PDA

View Full Version : Dari Ufuk Pagi Hingga Senja Menerpa Langit …



fixshine
17th April 2009, 12:11 AM
*******

Yogyakarta, pagi hari pada suatu waktu di musim yang lalu

“mBak Tessa sudah bangun?”

“Sudah, Ma.”

“Mau ikut jalan-jalan? Sedang tidak hujan, sepertinya enak untuk jalan-jalan.”

“Ah, tidak Ma. Terima kasih. Tessa di sini saja. Duduk di depan seperti dulu sebelum Mas Sigit berangkat ke Belanda. Menunggu Mas Sigit pulang dari beli gudeg.” jawab Tessa pada Bu Tono ibu mertuanya.

“mBak Tessa kangen ya sama Mas Sigit?” tanya Bu Tono sambil menemani Tessa duduk di beranda samping rumah dan membelai rambut ikal Tessa. Tessa hanya menjawab dengan tersenyum dan tersipu malu.

“Kira-kira Mas Sigit lagi ngapain ya Ma?”

“Sepertinya sedang tidur. Disana kan sekitar jam 12 malam, toch?”

“Eh iya ya … Maksud Tessa, kalau sedang tidak sibuk, Mas Sigit ngapain di sana ya?”

“Hm.. Mama tidak tahu Tes. Kau curiga kalau Mas Sigit selingkuh ya?”

“Enggak koq, Ma. Meski agak cemas sih. Kan Mas Sigit ke Belanda tinggal di Amsterdam satu gedung sama sahabatnya Mas Enade itu. Gosip yang Tessa dengar sih, Mas Enade itu …”

“suka selingkuh?” potong Bu Tono.

“Iyahhh kira-kira seperti itulah Ma. Kasihan mBak Nia di sini.”

“Ah, Nia sudah tahu resiko menikah dengan Enade. Mereka kan sudah lima tahun lebih pacaran. nDak mungkin Nia ndak tahu kelakuan Enade.” tukas Bu Tono

“Memang Enade dan Sigit sudah jadi sahabat sejak jaman SMA dulu. Sama-sama suka membaca novel-novel picisan dan kadang-kadang ingin membuat karya yang monumental. Tapi aahh… mereka masih muda dan angin-anginan. Selain Enade yang sukanya gonta-ganti pacar, Sigit juga workaholic. Jadi belum pernah terwujud karya mereka yang bisa dibilang monumental.” lanjut Bu Tono.

“Karya monumental apa sih Ma?”

“Mereka dulu pernah semangat bilang sama Mama, kalau mereka mau bikin novel tentang perjuangan mencapai mimpi.”

“Ah, bukankah sudah banyak Ma? Itu laskar pelangi-nya Andrea Hirata malah sudah di-film-kan.”

“Maklum, masih anak SMA waktu itu. Pelan-pelan semenjak kuliah, cita-cita itu mereka lupakan. Bahkan buku folio bergaris yang isinya coret-coretan cerpen dan puisi karnya mereka saat SMA entah di mana sekarang. Hanya satu yang sempat Mama temukan dan simpan.”

“Oh ya, yang mana ya Ma? Tessa belum pernah lihat.”

“Tessa mau lihat? Sebentar Mama ambilkan.”

Bu Tono masuk ke dalam rumah untuk mengambil kumpulan tulisan Sigit dan Enade jaman SMA dulu. Sembari menunggu Tessa menikmati pantulan cahaya matahari dari embun pagi yang masih bertengger di daun-daun pagi itu, sebelum embun itu menguap sebentar lagi. Saat embun yang diamati Tessa mulai tiada, Bu Tono sudah kembali duduk di samping Tessa dengan sebuah buku folio bergaris, yang kusam dan sangat lecek.

“Ini lho mBak.”

Bersama mereka mulai membuka folio bergaris itu. Halaman pertama yang mungkin dimaksudkan sebagai halaman judul ditulisi dengan huruf yang dibesar-besarkan: “DARI UFUK PAGI HINGGA SENJA MENERPA LANGIT …” Di bawah tulisan itu ada coretan kecil: “Sekedar coret-coret yang sempat melintas ketika mata ini terbuka hingga mata ini terpejam di setiap hari yang dianugrahkan Tuhan”.

*******

Sabtu pagi

"En, kamu kenal Olive gak?" tanya Novi setelah selesai mandi dan merapikan diri. Serta bersiap-siap untuk pergi.


"Hmm..hm..hm..hm...", Enade fokus di depan komputernya.


"En, sayangku, kamu kenal Olive gak?" kembali Novi bertanya kepada Enade yang sedang sibuk (atau pura-pura sibuk) di depan komputer. Kali ini dengan nada sedikit tinggi.

"Hmm..hm..hm..hm...", Enade masih fokus di depan komputernya.


"Ah ya sudahlah ... dicuekin gini mending aku pulang aja." ancam Novi.


"Eh iya, untuk acara besok Minggu, tolong beliin bakso udang di oriental dong, Say. Kau lewat sana kan?", sela Enade sedikit menoleh ke arah Novi.


"Enggak mau." Novi mulai merajuk.


"Ya sudah kalau gak mau." Dan Enade kembali ke komputernya.


Novi pergi dengan kesal dari apartemen berbentuk studio yang disewa Enade sejak setahun yang lalu di kota Amsterdam. Kota yang menawarkan banyak hal.


