PDA

View Full Version : Buku Sintong Panjaitan : Prabowo, Counter Coup 1983 dan 'Mengambil' Para Jenderal



GQ
12th March 2009, 01:27 PM
Momen menjelang Pemilu ??



Gosip kup 1965 dan 1998 sudah jadi rahasia umum. Tapi kup 1983? Kisah anyar inilah yang dituangkan Letjen TNI (Purn) Sintong Panjaitan dalam buku 'Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando'.

Sintong menuturkan isu kup 1983 sebagai awal keretakan hubungan Asisten Intelijen Hankam Letjen TNI LB Moerdani dan Wakil Komandan Den 81/Antiteror Kapten Prabowo Subianto. Saat itu Prabowo menengarai Moerdani akan melakukan kudeta dan Prabowo akan menggagalkannya.

Cara counter coup d'etat itu adalah Prabowo berencana 'mengambil' sejumlah nama perwira tinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).

"Di antara nama-nama perwira tinggi ABRI yang akan diambil adalah Letjen TNI LB Moerdani, Letjen TNI Soedharmono, Marsda TNI Ginandjar Kartasasmita, dan Letjen TNI Moerdiono," tutur Sintong dalam bukunya yang dia luncurkan Rabu (11/3/2009) malam.

Seperti dituturkan dalam halaman 445, saat itu Maret 1983, pasukan khusus Den 81/Antiteror telah bersiap namun segera dicegah Mayor Luhut Pandjaitan, komandan satuan tersebut.

"Enggak ada itu (kup). Sekarang kalian semua kembali siaga ke dalam. Tidak ada seorang pun anggota Den 81 yang keluar dari pintu tanpa perintah Luhut Pandjaitan sebagai komandan," tutur Sintong menirukan Luhut kepada pasukannya.

Luhut sempat berbincang dengan Prabowo mengenai asal muasal datangnya kabar kup tersebut. Dalam percakapan keduanya, terekam bila Prabowo menyangka LB Moerdani telah memasukkan senjata dari luar untuk melaksanakan coup d'etat.

"Memang benar LB Moerdani memasukkan senjata. Tetapi senjata itu merupakan senjata dagangan yang disalurkan kepada para pejuang Mujahiddin Afghanistan untuk melawan Uni Soviet. Di antara senjata itu adalah serbu AK-47 dan senapan laras panjang SKS serta senjata antitanks buatan Prancis yang dibeli dari Taiwan," tutur Sintong seperti yang diungkapkan Luhut.

Operasi intelijen LB Moerdani dilakukan dalam mencari dana dan memberi peran Indonesia dalam perjuangan di Asia. "Jadi Pak Benny memainkan peranan itu. But it is nothing to do with coup d'etat," tutur Sintong.

Perdebatan sempat terjadi antara Luhut dan Prabowo, dan kemudian terpapar rencana selain mengamankan perwira tinggi ABRi, juga membawa Soeharto ke markas Den/81 Antiteror ke Cinjantung.

"Bang, nasib negara ini ditentukan oleh seorang kapten dan mayor," tutur Prabowo kala itu.

"Kalau kata-kata itu dijabarkan, maka seorang Kapten Prabowo Subianto bertindak sebagai peran utama, sedangkan Mayor Luhut sebagai pemeran pendukung," jelas Sintong

GQ
12th March 2009, 01:28 PM
Buku Sintong Panjaitan :
Counter Coup Prabowo Mirip Rekayasa Letkol Untung



Rencana counter coup d'etat Prabowo pada Maret 1983, dinilai Letjen Purn Sintong Panjaitan, tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Letkol Untung pada 1965.

Untung adalah orang yang berpengaruh di Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal presiden. Kala itu Untung menyebut ada rencana kup dari Dewan Jenderal. Dia lalu melakukan counter coup dengan menculik para petinggi Angkatan Darat.

"Peristiwa Maret 1983 merupakan suatu rekayasa yang mirip dengan rekayasa counter coup yang dilakukan Letkol Untung," tutur Sintong dalam bukunya 'Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando'.

Mayor Luhut dan Kapten Prabowo lantas melaporkan isu kup yang dilakukan Asintel Hankam Letjen LB Moerdani itu ke Wakil Komandan Jenderal Kopassandha (sekarang Kopassus) Brigjen Jasmin.

Jasmin malah memberi cuti Prabowo 2 minggu karena menilai Prabowo stres.

Tidak lama kemudian Luhut menghadap ayahanda Prabowo, Soemitro Djojohadikoesoemo, memberitahukan soal cuti bagi Prabowo.

"Prabowo agak stres karena situasi yang terjadi di Cijantung dan Prof Soemitro dapat memahaminya," tutur Luhut kepada Sintong.

Hingga kemudian Prabowo disekolahkan di Jerman Barat. Sementara itu LB Moerdani yang mengetahui kejadian ini tidak berbicara banyak

GQ
12th March 2009, 01:29 PM
Buku Sintong Panjaitan :
Senjata Prabowo Dilucuti Saat Bertemu Habibie



Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto bergegas. Bersama 12 pengawalnya dia tiba di Istana Presiden, untuk menemui BJ Habibie yang baru saja menerima tampuk kekuasaan dari Soeharto.

"Pada waktu Prabowo masuk, para petugas agak tegang," tutur Letjen (Purn) Sintong Panjaitan dalam bukunya 'Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando' yang dia luncurkan di Balai Sudirman, Jl Sahardjo, Jakarta, Rabu (11/3/2009) malam.

Saat itu 22 Mei 1998, sehari setelah Soeharto mengundurkan diri. Habibie mengeluarkan keputusan mencopot Prabowo dari jabatannya. Hal itulah yang membuat Prabowo buru-buru ke Istana.

Menurut prosedur yang berlaku, para tamu presiden harus menunggu dahulu di lantai dasar, di sini mereka harus diperiksa dan disterilkan. Setelah tamu mendapat persetujuan bahwa ia akan diterima presiden baru diizinkan naik lift menuju lantai 4.

Namun Sintong, yang saat itu menjabat sebagai penasihat bidang pertahanan dan keamanan (Hankam) Presiden Habibie, mendapat laporan dari ajudan bahwa Prabowo langsung naik lift menuju lantai 4 tanpa ada seorang pun petugas yang mencegahnya.

"Selain itu sangatlah janggal, kalau dalam situasi semacam ini BJ Habibie sebagai presiden berhadapan dengan Prabowo yang bersenjata lengkap," jelas Sintong.

Memang saat itu Prabowo cukup dikenal banyak perwira pasukan pengamanan presiden, sehingga banyak yang sungkan terhadap Prabowo.

Melihat kondisi tersebut, Sintong pun memberi perintah agar Prabowo jangan masuk dahulu ke kantor presiden, sebelum diberi izin. Sintong teringat berita tetntang tewasnya Presiden Korea Selatan Park Chung-hee (menjabat tahun 1963-1979) karena ditembak dari jarak dekat oleh Jenderal Kim Jae-gyu dengan pistol Walther PPK, dalam satu pertemuan di Istana Kepresidenan Korsel.

Sintong lantas meminta agar seorang pengawal presiden mengambil senjata dari Prabowo dengan cara yang sopan dan hormat dan agar Prabowo tidak direndahkan.

"Lihat ke sana kau kenal Prabowo. Kau ambil senjata Prabowo dengan cara yang sopan dan hormat," perintah Sintong kepada seorang anggota pasukan pengawal kepresidenan.

Selain itu, Sintong juga telah menyiagakan anggota berpakaian preman bersenjata lengkap di lantai 4. "Untuk menurunkan Prabowo dengan paksa ke lantai dasar, seandainya ia menolak menyerahkan senjatanya," jelas Sintong.

Petugas berpakaian preman yang ditugaskan mengambil senjata dari Prabowo itu pun lantas Prabowo dan terlibat pembicaraan singkat.

"Prabowo membuka kopelrim yang tertambat pistol, magasen, peluru, dan sebilah pisau rimba khas Kostrad," tutur Sintong.

Melihat kejadian itu, Sintong merasa bersyukur di dalam hati. "Aduh terimakasih Prabowo, begitulah seharusnya tentara bersikap. Menaati peraturan," jelas Sintong.

Akhirnya Prabowo bertemu Habibie empat mata. Hingga setelah beberapa jam kemudian Sintong mengingatkan Prabowo untuk mengakhiri pertemuan.

Soal pergantian jabatan Prabowo itu Sintong menulis hal itu sepenuhnya kewenangan Habibie dan dia tidak ikut terlibat dalam prosesnya.

Sintong juga menyebut, Habibie sempat khawatir terjadi sesatu akibat pergantian itu, namun Sintong meyakinkan bila semuanya akan berjalan normal

GQ
12th March 2009, 01:30 PM
Buku Sintong Panjaitan :
Wiranto dan Prabowo Harus Bertanggung Jawab atas Kerusuhan Mei 98



Mantan Panglima ABRI Jenderal (Purn) Wiranto dan mantan Panglima Kostrad Letjen (Purn) Prabowo Subianto harus bertanggung jawab atas kerusuhan Mei 1998. Demikian komentar mantan Jaksa Agung Marzuki Darusman setelah membaca buku Letjen (Purn) Sintong Panjaitan yang berjudul 'Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando' .

"Wiranto harus bertanggungjawab atas kerusuhan Mei karena tidak dilaksanakannya perintah presiden untuk pemulihan keamanan dan Prabowo bertanggungjawab atas kasus penculikan," kata Marzuki usai bedah buku Sintong di Balai Sudirman, Jl Dr Saharjo, Jakarta, Rabu (11/3/2009).

Marzuki menilai, buku ini sangat berarti untuk meluruskan problematika kekuasaan ke depan. Menurut dia, keputusan Wiranto yang menolak perintah presiden tersebut memunculkan pertanyaan, yakni apakah hal itu bisa dikategorikan membuka demokrasi atau merupakan jenis pelanggaran serius di tubuh TNI.

"Biarkan pertanyaan berkembang dan biar politik yang menyelesaikan mereka," tambahnya.

Apakah peluncuran buku ini disinyalir untuk menjegal Wiranto dan Prabowo? "Itu teori konspirasi yang menandakan adanya kemalasan berpikir saja. Buku ini merupakan sumbangan yang berarti bagi sejarah Indonesia," cetus Marzuki.

Dalam buku setebal 520 halaman yang ditulis wartawan senior Hendro Soebroto tersebut, Sintong menuturkan Wiranto boleh menolak perintah Panglima Tertinggi. Namun seharusnya Wiranto mengundurkan diri selambat-lambatnya dalam jangka waktu delapan hari sejak menolak perintah.

"Wiranto boleh menolak perintah Panglima Tertinggi. Tetapi karena hal itu merupakan subordinasi, maka selambat-lambatnya ia harus mengundurkan diri dalam jangka waktu delapan hari. Bahkan Sintong menegaskan bahwa setelah Wiranto menolak perintah Panglima Tertinggi ABRI, pada saat itu juga ia harus langsung mengundurkan diri," demikian tertulis pada halaman 6.

GQ
12th March 2009, 01:31 PM
Prabowo Cueki Tudingan Sintong



Berbagai tudingan terhadap capres Partai Gerindra Prabowo Subianto terdapat dalam buku karya Letjen (Purn) Sintong Panjaitan. Namun Prabowo tetap cuek dengan tudingan-tudingan itu.

"Saya belum membaca bukunya. Terserah orang mau bicara apa. Ini kan negara demokrasi, setiap orang berhak menulis apa saja. Tapi dia tidak berhak mencemarkan nama baik orang lain," kata Prabowo.

Hal itu disampaikan Prabowo usai peluncuran buku 'Membangun Kembali Indonesia Raya' di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Kamis (12/3/2009).

Prabowo menyatakan, rakyat saat ini sudah pandai dan dapat melakukan penilaian yang obyektif. "Saya penganut falsafah Jawa sing becik ketitik, sing olo ketoro artinya yang baik akan ketahuan dan yang buruk juga terlihat," katanya.

Mengenai tudingan diriya terkait aksi penculikan aktivis pada 1998 silam, Prabowo menyatakan dirinya telah mempertanggungjawabkan hal itu.

"Tekait penculikan aktivis saya sudah pertanggungjawabkan di Dewan Kehormatan Perwira," katanya.

GQ
12th March 2009, 01:33 PM
Wiranto: Menyalahkan Memang Paling Mudah



Mantan Menhankam/Panglima ABRI Jenderal Purn Wiranto dituding sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam insiden kerusuhan Mei 1998. Hal itu tertuang dalam buku mantan penasihat Presiden Habibie dalam bidang pertahanan keamananan Letjen TNI (Purn) Sintong Panjaitan.

Tapi Wiranto tegas-tegas membantah tuduhan itu. "Menyalahkan memang paling mudah," ujar Wiranto pada detikcom, Kamis (12/3/2009).

Dalam buku berjudul 'Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando' di halaman 36, Sintong menulis Jenderal TNI Wiranto harus memikul tanggung jawab atas kegagalan penanganan peristiwa Mei 1998. Kegagalan itu merupakan blunder terburuk dalam sejarah ABRI sejak 1945.

"Yang jelas kalau saya diamkan Indonesia sudah hancur lebur, dan mungkin demokrasi tidak seperti sekrang ini," bela Wiranto.

Capres Hanura ini juga menegaskan saat itu kerusuhan massal dapat dipadamkan hanya dalam tempo 2 hari dengan penanganan yang tepat.

"Dengan mendatangkan pasukan dari Jawa Timur, itu yang seharusnya diapresiasi," tutupnya.

KAZ0939
12th March 2009, 01:41 PM
Mari kita tunggu klarifikasi dari Prabowo sendiri. Yang jelas, ini permasalahan yg sangat menarik & sepertinya selama ini tidak pernah muncul ke permukaan.

Pychill
12th March 2009, 01:44 PM
kapan si sejarah di dunia ini sejernih air di mata airnya?

*gw si merasa ga bakalan pernah tau apa yg sebenarnya terjadi pada saat itu*

GQ
12th March 2009, 01:44 PM
Mari kita tunggu klarifikasi dari Prabowo sendiri. Yang jelas, ini permasalahan yg sangat menarik & sepertinya selama ini tidak pernah muncul ke permukaan.

Prabowo Akan 'Balas' Tudingan Sintong



Capres Gerindra Prabowo Subianto berniat 'membalas' berbagai tudingan yang dilontarkan Letjen (Purn) Sintong Panjaitan. Prabowo akan membuat buku mengenai berbagai peristiwa menurut versinya.

"Kalian harus menunggu versi saya," kata Prabowo kepada wartawan usai peluncuran buku 'Membangun Kembali Indonesia Raya' di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Kamis (12/3/2009).

Menurut Prabowo, bukunya itu akan menjelaskan berbagai peristiwa yang telah dilaluinya. "Tidak untuk counter, tapi setiap orang punya versi masing-masing tentang sejarah yang kadang berlainan," katanya.

Namun Prabowo belum bisa memastikan kapan buku karyanya akan beredar. "Nanti lah saya kan bukan Superman. Kalian datang ya kalau saya meluncurkan buku," katanya.

