sofyantoro_fajar
13th March 2009, 04:23 AM
Bukan untuk-mu tapi untuk cintaku yang ada di dalam senyum-mu dan di bawah bantalku,
Aku tadi melihat-mu cinta. Lagi. Untuk ke sekian kalinya. Kamu masih seperti biasa. Meneguk es jeruk dengan dua butir es batu di dalamnya. Aku suka melihat mata-mu yang mengecil karena es jeruk yang terlalu asam. Sudah dua puluh dua kali aku menghitungnya setahun ini. Bakso tanpa sayur dan sedikit garam. Sedikit garam juga untuk perhatianku. Semoga garam itu bisa kau tambah setelah surat ini selesai kutulis dan selesai kau baca. Aku melihat-mu cinta. Entah sampai kapan.
Dua hari ini aku mencium bau parfum-mu yang berbeda cinta. Kenapa. Bukan parfum yang biasanya. Hadiah dari siapa. Aku cemburu cinta. Bau-mu tidak seperti yang biasa. Kau tercium seperti orang lain. Aneh. Dan aku sama sekali tidak suka kau disebut aneh cinta. Rambut-mu juga tidak berkilau seperti biasanya. Tapi kau tahu cinta. Sedikit kilau juga untuk perhatianku. Kilaunya berbagi dengan senyum-mu itu. Senyum yang sama seperti senyum yang ada di balik bantalku cinta. Tidak pernah ku ingat karena ku takut aku akan lupa dengan senyum-mu cinta. Senyum. Jaga senyum-mu itu untukku cinta. Janji ya.
Aku cemburu. !!! . Kapan kau mau berhenti bicara dengan-nya. Tawa-mu tak sebanding dengan senyum-mu. Saat kamu membaca surat ini aku sedang mencoba melupakan senyum-mu. Menjaganya agar hanya tetap ada di bawah bantalku. Aku tak mau membaginya dengan siapapun. Siapapun. Jangan kau bagi dengan yang lain cinta. Aku saja tidak membaginya. Apalagi kamu cinta. Jaga senyum-mu itu untukku. Janji ya.
Mata-mu kemarin menyiksaku. Sayu. Kenapa. Butuh bantuanku. Aku pasti siap untuk-mu cinta. Apapun.
Aku akan selalu ada untukmu.
Untuk-mu aku janji. Cinta ini akan selalu demi kamu cinta. Demi senyum di bawah bantalku. Kamu tahu cinta. Dua hari berturut aku mimpi buruk. Kamu datang ke arahku dan berteriak. Kembalikan senyumku kata-mu. Tapi aku menggeleng. Sumpah. Tanpa sadar aku melakukannya. Tapi aku menggeleng. Dan kamu tidak bisa apa-apa. Dan aku terbangun. Dan senyum-mu masih ada di bawah bantalku.
Aku capek cinta. Tapi aku suka memandang-mu. Tersenyum dan bukan tertawa dengan teman-teman-mu. Yang perempuan. Bukan yang c-o-w-o-k. Aku tidak mau. Tapi aku suka memandang-mu. Dengan bando abu-abu-mu setiap hari senin. Dengan gambar hello kitty yang sedang menari cha-cha itu. Tapi aku lebih suka rambut-mu yang polos. Tanpa hello kitty. Tanpa bando abu-abu senin. Tanpa jepit kupu-kupu hari jum’at. Tanpa pita merah jambu yang longgar setelah jam 12. Aku lebih suka rambut-mu yang polos. Yang tidak berkurang kilaunya dan perhatianku juga. Aku ingin kau sempurna di mataku cinta.
Hidung-mu. Jari-mu. Pantat-mu. Selalu ku intip dari belakang. Dua tiga orang di depanku pasti risih denganku. Karena kamu cinta. Karena kamu yang menyita perhatianku. Dengan hidung-mu. Dengan jari-mu. Dengan pantat-mu.