Sepeninggal Novi yang menutup pintu dengan kasar, Enade meninggalkan komputer yang di layarnya terpampang sebuah forum bertajuk ikastara.org. Berbaring dia di atas kasur yang masih acak-acakan setelah semalam menjadi ajang "pergulatan" dua insan memadu nafsu. Dalam benaknya terbayang wajah Olive yang baru dikenalnya minggu lalu. Oriental dan supel. Cantik dan pintar. Kombinasi yang berbahaya. Sengaja dia tidak menjawab pertanyaan Novi tentang Olive untuk menghindari salah jawab. Karena dia tidak bisa menebak arah pertanyaan Novi dan Enade masih juga bingung angin apa yang membawa Novi bertanya tentang Olive.


Enade kembali tertidur. Dan tanpa sadar dia mengigau, "Olive ...".

*******

Sabtu sore


Enade membuka sedikit matanya dengan kepala sedikit pening akibat kebanyakan tidur. Setelah melirik ke hape yang tergeletak disamping kasur yang wallpapernya menunjukkan seputaran pukul 4, dia meloncat dan memaki, "Damn! Ketiduran sampai tujuh jam lebih. Ah semoga toko oriental masih buka."


Enade bergegas ke kamar mandi dan cuci muka serta sikat gigi secukupnya. Lalu menyambar perlengkapan harian guna mengimbangi suhu musim dingin Amsterdam yang suhunya tidak beranjak dari nol derajat akhir pekan ini. Melangkahkan kaki tergesa, Enade menuju Station Amstel. Halte terdekat dari apartemen yang juga pemberhentian dari tiga jalur kereta bawah tanah yang biasa disebut metro yang menuju Nieuwemarkt. Ah, tepat dia menginjakkan kaki di peron, datanglah metro nomor 51. Enade memilih gerbong pertama.


Sesampainya di Nieuwemarkt, Enade keluar dari metro dan sedikit berlari dia mendaki tangga pintu keluar yang memang dekat dengan gerbong pertama. Toko Oriental hanya buka sampai jam 5 sore di hari Sabtu. Salah satu alasan mengapa Enade begitu tergesa-gesa.


"Yess..." Sedikit bersorak dia melihat dari pintu gerbang halte Nieuwemarkt bahwa Toko Oriental masih buka. Setelah masuk ke dalam dan menikmati kehangatan ruangan Toko yang diatur penuh sesak itu, Enade mulai membeli bahan-bahan untuk membuat Mie Goreng Seafood istimewa, andalannya. Satu-satu bahan yang diperkirakan olehnya habis adalah bakso udang yang tadi pagi rencananya mau titip ke Novi. Sayang Novi merajuk tidak mau karena pertanyaan tentang Olive tidak dijawab olehnya. Ya, ignore adalah cara yang ampuh dan aman. Meskipun ignore lebih berbahaya daripada benci dalam suatu relationship.


Relationship? Huahahahahaha (~ketawa ala Rahwana). Nee man! Hubungan Enade dan Novi adalah simbiosis mutualisma. No more than segelas dua gelas Amareto di malam Jum'at setelah seminggu "bekerja keras" (dengan datang ke kantor jam delapan, menghidupkan komputer, buka ikastara.org, memantau friendster, facebook, blog dan web yang dikelola sampai sekitar jam 5 sore), sekecup dua kecup lalu saling memagut, selanjutnya bisa ditebak apa yang terjadi ketika suhu di Amsterdam semakin tidak bersahabat ini.

Alasan lain Enade tergesa-gesa adalah hari itu mulai jam 5 sore ada open dag (= bahasa Belanda. Semacam "open house" lah) untuk red light district yang terkenal itu. Enade setelah belanja di Toko Oriental bergegas menuju meeting point opendag tersebut. Rombongan Enade kebetulan dipimpin oleh Marijke, ketua dari para pekerja komersial di daerah tersebut. Mereka melintasi lorong-lorong district dan masuk beberapa kamar dari sudut-sudut tertentu yang khas.


Marijke dengan menjelaskan bagian-bagian dari district tersebut dan menjawab dengan lugas pertanyaan-pertanyaan peserta tour. Salah satu pertanyaan yang menarik adalah keberadaan tali di atas bantal. Marijke menjawab bahwa tali itu tradisi sejak jaman dulu dan masih dipertahankan sampai sekarang. Fungsi tali adalah semacam alarm untuk keamanan para "pekerja". Andaikata ada pelanggan yang melebihi batas dan bahkan "mengancam" keselamatan, maka sang pekerja berteriak "Acht zes" (~Bahasa Belanda arti harafiahnya = delapan enam) sambil menarik tali itu dan alarm akan berbunyi di tempat security berada. Dan dengan bantuan security, permasalah akan di"aman"kan. Suatu sistem sederhana dan menarik.

*******

Sabtu malam


Enade selesai merapikan kamarnya yang berantakan. Buku-buku ditata pada tempatnya. Lantai disapu dan dipel, serta disemprot pewangi. Lilin berwarna ungu beraroma lavender sengaja dinyalakan. Dan secara iseng dia meletakkan tali di atas bantal seperti posisi yang dia lihat saat opendag tadi. Ah andai Novi datang lagi malam ini, pikirnya. Tapi sepertinya Novi masih merajuk. Enade lalu menyalakan laptopnya lalu login di Yahoo! Messenger dan melihat Novi online dengan status "Kamu kenal Olive gak?" Hey, sepertinya Novi hanya online untuk Enade.