Meski banyak tudingan terdapat dalam buku tersebut, namun Prabowo tetap mengganggap Sintong sebagai seorang patriot.

"Saya tetap mengganggap Pak Sintong seorang patriot. Kita cari yang terbaik," katanya

papabonbon
12th March 2009, 01:45 PM
sintong panjaitan ya ? doi kan salah satu orang hebat dan kuat juga di TNI AD.
hmmm, bukannya masih ada hubungan keluarga dengan Tners juga ?

kayaknya bokapnya perry sandhy sitompul tn4 juga ikut kena gusuran
jamannya sintong kedepak waktu peristiwa dili dulu ...
peristiwa peristiwa yg merubah dunia gitu deh, serasa neraka kecil,
pastinya buat beberapa orang.

aditkus
12th March 2009, 02:15 PM
saya tertarik dengan isi buku ini tolong dunk isinya lagi dimuat...he2x

valdyok
12th March 2009, 02:42 PM
saya tertarik dengan isi buku ini tolong dunk isinya lagi dimuat...he2x

iya nih, ebooknya kalo ada :p

Wesmant
12th March 2009, 02:47 PM
gue juga menunggu

rfauzi
12th March 2009, 02:47 PM
iya nih, ebooknya kalo ada :p

hehe....tunggu beberapa waktu ke depan boss...
*butuh ebook "Detik2 yang Menentukan-BJ.Habibie"? :mbisik:

GQ
12th March 2009, 02:49 PM
hehe....tunggu beberapa waktu ke depan boss...
*butuh ebook "Detik2 yang Menentukan-BJ.Habibie"? :mbisik:

butuh mbah ..

kirim ke b_gamma@yahoo.com yaaa ..

makasih ..

getepe
12th March 2009, 03:32 PM
sintong panjaitan ya ? doi kan salah satu orang hebat dan kuat juga di TNI AD.
hmmm, bukannya masih ada hubungan keluarga dengan Tners juga ?

kayaknya bokapnya perry sandhy sitompul tn4 juga ikut kena gusuran
jamannya sintong kedepak waktu peristiwa dili dulu ...
peristiwa peristiwa yg merubah dunia gitu deh, serasa neraka kecil,
pastinya buat beberapa orang.

ada dg siswa tn yg marga panjaitan juga pastinya :p

peristiwa dili bukannya cuma sintong yg tgusur, ampe wismoyo nangis waktu sertijab sintong:mmikir:

valdyok
12th March 2009, 03:42 PM
hehe....tunggu beberapa waktu ke depan boss...
*butuh ebook "Detik2 yang Menentukan-BJ.Habibie"? :mbisik:

mau. valdy.oktafianza@sg.panasonic.com

nekotisme
12th March 2009, 03:47 PM
butuh mbah ..

kirim ke b_gamma@yahoo.com yaaa ..

makasih ..

satu2nya dari koleksi buku yg gw punya dan dtandatangi oleh penulis nya...pesennya kira2 'Untuk Ananda Eko Wahyudi,Semoga Bermanfaat...'...

*jdpengenwikeninimeluncurkegramed...

GQ
12th March 2009, 03:49 PM
satu2nya dari koleksi buku yg gw punya dan dtandatangi oleh penulis nya...pesennya kira2 'Untuk Ananda Eko Wahyudi,Semoga Bermanfaat...'...

*jdpengenwikeninimeluncurkegramed...

Oh Ananda toh namanya .. Kenapa nggak Bobo aja ?? :mlewat:

nekotisme
12th March 2009, 03:55 PM
Oh Ananda toh namanya .. Kenapa nggak Bobo aja ?? :mlewat:

daripada dinda...:mlewat:

aBangE
12th March 2009, 04:47 PM
dapet dari milis :



From: A. Khoirul Umam <ahmad_umam@yahoo. com>
Subject: [ppiaflinders] BREAKING wawancara eksklusif TV One dengan Sintong Panjaitan
To: ppiaflinders@ yahoogroups. com, MIIAS@yahoogroups. com
Received: Wednesday, 11 March, 2009, 1:35 PM



TV One berperilaku aneh. Ditengah wawancara ekslusif dengan Letjen (Purn) Sintong Panjaitan pada “Kabar Petang” TV One, tiba-tiba wawancara di”BREAK” tanpa penjelasan apapun. Bahkan kedua “anchor”, Muhammad Rizky dan Rahma Sarita, tidak mengatakan kalimat penutup apapun pada wawancara tersebut. Yang ada,ditengah penjelasan yang mulai mendetail dari Sintong Panjaitan, tiba-tiba anchor memotong wawancara dengan sejumlah iklan. Setelah itu, tak ada lagi penjelasan apapun tentang wawancara eksklusif itu, TV One beralih pada berita-berita lainnya.

TV One, sebagai stasiun televisi mencoba membuat wawancara eksklusif. TV One menghadirkan narasumber Letjen (Purn) Sintong Panjaitan, yang berencana menerbitkan buku pada 11 Maret 2009. Isi buku itu nampaknya mengungkap sebagian dari perjalanan “karir” Sintong Panjaitan, terutama pada saat-saat penting di Indonesia dimana Sintong Panjaitan ikut berperan menjadi bagian sejarah Indonesia.

Kedua anchor TV One, Muhammad Rizky dan Rahma Sarita berusaha “memancing” Sintong untuk menceritakan peristiwa-peristiwa penting yang dialaminya dalam terutama kasus “pencopotan” Sintong sebagai Pangdam Udayana karena kasus “Santa Cruz”, Dilli tahun 1991. Namun Sintong, tidak mau menjawab dengan langsung. Kedua anchor juga menanyakan peristiwa “pertemuan” antara Presiden Habibie dengan Letjen Prabowo di Istana pada tahun 1998. Sintong Panjaitan juga tidak mau menjelaskan kejadian itu, kecuali mengatakan bahwa penjelasan tersebut ada dalam buku “memoar‘ Sintong Panjaitan.

Sebagaimana diketahui, semasa menjalani karir militernya, Sintong Panjaitan, adalah “Rising Star”, sampai ia menjabat Pangdam Udayana dengan pangkat Mayor Jenderal, pada usia yang relatif masih muda. Wilayah kerja Kodam Udayana pada waktu itu, termasuk Timor Timur. Karir militer Sintong dimulai secara gemilang sejak di akademi militer, lulus dengan predikat terbaik, karirnya memang termasuk ecellent. Salah satu prestasi
gemilang Sintong Panjaitan adalah ketika ia sukses memimpin operasi pembebasan pembajakan pesawat Garuda, Woyla di bandara Don Muang, Bangkok.

Masih banyak prestasi cemerlang Sintong Panjaitan lainnya selama ia menjadi militer. Ketika ia menjadi Pangdam, banyak pihak yang sudah memperkirakan bahwa suatu saat Sintong panjaitan akan menjadi pimpinan TNI.

Akan tetapi ketika menjabat Pangdam Udayana itulah Sintong Panjaitan “digergaji” dengan peristiwa Santa Cruz Dilli, Timor Timur, tahun 1991. Pada peristiwa Santa Cruz, terjadi penembakan terhadap pendemo di Dilli pada waktu itu. Pada waktu itu ada suatu “kesatuan tak dikenal” yang membuat onar dan menembaki orang yang sedang demo. “Pasukan tak dikenal” itu diluar kendali Kodam Udayana, dan nampaknya “pasukan tak dikenal” itulah yang telah di setting untuk menjebak Kodam Udayana, dimana Sintong Panjaitan menjadi Panglima. Akibat dari kejadian Santa Cruz, sebagai Panglima, Sintong langsung dicopot, dan dianggap bertanggung jawab atas insiden Santa Cruz. Setelah pencopotan jabatan Pandam, kemudian karir militer Sintong Panjaitan pun tamat.

Sebagaimana penuturan Sintong Panjaitan pada wawancara di TV One, ketika acara pencopotannya, hampir semua petinggi TNI hadir. Kehadiran petinggi TNI itu menurut Sintong, merupakan apresiasi terhadap dirinya, mereka ikut bersimpati dan prihatin atas kejadian yang menimpa Sintong Panjaitan. Orang yang juga bersimpati pada Sintong Panjaitan, adalah Gubernur Timtim pada waktu itu Carascalao dan Uskup Belo, kedua orang tersebut sampai datang menemui Sintong di Denpasar untuk menyampaikan “penghargaan khusus”, atas jasanya selama menjabat Pangdam dengan wilayah Timtim.

Sebagai “penempatan dan pengendalian”, Sintong Panjaitan “ditugaskan”sebagai asisten BJ Habibie ketika Habibie menjadi Menteri. Sewaktu Habibie menjabat sebagai Wakil Presiden, Sintong Panjaitan pun, masih dipercaya sebagai asisten. Ketika Soeharto lengser dan menaikkan Habibie menjadi Presiden, pada masa-masa itupun Sintong Panjaitan masih mendampingi Habibie. Pada peristiwa Letjen Prabowo Subianto, yang kala itu baru saja “dipecat” sebagai Pangkostrad, oleh Presiden Habibie, Sintonglah orang yang sangat mengetahui kejadian disekitar kegiatan Habibie.

Termasuk ketika Prabowo “menghadap” habibie, kala itulah Sintong panjaitan, memaksa Prabowo untuk meninggalkan senjatanya sebelum bertemu Habibie. Sebagaimana diketahui, banyak rumor berseliweran di sekitar istana, terkait peristiwa bulan Mei 1998.

Setelah berkali-kali Rahma Sarita dan Muhammad Rizky, anchor TV One, memancing Sintong Panjaitan untuk menceritakan kejadian sekitar bulan Mei 1998 di istana, Sintong akhirnya mulai menjelaskan rangkaian kejadian pada waktu itu. Tapi tiba-tiba Muhammad Rizky “memotong” (mem-”BREAK“)penjelasan Sintong Panjaitan dengan iklan. Setelah beberapa iklan, tak ada lagi kalimat dari kedua anchor TV One yang menjelaskan wawancara, bahkan “kalimat penutup” tentang wawancara dengan Sintong Panjaitan, tidak ada. Padahal penjelasan Sintong sedang “dipuncak klimaks“. Sampai TV One mengakiri acara berita “Kabar Petang” berakhir jam 19.00, tak ada penjelasan apapun tentang “breaking” wawancara itu.

Ada apa dengan TV One, mengapa wawancara ekslklusif dengan Sintong Panjaitan tiba-tiba dihentikan tanpa penjelasan. Karena pada saat itu Sintong tampaknya akan mengungkap fakta-fakta penting yang bisa membuat beberapa pihak akan “kelabakan“. Penjelasan Sintong mungkin bisa dianggap membahayakan kepentingan pihak tertentu. Apakah ada pihak-pihak yang tiba-tiba “memaksa” TV One menghentikan acara itu. Hanya TV One yang bisa menjawabnya.

Akan tetapi apapun yang menyebabkan TV One menghentikan wawancara itu secara mendadak dan tanpa penjelasan, nampaknya “kebebasan” media belum bisa didapatkan. TV One tentu dapat menjelaskan hal itu secara terbuka, agar publik tidak bertanya-tanya. Sedemikian berbahayakan penjelasan Sintong Panjaitan, sehingga harus dipotong ??. Padahal Sintong menjelaskan itu adalah karena pertanyaan kedua anchor Rahma Sarita dan Muhammad Rizky dari TV One.

Wallahua'alam. .

Pychill
12th March 2009, 04:49 PM
hahah,, iya.. semalam jg sempet liat beritanya.. tp lupa di website apa..

Saut
12th March 2009, 05:22 PM
sintong panjaitan ya ? doi kan salah satu orang hebat dan kuat juga di TNI AD.
hmmm, bukannya masih ada hubungan keluarga dengan Tners juga ?

kayaknya bokapnya perry sandhy sitompul tn4 juga ikut kena gusuran
jamannya sintong kedepak waktu peristiwa dili dulu ...
peristiwa peristiwa yg merubah dunia gitu deh, serasa neraka kecil,
pastinya buat beberapa orang.

iya, Nyokapnya Ferry sama Istrinya pak Sintong kakak adik

Saut
12th March 2009, 05:28 PM
Pada Nonton wawancara dengan Kivlan Zen ga tanggal 10 malam. Ada satu pernyataanya yang menyudutkan Moerdani seakan2x dia Sara dengan menempatkan beberapa Jendral orang2xnya (yang kebetulan Batak).....
Gw agak nggak nyaman aja sih dengan pernyataan itu.....

violace
12th March 2009, 05:49 PM
Whaa.. Baru tau crita2 spt ini..
*mnunggu pembahasan slanjutnya*

feby_pommes
12th March 2009, 05:51 PM
Whaa.. Baru tau crita2 spt ini..
*mnunggu pembahasan slanjutnya*

iya nih..seru!!!

cottie
12th March 2009, 05:59 PM
lebih seru lagi kalo ada laporan dari intelijen :mbisik:

fixshine
12th March 2009, 06:21 PM
wuihh TNI ga boleh berpolitik praktis yak, halahh .. ini dah pada purn yak

getepe
12th March 2009, 06:31 PM
Pada Nonton wawancara dengan Kivlan Zen ga tanggal 10 malam. Ada satu pernyataanya yang menyudutkan Moerdani seakan2x dia Sara dengan menempatkan beberapa Jendral orang2xnya (yang kebetulan Batak).....
Gw agak nggak nyaman aja sih dengan pernyataan itu.....

sabar lae..sabar..waktu Wismoyo datang ke TN blio akui dari sjumlah asisten blio, kbanyakan orang batak, tmasuk bokapnya perry tompul..
kalo LBM mah jika mo baca buku biografi LBM keknya blio seorang yg suka btemen dg sapa aja n setia ama temen2nya..


lebih seru lagi kalo ada laporan dari intelijen :mbisik:

hampir smua penugasan pasukan komando itu laporan intelijen

muhamadyusuf
12th March 2009, 08:19 PM
po'on kalo makin tinggi, ketiup angin nyang makin kuenceng...

Pychill
12th March 2009, 08:39 PM
sabar lae..sabar..waktu Wismoyo datang ke TN blio akui dari sjumlah asisten blio, kbanyakan orang batak, tmasuk bokapnya perry tompul..
kalo LBM mah jika mo baca buku biografi LBM keknya blio seorang yg suka btemen dg sapa aja n setia ama temen2nya..



hampir smua penugasan pasukan komando itu laporan intelijen

emang LBM batak ya? kirain Jawa.. kan Moerdani,,

getepe
12th March 2009, 09:01 PM
emang LBM batak ya? kirain Jawa.. kan Moerdani,,

Bukan Cyl, kan dibilang LBM dideskritkan krn banyak staffnya orang batak..

Padahal ga juga, staff kepercayaan ada Marsekal Madya Tedi Rusdi, Letjen Dading Kalbuadi..