Cinta ku untuk-mu tidak pernah sesederhana itu cinta. Bukan untuk kayu bakar, api dan abu yang dia bicarakan. Bukan demi awan, hujan dan angin apalagi. Cintaku pada-mu lebih dari apapun. Cintaku pada-mu menyita waktuku. Cintaku pada-mu menguras air mataku. Cintaku pada-mu mencabut kantuk dari pelupuk mataku. Cintaku pada-mu menguasai perasaanku. Tapi cinta-mu cinta. Tak bisa mengambil senyum-mu dari bawah bantalku. Aku jaminannya. Pegang kata-kata ku.
Aku mencintaimu tanpa lilin.
Dua puluh langkah tepat. Aku selalu di belakang-mu saat pulang. Aku selalu melihat kau menutup muka-mu dengan sapu tangan saat bis sekolah sebelah warna kuning itu lewat di depan gerbang sekolah kita. Aku selalu melihat-mu menutup mukamu dengan sapu tangan ketika orang di sebelah-mu mengangkat tangannya terlalu tinggi untuk mencari pegangan di dalam bis saat pulang. Pernah sapu tangan itu aku temukan di bawah tempat duduk-mu yang biasa di kelas. Koordinat (3,4) dari meja guru. Aku bawa pulang. Aku tidak mendengar-mu panik mencarinya. Wangi cinta. Sapu tangan itu memang wangi. Aku minta ibuku mencarikan yang serupa di pasar. Ibuku gagal. Tak ada yang sewangi sapu tangan-mu cinta. Aku ingat wanginya. Untuk wanginya aku ingat. Aku ingat selama tiga hari dua malam sesudah sapu tangan itu aku gantung di papan tulis di depan kelas.
Aku senang.
Aku suka ketika kau berkata Love dalam kelas bahasa Inggris cinta. Ingin aku merekamnya. Membayangkan kau membaca surat ini sambil mendengarkan Love--mu membuatku merasa ingin buang air kecil. Seperti saat aku di panggil ayah karena memecahkan akuarium dengan palu yang kupinjam dari kakak. Tapi aku menikmatinya. Love itu tak pernah ada yang bisa menirunya. Love yang membuat lidah -mu bergelung ke atas. Lidah merah jambu. Bibir-mu yang menutup manis saat kata itu berakhir. It means the world to me. Seakan hidupku hanya ada dalam bibir-mu dan lidah merah jambu-mu. Duniaku cinta.
You means the world to me. Mine. Always.
Dua kali aku melihat celana dalam-mu cinta. Pertama warna merah dengan ornamen hello kitty yang sedang menari cha-cha dan kedua aku lupa. Aku lupa karena sepertinya ada foto-mu di dalamnya yang sedang tersenyum. Sudah aku bilang. Aku tak mau mengingat senyum-mu. Pertama saat olahraga di bawah tiang senam dengan sepatu kets putih dua garis biru tua di permukaannya dan ada bercak kecap di permukaan sepatu sebelah kiri. Dan kedua aku lupa. Sejak itu aku selalu melihat senyum-mu memerah dan lebih mengembang di bawah bantalku cinta. Saat kau baca surat ini aku juga yakin kau akan lebih merah dari biasanya. Sebenarnya aku tidak terlalu suka warna merah. Untuk-mu cinta. Apa saja. Bahkan merah yang itu.
Aku minta maaf cinta. Dua kali kupinjam pensil merah jambu-mu tanpa kau tahu. Tanpa seorang pun tahu. Aku menggambar cinta dengan pensil dari cinta. Romantis. Aku bersumpah sudah ku kembalikan pensil-mu. Aku takut membuat-mu panik. Kecuali untuk sapu tangan-mu. Aku rela apa saja. Pensil-mu tidak wangi. Bau tinta. Warnanya juga pudar untuk gambar hati yang pertama. Tidak. Bukan cintaku yang pudar. Tapi salahkan pensil-mu. Tak mau menuliskan cintaku yang sesuai untuk-mu. Aku yakin. Kedua pensil merah jambu itu akan kau simpan baik-baik. Kan?