BUZZ!!!
novi_imutzzzz: Kau belum jawab pertanyaanku?
Enade: Yang mana say?
novi_imutzzzz: Olive
Enade: Oww...
Enade: Ada dua Olive yang aku kenal. Satu adek kelasku di SMA. Satu lagi minggu lalu baru kenalan. Anak baru, datang September kemarin. Kenapa dengan Olive?
novi_imutzzzz: Kau ada hubungan apa ma Olive?
Enade: Ndak ada. Sama Olive yang adek kelas SMA, hanya sempat kagum aja sih dulu. Cantik, sayang aku gak punya nyali untuk berkompetisi he..he..he... Kalau Olive yang baru datang ini, cantik juga. Oriental. Cerdas sepertinya. Tapi ya baru kenal minggu lalu. Hey, cemburu ya?
novi_imutzzzz: Cemburu? Emang aku siapa kamu? Geer! Sebel aja. Pas kau tidur kemarin tuh setiap tanganmu gak sengaja nyentuh dadaku selalu aja kau mengigau Olive. Gimana gak sebel. Pas mau dibangunin, ngigau Olive lagi eh malah terus kentut. Menyebalkannnnnnnn!
Enade: Heee ... aku malah gak tahu tuh.
novi_imutzzzz: Makanya aku nanya .. Eh malah dicuekin
Enade: Maaf Say ...
Enade: Kau kesini gak malam ini? Aku dah prepare tempat yang romantis.
novi_imutzzzz: Gak ah. Masih sebel. Lagian besok kita ketemu di rumah Myra. Kau jadi masak mie goreng toch? Aku kangen mie gorengmu
Enade: Oke deh ....
novi_imutzzzz: Aku cabut dulu. Ada artikel yang perlu direvisi ini. Emang capek punya supervisor banyak. Maunya macam-macam. Pusiiiinggg.....!
Enade: :* :* :* :-h


Seperti biasa, Enade meng-update blognya. Ini akhir pekan, waktu dia biasa melakukan itu. Di tengah-tengah mencoba merangkai kata di dunia maya, tiba-tiba hapenya berbunyi. Tertera tulisan "Olive" diatasnya. Reflek, matanya melirik sudut kanan bawah layar laptop dan mendapati sudah pukul 22.30. Cukup larut untuk menelpon.
"Ya, dengan Enade."
"Kak En, ini Olive"
"Gimana Live?"
"Aku kemalaman dan sekarang ada di Gaasperplas. Boleh numpang di tempat Kak En gak? Stay over"
"Hm... (Enade pura-pura berpikir padahal hati bersorak, pucuk dicinta ulam tiba). Dah tahu tempatku?"
"Dekat Amstel Station kan? Aku tidak tahu tempat pastinya. Bisa minta tolong dijemput di Amstel Station?"
"Bolehlah. Aku tunggu di depan Alberthijn. Jam berapa sampai?"
"Oke. Lima belas menit lagi aku sampai. Makasih ya Kak En"


Enade kemudian memakai perlengkapan anti dinginnya dan berjalan pelan menuju Amstel Station. Pas sampai di depan Alberthijn, Enade menemukan Olive sudah menunggu disitu. Salam khas Belanda berupa kecup pipi kanan sekali, pipi kiri sekali lalu sekali lagi pipi kanan memulai perbincangan malam itu. Enade membawa Olive ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, aroma Lavender yang semerbak serta kamar yang rapi lagi romantis membuat Olive merasakan gairah tersendiri. Enade lalu mempersilakan Olive untuk istirahat sementara dia kembali ke belakang laptop, menyelesaikan tulisan untuk blognya. Sembari Olive berbaring, Enade mengajak bercakap-cakap sampai Olive tidak menjawab lagi. Tertidur.


Dalam percakapan itu terungkap bahwa Olive tidak datang September yang lalu tapi sudah lama di Belanda secara ilegal, hanya status legalnya baru didapat September yang lalu. Ketika Enade mencoba mengorek latar belakang Olive, dengan cerdasnya dia berkelit. Sekali lagi, cantik dan pintar adalah kombinasi yang berbahaya.

*******

Minggu sore

Di rumah Myra berkumpul beberapa teman Enade dan Novi. Ada Lany, Priscilia, Iqbal dan juga Joko orang Polandia itu. Aneh, orang Polandia kok namanya Joko. Anggur, vodka, jus dan pastinya mie goreng Enade menjadi menu yang menemani bincang-bincang gezellig (~ pengarang tidak tahu padanan Indonesianya, padanan dalam bahasa Inggrisnya "cozy") sore itu.


"En, mie gorengnya enakkk makasih ya.... " puji Myra sepertinya basa-basi.


"Halah, basi lu Myr! Enak sih memang tapi koq serasa masih ada yang kurang ya?" komentar Novi tajam.


"Iya sih ada yang kurang." ujar Enade pelan sambil berpikir.

"..."

"Oh, Olive!" tiba-tiba Enade berdesis.


"Haish ... Olive lagi. Ada apa lagi dengan Olivemu? Awas kalau gak dijawab!" ancam Novi.


"Nee bukan Olive siapa-siapa. Ini olive oil. Aku tadi masaknya pakai minyak biji bunga matahari, bukan olive oil. Mungkin itu yang bikin rasanya sedikit beda." Enade ngeles.


"Halah alesan aja kau ...!" ujar Novi sambil mencubit pipi Enade yang tembem dan dilanjutkan dengan mengecup kecil bibir Enade yang sedikit terbuka meringis akibat pipinya dicubit.


Ya, memang sebenarnya bukan hanya itu Enade alasan mendesiskan kata "Olive". Kelalaian memanfaatkan Olive oli mengingatkan dia pada kejadian pagi tadi. Enade bangun lebih dulu dari Olive tadi pagi. Kemudian dia memanfaatkan suasana itu dengan menatap wajah Olive sambil menahan tangannya untuk tidak bergerak membelai. Tiba-tiba Olive bertanya dengan suara lirih sambil pelan-pelan membuka matanya, "Kak En, jam berapa?"