Gunawan
12th March 2009, 09:22 PM
emang LBM batak ya? kirain Jawa.. kan Moerdani,,

kalo ga salah, bapaknya LBM orang solo dan ibunya ada turunan bule.

pernah baca biografinya dulu, lupa2 ingat.:p

getepe
12th March 2009, 10:04 PM
kalo ga salah, bapaknya LBM orang solo dan ibunya ada turunan bule.

pernah baca biografinya dulu, lupa2 ingat.:p

LAHIR di Cepu pada 2 Oktober 1932, garis keturunan Pak Benny perpaduan dua
latar belakang. Ayahnya, Raden Bagus Moerdani Sosrodirdjo, keturunan Kiai
Suleman, pengajar agama Islam dari Bima, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
Ibunya, Jeanne Roech, keturunan Jerman.

Wesmant
13th March 2009, 08:26 AM
dapet dari milis :



From: A. Khoirul Umam <ahmad_umam@yahoo. com>
Subject: [ppiaflinders] BREAKING wawancara eksklusif TV One dengan Sintong Panjaitan
To: ppiaflinders@ yahoogroups. com, MIIAS@yahoogroups. com
Received: Wednesday, 11 March, 2009, 1:35 PM



TV One berperilaku aneh. Ditengah wawancara ekslusif dengan Letjen (Purn) Sintong Panjaitan pada “Kabar Petang” TV One, tiba-tiba wawancara di”BREAK” tanpa penjelasan apapun. Bahkan kedua “anchor”, Muhammad Rizky dan Rahma Sarita, tidak mengatakan kalimat penutup apapun pada wawancara tersebut. Yang ada,ditengah penjelasan yang mulai mendetail dari Sintong Panjaitan, tiba-tiba anchor memotong wawancara dengan sejumlah iklan. Setelah itu, tak ada lagi penjelasan apapun tentang wawancara eksklusif itu, TV One beralih pada berita-berita lainnya.

TV One, sebagai stasiun televisi mencoba membuat wawancara eksklusif. TV One menghadirkan narasumber Letjen (Purn) Sintong Panjaitan, yang berencana menerbitkan buku pada 11 Maret 2009. Isi buku itu nampaknya mengungkap sebagian dari perjalanan “karir” Sintong Panjaitan, terutama pada saat-saat penting di Indonesia dimana Sintong Panjaitan ikut berperan menjadi bagian sejarah Indonesia.

Kedua anchor TV One, Muhammad Rizky dan Rahma Sarita berusaha “memancing” Sintong untuk menceritakan peristiwa-peristiwa penting yang dialaminya dalam terutama kasus “pencopotan” Sintong sebagai Pangdam Udayana karena kasus “Santa Cruz”, Dilli tahun 1991. Namun Sintong, tidak mau menjawab dengan langsung. Kedua anchor juga menanyakan peristiwa “pertemuan” antara Presiden Habibie dengan Letjen Prabowo di Istana pada tahun 1998. Sintong Panjaitan juga tidak mau menjelaskan kejadian itu, kecuali mengatakan bahwa penjelasan tersebut ada dalam buku “memoar‘ Sintong Panjaitan.

Sebagaimana diketahui, semasa menjalani karir militernya, Sintong Panjaitan, adalah “Rising Star”, sampai ia menjabat Pangdam Udayana dengan pangkat Mayor Jenderal, pada usia yang relatif masih muda. Wilayah kerja Kodam Udayana pada waktu itu, termasuk Timor Timur. Karir militer Sintong dimulai secara gemilang sejak di akademi militer, lulus dengan predikat terbaik, karirnya memang termasuk ecellent. Salah satu prestasi
gemilang Sintong Panjaitan adalah ketika ia sukses memimpin operasi pembebasan pembajakan pesawat Garuda, Woyla di bandara Don Muang, Bangkok.

Masih banyak prestasi cemerlang Sintong Panjaitan lainnya selama ia menjadi militer. Ketika ia menjadi Pangdam, banyak pihak yang sudah memperkirakan bahwa suatu saat Sintong panjaitan akan menjadi pimpinan TNI.

Akan tetapi ketika menjabat Pangdam Udayana itulah Sintong Panjaitan “digergaji” dengan peristiwa Santa Cruz Dilli, Timor Timur, tahun 1991. Pada peristiwa Santa Cruz, terjadi penembakan terhadap pendemo di Dilli pada waktu itu. Pada waktu itu ada suatu “kesatuan tak dikenal” yang membuat onar dan menembaki orang yang sedang demo. “Pasukan tak dikenal” itu diluar kendali Kodam Udayana, dan nampaknya “pasukan tak dikenal” itulah yang telah di setting untuk menjebak Kodam Udayana, dimana Sintong Panjaitan menjadi Panglima. Akibat dari kejadian Santa Cruz, sebagai Panglima, Sintong langsung dicopot, dan dianggap bertanggung jawab atas insiden Santa Cruz. Setelah pencopotan jabatan Pandam, kemudian karir militer Sintong Panjaitan pun tamat.

Sebagaimana penuturan Sintong Panjaitan pada wawancara di TV One, ketika acara pencopotannya, hampir semua petinggi TNI hadir. Kehadiran petinggi TNI itu menurut Sintong, merupakan apresiasi terhadap dirinya, mereka ikut bersimpati dan prihatin atas kejadian yang menimpa Sintong Panjaitan. Orang yang juga bersimpati pada Sintong Panjaitan, adalah Gubernur Timtim pada waktu itu Carascalao dan Uskup Belo, kedua orang tersebut sampai datang menemui Sintong di Denpasar untuk menyampaikan “penghargaan khusus”, atas jasanya selama menjabat Pangdam dengan wilayah Timtim.

Sebagai “penempatan dan pengendalian”, Sintong Panjaitan “ditugaskan”sebagai asisten BJ Habibie ketika Habibie menjadi Menteri. Sewaktu Habibie menjabat sebagai Wakil Presiden, Sintong Panjaitan pun, masih dipercaya sebagai asisten. Ketika Soeharto lengser dan menaikkan Habibie menjadi Presiden, pada masa-masa itupun Sintong Panjaitan masih mendampingi Habibie. Pada peristiwa Letjen Prabowo Subianto, yang kala itu baru saja “dipecat” sebagai Pangkostrad, oleh Presiden Habibie, Sintonglah orang yang sangat mengetahui kejadian disekitar kegiatan Habibie.

Termasuk ketika Prabowo “menghadap” habibie, kala itulah Sintong panjaitan, memaksa Prabowo untuk meninggalkan senjatanya sebelum bertemu Habibie. Sebagaimana diketahui, banyak rumor berseliweran di sekitar istana, terkait peristiwa bulan Mei 1998.

Setelah berkali-kali Rahma Sarita dan Muhammad Rizky, anchor TV One, memancing Sintong Panjaitan untuk menceritakan kejadian sekitar bulan Mei 1998 di istana, Sintong akhirnya mulai menjelaskan rangkaian kejadian pada waktu itu. Tapi tiba-tiba Muhammad Rizky “memotong” (mem-”BREAK“)penjelasan Sintong Panjaitan dengan iklan. Setelah beberapa iklan, tak ada lagi kalimat dari kedua anchor TV One yang menjelaskan wawancara, bahkan “kalimat penutup” tentang wawancara dengan Sintong Panjaitan, tidak ada. Padahal penjelasan Sintong sedang “dipuncak klimaks“. Sampai TV One mengakiri acara berita “Kabar Petang” berakhir jam 19.00, tak ada penjelasan apapun tentang “breaking” wawancara itu.

Ada apa dengan TV One, mengapa wawancara ekslklusif dengan Sintong Panjaitan tiba-tiba dihentikan tanpa penjelasan. Karena pada saat itu Sintong tampaknya akan mengungkap fakta-fakta penting yang bisa membuat beberapa pihak akan “kelabakan“. Penjelasan Sintong mungkin bisa dianggap membahayakan kepentingan pihak tertentu. Apakah ada pihak-pihak yang tiba-tiba “memaksa” TV One menghentikan acara itu. Hanya TV One yang bisa menjawabnya.

Akan tetapi apapun yang menyebabkan TV One menghentikan wawancara itu secara mendadak dan tanpa penjelasan, nampaknya “kebebasan” media belum bisa didapatkan. TV One tentu dapat menjelaskan hal itu secara terbuka, agar publik tidak bertanya-tanya. Sedemikian berbahayakan penjelasan Sintong Panjaitan, sehingga harus dipotong ??. Padahal Sintong menjelaskan itu adalah karena pertanyaan kedua anchor Rahma Sarita dan Muhammad Rizky dari TV One.

Wallahua'alam. .






Wah, keren banget...

PS: Mamang, Gamma, coba, sesekali jangan ngejunk dong, sampe ananda-bobo segala.

GQ
13th March 2009, 01:34 PM
Wah, keren banget...

PS: Mamang, Gamma, coba, sesekali jangan ngejunk dong, sampe ananda-bobo segala.

ini kan thread gw .. :mbom:

Wesmant
13th March 2009, 01:36 PM
ini kan thread gw .. :mbom:

yang bilang engga, siapa? :mketawa:

sultan
15th March 2009, 01:16 PM
po'on kalo makin tinggi, ketiup angin nyang makin kuenceng...
setuju bgt bang..tapi apa rumput bener2 g dpt angin dan hanya pasrah terinjak2:mmikir:

sultan
15th March 2009, 01:19 PM
LAHIR di Cepu pada 2 Oktober 1932, garis keturunan Pak Benny perpaduan dua
latar belakang. Ayahnya, Raden Bagus Moerdani Sosrodirdjo, keturunan Kiai
Suleman, pengajar agama Islam dari Bima, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
Ibunya, Jeanne Roech, keturunan Jerman.

Wow baru tau..:mcengo:..

amazing background klo ngedengar sepak terjang beliau..

getepe
15th March 2009, 06:32 PM
dari forum detik

HALAMAN 318 :

PEMINDAHAN PRABOWO SUBIANTO

Pada tanggal 5 mai 1985 sintong sudah menjabat sebagai Komandan Kopossandha tetapi belum melaksanakan pelantikan dan serat terima resmi. Saat itu Kolonel BAmbang Sumbodo , assisten 3/personnel, melaporkan bahwa seharusnya Mayor Prabowo subianto, Wakil Komandan Detasemen 81/antiteror sudah pindah dari kopassandha ke Kostrad berdasarkan surat perintah KASAD yang sudah lama diterimanya

Sintong terkejut setelah sadar bahwa surat ditandatangani KASAD jendral Rudini pada saat Brigjend Wismoyo menjabat komandan Kopasanda" MEngapa PRABOWO belum dipindahkan ke kostrad oleh Pak wismoyo? tanya sintong ke pada kolonel bambang

Sebagai tindak lanjut, sintong memerintahkan asisten personnel untuk membuat surat perintah pemindahan prabowo dari kopasanda kekostrad. Sintong langsung menadatanganinya

bla bla bla..... ( males nulis heheheh)

Dintong menerima prabowo diruang kerjanya. Prabowo menanyakan mengapa dia dipindahkan dari kopasanha ke kostrad

Dalam sejarah Korp baret merah belum pernah yerjadi seorang anggota menanyakan kepada atasan mengapa dia dipindahkan

bla bla bla.......

Sebenarnya menurut tradisi militer pertanyaan tentang pemindahan dari satu kesatuan ke kesatuan lainnya tidak pantas disampaikan, sehingga mengakibatkan SINTONG menjadi sangat kaget dan tersinggung

" Kamu prajurit. Saya tidak pandang kamu anaknya siapa , selama kamu tentara kamu harus turut aturan aturan tentara. Kalo kamu tidak mau, kamu bisa saja keluar dari tentara lalu masuk partai"

Yang berhubungan dg Marsekal Muda TNI Teddy Rusdi Ketua LPTTN Pertama

Gagalkan Penculikan Jenderal Luhut Layak Dapat Bintang

Menurut Letjen Purn Sintong Panjaitan, Luhut Pandjaitan layak dapat bintang. Sebab Luhut adalah perwira yang menggagalkan upaya penculikan para jenderal yang hendak dilakukan Kapten Prabowo Subianto pada Maret 1983, sebagai upaya counter coup.

Kala itu, Mayor Luhut Pandjaitan adalah Komandan Den 81/Antiteror, sedangkan Prabowo adalah wakil Luhut dengan pangkat kapten. Suatu pagi, Luhut datang ke markasnya di Cijantung dan kaget karena pasukan dalam keadaan siaga. Ternyata pasukan siaga atas perintah Prabowo yang mendengar LB Moerdani akan melakukan kudeta. Luhut lalu membubarkan pasukan dan menegaskan tak ada kudeta.

Dalam buku Sintong Panjaitan berjudul Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando, disebutkan, seandainya Luhut terlambat datang ke Mako Den 81/Antiteror pada pagi hari itu, dapat dipastikan penculikan para perwira tinggi ABRI terlaksana.
Seandainya rencana penculikan itu berhasil dilakukan, hal itu berpeluang membatalkan pelaksanaan Sidang Umum MPR.

“Sebenarnya Luhut pantas mendapat ‘bintang’ karena dia telah berhasil menggagalkan rencana penculikan para perwira tinggi ABRI yang berdampak nasional,” komentar Sintong di halaman 463.

Namun faktanya karier Luhut mentok. Zaman Soeharto dia hanya sampai letnan jenderal dan tak pernah menjabat panglima. Baru setelah Soeharto lengser, Luhut mendapat anugerah bintang menjadi jenderal dan diangkat sebagai Dubes Singapura lalu Menperindag era Presiden Gus Dur.

Dalam buku itu tertulis bahwa Luhut juga sempat dituduh hendak melakukan kudeta pada Soeharto sehubungan dengan pembangunan proyek intelijen teknik Den 81. “Matilah aku…Waduh! Jadi rempeyeklah aku,” kelakar Luhut.

Luhut juga dituduh sebagai anak emas Benny Moerdani sehingga lantas disingkirkan. Luhut dilaporkan macam-macam kepada Soeharto sehingga ia menjadi pemegang kartu mati.
Gus Dur, Marzuki Darusman, Agum Hadiri Launching Buku Sintong
Peluncuran buku memoir Letjen (Purn) Sintong Panjaitan ternyata bak magnet bagi orang-orang penting di Indonesia. Sejumlah tokoh nasional pun terlihat datang ke acara yang digelar di Balai Sudirman, Jl Soepomo, Jakarta Selatan, itu.

Pantauan detikcom, Rabu (11/3), tokoh pertama yang hadir adalah mantan Presiden Abdurrahman Wahid.
Pria yang akrab dipanggil Gus Dur itu tiba di lokasi sekitar pukul 18.30 WIB. Dikawal para ajudannya, kedatangan Gus Dur langsung disambut Sintong di pintu masuk acara.
“Saya Sintong Panjaitan,” kata Sintong sambil menjabat lengan Gus Dur
“Oh ya,” sambut Gus Dur.

Usai memberikan sambutan khusus, Sintong lalu mengantar Gus Dur menuju kursi kehormatan di barisan terdepan.
Tokoh selanjutnya yang datang adalah mantan Jaksa Agung Marzuki Darusman. Kedatangannya disusul mantan ketua Koni Agum Gumelar yang tiba 5 menit kemudian.
Selain tamu-tamu yang hadir, sejumlah tokoh nasional terlihat mengirimkan karangan bunga. Tampak karangan bunga dari Menneg Pora Adhyaksa Dault, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Kepala Bappenas/Menteri PPN Paskah Suzetta.