Dua malam sebelum surat ini kau baca cinta. Aku berebut senyum-mu dengan bantalku. Bantalku merasa sudah berhak merebut senyum-mu dari aku. Senyum-mu tak lagi mengembang dan memerah se-celana dalam-mu. Senyum-mu merengut. Kedekut. Pasti bantalku yang salah. Ada yang salah dengan senyum-mu. Aku tak tahu sebabnya.
Aku tak tahu sebabnya.
Kau berhutang jawaban kepadaku. Kenapa senyum-mu tak seperti yang dulu. Kau kirimkan jawabannya setelah kau tidur setelah membaca surat ini.
Dengan hidung-mu, dengan jari-mu, dengan pantat-mu. Aku janjikan itu untuk menebus senyum-mu. Sepertinya berhasil. Mimpi buruk yang dulu cinta. muncul lagi. Aku takut kehilangan senyum -mu di bawah bantalku. Sangat.
Dua malam aku tidak bisa tidur. Hanya untuk kamu. Untuk surat ini dan untuk menentukan apa yang berhak mewakili-mu. Aku tiba pada sebuah keputusan. Cinta itu hanya pantas untuk-mu. Cinta itu hanya pantas untuk memanggil -mu bahkan ketika kita tidak di kelas bahasa Inggris. Cinta yang tidak setakar garam, sekilau rambut, semerah jambu lidah.
Empat puluh tujuh cinta untuk-mu detik ini.
Tapi cinta itu cukup untukku. Untuk kita berdua.
Aku janji cinta. Catat ini. Kau akan membaca surat ini saat aku mencium-mu dengan mesra saat rambut-mu berkilau dan saat hello kitty menari cha-cha dengan gembira bersamaku. Mei tahun depan. Catat ini.
Aku masih akan terus berusaha untuk mencintai-mu sampai Mei itu datang. Sungguh.
Di bawah atap sadewa lima 2.1
Dua menit dan lima detik setelah aku memeluk-mu saat tidur
Hampir tengah malam.
Aku tadi melihat-mu cinta. Lagi. Untuk ke sekian kalinya. Kamu masih seperti biasa. Meneguk es jeruk dengan dua butir es batu di dalamnya. Aku suka melihat mata-mu yang mengecil karena es jeruk yang terlalu asam. Sudah dua puluh dua kali aku menghitungnya setahun ini. Bakso tanpa sayur dan sedikit garam. Sedikit garam juga untuk perhatianku. Semoga garam itu bisa kau tambah setelah surat ini selesai kutulis dan selesai kau baca. Aku melihat-mu cinta. Entah sampai kapan.
Dua hari ini aku mencium bau parfum-mu yang berbeda cinta. Kenapa. Bukan parfum yang biasanya. Hadiah dari siapa. Aku cemburu cinta. Bau-mu tidak seperti yang biasa. Kau tercium seperti orang lain. Aneh. Dan aku sama sekali tidak suka kau disebut aneh cinta. Rambut-mu juga tidak berkilau seperti biasanya. Tapi kau tahu cinta. Sedikit kilau juga untuk perhatianku. Kilaunya berbagi dengan senyum-mu itu. Senyum yang sama seperti senyum yang ada di balik bantalku cinta. Tidak pernah ku ingat karena ku takut aku akan lupa dengan senyum-mu cinta. Senyum. Jaga senyum-mu itu untukku cinta. Janji ya.
Aku cemburu. !!! . Kapan kau mau berhenti bicara dengan-nya. Tawa-mu tak sebanding dengan senyum-mu. Saat kamu membaca surat ini aku sedang mencoba melupakan senyum-mu. Menjaganya agar hanya tetap ada di bawah bantalku. Aku tak mau membaginya dengan siapapun. Siapapun. Jangan kau bagi dengan yang lain cinta. Aku saja tidak membaginya. Apalagi kamu cinta. Jaga senyum-mu itu untukku. Janji ya.
