mau langsung menemui orang tua kamu kalau kamu menerima lamaran aku ini lho.. “ jelas Teddy sambil tersenyum senang. Pikatannya berhasil Ayu masih menunggu kata-katanya. Teddy masih bersuara makin jelas setelah menemukan kembali percaya dirinya.


Sementara Ayu tergugu mendengarnya... “Padahal ---- lho..” dengan santai dan riang. PADAHAL?? Apa yang salah dengan kata itu? Kenapa kata itu kembali membuat Ayu meradang. Seakan dengan kata itu dia telah mengambil langkah yang salah dan tidak dapat kembali lagi memperbaikinya.


Teddy masih bersuara. Ayu hanya mendengarnya tanpa dapat mencerna, dia terlalu marah. Marah melihat Teddy terlalu santai setelah penolakan yang susah payah dia lakukan agar berusaha tidak terlalu menyakiti hati. Marah mendengar nada suara Teddy yang seakan menunjukkan hadiah tersembunyi seandainya dia mengambil pilihan lain. Marah karena merasa Teddy berpikir Ayu telah rugi besar tidak menerima tawarannya. Marah karena berbagai muatan makna kata “PADAHAL” yang diikuti “Lho” dalam kalimat Teddy itu. Kemarahan yang membuatnya tidak mendengar jelas kata-kata Teddy sampai tangan nya tersenggol tangan Teddy yang menjangkau mendekatinya...


“Aku tidak bisa menerima cincin ini Ted..kamu berikan saja nanti ke wanita yang menjadi calon istrimu“ Ayu pun berujar..berat sekali permintaan Teddy bagi Ayu.. “Tolong kamu terima saja cincin ini. Aku tidak mungkin memberikan cincin ini untuk wanita lain karena cincin ini dibuat hanya untuk mu..anggaplah sebagai tanda persahabatan kita dan kamu tau, aku sungguh mencintai mu..” Teddy mengansurkan kedekat Ayu kotak mungil berwarna merah yang telah terbuka berisi sebentuk cincin indah bermata satu yang membalas tatapan nanar Ayu. Teddy menatap menatap mata Ayu yang bening berkilau sesempurna berlian yang tak dapat direngkuh saat ini dan entah sampai kapan dia harus menunggu.


Dalam kesunyian hati, Ayu mengulurkan tangan meraih kotak mungil berwarna merah itu dan memerangkap kembali mata bening berkilau didalamnya.


“Cinta..mengapa engkau datang terlambat diungkapkan”..




== The end ==



Goklas TP

91.0334

sumwan
22nd April 2009, 06:49 AM
wah kali ini yang muncul si aYu dan b,Tewes... :p

rfauzi
22nd April 2009, 11:37 AM
wah kali ini yang muncul si aYu dan b,Tewes... :p

sumwan sudah jadi tokoh cerita? :p

*bener ini cerpen yang nulis bang Goklas? :mbisik:

fixshine
22nd April 2009, 12:06 PM
hayuk bang goklas gimana pendapatnya ... ?
sebenere nie cerpen kujagoin nominator, tp krn ndak ada dukungan dr ayu + tessa ya muup

violace
22nd April 2009, 12:42 PM
Ada yang aneeeh....
Namanya Teddy, tapi kenapa ayu selalu menyapa nya Van??? :mcengo::mmikir:

violace
22nd April 2009, 01:00 PM
sebenere nie cerpen kujagoin nominator, tp krn ndak ada dukungan dr ayu + tessa ya muup

kenapa bang?
aku puyeng baca di bagian tengah nya..
bahas dunk...

Saut
22nd April 2009, 01:00 PM
Keren.......