Informasi yang diterima detikcom, acara launching buku yang berjudul “Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando” itu, juga dihadiri sejumlah duta besar juga dikabarkan akan hadir.
Hembuskan Isu Kudeta, Harusnya Prabowo Diberi Tindakan.

Menurut Letjen Purn Sintong Panjaitan, tuduhan bahwa Jenderal LB Moerdani akan melakukan coup d’etat hanya dilakukan oleh orang sakit. Tuduhan itu tidak nyata, tapi diciptakan.
Dalam bukunya yang berjudul Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando, Sintong menyatakan bahwa tuduhan itu itu dilontarkan oleh seorang kapten (Kapten Prabowo Subianto-red) yang tidak mempunyai perangkat untuk menyelidiki kebenarannya.
“Seharusnya terhadap Prabowo yang melontarkan tuduhan itu harus diambil tindakan,” ujar Sintong di halaman 466.

“Namun kenyataannya ABRI tidak punya keberanian mengambil tindakan apa pun, karena keseganan terhadap Soeharto yang mungkin akan membela menantunya,” sambung Sintong.
Hal ini, tulis buku tersebut, tidak berbeda dengan kedua putra Presiden Irak Saddam Hussein yang lebih ditakuti, daripada para panglima Angkatan Bersenjata Irak.
Dalam perkembangan selanjutnya, LB Moerdani dituduh tidak loyal pada Soeharto yang kemudian melahirkan istilah debennysasi. Moerdani sendiri sebelumnya adalah orang kepercayaan Soeharto.

Sintong mengakui banyak orang menuduhnya sebagai “orangnya Pak Benny. “Sintong dengan tegas menjelaskan,” Saya bukan orangnya Pak Benny. Tetapi karena Pak Benny menjabat sebagai Panglima TNI, saya orangnya Panglima TNI. Maka saya juga orangnya Pak Try, orangnya Pak Edi Sudradjat atau orangnya Pak Tanjung, karena para perwira tinggi itu memegang jabatan Panglima ABRI.”

Prabowo Berubah karena Dekat dengan Soeharto
Wakil Danjen Kopassandha (kini Kopassus) Brigjen M Jasmin adalah salah satu orang yang dilapori Kapten Prabowo tentang rencana kudeta Letjen LB Moerdani pada Maret 1983. Jasmin tidak percaya mendengar penjelasan Prabowo.
“Prabowo pun marah-marah,” tulis Letjen Purn Sintong Panjaitan dalam bukunya “Perjalanan Seorang Prajurit Para Komandan” di halaman 455.
Saat itu Prabowo menghadap Jasmin didampingi atasannya, Mayor Luhut Pandjaitan. “It must be something wrong with him,” pikir Luhut kala itu.
Setelah Luhut dan Prabowo keluar dari ruangan, Jasmin memanggil Luhut kembali. “Hut, untung kamu ada di sini. Ada apa dengan Prabowo? Kayaknya dia sedang stres berat,” ucap Jasmin.

Setelah menghadap Jasmin, Prabowo dan Luhut kembali ke markas mereka yaitu Den 81/Antiteror di Cijantung. Prabowo bilang bahwa di Den 81 tidak boleh ada dua matahari.
“Di Den 81 hanya saya yang menjadi matahari. Saya komandan. Kamu wakil saya,” tegas Luhut. Luhut menyatakan kekecewaannya pada Prabowo yang pernah menyiagakan pasukan Den 81 untuk melakukan counter coup tanpa sepengetahuannya
“Kamu minta saya mengambil Soeharto ke sini. Itu melakukan by pass garis komando berapa jauh?” sambung Luhut.

Sejak saat itulah hubungan keduanya menjadi retak.
Suatu ketika Jasmin berjumpa dengan Sintong. Jasmin bertanya apakah dia mendengar kasus Prabowo. “Prabowo sudah lain sekarang, karena ia dekat dengan Soeharto,” ujar Jasmin.
Jasmin juga mengungkapkan bahwa rumahnya diintai oleh Prabowo. “Bahkan Prabowo sampai melompati pagar rumah saya,” tambah Jasmin. Jasmin kecewa karena kesetiaannya pada negara dipertanyakan.

“Saya sudah menderita sejak Perjuangan Kemerdekaan 1945 tetapi Prabowo menuduh saya kurang setia pada negara dan bangsa sambil menuding-nudingkan telunjuk jarinya ke arah wajah saya. Luhut juga ada di situ. Malahan Luhut yang menurunkan tangan Prabowo yang menuding-nuding ke wajah saya,” cerita Jasmin yang jadi marah dan sakit hati.
Sintong juga tak habis pikir mengapa Prabowo, seorang perwira Kopassandha yang semula penuh disiplin dan dedikasi, tiba-tiba berani bertindak demikian terhadap Wadan Kopassandha. “Apakah Prabowo berani bertindak demikian, seandainya ia bukan menantu Presiden Soeharto?” tanya Sintong.

Cerita Jasmin dikuatkan oleh Marsekal Muda TNI Teddy Rusdi yang menjabat Asisten Perencanaan Umum Panglima TNI. Dia mengatakan, rumahnya juga diintai oleh Prabowo. Pengintaian itu karena disangka di rumahnya sedang dilakukan persiapan gerakan kudeta oleh Moerdani.

Teddy sendiri tidak percaya Moerdani akan kudeta. “Apa Pak Benny orang gila, kok beliau akan melakukan coup d’etat?” ujarnya.
Sejak itu hubungan Sintong dan Prabowo sudah berubah dan terasa asing.
Prabowo Akan ‘Balas’ Tudingan Sintong
Capres Gerindra Prabowo Subianto berniat ‘membalas’ berbagai tudingan yang dilontarkan Letjen (Purn) Sintong Panjaitan. Prabowo akan membuat buku mengenai berbagai peristiwa menurut versinya.

“Kalian harus menunggu versi saya,” kata Prabowo kepada wartawan usai peluncuran buku ‘Membangun Kembali Indonesia Raya’ di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Kamis (12/3).
Menurut Prabowo, bukunya itu akan menjelaskan berbagai peristiwa yang telah dilaluinya. “Tidak untuk counter, tapi setiap orang punya versi masing-masing tentang sejarah yang kadang berlainan,” katanya.

http://hariansib.com/2009/03/13/gaga...dapat-bintang/

valdyok
16th March 2009, 08:11 AM
" Kamu prajurit. Saya tidak pandang kamu anaknya siapa , selama kamu tentara kamu harus turut aturan aturan tentara. Kalo kamu tidak mau, kamu bisa saja keluar dari tentara lalu masuk partai"

rasanya statement ini agak aneh. ini kejadian 12 Mei 1985, yang mungkin bukan seperti 2009 dimana banyak orang menganggap partai adalah jalan terbaik untuk menggenggam kekuasaan. pemilu juga masih jauh, diadakan 23 April 1987. jadi kalau dianggap Pak Sintong terpengaruh suasana Pemilu juga kurang tepat.

Ataukah Pak Sintong sudah berpolitik dari thn 1980an?

javaneska
16th March 2009, 08:19 AM
Wah rame sekali... tp emang kayaknya butuh counter statement dr orang2 yg terkait di buku ini... tapi karena mendekati detik2 pemilu, kayaknya setiap komentar dan argumen bisa bermuatan politis.. saya melihat saja deh :p

Wesmant
16th March 2009, 08:32 AM
Wah rame sekali... tp emang kayaknya butuh counter statement dr orang2 yg terkait di buku ini... tapi karena mendekati detik2 pemilu, kayaknya setiap komentar dan argumen bisa bermuatan politis.. saya melihat saja deh :p

bukannya udah ada yang langsung menyambut baek buku ini? incumben??

tepat sekali tuh, sekali tepuk, dua lawan tersungkur ;)

getepe
16th March 2009, 09:25 AM
rasanya statement ini agak aneh. ini kejadian 12 Mei 1985, yang mungkin bukan seperti 2009 dimana banyak orang menganggap partai adalah jalan terbaik untuk menggenggam kekuasaan. pemilu juga masih jauh, diadakan 23 April 1987. jadi kalau dianggap Pak Sintong terpengaruh suasana Pemilu juga kurang tepat.

Ataukah Pak Sintong sudah berpolitik dari thn 1980an?

Menurut gue Sintong ga mungkin berpolitik, dari gayanya yg diem2 doang diapa2in diem2 doang, asal ga disentuh kali :p. Kebetulan gue baca di detik forum n kaskus mengenai Sintong menurut Ginanjar Kartasasmita dll.
Lagian beliau tidak kaya sbg seorang jenderal, denger2 sering nongkrong di bengkel anaknya n masih tinggal di kompleks baret merah.

Btw apakah ada hub dg pemilu? hmm mungkin ada, bbrp orang yg tau bahwa Sintong mempunyai banyak informasi meminta beliau untuk membuka fakta yang terjadi dan momentum tepat menjelang pemilu..

papabonbon
16th March 2009, 11:58 AM
hehe....tunggu beberapa waktu ke depan boss...
*butuh ebook "Detik2 yang Menentukan-BJ.Habibie"? :mbisik:

papabonbon@gmail.com

nad3418
16th March 2009, 01:48 PM
papabonbon@gmail.com

nad3418@yahoo.com

Miftah_san
16th March 2009, 01:58 PM
Kalo membaca petikan2 dari buku tersebut yang membahas mengenai Parbowo, juga membaca bukunya Habibie ....kelihatan kalo sosok Prabowo adalah seseorang yang kurang berhati hati dalam bermanuever....lebih berkesan terlalu PD karena background keluarganya dan keluaraga mantan istrinya...yang memang keluarga2 yang sangat berpengaruh..

Kalo dia seorang tactician dan strategist yang tangguh dan cakap...tentu gak ada gerakan2 yang begitu mencolok seperti itu...Karena semakin hari akan semakin banyak yang akan mengungkapkan mozaik2 dari peristiwa2 yang sudah terjadi di negara kita..dan tentunya mau gak mau akan mengungkap hal2 yang selama ini di lingkar kerahasiaan menjadi santapan publik....

Mudah2 an bangsa kita bisa belajar dari sejarah...dan melangkah ke depannya dengan lebih baik lagi untuk menjadi bangsa yang kuat dan besar

Wesmant
16th March 2009, 02:02 PM
Kalo membaca petikan2 dari buku tersebut yang membahas mengenai Parbowo, juga membaca bukunya Habibie ....kelihatan kalo sosok Prabowo adalah seseorang yang kurang berhati hati dalam bermanuever....lebih berkesan terlalu PD karena background keluarganya dan keluaraga mantan istrinya...yang memang keluarga2 yang sangat berpengaruh..

Kalo dia seorang tactician dan strategist yang tangguh dan cakap...tentu gak ada gerakan2 yang begitu mencolok seperti itu...Karena semakin hari akan semakin banyak yang akan mengungkapkan mozaik2 dari peristiwa2 yang sudah terjadi di negara kita..dan tentunya mau gak mau akan mengungkap hal2 yang selama ini di lingkar kerahasiaan menjadi santapan publik....

Mudah2 an bangsa kita bisa belajar dari sejarah...dan melangkah ke depannya dengan lebih baik lagi untuk menjadi bangsa yang kuat dan besar

Jasmerah, jangan lupa pake Jas merah si monyong putih :mlewat:

Miftah_san
16th March 2009, 02:04 PM
Jasmerah, jangan lupa pake Jas merah si monyong putih :mlewat:

Gw sih setia nya ama jas biru baju putih bro...wekekeke:mketawa:

Wesmant
16th March 2009, 02:14 PM
Gw sih setia nya ama jas biru baju putih bro...wekekeke:mketawa:

gimana yang gak pake jas kayak gue ya bang? pake kaos oblong doang, dagadu, hahaha

danang
16th March 2009, 04:44 PM
hehe....tunggu beberapa waktu ke depan boss...
*butuh ebook "Detik2 yang Menentukan-BJ.Habibie"? :mbisik:
mau

d0m1n1k0@yahoo.com :p

getepe
16th March 2009, 07:01 PM
Kalo membaca petikan2 dari buku tersebut yang membahas mengenai Parbowo, juga membaca bukunya Habibie ....kelihatan kalo sosok Prabowo adalah seseorang yang kurang berhati hati dalam bermanuever....lebih berkesan terlalu PD karena background keluarganya dan keluaraga mantan istrinya...yang memang keluarga2 yang sangat berpengaruh..

Kalo dia seorang tactician dan strategist yang tangguh dan cakap...tentu gak ada gerakan2 yang begitu mencolok seperti itu...Karena semakin hari akan semakin banyak yang akan mengungkapkan mozaik2 dari peristiwa2 yang sudah terjadi di negara kita..dan tentunya mau gak mau akan mengungkap hal2 yang selama ini di lingkar kerahasiaan menjadi santapan publik....

Mudah2 an bangsa kita bisa belajar dari sejarah...dan melangkah ke depannya dengan lebih baik lagi untuk menjadi bangsa yang kuat dan besar

yup bener sekali bang.. kalo ada yg punya majalah tempo sebelum di bredel yg judulnya raising star..ntar gimana dokumen tes kpribadian probowo di TNI trungkap di majalah tsb..

Wesmant
16th March 2009, 07:04 PM
yup bener sekali bang.. kalo ada yg punya majalah tempo sebelum di bredel yg judulnya raising star..ntar gimana dokumen tes kpribadian probowo di TNI trungkap di majalah tsb..

buka dong bang! :) thank u

getepe
16th March 2009, 07:09 PM
buka dong bang! :) thank u

ga brani bro.. alasan gue sederhana takut dituduh fitnah..eventhough gue sdikit banyak inget apa yg diungkapkan dalam majalah tempo tsb :mbisik:

Wesmant
16th March 2009, 07:21 PM
ga brani bro.. alasan gue sederhana takut dituduh fitnah..eventhough gue sdikit banyak inget apa yg diungkapkan dalam majalah tempo tsb :mbisik:

jadi pengen cari majalahnya ... :)

Miftah_san
16th March 2009, 08:56 PM
Saat2 menjelang Pemilu gini emang suasana makin memanas....berbagai strategy dan taktik di keluarkan...

Kita lihat bagaimana gerak langkah baik individu maupun kelompok dalam bermanuever ria....bagi yang mau atau sudah terjun didalam kancah tersebut...berhati2lah....juga kesempatan buat kita semua belajar dan mengamatinya

Seru melihatnya....ngeri kalo ada didalam pusarannya... :mpanas::mpanas:

ariafo
16th March 2009, 09:13 PM
yup bener sekali bang.. kalo ada yg punya majalah tempo sebelum di bredel yg judulnya raising star..ntar gimana dokumen tes kpribadian probowo di TNI trungkap di majalah tsb..


duh japri juga bole deh bang ... pengin tau juga :(

getepe
16th March 2009, 09:39 PM
duh japri juga bole deh bang ... pengin tau juga :(

abang lu tewes aja gue ga brani kasih tau yg udah jadi legenda di forum ini, apalagi elu:p

GQ
16th March 2009, 10:34 PM
abang lu tewes aja gue ga brani kasih tau yg udah jadi legenda di forum ini, apalagi elu:p

kasih tau gw aja bang :mbisik:

ariafo
16th March 2009, 10:38 PM
abang lu tewes aja gue ga brani kasih tau yg udah jadi legenda di forum ini, apalagi elu:p


justru itu bang.... kalo abangnya lewatt... adiknya harus siap backup-in dong, jadi?? :mmikir:

Wesmant
17th March 2009, 08:20 AM
Saat2 menjelang Pemilu gini emang suasana makin memanas....berbagai strategy dan taktik di keluarkan...