"Jam setengah delapan" jawab Enade buru-buru setelah melirik hape di samping kepala Olive. Saat itu tangan Olive bergerak maju membelai rambut ikal Enade. Enade merasa mendapat angin membalas belaian itu dengan belaian juga sambil merapatkan wajahnya ke wajah Olive. Bibir mereka pun kemudian bersatu dan lidah saling berpagut. Enade pun semakin merapatkan tubuhnya ke Olive.


Ketika Olive merasa Enade sudah melangkah terlalu jauh. Olive berbisik. "Kak En jangan, aku sedang kedatangan tamu."


Namun Enade sepertinya sudah tidak bisa mendengar dan berpikir, mungkin karena otak kekurangan darah, secara darah mengalir ketempat yang salah. Enade masih mencoba melanjutkan gerilyanya dengan mencoba membuka kancing baju Olive. Saat itulah insiden terjadi. Olive meronta dan menampar Enade mengembalikan aliran darah Enade ke tempat sebenarnya. Dan secara refleks Olive menarik tali yang semalam secara iseng diletakkan Enade di atas bantal dan teriak "Acht zes ...! "

Minggu malam


Mentari sudah tidak lagi bertengger di ujung senja dan sudah selesai mengucapkan selamat tinggal pada hari ini. Enade berpamitan pulang pada Lany, Priscilia, Iqbal dan juga Joko yang ditutup pamitan pada Myra, si tuan rumah. Khusus untuk Myra lengkap dengan kecup pipi tiga kali, khas Belanda. Novi mengantar Enade sampai ke luar rumah.


"Nov, malam ini kau ke rumahku?" Enade bertanya setelah ritual kecup pipi tiga kali dan kecup tipis di bibir mungil Novi.


"Nee, aku ..." jawab Novi yang tidak lengkap seperti memikirkan kata yang tepat.


"Oke, sampai ketemu hari Jum'at, then." sambar Enade sambil beranjak pergi.


Novi menyambar pergelangan Enade, menariknya dan memeluk erat pinggang seraya menatap kedua mata Enade yang menampakkan wajah bingung. Novi menatap tajam mata Enade seperti ingin menemukan jawaban dari kedua mata itu. Mata tidak pernah berbohong. Pandangan itu melunak seiring bulir air mata yang mengalir pelan ke pipinya yang kuning langsat itu. Novi lalu menempelkan kedua tangannya, yang sudah mulai membeku akibat dari cuaca musim dingin ini, ke pipi Enade dan menempelkan bibir mungilnya ke mulut Enade yang sedikit terbuka karena ingin bertanya. Enade pun memeluk pinggang Novi dan mereka berciuman mesra di tengah tatapan pejalan kaki yang lalu lalang di jalan itu.


"Kenapa Nov?" tanya Enade yang masih kebingungan karena tingkah Novi yang agak aneh ini.


"Aku mencintaimu En."


"Ah ..." Enade sudah mulai menebak arah pembicaraan.


"Tapi seperti katamu dulu. There is no "us" in the future. Semua yang kita lakukan selama ini hanya sekedar menuruti nafsu dan kebutuhan semata. Kamu happy, aku suka, semua senang."


Hening sejenak, tangan Novi yang kedinginan semakin erat terjalin di jemari Enade.


"Tapi, aku mulai mencintaimu En. Dan aku tahu, sejak rasa itu muncul aku harus mengambil pilihan pahit ini. Aku harus stay away from you."


Enade hanya terdiam dan tersenyum getir. Dalam benaknya berkecamuk banyak hal. Memang tidak ada masa depan di antara mereka. Novi memilih tinggal dan hidup di Belanda, sedangkan Enade bertekad untuk pulang dan berkarya di Indonesia. More over, ada anak dan istrinya yang menunggu di Yogyakarta.


"Terima kasih, En."


"Untuk apa?"


"Untuk segalanya yang telah kita lalui selama ini. Aku suka dan menikmatinya juga. Aku pasti merindukan saat-saat itu lagi. Maafkan aku ..."


Novi belum menyelesaikan kalimat yang dilatihnya semalaman saat Enade mengambil inisiatif untuk menutup bibirnya dengan jari telujuk dan beranjak pergi setelah mengecup lembut tipis bibir dan dahi Novi. Tanpa mengucap sepatah kata pun. Air mata Novi semakin deras mengalir.


Setelah langkah kelima baru Enade membalikkan badan sambil berkata dengan sedikit berteriak, "Nov, dalam cinta tidak ada kata 'terima kasih' dan 'maaf' karena semuanya terangkum dalam kata cinta dan pasti mewujud lebur dalam tindakan cinta."


"Kata 'terima kasih' dan 'maaf' yang terucap tadi sudah merupakan bukti yang cukup bagiku bahwa kau belum mencintai aku sepenuhnya. Nikmati sajalah perasaan cinta yang sedang tumbuh itu.


"Dan ketika kau membutuhkan untuk bercinta dengan aku, kau tahu bagaimana dan di mana untuk menemukan aku."


Enade melangkah menjauh sambil melambaikan tangan dan air mata Novi yang mengalir deras, beberapa sudah membeku sebelum bersatu dengan tanah.

*******

Hari Minggu, setelah sepekan berlalu

Yogyakarta

Tessa duduk di depan komputer sambil memegang hape. Sigit ataupun Enade tidak online dan sms darinya ke mereka berdua belum dijawab.