Mata-mu kemarin menyiksaku. Sayu. Kenapa. Butuh bantuanku. Aku pasti siap untuk-mu cinta. Apapun.
Aku akan selalu ada untukmu.
Untuk-mu aku janji. Cinta ini akan selalu demi kamu cinta. Demi senyum di bawah bantalku. Kamu tahu cinta. Dua hari berturut aku mimpi buruk. Kamu datang ke arahku dan berteriak. Kembalikan senyumku kata-mu. Tapi aku menggeleng. Sumpah. Tanpa sadar aku melakukannya. Tapi aku menggeleng. Dan kamu tidak bisa apa-apa. Dan aku terbangun. Dan senyum-mu masih ada di bawah bantalku.
Aku capek cinta. Tapi aku suka memandang-mu. Tersenyum dan bukan tertawa dengan teman-teman-mu. Yang perempuan. Bukan yang c-o-w-o-k. Aku tidak mau. Tapi aku suka memandang-mu. Dengan bando abu-abu-mu setiap hari senin. Dengan gambar hello kitty yang sedang menari cha-cha itu. Tapi aku lebih suka rambut-mu yang polos. Tanpa hello kitty. Tanpa bando abu-abu senin. Tanpa jepit kupu-kupu hari jum’at. Tanpa pita merah jambu yang longgar setelah jam 12. Aku lebih suka rambut-mu yang polos. Yang tidak berkurang kilaunya dan perhatianku juga. Aku ingin kau sempurna di mataku cinta.
Hidung-mu. Jari-mu. Pantat-mu. Selalu ku intip dari belakang. Dua tiga orang di depanku pasti risih denganku. Karena kamu cinta. Karena kamu yang menyita perhatianku. Dengan hidung-mu. Dengan jari-mu. Dengan pantat-mu.
Cinta ku untuk-mu tidak pernah sesederhana itu cinta. Bukan untuk kayu bakar, api dan abu yang dia bicarakan. Bukan demi awan, hujan dan angin apalagi. Cintaku pada-mu lebih dari apapun. Cintaku pada-mu menyita waktuku. Cintaku pada-mu menguras air mataku. Cintaku pada-mu mencabut kantuk dari pelupuk mataku. Cintaku pada-mu menguasai perasaanku. Tapi cinta-mu cinta. Tak bisa mengambil senyum-mu dari bawah bantalku. Aku jaminannya. Pegang kata-kata ku.
Aku mencintaimu tanpa lilin.
Dua puluh langkah tepat. Aku selalu di belakang-mu saat pulang. Aku selalu melihat kau menutup muka-mu dengan sapu tangan saat bis sekolah sebelah warna kuning itu lewat di depan gerbang sekolah kita. Aku selalu melihat-mu menutup mukamu dengan sapu tangan ketika orang di sebelah-mu mengangkat tangannya terlalu tinggi untuk mencari pegangan di dalam bis saat pulang. Pernah sapu tangan itu aku temukan di bawah tempat duduk-mu yang biasa di kelas. Koordinat (3,4) dari meja guru. Aku bawa pulang. Aku tidak mendengar-mu panik mencarinya. Wangi cinta. Sapu tangan itu memang wangi. Aku minta ibuku mencarikan yang serupa di pasar. Ibuku gagal. Tak ada yang sewangi sapu tangan-mu cinta. Aku ingat wanginya. Untuk wanginya aku ingat. Aku ingat selama tiga hari dua malam sesudah sapu tangan itu aku gantung di papan tulis di depan kelas.
Aku senang.
Aku suka ketika kau berkata Love dalam kelas bahasa Inggris cinta. Ingin aku merekamnya. Membayangkan kau membaca surat ini sambil mendengarkan Love--mu membuatku merasa ingin buang air kecil. Seperti saat aku di panggil ayah karena memecahkan akuarium dengan palu yang kupinjam dari kakak. Tapi aku menikmatinya. Love itu tak pernah ada yang bisa menirunya. Love yang membuat lidah -mu bergelung ke atas. Lidah merah jambu. Bibir-mu yang menutup manis saat kata itu berakhir. It means the world to me. Seakan hidupku hanya ada dalam bibir-mu dan lidah merah jambu-mu. Duniaku cinta.