Kita lihat bagaimana gerak langkah baik individu maupun kelompok dalam bermanuever ria....bagi yang mau atau sudah terjun didalam kancah tersebut...berhati2lah....juga kesempatan buat kita semua belajar dan mengamatinya

Seru melihatnya....ngeri kalo ada didalam pusarannya... :mpanas::mpanas:

bang, Advisenya kok kayak advise paranormal yah?:msokimut:

Wesmant
17th March 2009, 08:20 AM
abang lu tewes aja gue ga brani kasih tau yg udah jadi legenda di forum ini, apalagi elu:p

siap, saya hanya anggota biasa saja bang, bukan legenda

GQ
17th March 2009, 08:24 AM
siap, saya hanya anggota biasa saja bang, bukan legenda

so humble :msembah:

Wesmant
17th March 2009, 08:26 AM
so humble :msembah:

jangan gitu dong Kap :p

Pychill
17th March 2009, 08:31 AM
siap, saya hanya anggota biasa saja bang, bukan legenda


so humble :msembah:


jangan gitu dong Kap :p

:mketawa: :mketawa: :mketawa:

ini kakap dan teri saling merendah,,

*klo dah punya fwd ke gw yah, bang.. :mmohon: kan sesama teri harus saling membantu,,

Wesmant
17th March 2009, 09:10 AM
:mketawa: :mketawa: :mketawa:

ini kakap dan teri saling merendah,,

*klo dah punya fwd ke gw yah, bang.. :mmohon: kan sesama teri harus saling membantu,,

susah nyarinya di luar negeri Kak. mungkin di Palasari atau di Senen bisa dicari kak

Pychill
17th March 2009, 09:10 AM
susah nyarinya di luar negeri Kak. mungkin di Palasari atau di Senen bisa dicari kak

terakhir denger palasari kebakar,,
skrg dah buka [dibangun] lagi yah?

Miftah_san
17th March 2009, 01:19 PM
bang, Advisenya kok kayak advise paranormal yah?:msokimut:

Advise yang mana bro..?

Dan emang hobby nya pada ngejunk dimana2 yak....hayoh back to topic..:mlewat::mlewat:

Wesmant
17th March 2009, 01:24 PM
Advise yang mana bro..?

Dan emang hobby nya pada ngejunk dimana2 yak....hayoh back to topic..:mlewat::mlewat:

yang pake berhati2lah... kalau dirasa aroma pernyataannya rada mistis. gak tau perasaan aye aje...


ayo, BTT

Miftah_san
17th March 2009, 01:35 PM
yang pake berhati2lah... kalau dirasa aroma pernyataannya rada mistis. gak tau perasaan aye aje...


ayo, BTT

Gak lah mistis2 an bro...wekekekek...logika aja lagi...pusaran politik itu cukup menantang tetapi juga mengandung banyak godaan maupun pengorbanan yang gak dikit...uang, tenaga, pikiran, mental, waktu...kalo gak siap2 mah...bisa ancur lebur..

Wesmant
23rd March 2009, 09:22 AM
Hayoo... duitnya bisnis LB Moerdani kemana tuh???

---------------

http://swaramuslim.net/more.php?id=6205_0_1_0_M

Luka Lama Menjelang Pemilu


Katagori : Untold Story / the X files
Oleh : Redaksi 19 Mar 2009 - 6:00 am

Amran Nasution *)
Sintong Panjaitan mengungkap perseteruan Benny Moerdani dengan Prabowo Subianto. Kenapa terbit menjelang Pemilu?

Dia sudah tentu bukan Jenderal George Patton yang legendaris, yang terlibat dalam dua perang dunia yg selalu dimenangkannya. Sebagai jenderal paling hebat dalam sejarah Amerika Serikat, biografinya berkisah dari suatu kemenangan ke kemenangan yang lain. Sedangkan Sintong Panjaitan, 69 tahun, boleh dikatakan adalah jenderal yang gagal. Sebagai Panglima Kodam di Bali, dia dianggap bertanggung jawab atas penembakan demonstran di pemakaman Santa Cruz, Dili, 12 November 1991, mengakibatkan puluhan demonstran meninggal dunia. (watch Fool Me Twice )

Kalau dikaji lebih dalam, maka Santa Cruz adalah buah dari kebijakan yang dipilih Sintong bersama para asisten dan aparatnya di Timor Timur.

Tapi akibat peristiwa itu, nama Indonesia sungguh-sungguh terpuruk. Pers internasional menabalkan Indonesia sebagai sebuah negeri Muslim yang besar, menjajah Timor Timur, negeri Katolik yang kecil, dengan sangat kejam. Banyak negara yang semula mendukung Indonesia dalam soal Timor Timur kemudian berubah pandangan. Akhirnya, ditambah oleh nafsu Presiden B.J.Habibie ingin mendapat hadiah Nobel Perdamaian, Timor Timur lepas dari Indonesia melalui sebuah jajak pendapat yang konyol.

Sebenarnya, sebelum peristiwa Santa Cruz, diplomasi Indonesia di kancah internasional untuk masalah Timor Timur yang dipimpin Menteri Luar Negeri Ali Alatas, sangat sukses. Terakhir paling hanya tinggal dua atau tiga negara yang masih belum menerima Timor Timur sebagai bagian dari Indonesia. Bahkan Portugal sebagai lawan utama Indonesia dalam konflik ini tampak sudah akan menyerah. Akhirnya semua upaya dan jerih-payah diplomasi itu hancur berantakan setelah pembunuhan Santa Cruz.

Jadi Sintong Panjaitan tercatat sebagai pejabat yang ikut bertanggung jawab atas lepasnya Timor Timur dari Indonesia. Padahal tak sedikit isteri menjadi janda, anak menjadi yatim, karena sang ayah tewas di Timor Timur sebagai tentara, demi mempertahankan Timor Timur. Belum lagi orang-orang yang masih hidup tapi cacat. Belum dihitung jumlah duit yang dituangkan pemerintah guna membangun daerah itu. Sekarang semua pengorbanan itu sia-sia.

Oleh karenanya buku biografi Sintong Panjaitan berjudul Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando yang ditulis wartawan TVRI Hendro Subroto (Penerbit Buku Kompas, Maret 2009), mestinya dilihat sebagai upaya memulihkan nama Sintong, setelah 18 tahun peristiwa Santa Cruz berlalu.

Tapi barang siapa membaca buku 520 halaman itu, akan menemukan kenyataan ini. Walau pun di dalam prakata dicantumkan nama August Parengkuan, wartawan senior Kompas, sebagai editor, buku ini betul-betul berantakan: di mana-mana ditemukan kesalahan cetak atau kesalahan kalimat. Sekali pun kata pengantar diberikan Profesor Taufik Abdullah, sejarahwan Indonesia terkemuka, tetap saja kesalahan-kesalahan itu mengganggu. Coba, siapa tahu arti kata pribadinyanya, terlaksanya, atau the acts of free choise? Itu bisa ditemukan di dalam kata pengantar Profesor itu.

Kesalahan itu terlalu banyak. Malah di salah satu bab ditemukan hampir di tiap halaman. Di halaman 6, sekadar contoh, ditemukan kata berjuan (mestinya berjuang?), setelak (setelah?),dan hahasa (bahasa?). Begitu juga di halaman lainnya, Dili ditulis Deli, perjuangan ditulis pejuangan, rainbow menjadi raibow, dan banyak contoh lainnya.

Jadi setelah membaca buku ini akan timbul kesan meremehkan data dan analisisnya. Kalau untuk urusan yang kecil saja – membuat kalimat dan mencetak yang benar – penulis buku ini tak mampu, bagaimana dia bisa dipercaya membuat analisis mendalam, atau menyajikan fakta yang benar?

Menurut dugaan saya, kesalahan cetak, salah data atau kalimat, yang begitu banyak di buku ini terjadi karena persiapannya amat terburu-buru. Mungkin saking terburu-buru, buku ini dicetak tanpa diperiksa korektor. Pantas saja hasilnya berantakan.


Wiranto capres Hanura

Prabowo capres Gerindra
Tapi apa sih yang diburu? Tentu pemilihan umum. Tampaknya buku ini diterbitkan untuk konsumsi pemilihan umum. Targetnya menyerang Prabowo Subianto dan Wiranto, dua purnawirawan jenderal yang sekarang sedang memimpin partai yang akan bertarung dalam pemilihan umum 9 April mendatang (Partai Gerindra dan Partai Hanura).

Oleh karena itu penyelesaian buku ini harus diburu, untuk diterbitkan sebelum pemilihan umum. Artinya, dia beredar pada waktu yang tepat sehingga diharapkan sukses memojokkan Wiranto mau pun Prabowo. Keduanya dianggap saingan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), presiden incumbent yang akan maju lagi dalam pemilihan presiden mendatang.

Sekali pun secara teknis buku ini berantakan, Presiden SBY pasti senang membacanya. Paling tidak, karena di sini dia ditabalkan sebagai konseptor reformasi ABRI yang selama ini disandang Wiranto. Terutama karena di buku ini ditulis bahwa Jenderal M.Jusuf selaku Panglima ABRI setuju pasukan anti-teror diberi nama Detasemen 81 karena angka itu – 8 + 1 -- jumlahnya 9.

Pesawat Hercules yang sering digunakan Pak Jusuf memiliki call sign A-1314. Kata Jenderal Jusuf, angka itu kalau dijumlahkan menjadi 9 (halaman 446). Jadi Pak Jusuf menyukai angka 9, yang tak lain juga angka favorit Presiden SBY. Boleh jadi informasi ini hanya karangan guna menyenangkan SBY. Tapi bagaimana mengeceknya kepada Jenderal Jusuf yang sudah meninggal dunia?



SBY capres ke II Demokrat



Luhut Panjaitan

Sintong Panjaitan
Sintong Panjaitan, menjadi sumber utama dalam penulisan. Lalu sumber lainnya adalah Jenderal (Pur) Luhut Panjaitan, bekas Menteri Perindustrian dan Perdagangan di zaman Presiden Abdurrahman Wahid. Keduanya, Luhut dan Sintong, memang selain semarga, merupakan teman lama. Keduanya dikenal sebagai anak emas Jenderal Benny Moerdani, Panglima ABRI.

Karir militer keduanya mencorong di zaman Moerdani berkuasa. Malah ketika itu sudah menjadi bisik-bisik di sementara kalangan perwira ABRI dan para wartawan bahwa Sintong sudah dipersiapkan oleh Moerdani untuk menjadi Panglima ABRI penggantinya. Penerbitan buku ini akhirnya akan membuka kembali luka lama berupa pertentangan sengit antara Benny Moerdani dengan Prabowo Subianto.

Sebelum buku ini terbit sudah beredar kabar bahwa Luhut berada di belakangnya. Sintong sendiri sebenarnya setelah pensiun pulang kampung ke Tarutung, Sumatera Utara, membuka usaha di bidang pertanian. Artinya, ia sudah menjauhkan diri dari hiruk-pikuk politik dan menikmati hidup dengan cucu-cucu.


Kiki Syahnakri
Mantan Wakil KSAD, Letjen (Pur) Kiki Syahnakri, misalnya, mengenal Sintong sebagai seorang prajurit tempur. Maka dia heran kenapa Sintong Panjaitan bisa menulis buku seperti ini. Tapi kenyataannya itulah yang terjadi.

Kabarnya buku ini akan menjadi modal Luhut untuk kembali masuk ke dalam kabinet bila kelak SBY kembali terpilih sebagai presiden. Luhut ingin mengulang sukses besar di zaman Presiden Abdurrahman Wahid. Ketika itu, ia bukan saja berhasil menjadi menteri, tapi naik pangkat dua kali, sampai menjadi jenderal penuh, sekali pun dia tak sedang menjalankan tugas ketentaraan.

Dia dinaikkan menjadi letnan jenderal ketika diangkat menjadi Duta Besar di Singapore, lalu menjadi jenderal penuh ketika menjadi menteri. Apa hubungan kenaikan pangkat dengan jabatan sipilnya itu tak jelas. Sama tak jelasnya apa keberhasilah Luhut sebagai Duta Besar, apalagi sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan?

Tapi nyatanya Luhut merupakan orang Indonesia pertama yang naik pangkat dengan model seperti itu. Dia sungguh berhasil memanfaatkan ‘’kelemahan’’ Gus Dur. Kini nampaknya Luhut sedang memainkan kartu yang mirip terhadap SBY.

SBY sekarang terisolir. Dia ditinggalkan wakilnya, Jusuf Kalla, yang sekarang berdamai dengan Ketua Umum PDIP Megawati. Kedua pemimpin partai terbesar itu sekarang adalah rival SBY, selain Prabowo Subianto, Wiranto, dan Sri Sultan Hamengkubuwono X. Tak aneh dalam keadaan terjepit seperti ini – ingat krisis ekonomi yang semakin parah akan jadi beban SBY yang lain – upaya Luhut dan Sintong dengan bukunya terasa membantu.

Wesmant
23rd March 2009, 09:23 AM
Bab Pembuka dan Penutup
Sebenarnya bila diamati sedikit teliti, pada awalnya buku ini memang betul-betul disiapkan untuk merehabilitasi nama Sintong Panjaitan, terbebas dari maksud-maksud politik. Ia dimaksudkan untuk memberi informasi tentang Sintong kepada anak-cucu, sahabat, bekas anak buah di kemiliteran, dan sebagainya.

Karena itu tampaknya pada awalnya buku ini ditulis secara kronologis, sebagaimana kebanyakan buku biografi. Ia dimulai dari bab 2: Yang Benar dan Menang, dan berakhir pada bab 12: Dari Staf Ahli Menristek Hingga Penasehat Presiden Bidang Hankam. Itu menceritakan secara kronologis kisah hidup seorang Sintong Panjaitan, terutama berbagai prestasi yang dicapainya, sampai terakhir dia menjadi Penasehat Presiden Habibie.

Agaknya belakangan ke dalam buku ini disisipkan pesan politik atau target politik yang sesungguhnya. Karenanya dibuatlah bab 1, Badai Besar di Mei 1998, dan bab 13, Peristiwa Maret 1983 di Mako Kopassandha dan Penculikan Aktivis Pada Mei 1998. Terutama bab 13 itu terasa sungguh-sungguh ditempelkan.

Soalnya, sampai bab 12, buku itu sudah ditulis dengan metode kronologis. Pada bab itu buku ini bercerita tentang kiprah Sintong yang terakhir di pemerintahan, sebagai Penasehat Presiden Bidang Hankam. Dilihat dari periode waktu, peristiwa itu sudah memasuki tahun 1999/2000.