“Mas Sigit, aku kangen …” bisik Tessa pelan, berharap angin membawa pesannya ke Belanda sana.

Tessa kemudian login ke facebook dan mengubah statusnya menjadi “Dari ufuk pagi hingga senja menerpa langit …”


Amsterdam

Enade melangkah keluar dari De Krijtberg, Gereja Katholik yang dikelola oleh romo-romo Jesuit setelah ekaristi terakhir pekan itu. Perlahan dia berjalan melewati bloemenmarkt (= pasar bunga) sambil menikmati hari yang tidak hujan ini setelah seminggu yang lalu hujan rintik-tintik dengan kadang salju turun membasahi tanah pasir ini. Dengan ringan dia melangkah ke Kafe De Jaren di belakang Hotel de L'Europe. Saat itu dia menuju ke meja tempat sesosok wanita dengan pakaian musim dingin yang anggun sedang duduk serius membaca sebuah novel. Your browser may not support display of this image.

"Hai, sudah lama menunggu?"

"Eh, Kak En. Lumayan lama sih. Tapi ndak papa koq, kan ditemani si Andrea Hirata yang kupinjam dari seorang teman minggu lalu," jawab wanita itu sambil tersenyum, menunjukkan novel berjudul Maryamah Karpov karya Andrea Hirata, dan kemudian mereka berbagi salam khas Belanda, kecupan pipi tiga kali.

"Bagus ceritanya? Aku sih cukup kecewa dengan 'Maryamah Karpov' yang kaubaca itu karena pada awalnya sudah berharap terlalu banyak dari novel itu mengingat tiga novel pendahulunya."

"Ah aku belum selesai membacanya. Sejauh ini sih, aku menyukainya. Mungkin karena aku tidak berharap apa-apa dari novel ini. Bukankah harapan adalah sumber dari kekecewaan?" jawab wanita itu sambil mencubit kecil pipi Enade yang tembem itu.

"He..he..he.." jawab Enade sambil garuk-garuk kepala.

"Kak En sudah pesan minuman?" tanya wanita itu.

"Belum? Kau sudah pesan."

"Yupsss, aku sudah pesan cappuccino dan untuk Kak En sudah aku pesankan french coffee. Aku sudah bilang ke pelayan untuk mengantar pesanan kalau sudah ada lelaki dengan ciri-ciri Kak En menghampiri meja ini. Oh itu mereka sudah bergerak kemari."

Sementara wanita itu menyelesaikan urusan administrasi, pikiran Enade berkecamuk. Cantik dan pintar adalah kombinasi yang berbahaya. Nama panggilan perempuan ini adalah Olive. Minggu lalu Olive kemalaman dan mampir menginap di apartemen Enade. Entah dapat inspirasi dari mana, saat bangun tidur di Minggu pagi itu, Olive mencium Enade dan"mengundang" Enade untuk bemesraan. Padahal saat itu dia sedang kedatangan "tamu bulanan". Satu tindakan kecil darinya berhasil menyadarkan Enade yang sudah terbakar nafsu itu namun sekaligus membuka identitasnya, pekerja seks komersial di kawasan paling populer di dunia, red light district Amsterdam. Kejadian Minggu lalu berlangsung cukup cepat. Setelah menampar Enade, menarik tali dan teriak acht zes, Olive segera bangkit merapikan bajunya, merapikan bawaannya, cuci muka di kamar mandi dan segera bersiap meninggalkan apartemen Enade.

Sebelum keluar kamar, saat itu Enade sudah tidak terbengong-bengong dan memegang erat pergelangan tangan Olive dengan tatapan mata tajam menuntut penjelasan. Olive dibiarkan pergi setelah dengan singkat berkata, "Lepaskan aku. Aku akan jelaskan segalanya tapi tidak sekarang."

Dua hari yang lalu, Enade menerima sms dari Olive untuk bertemu hari Minggu ini di Kafe De Jaren pukul 18.30 CET.

"So, apa kabar?" tanya Enade basa-basi setelah menyeruput french coffee barang seteguk.

"Ah gak usah basa-basi. Kau ingin penjelasan kan?"

"Ya. Sebelum kau jelaskan kejadian minggu lalu. Jelaskan dulu kenapa kau bisa tahu kalau french coffee adalah minuman kesukaanku?"

"Aku melihat beberapa botol Amaretto Disaronno kosong di dapurmu. Biasanya pecinta Amaretto Disaronno suka dengan french coffee. Dan aku membuktikan hipotesis itu kali ini, bukan?" jawab Olive singkat sambil tersenyum penuh kemenangan.

Enade hanya tersenyum mendengar jawaban itu dan sekali lagi mengkonfirmasi dalam hati, sungguh cantik dan sungguh pintar. Kombinasi yang sungguh berbahaya.

Sambil menyeruput dengan gaya konservatif eropa kuno, Enade melempar pandangan minta penjelasan dan bertanya langsung, "Dan apa hubungannmu dengan Red Light District alias RLD. Dari tarikan tali dan teriakan 'acht zes'-mu aku berpikir kalau kau ada hubungan dengan dengan RLD?"

"Sebelum aku jawab, aku bertanya dulu. Kau tahu darimana tentang tali dan teriakan 'acht zes'? Vaste klanten (=pelanggan tetap) di RLD ya?" tanya Olive sambil melirik nakal.

"Yee .., sore sebelum kau nginap di tempatku itu, kebetulan aku ikut tour RLD yang dipimpin Marijke. Dari situ aku tahu tentang tali dan teriakan 'acht zes' itu."