Saut
22nd April 2009, 01:18 PM
To cece: Mungkin nama aslinya Irvan....huahhaaha
btw, cece jeli ya.........

sumwan
22nd April 2009, 02:04 PM
sumwan sudah jadi tokoh cerita? :p

*bener ini cerpen yang nulis bang Goklas? :mbisik:

di cerita sebelah kan ada :mbisik:

b.Nade ngeborong nama2 ikastararan :mbisik:

silakan ditengok ceritanya mbah :mbisik:

violace
22nd April 2009, 02:05 PM
Karena aku beneran baca bang....:mlewat:

Saut
22nd April 2009, 06:43 PM
Keren kok cerpennya bang Goklas, tampak nyata...

nad3418
22nd April 2009, 07:41 PM
Ini sepertinya cerita asli. Bang Goklas tuh "Bang Fadli" sedangkan Bang Saut tuh "Teddy.

fixshine
22nd April 2009, 08:20 PM
keliatan akur bang fadli + teddy
smp dibuatin cerpen

Saut
23rd April 2009, 03:39 PM
Wah Enade nebak tuh.....

lanymm
20th July 2009, 05:51 PM
Ini sepertinya cerita asli. Bang Goklas tuh "Bang Fadli" sedangkan Bang Saut tuh "Teddy.

cerita asli? :mcengo:

pertanyaanku sama kayak Cece... kok namanya Teddy dipanggil "Van"
but, sutralah,, gak penting dibahas... mungkin emang nama kecil or nama tengah
mungkin Irvan, Vanny, Vanry, Tauvan, Vander, Van Houten... :p

bang Go :
:msuporter: bikin sekuelnya bang!!! si Teddy akhirnya ketemu siapa?

goesgoes
20th July 2009, 08:42 PM
keren b'....:p
*apalagi pas baca ini entah kenapa pas banget diiringi sama lagunya Archuleta,mmbangun suasana aja:p

kalo emang beneran mo dibikin sekuel,koq saya lebih penasaran sama tokoh ayu ya..:p
apakah dia bener bahagia sama tokoh ari itu ato nggak....:p

fixshine
20th July 2009, 10:01 PM
tanya ayu tuh bahagia ga
ntar lapor bang goklas hasilnya :mbisik:

goesgoes
20th July 2009, 10:24 PM
tanya ayu tuh bahagia ga
ntar lapor bang goklas hasilnya :mbisik:

maksudnya nanya k' Ayu Aninditha b'....:mpanas::mpanas:
saya nunggu kelanjutan beritany dari b' Goklas aja deh b'...:p

Saut
21st July 2009, 12:30 PM
cerita asli? :mcengo:

pertanyaanku sama kayak Cece... kok namanya Teddy dipanggil "Van"
but, sutralah,, gak penting dibahas... mungkin emang nama kecil or nama tengah
mungkin Irvan, Vanny, Vanry, Tauvan, Vander, Van Houten... :p

bang Go :
:msuporter: bikin sekuelnya bang!!! si Teddy akhirnya ketemu siapa?

Teddy akhirnya merit sama pujaan hatinya itu, walau keputusan di saat2x trakhir....

nad3418
21st July 2009, 01:08 PM
Teddy akhirnya merit sama pujaan hatinya itu, walau keputusan di saat2x trakhir....

Jadi undangan pernikahan Teddy akan tertulis:

Akan menikah Teddy dan Lanny*) pada tanggal ... ... ....

*) Mempelai wanita masih dalam konfirmasi.

:mngacir:

fixshine
21st July 2009, 01:10 PM
udah terima aja lann
tunggu apa sih

lanymm
21st July 2009, 03:45 PM
Jadi undangan pernikahan Teddy akan tertulis:

Akan menikah Teddy dan Lanny*) pada tanggal ... ... ....

*) Mempelai wanita masih dalam konfirmasi.

:mngacir:

Lanny kan?? bukan Lany!!!

sok... manggaaa....


udah terima aja lann
tunggu apa sih

Lann kan??? bukan Lan!!


*aneh banget ga sih ni abang bedua...:mcengo:

fixshine
21st July 2009, 05:49 PM
happily ever after deh Lan (skr pasti bener)