Tiba-tiba di bab13, buku ini berkisah mundur ke bulan Maret 1983, atau mundur 17 tahun ke belakang, untuk menceritakan bahwa Kapten Prabowo Subianto sebagai Wakil Komandan Detasemen 81/anti-teror, pernah menyiagakan pasukannya, untuk menghadapi kemungkinan informasi yang diterimanya bahwa Asisten Intelijen Mabes ABRI Letjen Benny Moerdani akan melancarkan kudeta. Disebutkan pula Prabowo berencana mengungsikan Presiden Soeharto – yang notabene adalah mertuanya – ke markas Detasemen 81 di Cijantung, Jakarta, karena adanya rencana kudeta oleh Benny Moerdani.

Di bab ini dengan panjang lebar Sintong dan Luhut membantah isu kudeta oleh Moerdani, sekalian memojokkan Prabowo habis-habisan. Terlepas dari kebenaran kisah yang dimuat buku ini tentang Prabowo atau Moerdani, siapa pun tahu pada waktu itu Sintong dan Luhut adalah anak emas Moerdani yang selalu mendapat keistimewaan-keistimewaan.

Dari cerita Luhut atau Sintong saja di buku ini, mereka begitu mudah berhubungan dengan Moerdani, sudah merupakan bukti nyata hubungan itu. Luhut, hanya mayor dengan mudah menemui Moerdani seorang Letnan Jenderal. Sintong yang seorang bawahan seenaknya saja membantah Moerdani. Sungguh luar biasa. Apa namanya semua itu kalau bukan karena mereka anak emas?

Sekarang tentang rencana kudeta oleh Moerdani, bisakah bantahan Sintong dan Luhut dipercaya? Bisa saja rencana kudeta itu dibatalkan setelah bocor kepada Prabowo, dan itu juga bisa diduga telah bocor kepada Soeharto.

Satu hal yang pasti, dalam Sidang Umum MPR lima tahun kemudian pada 1988, terjadilah interupsi Ibrahim Saleh dari Fraksi ABRI. Interupsi itu merupakan manifestasi dari perlawanan ABRI yang dipimpin Moerdani pada waktu itu, terhadap keputusan Soeharto mengangkat Sudharmono sebagai Wakil Presiden. Dengan ini setidaknya terbukti bahwa Moerdani memang punya potensi untuk melawan Soeharto.

Suatu kali Presiden Soeharto datang ke Bali. Ia merayakan ulang tahun pernikahannya di Istana Tampaksiring. Di hari yang sama kedatangan Soeharto ke Pulau Dewata, Sintong selaku Panglima Kodam pergi melakukan inspeksi ke Timor Timur. Sintong sendiri di buku itu mengaku bahwa langkah yang ditempuhnya, tak mendampingi Presiden saat presiden berkunjung ke daerahnya, belum pernah dilakukan Panglima Kodam yang mana pun.

Malah Sintong pernah mendengar seorang Panglima Kodam yang sedang berada di Eropa, segera pulang ke daerahnya ketika mendengar Presiden Soeharto akan mengunjungi daerahnya. Jadi tindakan Sintong itu sungguh di luar kebiasaan. Dan itu bisa terjadi tentu karena ada apa-apa di baliknya.

Maka sesungguhnya bila ingin memberi kesempatan kepada para pembaca memahami berbagai kejadian yang dituliskan buku ini, mestinya ia diberi konteks situasi politik nasional yang terjadi pada waktu itu. Apa yang terjadi dalam hubungan Soeharto dengan Benny Moerdani? Bagaimana pemojokan ummat Islam yang dilakukan Moerdani dengan peristiwa Tanjungpriok, Woyla, teror Warman, dan berbagai peristiwa lainnya.



Benny Moerdani & Tri Soetrisno saat press conference Tragedi Priok 1984


Kivlan Zein

Muchdi PR
Kelemahan lain buku ini sebagaimana buku biografi lainnya, berbagai peristiwa atau kejadian dilihat dari sudut pandang dan kepentingan sumbernya, dalam kasus ini Sintong dan Luhut Panjaitan. Apalagi buku ini kemudian telah diberi beban politisasi demi kepentingan pemilihan umum terutama pemilihan presiden.

Sintong, misalnya, mempersoalkan kenapa Mayor Jenderal Muchdi PR sebagai Komandan Jenderal Kopassus pada Mei 1998, mau pergi bersama Kepala Staf Kostrad Mayor Jenderal Kivlan Zen menghadap BJ Habibie membawa surat dari Jenderal (Pur) A.H.Nasution.

Kivlan wajar melaksanakan perintah Prabowo Subianto sebagai Pangkonstrad. Sedang Muchdi, kata Sintong, bukan bawahan Prabowo. Artinya, di sini telah terjadi ketidak-jelasan wewenang dan tanggung jawab.


Idris Gasing
Tapi di bagian lain, Sintong mengaku memerintahkan Brigjen Idris Gasing selaku Wadanjen Kopassus untuk menarik pasukan. Apa Sintong sebagai Penasehat Presiden Habibie punya wewenang memerintahkan seorang Wadanjen Kopasssus?

Sama halnya, apa hak Sintong menegur Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspamres) Mayor Jenderal Endriartono Sutarto, ketika tahu bahwa Soeharto walau sudah bukan Presiden masih sering berkunjung ke markas Paspamres untuk berlatih menembak.

Endriartono Sutarto benar ketika dia tak mempedulikan teguran Sintong, karena Sintong sebagai Penasehat Presiden memang tak berhak untuk itu. Sintong kemudian melapor kepada Presiden Habibie, minta Komandan Paspamres diganti. Habibie setuju. Tapi ternyata Pangab Jenderal Wiranto memutuskan Endriartono Sutarto malah naik jabatan, menjadi Asisten Operasi Panglima ABRI.

Buku ini penuh pujian kepada Sintong sebagai seorang pemberani. Tapi ternyata terbukti ia takut menghadapi pengadilan, cepat-cepat pulang ke Indonesia ketika tahu dia dituntut di pengadilan.

Begini. Setelah peristiwa Santa Cruz, Sintong kuliah selama 6 bulan di Boston University, Amerika Serikat. Tiba-tiba September 1992, datang panggilan pengadilan. Rupanya Sintong digugat oleh Helen Todd, orang tua Kamal Bamadhaj, warga Selandia Baru yang tewas tertembak dalam peristiwa Santa Cruz. Sintong langsung pulang ke Jakarta.

Bagi saya sebagai wartawan, yang menarik dari buku ini, ternyata menurut Luhut Panjaitan, Benny Moerdani pernah membeli dan memasukkan sejumlah senjata ke Indonesia, yaitu senapan serbu AK-47, senapan laras panjang SKS, dan senjata anti-tank buatan Perancis. Senjata itu akan dikirimkan oleh Moerdani ke Afghanistan guna membantu pejuang Mujahidin melawan tentara Uni Soviet.

Berbagai buku yang menulis tentang Mujahidin, seperti House of Bush, House of Saud, atau American Theocracy, tak pernah menyinggung peran Indonesia mengirimkan senjata kepada Mujahidin. Yang berperan dalam pengiriman senjata itu adalah badan intelijen Pakistan, ISI, dan terutama badan intelijen Amerika Serikat, CIA. Demi mengumpulkan dana untuk membeli senjata, CIA menjalankan bisnis opium di Afghanistan. Sejak itulah penanaman opium dimulai dan kini Afghanistan menjadi gudang opium dunia.

Maka bisnis senjata Moerdani yang diungkapkan Luhut itu perlu diklarifikasi oleh Markas Besar (Mabes) TNI. Betulkah Moerdani mengirimkan senjatanya ke Afghanistan? Untuk apa hasil bisnis ini dipergunakan? Kepada siapa bisnis itu dipertanggungjawabkan? Saya kira pengusutannya gampang karena sudah ada pengakuan awal dari Luhut Panjaitan di dalam buku ini. (hidayatullah)

*) Penulis adalah Direktur Institute For Policy Studies (IPS)

javaneska
23rd March 2009, 09:55 AM
Wah makin seru nih.. nunggu informasi selanjutnya... :mgeer:

Wesmant
23rd March 2009, 10:33 AM
jelas, hahaha, seru bener...

Sebenernya gue heran, kenapa sih rebutan bener pengen jadi presiden? hahaha.

Miftah_san
23rd March 2009, 11:03 AM
Iya seru2...analisisnya cakep juga tuh...

Puncak dari piramida maslow Tedd...;)

javaneska
23rd March 2009, 01:10 PM
padahal puncaknya kan ngga harus jd presiden tho... :msokimut:

Miftah_san
23rd March 2009, 01:15 PM
padahal puncaknya kan ngga harus jd presiden tho... :msokimut:

Puncak piramida Maslow buat masing2 individu beda bro.....kan gak semua juga pengin jadi presiden....kayak gue...wekekeke

Miftah_san
23rd March 2009, 01:31 PM
Eh salah dink...bukan puncaknya...baru di tingkat sebelom puncaknya...heheheh

http://ikastara.org/forum/picture.php?albumid=86&pictureid=406

Baru pada taraf Esteem Needs

Tapi mungkin juga sarana untuk memenuhi kebutuhan puncaknya...Self Actualization Needs

Wesmant
23rd March 2009, 03:35 PM
hahahaah, piraminda maslow...

dan bener, tiap orang beda2... bukan kayak gue, udah jadi presiden masih level 2, wakakakakakak...

tapi, more importantly, mau jadi president, self esteemnya jangan hanya untuk "jadi" presidennya dong, tapi performance ketika jadi presiden kek :p

getepe
24th March 2009, 12:24 AM
http://tirtaamijaya.wordpress.com/2007/09/04/mayjen-tni-sintong-panjaitan-pangdam-ix-udayana/

Ditulis oleh Kol. Tirta Amijaya pada tanggal September 4, 2007


Bisa dipastikan beliau tidak ada indikasi terlibat conflict of interest dan beliau mempunyai dokumen yang tidak diungkapkan.

Saya mendampingi Mayjen TNI Sintong Panjaitan sebagai Dan Pomdam IX Udayana dari 1989 s/d 1991…beliau terkena kasus 12 November Dilli…..dicopot dari jabatannya oleh presiden Soeharto…..

Waktu peristiwa tragedi 12 November Dilli terjadi, saya sedang sekolah Sus Staf Senior di Seskoad Bandung selama 3 bulan….

Saya menangis sedih mendengar beliau dicopot…….saya tidak percaya beliau mempunyai kebijakan mengizinkan penembakan sperti itu…… Beliau paling tegas menegakan hukum dan hak azasi manusia di Timtim……beliau hanya membela anak buahnya yang telah bertindak tiudak terkontrol, terprovokasi oleh klandestine Fretilin…

Beliu adalah pemimpin sejati, yang bersedia mengorbankan pangkat, jabatan untuk membela anak buahnya yang dicintainya…….

Selama saya mendampingi beliau, setahu saya beliau sangat profesional, sangat memperhatikan kesejahteraan prajuritnya, juga rakyat Timtim…

Dengan Operasi Teritorialnya, beliau berjasa membangun infra struktur daerah Timtim, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan rakyat Timtim, membangun sekolah formal dan informal…

Ironinya, justru tokoh seperti beliaulah yang terkena musibah tragedi 12 November Dilli, karena memang tanggung jawab beliau sebagai Pangdam….

Pada saat saya mengadakan penyidikan kasus 12 November Dilli pada tahun 1991 setelah beliau dicopot oleh Presiden RI, saya menemukan suatu konspirasi tingkat tinggi yang secara terselubung memang berniat mendiskreditkan beliau……

Sayang sekali tokoh TNI AD, mantan Dan Kopasandha/ Kopasus yang berjasa dalam mengatasi terorisme kasus Woyla, harus tergusur oleh rezim orde baru……..bukan karena kesalahannya, tapi karena konspirasi tingkat tinggi….kasihan TNI AD…..


Tambahan

Ceritanya sangat panjang dan complicated/rumit, kalau saya ceritakan semua, bisa bisa mengundang fitnah…

Yang saya tahu pasti adalah, pada saat saya melakukan penyelidikan dan penyidikan langsung kasus tragedi 12 November Dilli untuk diajukan kepengadilan militer atas desakan internasional, saya menemukan fakta/hasil penyelidikan yang berbeda dengan hasil yang diumumkan pemerintah, yaitu pembunuhan dalam tragedi tersebut ternyata dilakukan oleh sekelompok pasukan liar yang bersenjata lengkap tapi memakai pakaian preman, dari satuan infantri yang dipimpin oleh yang anda singgung didalam komentar anda…bukan oleh kelompok yang dijadikan tersangka oleh hasil penyelidikan pemerintah pusat..
Hasil penyelidikan dan penyidikan tersebut saya laporkan ke pimpinan tertinggi TNI AD di Jakarta…tapi ternyata tidak digubris dan tetap harus menggunakan hasil temuan pemerintah..

Dari situ saya menjadi kecewa dan miris, kok pimpinan TNI AD tidak menegakan kejujuran, kebenaran dan keadilan…Loloslah pelaku pembunuhan yang sebenarnya, yang mendesain untuk mendiskreditkan Pak Sintong sebagai Pangdam Udayana..

GQ
24th March 2009, 07:53 AM
Yang saya tahu pasti adalah, pada saat saya melakukan penyelidikan dan penyidikan langsung kasus tragedi 12 November Dilli untuk diajukan kepengadilan militer atas desakan internasional, saya menemukan fakta/hasil penyelidikan yang berbeda dengan hasil yang diumumkan pemerintah, yaitu pembunuhan dalam tragedi tersebut ternyata dilakukan oleh sekelompok pasukan liar yang bersenjata lengkap tapi memakai pakaian preman, dari satuan infantri yang dipimpin oleh yang anda singgung didalam komentar anda…bukan oleh kelompok yang dijadikan tersangka oleh hasil penyelidikan pemerintah pusat..
Hasil penyelidikan dan penyidikan tersebut saya laporkan ke pimpinan tertinggi TNI AD di Jakarta…tapi ternyata tidak digubris dan tetap harus menggunakan hasil temuan pemerintah..

Dari situ saya menjadi kecewa dan miris, kok pimpinan TNI AD tidak menegakan kejujuran, kebenaran dan keadilan…Loloslah pelaku pembunuhan yang sebenarnya, yang mendesain untuk mendiskreditkan Pak Sintong sebagai Pangdam Udayana..

Gw juga pernah denger bagian yg ini ..

Pada saat Sintong dicopot, Uskup Belo dan Gubernur Timtim saat itu, Carascalao menangis dan menyatakan sangat kehilangan..

Wesmant
24th March 2009, 08:47 AM
Mungkin Kol Tirta Amijaya bisa bikin buku Juga?

javaneska
24th March 2009, 09:30 AM
"satuan infantri yang dipimpin oleh yang anda singgung didalam komentar anda"... wah mengarah lg nih.. sayang ngga ada bukunya.. jd ngga tau ceritanya..

papabonbon
24th March 2009, 10:15 AM
isu di atas juga banyak yg dengar. cuman kalo gak salah, pasukan berbaju preman itu juga masih anak buah dari pangdam udayana. mereka ngebelain mayornya yg waktu itu menghadapi demonstran secara langsung.

jadi yah, ujungnya tetap ke sintong juga sih.