"Iya ... iya ... Baiklah aku jujur padamu. Aku memang penghuni RLD sejak aku hadir di Belanda. Sekarang aku masih kerja di sana. Jam kerja tetapku adalah saat akhir pekan pukul 20.00 sampai sekitar pukul 01.00 CET, kecuali sedang kedatangan bulan seperti minggu lalu. Aku haus akan ilmu karena saat aku tidak sempat mengenyam bangku kuliah. Jadi semenjak dapat status legal kemarin aku mulai ambil kuliah lagi di bidang sastra Belanda. Aku suka sastra. Meski aku kuliah, aku tetap butuh penghasilan untuk hidup, makanya aku tetap berkerja di RLD saat akhir pekan."

Olive berhenti sejenak untuk menghabiskan cappuccino-nya, "Iya, dari pandangan matamu aku tahu kau pasti mau menawarkan informasi pekerjaan lain. Namun aku tidak tertarik. Pertama memang alasan uang. Penghasilan di RLD cukup jauh di atas rata-rata perkerjaan sampingan lainnya dan tidak menyita banyak energi secara aku sudah terbiasa di sini. Sehingga aku bisa membagi waktu kuliahku dengan kerja. Kalau kuliah ndak sibuk dan aku sedang mood baik, pada hari kerja aku juga ngantor di RLD. Dan RLD sudah jadi komunitasku, Kak En. RLD dan aku saling membutuhkan."

Enade menikmati tegukan terakhir dari french coffee seraya melempar pandangan kagum. Kagum akan perjuangan dan semangat perempuan di depannya.

"Kak En, kopinya dah habis? Aku mau berangkat kerja nih. Kak En mau jalan sama aku ke tempat kerjaku?" tanya Olive sambil mengerling manja.

"Boleh."

Olive dan Enade lalu beranjak keluar dari De Jaren dan sambil bergandengan berpelukan, mereka melangkah ke utara ke arah Niuwemarkt lalu belok kiri menuju kawasan gemerlap RLD. Enade mengikuti langkah Olive menuju Oude Kerk. Dua gang sebelum Oude Kerk, Olive belok kiri dan masuk ke kamar ke tiga di sebelah kiri. Enade diajaknya masuk dan sementara Olive bersiap-siap, Enade bengong mengamati kondisi kamar yang diterangi cahaya remang-remang dari lampu pendar. Olive berganti dari baju anggun untuk kencan dengan Enade, menjadi lingerie warna hijau pupus yang bisa berpendar dan menonjolkan bagian tubuh yang memang layak ditonjolkan. Enade mulai bergairah melihat pemandangan itu.

"Oke, aku sudah siap. Maaf, bukan mengusir, tapi ini jam kerjaku. Kasihan pelanggan yang mungkin sudah menunggu."

"Kalau aku mau tinggal bagaimana?" tanya Enade sambil memeluk Olive.

"Fifty euro. You can stay 20 minutes more." jawab Olive sambil mengecup tipis bibir Enade.

"What can I get for 50 euro?"

"I will get naked. You can touch my body, my boobs and butt. But not my pussy. And, of course, suck and fuck." kata Olive datar.

"Itu pertanyaan dan jawaban by default, ya?"

"Iyahhh"

"Ya sudah, aku pergi. Aku gak mau mengurangi pendapatanmu karena mengajak ngobrol pada jam kerja." Sambil bersiap-siap meninggalkan "kantor" Olive.

Ketika Enade sudah hampir sampai pintu keluar, Olive memegang pergelangan tangan Enade. Sama seperti saat Olive mau meninggalkan kamar Enade minggu lalu.

Olive menarik Enade melumat lembut bibir Enade. Enade yang sudah bergairah menanggapi dengan memeluk Olive. Kamar temaram itu perlahan lenyap yang ada hanya rasa, hasrat dan sensasi. Olive merasa entah di dunia apa namanya, serasa pernah dia lalui berkali-kali, tapi sensasinya beda kali ini. Seluruh gelinjang kepekaan rasanya menjadi sensitif seperti sengatan-sengatan ribuan volt listrik kosmis. Meluncur cepat, mendesah liar dalam gelora, tak tentu irama nada ketika mendaki dan terus mendaki. Dia lupa kapan lingerie itu terloloskan dari ikatannya, kapan dia tak menyentuh lantai karena dibopong Enade dengan hentakan kelelakiannya, yang dia sadar dia sedang terbang lepas ke awan yang sejak lama tak dia rasakan dan bahkan baru kali ini dia rasakan kesejukannya.


Oh inikah rasanya? Detik-detik ini ingin terus dia daki bersama Enade, bersama yang entah kenapa dia temukan begitu saja. Terus tersedot dalam lobang hitam entah menjadi serupa apa. Entah manusia atau bukan, tak terhitung berapa kecepatan partikel-partikel newtron menghantar pesan-pesan impuls rasa ke otak jika memang mampu. Dosa apa yang telah diperbuatnya, malaikat bersama enade itu datang begitu saja. Lupakan dunia, lupakan kehirukpikukan yang menyiksa ... cabutlah saja nyawa ini, Olive tidak ingin kembali setelah seluruh tenaganya dia teriakkan saat titik gelora, indah ... dan indah saja, hangat, meleleh, damai ... diam dalam satu titik

"Terima kasih .., Kak…" bisik Olive

“Dalam cinta tiada kata terima kasih, Sayang.” jawab Enade sambil menutup bibir Olive dengan telunjuk kanannya.

Enade lalu mengeluarkan dompet.