You means the world to me. Mine. Always.
Dua kali aku melihat celana dalam-mu cinta. Pertama warna merah dengan ornamen hello kitty yang sedang menari cha-cha dan kedua aku lupa. Aku lupa karena sepertinya ada foto-mu di dalamnya yang sedang tersenyum. Sudah aku bilang. Aku tak mau mengingat senyum-mu. Pertama saat olahraga di bawah tiang senam dengan sepatu kets putih dua garis biru tua di permukaannya dan ada bercak kecap di permukaan sepatu sebelah kiri. Dan kedua aku lupa. Sejak itu aku selalu melihat senyum-mu memerah dan lebih mengembang di bawah bantalku cinta. Saat kau baca surat ini aku juga yakin kau akan lebih merah dari biasanya. Sebenarnya aku tidak terlalu suka warna merah. Untuk-mu cinta. Apa saja. Bahkan merah yang itu.
Aku minta maaf cinta. Dua kali kupinjam pensil merah jambu-mu tanpa kau tahu. Tanpa seorang pun tahu. Aku menggambar cinta dengan pensil dari cinta. Romantis. Aku bersumpah sudah ku kembalikan pensil-mu. Aku takut membuat-mu panik. Kecuali untuk sapu tangan-mu. Aku rela apa saja. Pensil-mu tidak wangi. Bau tinta. Warnanya juga pudar untuk gambar hati yang pertama. Tidak. Bukan cintaku yang pudar. Tapi salahkan pensil-mu. Tak mau menuliskan cintaku yang sesuai untuk-mu. Aku yakin. Kedua pensil merah jambu itu akan kau simpan baik-baik. Kan?
Dua malam sebelum surat ini kau baca cinta. Aku berebut senyum-mu dengan bantalku. Bantalku merasa sudah berhak merebut senyum-mu dari aku. Senyum-mu tak lagi mengembang dan memerah se-celana dalam-mu. Senyum-mu merengut. Kedekut. Pasti bantalku yang salah. Ada yang salah dengan senyum-mu. Aku tak tahu sebabnya.
Aku tak tahu sebabnya.
Kau berhutang jawaban kepadaku. Kenapa senyum-mu tak seperti yang dulu. Kau kirimkan jawabannya setelah kau tidur setelah membaca surat ini.
Dengan hidung-mu, dengan jari-mu, dengan pantat-mu. Aku janjikan itu untuk menebus senyum-mu. Sepertinya berhasil. Mimpi buruk yang dulu cinta. muncul lagi. Aku takut kehilangan senyum -mu di bawah bantalku. Sangat.
Dua malam aku tidak bisa tidur. Hanya untuk kamu. Untuk surat ini dan untuk menentukan apa yang berhak mewakili-mu. Aku tiba pada sebuah keputusan. Cinta itu hanya pantas untuk-mu. Cinta itu hanya pantas untuk memanggil -mu bahkan ketika kita tidak di kelas bahasa Inggris. Cinta yang tidak setakar garam, sekilau rambut, semerah jambu lidah.
Empat puluh tujuh cinta untuk-mu detik ini.
Tapi cinta itu cukup untukku. Untuk kita berdua.
Aku janji cinta. Catat ini. Kau akan membaca surat ini saat aku mencium-mu dengan mesra saat rambut-mu berkilau dan saat hello kitty menari cha-cha dengan gembira bersamaku. Mei tahun depan. Catat ini.
Aku masih akan terus berusaha untuk mencintai-mu sampai Mei itu datang. Sungguh.
Di bawah atap sadewa lima 2.1
Dua menit dan lima detik setelah aku memeluk-mu saat tidur
Hampir tengah malam.