Wesmant
24th March 2009, 12:27 PM
isu di atas juga banyak yg dengar. cuman kalo gak salah, pasukan berbaju preman itu juga masih anak buah dari pangdam udayana. mereka ngebelain mayornya yg waktu itu menghadapi demonstran secara langsung.

jadi yah, ujungnya tetap ke sintong juga sih.

atau, pasukan itu sengaja di set berbaju preman dan disiapkan sedemikian rupa, supaya pangdam dan jajarannya tidak terseret ketika mereka emang dibutuhkan untuk menembak?

dalam perang kan hanya ada 2 opsi, musuh mati atau kita sendiri mati...

gue yakin, ini tidak beda jauh ama kasus Tengku Bantaqiah, it's a matter of needs to die only ;)

getepe
24th March 2009, 12:40 PM
Gw juga pernah denger bagian yg ini ..

Pada saat Sintong dicopot, Uskup Belo dan Gubernur Timtim saat itu, Carascalao menangis dan menyatakan sangat kehilangan..

Wismoyo sbg Kasad waktu sertijab Sintong menangis di hadapan banyak orang, karena Sintong sahabat beliau dari taruna.


Mungkin Kol Tirta Amijaya bisa bikin buku Juga?

Saat TV One menyiarkan wawancara dg Kivlan Zein, Kolonel tsb dijadikan narasumber untuk kasus di Timor Leste karena beliau mempunyai dokumen dan fakta.


"satuan infantri yang dipimpin oleh yang anda singgung didalam komentar anda"... wah mengarah lg nih.. sayang ngga ada bukunya.. jd ngga tau ceritanya..

iya neh..gue baca komentar diatas sebelum Kolonel tsb menjawab, tidak dijelaskan satuan infanteri dipimpin oleh sapa..jadi gue copas tanpa gue tau kata "anda" tsb mengarah pada sapa.


isu di atas juga banyak yg dengar. cuman kalo gak salah, pasukan berbaju preman itu juga masih anak buah dari pangdam udayana. mereka ngebelain mayornya yg waktu itu menghadapi demonstran secara langsung.

jadi yah, ujungnya tetap ke sintong juga sih.

yup..emang kondisi yg susah gue rasa saat itu.. antara hidup dan mati, ga usah pusing mikirin perintah dulu deh :p.. untung pangdamnya sedia tanggung jawab..



gue yakin, ini tidak beda jauh ama kasus Tengku Bantaqiah, it's a matter of needs to die only ;)

yang ini ga usah dibahas deh..menyangkut temen2 kita juga yg dilapangan pada saat itu.. :mbisik:

Wesmant
24th March 2009, 12:48 PM
yang ini ga usah dibahas deh..menyangkut temen2 kita juga yg dilapangan pada saat itu.. :mbisik:

you are perfectly right bro.

fine kalau tidak mau dibahas, tapi akan lebih indah seandainya bisa dibahas dan kejadiannya bisa diputihkan dan di clearkan bahwa teman2 kita itu bener2 membela diri, kalau emang iya? kan sayang, orang2 berpotensi harus dipinggirkan? walo mungkin nanti dinaikkan lagi, tapi ketika akan memangku jabatan strategis, semua orang akan mencerca dan menjatuhkan ybs sehingga tidak jadi memberikan sumbangsih terbaiknya untuk bangsa dan negara hanya karena hal2 yang tidak dijelaskan?

KAZ0939
24th March 2009, 01:11 PM
Sudah...sudah....gue kemaren sudah beli bukunya.
Tunggu gue baca dulu yak:mbom:

GQ
24th March 2009, 01:14 PM
Sudah...sudah....gue kemaren sudah beli bukunya.
Tunggu gue baca dulu yak:mbom:

Mohon Bang KAZ utk mengetik ulang dan disebarkan E-Booknya di forum .. :p

KAZ0939
24th March 2009, 01:18 PM
Mohon Bang KAZ utk mengetik ulang dan disebarkan E-Booknya di forum .. :p

Kalo gue malas ngetik, OB aja yg nyecan di printer ke dalam bentuk PDF juga boleh tho? :D

GQ
24th March 2009, 01:22 PM
Kalo gue malas ngetik, OB aja yg nyecan di printer ke dalam bentuk PDF juga boleh tho? :D

siaaaap .. ditunggu bang ..

b_gamma@yahoo.com

ijit nyedot, gan .. :p

getepe
24th March 2009, 01:25 PM
you are perfectly right bro.

fine kalau tidak mau dibahas, tapi akan lebih indah seandainya bisa dibahas dan kejadiannya bisa diputihkan dan di clearkan bahwa teman2 kita itu bener2 membela diri, kalau emang iya? kan sayang, orang2 berpotensi harus dipinggirkan? walo mungkin nanti dinaikkan lagi, tapi ketika akan memangku jabatan strategis, semua orang akan mencerca dan menjatuhkan ybs sehingga tidak jadi memberikan sumbangsih terbaiknya untuk bangsa dan negara hanya karena hal2 yang tidak dijelaskan?

Di stiap organisasi pasti slalu tjadi intrik2 yg kadang menggunakan hal2 yg tidak sesuai. Pastinya hal ini juga blaku di organisasi TNI-AD.
Temen kita dg kisah yg ada, suatu hari nanti kisah tsb pasti jadi sandungan, smoga bukan rekan2 kita sendiri yg blow up hal tsb jadi trigger.

Sdangkan kisah Sintong, kalo kita bahas, it's oke, beliau sudah pensiun lagipula beliau yang menjadi Pangdam Udayana saat kejadian Santa Cruz dan beliau sendiri yang membuka tabir untuk memulai pelajaran berdebat dengan data di buku beliau.

Kasus Sintong tidak bisa dilihat dari hanya 1 kejadian saja yaitu Santa Cruz. Stau gue di buku Ali Alatas, beliau kecewa dg invasi TNI ke TimTim. Alasan beliau, pada saat tsb, Tim Deplu RI sudah mendapat dukungan agar TimTim masuk Indonesia hanya tinggal butuh waktu di PBB untuk pengesahan, sedangkan TNI langsung masuk. TNI pun ga salah, karena stau gue, TimTim saat itu dikuasai fretilin yg komunis, maka Presiden US saat itu, mungkin Ford ya.. meminta pada Suharto agar masuk ke TimTim melalui jalur militer agar menghindari USSR n RRC masuk ke TimTim dg dasar sbg sesama komunis.

Wesmant
24th March 2009, 07:49 PM
Di stiap organisasi pasti slalu tjadi intrik2 yg kadang menggunakan hal2 yg tidak sesuai. Pastinya hal ini juga blaku di organisasi TNI-AD.
Temen kita dg kisah yg ada, suatu hari nanti kisah tsb pasti jadi sandungan, smoga bukan rekan2 kita sendiri yg blow up hal tsb jadi trigger.

Sdangkan kisah Sintong, kalo kita bahas, it's oke, beliau sudah pensiun lagipula beliau yang menjadi Pangdam Udayana saat kejadian Santa Cruz dan beliau sendiri yang membuka tabir untuk memulai pelajaran berdebat dengan data di buku beliau.

Kasus Sintong tidak bisa dilihat dari hanya 1 kejadian saja yaitu Santa Cruz. Stau gue di buku Ali Alatas, beliau kecewa dg invasi TNI ke TimTim. Alasan beliau, pada saat tsb, Tim Deplu RI sudah mendapat dukungan agar TimTim masuk Indonesia hanya tinggal butuh waktu di PBB untuk pengesahan, sedangkan TNI langsung masuk. TNI pun ga salah, karena stau gue, TimTim saat itu dikuasai fretilin yg komunis, maka Presiden US saat itu, mungkin Ford ya.. meminta pada Suharto agar masuk ke TimTim melalui jalur militer agar menghindari USSR n RRC masuk ke TimTim dg dasar sbg sesama komunis.

bener, taun 76 ken emang masih perang dingin.

cuma, heran aja, kayaknya Tim Tim udah disupply dari indonesia, kok masih pengen kabur aja, hehehe

ok, back to topic, jadi, kira2 apa yah motif penyingkiran sintong? dan apa pula motif launching buku Sintong yang terkesan tergesa2?


@Bang KAZ, aye juga mau dong ;)

getepe
24th March 2009, 10:17 PM
Kalo gue malas ngetik, OB aja yg nyecan di printer ke dalam bentuk PDF juga boleh tho? :D

KAZ semua halaman di scan trus kirim ke email gue yak:mbisik:

Pychill
24th March 2009, 10:19 PM
apapun itu yg beredar via tret ini, aku mau dooooooongg.. :mmohon:

ke pychill@gmail.com aja yaaaa,, :) terima kasiiihh,, :msembah:

GQ
25th March 2009, 06:51 AM
Yang mesen E-Book Sintong ke Bang KAZ :

1. GQ
2. Bang Tewes
3. Bang Go
4. Jeng Pris
5. Bang Valdy
6. Kajol Hasan
7. Dhieta
8. Mamang Neko
9. Cherry
10. Bang Bunand
.....



who's next ??

ayo, jangan lewatkan kesempatan ini ..

:p:p:p

valdyok
25th March 2009, 07:12 AM
tambo ciek request utk E-booknya:p

bani
25th March 2009, 08:35 AM
Yang mesen E-Book Sintong ke Bang KAZ :

1. GQ
2. Bang Tewes
3. Bang Go
4. Jeng Pris
5. Bang Valdy
.....



who's next ??

ayo, jangan lewatkan kesempatan ini ..

:p:p:p
mau juga donk...imel sy ab udah ada kan...makacieee...:)

dhieta
25th March 2009, 03:20 PM
Yang mesen E-Book Sintong ke Bang KAZ :

1. GQ
2. Bang Tewes
3. Bang Go
4. Jeng Pris
5. Bang Valdy
6. Kajol Hasan
.....



who's next ??

ayo, jangan lewatkan kesempatan ini ..

:p:p:p

tambah juga dong..
dhieta@gmail.com

nekotisme
25th March 2009, 03:35 PM
tambah juga dong..
dhieta@gmail.com

tambah satu...
omneko@gmail.com

GQ
31st March 2009, 01:46 PM
mengutip tulisan dari www.garudalima.com


Luka Lama Menjelang Pemilu (bagian 1)

Sintong Panjaitan mengungkap kembali perseteruan Benny Moerdani dengan Prabowo Subianto. Kenapa buku ini terbit menjelang Pemilu?

Oleh: Amran Nasution


Hidayatullah.com–Dia sudah tentu bukan Jenderal George Patton yang legendaris, yang terlibat dalam dua perang dunia, yang selalu dimenangkannya. Sebagai jenderal paling hebat dalam sejarah Amerika Serikat, biografinya berkisah dari suatu kemenangan ke kemenangan yang lain.

Sedangkan Sintong Panjaitan, 69 tahun, boleh dikatakan adalah jenderal yang gagal. Sebagai Panglima Kodam di Bali, dia dianggap bertanggung jawab atas penembakan demonstran di pemakaman Santa Cruz, Dili, 12 November 1991, mengakibatkan puluhan demonstran meninggal dunia. Kalau dikaji lebih dalam, maka Santa Cruz adalah buah dari kebijakan yang dipilih Sintong bersama para asisten dan aparatnya di Timor Timur.

Tapi akibat peristiwa itu, nama Indonesia sungguh-sungguh terpuruk. Pers internasional menabalkan Indonesia sebagai sebuah negeri Muslim yang besar, menjajah Timor Timur, negeri Katolik yang kecil, dengan sangat kejam. Banyak negara yang semula mendukung Indonesia dalam soal Timor Timur kemudian berubah pandangan. Akhirnya, ditambah oleh nafsu Presiden B.J.Habibie ingin mendapat hadiah Nobel Perdamaian, Timor Timur lepas dari Indonesia melalui sebuah jajak pendapat yang konyol.

Sebenarnya, sebelum peristiwa Santa Cruz, diplomasi Indonesia di kancah internasional untuk masalah Timor Timur yang dipimpin Menteri Luar Negeri Ali Alatas, sangat sukses. Terakhir paling hanya tinggal dua atau tiga negara yang masih belum menerima Timor Timur sebagai bagian dari Indonesia. Bahkan Portugal sebagai lawan utama Indonesia dalam konflik ini tampak sudah akan menyerah. Akhirnya semua upaya dan jerih-payah diplomasi itu hancur berantakan setelah pembunuhan Santa Cruz.

Jadi Sintong Panjaitan tercatat sebagai pejabat yang ikut bertanggung jawab atas lepasnya Timor Timur dari Indonesia. Padahal tak sedikit isteri menjadi janda, anak menjadi yatim, karena sang ayah tewas di Timor Timur sebagai tentara, demi mempertahankan Timor Timur. Belum lagi orang-orang yang masih hidup tapi cacat. Belum dihitung jumlah duit yang dituangkan pemerintah guna membangun daerah itu. Sekarang semua pengorbanan itu sia-sia.

Oleh karenanya buku biografi Sintong Panjaitan berjudul Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando yang ditulis wartawan TVRI Hendro Subroto (Penerbit Buku Kompas, Maret 2009), mestinya dilihat sebagai upaya memulihkan nama Sintong, setelah 18 tahun peristiwa Santa Cruz berlalu.

Tapi barang siapa membaca buku 520 halaman itu, akan menemukan kenyataan ini. Walau pun di dalam prakata dicantumkan nama August Parengkuan, wartawan senior Kompas, sebagai editor, buku ini betul-betul berantakan: di mana-mana ditemukan kesalahan cetak atau kesalahan kalimat. Sekali pun kata pengantar diberikan Profesor Taufik Abdullah, sejarahwan Indonesia terkemuka, tetap saja kesalahan-kesalahan itu mengganggu. Coba, siapa tahu arti kata pribadinyanya, terlaksanya, atau the acts of free choise? Itu bisa ditemukan di dalam kata pengantar Profesor itu.

Kesalahan itu terlalu banyak. Malah di salah satu bab ditemukan hampir di tiap halaman. Di halaman 6, sekadar contoh, ditemukan kata berjuan (mestinya berjuang?), setelak (setelah?),dan hahasa (bahasa?). Begitu juga di halaman lainnya, Dili ditulis Deli, perjuangan ditulis pejuangan, rainbow menjadi raibow, dan banyak contoh lainnya.

Jadi setelah membaca buku ini akan timbul kesan meremehkan data dan analisisnya. Kalau untuk urusan yang kecil saja – membuat kalimat dan mencetak yang benar – penulis buku ini tak mampu, bagaimana dia bisa dipercaya membuat analisis mendalam, atau mSintongenyajikan fakta yang benar?

Menurut dugaan saya, kesalahan cetak, salah data atau kalimat, yang begitu banyak di buku ini terjadi karena persiapannya amat terburu-buru. Mungkin saking terburu-buru, buku ini dicetak tanpa diperiksa korektor. Pantas saja hasilnya berantakan.