"Apa maksudnya itu, Kak En? Aku suka Kakak dan anggaplah itu tadi sebagai penglaris. Kakak pelanggan pertamaku hari ini." Tolak Olive saat Enade mengeluarkan dua lembar 50-an euro dari dompetnya secara mereka memadu cinta lebih dari setengah jam.

"Terimalah. Ini jam kerja. Kau harus tetap profesional toch?"

"Baiklah, aku terima 50 euro saja. Aku kan ndak profesional kali ini, secara kita berciuman." Jawab Olive sambil kembali mengecup bibir Enade.

Enade lalu meninggalkan "kantor" Olive dan berdiri di luar mengamati "jendela" tempat Olive memamerkan "dagangannya". Enade meninggalkan tempat itu sekitar 7 menit kemudian setelah ada pelanggan baru yang masuk ke kamar Olive dan gordyn "kantor" Olive ditutup.


Enade memilih jalan kaki untuk pulang ke apartemennya malam itu. Langit cerah, bintang bertaburan serta bulan yang hampir sempurna setelah 3 hari yang lalu purnama menemani langkah-langkah ringan dari kawasan RLD menuju Amstel station. Berjalan kaki merupakan cara yang ampuh, menurut Enade, untuk mengendapkan dan meresapi segala kejadian sepekan ini.


Sungai Amstel di jembatan Amsteldijk yang sebagian permukaannya masih berupa es, memantulkan pemandangan langit lengkap dengan gemerlap lampu dari belantara Amsterdam. Sungai ini sebenarnya kotor sekali. Namun karena ditata elok dan rapi, serta tidak ada sampah yang mengapung di pemukaan, terlihat seperti cantik dan indah.

Berjalan di tepian Amsteldijk, melihat berpasangan kekasih berjalan berpelukan, membawa angan Enade melayang sebentar ke saat berpisah dengan belahan jiwanya di bandara Soekarno Hatta beberapa tahun silam.


"Aku mencintaimu En." ungkap Nia saat itu. Kalimat yang jarang diucapkannya karena memang tidak perlu diucapkan ketika tindakan merupakan cinta itu sendiri.


"Aku tahu. Aku juga mencintaimu."


"Kembalilah dengan utuh, Say."


"Aku tidak bisa berjanji untuk kembali utuh. Aku mencintaimu, itu pasti. Dan aku berjanji akan kembali sebagai suamimu.

*******

Enade sampai di apartemen sekitar jam 10 malam. Setelah mem buka pintu utama, Enade langsung melihat isi kotak surat, hanya sekedar rutinitas. Tidak berharap ada surat apapun, secara yang didapat biasanya adalah tagihan. Namun kali ini lain, Enade menemukan tiga amplop, satu dari sebuah pabrik kapal di Vlissingen berisi undangan, satu dari perusahaan yang mengelola kereta api di Belanda berisi kartu korting, dan satu lagi dari Sigit.

“Sigit? Ngapain Sigit ngirim surat ke aku?” piker Enade sabil serta merta melihat hape kalau-kalau ada missed call atau sms dari Sigit. Enade semakin kebingungan melihat tidak ada pesan apapun dari Sigit di hape.


*******

Bunga Mawar di Ujung Koridor

Aku lelaki yang tidak suka bunga. Bunga memang indah, memberi warna tersendiri dan juga pertanda akan adanya kehidupan. Namun, bunga tetaplah bunga yang aku tidak suka. Mengapa aku tidak suka bunga? Aku tidak tahu, hanya saja tidak suka disini tidak sama dengan benci. Ketidaksukaanku pada bunga karena aku tidak mau bunga mengganggu kehidupanku, so aku juga tidak mengganggu kehidupan bunga.


Setiap hari aku keluar dari apartemenku dan menemukan bahwa bunga hari ini berbeda dengan bunga kemarin dan juga pasti akan berbeda dengan bunga keesokan harinya. Hari demi hari aku menyadari bahwa anginlah yang membuat bunga-bunga itu berubah. Angin yang berhembus entah darimana dan kemana, membawa serbuk sari untuk disebarkan pada tanaman yang menunggunya dan mengubah para bunga itu. Aku bukan angin yang berubah dan membawa perubahan pada bunga. Tapi, aku cemburu pada angin. Andai aku bisa mengendarai angin. Andai ...


Dan cerita ini sampai pula pada suatu ketika. Bunga mawar tumbuh di ujung koridor tempat aku tinggal. Aku tidak peduli. Kutemukan juga di ujung koridor tempat aku bekerja. Aku tidak peduli. Hadir bunga itu di ujung koridor kafe tempat aku duduk menikmati sebatang Dji Sam Soe dan segelas teh hangat setiap akhir minggu. Aku tidak peduli.

Kemarin malam aku berjalan dari kafe ke apartemen dan menemukan bunga mawar di ujung koridor mekar mewangi dan menyapa dengan takjub dan anggun. Dengan sopan aku menundukkan badan membalas sapaannya. Malam itu angin kencang sekali berhembus. Andai aku bisa mengendarai angin. Andai ...


Tadi pagi aku terbangun dengan letih kedinginan. Semalaman melawan rasa dingin yang dihembuskan angin melalui lubang di sela-sela pintu kamar tidurku. Tertatih aku bangkit menuju kamar mandi. Dan tidak kutemukan lagi bunga mawar di ujung koridor tempat tinggalku. Kucari di ujung koridor tempat kerjaku dan juga di kafe, tiada pula kutemui. Hanya kutemukan sisa langkah angin yang lewat tempat itu malam tadi. Angin kembali membawa bunga ke dalam perubahan. Juga bunga mawar yang menyapaku kemarin malam.

Aku berlari ke lantai teratas gedung apartemenku dan mengejar angin. Meloncat dari atap tertinggi berusaha menangkap angin dan mengendarai angin. Aku terbang, aku mengendarai angin, mencari kemana bunga mawar yang menyapaku pergi.

*******

Sambil menghela nafas, Enade melipat secarik kertas yang memuat tulisan norak dari Sigit berjudul “Bunga mawar di ujung koridor” itu. Bersama kertas tersebut Sigit menitipkan kunci apartemennya dan sebuah pesan singkat di kertas terpisah

Enade,

Aku kangen banget sama Tessa. Aku kemarin dapat tiket murah dan diijinkan ambil liburan ama Bos sampai akhir bulan ini. Sorry gak sempat ngabarin. Aku pengen ngerayain valentine sama Tessa. Titip kunci ya. Aku kabari selengkapnya via email. Sorry kalau mendadak. Banyak kerjaan harus disubmit sebelum ambil cuti.

Merdeka!

“Damn! Dasar workaholic romatis karbitan! Dari tulisannya seperti orang mau bunuh diri. Ternyata …” umpat Enade dalam hati sambil berjalan ke apartemennya yang satu lantai d bawah apartemen Sigit.

*******

Restauran Beukenhof, Ullen Sentalu, Yogyakarta

“Mas Haqi, iri juga ya lihat mereka?”

“Lihat apa sih?”

“Itu tuh pasangan yang duduk di beranda luar. Yang pesan ikan salmon itu loh.”

“Kenapa iri?”

“Romantis banget…! Kapan Mas Haqi ngajak aku makan di tempat romantis?” rajuk Nur yang juga pacar Haqi. Keduanya bekerja di restauran Beukenhof ini.

“Kamu tuh ya! Kita ini sudah selalu berduaan di tempat paling romantis sedunia koq… Mau kemana lagi?” jawab Haqi sambil mencubit hidung Nur gemas.

“Lagipula, belum tentu toh mereka pasangan. Sapa tahu selingkuhan? Hayo kamu mau selingkuh sama siapa?” lanjut Haqi mengalihkan pembicaraan.

Sementara di beranda, tanggal 14 Februari 2009, hari Valentine setelah dua Valentine sebelumnya tidak pernah bersama, Sigit dan Tessa mencoba menekan emosi mereka karena ini mungkin juga valentine terakhir. Sigit dan Tessa memulai pembicaraan untuk bercerai setelah tidak menemukan lagi chemistry di antara mereka sejak 2 tahun tidak pernah bertemu. Ikan salmon yang dipesan dibiarkan mendingin sementara Sigit memegang gelas berisi gin and tonic dengan panangan menembus pohon-pohon di hutan pinus di sekeliling restoran dan pikiran Tessa juga merantau entah kemana. Sekali lagi, teori jarak dan waktu is confirmed!

---Selesai---

Cerita ini fiksi belaka. Kesamaan nama hanya untuk membuat cerita ini seolah nyata. Kesamaan peristiwa hanya kebetulan semata.

fixshine
17th April 2009, 12:12 AM
ini paling spektakuler, krn semua artis na forum dimasukin semua jadi "cameo"

sumwan
17th April 2009, 10:58 AM
wah b.Nade.... powerr.... :msembah:

violace
17th April 2009, 12:27 PM
BAcanya tergesa-gesa, banyakan yang udah baca juga jadi suka dilewat.
Alhasil ngga ngerti jadinya...
Membaca tergesa bisa merusak karya :p

andilight
17th April 2009, 03:52 PM
weeh..
si abang emang pinter berimajinasi.. :D

nad3418
19th April 2009, 10:12 PM
ini paling spektakuler, krn semua artis na forum dimasukin semua jadi "cameo"

Haish .. spektakuler tapi gak masuk nominasi ...

:mnyerah:

nad3418
19th April 2009, 10:13 PM
wah b.Nade.... powerr.... :msembah:

:mgeer: :p

Ini hanya gabung-gabungkan cerpen dan beberapa tulisan yang pernah beredar di dunia maya. Lagi gak ada ide ... :mbisik:

nad3418
19th April 2009, 10:18 PM
BAcanya tergesa-gesa, banyakan yang udah baca juga jadi suka dilewat.
Alhasil ngga ngerti jadinya...
Membaca tergesa bisa merusak karya :p

Iyahhh ... :mpanas: :mpanas: beberapa sudah dipublish. Yang baru cuma yang ada adegan Sigit dan/atau Tessa.

~lumayan agak mikir saat mau nyambung-nyambungin. Tapi mungkin asyik juga dibuat novel, menyaingi "Negeri van Oranje (http://www.negerivanoranje.nl/)"

nad3418
19th April 2009, 10:18 PM
weeh..
si abang emang pinter berimajinasi.. :D

He..he..he...

~banyak yang "faksi" (campuran fakta dan fiksi ..... :mbisik: :mgeer: :p ) lho ...

fixshine
19th April 2009, 10:42 PM
buatlah prequel sequelnya diperhalus jadi trilogi cerpen -- Menyambut senja di negeri van Oranje --

Egtheasilva Artella
20th April 2009, 05:08 AM
jadi inget before sunrise and before sunset,,,, :p

violace
23rd April 2009, 12:42 PM
baru baca lagi...
tambahanya rada maksa, cuma di awal n ending nya yg begitu pula...
emang lebih pantes jadi novel..
dilanjut bang nade...
perbanyak sigit n tessa nya...

Saut
23rd April 2009, 03:37 PM
haqi pacarnya di Jogja? Ini Imajinasi or melihat future?
hehehehe