Tapi apa sih yang diburu? Tentu pemilihan umum. Tampaknya buku ini diterbitkan untuk konsumsi pemilihan umum. Targetnya menyerang Prabowo Subianto dan Wiranto, dua purnawirawan jenderal yang sekarang sedang memimpin partai yang akan bertarung dalam pemilihan umum 9 April mendatang (Partai Gerindra dan Partai Hanura).

Oleh karena itu penyelesaian buku ini harus diburu, untuk diterbitkan sebelum pemilihan umum. Artinya, dia beredar pada waktu yang tepat sehingga diharapkan sukses memojokkan Wiranto mau pun Prabowo. Keduanya dianggap saingan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), presiden incumbent yang akan maju lagi dalam pemilihan presiden mendatang.

Sekali pun secara teknis buku ini berantakan, Presiden SBY pasti senang membacanya. Paling tidak, karena di sini dia ditabalkan sebagai konseptor reformasi ABRI yang selama ini disandang Wiranto. Terutama karena di buku ini ditulis bahwa Jenderal M.Jusuf selaku Panglima ABRI setuju pasukan anti-teror diberi nama Detasemen 81 karena angka itu – 8 + 1 — jumlahnya 9.

Pesawat Hercules yang sering digunakan Pak Jusuf memiliki call sign A-1314. Kata Jenderal Jusuf, angka itu kalau dijumlahkan menjadi 9 (halaman 446). Jadi Pak Jusuf menyukai angka 9, yang tak lain juga angka favorit Presiden SBY. Boleh jadi informasi ini hanya karangan guna menyenangkan SBY. Tapi bagaimana mengeceknya kepada Jenderal Jusuf yang sudah meninggal dunia?

Sintong Panjaitan, menjadi sumber utama dalam penulisan. Lalu sumber lainnya adalah Jenderal (Pur) Luhut Panjaitan, bekas Menteri Perindustrian dan Perdagangan di zaman Presiden Abdurrahman Wahid. Keduanya, Luhut dan Sintong, memang selain semarga, merupakan teman lama. Keduanya dikenal sebagai anak emas Jenderal Benny Moerdani, Panglima ABRI.

Karir militer keduanya mencorong di zaman Moerdani berkuasa. Malah ketika itu sudah menjadi bisik-bisik di sementara kalangan perwira ABRI dan para wartawan bahwa Sintong sudah dipersiapkan oleh Moerdani untuk menjadi Panglima ABRI penggantinya. Penerbitan buku ini akhirnya akan membuka kembali luka lama berupa pertentangan sengit antara Benny Moerdani dengan Prabowo Subianto.

Sebelum buku ini terbit sudah beredar kabar bahwa Luhut berada di belakangnya. Sintong sendiri sebenarnya setelah pensiun pulang kampung ke Tarutung, Sumatera Utara, membuka usaha di bidang pertanian. Artinya, ia sudah menjauhkan diri dari hiruk-pikuk politik dan menikmati hidup dengan cucu-cucu.

Mantan Wakil KSAD, Letjen (Pur) Kiki Syahnakri, misalnya, mengenal Sintong sebagai seorang prajurit tempur. Maka dia heran kenapa Sintong Panjaitan bisa menulis buku seperti ini. Tapi kenyataannya itulah yang terjadi.

Kabarnya buku ini akan menjadi modal Luhut untuk kembali masuk ke dalam kabinet bila kelak SBY kembali terpilih sebagai presiden. Luhut ingin mengulang sukses besar di zaman Presiden Abdurrahman Wahid. Ketika itu, ia bukan saja berhasil menjadi menteri, tapi naik pangkat dua kali, sampai menjadi jenderal penuh, sekali pun dia tak sedang menjalankan tugas ketentaraan.

Dia dinaikkan menjadi letnan jenderal ketika diangkat menjadi Duta Besar di Singapore, lalu menjadi jenderal penuh ketika menjadi menteri. Apa hubungan kenaikan pangkat dengan jabatan sipilnya itu tak jelas. Sama tak jelasnya apa keberhasilah Luhut sebagai Duta Besar, apalagi sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan?

Tapi nyatanya Luhut merupakan orang Indonesia pertama yang naik pangkat dengan model seperti itu. Dia sungguh berhasil memanfaatkan ‘’kelemahan’’ Gus Dur. Kini nampaknya Luhut sedang memainkan kartu yang mirip terhadap SBY.

SBY sekarang terisolir. Dia ditinggalkan wakilnya, Jusuf Kalla, yang sekarang berdamai dengan Ketua Umum PDIP Megawati. Kedua pemimpin partai terbesar itu sekarang adalah rival SBY, selain Prabowo Subianto, Wiranto, dan Sri Sultan Hamengkubuwono X. Tak aneh dalam keadaan terjepit seperti ini – ingat krisis ekonomi yang semakin parah akan jadi beban SBY yang lain – upaya Luhut dan Sintong dengan bukunya terasa membantu.

GQ
31st March 2009, 01:48 PM
Luka Lama Menjelang Pemilu (bagian 2)



Bab Pembuka dan Penutup

Sebenarnya bila diamati sedikit teliti, pada awalnya buku ini memang betul-betul disiapkan untuk merehabilitasi nama Sintong Panjaitan, terbebas dari maksud-maksud politik. Ia dimaksudkan untuk memberi informasi tentang Sintong kepada anak-cucu, sahabat, bekas anak buah di kemiliteran, dan sebagainya.

Karena itu tampaknya pada awalnya buku ini ditulis secara kronologis, sebagaimana kebanyakan buku biografi. Ia dimulai dari bab 2: Yang Benar dan Menang, dan berakhir pada bab 12: Dari Staf Ahli Menristek Hingga Penasehat Presiden Bidang Hankam. Itu menceritakan secara kronologis kisah hidup seorang Sintong Panjaitan, terutama berbagai prestasi yang dicapainya, sampai terakhir dia menjadi Penasehat Presiden Habibie.

Agaknya belakangan ke dalam buku ini disisipkan pesan politik atau target politik yang sesungguhnya. Karenanya dibuatlah bab 1, Badai Besar di Mei 1998, dan bab 13, Peristiwa Maret 1983 di Mako Kopassandha dan Penculikan Aktivis Pada Mei 1998. Terutama bab 13 itu terasa sungguh-sungguh ditempelkan.

Soalnya, sampai bab 12, buku itu sudah ditulis dengan metode kronologis. Pada bab itu buku ini bercerita tentang kiprah Sintong yang terakhir di pemerintahan, sebagai Penasehat Presiden Bidang Hankam. Dilihat dari priode waktu, peristiwa itu sudah memasuki tahun 1999/2000.

Tiba-tiba di bab13, buku ini berkisah mundur ke bulan Maret 1983, atau mundur 17 tahun ke belakang, untuk menceritakan bahwa Kapten Prabowo Subianto sebagai Wakil Komandan Detasemen 81/anti-teror, pernah menyiagakan pasukannya, untuk menghadapi kemungkinan informasi yang diterimanya bahwa Asisten Intelijen Mabes ABRI Letjen Benny Moerdani akan melancarkan kudeta. Disebutkan pula Prabowo berencana mengungsikan Presiden Soeharto – yang notabene adalah mertuanya – ke markas Detasemen 81 di Cijantung, Jakarta, karena adanya rencana kudeta oleh Benny Moerdani.

PrabowoDi bab ini dengan panjang lebar Sintong dan Luhut membantah isu kudeta oleh Moerdani, sekalian memojokkan Prabowo habis-habisan. Terlepas dari kebenaran kisah yang dimuat buku ini tentang Prabowo atau Moerdani, siapa pun tahu pada waktu itu Sintong dan Luhut adalah anak emas Moerdani yang selalu mendapat keistimewaan-keistimewaan.

Dari cerita Luhut atau Sintong saja di buku ini, mereka begitu mudah berhubungan dengan Moerdani, sudah merupakan bukti nyata hubungan itu. Luhut, hanya mayor dengan mudah menemui Moerdani seorang Letnan Jenderal. Sintong yang seorang bawahan seenaknya saja membantah Moerdani. Sungguh luar biasa. Apa namanya semua itu kalau bukan karena mereka anak emas?

Sekarang tentang rencana kudeta oleh Moerdani, bisakah bantahan Sintong dan Luhut dipercaya? Bisa saja rencana kudeta itu dibatalkan setelah bocor kepada Prabowo, dan itu juga bisa diduga telah bocor kepada Soeharto.

Satu hal yang pasti, dalam Sidang Umum MPR lima tahun kemudian pada 1988, terjadilah interupsi Ibrahim Saleh dari Fraksi ABRI. Interupsi itu merupakan manifestasi dari perlawanan ABRI yang dipimpin Moerdani pada waktu itu, terhadap keputusan Soeharto mengangkat Sudharmono sebagai Wakil Presiden. Dengan ini setidaknya terbukti bahwa Moerdani memang punya potensi untuk melawan Soeharto.

Suatu kali Presiden Soeharto datang ke Bali. Ia merayakan ulang tahun pernikahannya di Istana Tampaksiring. Di hari yang sama kedatangan Soeharto ke Pulau Dewata, Sintong selaku Panglima Kodam pergi melakukan inspeksi ke Timor Timur. Sintong sendiri di buku itu mengaku bahwa langkah yang ditempuhnya, tak mendampingi Presiden saat presiden berkunjung ke daerahnya, belum pernah dilakukan Panglima Kodam yang mana pun.

Malah Sintong pernah mendengar seorang Panglima Kodam yang sedang berada di Eropa, segera pulang ke daerahnya ketika mendengar Presiden Soeharto akan mengunjungi daerahnya. Jadi tindakan Sintong itu sungguh di luar kebiasaan. Dan itu bisa terjadi tentu karena ada apa-apa di baliknya.

Maka sesungguhnya bila ingin memberi kesempatan kepada para pembaca memahami berbagai kejadian yang dituliskan buku ini, mestinya ia diberi konteks situasi politik nasional yang terjadi pada waktu itu. Apa yang terjadi dalam hubungan Soeharto dengan Benny Moerdani? Bagaimana pemojokan ummat Islam yang dilakukan Moerdani dengan peristiwa Tanjungpriok, Woyla, teror Warman, dan berbagai peristiwa lainnya.

Kelemahan lain buku ini sebagaimana buku biografi lainnya, berbagai peristiwa atau kejadian dilihat dari sudut pandang dan kepentingan sumbernya, dalam kasus ini Sintong dan Luhut Panjaitan. Apalagi buku ini kemudian telah diberi beban politisasi demi kepentingan pemilihan umum terutama pemilihan presiden.

Sintong, misalnya, mempersoalkan kenapa Mayor Jenderal Muchdi PR sebagai Komandan Jenderal Kopassus pada Mei 1998, mau pergi bersama Kepala Staf Kostrad Mayor Jenderal Kivlan Zen menghadap BJ Habibie membawa surat dari Jenderal (Pur) A.H.Nasution. Kivlan wajar melaksanakan perintah Prabowo Subianto sebagai Pangkonstrad. Sedang Muchdi, kata Sintong, bukan bawahan Prabowo. Artinya, di sini telah terjadi ketidak-jelasan wewenang dan tanggung jawab.

Tapi di bagian lain, Sintong mengaku memerintahkan Brigjen Idris Gasing selaku Wadanjen Kopassus untuk menarik pasukan. Apa Sintong sebagai Penasehat Presiden Habibie punya wewenang memerintahkan seorang Wadanjen Kopasssus?

Sama halnya, apa hak Sintong menegur Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspamres) Mayor Jenderal Endriartono Sutarto, ketika tahu bahwa Soeharto walau sudah bukan Presiden masih sering berkunjung ke markas Paspamres untuk berlatih menembak.

Endriartono Sutarto benar ketika dia tak mempedulikan teguran Sintong, karena Sintong sebagai Penasehat Presiden memang tak berhak untuk itu. Sintong kemudian melapor kepada Presiden Habibie, minta Komandan Paspamres diganti. Habibie setuju. Tapi ternyata Pangab Jenderal Wiranto memutuskan Endriartono Sutarto malah naik jabatan, menjadi Asisten Operasi Panglima ABRI.

Buku ini penuh pujian kepada Sintong sebagai seorang pemberani. Tapi ternyata terbukti ia takut menghadapi pengadilan, cepat-cepat pulang ke Indonesia ketika tahu dia dituntut di pengadilan. Begini. Setelah peristiwa Santa Cruz, Sintong kuliah selama 6 bulan di Boston University, Amerika Serikat. Tiba-tiba September 1992, datang panggilan pengadilan. Rupanya Sintong digugat oleh Helen Todd, orang tua Kamal Bamadhaj, warga Selandia Baru yang tewas tertembak dalam peristiwa Santa Cruz. Sintong langsung pulang ke Jakarta.

Bagi saya sebagai wartawan, yang menarik dari buku ini, ternyata menurut Luhut Panjaitan, LB MoerdaniBenny Moerdani pernah membeli dan memasukkan sejumlah senjata ke Indonesia, yaitu senapan serbu AK-47, senapan laras panjang SKS, dan senjata anti-tank buatan Perancis. Senjata itu akan dikirimkan oleh Moerdani ke Afghanistan guna membantu pejuang Mujahidin melawan tentara Uni Soviet.

Berbagai buku yang menulis tentang Mujahidin, seperti House of Bush, House of Saud, atau American Theocracy, tak pernah menyinggung peran Indonesia mengirimkan senjata kepada Mujahidin. Yang berperan dalam pengiriman senjata itu adalah badan intelijen Pakistan, ISI, dan terutama badan intelijen Amerika Serikat, CIA. Demi mengumpulkan dana untuk membeli senjata, CIA menjalankan bisnis opium di Afghanistan. Sejak itulah penanaman opium dimulai dan kini Afghanistan menjadi gudang opium dunia.

Maka bisnis senjata Moerdani yang diungkapkan Luhut itu perlu diklarifikasi oleh Markas Besar (Mabes) TNI. Betulkah Moerdani mengirimkan senjatanya ke Afghanistan? Untuk apa hasil bisnis ini dipergunakan? Kepada siapa bisnis itu dipertanggungjawabkan? Saya kira pengusutannya gampang karena sudah ada pengakuan awal dari Luhut Panjaitan di dalam buku ini.

seperti yang tertulis dalam www.hidayatullah.com

crushadi
31st March 2009, 04:57 PM
daftar juga bang buat dapet ebooknya
crushadi@yahoo.com
thanks bang

budinarendra
1st April 2009, 01:28 PM
Yang mesen E-Book Sintong ke Bang KAZ :
who's next ??

ayo, jangan lewatkan kesempatan ini ..

:p:p:p

ehm...gamma,
saya perintahken ke kamu untuk forward itu email ke budinarendra@yahoo.com setelah dapet!!!
laksanaken!

GQ
1st April 2009, 01:33 PM
ehm...gamma,
saya perintahken ke kamu untuk forward itu email ke budinarendra@yahoo.com setelah dapet!!!
laksanaken!

:mlewat::mlewat::mlewat: